Nasional News

Pembukaan SAA ke 35 PGI dihadiri oleh Itjen Kemenkumham RI, Jhony Ginting, SH, MH

Salatiga, Victoriousnews.com, Pembukaan secara resmi Seminar Nasional dan Lokakarya Agama- Agama ke-35 Persekutuan Gereja- gereja di Indonesia (SAA ke 35 PGI) ditandai dengan pemukulan gong sebanyak 3 kali, oleh Wakil Sekum Pdt. Krise Gosal mewakili MPH PGI (Rabu, 3 Juli 2019) di Gedung Balairung, Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.


Semiloka  PGI yang berlangsung selama 3 hari (3 sd 5 Juli) ini dihadiri 200 orang lebih; terdiri dari kalangan gereja, lembaga- lembaga kristiani, lembaga-lembaga lintas iman, tokoh-tokoh Kristiani seperti Ketua PGIW DKI Jakarta (Pdt. Manuel Raintung), Ketua MUKI (Djasarmen Purba), Sekjen MUKI (Mawardin Zega), pengamat politik (Merphin Panjaitan), Majelis Tinggi  Sinode GKSI (Willem Frans Ansanay), Plt.Sekum GKSI,Pdt.Yus Selly- , DPP Perwamki, mahasiswa dan masih banyak lagi.

Ketum YBD, Theofransus Litaay, SH.LLM,Ph.D, ketika menyampaikan kata sambutan dalam pembukaan SAA

Semiloka PGI ini bekerjasama dengan Yayasan Budi Darma serta Pusat Studi Agama Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Adapun tema besar yang diangkat adalah  “Agama dan Warga Negara Yang Terpinggirkan Pada Kemimpinan Baru Indonesia” disampaikan oleh Jhoni Ginting, SH., MH (Inspektur Jenderal Kementrian Hukum & HAM RI) sebagai keynote speaker (sesi 1) menggantikan Menkumham, Yassona H Laoly., SH., Ph.D yang berhalangan hadir.

Irjen Kemenkumham RI, Johny Ginting, SH, MH (keynote speaker) ketika menyampaikan materi seminar

Ketua Umum Pengurus Yayasan Bina Darma (YBD), Theofransus Litaay, SH.LLM,Ph.D, dalam kata sambutannya, menceritakan bahwa, Yayasan Bina Darma Salatiga (YBD) didirikan 40 tahun lalu secara bersama-sama pada tanggal 17 Agustus 1979 oleh Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) dan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). “Tujuan utama dari lembaga ini adalah melakukan pembinaan kepemimpinan kepada generasi muda baik dalam medan pelayanan perguruan tinggi, gereja dan masyarakat,” ujar Theo.
Menurut Theo, salah satu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pada saat ini adalah persoalan intoleransi dan konflik ideologi di Indonesia. Persoalan semacam ini memiliki dimensi jangka panjang sehingga perlu diantisipasi sejak awal, dibahas dan dirumuskan rekomendasi-rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan agar kehidupan kebangsaan kita di masa kini maupun masa yang akan datang semakin diperkuat dalam semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini pula yang kami lihat diperjuangkan oleh PGI dan perlu mendapatkan dukungan untuk diwujudkan termasuk dukungan dari YBD. “Itulah sebabnya YBD mendukung kerjasama ini bersama-sama dengan UKSW dan Mission21 dalam rangka mewujudkan pelaksanaan Seminar dan Lokakarya Agama-Agama PGI ke-35,” tuturnya.
Lanjut Theo, diharapkan dengan strategi semacam ini maka dapat dihasilkan berbagai pokok pemikiran yang mendalam serta komprehensif. Selain itu abstrak makalah yang tidak terpilih untuk dipresentasikan dalam seminar ini akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Pax Humana. “Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan membentuk kepanitiaan baik panitia pengarah dan panitia pelaksana yang disupervisi secara langsung oleh PGI. Melibatkan unsur Yayasan Bina Darma Salatiga, Anggota dan senior GMKI Salatiga, serta Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi Universitas Kristen Satya Wacana. Panitia selanjutnya merumuskan format kegiatan SAA ke-35 dalam bentuk seminar dan lokakarya yang disertai dengan mekanisme pemaparan oleh para pakar didalam acara seminar dan dilanjutkan dengan presentasi 30 makalah hasil call for paper yang diseleksi dari 70 abstrak.Buku rumusan hasil prosiding SAA ke-35 akan diserahkan ke PGI dan diharapkan bisa bermanfaat bagi perumusan materi-materi Sidang Raya PGI tahun 2019,” papar Theo . Dalam sesi selanjutnya, acara seminar juga diisi dengan para pembicara yang berkompeten di bidangnya, seperti: Prof. Dr. Sumanto Al-Qurtuby, Dr. Amilatul Qibtiyah, Dra. Arshinta M.Kes, Dr. Hatib Abdul Kadir, Prof. Dr. I. Nengah Duija, dan Pdt Dr. Izak Y.M Lattu. “Kegiatan ini bertujuan untuk memberi masukan kepada kepemimpinan  Indonesia periode yang baru dalam hal keagamaan, tradisi dan toleransi yang kuat. Peserta tidak saja dari kalangan gereja, namun berbagai aliran agama di Indonesia,” tutur Ketua Panitia kegiatan Semiloka, Wilson Therik.

Adapun sub tema yang menjadi bahasan multi agama ini terdiri dari :
a. Agama, Negara dan Keadilan Gender
b. Agama, Negara dan Kaum Disabilitas
c. Agama, Negara dan Masa Depan Masyarakat Adat Indonesia
d. Agama dan Nasionalisme Virtual
e. Agama, Generasi Milenial danPendidikan Kebangsaan
f. Kontroversi dan Sikap Terhadap Penyiaran Agama Di Indonesia

Selain itu, SAA ke-35 kali ini akan diisi pula dengan beberapa panel menarik, serta akan menghadirkan 30 pemakalah yang telah diseleksi melalui call for paper sebelumnya. Sumbangan-sumbangan pemikiran kritis, kreatif dan peduli pada agama dan bangsa ini akan dibahas bersama dalam panel-panel diskusi. Forum diskusi ini menjadikan kegiatan SAA ke 35 ini semakin menarik, karena dari berbagai lintas agama akan duduk bersama saling mengupayakan dan berpikir bersama tentang peran dirinya sebagai masyarakat dan keyakinannya bagi bangsa dan negara.

Baca Juga: Frans Ansanay (Ketua Majelis Tinggi GKSI): SAA Ke 35 Merupakan Bentuk Peran & Kepedulian Gereja Terhadap Bangsa & NKRI

Mewujudkan kehidupan beragama mau tak mau diperlukan usaha yang terarah dan terus diupayakan. Hal ini adalah kewajiban seluruh bangsa yang didalamnya adalah umat beragama. Pemerintah tentunya tak mampu bekerja sendiri tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu tujuan seminar dan Lokakarya SAA PGI ke 35 ini menjadi penting dan perlu di dukung. Kehadiran seluruh elemen masyarakat diperlukan dalam rangka upaya membangun bangsa yang utuh, solider dan tetap terarah.SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *