Mendikbud RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy., M.A.P, Memberikan Kuliah Umum Kepemimpinan di STT REM Dengan tema “Masa Depan Pendidikan Yang Relevan”

Mendikbud RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy., M.A.P, Memberikan Kuliah Umum Kepemimpinan di STT REM Dengan tema “Masa Depan Pendidikan Yang Relevan”

Para Dosen Pengajar di STT REM berpose bersama dengan Mendikbud Prof. Dr. Muhadjir Effendy M.A.P

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-“Problem yang sering dihadapi dalam dunia pendidikan ada tiga hal, yakni: Kualitas, Kuantitas dan Relevansi. Relevansi ini terkait dengan Social Demand, Man Power & Cita-cita sebuah bangsa. Nah disinilah tantangannya, kita tahu bersama Indonesia merupakan negara kepulauan dengan konsekwensi sebagai negara besar (Sumber Daya Alam) yang kaya. Tetapi untuk menata pendidikan dengan bentuk negara kepulauan itu tidak mudah. Bayangkan saja, luas Indonesia itu sama dengan daratan Eropa mulai dari Istambul sampai London. Dan saat ini siswa SD s/d SMA berjumlah 41 juta; sedangkan mahasiswa/wi Perguruan Tinggi sebanyak 6 juta. Apalagi mengurus jumlah guru swasta hampir 4 juta dan yang mengajar di sekolah negeri hampir 3 juta ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Inilah kondisi  dan potret dunia pendidikan kita saat ini,” papar Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI, Prof.Dr. Muhadjir Effendy., M.A.P ketika menyampaikan kuliah umum di kampus Sekolah Tinggi Rahmat Emmanuel, Kamis (27/9) Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading-Jakarta Utara.

 

Kuliah umum STT REM yang ke 10  ini mengangkat  tema “Masa Depan Pendidikan Yang Relevan” dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Abraham Conrad Supit Center, Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K dan didampingi oleh Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), serta dihadiri oleh Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit., M.Si (yang saat ini diangkat menjadi Ketua Pusat Riset Ketahanan Nasional Universitas Indonesia); para dosen Civitas Akademika STT REM beserta undangan lainnya—termasuk banyak juga pelaku pendidikan di tingkat nasional yang hadir seperti: Dr. Ote Doseba Sinay National (Director World Vision Indonesia), para guru-guru pengajar di Indonesia.

Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit., M.Si Memberikan Plakat kepada Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy., M.A.P

Dalam pemaparan yang lugas, Prof. Muhadjir Effendi  menyinggung soal relevansi pendidikan dengan kebutuhan lapangan. Namum menurutnya masih banyak terjadi ketidaksinkronan. Ia mengungkapkan bahwa ada 4 bidang yang semestinya mendapat perhatian karena daya saing Indonesia yang kuat yaitu Kelautan (perikanan), pariwisata, pertanian dan industri kreatif. “Sayangnya, jalur pendidikan untuk menciptakan guru dan tenaga ahli di empat bidang itu masih sangat kurang. Disinilah problemnya. Contohnya saja, di SMK jumlah guru yang relevan mengajar sesuai dengan disiplin ilmunya  hanya 35 %. Oleh karenanya pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas guru agar nawacita yang digagas pemerintahan Presiden Jokowi dapat tercapai,” ungkap Prof. Muhadjir yang mengajar kuliah umum sekitar 3 jam mulai dari pukul 20.00 sampai 23.00 Wib.

 

Mantan Rektor Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) ini juga menguraikan mengenai program penguatan karakter, soal UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) yang ternyata selama ini belum disesuaikan dengan standar internasional. Ketika disesuaikan tentu banyak yang kelabakan karena berkaitan dengan mutu guru dan sarana. “Namun di balik semua itu saya juga merasa bangga, karena hasil ujian matematika sangat memuaskan. Di Indonesia ini, banyak sekali sekolah Kristen yang sangat berkualitas dan banyak melahirkan siswa berprestasi,” urainya sembari melanjutkan berbicara tentang zonasi yang berkeadilan, berbicara juga tentang kekerasan di sekolah dan dengan lemah lembut dan terbuka menjelaskan permasalahan guru honorer dan solusi yang sedang dikerjakan pemerintah.

Prof Muhadjir juga menjelaskan dengan gamblang sejumlah pertanyaan dari peserta kuliah Umum. Termasuk ketikan dirinya ditanya tentang memutus mata rantai radikalisme dalam dunia pendidikanpun ia jelaskan dengan terang benderang. “Sebenarnya radikalisme itu terkait dengan pendidikan agama. Dan pendidikan agama itu domainnya Menteri Agama, bukan Mendikbud. Namun, bagi saya untuk mengurangi tingkat radikalisme itu harus dimulai dari sendiri. Seperti saya misalnya, walaupun satu keluarga beragama Muslim, tetapi setiap hari raya Natal maupun hari besar agama lain, saya selalu mengajak anak-anak untuk silahturahmi kepada teman-teman saya yang beragama Kristen maupun yang beragama lain. Jadi anak-anak itu harus dikenalkan sejak kecil adanya perbedaaan, agar kelak menjadi dewasa menjadi orang yang toleran dan menghargai umat beragama lain,” tandasnya.

 

Direktur Eksekutif Abraham Conrad Supit Center, Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K  sebagai moderator juga sangat puas dengan pemaparan Prof. Muhadjir. Johan Tumanduk pun memberikan kesimpulannya mengenai apa hubungannya Mendikbud dengan peluru? “Untuk diketahui saja Prof Muhajjir Effendy yang lama menjadi Rektor Universitas Muhamadyah Malang menulis disertasi tentang militer Indonesia, lebih tepatnya ia ahli sosiologi militer. Ia banyak memberi contoh dan analogi sistem pendidikan dengan hal hal yang berbau militer, seperti standar senjata NATO M 16 yang menjadi acuan pembuatan SS 2 Senapan Serbu buatan Indonesia. Bagaimana kalau kita mau mengadopsi sistem terbaik di dunia sementara perangkat kita tidak kompatibel, seperti peluru misalnya. Peluru SS2 kita bisa digunakan di M 16 dan sebaliknya. Ada idealisme, harus pula diikuti dengan upaya keras yang setara. Asyik banget pemaparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita ini. Suasana ceria, mahasiswapun tekun mendengarkan. Ia memang pendidik sejati. Kiranya Tuhan memberkati dan terus diberikan semangat kepada beliau untuk membenahi dunia pendidikan Indonesia bersama Presiden Jokowi tentunya,” Tulis Johan dalam laman FBnya.

Sementara itu, Ketua STT REM, Dr. Ariasa H Supit dalam kata sambutannya, mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak menteri Pendidikan & Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy., M.A.P yang berkenan menyampaikan kuliah umum di STT REM. “Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Menteri yang telah berkenan hadir di tempat ini. Saya juga berterimakasih kepada seluruh civitas akademika, panitia dan peserta kuliah umum yang menghadiri acara ini. Saya sering mendengar bahwa Presiden Jokowi menyampaikan agar kita bisa mengikuti perkembangan teknologi yang semakin cepat. Jika kita tidak cepat, maka kita akan tertinggal atau ditinggal karena teknologi kekinian semakin maju. Sudah bukan saatnya lagi program pendidikan yang lama, kita harus berani buka program pendidikan yang sesuai kebutuhan di era digital saat ini. Sekali lagi, biarlah pemaparan yang disampaikan oleh Pak Menteri dapat menjadi wawasan baru dan diterapkan, khususnya dalam dunia pendidikan kita,” Papar Dr. Ariasa mengakhiri sambutannya. Margianto

Nemy Simanjuntak- RILIS ALBUM “GRATEFUL” UNTUK MEMBERKATI BANYAK ORANG

Nemy Simanjuntak bersama sang suami Jeffry Daniel Fam

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-Nama lengkapnya adalah Nemy Simanjuntak. Ia adalah salah satu Worship Leader yang setia melayani di GBI Shalom di bawah penggembalaan Pdt. Jorry Tasik. Lewat kepiawaiannya dalam olah vokal inilah, mendorong istri dari Jeffry Daniel Fam (Bendum DPA GBI) untuk melebarkan pelayanannya dengan merilis sebuah album kompilasi dengan tajuk “Grateful”. Menurut Ibu dari 3 anak (Aubrey Christina Fam, Olivia Noelsa Fam dan Raguel Joseph Fam), album ini bukan untuk komersil; melainkan dibagikan secara gratis kepada umat Kristiani. “Saya rindu memberkati umat Kristen melalui album Grateful ini. Album ini juga tidak dijual atau dibagikan gratis. Kerinduan saya adalah setiap lagu yang saya ciptakan ini dapat dinyanyikan oleh umat Kristen ataupun gereja dimana saja. Itu saja saya sudah bersyukur,”  tutur Naemy yang mengaku telah memiliki talenta sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Suksesnya album perdana (2018) tersebut tak luput dari dukungan suami dan anak-anak yang setia memberikan motivasi maupun masukan yang positif dalam berolah vokal.  “Terimakasih banyak kepada Tuhan Yesus Kristus. Sungguh tak dapat dihitung perbuatan Tuhan yang ajaib dalam hidupku. Tak ada habis-habisnya berkat dan kasih karunia Tuhan melimpah dalam hidupku, salah satunya adalah terciptanya lagu-lagu rohani dalam album Grateful.  Awal Maret 2018 yang lalu Tuhan menggerakkan untuk menciptakan lagu rohani. Nah ketika Tuhan menggerakkan ciptakan lagu, dalam waktu satu bulan saya bisa menciptakan 12 lagu. Puji Tuhan ada 6 lagu yang dipilih Pak Adi Wibowo sebagai aransemen dan produser dalam album ini,” ujar Nemy.

Enam lagu yang terangkum indah dalam sebuah album Grateful ini adalah: Sumber Kekuatan-(dinyanyikan oleh Adrian Sumapode); Bersorak-Sorailah (dinyanyikan oleh Jeffry Daniel Fam); Terlalu Besar (dinyanyikan oleh Eka Deli); Kudatang (dinyanyikan oleh Maria Sinaga); Kudus-Kudus (dinyanyikan oleh Naemy Simanjuntak dan Raguel Fam); serta KasihMu melimpah (dinyanyikan oleh Aubrey Fam & Olivia Fam). “Jujur saja saya memiliki latar belakang yang buruk. Dulu waktu saya sekolah, khususnya ketika duduk di bangku SMA, saya terjerat dalam pergaulan yang buruk. Saya menjadi anak yang nakal, pernah overdosis dan hampir mati. Dalam kondisi overdosis itu, saya ditolong oleh Tuhan. Karena pada saat itu saya panggil Tuhan. Tuhan tolong aku, aku mau mati. Saat itu mata saya tidak bisa dibuka, dan saya merasakan berada di lorong yang gelap. Saya terus memanggil nama Tuhan Yesus. Singkat cerita  Tuhan benar-benar tolong, dan saya memutuskan untuk bertobat sungguh-sungguh. Dan saya juga bersedia melayaniNya sampai hari ini. Puji Tuhan, walaupun saya memiliki masa lalu yang kelam, tetapi ada orang yang diutus Tuhan untuk menerima saya sebagai istrinya. Saya bersyukur sekali karena Tuhan mengirimkan seorang suami yang baik. Suami saya itu tidak pernah neko-neko dari sejak muda. Itulah pengalaman rohani  yang membuat saya terus bersyukur atas kebaikan Tuhan dalam kehidupan keluarga kami,” ungkap Nemy menyaksikan kebaikan Tuhan dalam kehidupan keluarganya. Margianto

DIRESTUI & DAN DIDOAKAN OLEH PETINGGI SINODE GBI, PDT. ERASTUS SABDONO PAMITAN DIRIKAN SINODE BARU

Pdt. Erastus Sabdono didoakan usai rapat MP-BPH & BPD, Selasa 18/9/2018 di Graha Bethel

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Kabar mengenai mundurnya Pdt.Erastus Sabdono dari Sinode GBI sempat beredar luas, baik di jejaring media sosial facebook maupun whatsapp serta menjadi perbincangan publik khususnya umat Kristiani di Indonesia. Puncaknya saat isu perbedaan teologi mengemuka, terutama adanya surat tanggapan dari Sinode GBI terhadap pandangan teologi Pendeta Erastus yang cukup fundamental, mulai tersebar di berbagai media sosial.

Dalam pertemuan dengan sejumlah media Kristiani di Graha Bethel (Selasa, 18/9/2018), Pimpinan Sinode Gereja Bethel Indonesia (yakni: Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Pdt. Paul Widjaya dan Pdt.Suyapto Tandyawasesa) mengakui ada perbedaan teologi yang mendasar dengan pemahaman Pendeta Erastus Sabdono. Fakta inilah yang menjadi alasan utama Pendeta Erastus Sabdono memilih mundur dari GBI dan mendirikan sinode baru. “Intinya, (Pendeta Erastus Sabdono) sudah berbeda secara teologi, makanya beliau mendirikan sinode baru. Kalau GBI, yaa tetap di GBI dengan pemahamannya. Perbedaan ini tidak usah dipertentangkan. Seperti Abraham dan Lot, kau ke kanan, dan aku ke kiri, atau aku yang ke kiri, dan kau ke kanan. Begitu saja kan? Artinya sama-sama mengerjakan pekerjaan Tuhan, sesuai dengan panggilan masing-masing,” ujar Ketua Umum Sinode GBI Pdt. Japarlin Marbun kepada wartawan.

Pdt. Japarlin pun menghimbau agar kondisi dan perbedaan ini tidak perlu dibesar-besarkan, karena semua telah diselesaikan secara baik-baik. “Karena bagi kita baik di GBI, maupun di organisasi yang lain sama-sama bekerja untuk Tuhan. Jadi tidak ada yang perlu diperdebatkan. Sehingga kita bekerja dan melayani secara bersama-sama, sehingga Kerajaan Allah makin diperluas ditengah-tengah dunia ini. Dan mundurnya Pendeta Erastus memang murni atas pilihan sendiri dan tidak terkait dengan hal apapun. Konklusinya, kita anggap sudah selesai, beliau sudah menjalankan pilihannya. Kita harapkan setelah ini, masing-masing melayani dibidang panggilannya masing-masing,” papar Japarlin.

“Jadi memang seperti yang beliau sudah sampaikan di media sosial, juga surat yang beliau kirimkan kepada kita, dijelaskan bahwa memang Beliau mendapatkan pengembangan pemahaman, dan ada beberapa pemahaman yang sudah berbeda dengan GBI. Jadi supaya tidak terjadi, katakanlah kontroversi ditengah GBI mengenai ajaran dari Pak Eras, beliau mengatakan lebih baik mundur saja, itu disampaikan baik dalam video, maupun juga surat yang disampaikan kepada kita,” kata Japarlin, dalam konferensi pers bersama awak media seusai pertemuan pengurus Sinode GBI dengan Pendeta Erastus Sabdono.

Japarlin juga menjelaskan secara runut mengangatnya isu di media sosial mengenai perbedaan teologi yang terjadi antara GBI dan Pendeta Erastus. Komunikasi yang kurang intens, diakui menjadi salah satu penyebabnya. “Kegaduhan sebenarnya terjadi karena komunikasi yang kurang intens, dan akhirnya hari ini kita laksanakan pertemuan dan percakapan secara langsung, dan akhirnya kegaduhan terselesaikan dengan baik. Artinya Pak Eras akan memulai dengan Sinode yang baru, dan kita GBI pun juga, katakanlah mengutus beliau untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan disana,” jelasnya.

Dalam pertemuan Majelis Pertimbangan, Badan Pekerja Harian dan Badan Pekerja Daerah GBI dengan Pendeta Erastus juga berlangsung dengan baik. Bahkan tampak Pdt. Japarlin Marbun, Pdt. Abraham Conrad Supit beserta para petinggi Sinode GBI sempat mendoakan secara langsung Pendeta Erastus bersama istrinya, diakhir pertemuan. margianto

UNTUK ANTISIPASI GEJOLAK POLITIK, MP-BPH & BPD GBI SEPAKAT MENUNDA SIDANG SINODE XVI TGL 27 S/D 30 AGUSTUS 2019

Ki-ka: Pdt. Paul Widjaya (Sekretaris Umum), Pdt. Japarlin Marbun (Ketua Umum BPH Sinode GBI), dan Pdt. Suyapto Tandyawasesa (Bendahara Umum)

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,- Rapat pimpinan Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang dihadiri oleh Majelis Pertimbangan (MP), Badan Pekerja Harian (BPH), dan Badan Pekerja Daerah (BPD) menghasilkan sebuah keputusan untuk menunda (mengundur) pelaksanaan Sidang Sinode XVI GBI yang sesuai jadwal awal akan dilaksanakan pada tanggal 23-26 Oktober 2018, diundur menjadi 27-30 Agustus 2019.  Keputusan ini diambil untuk mengantisipasi adanya gejolak politik saat masa kampanye menuju Pemilihan Umum (Legislatif) maupun pemilihan umum Presiden (Pilpres 2019). “Keputusan untuk menunda karena dikuatirkan, mulai 18 Oktober sudah mulai kampanye Pilpres, kondisi politik menghangat. Makanya kita antisipasi jauh-jauh hari sebelumnya. Mencegah kawan-kawan hamba Tuhan kuatir tidak datang dan lain sebagainya. MP, BPH bersama ketua-ketua DPD telah membicarakan dan memutuskan hal tersebut,” ujar Ketua Umum Sinode GBI Pdt. Dr. Japarlin Marbun, kepada wartawan usai rapat di Graha Bethel, Selasa, 18/9/2019.

Pimpinan BPH GBI pose bersama dengan wartawan media Kristiani

Pdt. Japarlin menjelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan ini, BPH bekerja sesuai dengan mekanisme yang ada, yaitu mendengarkan masukan Majelis Pertimbangan BPH GBI, untuk setelahnya  BPH GBI mengundang pertemuan dengan Ketua-ketua BPD GBI se-Indonesia. Dalam rapat pertemuan tersebut, dihadiri oleh 28 Ketua BPD GBI se-Indonesia dari 34 BPD. “Hampir semua BPD menyetujui perihal penundaan ini, kecuali 1 BPD yang akan berkonsultasi dengan jajarannya. Akan tetapi Mayoritas BPD yang menyetujui, telah otomatis dianggap kuorum, dan kebijakan menunda sidang sinode ke-XVI ini pun ditetapkan,” tandas Pdt. Japarlin didampingi Sekretaris Umum Pdt. Paul Widjaja, dan Bendahara Umum Pdt. Suyapto Tandyawasesa.

Dengan keputusan ini, Japarlin berharap Sidang Sinode nantinya akan berjalan lengkap dengan para perwakilan dan situasi yang kondusif. “Para Pendeta bisa saja tidak bisa hadir ke persidangan oleh karena kondisi politik. Tahun depan, 2019 Sinode digelar dalam situasi yang kondusif,” tutur Pdt. Japarlin. margianto

Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala BPN, Dr. Sofyan A. Djalil., SH., MA., M.ALD Sampaikan kuliah umum ke 9 di STT REM dengan tema “Sertifikat Tanah Rakyat Sejahtera

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-“Pemberian Sertifikat tanah merupakan upaya pemerintah dalam memberikan  kepastian hukum. Kita tahu selama ini sering terjadi sengketa tanah dimana-mana,” ujar  Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala BPN, Dr. Sofyan A. Djali., SH., MA., M.ALD ketika menyampaikan kuliah umum di kampus Sekolah Tinggi Rahmat Emmanuel, Jumat (7/9) Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading-Jakarta Utara. Kuliah umum STT REM yang ke 9  ini mengangkat tema “Sertifikat Tanah Rakyat Sejahtera” dan dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Conrad Supit Center, Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K dan didampingi oleh Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), serta dihadiri oleh Civitas Akademika STT beserta undangan lainnya.

Menurut Menteri Sofyan selama ini  pemerintah terkesan tidak serius urus tanah yang dimiliki rakyat. Bahkan Presiden Jokowi dulu pernah dikerjai oleh oknum BPN saat ia masih sebagai pelaku usaha. “Syukurlah sekarang kita percepat pemberian sertifikat tanah kepada rakyat. Dimana pada tahun 2017 sudah  5.000.000 sertifikat terbit.  Pada 2018 akan ada 7.000.000 sertifikat, dan 2019 akan ada 9.000.000 juta sertifikat tanah yang diterbitkan oleh pemerintah. Diharapkan  tahun 2025 seluruh rakyat Indonesia akan punya sertifikat tanah. Saat ini ada 120.000.000  bidang tanah dengan hanya 46.000.000 saja yang sudah bersertifikat.” Lanjut Pria kelahiran  Aceh Timur, Aceh pada 23 September 1957 dan   mempunyai  hobi jalan kaki  6000 langkah setiap setiap hari  dan bersihkan selokan.

Bila selama ini hanya terbit 500.000 sertifikat per tahun, maka akan membutuhkan waktu 125 tahun untuk membuat sertifikat  dari seluruh bidang tanah yang ada. “Untuk itulah pemerintah terus menggenjot penerbitan sertifikat dengan cepat dan tepat di seluruh Indonesia. Itu sebabnya   program pendaftaran  tanah sistematik lengkap (PTSL) di kelurahan atau desa yang ada menjadi andalan kami untuk pemberian sertifikat kepada rakya,”tukas Sofyan

Menurut Sofyan juga bahwa pemberian sertifikat akan menjadikan seseorang menjadi nyaman dengan memiliki  leading asset sehingga bisa berhubungan dengan bank andai ingin meminjam uang karena ada jaminan asset yang pasti dimilikinya yaitu sertifikat tanah.

Program PTSL   memastikan penyelesaian sertifikasi tanah  akan sesuai target. Selama ini karena belum adanya kepastian hukum atas tanah seringkali memicu sengketa dan perseteruan di berbagai wilayah Indonesia.

Metode PTSL  merupakan inovasi pemerintah melalui Kementerian ATR/BPN untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. PTSL dituangkan dalam Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 12 Tahun 2017 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah  Sistematis Lengkap dan Instruksi Presiden nomor 2Tahun  2018 tentang Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap di seluruh  Wilayah Republik Indonesia. “Kalau target itu tidak tercapai, seperti yang sering diucapkan presiden berkali-berkali dalam beberapa kesempatan, saya hanya punya dua pilihan : dicopot atau diganti, ” ujar mantan Menteri BUMN ini.

“Kalau yang tidak punya sertifikat tanah tidak bisa digunakan sebagai collateral kepada pihak bank. Makanya banyak yang  kemudian  meminjam ke rentenir  dengan bunga yang tinggi. Padahal, dengan sertifikat tanah, siapa pun dapat mengajukan kredit dengan bunga hanya 0,6 % per tahun. Itulah sebabnya orang BPN kalau dipikir-pikir banyak amalnya, ujar pria yang genap berusia 61 tahun ini.

Sementara itu, Ketua STT REM Dr. Ariasa H Supit dalam kata sambutannya, mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak menteri ATR/Kepala BPN  dalam menyampaikan kuliah umum di STT REM. “Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Menteri yang telah berkenan hadir di tempat ini. Saya juga berterimakasih kepada seluruh civitas akademika, panitia dan peserta kuliah umum yang menghadiri acara ini.  Perlu diketahui bahwa Pak menteri ini adalah sosok yang rendah hati, jujur, humoris. Beliau juga pekerja keras. Oleh karena itu saya berharap melalui kuliah umum yang disampaikan, kita memperoleh wawasan  dan pencerahan dalam hal kepemimpinan beliau, khususnya di bidang Agraria/pertanahan saat ini,” ungkapnya. Margianto

Ibadah GMB Bulan September 2018: BPD Pekan Baru-Riau Terima Bantuan Mobil Gran Max Ke 27

Ps. Yonathan (YMGS GBI REM Cabang Raden Saleh) Menyerahkan simbolis kunci gran max kepada Wakil ketua BPD Pekan Baru-Riau, Pdt. Ekel Sihotang

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,- Ibadah ucapan syukur bertema “Giving My Best” (GMB) yang diadakan oleh GBI Rahmat Emmanuel Ministries (GBI REM) diselenggarakan secara rutin (digillir masing-masing cabang) setiap bulan sekali. Pada hari Minggu, (02/9/2018) giliran GBI REM Cabang Raden Saleh, Gedung Yayasan Kasih Bersaudara lantai 4 Jl. Raden Saleh No 14 D, Cikini,  Jakarta Pusat yang menjadi tuan rumah. Dalam ibadah ini giliran BPD GBI Pekan Baru-Riau yang menerima bantuan kendaraan operasional Mobil Gran Max ke 27 dari total 72 mobil—dan secara simbolis diserahkan oleh Yang Mewakili Gembala Sidang (YMGS/Gembala Cabang) GBI REM Raden Saleh, Ps. Yonathan kepada Wakil Ketua BPD GBI Pekan Baru-Riau, Pdt. Ekel Sihotang.

Gembala Sidang GBI REM, Pdt. Abraham Conrad Supit dalam kotbahnya, mengutip nats Alkitab yang terambil dalam kitab Lukas 1:37, ‘Sebab Bagi Allah Tak Ada Yang Mustahil’. “Tuhan melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin melalui kita umatNya. Jadi kemustahilan itu bisa terjadi karena ketaatan demi ketaatan pada firman Tuhan. Kemustahilan juga tidak terlepas dari besarnya iman kepercayaan kita kepada Tuhan,” tutur Pdt. Conrad Supit sembari mengutip kitab Markus 9:23.

 Lanjut Pdt. Conrad, “Ketika iman dan ketaatan kita berjalan seirama, maka firman Tuhan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah itu akan tergenapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Sebab barangsiapa mengandalkan Tuhan pasti diberkati, sesuai dengan kitab Matius 1:23 dan Matius 25:39. Nah, ketika sudah diberkati, kita juga harus berani memberikan  persembahan yang terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan, baik itu memberi persembahan sulung, ucapan syukur, maupun persembahan persepuluhan,” tukas Pdt. Conrad.

Di penghujung kotbahnya, Pdt. Conrad, mengingatkan kembali bahwa saat ini gereja dan orang percaya harus memiliki tugas mulia untuk melaksanakan Amanat Agung, sesuai dengan Matius 28:18-19. “Kita harus menyampaikan kabar Injil ini kepada siapapun, baik keluarga, teman maupun orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat,” tegas Pdt. Abraham Conrad Supit.

Pada kesempatan tersebut, GBI REM juga tetap konsisten untuk memberikan bantuan, baik secara internal maupun eksternal. Majelis Pertimbangan BPH GBI menerima dana bantuan sebesar Rp, 10 juta setiap bulan  dari total bantuan Rp. 200 juta; namun perwakilan MP berhalangan hadir. Bantuan lain yang diberikan GBI REM yaitu untuk operasional pelayanan Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) sebesar Rp. 10 Juta (ke 7) dari total bantuan Rp. 100 Juta; operasional Yayasan pelayanan Agape sebesar Rp. 10 Juta (ke 8) dari total bantuan Rp. 100 Juta; operasional pelayanan BPD DKI Jakarta sebesar Rp. 10 Juta (ke 8) dari total bantuan Rp.200 Juta; Operasional pelayanan Oma Betty sebesar Rp 3 juta (ke 29) dari total bantuan Rp.100 juta; Operasional pelayanan panti asuhan Pondok Taruna sebesar Rp.10 juta  (ke 7) dari total bantuan Rp.100 juta, Bantuan kaki palsu kepada Bapak Hasan Saputra; dan masih banyak lagi bantuan pelayanan kepada internal GBI REM.

Persembahan pujian musik angklung/Kolintang dari anak-anak Panti Asuhan Pondok Taruna juga menambah suasana ibadah makin semarak dan istimewa. Sebelum doa berkat, Pdt. Abraham Conrad Supit  memimpin prosesi ibadah perjamuan kudus.  Margianto/foto: yes