Kesaksian
 
Pdt. Yuyung Nehemia

Nama aslinya adalah Lim Yung Fang. Ayung demikian sapaannya, adalah anak kedua dari pasangan  Lim Nie Yan dan Tan Sioe Lian. Sejak kecil, ia dididik orangtuanya dengan dua karakter yang berbeda. Sang Papa (keturunan Tiongkok asli) memiliki karakter keras, tegas, otoriter dan galak. Sebaliknya, sang Mama justru berkarakter lembut, sabar dan mengayomi anak-anaknya. Maklum, waktu itu sang Papa belum mengenal Juruselamat, sedangkan Mamanya adalah seorang guru dan taat beribadah kepada Tuhan.

Dalam hal watak dan karakter, rupanya Ayung mewarisi sifat-sifat yang dimiliki Mamanya. Ayung kecil pun dididik untuk menjadi anak sekolah minggu yang baik, diajarkan untuk setia dan taat kepada Tuhan. “Sebetulnya orangtua kami cukup baik dan harmonis. Hanya saja, Papa saya punya kebiasaan buruk, yakni suka main judi. Bahkan rumah kami di Kecamatan Banjaran pun sering dipakai untuk berjudi.Ibu saya itu orang yang lembut dan sabar. Nah, sejak kecil saya dididik oleh ibu saya untuk menjadi anak sekolah minggu yang baik. Ayah saya pun tak pernah melarang untuk ikut ibadah sekolah minggu. Sehingga saya menjadi sangat rajin ikut sekolah minggu,” kenang Hamba Tuhan kelahiran Cirebon, 5 April 1946 ini mengisahkan masa kecilnya.

                Meskipun saat itu ia dibesarkan dalam lingkungan desa yang marak dengan pergaulan buruk; seperti, perjudian, perokok, miras, dan sebagainya, tak membuatnya terpengaruh. Justru Ayung  merasakan bahwa “pondasi iman” yang terpatri dalam dirinya melalui sekolah minggu sangat kuat dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal buruk di sekitarnya.

                Berkat doa dan didikan kerohanian dari sang Mama, Ayung bertumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar ketika belajar di bangku Sekolah Dasar di Banjaran Adiwerna. Selepas SD, Ayung kemudian melanjutkan SMP di Sekolah Tionghoa (Tiong Hoa Hwe Kuan/THHK) di kota Tegal hingga lulus. “Setelah lulus saya melanjutkan SMA Tionghoa (THHK) di Jalan Setiabudi kota Tegal. Karena jarak sekolah dengan rumah cukup jauh, saya diizinkan indekos di Tegal. Daripada tiap hari pulang pergi naik delman, ya itung-itung menghemat waktu dan ongkos. Jarak dari tempat kos ke sekolah dekat sekali dan bisa ditempuh dengan jalan kaki,” cerita Pdt.Yuyung Nehemia yang kini dikarunia 3 anak.

Masa remaja Ayung memang tidak seperti teman-teman sebayanya. Jika teman seusianya saat itu menghabiskan waktu untuk bermain, tapi bagi Ayung tidaklah demikian. Ayung lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membantu orangtua, belajar dan beribadah. Bukan itu saja, Ayung pun bertumbuh menjadi anak yang baik dan alim serta seolah tak pedulikan masa kanak-kanaknya “terbelenggu” dengan terjalnya kehidupan saat itu. Bahkan di usianya yang masih muda, Ayung gemar  sekali mendengarkan kaset lagu rohani, renungan kotbah serta buku-buku yang dapat memberkati kerohaniannya sebagai orang Kristen. Beberapa tokoh rohani dalam buku yang pernah dibacanya—telah  mengispirasi serta membentuk karakternya adalah David Living Stone, tokoh dari Shanghai, John Sung (julukan Obor Tuhan di Asia) dan Rev. Billy Graham. “Tokoh tersebut itulah yang mempengaruhi hidup saya untuk terpanggil menjadi hamba Tuhan. Buku-buku beliau yang saya baca itu sangat membentuk karakter saya. Mulai dari remaja itu saya sudah terpanggil untuk membantu pelayanan mengajar anak-anak sekolah minggu di GBI Adiwerna,”tukasnya.

Pdt. Yuyung bersama istri

Dalam hal kerohanian, Ayung pun makin bertumbuh. Kisah pertobatan totalnya berawal ketika masih duduk di bangku SMA di THHK Tegal dalam usia 17 tahun. Saat itu, ia mengikuti kebaktian remaja di Jl. Kartini Tegal di rumah Pdt. D.E Zakaria (ONG LING KOK). Hamba Tuhan ini adalah wakilnya Pdt. Alm. HL Senduk  (pendiri GBI) saat itu. “Waktu ikut ibadah remaja itu, Pdt. Zakaria ini menyampaikan kotbah selama 3 minggu berturut dengan tema tantangan melayani Tuhan. Antara lain panggilan Tuhan kepada Abraham; panggilan Tuhan kepada Yesaya; dan panggilan Tuhan kepada Saul. Dari 18 orang anak remaja, hanya saya yang meresponi kotbah tersebut. Dan panggilan Tuhan kepada saya pun begitu kuat kepada saya. Roh Kudus menggerakkan hati saya secara istimewa, akhirnya saya mengangkat tangan, memberikan diri sepenuhnya dan  memutuskan untuk bertobat. Kemudian saya dibaptis oleh Pdt. Zakaria di Tegal pada tanggal 12 Juli 1964,”paparnya.

Bagi setiap orang yang telah melangsungkan pernikahan, pasti akan merindukan seorang anak yang manis dari Tuhan. Begitu pula yang dirasakan oleh Pdt. Yuyung dan sang istri, ketika dikaruniai anak perempuan pertama. Perasaan sukacita pun tak terbendung ketika sang buah hati lahir. Namun sukacita itu hanya sesaat, karena sang anak mengalami cacat kaki. “Pada tahun 1974  anak saya lahir pertama saya lahir perempuan.  Tapi sampai usia 18 bulan, anak saya itu tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Karena kakinya panjang sebelah.  Satu kurus, satu gemuk dan tidak ada cekungan kakinya (flat). Akhirnya saya cemas. Kemudian kami memeriksakan ke dokter ahli tulang. Dokter itu kemudian menyarankan agar anak saya dioperasi. Kenapa harus dioperasi? Karena tulangnya itu sudah keluar dari mangkoknya. Tapi masalahnya waktu itu ada 2 pertama, kami tidak punya uang. Dan kedua, kami cemas sebab operasi itu dapat dilaksanakan setelah 1 setengah tahun.  Singkat cerita, tiap malam kami berdoa. Setiap malam kami menggendong anak saya dan menumpang tangan tiap hari. Dengan isi doanya, ‘Tuhan kalau boleh adakan mujizat, supaya anak ini bisa berjalan. Karena bayangan buruk itu ada pada kami. Ini anak perempuan. Tapi kalau toh anak ini cacat, tolong berikan kami kekuatan untuk bisa menghadapinya. Sampai pada waktunya, Tuhan punya waktu yang tepat. Suatu hari saya melihat anak itu kakinya tumbuh. Kami tidak tahu itu terjadinya kapan. Tapi kaki itu bisa menjadi tumbuh. Yang kecil menjadi besar dan yang terlalu besar normal. Yang pendek menjadi panjang. Semua normal kembali. Tidak mempunyai cekungan, bisa timbul cekungan. Sejak itu bisa berdiri dan berjalan.itu mujizat yang besar sekali pertama kami terima,” ungkap Ayah dari 3 anak (Alfa Emilia Nehemia, Charles Alvin Nehemia  dan  Lois Teresa Nehemia). margianto/victorious edisi 708

Related posts:

https://victoriousnews.com/wp-content/uploads/2018/01/yuyung-1-1-849x1024.jpghttps://victoriousnews.com/wp-content/uploads/2018/01/yuyung-1-1-150x150.jpgadminKesaksianNama aslinya adalah Lim Yung Fang. Ayung demikian sapaannya, adalah anak kedua dari pasangan  Lim Nie Yan dan Tan Sioe Lian. Sejak kecil, ia dididik orangtuanya dengan dua karakter yang berbeda. Sang Papa (keturunan Tiongkok asli) memiliki karakter keras, tegas, otoriter dan galak. Sebaliknya, sang Mama justru berkarakter lembut,...