Pendidikan Moral Pancasila Adalah Salah Satu Cara Bangun Toleransi dan Cegah Paham Radikal

Dr. John N Palinggi, MBA ketika dijumpai di ruang kerjanya.

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pengertian toleransi antar umat beragama adalah suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain. Hal itulah yang mengemuka dalam Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November.
Menanggapi pentingnya membangun toleransi antar umat beragama, Dr. John Palinggi yang juga Ketua BISMA (Badan Interaksi Sosial Masyarakat), mengatakan, bahwa, toleransi sesungguhnya adalah menerima perbedaan, sekalipun tidak sama. Toleransi mengakibatkan adanya manusia atau masyarakat yang rukun, dalam suatu komunitas, dalam suatu bangsa dan negara. “Jadi betapa pentingnya itu berpikiran toleransi, dan ikut bersama-sama mewujudkan kerukunan” tukas John Palinggi.
Menurut John, Negara kita dibangun berdasarkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya kita memang berbeda-beda, tetapi satu dalam membangun bangsa. “Cara yang baik membangun toleransi adalah, pemahaman menanamkan secara luhur nilai-nilai keagamaan terhadap anggota keluarga, terhadap dari diri kita sendiri. Jadi setiap orang beragama, dia paham bahwa pesan agama, tidak ada satupun yang menginstruksikan supaya melakukan kejahatan, membenci orang lain, menghina orang lain, tapi setiap agama, pasti menginstruksikan untuk supaya memperbanyak kebaikan. Kebaikan, toleransi, rasa menghormati orang lain, menghargai orang lain, respek. Agama juga menginstruksikan jangan menghina ciptaan Tuhan, yaitu manusia, jangan berbuat jahat. Hanya dua perintah itu, kalau itu dijalankan pasti muncul ide kita toleransi, jangan justru kita buka mata, kita lihat suku ini, agama ini, golongan ini beda dengan saya, disitu muncul penderitaan hidup, bukan bangga karena tidak mau bertoleransi, tetapi memperoleh hukuman dari Tuhan, kita susah hidupnya, cari makan susah” papar John.
Lebih lanjut John menjelaskan, “Tidak mungkin orang yang beda agama A, melamar agama B, ternyata beda agama, tidak jadi kerja, tidak mungkin kan? Atau membuat usaha bersama beda agama, suku, etnis, golongan, ga jadi, itu namanya kegagalan bisnis, lebih jauh kegagalan hidup”.
John menegaskan bahwa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila merupakan salah satu cara untuk mendidik tentang toleransi, dan juga mencegah paham radikalisme, tetapi selain itu, ada cara yang paling baik, yakni percepatan pembangunan, pemerataan hasil-hasil pembangunan, sehingga semua orang dapat memperoleh makanan melalui lapangan kerja.
“Kalau lapangan kerja susah, tidak dapat makanan, apapun diajarkan tidak masuk di otak, malah timbul perlawanan yang kurang baik. Jadi seiring mengajarkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, tapi hingga sekarang belum ada, belum tahu, kalau dulu saya diajarkan 36 nilai-nilai Pancasila, kalau sekarang belum ada, karena sudah dibubarkan BP7 nya, jadi harus dilembagakan dulu. PMP perlu diajarkan, tetapi bagaimana bisa diajarkan kalau tidak ada panduannya, jadi perlu dilembagakan dulu. Jangan Pancasila jadi pemanis mulut semua orang, sementara mulut kita itu semua menyatakan Pancasilais, tetapi memang harus dilembagakan dulu, nah inilah yang akan mengkaji apa yang perlu diajarkan, tapi itu tidak cukup, kalau lapangan kerja tidak ada, itu pasti gagal” tandasnya. SM

READ  Pembukaan Sidang Sinode GBI XVI, Prof. Dr. Thomas Pentury., M.Si Mengapresiasi GBI Telah Memiliki 3,2 Juta Jemaat