Lenny H.S. Chendralisan: “Kontemplasi Budaya Kepemimpinan”

Lenny H.S. Chendralisan: “Kontemplasi Budaya Kepemimpinan”

Lenny H.S. Chendralisan

VICTORIOUSNEWS.COM,-Kehidupan sosial dapat memberikan kepada kita suatu kontemplasi (perenungan atau pembatinan kepemimpinan yang mendalam) dan refleksi sebuah kepemimpinan serta tantangan dalam situasi kepemimpinan. Pemimpin yang tidak mau berubah karena historical culturenya berorientasi pada keuntungan, kepuasan pribadi dan masa lalu yang berkepanjangan tidak terselesaikan, akan membawa dampak kepada pasang surut lajunya organisasi, terlebih pada mentalnya. Organisasi berkembang seiring majunya era modern, pemimpin mau tidak mau harus berubah mindset dan mengembangkan diri (kognitif, afektif, psikomotorik dan skill), sebagaimana  human resources dituntut untuk mengembangkan dirinya. Pemimpin yang tidak mau belajar untuk mengoreksi kepemimpinannya, tertinggal dalam pengembangan kehidupan sosial bersamaan dengan jatuhnya nilai-nilai kepemimpinan yang baik. Runtuhnya karakter yang baik dan menumbuhkan keakuan yang tinggi (one man show, self man soul). Pemimpin yang memilih untuk melayani dirinya sendiri, agar kepuasan jiwanya tercukupkan. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Mat 23:11-12). 

Pengalaman, kebijakan dan peraturan yang diambil dari lingkungan luar masuk kepada lingkungan dalam organisasi menyebabkan terjadi kepincangan kebijakan, jika filter kebijakan mengalami penyimpangan kebijakan (policy distortion) karena adanya badai kepemimpinan (storming of leadership). Kepemimpinan bukanlah semata-mata kekuasaan dan kekayaan. Sangatlah disayangkan pembentukan awal (start forming) pada pertengahan jalannya organisasi mengalami storming. Hubungan kepemimpinan karena nilai dapat menyebabkan storming of leadership, lunturnya sebuah kepercayaan, terjadi pembentukan norma (norming), dan meningkat tuntutan kinerja (perubahan performing) dan pada akhir waktu terjadi pembubaran kesepakatan (adjourning). Peribahasa mengatakan; nila setitik rusak susu sebelanga, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

            Tingginnya nilai (high value) tergerus oleh arus waktu, seyogianya pemimpin dapat mewaspadai budaya kepemimpinan karena nilai yang diberikan tidak dapat menilai kekurangannya. Nilai diri dapat pemimpin kontemplasikan dari cara pandang, budaya tidak mau melihat tingkat kesulitan human resources, budaya keberpihakan kepada posisi yang lebih tinggi, pemimpin yang menyukai jabatan, namun tidak dapat memahami tingkat kesulitan bawahan. Pemimpin yang selalu membenarkan dirinya sendiri, agar tidak terlihat salah pada tingkat kepemimpinan diatasnya atau dibawahnya. 3L Concept (Lead, Leader and Leadership) jika dikolaborasi dengan Leadership Spiritual akan mengubahkan 3L Concept yang keliru. Spritual yang mengalami pembatinan dalam keheningan akan menyentuh jiwa (ratio, emotional and action). Jiwa yang tersentuh karena kebesaran Allah yang telah mengangkat dan membesarkannya akan membuat pemimpin berdampak dalam perubahan historical culture sebagai pemimpin yang dapat memberdayakan human resources bukan lagi sebagai orang-orangannya. Namun, menjadikan empower human resources yang memiliki nilai-nilai yang baik (high integrity) dan pemimpin handal spiritual bukan pemimpin yang sekedar melakukan liturgia pada agamanya. Namun, memiliki daya juang mendorong human resources berkembang (encourage).

            Budaya kepemimpinan yang salah memerlukan koreksi kepemimpinan, mengembalikan kepada konsep kepemimpinan (3L Concept) yang benar. Koreksi kepemimpinan melalui keluar dari historical culture yang berorientasi pada keuntungan yang menggunakan human resources untuk kepentingan yang salah. Pemimpin yang tidak berbudi luhur, melupakan anugerah Tuhan atas kekuasaan, kekuatan dan kekayaan yang diberikan-Nya. Amsal Salomo memiliki tingkat hikmat yang tinggi; Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Ams 16:18). Seseorang dapat dilihat setelah mendapatkan jabatan, orang pandai akan terlihat ketika kekuasaan ada ditangannya. Tidak semua orang pandai adalah benar orang yang rendah hati. Firman Allah mengingatkan; Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu:  Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah  yang membuat aku memperoleh kekayaan  ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini (Ul 8:17-18).

Kesalahan dalam sebuah kepemimpinan tanpa visi jelas, tanpa pembenahan, demosipun tidak akan berjalan dengan baik. Kesalahan bisa juga disebabkan karena pemimpin kurang peduli atau pemimpin tidak dapat melihat kesalahan serta kekurangannya, karena kekayaan dan kekuasan adalah kekuatan bagi jiwanya. Membangun kembali kepemimpinan memerlukan visi. Pemimpin adalah pemimpi, jika pemimpin tidak dapat melihat visinya bagaikan pengembara (nomad). Bangsa yang tidak mendapat bimbingan dari TUHAN menjadi bangsa yang penuh kekacauan. Berbahagialah orang yang taat kepada hukum TUHAN (IBIS, Ams 29:18). Selanjutnya ada pemimpin yang melihat visi pribadinya yang berpadan dengan visi Tuhan dan berusaha mengejar visi itu. Pemimpin seperti itu disebut pemimpin yang berhasil/berprestasi dalam mencapai visinya (achievers). Visi seorang pemimpin Kristen untuk hidupnya ialah membangun dan mengembangkan sesuatu dalam dirinya yang diperoleh dari Tuhan sebagai jati diri yang merupakan kompetensi inti (core competence) untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain.

Adapun upah pemimpin yang didapatkan dari kepemimpinannya adalah apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah (2 Sam 23:3-4). Akhirnya ”Tak Ada Gading Yang Tak Retak”, artinya ”Tidak Ada Sesuatu Yang Tidak Ada Cacatnya”, namun keretakan dan kecacatan dapat diperbaiki. Jadilah, pemimpin yang cerdas ilmu, cerdas emosi dan cerdas spiritual, tahu apa yang bisa ia lakukan dan apa yang tidak bisa ia lakukan, dan ia memiliki orang-orang yang disekitarnya yang bisa mengerjakan dengan baik apa yang tidak bisa ia lakukan. 1 Timotius 4:14-16 mengatakan;  Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. Sola Gracia. ***

Penandatanganan kerjasama Bank BCA dengan BPH GBI : Buka Rekening Gereja Makin Mudah!

Jakarta, Victoriousnews.com,-Badan Pekerja Harian Gerja Bethel Indonesia (BPH-GBI) dengan Bank Central Asia (BCA telah melakukan penandatangan kerjasama Cash Management yang bertempat di Kantor Cabang Utama PT. Bank Central Asia, Tbk,  Menara BCA, Jl. Thamrin No.1 Jakarta, Senin, (29/1/2018). Pendatanganan ini dilakukan untuk memudahkan pendeta (hamba Tuhan) maupun  jemaat yang bernaung di bawah gereja GBI dalam pembukaan rekening baru. Jika sebelumnya, pembukaan rekening bank harus atas nama pribadi (Gembala GBI). Kini, dengan adanya Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman ini antara BCA dan GBI, maka kendala pembukaan rekening bank atas nama Gereja Bethel Indonesia kini tidak ada lagi. Solusi yang diberikan Bank BCA ini dikenal dengan istilah “cash management” dengan diawali pembukaan rekening dan pemberian layanan untuk mempermudah transaksi perbankan.

Acara dibuka dengan doa oleh Edi Kustiawan. Kemudian dilanjutkan dengan penayangan video singkat tentang profil GBI. Diawali dengan mandat Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun kepada Ka.Biro Keuangan BPH GBI, Pdm. Henny Dondocambey maka dilakukanlah pembicaraan dengan pihak BCA KCU Kebayoran Baru, Edi Kustiawan (Kepala Kantor Cabang Utama) perihal cash management ini.

Hasilnya, dalam waktu dua minggu maka bisa dilaksanakan penanda-tangan kerja-sama ini. Hal ini disampaikan Ketua Umum BPH GBI dalam sambutan singkatnya di acara penanda-tanganan naskah kerjasama. Kerjasama ini dilakukan atas dasar program Pemerintah di bidang perpajakan yaitu untuk kegiatan sosial tidak menggunakan nama pribadi pada rekening bank tetapi menggunakan nama institusi atau lembaga karena Gereja adalah bukan obyek pajak dan bukan subyek pajak, dan tidak ber-NPWP.

Para penandatangan naskah kerjasama ini masing-masing Haryono Wongsonegoro (Kepala Kantor Wilayah VIII BCA), Rusdianti Salim (Kepala Satuan Cash Management BCA). Sementara itu, pihak BPH GBI diwakili oleh Pdt. Dr. Japarlin Marbun selaku Ketua Umum BPH GBI dan Pdt. Paul R.Widjaya (Sekretaris Umum BPH GBI).

Turut hadir dan menyaksikan acara ini yaitu Susanny (Kepala Cabang KCU Thamrin), Wibisana Handoko (Kepada Pengembangan Bisnis Cabang KCU Thamrin), Th. Endang (Kepala Grup Hukum), serta sejumlah staf BCA KCU Kebayoran Baru dan KCU setempat. Sedangkan pengurus BPH GBI lainnya yang hadir yaitu Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, MTh (Bendahara Umum BPH GBI), Pdt. Naftali Untung, MTh (Sekretaris II  BPH GBI), Pdt. dr. Josafat Mesach (Pelmas), Pdm. Henny Dondocambey (Ka Biro Keuangan BPH GBI) dan Pdp. Ina Vera Tobing (Ka.Sekretariat BPH GBI.

Pdt. Dr. Japarlin Marbun mengatakan, ada potensi sekitar 6 ribuan Gereja GBI yang akan buka rekening atas nama  Gereja, namun, sebelum kerja-sama ini tidak bisa. Bahkan, dirinya optimis jika tiap-tiap GBI bisa membuka rekening lebih dari satu. “Ini adalah berkat bagi kedua-belah pihak di masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pdt. Japarlin mengungkapkan, bahwa, kerjasama ini saling menguntungkan kedua-belah pihak bukan hanya spiritualitas saja, melainkan peningkatan kesra (jemaat) juga. Di bidang pendidikan, GBI memiliki ratusan sekolah dan poliklinik, hal ini tentu memerlukan manajemen keuangan. “Kerja-sama ini akan memudahkan Gereja GBI sebagai lembaga keagamaan dalam mengelola keuangan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ketua Umum BPH GBI mengharapkan kerja-sama kelak bisa diperluas misalnya dalam bentuk penyaluran dana yang bersumber dari CSR Bank BCA kepada BPH GBI. Dana tersebut akan dipergunakan untuk kegiatan sosial, pelayanan bencana alam. Saat ini terdapat sekitar tujuh ribu anggota Tagana yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Disela-sela sambutannya, ia menambahkan karena GBI dinilai Pemerintah ikut berperan serta dalam pembangunan bangsa, maka Presiden Jokowi mengundang Pdt. Dr. Japarlin Marbun ke Istana Negara beberapa waktu lalu. “Kami akan utus Pdm. Henny Donnocambey selaku Ka. Biro Keuangan untuk segera mensosialisasikan kerja-sama ini ke tingkat Propinsi se-Indonesia melalui BPD-BPD GBI (Badan Pekerja Daerah),” katanya.

Menurut penilaian Ketum BPH, BCA memiliki inovasi baru dalam hal ragam produk-produk layanan perbankan. Bukan hanya itu, ia optimis ke depan persembahan-persembahan gereja bisa diberikan melalui layanan digital atau mesin EDC (debit). Menurutnya, metode ini akan saling menguntungkan dan memudahkan bagi kedua-belah pihak.

Diakhir sambutannya, Pdt. Dr. Japarlin Marbun mengucapkan terima-kasih kepada Bank BCA, serta mengharapkan agar Bank BCA semakin maju dan mensejahterakan masyarakat Indonesia serta untuk kemuliaan nama Tuhan.

Redaksi menerima kiriman persyaratan buka rekening dari Edi Kustiawan via Whatsapp (WA) pada hari Selasa, 30 Januari 2018 sesuai dengan naskah kerja-sama di atas sebagai berikut: Pertama,  Rekening yang dibuka oleh Gembala jemaat lokal di BCA akan diberi nama “GBI xxx” sesuai dengan nama GBI jemaat lokal yang ditetapkan oleh BPD GBI atau BPH GBI. Kedua, Dokumen yang wajib diserahkan kepada BCA atas setiap permohonan pembukaan rekening di BCA adalah : A. Surat Keputusan BPD GBI atau BPH GBI tentang pengesahan jemaat lokal GBI. B. Surat Keputusan BPD GBI atau BPH GBI tentang penetapan sebagai Gembala jemaat lokal GBI. C. Surat rekomendasi pembukaan rekening oleh GBI jemaat lokal di BCA, dari BPD GBI atau BPH GBI. D. KTP Gembala. Selamat dan sukses. GT/beritabethel.com. foto: Pram/Fb Pdt.Japarlin

Andy F Noya (Pembawa Acara Kick Andy): DOA DIJAWAB TUHAN & ALAMI MUJIZAT LUAR BIASA!

Andyy F Noya (Pembawa acara Kick Andy)

VICTORIOUSNEWS.COM,-Nama lengkapnya Andy Flores Noya. Ia adalah seorang wartawan dan presenter terkenal acara Kick Andy—sebuah acara yang edukatif karena memberikan banyak inspirasi kepada para penontonnya. Andy lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 November 1960. Andy F. Noya selama ini lebih dikenal sebagai wartawan cetak. Lebih dari lima belas tahun dia bergumul dengan dunia jurnalistik untuk media cetak.

Pertama kali terjun sebagai reporter ketika pada 1985 Andy membantu majalah Tempo untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kala itu pemuda berdarah Ambon, Jawa, dan Belanda ini masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta.
Karir Andy, demikian sapaannya, terbilang mulus dan sukses dalam bidang jurnalistik dan menjadi seorang wartawan yang handal. Bahkan pada tahun 2000, ia pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi Metro TV selama 3 tahun dan juga merangkap menjadi pemimpin redaksi di surat kabar Media Indonesia.

Namun meski pintar dalam dunia jurnalistik, Andy ternyata sempat goyah dalam imannya kepada Tuhan. Andy terlahir sebagai orang Kristen sejak kecil. “Saya anak Tuhan sejak lahir. Orangtua saya Kristen. Saya lahir dari keluarga miskin. Ibu saya tukang jahit. Ayah saya tukang membetulkan mesin Tik. Tapi saya yakin Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam hidup saya. Dan ketika saya berada di sini pun saya yakin Tuhan mempunyai rencana. Karena jujur saja, saya bersama istri dalam perjalanan liburan menuju Yogya. Kami juga singgah-singgah di beberapa kota. Ketika sampai di Solo, saya bilang kepada istri, kita harus natalan di Solo dan mencari gereja. Hari ini saya bisa beribadah di gereja ini karena lewat di Solo,” ujar Andy ketika menyampaikan kesaksiannya di sebuah gereja di Solo.

Andy mengaku, perjalanan keimanannya kepada Tuhan sempat goyah. Ketika dirinya masih remaja, kerap melihat prinsip-prinsip yang tidak cocok diajarkan di gereja. “Kebetulan saya bertetangga dengan berapa jemaat, saya melihat mereka kasar dengan istrinya. Bahkan saya menyaksikan sendiri mereka kerap memukul istrinya. Mulai dari situ saya bilang percuma bilang tentang kasih tetapi dalam perilaku sehari-hari tidak ada kasih. Dan saat itu saya mulai tidak percaya terhadap gereja untuk jangka waku yang lama,” tukas Andy.

Suatu hari ketika Andy melakukan perjalanan bersama mantan ketua umum partai golkar Aburizal Bakrie naik pesawat ke Usbekistan. “Dalam perjalanan cuaca buruk sekali. Pesawat kami seolah diombang-ambingkan di atas Maldive. Saya itu takut sekali kalau naik pesawat dalam kondisi cuaca buruk. Kemudian saya berdoa keras, Tuhan tolong pesawat ini jangan jatuh. Sungguh mati Tuhan, kalau tidak jatuh saya akan kembali ke gereja. Saking takutya, saya bilang Tuhan, saya tidak bohong, saya akan kembali ke gereja. Karena kalau bukan pertolongan Tuhan pesawat itu pasti jatuh karena cuaca buruk disertai hujan deras dan petir menyambar. Singkat cerita, kami selamat dan pesawat mendarat dengan sempurna. Kemudian ketika kembali ke Indonesia, saya bilang ke istri saya, minggu ini kita ke gereja ya. Istri saya kaget dan penasaran. Akhirnya saya cerita, sebenarnya pesawat yang ditumpangi itu nyaris jatuh. Saya cerita tanggal dan jamnya. Nah pada tanggal dan jam itu, rupanya istri saya dan anak bungsu kami itu tiba-tiba berdoa dan berlutut dan mendoakan saya. Mereka mendoakan agar ayah kembali ke gereja. Dan jam itu dan detik itu pesawat yang saya tumpangi pesawatnya bermasalah dengan cuaca. Dan saat itulah doanya dikabulkan dan sejak itu pulalah saya memutuskan untuk kembali ke gereja,” kenang Andy yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak ke gereja.

Pertolongan Tuhan bagi Andy juga terjadi ketika kakak perempuannya divonis dokter menderita kanker payudara stadium 4. “Suatu hari kakak saya minta diantar ke dokter spesialis kanker. Sudah lama dia menahan diri dan sebenarnya tahu kalau kena kanker. Dia pikir kalau disampaikan ke saya, kebetulan saya anak bungsu dari lima bersaudara dan selama ini saya menanggung seluruh keluarga saya yang gajinya sebagai wartawan. Kakak saya divonis dokter kanker payudara stadium 4. Kakak saya menangis. Saya bilang kita harus berobat ke rumah sakit dan berusaha. Akhirnya kami ke rumah sakit Dharmais dan dokter bilang kedua payudaranya harus dipotong, itulah jalan satu-satunya setelah itu harus dikemo sebagai usaha terakhir. Begitu lihat biayanya saya hampir pingsan. Karena hari ini gaji saya tidak cukup, bahkan saya sampai bingung harus pinjam siapa untuk menutupi biaya ini,” cerita Andy.

Malam itu ia sangat gelisah. Tidak bisa tidur. Pikirannya bekerja ekstra keras. Dari mana harus bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya pengobatan? Sampai jam tiga dini hari otaknya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi. “Jumlah biayanya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak. Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat.

Pagi dini hari itu, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental. Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara workshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya. Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu. Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. TUHAN, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-MU, Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib! Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan. Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam menengok kakak di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit, Surya Paloh memutuskan menanggung semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. TUHAN Maha Besar!,” papar Andy mengakhiri kesaksiannya. margianto/victorious edisi 866

Bambang Soesatyo (Ketua DPR-RI): Saya Sumbangkan Gaji Untuk Saudara-saudara Yang Membutuhkan

Ketua DPR-RI, Bambang Soesatyo ketika menyampaikan kata sambutan dalam perayaan natal Parlemen

Dalam perayaan natal bersama MPR-DPR-DPD, Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo justru mempraktekkan kasih itu dengan tidak mengambil gajinya sebagai Ketua DPR-RI yang disumbangkan kepada saudara-saudara setanah air yang membutuhkan. “Hendaknya ini dapat diurus dengan baik dan dapat disalurkan kepada yang benar-benar membutuhkan,” tandas Bamsoet (demikian namanya disingkat). Sementara, Oesman Sapta Odang yang memberikan kata sambutan selanjutnya justru mencuri perhatian umat dengan sejumlah joke yang dilontarkan. “Damai itu harus disertai dengan Hati Nurani,” ujarnya yang disambut tawa umat.

Hampir seluruh Anggota DPR dan Anggota DPD Republik Indonesis (RI) yang notabene merupakan Anggota MPR terlihat dalam Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI ini. Anggota DPR-RI dari lintas fraksi dan partai tersebut mengambil posisi menurut bagian tanggungjawabnya masing-masing. “Panitia mohon maaf jika terdapat nama anggota DPR-RI maupun Anggota DPD-RI yang tidak tercantum. Bukan maksud untuk mengabaikan. Tahun depan kita lakukan lebih baik lagi. Kita adalah satu di dalam Tuhan, satu di dalam Kristus,” ucap Dra Tri Budi Utami MSi (Anggota Seksi Dana dan Pendiri PDO MPR/DPR yang menjabat Kepala Sekretariat Komisi III DPR-RI) kepada Victorious News. (Epaphroditus / Margianto).

Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Ketua MPR-RI, Zulkifli Hasan

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dalam kata sambutan natal bersama MPR/DPR/DPD di gedung Nusantara IV kompleks parlemen Senayan Rabu (24/1/2018), meminta umat beragama agar tetap menjaga persatuan. “Perayaan natal bersama merupakan momentum untuk memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa. Musuh kita bukan perbedaan tapi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, korupsi dan kesenjangan. Damai di hati dan Damai di negeri Indonesia. Keberagaman sebagai keunggulan bangsa Indonesia. Sebagai mantan menteri kehutanan saya tahu Pohon kalau monokultur itu cepat punah. Kalau beragam justru bisa lestari,” ungkapnya.

Baca juga: Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Ketua Umum PAN ini berharap, di tahun politik perbedaan pilihan tetap mempersatukan dalam merah putih yang sama. “Perbedaan suku, agama sudah selesai 71 tahun lalu. Pendiri bangsa sudah sepakat untuk bersama membangun bangsa apapun latar belakangnya,” pungkas Zulkifli. Epha/Mgr.

Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Yesus yang lahir di kandang hewan sebagai gambaran kesederhanaan paling hakiki. Hidup sederhana, apa adanya, dan merasa puas dengan berkat yang diterima adalah warta Natal bagi segenap umat beriman. Rumus kemitraan adalah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Kita bermitra, tetapi tidak untuk menyembunyikan kejahatan, atau merancang malum commune (keburukan bersama). Natal adalah perayaan kemitraan dan kesetaraan. Tuhan Yesus mau bermitra dengan kemanusiaan kita dan menjadi setara dalam kemanusiaan itu meskipun Dia adalah Putra Allah,” tandas Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir. Fary Djemy Francis., M.MA (Fraksi Gerindra) yang menjabat Ketua Komisi V DPR RI.

Perayaan Natal bersama MPR-DPR-DPD, Rabu (24/1/2018) di kompleks Parlemen

Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:15) dan sub-tema “Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah bagi Semua Umat” yang dilaksanakan pada Rabu sore hingga malam pukul 16.30 hingga 20.30 WIB, Rabu, 24 Januari 2018 di Ruang Nusantara IV Komplek MPR/DPR/DPD-RI ini terbagi dalam tiga seksi, yaitu Jamuan Kasih (Pukul 16.30 WIB s/d 17.30), Ibadah (17.30 WIB s/d 19.30 WIB), dan Perayaan (19.30 WIB s/d 20.30 WIB). Sesi ibadah dimulai dengan Ucapan Selamat Datang oleh Ketua Persekutuan Doa Oikumene (PDO) MPR/DPR/DPD-RI (YOI Tahapary, Kelapa Biro Pemberitaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR-RI) dan dilanjutkan dengan Nyanyian Kidung Jemaat 109 berjudul “Hai Mari Berhimpun”.  Persembahan Pujian oleh Paduan Suara (PS) PKP Mupel (Jakarta Barat), Exoduse Voice, PS Paroki Santa Bernadette, Staf Parliament Choir, Yayasan Difabel, Bintang Timur Voice pimpinan Fary Djemy Francis), Jacko Bulan (pemain Sasandu) dan PA Abbas.

“Bumi masih kosong, tidak ada kehidupan setitikpun. Gelap, semuanya gelap. Tidak ada matahari yang menyinari bumi. Namun cahaya yang abadi telah bertahta di samudera raya. Alkitab menceritakan bahwa permulaan segala sesuatunya adalah firman. Tidak ada lain yang ada selain firman itu sendiri. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan firman itu diam di dalam Allah. Melalui firman itulah Allah menjadikan segala sesuatunya,” ucap Aryo PS Djojohadikusumo mengawali liturgi (Litrugi 1) dalam Utani Natal tentang Awal dari Segala sesuatu.

Bagian Penciptaan (Liturgi 2) oleh Mercy Chriesty Barends ST (DPR-RI) menyatakan, “Awal segala sesuatunya adalah ketika Allah menciptakan bumi. Saat itu, Allah menciptakan segala sesuatunya. Allah menjadikan terang untuk dapat silih berganti dengan gelap. Sehingga bumi dapat disusun menurut penanggalan dan musim. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Semua menjadi tersusun rapi.”

“Ketenteraman yang Tuhan berikan tidak lagi terlihat. Bangsa-bangsa telah bangkit untuk menguasai bumi. Rasa tidak puas  telah menghantui manusia, keserakahan makin merajalela. Lihat, setiap hari ada manusia yang mati, budaya tekan menekanbukan satu hal yang perlu untuk dipantangkan. Akibatkan semua berusaha untuk tidak kena tekanan, segala cara dihalalkan, termasuk berbohong dan tidak jujur dengan harapandapat terlepas dari sebuah tekanan,” ucap Ir. Marhany Victor Poly Pua (Wakil Ketua Panitia Natal, DPD-RI) pada Dosa dan Kehancuran (Liturgi 3).

Janji Keselamatan (Liturgi 4) disampaikan Rooslynda Marpaung. “Allah maha baik, tidak ada yang melebihi kasih Allah kepada orang yang berkenan kepada-Nya. Kembalilah kepada jalan Tuhan. Ia akan menuntun setiap orang yang mengasihi Dia. Tidak ada lagi kelaparan, tidak akan ada lagi penindasan. Allah mengenal umat-Nya, tidak ada satu pun yang tidak terdata dengan baik. Kejujuran akan tinggal di tengah-tengah bangsa ini,” ucap Rooslynda (F-Demokrat).

“’Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatunya baru’. Itulah janji Allah kepada manusia. Sejarah mengungkapkan dan membuka tabir-tabir hikmat. Kesalahan yang semula tidak akan terulang kembali. Saat itu gema suara gemuruh angkasa raya berkata kepada manusia, ‘Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud, dan inilah tandanya bagimu, kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan’,” ucap Drs Yoseph Umar Hadi MSi (F-PDI Perjuangan, Wakil Ketua Seksi Penghubung) pada Kedatangan Juru Selamat (Liturgi 5).

Baca Juga: Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Candle Light Service (penyalaan lilin) oleh Pembawa Renungan Natal dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Pdt Dr. Mery Kolimon., S.Th (Pendoa Syafaat), Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ (Pembawa Pesan Natal), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) atau yang mewakili, dan Letjen (Purn) Evert Erenst Mangindaan Sip (F-Demokrat) selaku penanggungjawab dan Ketua Dewan Pembina Persekutuan Doa MPR/DPR/DPD-RI. Persembahan syukur oleh Pdt. Charles Simaremare.

Setelah rehat sejenak, prosesi perayaan natal dimulai dengan masuknya para pimpinan lembaga tinggi negara, termasuk Dr (HC) H Zulkifli Hasan SE MM (Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat/MPR), H Bambang Soesatyo SE MBA (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/DPR), Eko Putro Sandjojo BSEE MBA (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono MSc PhD (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Ignasius Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Perhubungan periode 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016), dan Ir Basuki Karya Sumadi (Menteri Perhubungan) serta Letnan Jenderal (Letjen) TNI Mar (Purn) Nono Sampono (Wakil Ketua DPD-RI). Oesman Sapta Odang yang menjabat Ketua Dewan Perwakilan Daerah/DPD) menyusul kedatangan mereka kemudian.

Beturut-turut masing-masing ketua parlemen memberikan sambutan setelah Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir Fary Djemy Francis MMA menyampaikan laporannya. Pada event tersebut, Ketua MPR-RI mengharapkan perayaan Natal dapat membuat masyarakat Indonesia mampu melewati tahun politik 2018 dan 2019 saat pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota) serta Pemilihan Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden pada tahun 2019 dengan damai dan kasih.

Baca juga: Bambang Soesatyo (Ketua DPR-RI): Saya Sumbangkan Gaji Untuk Saudara-saudara Yang Membutuhkan

Perayaan Natal tahun  ini dihadiri ribuan jemaat, undangan duta besar Negara sahabat, KWI, PGI, dan Perwakilan Umat Buda Indonesia (Walubi). Pada kesempatan ini juga diserahkan bantuan kepada sejumlah yayasan dan pimpinan gereja dari berbagai wilayah Nusantara Indonesia. Pdt Abraham Lewelipa yang menggembalakan jemaat GBI Oirata (Kisar, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku) mendapat kesempatan menerima bantuan sebesar Rp 15 juta. Bantuan diserahkan oleh Aryo PS Djojohadikusumo (F-Gerindra). Ephaproditus/Margianto

Dr. Antonius Natan, M.Th: MAU KEMANA LGBT DI INDONESIA ?

Dr. Antonius Natan, MTh.

VICTORIOUSNEWS.COM,-Tahun 2017 dunia merayakan 500th Church Reformation yang dicanangkan oleh Martin Luther di Jerman pada tahun 1517, tetapi saat ini Jerman adalah negara ke-23 di dunia yang melegalkan pernikahan sejenis. Church of England adalah gereja resmi pemerintah Inggris, Juli 2017 Sidang Sinode menyatakan: LGBT orientation is not a crime, is not a sickness, is not a sin. London Pride Parade adalah LGBT Pride Parade yang diselenggarakan setiap tahun di London, diselenggarakan tahunan sejak 1972, dan akan terus dilakukan sampai pernikahan sejenis legal di seluruh dunia. Berbagai negara termasuk Australia melegalkan pernikahan sejenis tahun lalu. Bagaimana LGBT di Indonesia, mau kemanakah mereka ? bagaimanakah kita menanggapinya ? Bagaimana dengan Hukum di Indonesia ?Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Menanggapi putusan itu, sejumlah postingan di media sosial menuduh MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Juru Bicara MK Fajar Laksono menegaskan, dalam putusan Nomor 46/PUU-XIV/2016, Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis. “Tidak ada satu kata pun dalam amar putusan dan pertimbangan Mahkamah yang menyebut istilah LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender), apalagi dikatakan melegalkannya,” ujar Fajar melalui keterangan tertulisnya, Senin (18/12/2017) seperti dikutip dari Kompas.com.Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) adalah pasal yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Menurut Prof Mahfud MD bahwa MK menolak memberi perluasan tafsir atas yang ada di KUHP, bukan membolehkan atau melarang. Perlu diketahui bahwa ranah ini merupakan peranan yudikatif atau peranan DPR. Masalah LGBT masih digodok di DPR, semoga hasilnya memenuhi standar moral agama-agama di Indonesia yang juga tidak setuju dengan melegalkan perkawinan sejenis.Kelompok ini juga dibela dengan gigih oleh jaringan internasional, dipublikasikan dengan media sosial secara maksimal. Lembaga dunia sekelas UNDP kucurkan dana sebesar  US $ 8 juta atau setara dengan Rp. 108 Milyar untuk dukung LGBT di Indonesia, China, Filipina dan Thailand, “Inisiatif ini dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Interseks (LGBTI), dan mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasasi seksual dan identitas gender (SOGI)” demikian disampaikan UNDP di situs resminya. Dikutip dari DetiknewsLantas para pemuka agama seakan diam membisu, dan masyarakat seolah menyetujui “penyakit LGBT” berkembang dan menyatakan sebagai urusan pribadi dan searah perkembangan jaman ?

Apa Kata Alkitab ?Alkitab dalam Perjanjian Baru secara tegas menunjukkan bahwa perilaku lesbian (L) dan perilaku homoseks (G) adalah dosa, disamping itu Alkitab mengajarkan agar tetap mengasihi mereka yang terlibat di dalam dosa. Kita harus membedakan dosa dan pelaku dosa, Alkitab mengajarkan bahwa para gay dan lesbian agar diperlakukan dengan baik sebagaimana manusia lainnya, sehingga dapat bertobat dan dipulihkan dari dosa.

Alkitab jelas menyebutkan bahwa homoseksualitas (kecenderungan untuk tertarik kepada orang lain yang sejenis – Kamus Besar Indonesia) adalah dosa dan kekejian di mata Allah. Beberapa ayat yang menjadi referensi sebagai berikut: “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka … karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki” Roma 1:24-27. “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.” Imamat 18:22 “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian” Imamat 20:13 “… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga” Yudas 1:7-8 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10

Kata “pemburit” berasal dari teks asli Alkitab bahasa Yunani “arsenokoites” yang artinya adalah “One who lies with a male as with a female, sodomite, homosexual.” Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang dengan keinginan homoseks (hubungan seks dengan pasangan sejenis (pria dengan pria) menurut Kamus Besar Indonesia). Alkitab menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi homoseks karena dosa (Roma 1:24-27) dan kondisi ini merupakan pilihan mereka sendiri. Seseorang bisa saja terlahir dengan kecenderungan terhadap homoseksualitas, tetapi bukan merupakan alasan untuk hidup dalam dosa dan terjerumus akan keinginan dosa.

Firman Tuhan menyatakan bahwa pengampunan Allah berlaku bagi kaum LGBT, sama seperti bagi orang yang berzinah, penyembah berhala, pembunuh, penipu, pencuri, pemfitnah, pemabuk dll. Allah juga menjanjikan pertolongannya dan memberikan keteguhan hati untuk menang terhadap dosa, sama seperti setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus memperoleh anugerah keselamatan.

 Fenomena yang berkembang. Stigma sebagai banci, transgender, gay, lesbian, biseksual pada jaman millennial ini tidak lagi memalukan, melainkan muncul fenomena baru bahwa LGBT adalah identitas dan LGBT adalah orang yang mengikuti kemajuan jaman, dengan konteks Hak Asasi Manusia atau yang dikenal sebagai HAM maka timbul keberanian untuk muncul dipermukaan dan berbicara diberbagai media sosial dan menciptakan panggung untuk mengkampanyekan keadilan dan kesetaraan terhadap transgender, gay, lesbian. Tuntutan bahwa LGBT bukan dosa dan LGBT adalah manusiawi terus dikumandangkan, sepertinya dunia modern memiliki pergeseran norma dan etika yang berlandaskan agama dan setuju dengan hak asasi manusia walaupun melanggar norma, etika maupun agama. Akhirnya muncullah wacana dan dorongan agar perkawinan sejenis dapat diakui dan dilembagakan.

Gereja Harus Memutuskan. Gereja sebagai kepanjangan tangan Tuhan, gereja yang memiliki suara kenabian dan gereja miliki otoritas ilahi, tidak boleh tinggal diam, gereja harus memutuskan. Bahwa Firman Tuhan dengan tegas mengatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa, maka gereja harus memiliki persepsi dan ukuran yang sama tidak bisa memberkati pernikahan sesama jenis. Persoalan ini tidak sekedar toleransi dan tidak tentang hak asasi manusia, tetapi hakekat penciptaan dan tujuan Allah menciptakan manusia dan lembaga keluarga. Gereja menegakkan Firman Tuhan secara baik dan benar, dan gereja taat kepada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.

Gereja hendaknya melakukan inisiatif-inisiatif baru terhadap perilaku seks yang menyimpang dari para Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Interseks. Mendidik dan melatih pelayan gereja agar bisa melakukan konseling secara professional, membuka pintu yang seluas-luasnya bagi kaum LGBT agar diterima sebagai sahabat dan keluarga. Gereja membuka pelayanan khusus dan ibadah yang dikhususkan dengan pelayan yang telah terlatih dan memiliki kapasitas dan pelayanan ini. Gereja menyatakan kuasa serta otoritas ilahi untuk mengalahkan kelemahan-kelemahan. Peranan gereja tidak lepas dari dukungan pengerja dan para jemaat, kesatuan hati dan doa diperlukan agar kemuliaan Tuhan dinyatakan. Amin. Biarlah Indonesia penuh KemuliaanNya.

Penulis adalah Waket I STT Rahmat Emmanuel/ Sekum PGLII DKI Jakarta

Ketekunan Membawa Keberhasilan

Dr. Lenny H. S. Chendralisan, M.Th

VICTORIOUSNEWS.COM,-Memperhatikan etimologi kata ketekunan asal kata tekun yang berarti rajin, sungguh-sungguh, giat.  Orang yang tekun, rajin, sungguh-sungguh dan giat, tidak mungkin tidak berhasil. Ketekunan berhubungan dengan usaha. Dimana ada aktivitas yang mendatangkan hasil yang berguna, tidak selalu berupa uang, bisa saja, kebahagiaan, naik kelas, lulus dari sekolah, memperoleh nilai yang baik, berbuah di dalam Kristus dan membawa jiwa kepada Tuhan. Memiliki hidup yang berhasil bukan karena kekuatan kita, tapi semata-mata adalah anugerah Tuhan. Adakalanya keberhasilan bagi orang yang percaya kepada Tuhan, dapat meneteskan air mata, bukan hanya saat duka saja dapat meneteskan air mata, saat berhasilpun ada tetesan air mata. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mzm 126:6). Petani yang pergi ke ladang menabur benih, ada waktu yang ditunggu untuk menuai. Benih yang bertumbuh dan berhasil dapat dituai, memberikan sukacita tersendiri.

Jika, kita ingin berhasil, kita harus rajin, harus sungguh-sungguh, bukan suam-suam kuku, sehingga kita tidak mengalami kegagalan. Ingin dipakai Tuhan, jadikan diri tekun dan kita dapat menyaksikan cinta kasih Tuhan untuk kemuliaan Tuhan yang ada pada kita. Melakukan dengan sungguh-sungguh, memberikan semua yang dapat kita sanggupi, baik itu pengetahuan, akal serta apa yang dapat kita lakukan. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan (2 Ptr 1:5). Kebajikan sama pengertiannya dengan kebaikan, memberikan kebaikanpun lakukan dengan bergairah dan rajin melakukannya.

Untuk sungguh-sungguh, perlu komitmen; “Saya akan tekun. Saya akan rajin. Saya akan bergairah.” Tanpa komitmen, keberhasilan yang pernah diraih atau hampir mendapatkannya akan mengalami kegagalan. Apa itu komitmen ? Komitmen memiliki pengertian adanya janji dengan diri sendiri untuk melakukan ketekunan dengan sungguh-sungguh. Janji bukan hanya pada diri sendiri, kepada Tuhanpun kita harus sungguh-sungguh. Begitupun dalam iring Tuhan, jangan pernah ragu-ragu. Tidak mudah meraih keberhasilan, kita perlu memiliki komitmen. Adanya komitmen akan menumbuhkan tanggungjawab. Karena ada janji dengan diri sendiri dan kepada Tuhan, sehingga punya buah-buah keberhasilan dalam hidup kita. Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Mat 7:17). Mempunyai karakter/watak yang terbentuk hingga menjadi sukses. Sukses itu bukan hanya milik orang dewasa, namun milik semua orang.

Kita bukan orang yang biasa saja, karena dasar hidup kita adalah Kristus.  Komitmen dapat dianalogikan sebagai janji mau melakukannya dengan rajin. Saat itulah sesungguhnya kita sedang membangun dasar hidup, dengan perilaku membangun hidup yang positif,  hidup yang berhasil. Bukan merusak keberhasilan yang telah diraih. Keberhasilan yang telah diraih perlu pimpinan Roh Kudus, agar Roh Kudus mendampingi kita setiap waktu. Tuhan. Akan memampukan kita untuk tekun, rajin, sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan kita. Pepatah mengatahkan; life is war (hidup adalah peperangan). Memerangi kemalasan memberikan gairah kepada ketekunan. Memerangi kebodohan memberikan tempat kepada kecerdasan. Memerangi kemiskinan, kita sedang memberikan tempat kepada keberhasilan. Kalau kita memiliki karakter yang positif, di manapun kita akan berhasil. Kalau kita memiliki karakter lemah-lembut, kemanapun kita akan disayang Tuhan dan disayang sesama, tentu saja di dalam kekudusan dan kesalehan hidup.

Sukses, berhasil itu sebuah proses, sebuah perjalanan. Dan perjalanan kita masih panjang dengan mengisi lintasan kehidupan berdasarkan kehendak Tuhan. Orang yang komitmen dengan waktu itulah orang yang sukses..Kesuksesan atau keberhasilan ada pengakuan dan terlihat. Dan ketika berhasil ada penguasaan diri dan tidak menjadi sombong. Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu (Yes 2:11).

Tekun dalam mengejar keberhasilan dan punya tujuan yang jelas.Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1 Kor 9:26). Petinju kalau mau memberikan SWING (mengayunkan) pukulannya akan mengarahkan dengan jelas, tepat pada sasaran pukulannya. Tepat pada sasaran berarti fokusnya jelas, tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah (Ams 19:2). Saat kita berhasil, berarti kita punya tanggungjawab dihadapan Tuhan.

            Meraihnya berani berkorban, berani berlelah-lelah dalam mencapai keberhasilan. Berani bertindak untuk memulai dengan mengatur waktu. Dapat mengambil keputusan adalah orang yang berhasil. Saat memulai, akan mengakhiri dengan baik dengan emaksimalkan potensi yang kita miliki. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan (2 Ptr 1:8-9). Memotivasi diri kita  untuk sungguh-sungguh, sehingga potensi/kelebihan yang ada dapat dibuat maksimal.  Motivasi berarti dorongan yang menyebabkan kita mau melakukan sesuatu dengan benar. Menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.  Untuk menjadi giat dan berhasil membutuhkan semangat. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, andalkan Tuhan. Tuhan akan memberikan kesempatan pada kita untuk berhasil. Ambil setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Menyadari bahwa diri kita punya potensi yang besar dan bersedia mengembangkannya. Berjuang dalam peperangan dengan sungguh-sungguh sampai sesuatu yang ingin kita raih mendatangkan kebaikan.

            Menolak panggilan tertinggi (hight calling) dan pilihan Tuhan adalah kegagalan. Kita dipanggil dan dipilih Tuhan, supaya kita diberkati dan memberkati. Keberhasilan dapat berupa berhasil melepaskan diri dari kejahatan, kebencian serta kepahitan hidup. Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (1 Ptr 3:9).

            Kemalasan dapat membuat orang yang tadinya berguna, menjadi yang paling tidak berguna. Kemalasan yang dipelihara, tadinya orang hidup dalam kekayaan, bisa berkurang kekayaannya karena malas, hidup dalam kenyamanan dan berhenti untuk sungguh-sungguh.

            Malas adalah keadaan dimana tidak bergairah, menolak bekerja, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Talenta yang Tuhan berikan, dikubur dalam-dalam tidak terasah karena kemalasan. Orang yang malas, hari ini tidak bisa dipakai Tuhan, besokpun tidak akan dipakai Tuhan dan kelak Tuhan dapat saja mencampakkannya di dalam kegelapan.

Marthin Luther, orang Jerman, hidup selama 62 tahun. Sejak umur 34 tahun Marthin Luther mulai menulis, terus menulis selama 29 tahun. Ada 68 buku yang ditulisnya telah dicetak, masing-masing rata-rata 750 halaman. Dan 27 buku belum dicetak. Marthin Luther juga seorang dosen dan Gembala Sidang. Orang yang dikenang dengan karya-karyanya. Banyak karyanya yang telah menjadi berkat. Dia adalah seorang teladan yang rajin melayani Tuhan. Amatilah semut. Semut tidak pasif, dia bergerak terus bahkan bisa beriring-iringan sedemikian banyaknya. Semut tanpa pimpinan, dia giat mencari, menyediakan dan menyimpan makanannya. Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Ams 6:6-8). Semut selalu berkelompok, tidak menyendiri.

Sungguh-sungguh, sehingga Kerajaan Tuhan yang ada di surga, dapat terjadi bagi kita di bumi. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Ptr 5:11). Latihlah diri untuk menjadi rajin sehingga berhasil dalam segala aspek terlebih dalam pengenalan akan Tuhan. Sola Gracia.***

KISAH PERTOBATAN REO PANGGABEAN AKIBAT TERSENTUH KOTBAH SEORANG PENDETA

Pdt. Reo Panggabean

VICTORIOUSNEWS.COM-Pria bernama lengkap Reo Benyamin Panggabean ini kelahiran 16 Juni 1966.  Ia adalah anak kelima dari lima bersaudara, dari pasangan Muller Panggabean (Ayah) dan Helena Hutabarat (ibu). Reo telah menikah dengan wanita dambaannya bernama Dini Dieny Djandam, asal Kalimantan Tengah dan dikaruniai dua orang putra, masing-masing; Zefanya Kaleluni Panggabean (Zefa) dan Nehemia Janrah Panggabean (Nemi).

Kesaksian Reo, berawal saat hadir dalam Ibadah Raya GBI REM di Atrium Senen (1998). Kala itu, ada seorang hamba Tuhan yang berkhotbah dan mengatakan satu kalimat  ‘bayarlah nazarmu’ .  Kalimat itulah yang tergiang dalam telinga Reo dan menjadi “titik balik” dari seluruh kehidupan yang selama itu sudah dijalankan. “Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sesekali suka datang dalam ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Istora Senayan (Jakarta Selatan). Kegiatan tersebut membuat diri saya berkomitmen ingin menjadi seorang pendeta. Alasannya waktu itu sederhana (karena masih remaja yang emosinya belum stabil), enak ya jadi pendeta, bisa ngomong di depan banyak orang, bisa marahin orang untuk bilang ‘bertobatlah’ dan lain sebagainya hahahaha,” katanya sembari tertawa.

“Kalau bertobat yang namanya merasakan jamahan Tuhan adalah saat saya ikut satu acara retreat remaja di Jogjakarta. Di situlah sesungguhnya cinta mula-mula saya. Dengan cinta itulah, saya bahkan berkata kepada ibu saya kalau saya mau jadi pendeta. Mendengar hal itu, ibu saya tertawa. Saat ini, ibu saya pasti menyadari bahwa tertawanya seperti Sara tertawa waktu dikatakan akan mengandung hahahaha,” urainya kembali disambung tawa.

Bagaimana liku-liku yang akhirnya menghantarkan pada pelayanan yang full time? “Pelayanan diri saya bukan hanya sepenuh waktu, tapi juga sepenuh hati. Kesungguhan itu saya wujudkan dengan membangun ‘Oikumene Ministry Jakarta’ yang diawali saat menempuh pendidikan teologia di STT Ekklesia Jakarta (Sinode GSJA) di Gedung Kenanga pada tahun 2003 pasca pernikahan dengan Dini Dieny Djandam yang dilakukan pada 03.03.03 (3 Maret 2003) di GKI Kwitang (Jakarta Pusat),” urainya.

“Sejak menempuh pendidikkan di STT, saya berjanji akan bayar harga di dalam pelayanan yang saya jalani. Pikir saya, berapapun harga yang akan saya keluarkan dalam pelayanan tidak akan pernah dapat membayar apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan untuk membayar lunas dosa saya,” tandasnya.

Oikumene Ministry Jakarta menjadi wadah bagi siapa saja dan bagi gereja mana saja yang mau bergabung. Yang pasti siapa saja yang mau bergabung mempunyai hati melayani (misi) dan berani bayar untuk semua keperluannya. “Puji Tuhan Yesus hingga saat ini kami telah melakukan beberapa pelayanan ke beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri. Saya menikmati pelayanan ini semua karena, sahabat-sahabat yang mau bergabung mempunyai hati yang sama walaupun mereka berasal dari gereja atau denominasi yang berbeda. Coba bayangin, orang Katolik dan Protestan yang ibadahnya penuh dengan ketenangan bergabung dengan orang Karismatik atau Pantekosta apa jadinya? Mungkin di tempat lain susah, atau mungkin satu gereja dengan gereja yang lain tidak membuka diri. Lihat waktu mereka ada di Oikumene Ministry Jakarta (singkat OMJ) mereka bisa melayani bersama dan punya tujuan yang sama. Haleluya!” kata Reo antusias.

Ditambahkan, sudah saatnya gereja-gereja membuktikan dirinya bahwa mereka benar-benar satu tubuh. Jangan hanya slogan saja! Dengan sedikit senyum dan membagi lesung pipinya. “Jika berbicara kepemimpinan, saya ingat seperti sudah melekat. Sedari kecil, saya selalu dapat mempengaruhi orang bahkan membawa orang ke arah yang saya mau. Bukan itu saja. Terkadang dalam kumpulan ketika harus ambil keputusan akhir tidak sedikit keputusan saya yang menentukan. Ada satu peristiwa yang saya tidak mungkin bisa terlupakan adalah saat saya memimpin adik-adik di STIE Perbanas saat gerakan reformasi penurunan Soeharto Soeharto (8 Juni 1921–27 Januari 2008, Presiden Indonesia kedua periode 12 Maret 1967–21 Mei 1998) pada Mei 1998. Padahal, saat itu, saya sudah menjadi alumni. Sebelum kuliah teologia, saya berkuliah di STIE Perbanas (1985) dan lulus sebagai Sarjana Ekonomi,” ujarnya.

“Selama kuliah, saya merasakan sangat memilik pengaruh di dalam pergaulan. Bahkan, saya bisa bergaul dengan senior yang lima atau enam tahun di atas saya begitupun sebaliknya. Saya begitu berpengaruh kepada adik tingkat saya. Terbukti, dengan kepercayaan mereka meminta saya memimpin rombongan menuju gedung MPR/DPR. Peristiwa 1998 juga kunci bagi kehidupan saya. Setelah Pak Harto lengser saya dihianati oleh adik-adik saya yang menurut saya mereka meninggalkan saya karena kepentingan yang berbeda. Ya, perjuangan yang berbeda. Bagi saya, saat Pak Harto turun ya selesai. Tapi, bagi banyak orang inilah kesempatan meniti karier di bidang politik dengan cara apapun,” katanya.

“Saya ingat waktu itu, di tengah kesendirian, saya mulai berdoa. Menurut saya, berdoanya sangat konyol. Saya minta Tuhan kasih jalan agar saya tidak habis dan menunjukkan kepada mereka bahwa saya benar. Dengan cara yang menurut saya aneh, saya mulai berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak terpikir akan kenal dengan mereka. Dalam kampanye pemilu paska lengsernya Pak Harto, saya menemani Dr (HC) Hj Megawati Soekarnoputri  (Presiden ke-5 Indonesia periode 23 Juli 2001–20 Oktober 2004, Wakil Presiden Indonesia ke-8 periode 20 Oktober 1999–23 Juli 2001, dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sejak 1999) di Jambi. Kalau mas bisa dapat dokumentasi dari televisi atau media-media cetak mana saja pasti ada wajah saya. Saya puas dan sangat puas. Meski bukan anggota partai dan tanpa kepentingan politik apapun saya mengerjakan tugas ini dan menunjukkan kepada siapapun bahwa saya belum habis hahahaha… banyak loh yang mau minta kerjaan apa aja saat mereka melihat saya bareng ibu Mega dan Alm Dr (HC) H Muhammad Taufiq Kiemas (31 Desember 1942–8 Juni 2013, Ketua Majelis Permusyawaratan ke-13 periode 1 Oktober 2009–8 Juni 2013) berada di Jambi. Apa lagi para pemborong hahahaha.  Setelah ibu Mega jadi presiden, saya cabut. Saya senang aaja kalau bisa kasih tahu sama para ‘bajing loncat politik’ bahwa Tuhan bela saya dan semakin tegas bahwa saya harus tinggalkan semua ini untuk balik sama panggilan yang akhirnya tergenapi dalam satu ibadah yang sudah saya sebut di atas,” jelasnya.

“Kini, pekerjaan saya hanya pelayanan saja. Khotbah hari Minggu, khotbah di kantor, kampus, dan dimana saja. Terbukti, Tuhan Yesus luar biasa memelihara saya tatkala saya sungguh-sungguh mau melayani Dia. Begini saja sobat Victorious, kalau diceritain semua tidak akan ada habisnya. Jadi, pembaca bisa melihat sepak terjang saya di facebook atau instagram di Reo B. Panggabean,” ucap Pdt Reo.

Saat ini, ‘Penre’ singkatan dari Pendeta Reo, begitu biasa disapa oleh para ibu atau oma yang aktif di Persekutuan Doa Regatta (PDR). PDR dibangun oleh Pdt Oke Supit SH MH MBA (71 tahun, kelahiran 10 Oktober 1944) dan Rae Sita Supit (1 Juni 1945-20 Mei 2015) serta Ibu Minarni. Ketiga nama disebut merupakan warga Aparteman Regatta, Pantai Mutiara (Pluit, Jakarta Utara).  margianto/tabloid victorious edisi 842