Jakarta,Victoriousnews.com,-Sebuah buku berjudul MilestoneMillenials Family Story & Journey telah sukses diluncurkan di Nafiri Discipleship Church (NDC) lantai 8 Central Park, Jakarta Barat (Sabtu, 29/1/22). Buku yang ditulis oleh 14 penulis pasangan muda ini berisi tentang pengalaman kaum millenials dalam membangun bahtera rumah tangga. Mulai dari pertemanan, pacaran, masuk jenjang pernikahan hingga tips menyelesaikan konflik rumah tangga untuk mencegah ternjadinya perceraian. “Buku ini baik dan menarik untuk dibaca kaum millennials yang masih single, yang akan menikah dan baru menikah. Kisah perjalanan dan lika-liku pernikahan yang ditulis oleh pasangan-pasangan  muda yang memiliki beragam pengalaman sejak dari pertemuan, pertemanan, berpacaran sampai masuk ke jenjang pernikahan dapat menjadi pelajaran yang baik bagi yang membacanya,” ujar Ketua BPP Bidang Pembinaan Keluarga, Pdt. Hengky So.,M.Th dalam sambutannya sekaligus mendoakan tim penulis dan buku yang diluncurkan.

14 penulis buku Milestone dihadirkan. 11 orang secara onsite dan 3 orang secara daring, dalam peluncuran buku di NDC Central Park (Sabtu, 29/1/22).

Ketua Umum BPP GBI, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham menyambut baik diluncurkannya sebuah buku yang dapat menjadi salah satu pedoman bagi pasangan muda dalam menjalani bahtera rumah tangga. Menurut Pdt. Rubin,  tidak ada pernikahan yang cocok, yang ada adalah pernikahan yang tidak cocok dan dicocokkan terus sampai cocok. “Saya yakin, dengan pertolongan Tuhan, pasti kita dimampukan untuk melewati persoalan rumahtangga. Bukan hanya pernikahan pada usia muda atau dini, tapi sampai seterusnya.  Kita harus belajar mencocokkan diri sebagai pasangan suami istri,” tutur Pdt. Rubin yang disampaikan secara daring.

Masih kata Pdt. Rubin, di dalam membangun rumah tangga perlu menerapkan kasih dan keharmonisan  dalam kehidupan berkeluarga. Sebab banyak orang  muda menganggap,  bahwa ketika mengucapkan janji nikah,  kedepannya pasti langgeng dan bahagia. Itu tak akan pernah terjadi, pasalnya, kasih dan keharmonisan itu harus diusahakan sungguh-sungguh. Yaitu : Taat pada Firman Tuhan dan Kristus, maka kebahagian itu akan  diberikan kepada kita sebagai bonus. “Keluarga muda dengan berbagai tantangan, keluarga muda yang mengamali pergumulan, buku Milestone ini bisa memberikan jawaban, tentu pijakan utamanya adalah Firman Tuhan dan Kristus,” pungkasnya.

See also  Yerry Tawalujan, M.Th (Pengamat Politik): Sejumlah Menteri Kinerjanya Buruk, Saatnya Presiden Jokowi Mereshuffle Kabinet

Gembala Induk  GBI Gatot Subroto Jakarta, Pdt Ir.Niko Njotorahardjo dalam kata sambutannya, mengutip pendapat pakar pembinaan keluarga yang mengungkapkan, usia pernikahan 5 tahun adalah masa uji coba apakah pernikahan mereka lanjut atau kandas di tengah jalan. “Tentu sebuah pernikahan Kristen tidak boleh kandas di tengah jalan. Untuk mencegah kandasnya pernikahan itu, maka pasangan muda harus banyak belajar. Dan puji Tuhan saat ini ada buku khusus untuk mereka dapat belajar. Saya mengapresiasi usaha menerbitkannya dan mendorong pasangan muda membacanya, merenungkan, serta mempraktekkannya dalam menjalani kehidupan rumah tangganya,” ungkap Pdt Niko melalui daring ditayangkan saat launching buku  yang dipandu oleh selebriti, Marsya Manopo.

Selain Pdt. Rubin dan Pdt. Niko, yang hadir dalam tayangan zoom adalah Pdt. Gilbert Lumoindong dan Pdt. Jaliaman Sinaga. “Rumah tangga itu pasti ada masalah, dan masalah itu yang akan menjadikan kita dewasa, maka kunci mengatasinya saling mengerti, saling menggali,  sadar dan dekat kepada Tuhan. Sebab keluargaku adalah surgaku, dan rumahku adalah istana,” tukas Pdt. Glbert. Pada kesempatan tersebut, Gilbert memberikan  4 tips bagaimana caranya membangun keluarga bahagia. Pertama, Lepaskan kita dari berbagai tuntutan, hilangkan kata kamu harus, tetapi katakan saya harus. Kedua, Belajar bersyukur untuk apa yang ada pada pasangan, jangan terus mengkritik, melihat kelebihan pasangan kita. Ketiga, gunakan kata-kata yang baik, panggil suami atau istri dengan kata sayang meskipun lagi marah. Kalau ada masalah jangan keraskan suaranya, tetapi kuatkan argumennya. Pergunakan kata sori, terimakasih, oh maaf ya. Jangan ajak debat. Tetapi cari persamaan dari pasangan kita. Jangan mengungkit dan mengulang lagi atau membanding-bandingkan. Keempat, Jaga komunikasi  mulut dan telinga yang kita pakai.

See also  Dr. John Palinggi, MBA (Pengamat Sospol): Koalisi dan oposisi adalah suatu perdebatan di parlemen terkait kebijakan atau program

Ketika ditanya oleh Marsya Manopo, tentang pandangan orang yang tidak menikah dengan alasan tertentu, Pdt. Jarot Wijanarko yang hadir secara onsite  menegaskan, bahwa setiap orang yang tidak menikah itu harus memiliki alasan dan tujuan yang jelas. “Jika alasannya karena trauma masa lalu, maka hatinya harus disembuhkan dahulu. Tetapi jika alasan tidak menikah itu karena  ingin melayani Tuhan seperti Rasul Paulus ya bagus itu. Atau  alasan sosial, memutuskan tidak menikah karena  ingin menjadi kepala keluarga menggantikan kedua orang tua yang telah tiada. Yaitu ingin menyekolahkan adik-adiknya sampai perguruan Tinggi. “Ya tidak menikah karena alasan sosial itu, misalnya dia anak pertama, punya adik 12 orang yang perlu dibiayai, baik sekolah maupun hidupnya, ya menurut saya itu seorang pahlawan. Apalagi dia sendiri hanya lulusan SMA dan tidak kuliah, tetapi demi adik-adiknya sukses, dia rela melepaskan egonya,” papar Pdt. Jarot yang mengaku sangat bahagia telah melewati usia pernikahan 32 tahun dalam acara Millenial Summit peluncuran buku Milestone.

Dalam acara puncak peluncuran buku Milestone juga dihadirkan 14 penulis (11 orang secara onsite) dan 3  melalui Zoom. “Alasan saya menuliskan buku ini adalah karena keluarga milenials zaman sekarang ini takut berkomitmen. Mereka menganggap bahwa pernikahan itu banyak penderitaan. Jadi seakan-akan, tidak ada penyelesaian. Bukan berarti kita menikah itu selesai masalah. Tetapi kita dapat melewatinya ketika peran sebagai suami istri itu bisa berjalan dengan kehendak Tuhan, sesuai firman Tuhan.Peran kita sebagai pasangan suami istri, cukup besar mau tidak kita merawat pernikahan kita atau malah sebaliknya dihancurkan? Oleh karena itu kami tuliskan kisah berdasarkan pengalaman secara terbuka dengan berbagai macam latar belakang. Dengan alasan, kita bisa belajar dari situ. Ketika melewati masa-masa sulit, maka kita harus melibatkan Tuhan dan menjadikan Tuhan yang utama dalam rumahtangga kita,” ujar salah satu penulis, Yohana Budi Susetya ketika mengelaborasi alasan terlibat menuliskan buku Milestone yang diterbitkan oleh Departemen Pembinaan keluarga GBI. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published.