Setiap insan yang terlahir di dunia ini pasti mendambakan kasih sayang, perhatian, serta didikan yang baik dan lembut dari orangtuanya. Bahkan orangtua juga memiliki tanggungjawab penuh untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan norma atau nilai-nilai yang baik, melalui keteladanan atau panutan hidup. Namun, hal itu tidak pernah dirasakan oleh Edy Wagino kecil. Sejak bocah, Edy Wagino atau kerapa disapa “Aho Medan” ini tidak pernah mengenyam manisnya kasih sayang dari kedua orangtuanya. Bahkan Aho mengaku sejak lahir hingga usianya belia, bahkan sampai  dewasa, belum pernah melihat kedua orang tua kandungnya.

Kemudian Aho kecil diangkat sebagai anak oleh Bapak Wagino dan tinggal Jalan Mabar, Medan, dengan lingkungan yang dikeliligi oleh 150 kuil tempat pemujaan. Aho  dididik dan dibesarkan oleh papa angkatnya secara keras dengan gaya preman, dan dilatih ilmu beladiri. Bahkan Papa angkatnya berharap kelak, Aho harus tumbuh menjadi orang pemberani dan tidak boleh kalah terlibat perkelahian. Hingga akhirnya Aho harus keluar masuk penjara dengan terlibat berbagai kasus kejahatan yang dilakukan.

 Namun setelah mendapatkan ganjaran penjara selama beberapa tahun, Pria kelahiran Medan, 15 Februari 1968 ini dijamah Roh Kudus, bertobat sungguh-sungguh, dan kini terpanggil melayani Tuhan sepenuh waktu sebagai gembala jemaat. Bukan hanya itu, buah dari pertobatannya pun diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Edy bertumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, penuh kasih sayang terhadap keluarga dan jemaat serta terbeban melayani maupun berbagi kasih kepada orang yang membutuhkan uluran tangan di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (LP).

—————————————————————————————————————————————-

Didikan keras sang  Papa angkat  inilah menjadikan Edy terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Edy tumbuh dan besar dengan perangai yang kasar dan ditakuti di lingkungannya. Edy menjadi suka berkelahi, berjudi dan mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dengan bekal ilmu beladiri yang mumpuni, Edy mulai merasa sombong dan ingin menjajal ilmunya kepada orang lain. Suatu ketika, Edy berpapasan dengan orang di jalan, kemudian menantangnya berkelahi. Dengan beberapa jurus mematikan, tak butuh  waktu lama, Edy pun sanggup mengalahkan setiap orang yang ditemuinya.

See also  Pdt. Jacky Manuputty (Sekum PGI): Songsonglah Natal 2020 & Tahun Baru 2021 Dengan Optimis dan Berpengharapan

Pada suatu hari Edy dan teman-temannya bermain judi kartu. Tiba-tiba ada sekelompok orang datang dan meminta uang dari teman-temannya. Karena merasa tidak terima temannya diperlakukan demikian, Edy pun merasa tertantang. Akhirnya Edy mengajak orang-orang itu keluar dan berkelahi di luar. Tetapi karena kesombongannya, Edy terjebak dalam suatu situasi yang membuat dirinya menjadi terluka. Akibat perkelahian yang tidak seimbang, ia dikeroyok dan mengalami dua tusukan di perutnya. Kepala Edy pun terluka dan berdarah akibat dipukul dengan kayu-kayu besar. Pada saat ia terdesak, Edy menjadi takut dan berteriak meminta tolong kepada Tuhan. Sontak Edy pun kabur dan meminta pertolongan warga. Akhirnya ada warga yang baik dan mau menolong dirinya yang bersimbah darah dan menyuruhnya masuk ke rumah dan bersembunyi di kolong tempat tidur.

Pdt.Edy Wagino tampak bahagia bersama keluarga

Setelah sembuh dari luka-lukanya, tidak membuat Edy menjadi jera. Semakin hari hidupnya diwarnai dengan kejahatan dan kekerasan. Pertolongan Tuhan dengan menggerakkan warga menyembunyikan dirinya di kolong tempat tidur, tidak membuat dirinya mensyukuri hidupnya yang lolos dari maut. Justru Edy mencobai Tuhan dengan hal lain, yaitu mencicipi obat-obatan terlarang atau narkoba. Anehnya, narkoba yang dikonsumsinya membuat dirinya justru menjadi penakut. Perangai Edy yang semula garang berubah total menjadi pemurung. Akibat kecanduan narkoba itulah, Edy mengunci dirinya  di kamar dan tidak ingin siapapun masuk termasuk anaknya. Setiap ia melihat jendela terbuka, ia merasa takut dan mendengar suara-suara yang tidak jelas. Bahkan ia bertutur, ketika kecanduan narkoba, ia diberi makan seperti layaknya binatang. Bayangkan saja, ia harus makan makanan yang ditaruh di atas lantai. Mengetahui suaminya, menjadi pecandu narkoba dan preman yang terus melakukan kejahatan, istri Edy pun merasa menyesal telah menikah dengannya. Sang istri merasa merasa dibohongi, kecewa berat dan hatinya sangat hancur.

See also  Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI): Pasca Putusan MK, Saatnya Kita Bersama-sama Meneduhkan Suasana Dengan Menunjukkan Persahabatan & Persaudaraan Sebagai Sesama Anak Bangsa
Pdt. Edy Wagino (keempat dari kiri/Baju Hitam) ketika bertemu dengan Pengurus Perwamki di restoran kawasan Kelapa Gading (Sabtu, 19/3/22)

Pada suatu hari Edy ingin pergi ke Karawang dengan memakai taksi. Karena ia ingin cepat-cepat sampai, maka ia tidak sabar dan meminta membawa taksinya dalam kondisi mabuk berat. Tanpa ia duga ada motor melintas di depan taksinya dan akhirnya terjadi kecelakaan yang mengakibatkan orang yang ditabrak itu terluka. Karena panik, maka Edy langsung menancap gas, menendang sopir taksi keluar dan melarikan diri. Tetapi Edy tidak beruntung. Pada saat itu ada polisi yang mengejarnya dan Edy pun tertangkap polisi.

Baca Juga: Pdt. Edy Wagino, M.Th (Gembala GBI Sinona): Mencegah Generasi Muda Agar Tidak Terjerumus Dalam Dunia Narkoba Adalah Keteladanan Orang Tua

Edy pun kembali dijebloskan ke penjara untuk keenam kalinya karena kasus kejahatan dan obat terlarang. Mendengar hal itu, Yuniwati, sang istri pun merasa sangat sedih. Karena pada saat Edy dipenjara, ia mengalami kesulitan ekonomi. Ia harus menjual semua barang di rumahnya untuk biaya hidup sehari-hari. Walaupun Yuniwati merasa kecewa dengan suaminya tetapi ia tetap mengasihi dan mendoakan Edy agar berbalik dan bertobat kepada Tuhan.

Dijamah Tuhan Yesus & Bertobat di Dalam Penjara

Pada saat di penjara, Edy mengikuti suatu kebaktian di LP Karawang tahun 1996. Ia mendengar khotbah seorang hamba Tuhan  tentang suatu hal yang menyebutkan bahwa di dalam Yesus, sesuatu yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang (2 Kor 5:17). Pada saat itu ia merasa ada sesuatu yang ia dapatkan. Ia merasa ada yang menyentuh hatinya. Ia menangis tanpa bisa dibendung. Pada saat ia mendengar pujian, ia menutup matanya dan menengadah ke atas. Pada saat itu ia merasa ada sosok besar putih berdiri di hadapannya. Ia sadar itu adalah sosok Tuhan Yesus yang ia kenal. Ia semakin tak kuasa menahan air matanya. Kemudian ia memeluk kaki-Nya. Selesai ia mengalami lawatan tersebut ia merasa hidupnya jadi baru. Ia mengambil satu komitmen dalam dirinya bahwa mulai saat itu ia akan tinggalkan semua kehidupannya yang lama. “Yesus ngomong begini, jadi siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Disitu awal pertobatan hidup baru saya di dalam penjara. Waktu itu saya bilang, Tuhan saya mau berubah. Saya mau menghentikan kehidupan saya yang lama. Saya pernah terikat narkoba selama 15 tahun. Saat itu juga saya dilawat Tuhan dan Tuhan mengubahkan hidup saya,” ujar Ayah yang kini dikaruniai 3 anak (Hizkia Fransisca, Natalia Delvia dan Hosea ini bersyukur.

See also  Perkuat Semangat Nasionalisme & NKRI, Gubernur DIY Sultan HB X Wajibkan Masyarakat Dengarkan Lagu “Indonesia Raya”

Setelah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, Edy menjadi pribadi yang baru.  Pria yang dulunya preman, jahat, pemabok, pecandu narkoba, diubahkan Tuhan 180 derajat dan mengalami perubahan karakter yang luar biasa. Ia rajin membaca Alkitab dan mengenal Tuhan Yesus lebih dalam. Hubungan Edy dan anak istrinya yang semula renggang, dipulihkan Tuhan. Bukan hanya keluarga yang dipulihkan, tetapi seluruh aspek kehidupan dan ekonominya pun dipulihkan luar biasa.

Pdt. Edy Wagino bersama istri, anak-menantu dan cucu

Kini  Edy terpanggil menjadi hamba Tuhan dan terbeban  melayani orang-orang yang berada dalam jeruji penjara. Bahkan saat ini Edy Wagino telah menjadi seorang gembala jemaat dan memiliki program setiap sebulan sekali (senin minggu ketiga) melayani di Lapas Kelas 2 Karawang. “Puji Tuhan, saya telah menjadi seorang hamba Tuhan dan menggembalakan jemaat. Panggilan Tuhan begitu kuat dalam diri saya, yang dulunya menjadi orang jahat, akhirnya bertobat dan diberikan kesempatan untuk melayani. Tentu saja, ketika dijamah oleh kasih Tuhan dan menjadi manusia baru, harus menjadi berkat bagi sesama dan memenangkan banyak jiwa untuk kemuliaan nama Tuhan,” ujar Gembala Sidang GBI Sinona di wilayah Desa Bojongsari, Kec.Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat sejak tahun 2005 ini penuh syukur. SM

Leave a Reply

Your email address will not be published.