Banten,Victoriousnews.com,-Pendeta Lisda Girsang adalah Gembala Jemaat Gereja Metodist Indonesia (GMI) Betlehem, yang terletak di Jl. Kalasan Raya, Bencongan Indah, Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang, Banten. Istri dari Junit Sihombing (Kepala Pembimas Propinsi Banten) ini sudah 7 tahun melayani sebagai Gembala GMI Betlehem (terhitung sejak 2014 sampai sekarang). “Sebenarnya pendeta Metodist itu memiliki sistem mutasi atau rolling. Kalau sesuai SK, hanya setahun masa pelayanannya, kemudian bisa dimutasi kemana saja tempat pelayanan yang ditentukan oleh pimpinan gereja metodist (Bishop) melalui sebuah konferensi. Nah sebentar lagi, tanggal 20 Juni bulan depan ada konferensi untuk mutasi pelayanan, dan biasanya diumumkan tanggal 27 Juni. Puji Tuhan saya sudah 7 melayani sebagai gembala di sini,” ujar Pendeta Lisda ketika dijumpai usai pelayanan (Minggu, 23 Mei 2021) siang.

Pdt.Lisda Girsang ketika dijumpai usai pelayanan, Minggu (23/5/2021)

Sebelum melayani di GMI Betlehem Tangerang, Lisda mengaku sudah beberapa kali dimutasi ke beberapa daerah. Diantaranya; dimutasi melayani di Gereja Metodist Batam,Jambi, Palembang, Pasar Rebo (Jakarta), Tigaraksa (Banten), Tambun (Bekasi-Jawa Barat), Binong (Tangerang), kemudian terakhir berlabuh di Tangerang sampai saat ini. Namun Lisda merasa bersyukur, karena pelayanan di GMI Betlehem Tangerang ini yang paling lama belum terkena mutasi. Nah, kalau sudah 7 tahun tidak terkena mutasi berarti bagus dalam melayani? “Saya kurang tahu, bagus atau tidaknya. Karena saya sendiri tidak bisa menilai soal itu,” tandas Lisda yang mengaku sudah 3 tahun menjadi Penyuluh Agama Kristen Non PNS di Lingkungan Bimas Kristen Provinsi Banten.

Pdt.Lisda Girsang didampingi oleh pengurus GMI Betlehem, Bapak Lelider

Selama melayani di Tangerang, Lisda bersama pengurus gereja senantiasa merawat hubungan baik dengan lingkungan sekitar yang mayoritas beragama non Kristen. Ia mengaku sangat akrab dengan warga di lingkungan RT sekitar gereja. “Kalau selama melayani di sini baik-baik saja. Tidak ada tantangan dan hambatan dari lingkungan sekitar. Karena teman-teman majelis gereja juga mendukung, sudah akrab dengan pemerintah setempat. Ya kami tinggal meneruskan dan merawat hubungan baik saja. Kebetulan Bapak Sihombing (suami) adalah pejabat pemerintah. Jadi tetangga dan masyarakat sekitar lebih akrab lagi. Kami juga ikut arisan RT, dan segala macam kegiatan pun kita pun sering terlibat. Bahkan masyarakat sekitar juga sering datang ke sini. Nah, karena lingkungan gereja itu berrada di pinggir jalan, apalagi di depan banyak pemulung dan sampah, tentu saja kita melayani melalui teladan dan perbuatan. Artinya, tidak langsung menginjili secara Alkitab, tetapi kita memberi teladan melalui kehidupan kita sehari-hari,” ungkap Lisda yang kini telah menggembalakan 314 jiwa yang setia beribadah.

See also  Saumun.,S.Sos (Camat Kebon Jeruk): Memasuki Bulan Suci Ramadhan, Bantuan Sosial Itu Sangat Meringankan Beban Masyarakat Terdampak Corona, khususnya di Kelurahan Kedoya Selatan

Meski sudah genap 29 tahun melayani Tuhan, sebagai manusia biasa Lisda pun pernah mengalami kejenuhan dan kekecewaan dalam pelayanan. Namun hal itu tidak berlangsung lama dan cepat teratasi karena seluruh pengurus tetap setia mendukung dalam setiap kebijakannya. “Yang namanya manusia pasti pernah mengalami hal itu. Bagi saya itu manusiawi. Karena kan tidak semua sejalan dengan pemikiran saya. Pas waktu itu tidak sejalan ya secara manusiawi pasti akan kecewa. Saya kan punya teman-teman pengurus gereja ada 17 orang. Sebelum pandemi Covid-19, kalau rapat biasanya setiap awal bulan. Kadang-kadang waktu rapat itu ada pemikiran-pemikiran yang berbeda.Tetapi akhirnya kita bisa putuskan bersama, dan tak berlangsung lama kita seirama melayani lagi,” papar Lisda sembari menambahkan bahwa GMI Betlehem didirikan sejak tahun 1989 (31 tahun).

Bagaimana ceritanya bisa terpanggil sebagai Pendeta Wanita? “Sejak masih remaja atau SMP sudah aktif melayani Persekutuan di kota Medan, Sumatra Utara. Waktu itu ada seorang Pendeta bernama Pak Siregar yang membimbing kami sebagai anak-anak remaja. Jadi saya kena jaring mulai dari persekutuan. Sebagai pendeta, Pak Siregar itu juga sangat rajin mencari jiwa-jiwa baru. Maklumlah kumpulan pemuda-remaja masih sangat semangat. Dia membimbing kami, dari berbagai denominasi gereja. Disitulah saya mengenal Kristus secara pribadi. Sedangkan panggilan saya sebagai Pendeta itu dimulai ketika duduk di bangku SMA, sekitar umur 16-17 tahun. Waktu saya belajar di SMA mengambil jurusan biologi. Teman-teman pikir, saya mau jadi dokter. Kemudian teman-teman tanya, Lis cita-citamu apa? Saya jawab, aku mau jadi pendeta. Kau nanti menikah gak ya? Ya saya pasti menikahlah. Mereka pikir saya katolik. Saya ini protestan. Mereka berpikir karena aku wanita ini. Kalau laki-laki mungkin tidak ditanya seperti itu. Saya memang cita-cita pendeta,” kenang Lisda yang kini menginjak usia 51 tahun.

See also  MESKI MENANG DI PENGADILAN PASCA PUTUSAN MA, FRANS ANSANAY TETAP BUKA PELUANG TEMPUH JALAN DAMAI & REKONSILIASI

Selepas SMA, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pendeta, Lisda melanjutkan kuliah di Institut Teologi Alkitab Metodist di Bandar Baru, Medan. “Selama 5 tahun mengikuti perkuliahan dan wajib tinggal di Asrama (1989 s/d 1994) akhirnya saya lulus. Kemudian saya melayani di Gereja Metodist sambil mengajar. Kalau gereja Metodis di Medan itu besar. Kita punya Perguruan Kristen Metodis Indonesia (PKMI), dan saya mengajar di Metodis dua, dan. sempat menjadi asisten Pak Pendeta Sarumaha,” urai pemilik moto hidup “Semua Karena Anugerah Tuhan”, yang kini menggembalakan 314 jemaat di GMI Betlehem Tangerang.

Buah pernikahannya dengan sang suami tercinta sejak 09 Juli 2000, kini telah dikaruniai seorang putra bernama Jonathan Kevin Sihombing (17 tahun). “Saya menikah dengan Bapak Sihombing ketika melayani di Palembang. Dan putra saya lahir 9 Juni 2004 (17 Tahun). Sekarang dia akan masuk kuliah tahun ini di Universitas Pertamina,”pungkasnya. SM/TN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *