Personil Pengurus BPH GBI periode 2019 sd 2023: Kombinasi Wajah Lama & Kaum Milenial

Personil Pengurus BPH GBI periode 2019 sd 2023: Kombinasi Wajah Lama & Kaum Milenial

Susunan Pengurus BPH GBI periode 2019 sd 2023

SENTUL,Victoriousnews.com,- Persidangan Sinode GBI XVI di Sentul International Convention Center (SICC), Sentul- Bogor diakhiri dengan sejumlah rangkaian acara pelantikan yang akan bertugas masa bakti 2019 sd 2023 (Jumat, 30/8).

Susunan Pengurus BPH GBI periode 2019 sd 2023

Yakni pelantikan MP (Majelis Pembina) BPH GBI; Pelantikan Majelis Pekerja Lengkap (MPL); Pelantikan Dewan Pendiri GBI (Pdt. dr. Olly E. Mesach, Pdt. Dr. Julius Ishak Abraham, MSc, Pdt. Yorry H.N. Tasik, Pdt. Kefas Sihombing, dan Pdt. T.L. Henoch) ; pelantikan Pengurus BPH GBI; pelantikan Ketua BPD serta Pelantikan Pendeta = 916 orang dari seluruh BPD GBI se-Indonesia.

Kiri-kanan, nampak Pdt. Gilbert Lumoindong, Pdt. Djohan Handojo, Pdt. Wiryohadi, Pdt. Hengky So, Pdt. Juan Mogi, Pdt. Josia Abdisaputera

Menurut Ketua Umum BPH, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham kepada jurnalis Kristiani bahwa, personil pengurusnya akan banyak diisi figur muda atau kaum milenial.

 Majelis Pembina (MP) : Nampak Pdt.Abraham C Supit (kelima dari kanan) dan Pdt. Niko Nyotoraharjo (keenam dari kanan) dan Pdt. Japarlin Marbun (kelima dari kiri)

“Komposisi kepengurusan BPH ke depan akan banyak diisi orang-orang muda. Sebenarnya bagus juga kalau didominasi kalangan milenial tapi terkendala dengan jabatan yang kebanyakan belum pendeta penuh. Walau begitu, saya akan memasukkan nama Pdt. Yohanes Nawuay dan Pdt. Juan Mogi,” tutur Pdt. Rubin kepada wartawan.


Figur-figur muda yang dimaksudkan oleh Pdt. Rubin Adi menduduki jabatan penting, diantaranya adalah: Pdt. Gilbert Lumoindong ( Ketua Pekabaran Injil), Pdt. Djohan Handojo (Ketua Pengembangan Misi), Pdt. Juan Mogi (Ketua Next Generation dan Digital Media), serta Pdt. Ronny Daud ( Ketua Teologi dan Pembinaan Kepejabatan). Sedangkan wajah lama yang masih mendapatkan kepercayaan dari Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, diantaranya, Pdt. Josafat Mesakh (Sekretaris Umum), Pdt. Himawan Leenardo (Bendahara Umum), Pdt. Y Wiryohadi (Pelayanan Masyarakat dan Market Place), Pdt. Hengky So (Pembinaan Keluarga), dan Pdt. Josia Abdisaputera (Pembinaan Wilayah dan Jaringan). Tampak sekali, bahwa susunan kepengurusan BPH 2019 sd 2023 Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham memadukan wajah lama dan wajah baru dari kaum milenial.

Ki-ka: Pdt. Monique Supit, Pdt. Oke Supit dan Pdt. Ariasa Supit saat dilantik di.SICC Sentul, Bogor, Jumat (30/8)

Sementara itu, dari ratusan pendeta yang dilantik dari seluruh Indonesia, ada 3 orang Pendeta dari GBI Victorious family (penggembalaan Pdt. Abraham Conrad Supit),yakni : Pdt. Oke F Supit, Pdt. Monique Supit, dan Pdt. Ariasa H Supit.

Kika: Pdt. Monique Supit,Pdt. Oke Supit dan Pdt. Ariasa Supit

“Puji Tuhan, bahwa saat ini telah ditahbiskan menjadi hamba Tuhan. Saya sangat bersyukur, meskipun usia tidak muda lagi, tetapi tetap bersemangat melayani Tuhan. Karena melayani Tuhan Yesus itu tidak mengenal batas usia. Mari kita bersama-sama sehati mendukung kepemimpinan Ketua Umum yang baru untuk mewujudkan penuaian jiwa yang besar. Sebab ladang sudah menguning. Ayunkan sabitmu menuai jiwa-jiwa,” tutur Pdt. Oke Supit usai dilantik menjadi Pendeta di SICC, (Jumat, 30/8).SM

Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketum BPH GBI): Kita Harus Sehati Mewujudkan GBI Great!

Pdt. Japarlin memberikan dukungan dengan tulus kepada Pdt. Rubin Adi Abraham

JAKARTA, Victoriousnews.com,- Sehari setelah terpilih menjadi Ketua Umum dalam sidang Sinode GBI XVI dengan meraup 890 suara, Pdt. Dr.Rubin Adi Abraham, bertemu dengan sejumlah wartawan Kristiani di ruang VVIP Sentul International Convention Center (SICC) pada hari Kamis, 29/8 2019 pukul 12.00 Wib. Dalam pertemuan tersebut, Pdt.Rubin mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan Wartawan yang telah meliput acara mulai dari pembukaan hingga pemilihan Ketua Umum Sidang Sinode GBI XVI. “Pertama-tama saya ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan wartawan yang telah meliput acara, khususnya pada pemilihan Ketum hingga Subuh/dini hari. Puji Tuhan kita telah melakukan proses pemilihan ketum GBI hingga Subuh berjalan damai,sukacita. Saya tidak pernah menggangap bahwa pemilihan kepemimpinan sebagai rivalitas. Karena keempat calon kemarin itu adalah hamba Tuhan GBI. Menurut saya pergantian kepemimpinan adalah hal yang wajar. Dan saya melihat Pak Japarlin sebagai Ketum periode lalu, dengan besar hati mendukung, beliau akan duduk dalam Majelis Pembina sehingga kita bisa bekerjasama. Banyak hal yang bagus yang telah dicapai dalam pelayanan dan tugas Pak Japarlin. Makanya mengharapkan kesehatian. Kita sangat bersyukur, proses pemilihan kemarin berlangsung damai, sukacita, legowo dan smooth karena kehendak Tuhan. Saya selalu katakan, jangan berdoa meminta saya menang. Tetapi berdoalah hanya kehendak Tuhan yang terjadi. Maka siapapun yang Tuhan pilih, kita harus dukung. Karena kalau Tuhan sudah memilih siapapun tak ada yang bisa menolaknya,” tutur putra dari Pdt.Dr. Julius Ishak Abraham,M.Sc yang juga sebagai salah satu tokoh dewan pendiri GBI.
Menjawab pertanyaan Apakah nantinya akan mengakomodir atau menggabungkan visi-misi Pdt.Japarlin, SEHATI Mewujudkan GBI GREAT? “Sebetulnya, program ke depan itu sudah ditetapkan dalam sidang MPL, dan seorang ketua Umum tidak bisa membuat program sendiri, kecuali untuk lwbih detailnya. Dalam sidang MPL itu ada 7 pokok program yang harus dijalan oleh BPH. Saya rasa program Pak Japarlin tentang GBI Great bagus, itu bisa kita combine dan tukar pikiran untuk mewujudkan itu,” tukas Pdt. Rubin yang juga Ketua STT Kharisma, Bandung, Kelahiran Surabaya, 14 Juni 1964.


Selain aktif sebagai gembala sidang GBI di Bandung, adalah pembicara radio dan televisi yang ada di Indonesia, dan di berbagai acara rohani di Indonesia dan luar negeri (Asia, Australia, Eropa dan Amerika).
Pendidikan Teologi ditempuhnya di : Seminari Bethel Petamburan Jakarta – Sarjana dalam bidang PAK (Pendidikan Agama Kristen), Institut Alkitab Tiranus Bandung – Master dalam bidang Konseling, Universitas Kristen Indonesia Jakarta – Master dalam bidang PAK dan STII – Yogyakarta ; Doctor of Ministry dalam bidang konsentrasi Pastoral Leadership dan juga Doctor of Theology dalam bidang Misi.
Sang istri yang sangat setia mendampingi bernama Dra. Lenawati Tanudjaja dan telah dikaruniai 3 putri : Jessica, Jovita dan Joy.
Sementara itu, Pdt. Japarlin Marbun tampak sangat tulus mendukung kepemimpinan Pdt. Rubin Adi ke depan. “Kita sangat tahu kecintaan kita kepada GBI, tidak ada sedikit kekuatiran bahwa GBI akan stuck, justru kita yakin pasti mengalami kemajuan. Dan saya yakin Pdt. Rubin bisa mewujudkan hal tersebut. Mengenai GBI GREAT adalah turunan dari tema Sidang Sinode XVI, great harvest. Jadi untuk mewujudkan hal tersebut ya kita harus Sehati. Karena untuk melakukan penuaian raya, itu tidak bisa sendiri, semua harus sehati dan bekerjasama.Kalau tidak sehati, tidak mungkin bisa terwujud,” tukas Pdt. Japarlin saat mendampingi Pdt. Rubin dalam pertemuan dengan wartawan.

Terkait GBI SEHATI,  Rubin menguraikan, bahwa Huruf S adalah dari kata sinergi potensi. Artinya gereja besar harus dukung gereja kecil. Sedangkan huruf E dari kata erat dengan Roh Kudus. Maksudnya alkitabiah berciri pentakosta seperti disebutkan founding fathers GBI Om Ho. Juga pujian penyembahan doa sangat penting dalam Roh Kudus. Huruf H dari kata harmonisasi keluarga. Panggilan utama pendeta bukan gereja tapi membangun keluarga.
Adapun A adalah aktifkan pemimpin muda. Pada 2030 golongan millenial yang paling penting berperan dan karena itu GBI harus menjangkau mereka. Untuk T dari Teknologi terpadu. Akan mengadakan pelayanan online sekolah dan rapat pengurus untuk efesiansi waktu dana biaya. Nanti akan aktif di sosial media dan majalah. Perlu juga nanti ada Bethel TV channel. Lalu juga transparansi ini soal keterbukaan dengan auditor. Dengan itu akan dipercaya (trust) akan mendatangkan lebih banyak. Terakhir I dari Misi. Bagaimana mencapai 10 ribu gereja. Karena itu gereja harus didewasakan sehingga bisa membuka cabang. Oleh karena itu penting melakukan pemuridan terutama dalam mentoring. SM

Drama Pemilihan Ketum GBI 2 putaran, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th Terpilih Sebagai Ketum BPH Sinode GBI Periode 2019 sd 2023

Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham langsung didoakan dan dilantik usai terpilih sebagai ketum Sinode GBI

 

JAKARTA, Victoriousnews.com, Agenda penting yang paling menarik dan ditunggu-tunggu dalam Sidang Sinode XVI di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor oleh peserta persidangan adalah pemilihan Ketua Umum GBI periode 2019 sd 2023.

Pdt. Dr. Japarlin Marbun dan Pdt. Dr Rubin Adi Abraham (Ketum Sinode Periode 2019 sd 2023)

Majelis Persidangan yang memimpin jalannya sidang adalah Pdt. Yohanes Sumiran, Pdt. dr.Josafat Mesach, MTh.Pdt. Dr. Pudjo Setoto Abednego, Pdt. Gede Widiada, M.Th, dan Pdt. Dr.dr. Dwidjo Saputro, SPKJ.

Sebelum dilakukan pemilihan, Majelis persidangan menetapkan bahwa pendeta yang akan memilih berjumlah 1772 suara dengan sistem one man one vote. Teknisnya adalah panitia membagikan kertas suara yang telah distempel panitia sidang sinode dan pemilih menuliskan nama kandidat, lalu memasukkan dalam kotak yang telah disediakan di meja majelis sidang.

Majelis Sidang memanggil para kandidat untuk maju ke depan serta menanyakan kesediaannya untuk menjadi Ketua umum. 4 Calon GBI 1 tersebut adalah Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Pdt. Dr. Jacob Nahuway, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, dan Pdt. Dr. Melianus Ferry Haurissa Kakiay. “Apakah Bapak bersedia dicalonkan menjadi Ketua Umum?,” tanya Majelis Sidang. Satu persatu para kandidat menjawab bersedia dicalonkan.
Setelah melewati putaran pertama, Pdt. Dr. Rubin Adi,MTh akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum BPH GBI periode tahun 2019-2023. Pemilihan dan pelantikan ini sebagai bagian dari acara Sidang Sinode GBI XVI di SICC Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa-Barat (Kamis, 29/08, 00.13 WIB).
Perolehan angka putaran pertama : 1. Pdt. Dr. Japarlin Marbun (410 suara). 2. Pdt. Dr. Jacob Nahuway,MA (613 suara). 3. Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, MTh (525 suara). 4. Pdt. Dr. Ferry Haurissa (204 suara). Tidak sah : 4 suara.
Sedangkan pada putaran kedua : 1. Pdt. Dr. Japarlin Marbun (23 suara). 2. Pdt. Dr. Jacob Nahuway (712 ssuar).3. Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, M.Th (890 suara). Abstain : 1 suara.
Usai pengumuman terpilihnya Ketum BPH baru, Majelis Persidangan, para mantan Ketua BPH GBI, anggota MP mendoakan Pdt. Dr. Rubin Adi, M.Th dan istri. SM

Pembukaan Sidang Sinode GBI XVI, Prof. Dr. Thomas Pentury., M.Si Mengapresiasi GBI Telah Memiliki 3,2 Juta Jemaat

Dirjen Bimas Kristen, Prof. Thomas Pentury memukul gong, membuka Sidang Sinode GBI XVI (Selasa, 27/8)

SENTUL,Victoriousnews.com,-Perhelatan akbar Sidang Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) XVI yang diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa-Barat (27 sd 30 Agustus 2019) mengusung tema “Great Harvest” (Tuaian Besar) dan Sub Tema : Menuai Dengan Kuasa Roh Kudus.

Acara besar yang dihadiri oleh 4284 hamba Tuhan di seluruh Indonesia ini dibuka secara resmi dan ditandai pemukulan gong sebanyak 3 kali oleh Dirjen Bimas Kristen RI, Prof. Dr. Thomas Pentury., M.Si, (Selasa, 27/8) pukul 16.30 Wib.
Tampak hadir dalam opening ceremony adalah Prof. Dr. Thomas Pentury.,M.Si, Pdt. Dr. Japarlin Marbun (Ketua Umum BPH GBI) beserta jajaran pengurus inti BPH GBI, Pdt. Dr. Jacob Nahuway, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, Pdt. Dr. Ferry H Kakiyai, Pdt. Dr. Abraham Conrad Supit, pimpinan Church of God (USA), Pdt Dr Henriette Tabita Hutabarat-Lebang (Ketum PGI), Lisa Mulyati, S.Sos, M.Si (Pembimas Kristen Kanwil DKI Jakarta, Pdt. Yerry Tawalujan (Ketum Gerkindo), dan masih banyak lagi.
Pdt. Dr. Japarlin Marbun dalam kotbahnya mengutip firman Tuhan yang terambil dalam KPR 1:8 dan Matius 28: 19-20. “GBI dipanggil Allah untuk menyelesaikan Amanat Agung dengan kuasa Roh Kudus. Selanjutnya, setiap orang yang diselamatkan Injil Kristus, mereka harus alami pertumbuhan rohani sesuai dan diperlengkapi untuk membangun tubuh Kristus. GBI juga berperan membangun karakter dan mendewasakan anggota jemaat sehingga menjadi serupa dengan Kristus,” ungkap Pdt. Japarlin.
Pdt. Japarlin juga menjelaskan mengenai 7 pokok pelayanan GBI, yakni: Penginjilan, Pengajaran, Penggembalaan, Persekutuan, Peribadahan, Pelayanan dan penatalayanan.
Pdt. Sutadi Rusli selaku ketua panitia dalam laporannya mengatakan, bahwa, dari 2700 pendeta (Pdt) yang terhisap dalam Gereja Bethel Indonesia yang telah hadir dan mendaftar adalah 2079 orang. Sehingga sidang sinode ini telah mencapai kuorum. Luar biasa teman-teman pendeta datang dari berbagai macam daerah. Mereka begitu antusias untuk hadir di tempat ini mengikuti sidang hingga tanggal 30 nanti. Sedangkan Pendeta muda (Pdm) yang terdaftar berjumlah 1600 orang. Dan Pendeta pembantu (Pdp) sebanyak 605 orang. Totalnya 4284 orang. Jumlah ini juga termasuk 900 calon pendeta penuh yang beberapa waktu lalu tgl 24-27 Agustus mereka telah mengikuti Diklat yang diadakan di Royal Safari Garden, Cisarua. Mereka telah bersama- sama dengan kita untuk mengikuti sidang Sinode ke XVI ini,” tutur Pdt. Sutadi Rusli.
Lanjut Pdt. Sutadi, dalam penyelenggaraan sidang sinode ini, Panitia juga menggunakan 30 hotel yang berada di sekitar Sentul, Bogor dan Cisarua sebagai tempat menginap peserta. “Panitia juga menggunakan 90 bis untuk transportasi dari setiap hotel-hotel yang sudah kita sediakan. Saya bersama panitia yang ada berusaha sebaik- baiknya untuk melayani saudara semua. Tetapi sekiranya jika ada hal- hal yang kurang berkenan,saya mohon dengan hormat bersama panitia memohon untuk dimaafkan,” tukas Pdt. Sutadi.
Sementara itu, Dirjen Bimas Kristen, Prof. Dr. Thomas Pentury dalam kata sambutannya, mengatakan bahwa, sesuai data, jumlah jemaat GBI adalah 3,2 juta jiwa dengan 6035 (gereja lokal/jemaat). “Visi dari pendiri GBI, Pdt. H.L Senduk, adalah 10.000 gereja lokal/jemaat. Sebuah visi yang luar biasa yang telah dicanangkan oleh pendiri gereja bethel Indonesia,” ujar Prof. Thomas Pentury.
Lanjut Prof. Thomas, bahwa perjalanan gereja saat kita banyak mengalami tantangan yang tidak ringan. “GBI didukung dengan beberapa lembaga telah melakukan riset penting, mencatat bahwa pertumbuhan gereja hasil penginjilan masih jauh dari harapan gereja-gereja di Indonesia,” papar Prof Pentury mengapresiasi keberadaan GBI menjadi salah satu sinode dengan jumlah jemaat luar biasa banyak dari 324 sinode yang bernaung dalam 8 aras gereja nasional.
Prof Thomas juga berpesan, melalui Sidang Sinode XVI ini diharapkan dapat memberikan sumbangan-sumbangan positif bagi pembangunan gereja dan bagi pembangunan bangsa.
Pada hari kedua, Rabu (28/8) Sesuai agenda dari Panitia, akan diadakan pemilihan Ketua Umum BPH periode 2019 sd 2024. Ada 4 calon yang akan bertarung memperebutkan kursi GBI 1 yang akan dipilih oleh 2079 Pendeta (Pdt), yakni: Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Pdt. Dr.Yakub Nahuway, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham dan Pdt. Dr. Ferry Haurissa Kakiyai. SM

Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI) Kecam Keras Pembubaran Ibadah Gereja Di Indragiri Hilir

Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-  Sekretaris Umum Persekutuan Gereja gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Gomar Gultom mengecam keras penghentian ibadah Gereja GPdI di Dusun Sari Agung, Petalongan Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir.

Menurut Gomar, arogansi Satpol PP membubarkan ibadah yang sedang berlangsung sungguh-sungguh melukai hati, bukan saja umat yang sedang beribadah, tetapi juga melukai suasana batin umat kristiani di berbagai pelosok tanah air.

Lepas dari ketiadaan ijin dan Surat Keputusan Bupati yang memerintahkan Tim Satpol PP untuk menyegel rumah ibadah tersebut, tindakan tersebut sudah sangat melampaui kepatutan.

Terhadap alasan penolakan masyarakat semestinya pihak Bupati mengupayakan dan memfasilitasi pengadaan rumah ibadah bagi warga yang membutuhkannya, dalam semangat Perber Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang dijadikan dasar penolakan oleh warga tersebut. Perber tersebut justru menugaskan Pemda setempat untuk memfasilitasi manakala ada kesulitan masyarakat dalam memperoleh rumah ibadah.

Menjalankan ibadah merupakan hak konstitusional warga, sebagai bagian dari kebebasan beribadah yang dijamin oleh Undang-undang. Ketiadaan Ijin dan sebagainya tidak semestinya menghalangi orang untuk beribadah. “Untuk itu saya menuntut Mendagri untuk menegor Bupati Indragiri Hilir atas kasus ini, dan memerintahkannya untuk memfasilitasi kebutuhan akan tempat beribadah bagi jemaat tersebut,” paparnya. SM

Pdt. Dr. Japarlin Marbun (Ketum BPH GBI): GBI Siap Membekali Hamba Tuhan Di Daerah Untuk Tangkal Radikalisme & Terorisme!

JAKARTA,Victoriousnews.com,- “Para hamba Tuhan GBI yang melayani di tengah-tengah masyarakat harus memahami dinamika yang terjadi. Khususnya sekarang ini makin maraknya aksi terorisme dan radikalisme. Menyikapi hal tersebut, maka gereja harus memahami. Supaya kita bisa menyikapi dengan baik. Jangan sampai kita terjebak dalam strategi mereka. Selain itu, gereja itu kan dipanggil menjadi berkat dan membangun masyarakat. Dan tentu membangun masyarakat itu ada berbagai segi. Termasuk diantaranya adalah meningkatkan keamanan. Kalau tidak aman,kan tidak mungkin kita bisa bekerja dengan baik. Tetapi kalau aman, kita bisa bekerja dengan baik. Untuk itulah kita harus memahami dan mengerti situasi dan kondisi. Itu sebabnya saya dorong para pejabat di daerah supaya mereka memahami dan mengikuti seminar ini. Sehingga mereka pulang ke daerahnya, bisa mencerahkan masyarakat. Hal-hal semacam inilah yang harus dipahami dan dilakukan sebagai peran gereja di tengah masyarakat,” ujar Pdt. Dr. Japarlin Marbun ketika menjadi tuan rumah sekaligus pembicara dalam Seminar Gereja & Kebangsaan bertajuk “Mengenal dan Menangkal Terorisme & Radikalisme” di Graha Bethel, Senin (26/8) yang digelar oleh PGIW DKI Jakarta bekerjasama dengan GBI.
Lanjut Pdt. Japarlin, melalui seminar ini diharapkan bisa tertular dan dilakukan di daerah- daerah. “Karena banyak masyarakat daerah di Indonesia yang sudah terpapar radikalisme. Oleh karenanya, ke depan, kita akan lakukan hal semacam ini untuk memperkuat peran GBI di daerah. Karena sudah waktunya GBI berperan di tengah masyarakat. Sebagai gereja terbesar, kita dapat menunjukkan perannya. Agar kehadiran GBI dapat menjadi berkat di tengah masyarakat,” tandas Japarlin.

Pdt. Dr. Japarlin Marbun usai menyampaikan materi seminar

Mantan teroris berbahaya di Asia Nazir Abbas dalam kesaksiannya, mengaku jadi teroris sejak remaja, yaitu usia 18 tahun. “Memang usia remaja itu yang paling mudah dipengaruhi dan gampang direkrut,” . Menurut Nazir, anak-anak muda yang telat belajar agama sangat rawan sekali terjangkit radikalisme. Sebab ilmu pengetahuan agama mereka masih sangat dangkal. Ia memberi contoh pengalaman dirinya sendiri. “Saya dulu pada tahun 1987 dikirim ke wilayah konflik di Afghanistan berumur 18 tahun,” kata Nazir Abbas sembari mengatakan bahwa di Afghanistan ia diajari cara menggunakan senjata dan merakit bom. Sejak itu ia jadi teroris yang ditugasi ke beberapa negara dengan nama dan identitas diri yang selalu berubah.
Menurut Pdt Albertus Paty, bahwa Terorisme dan Radikalisme adalah musuh kita bersama didunia ini, gerakan Radikalisme terjadi bukan baru satu atau dua tahun ini saja namun perjuangan mereka sudah lama, bahkan gerakan Radikalisme ini Sudah pada tahap TSM ( Terstruktur, Sistematis, Masive ) bahkan gerakan Radikalisme sudah masuk di hampir semua lini pekerjaan. Peran perempuan bagi Albertus Paty sangat signifikan, Teroris ada juga perempuan, bahkan mereka sudah ada yang mati melakukan bom bunuh diri. Perempuan yang lebih sensitif bisa juga menjadi juru damai untuk melawan gerakan radikalisme.
Ada tiga musuh besar negara yaitu : Radikalisme, Korupsi dan Narkoba peran negara harus hadir dan bersinergi dengan rakyar dalam menghadapi musuh negara. Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila bukan negara agama, Indonesia harus menjaga Pluralitas dan Demokrasi.
Sementara itu, Pdt. Shephard Supit: mengungkapkan bahwa, tujuan dari seminar tersebut adalah rindu untuk memperlengkapi para hamba-hamba Tuhan tentang pemahaman apa itu terorisme dan radikalisme. “Sebab hal ini peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Bahkan ada siasat-siasat di balik ini, banyak rohaniawan yang belum paham. Padahal dalam hal ini peran rohaniawan penting,” paparnya.
Seminar tersebut menampilkan sejumlah nara sumber, diantaranya adalah; Pdt. Dr. Albertus Patty ( ketua PGI), Pdt. Dr. Japarlin Marbun (Ketum Sinode GBI), Irjen Pol (Purn) Dr. Benny Mamoto (Pengajar penangkal terorisme dan radikalisme), Nasir Abas (Mantan teroris Asia), dan dimoderatori oleh Pdt. A Shephard Supit (Ketua Marturia PGIW DKI Jakarta). SM

Pdt. Dr. Tony Mulia: Kita harus dilepaskan dari kutuk generasi

Pdt. Dr. Tony Mulia ketika menyampaikan seminar “Mematahkan & Memutuskan Kutuk Generasi”, Sabtu (24/8)

JAKARTA,Victoriousnews.com, “Berbicara mengenai memutuskan kutuk generasi ini, tidak ada dalam mata kuliah sekolah teologi. Tetapi hal ini sangat penting bagi kehidupan kita sebagai orang Kristen. Apakah benar kita sudah diputuskan dari kutuk generasi? Karena meskipun kita sudah bertobat, belum tentu kita sudah bebas dari kutuk generasi. Contohnya saya sudah bertahun-tahun sebagai pendeta, ternyata pernah mengidap sebuah penyakit aneh (bibir/wajah) bengkak dan lebam. Ketika dibawa ke RS, tidak ada penyakit dan tidak ada obatnya. Nah ketika saya belajar dari Rev. Morris Cerullo dan saya baca buku beliau, ternyata saya harus dilepaskan dari kutuk keturunan. Kalau melihat dari latar belakang keturunan Mah Oco saya (Buyut perempuan), Ng kong/ Ema (Opa/Oma). Nah Mah Oco saya dulu setiap malam jumat suka bersihkan kerisnya dikasih jeruk nipis disertai doa-doa kepada setan (mantra). Anehnya mantra yang dibacakan itu dashyat sekali, karena waktu itu banyak yang sakit dan sembuh. Nah, disadari atau tidak, bahwa setiap kita harus dari kutuk generasi, sebab bisa berimbas 1 sampai 4 generasi di atasnya. Puji Tuhan, setelah saya dilepaskan dari kutuk generasi itu, sejak tahun 2017, penyakit saya sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi,” tutur Pdt. Dr. Tony Mulia ketika menyampaikan seminar bertema “Mematahkan dan Memutuskan Kutuk Generasi” di House of Worship GKB El-Bethel, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Sabtu, 24/8)


Menurut Hamba Tuhan yang menjadi ‘Anak Rohani’ dari Rev. Dr. Morris Cerullo, kita dapat lepas dari kutuk generasi tersebut, jika kita menuruti kehendak Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus sang juruselamat. “Ada banyak hal yang menyebabkan kita di bawah bayang-bayang hitam kutuk generasi. Misalnya:
• Mengakui dan menyembah dewa-dewa palsu termasuk mengultuskan sesuatu seperti New Age, uang, jimat-jimat, mantera, dan lain-lain.
• Terlibat dalam okultisme, termasuk astrologi, sihir, dukun, hipnotis, konsultasi ke paranormal, membaca garis tangan, pemanggilan arwah, dan lain-lain.
• Tidak menghormati dan menghina orangtua.
• Menindas dan berlaku tidak adil kepada yang lemah dan tidak berdaya.
• Percabulan, perzinahan, pedofilia, homoseks.
• Anti Israel dan bangsa Yahudi karena mereka adalah umat pilihan TUHAN.
• Memaksakan kebenaran diri sendiri.
• Kedagingan, hawa nafsu.
• Murtad, tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
• Pencurian: korupsi, suap, sogok.
• Sumpah palsu: berbohong di bawah sumpah.
• Mengambil hak dan milik TUHAN atau sumber lain yang menjadi milik TUHAN.
• Mengucapkan kata-kata negatif, umpatan, sumpah serapah, dan lain-lain.
• Ketakutan, kecemasan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan.
• Kalau dalam hidup kita atau dalam keluarga atau garis keturunan kita ada melakukan hal-hal seperti pada daftar di atas, maka kita sudah berada di bawah kutuk,” tandas Pdt. Tony.


Dalam pemaparannya, Pdt. Tony menjelaskan, bahwa, Alkitab mencatat ada sebanyak 230 kali kata kutuk (Ulangan 28:15-68) dan 410 kali kata berkat (Ulangan 28:1-14). Ini berarti bahwa Alkitab menunjukkan begitu banyak berkat diberikan kepada kita jika kita mau taat dan setia kepada TUHAN.“Berkat dan kutuk ibarat terang dan gelap. Dalam gelap kita tidak dapat melihat dan melakukan apapun. Begitu ada terang, maka kegelapan langsung lenyap. Demikian pula halnya dengan berkat. Begitu kita diberi berkat oleh TUHAN, maka kutuk langsung lenyap,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengenai angka 14.14.14. “ Angka tersebut menggambarkan tentang generasi. Di Alkitab ada 14 generasi dari Abraham sampai Daud, 14 generasi dari Daud-masa pembuangan, dan masa pembuangan sampai Yesus Kristus. Perhatikan, dari Abraham sampai Kristus ada 41 generasi. Dalam perjalanan kehidupannya ke-41 generasi sebelum Kristus tersebut, mereka menurunkan berkat sekaligus kutuk. Sebagai contoh, Abraham pernah tidak mengakui Sara sebagai istrinya, tetapi sebagai saudaranya supaya ia tidak dibunuh. Hal ini pun berulang terjadi kepada Ishak yang juga tidak mengakui Ribka sebagai istri untuk menyelematkan nyawanya. Kutuk Abraham turun kepada Ishak karena memanipulasi kebenaran TUHAN. Demikian pula dosa perzinahan yang diperbuat Daud menjadi kutuk bagi keturunannya dari Salomo hingga raja-raja Israel berikutnya.
Kutuk dari 41 generasi tersebut akhirnya semuanya ditanggung Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib. Salib menjadi simbol kutuk dosa dari 41 generasi tersebut dan generasi-generasi sebelumnya. Kristus memikul kutuk dosa seluruh umat manusia agar melalui kematian-Nya di kayu salib manusia berdosa yang terkutuk itu terbebaskan dari dosa kutuk. Salib Kristus berubah menjadi simbol keselamatan manusia dari hukuman kutuk dosa, sehingga bagi mereka yang menerima dan percaya kepada Kristus memperoleh berkat dari anugerah Bapa di Sorga.
Setelah generasi Kristus, generasi ke-42 belum terisi. Karena kita adalah pengikut Kristus, maka kitalah yang mengisinya sebagai generasi ke-42 yang menerima berkat,” papar Pdt Tony.

Pdt. Tony sedang mendoakan peserta

Tujuan dari seminar ini diadakan, selain mendeklarasikan kita bebas dari kutuk generasi melainkan lebih dari itu kita harus menjadi Kristen yang tidak hanya de jure, tetapi juga de facto. Artinya kita menjadi Kristen bukan sekadar pengakuan, tetapi juga nyata dalam perkataan dan perbuatan.


Di penghujung seminar, Pdt Tony Mulia mengundang peserta seminar maju ke depan untuk menerima pelepasan kutuk generasi dan didoakan. “Saya berharap setelah semua menerima pelepasan tersebut, kita harus bertobat dan menuruti apa yang dikehendaki Bapa kita, “ pungkasnya. SM

Dr.John N Palinggi, M.BA: Kalahkan Kejahatan Dengan Kebaikan!

DR. John Palinggi bersama salah seorang pejabat tinggi TNI AL di Istana Negara, usai mengikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI Ke 74 Sabtu (17/8/2019)

JAKARTA,Victoriousnews.com,- “Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman antar sesama maupun kelompok masyarakat itu bisa terjadi sewaktu-waktu, bila lontaran pribadi kita atau kelompok itu menyentuh kepada hal-hal yang sensitif. Misalnya, suku, agama, ras, etnis, golongan ataupun tindakan-tindakan yang semestinya tidak dilakukan. Bahwa telah terjadi gejolak di Papua, maka harus dipahami dan menurut saya, semua dipacu dengan rangsangan dari berita-berita bohong,” tutur pengamat politik dan sosial kemasyarakatan Dr.John N Palinggi,MBA saat dimintai komentar mengenai peristiwa dugaan persekusi mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 74.

Dr. John Palinggi duduk di jajaran tamu VIP memenuhi undangan upacara HUT Kemerdekaan di Istana Negara, Sabtu 17/8.

Menurut tokoh Kristiani yang juga menjabat menjadi Sekjen DPP Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), bahwa Indonesia itu sudah mulai melek informasi teknologi. “Tetapi dampak negatif selain dampak positifnya adalah menimbulkan berita bohong yang bisa memacu keadaan-keadaan tidak menguntungkan. Jangan suka pakai hoax, tetapi langsung saja dibilang berita bohong. Kadang-kadang rakyat tidak mengerti apa itu hoax. Nah berita bohong itulah yang memacu gejolak di tengah masyarakat. Kesalahpahaman terjadi dan bisa menyentuh sampai aspek SARA. Kita sendiri sedih melihat hal itu dan tentu tidak ingin semua itu membesar,” ujar Dr.John Palinggi di ruang kerjanya.


Meski demikian, John sangat bersyukur karena unsur aparat keamanan itu cepat bertindak dalam menjaga keamanan, khususnya bagi yang bertikai. “Secara independen polisi telah melakukan tugasnya dan bersyukur kepada Tuhan, hal itu bisa tertangani dengan baik. Namun pada sisi lain, setidak-tidaknya setiap orang harus menjaga tutur kata dan bertindak supaya tidak menyinggung. Karena kita ini adalah Bhineka Tunggal Ika. Berbeda tapi satu dalam bangsa ini,” paparnya.
Bagi John agar “bara panas” itu tidak cepat timbul, maka ke depan perlu ditingkatkan kesejahteraan Papua. “ Sesuai UU no 2 tahun 2004, bahwa kewajiban kepala daerah itu adalah mentaati dan menjalankan UUD dan meningkatkan taraf kesejahteraan rakyatnya. Dimana peran kepala daerah, bupati, walikota dan Gubernur di sini? Janganlah jika ada masalah semuanya selalu diserahkan kepada polisi. Mewujudkan ketertiban dan keamanan dalam sistem memang porsi polisi. Tetapi meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat itu porsi kepala daerah (Gubernur, Walikota dan Bupati). Nah ini yang dipertanyakan supaya fungsinya dijalankan. Jika bisa meningkatkan kesejahteraan, maka kecepatan panas itu pasti berkurang,” tegasnya.

Dr. John Palinggi bersama salah seorang petinggi Polri

Menurut John, setiap hal-hal yang menimpa kita secara pribadi maupun kelompok/golongan rumah tangga,hendaknya meminta petunjuk Tuhan. Jangan terlalu panas menanggapi setiap persoalan. Kalau cepat panas akan menimbulkan kerugian di diri kita sendiri maupun orang lain. “Saya dulu pernah mengajar anti teror. Tentu semua itu harus dilihat setiap kejadian, kita dapat belajar dibalik dari kejadian itu. Kejadian itu mungkin mengerikan. Tetapi di balik pelajaran itu kita melakukan langkah-langkah menyatukan pendapat bahkan marah kalau perlu. Bahwa ada gejolak, ya itulah resiko demokrasi. Karena demokrasi memiliki dinamika sendiri. Kita sedang menuju satu demokrasi yang lebih baik,” ungkap John bersemangat.
Lalu bagaimana langkah umat Kristiani menyikapi persoalan yang hendak menghancurkan sendi- sendi kerukunan umat beragama? “ Menurut saya, di berbagai agama hampir sama. Umat Kristen kalau melihat situasi yang seperti ini, ya harus menggunakan ayat-ayat kitab suci kan. Kitab sucinya itu harus kalahkan kejahatan dengan kebaikan. Kasihilah sesamamu sampai kepada musuhmu. Jadi itu harus dibuktikan bahwa implementasi dari ajaran keimanan agama, itu harus. Memang pahit.Tetapi kadang-kadang kepahitan itu membentuk kita lebih sempurna, lebih baik dan berpengalaman, mana yang baik dan mana yang buruk. Saya tidak ingin mencampuri urusan pribadi warga negara. Apapun agamanya. Silakan saja. Kalau saya berpendapat, kita sekarang menuju kepada pemerintahan kedua kali pak Jokowi. Setiap gejolak yang ada, kita padamkan saja dulu. Agar pemerintahan ini menjalankan tugasnya pada periode kedua nanti. Dan kita lihat tingkat kesungguhan jangan sampai hal-hal semacam ini mengganggu pembangunan. Saya berharap begitu,” tandasnya.
Mengkomentari tentang viralnya tokoh agama yang mengatakan bahwa salib itu ada jinnya, John Palinggi kita akan bernilai di mata Tuhan apabila memaafkan UAS. “Ya mungkin ada yang marah pada saya. Tetapi kalau saya melihat dan ikuti ceramahnya selama ini, mungkin dia slip lidah, atau apa . Dan dia menjawab pertanyaan jangan kita interpretasikan terlalu jauh terhadap sesuatu. Ada sesuatu yang lebih besar dalam bangsa yang harus kita perjuangkan yaitu nilai kerukunan dan persatuan. Disanalah kita hadir. Itulah persembahan kita, supaya kita hidup rukun. SM

GEREJA ARAS DKI JAKARTA DUKUNG PENUH ACARA INDONESIA CONFERENCE OF THE HOLY SPIRIT “DR.MORRIS CERULLO” 26 sd 27 September di Jakarta

Panitia Indonesia Conference of The Holy Spirit Dr.Morris Cerullo bertemu dengan pimpinan gereja Aras DKI Jakarta di Restoran New Tawang, Jl.Batu Ceper, Jakarta Pusat  (20/8)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Perhelatan Indonesia Conference of The Holy Spirit  menghadirkan penginjil antar bangsa yang dikenal memiliki karunia doa, urapan & nubuatan, Dr. Morris Cerullo didukung penuh oleh pimpinan gereja aras DKI Jakarta. Komitmen dukungan aras gereja ini mengemuka setelah Panitia Indonesia Conference of Holy Spirit “Dr.Morris Cerullo” bertemu dengan sejumlah pimpinan gereja aras di Restoran New Tawang, Jl. Batu Ceper, Jakarta Pusat (20/8)  sore.

Tampak hadir dalam pertemuan tersebut adalah: Pdt. Dr. Tony Mulia (Ketua Panitia), Ibu Dewi Mamesah (Panitia/ Gereja Kristen Bersinar-El Bethel),  Pdt. Dr. Antonius Natan (Sekum PGLII DKI Jakarta), Pdt, Dr. R.B Rory (Ketum PGLII DKI Jakarta), Pdt. Jason Balompapueng (Ketum PGPI DKI Jakarta), Pdt. Yusuf Agustian (Sekum  PGPI DKI Jakarta), Pdt. Teddy Suwanto (Gereja Baptis), serta pimpinan dari gereja Advent, dan Bala Keselamatan. Sementara itu Pdt. Manuel Raintung (Ketua PGIW DKI Jakarta) berhalangan hadir.

Ketua panitia, Pdt. Dr. Tony Mulia menjelaskan kepada sejumlah pimpinan gereja aras, bahwa acara Indonesia of Holy Spirit Dr. Morris Cerrulo  akan digelar selama dua hari berturut-turut (26-27 September 2019), tepatnya di Integrity Convention Center Mega Glodok, Grand Ballroom lantai 10, Kemayoran, Jakarta Pusat. “Saya rindu kehadiran Morris Cerullo ke Jakarta ini mengulang ‘api penginjilan’ seperti di Semarang. Waktu itu bertemu dengan Pdt. Arifin, Pdt. Obaja Tantosetiawan, Pdt. Jimmy Oentoro dan Pdt. Eddy Leo. Jadi 40 tahun yang lalu, teringat kita sering bikin kebersamaan, doa Bersama di tempatnya Pak Eddy Sindoro. Ternyata pada tahun 79 itu, terjadi lawatan Tuhan di Semarang yang luar biasa. Puji Tuhan hampir semua hamba-hamba Tuhan yang ikut mendukung dalam acara tersebut, saat ini gerejanya bertumbuh luar biasa. Sebelum tahun 79 (Tahun 65 atau 14 tahun sebelumnya) pernah terjadi lawatan Tuhan di kota Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT),” tutur Pdt. Tony Mulia yang kemudian ditambahkan oleh Pdt. Antonius Natan ketika berkunjung ke Kota Soe, pernah terjadi mujizat air menjadi anggur. Peristiwanya terjadi di rumahnya Ibu Niulaka, sampai hari ini air itu ketika dicedok tetap menjadi anggur.

Pdt. Tony Mulia mengungkapkan bahwa impartasi kegerakan Roh Kudus melalui hambaNya, Dr. Morris Cerullo ini sangat berdampak dengan terjadinya Gerakan doa 555 (5 Mei 2005) 77 kota di Indonesia berdoa serentak. “Ini luar biasa. Karena ketika kota-kota di Indonesia berdoa, maka dampaknya adalah transformasi bagi bangsa. Dan sampai sekarang, puji Tuhan kegerakan doa itu terus berlangsung hingga 14-14-14,” tutur Pdt. Tony.

Lanjut Pdt. Tony, dalam setiap kunjungan Morris Cerullo  ke Indonesia selalu membawa spirit bagi para hamba Tuhan dengan merujuk  sejak tahun 1979, kedatangan Morris telah membawa api serta spirit yang mencetak hamba-hamba Tuhan besar, seperti Pdt. Yeremia Rim, Pdt. Alex Abraham, Pdt. Niko Nyotorahardjo, (alm) Pdt. Petrus Agung Purnomo dan Pdt. Timotius Arifin. “Oleh sebab itu agar spirit kegerakan ini makin besar, saya berharap dukungan kepada pimpinan aras untuk membantu menginformasikan kepada jemaat agar bisa mengikuti konferensi doa selama dua hari di MGK Kemayoran,” ungkapnya.

Sekretaris Umum PGPI DKI Jakarta, Pdt. Jusuf Agustian mengatakan bahwa acara tersebut bagus untuk membangkitkan semangat berdoa dan menyembah Tuhan, serta semakin mengandalkan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. “Saya berharap agar acara berlangsung dengan lancar, didukung oleh semua aras gereja, pastinya PGPI mendukung dengan mengerahkan pemimpin-pemimpin gereja serta umatnya untuk hadir di acara tersebut. Dengan acara ini Jusuf percaya akan membawa kebangkitan semangat berdoa dengan tetap mengandalkan Roh Kudus,” tutur Jusuf.

Senada dengan Jusuf Agustian, Ketum PGLII DKI Pdt Dr R.B.Rory sangat mendukung acara dan kehadiran Dr. Morris Cerullo ke Jakarta. “Saya menghimbau gereja-gereja  untuk  masuk dalam momentum ini melalui kehadiran tokoh injili yang mendunia ini, dalam acara konferensi dan KKR yang diselenggarakan tanggal 26-27 September 2019,” tandas Pdt. Rory.  SM

Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom: Selesaikan Masalah Papua Memerlukan Pendekatan Kultural!

Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI)

JAKARTA, Victoriousnews.com,- HUT Kemerdekaan RI ke 74 ternoda dengan peristiwa yang mengoyak rasa nasionalisme, kebangsaan sekaligus kebhinekaan. Hal itu dipicu dengan peristiwa tentang persekusi orang Papua—yang disinyalir ada dugaan sejumlah mahasiswa asal Papua mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan atas tuduhan merusak bendera merah putih serta membuangnya ke selokan pada 16 Agustus 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Benarkah demikian? Bahkan tindakan represif juga dialami oleh mahasiswa Papua di sejumlah daerah lain seperti Malang, Ternate, Ambon, dan Jayapura. Setidaknya 19 mahasiswa Papua terluka dalam kejadian tersebut, sementara yang lainnya ditangkap kepolisian.

Menyikapi adanya persekusi Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Sekretaris Umum Pdt. Gomar Gultom menyampaikan rasa keprihatinannya atas bentrok dan kekerasan yang dialami oleh mahasiswa di Surabaya dan Malang. “Saya menyampaikan keprihatinan mendalam atas bentrok dan kekerasan yang dialami oleh mahasiswa di Surabaya dan Malang. Saya mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tindakan main hakim sendiri dengan tindak kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Saya semakin prihatin dengan adanya pelecehan faktor kesukuan dari para mahasiswa tersebut. Saya menghimbau aparat negara untuk mengusut tuntas kasus ini dengan juga memperhatikan amanat UU no 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik,” ungkapnya.

Menurut Pdt. Gomar, peristiwa ini semakin memperkeruh penyelesaian masalah Papua yang sudah cukup ruwet selama ini. “Sejatinya, penyelesaian masalah Papua memerlukan pendekatan kultural bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh segenap lapisan masyarakat, terutama masyarakat di luar Papua. Hanya dengan demikian masyarakat Papua dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian integral dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Sebaliknya, segala bentuk stigma, diskriminasi, dan kekerasakan terhadap masyarakat Papua hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan dan kebencian, dan sudah pasti menciderai kemanusiaan,” ungkap Pdt. Gomar. SM