Persekutuan Hamba Tuhan Kawanua (PAKATUAN) Rayakan HUT Provinsi Sulut ke 55 & Doa Bersama Untuk Ambon dan Papua

Persekutuan Hamba Tuhan Kawanua (PAKATUAN) Rayakan HUT Provinsi Sulut ke 55 & Doa Bersama Untuk Ambon dan Papua

Para hamba Tuhan yang tergabung dalam PAKATUAN berpose bersama usai ibadah

JAKARTA, Victoriounews.com, Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Utara ke-55 yang jatuh pada tanggal 23 September 2019 lalu, Persekutuan Hamba Tuhan Kawanua (PAKATUAN) wilayah Jakarta dan sekitarnya menggelar ibadah dan doa syukur di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Ekklesia Jl. Kayu Mas Timur No. 7 Pulo Gadung Jakarta Timur (Minggu, 29/9 2019). Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 Wib ini dihadiri sekitar 100 orang  hamba Tuhan.  Tampak hadir dalam acara tersebut adalah Pdt. Dr. Alma Shepard Supit (salah satu ketua PGI), Pdt. Dantje Wulur, MA Pendeta (Gembala GPdI Ekklesia/ mantan Sekretaris Umum PGPI),  Prof. Dr. dr. James Tangkudung, Sport.Med., M.Pd, (Guru Besar Ilmu Olahraga Universitas Negeri Jakarta UNJ), Ompu Daulat Raja Agung Panuturi Hasadaon Dr. Jooner Ramber, SE., MM yang juga tokoh adat Tapanuli Selatan, sejumlah hamba Tuhan dari KGPM serta mantan gangster Amerika, Michael Howard.

Pdt. Dr. Shephard Supit dalam kotbah singkatnya mengutip ayat Alkitab yang terambil dalam Kisah Para Rasul 10:1-4.  Ayat ini mengisahkan tentang  seorang Perwira pasukan Italia bernama Kornelius yang takut akan Tuhan. “Setidaknya ada 3 alasan mengapa Tuhan menjawab doa Kornelius. Pertama, karena dia Saleh (ayat 2). Kedua, Karena takut akan Tuhan  dan tekun berdoa (ayat 2b). Ketiga, Banyak memberi kepada orang lain (Ayat 4).  Begitu juga dalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani, jika kita  mengikuti teladan Kornelius, maka Tuhan pasti mencurahkan berkat yang luar biasa,” ungkap Pdt. Shephard Supit. Dalam pertemuan tersebut, Prof. James Tangkudung mengajak para hamba Tuhan agar saling peduli dan mendoakan. Prof Tangkudung juga sharing firman Tuhan yang terambil dalam kitab Hosea 6: 1-4.

Ki-ka: Daulat Raja Agung Panuturi Hasadaon Rambe (Raja Tapanuli Selatan) & Margianto (Ketua Perwamki) usai acara Ibadah syukur Pakatuan, (Minggu 29/9) di GPdI Ekklesia, Kayumas Timur, Jaktim

Dr. Jooner Rambe, Raja Kristen Tapsel Yang Diberi Karunia Kesembuhan Begitu pula Dr. Jooner Ramber, SE., MM yang dipercayakan sebagai Ompu Daulat Raja Agung Panuturi Hasadadon Tapanuli Selatan menyampaikan kesaksiannya luar biasa. Daulat Raja Agung Panuturi, Dr. Jonner Rambe, SE merupakan Raja Tano Tombangan (Tantom), Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), mendapatkan gelar tertinggi dalam kerajaan, dan resmi menyandang gelar baru, Daulat Raja Agung Panuturi Hasadaon Rambe dalam sebuah acara silaturahmi raja-raja se Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) di Istana Hasadaon ; Kota Tua, Kecamatan Angkola Tantom

Daulat Raja Agung Panuturi Rambe diangkat menjadi baginda di Tantom adalah atas dasar musyawarah raja-raja, hatobangan, tokoh agama, masyarakat, pemangku adat kepala desa se-Tantom untuk kemudian dirinya mendapat pengakuan dari sejumlah sultan dan raja di Nusantara.

Dikatakannya bahwa penabalan dirinya menjadi baginda di Tantom yakni pada tanggal 29 Desember 2009 lalu yang dilaksanakan dalam sebuah acara adat di Istana Hasadaon. Acara penobatan mereka ini diadakan dengan suatu pesta besar mulai tgl 27 s/d 29 Desember 2009, dihadiri oleh 3000 orang masyarakat TapSel, yang terdiri dari 48 marga sebagai Mora atau Hula-Hula. Disamping itu pesta ini dihadiri juga oleh Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Harajaon, Raja-Raja tapanuli Selatan, Alim Ulama dan Undangan lainnya.

  Pesta ini berlangsung secara meriah sekali siang malam, karena ditampilkan juga Gondang sebangunan Tapanuli Utara dan Uning-Uningan Tradisional Tapsel. Selain itu, kepada raja-raja se Tabagsel ini bahwa dirinya juga sudah mendapatkan pengakuan sekaligus juga menjadi anggota dari Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan (AKKI) sesuai dengan surat keputusan No.057/S.Kep-AKKI/2010 tertanggal 17 Mei 2010 lalu yang ditandatangani Presiden AKKI, Sri Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang juga Sultan Palembang.

Daulat Raja Agung Panuturi Rambe dan istrinya, Dra. Carolina Lumban Tobing gelar Ratu Namora Hasayangan, merupakan putra daerah Tantom yang sejak SMP sudah meningalkan Tantom untuk bekerja dan kuliah di Jakarta dan saat ini memiliki 5 perusahaan di Jakarta mengatakan, bahwa keinginannya kembali ke kampung halaman adalah dikarenakan banyak perantau yang tidak tahu lagi Batak Angkola. Hal inilah yang menuntutnya perlu dikembangkan, agar batak perantau tidak sampai kehilangan identitas sebagai suku batak.

    Selain menjadi anggota AKKI, Daulat Raja Agung Panuturi Hasadaon Rambe juga sudah mendapatkan pengakuan dari dari Sutan Kumala Pulungan gelar Raja Panusunan Bulung Adat Luat Sayur Matinggi dari Bagas Godang Sayur Matinggi. Sebulan Setelah penobatan itu, kabar berita tersebar di seantero Nusantara, sehingga Keraton Surakarta Hadiningrat Solo, Kanjeng Gusti Puger, dan sultan Pagarruyung Padang mengundang Baginda Agung Panuturi hasadaon dan ratu Namora Hasayangan ini untuk berkunjung ke istana mereka sekitar bulan April 2010. “Dalam pelayanan saya sebagai seorang raja, belajar untuk menerapkan kasih seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Semua masyarakat saya perlakukan sama. Meski di Tapsel itu 90 persen beragama Muslim, namun puji Tuhan saya sebagai raja beragama Kristen sangat dihormati oleh mereka, termasuk para ulama. Puji Tuhan, saya diberi Tuhan karunia kesembuhan, datanglah orang yang buta kepada saya. Kemudian saya hanya jamah dan sembuh seketika. Berita ini terdengar dan menyebar di seluruh Tapsel, mereka yang sakit pun antri di istana. Ada yang gila, ada yang lumpuh pun sembuh. Semua itu adalah pertolongan Tuhan Yesus. Melihat hal itu, raja-raja lain pun tampak cemburu, dikira saya ‘sakti’, dan ingin meracun saya melalui minuman yang diberikan. Pernah beberapa kai, saya disajikan minuman, justru gelasnya meledak sebelum saya minum. Ini adalah pertolongan dan perlindungan Tuhan,” ujar Raja Jooner Rambe dalam kesaksiannya.

Pdt. Dantje Wulur (Gembala GPdI Ekklesia Kayumas Timur/Ketua Forkop Tomas)

     Sedangkan Ketua FORKOP TOMAS, Pdt. Dantje Wulur, MA, mengungkapkan bahwa FORKOP TOMAS adalah Forum Komuniksi Pendeta asal Tompaso Baru dan Maesaan Minahasa Selatan Sulawesi Utara, yang berada di Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek.  Menurut Dantje, saat ini Forkop Tomas beranggotakan 100 orang gembala lebih, bahkan ada yang berasal dari satu desa, seperti Desa Sion, ada 50 orang lebih anggota dari sana. “Keanggotaan Forkop Tomas berasal dari berbagai latarbelakang denominasi gereja, dan tidak hanya gembala sidang, ataupun pendeta, tetapi juga ada berhimpun para evangelis, dosen, dan penatua. Saya sendiri belum lama menjabat Ketua Forkop Tomas. Dalam kepengurusan saya  sudah dua tahun berjalan dan meneruskan kepengurusan lama yang dipimpin Pdt. Mody Rumondor. Fokus kepengurusan saya saat ini, lebih kepada memperhatikan keluarga pendeta yang sakit, kedukaan bagi orangtua dikampung, dan pertukaran mimbar (memberi kesempatan anggota untuk berkhotbah digereja tempat anggota bekerja), juga aktivitas sosial, membina tahanan/narapidana, dan bantuan korban bencana,” tutur Pdt. Dantje Wulur (Gembala Sidang GPdI Jemaat Ekklesia Jl. Kayu Mas Timur No. 7 Pulo Gadung Jakarta Timur) yang menjadi tuan rumah Ibadah dan Doa Syukur HUT Provinsi Sulawesi Utara ke-55.

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan presentasi perdana rencana pagelaran rohani akbar “Jakarta Christmas Festival” disingkat JC Festival.  “Jakarta Christmas Festival” suatu event  tiga hari, yang akan diadakan di Lapangan Banteng pada 13-15 Desember 2019, dengan konsep dasar melakukan perayaan Natal secara terbuka dan bersifat kontekstual, direncanakan pelaksanaannya akan bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Perwakilan panitia Martha dan Winny mempresentasikan, JC Festival akan mengangkat tema pada hari pertama: Papua Land’s Day; pada hari kedua adalah Love Jakarta. Dan pada hari ketiga adalah Philosophie of Indonesia. Rangkaian acara yang dipersiapkan oleh panitia saat ini, gambaranya adalah sebagai berikut : Sabda dan Nada, Papua Expo, Konser Amal, Kesenian Daerah, Galeri Foto, Pesta Kuliner, Aneka Lomba Dewasa dan Anak, Pasar Murah Sembako, Pemeriksaan Kesehatan, dan Bazar UMKM. “Untuk memperkuat kepanitiaan, kami akan mencari anak-anak muda yang bersedia untuk membantu kami dalam JC Festival mendatang,” ujar Martha kepada wartawan. SM

GBI Victorious Family Gelar Training Bagi Pengerja “The Basics Of Serving God”

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Guna membangkitkan serta memotivasi dalam melayani Tuhan, GBI Victorious Family penggembalaan Pdt. Abraham Conrad Supit menggelar pembekalan/ training “The Basics Of Serving God” (Sabtu, 7/9) di Apartemen Robinson.

Ki-ka: Ps. Abraham C Supit (Gembala GBI VIFA), Ps. Levina (wakil gembala 1), Ps. Monique Supit (Wakil Gembala 2), Ps. Levi Samudro dan Ps. Edward Supit usai acara training pengerja (Sabtu, 7/9)

Acara pembekalan dalam melayani Tuhan ini dihadiri sekitar 200 orang pengerja yang terhisap dalam pelayanan GBI Victorious Family (VIFA), tersebar di 8 cabang (Jakarta, Tangerang dan Bogor) yakni: VIFA Apartemen Robinson, Hotel Ciputra lt.6, Hotel Orchadz, Hotel Ozone PIK, Kelapa Gading, Ruko Mahkota Mas, Raden Saleh dan Tak Ek Tjoan Bogor.


Training The Basics Of Serving God ini digagas oleh wakil gembala II, Ps. Monique Supit serta menghadirkan dua pembicara, yakni Ps. Levi Samudro dan Ps. Edward Supit.

Ps. Levi Samudro ketika menyampaikan materi training

Senior Pastor GBI Victorious Family, Ps. Abraham C Supit menyambut baik dan tampak sukacita ketika menghadiri Training Basics of Serving God. ‘Sebagai gembala saya mengucapkan terimakasih kepada para leaders:, Pembina, YMGS, seluruh pengerja yang hadir saat ini. Terutama Ps.Monique yang telah menggagas acara ini dengan baik dan luar biasa. Walaupun persiapannya hanya 1 minggu, tapi luar biasa hasilnya saat ini bisa dihadiri seluruh cabang GBI Victorious family,” tukas Ps.Abraham Conrad Supit.


Dalam pemaparannya, Ps. Levi menyampaikan 2 judul materi: yakni “Melayani Tuhan Dengan Segenap Hati” dan “Melayani Sebagai Keluarga Allah”. “Sebagai pelayan Tuhan, kita harus melayani dengan segenap hati,” tutur Ps. Levi dengan mengutip ayat Alkitab, Matius 22: 37; Kolose 3: 23 ; dan Amsal 4:23.
Ps. Levi menegaskan jika kita tidak melayani dengan segenap hati, pasti maka kebalikannya pelayanan tersebut akan timbul dari hati yang sakit. “Ciri-ciri pelayanan yang berasal dari hati yang sakit adalah: Pertama, selalu mau bersaing supaya terlihat hebat untuk menunjukkan bahwa mereka berguna. Kedua, selalu membandingkan diri dan cemburu dengan orang lain. Ketiga, melayani supaya terlihat baik di mata manusia. Keempat, melayani untuk mendapatkan keinginannya, jika tidak mendapatkan akan tersinggung, marah dan memilih pelayanan. Kelima, tidak merasa aman dalam pelayanan. Nah, seharusnya kita wajib melayani seperti Tuhan Yesus mencontohkan hidupnya bagi kita ( 1 Yoh 2:6),” tutur Ps. Levi.
Selain itu, Ps. Levi menekankan dalam materinya, bahwa gereja adalah sebuah keluarga dengan melandasi firman Tuhan yang terambil dalam Efesus 2: 11; Roma 8: 15; Yoh 21: 5.


“Maksudnya sebagai keluarga adalah tentu, kita gereja itu seperti hubungan Bapa, Ibu dan Anak. Nah sebagai Bapa kita dalam gereja ini adalah gembala Ps.Abraham Supit. Kita semua disini adalah anak-anaknya yang bertugas membantu pelayanan Bapa,” urai Ps. Levi.

Menurut Ps. Levi, menjadi anak yang baik kita harus melakukan beberapa hal: pertama, menyadari bahwa memiliki ikatan khusus dengan Bapanya. Kedua, harus sehati sepikir, memiliki Rohnya sama dengan Bapanya. Ketiga, bersedia mendengar didikan bapanya. Keempat, memiliki kesetiaan. Kelima, mentaati Bapanya. Sedangkan sebaliknya menjadi Bapa yang baik, tentu saja harus menjadi teladan bagi anaknya, memperjuangkan anaknya supaya lebih maju, seorang Bapa harus mendoakan dan menjaga anaknya dari bahaya penyesat serta menginvestasikan waktu bagi anaknya,” papar Ps. Levi
Sementara Ps. Edward Supit menyampaikan materi berjudul “Admosphere”. Maksudnya, seorang pelayan Tuhan harus bisa menciptakan admosfer yang baik dalam pelayanan. “Misalnya, setiap pelayan atau volunteer bisa mengecek kebersihan toilet, ruang ibadah, kursi, lantai, mimbar serta seluruh peralatan (dekorasi/seating Layout) yang berkaitan dengan pelayanan ibadah,” ungkap Ps. Edward.
Menurut Ps. Edward, sebagai pelayan Tuhan, kita wajib membiasakan untuk senyum ketika memberi salam kepada jemaat atau sesama pengerja. Inilah yang namanya cark park ministry, karena jika kita tidak memberikan yang terbaik, jemaat akan menilai pelayanan kita kurang baik. “Coba sewaktu, kita melayani sebagai penerima tamu sambil cemberut, marah atau wajah kita tampak tak bersahabat, pasti minggu depan jemaat kita tidak akan datang lagi. Budayakan kita tersenyum, karena senyuman bisa membawa damai sejahtera ketika beribadah,” kata Ps.Edward.
Setelah mengikuti pembekalan, para pengerja juga mendapatkan gift tas bagi yang beruntung dan diundi berdasarkan formulir data yang telah dikumpulkan.
Para pengerja dari berbagai cabang tampak antusias dan tertib mengikuti training melayani Tuhan yang memakan waktu 5 jam lebih. “Kini saatnya saya akan membagikan sertifikat sebagai penghargaan kepada seluruh pelayan Tuhan yang hadir saat ini. Tentu mempersingkat waktu, saya akan panggil leader atau YMGSnya saja untuk maju ke depan mewakili pengerja masing-masing cabang,” papar Ps. Monique ketika memanggil para leaders dan meminta Ps. Abraham C Supit untuk menyerahkan sertifikat. Selamat Melayani Tuhan dengan segenap hati! SM.

Artis Senior Rima Melati Hadiri Ibadah PD Regatta sekaligus Merayakan HUT ke 85 Ibu Grace Affan Supit

5 bersaudara kakak beradik. Ki-ka: Pdt. Oke Supit, Ibu Grace, Ibu Conny, Bapak Andre, dan Pdt. Abraham C Supit

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Persekutuan Doa Reggata (PD Regatta) masih konsisten menggelar ibadah secara rutin (setiap hari Kamis malam). Dan tahun ini PD Regatta telah berusia 5 tahun. Demikian dikatakan oleh Ketua PD Regatta, Pdt. Oke F Supit dalam ibadah sekaligus merayakan HUT ke 85 Ibu Grace Affan Supit ( Kamis, 5/9).


Tampak hadir dalam ibadah tersebut adalah : Artis lawas Rima Melati, Ibu Conny Arya, Pdt. Oke Supit, Pdt. Abraham C Supit, Pdt. Feba Affan, Pdt. Ayub Vredrik,Pdt. Reo Panggabean dan para handaitaulan serta jemaat setia PD Reggata.

Artis kawakan Rima Melati (kedua dari kiri) tampak pose bersama dengan keluarga besar PD Regatta di Apartemen Regatta, Pluit Jakarta Utara

Pdt. Ramsir Talumepa dalam khotbahnya mengutip ayat alkitab yang terambil dalam Lukas 13: 22-30 dengan perikop ‘Siapa Yang Diselamatkan’. ” Sebagai umat Kristen, yang telah diselamatkan Tuhan Yesus, tentu kita juga harus menjadi terang dan garam bagi orang lain. Supaya banyak jiwa yang diselamatkan dan mengenal Yesus sebagai juruselamat,” pesan Pdt. Ramsir Talumepa dalam kotbahnya.

Pdt. Oke F Supit (Ketua PD Regatta)

Sementara itu, Ibu Grace yang berulang tahun tepat tanggal 4 September, tampak bersukacita ketika menyampaikan kesaksian didampingi Pdt. Feba Affan. “Puji Tuhan, bahwa saat ini Tuhan telah tambahkan umur setahun lagi. Dan saya masih sehat. Semuanya karena Tuhan sungguh baik dalam hidup saya,” tutur Ibu Grace.


Sedangkan Ibu Conny Arya juga sangat bersyukur kepada Tuhan, karena mujizatNya, disembuhkan dari sakit leukimia. “Puji Tuhan, saya sempat dirawat di sebuah Rumah Sakit di Singapura. Waktu itu saya divonis, sakit leukumia, dan saya hanya pasrah kepada Tuhan Yesus melalui doa. Saya juga berterimakasih karena banyak saudara dan sahabat yang mendoakan saya agar sembuh. Dan akhirnya mujizat terjadi, Tuhan sembuhkan saya. Puji Tuhan saya bisa ikut ibadah kembali di tempat ini,”papar Ibu Conny penuh syukur.
Di akhir acara, Pdt. Abraham C Supit memimpin doa berkat. Disusul dengan menyanyikan lagu Happy Bday serta tiup lilin merayakan HUT ke 85 Ibu Grace. SM

UPH Raih Peringkat 23 Nasional di Ranking UI GreenMetric 2018

Suasana taman UPH, Karawaci Tangerang

TANGERANG-BANTEN, Victoriousnews.com,-Universitas Pelita Harapan (UPH) berhasil menempati posisi ke-23 dari 66 universitas nasional serta posisi ke-451 dari 719 universitas dunia dalam ranking UI GreenMetric 2018, sistem ranking universitas yang diakui secara internasional yang berbasis kriteria-kriteria sustainability lingkungan. Kriteria penilaiannya mencakup Setting & Infrastructure (rasio dan jumlah lahan hijau di wilayah universitas), Energy & Climate Change (penggunaan energi secara efisien dan penggunaan energi terbarukan), Waste (pengolahan sampah), Water (pengolahan air), Transportation (penyediaan transportasi massal di kampus serta upaya lain untuk mengurangi polusi dari kendaraan), serta Education & Research (rasio dan jumlah mata kuliah dan organisasi mahasiswa yang berfokus pada pemeliharaan lingkungan).

Dari aspek Setting & Infrastructure,  serta pengelolaan sampah dan air, kampus UPH sudah dipersiapkan sejak awal berdirinya dan didukung infrastruktur di lingkungan Lippo Village, Karawaci, Tangerang. UPH mendesain kampus dengan konsep green campus, dimana area kampus didominasi oleh taman hijau dan rindang, menciptakan lingkungan yang aman dan sehat, serta kondusif untuk belajar begitu juga untuk beraktivitas.

Perencanaan penanaman pohon dan tanaman ini pun ditindaklanjuti dengan pemeliharaan rutin oleh tenaga outsource yang secara khusus merawat dan menjaga kebersihan taman setiap harinya. Pengelolaan sampah  di lingkungan kampus UPH diolah khusus menjadi kompos. Juga disediakan lahan untuk pembudidayaan tanaman, guna menghasilkan tanaman-tanaman baru yang  nantinya ditambahkan di lingkungan UPH, agar dapat semakin mewujudkan suasana kampus yang asri.

Selain perwujudan taman hijau, UPH juga secara rutin mengkampanyekan kampus yang bebas rokok. Setiap tahunnya, organisasi-organisasi mahasiswa bergabung untuk menyuarakan gerakan bebas rokok, yang selain menjaga lingkungan juga mewujudkan gaya hidup generasi muda yang lebih sehat.

Mahasiswa di UPH juga diajak untuk secara aktif peduli lingkungan melalui kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan semangat cinta lingkungan. Seperti project pengabdian masyarakat yang dikoordinasi departemen kemahasiswaan, diantaranya yang sudah dilakukan menanam 3.000 bibit pohon bakau di Pantai Marunda, Jakarta Utara. Mengadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapala (mahasiswa pencinta alam) yang rutin mengadakan kegiatan jelajah alam.

Bahkan dari segi transportasi, UPH mengatur infrastrukturnya sedemikian rupa sehingga tempat parkir, drop off, dan pick up di area luar kampus dan terintegrasi dengan akses menuju kampus, sehingga mahasiswa dapat menikmati kampus yang bebas polusi tanpa harus berjalan jauh setiap hari.

Para dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi juga aktif melakukan riset terkait lingkungan, seperti prodi Arsitektur, Bioteknologi, Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Industri dan Biologi. Beberapa riset yang sudah dilakukan diantaranya manajemen  pengelolahan sampah, teknologi ramah lingkungan,  pemanfaatan solar cell, dan beberapa topik lainnya.

UPH terus meningkatkan aspek-aspek green campus, sebagai tanggung jawab kepada lingkungan sekaligus kepada masyarakat. Dengan demikian UPH  layak menjadi pilihan unggul bagi siswa yang mencari kampus yang kondusif untuk belajar, serta pilihan terbaik bagi orang tua untuk mengirim anak-anak mereka belajar di kampus aman dan sehat.

UI GreenMetric 2018 menyadari inisiatif UPH serta universitas-universitas lainnya untuk mendorong generasi muda lebih menyadari kepentingan menjaga kondisi bumi yang semakin lama semakin berbahaya. Posisi ke-23 nasional dan 451 sedunia ini mendorong UPH untuk terus berkembang dan lebih lagi fokus pada penyediaan ruang hijau, serta melakukan riset secara lebih mendalam di bidang pelestarian lingkungan, guna mewujudkan kampus yang sehat bagi seluruh mahasiswa dan publik. SM/MT

Pdt. Dr. Tony Mulia: Kita harus dilepaskan dari kutuk generasi

Pdt. Dr. Tony Mulia ketika menyampaikan seminar “Mematahkan & Memutuskan Kutuk Generasi”, Sabtu (24/8)

JAKARTA,Victoriousnews.com, “Berbicara mengenai memutuskan kutuk generasi ini, tidak ada dalam mata kuliah sekolah teologi. Tetapi hal ini sangat penting bagi kehidupan kita sebagai orang Kristen. Apakah benar kita sudah diputuskan dari kutuk generasi? Karena meskipun kita sudah bertobat, belum tentu kita sudah bebas dari kutuk generasi. Contohnya saya sudah bertahun-tahun sebagai pendeta, ternyata pernah mengidap sebuah penyakit aneh (bibir/wajah) bengkak dan lebam. Ketika dibawa ke RS, tidak ada penyakit dan tidak ada obatnya. Nah ketika saya belajar dari Rev. Morris Cerullo dan saya baca buku beliau, ternyata saya harus dilepaskan dari kutuk keturunan. Kalau melihat dari latar belakang keturunan Mah Oco saya (Buyut perempuan), Ng kong/ Ema (Opa/Oma). Nah Mah Oco saya dulu setiap malam jumat suka bersihkan kerisnya dikasih jeruk nipis disertai doa-doa kepada setan (mantra). Anehnya mantra yang dibacakan itu dashyat sekali, karena waktu itu banyak yang sakit dan sembuh. Nah, disadari atau tidak, bahwa setiap kita harus dari kutuk generasi, sebab bisa berimbas 1 sampai 4 generasi di atasnya. Puji Tuhan, setelah saya dilepaskan dari kutuk generasi itu, sejak tahun 2017, penyakit saya sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi,” tutur Pdt. Dr. Tony Mulia ketika menyampaikan seminar bertema “Mematahkan dan Memutuskan Kutuk Generasi” di House of Worship GKB El-Bethel, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Sabtu, 24/8)


Menurut Hamba Tuhan yang menjadi ‘Anak Rohani’ dari Rev. Dr. Morris Cerullo, kita dapat lepas dari kutuk generasi tersebut, jika kita menuruti kehendak Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus sang juruselamat. “Ada banyak hal yang menyebabkan kita di bawah bayang-bayang hitam kutuk generasi. Misalnya:
• Mengakui dan menyembah dewa-dewa palsu termasuk mengultuskan sesuatu seperti New Age, uang, jimat-jimat, mantera, dan lain-lain.
• Terlibat dalam okultisme, termasuk astrologi, sihir, dukun, hipnotis, konsultasi ke paranormal, membaca garis tangan, pemanggilan arwah, dan lain-lain.
• Tidak menghormati dan menghina orangtua.
• Menindas dan berlaku tidak adil kepada yang lemah dan tidak berdaya.
• Percabulan, perzinahan, pedofilia, homoseks.
• Anti Israel dan bangsa Yahudi karena mereka adalah umat pilihan TUHAN.
• Memaksakan kebenaran diri sendiri.
• Kedagingan, hawa nafsu.
• Murtad, tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
• Pencurian: korupsi, suap, sogok.
• Sumpah palsu: berbohong di bawah sumpah.
• Mengambil hak dan milik TUHAN atau sumber lain yang menjadi milik TUHAN.
• Mengucapkan kata-kata negatif, umpatan, sumpah serapah, dan lain-lain.
• Ketakutan, kecemasan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan.
• Kalau dalam hidup kita atau dalam keluarga atau garis keturunan kita ada melakukan hal-hal seperti pada daftar di atas, maka kita sudah berada di bawah kutuk,” tandas Pdt. Tony.


Dalam pemaparannya, Pdt. Tony menjelaskan, bahwa, Alkitab mencatat ada sebanyak 230 kali kata kutuk (Ulangan 28:15-68) dan 410 kali kata berkat (Ulangan 28:1-14). Ini berarti bahwa Alkitab menunjukkan begitu banyak berkat diberikan kepada kita jika kita mau taat dan setia kepada TUHAN.“Berkat dan kutuk ibarat terang dan gelap. Dalam gelap kita tidak dapat melihat dan melakukan apapun. Begitu ada terang, maka kegelapan langsung lenyap. Demikian pula halnya dengan berkat. Begitu kita diberi berkat oleh TUHAN, maka kutuk langsung lenyap,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan mengenai angka 14.14.14. “ Angka tersebut menggambarkan tentang generasi. Di Alkitab ada 14 generasi dari Abraham sampai Daud, 14 generasi dari Daud-masa pembuangan, dan masa pembuangan sampai Yesus Kristus. Perhatikan, dari Abraham sampai Kristus ada 41 generasi. Dalam perjalanan kehidupannya ke-41 generasi sebelum Kristus tersebut, mereka menurunkan berkat sekaligus kutuk. Sebagai contoh, Abraham pernah tidak mengakui Sara sebagai istrinya, tetapi sebagai saudaranya supaya ia tidak dibunuh. Hal ini pun berulang terjadi kepada Ishak yang juga tidak mengakui Ribka sebagai istri untuk menyelematkan nyawanya. Kutuk Abraham turun kepada Ishak karena memanipulasi kebenaran TUHAN. Demikian pula dosa perzinahan yang diperbuat Daud menjadi kutuk bagi keturunannya dari Salomo hingga raja-raja Israel berikutnya.
Kutuk dari 41 generasi tersebut akhirnya semuanya ditanggung Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib. Salib menjadi simbol kutuk dosa dari 41 generasi tersebut dan generasi-generasi sebelumnya. Kristus memikul kutuk dosa seluruh umat manusia agar melalui kematian-Nya di kayu salib manusia berdosa yang terkutuk itu terbebaskan dari dosa kutuk. Salib Kristus berubah menjadi simbol keselamatan manusia dari hukuman kutuk dosa, sehingga bagi mereka yang menerima dan percaya kepada Kristus memperoleh berkat dari anugerah Bapa di Sorga.
Setelah generasi Kristus, generasi ke-42 belum terisi. Karena kita adalah pengikut Kristus, maka kitalah yang mengisinya sebagai generasi ke-42 yang menerima berkat,” papar Pdt Tony.

Pdt. Tony sedang mendoakan peserta

Tujuan dari seminar ini diadakan, selain mendeklarasikan kita bebas dari kutuk generasi melainkan lebih dari itu kita harus menjadi Kristen yang tidak hanya de jure, tetapi juga de facto. Artinya kita menjadi Kristen bukan sekadar pengakuan, tetapi juga nyata dalam perkataan dan perbuatan.


Di penghujung seminar, Pdt Tony Mulia mengundang peserta seminar maju ke depan untuk menerima pelepasan kutuk generasi dan didoakan. “Saya berharap setelah semua menerima pelepasan tersebut, kita harus bertobat dan menuruti apa yang dikehendaki Bapa kita, “ pungkasnya. SM

Dr. Samuel Tarigan.,MBA (Rektor ITHB): Saya Bangga Karena Mahasiswa ITHB Menorehkan Prestasi Tingkat Nasional!

BANDUNG,Victoriousnews.com– Dengan semboyan “Karier Global, Jalur Cepat, Terdepan Menjawab Kebutuhan”,–sebuah kampus perguruan tinggi swasta (didirikan sejak 2002), bernama Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) menggelar acara pelantikan penerima beasiswa ITHB tahun ajaran 2019 (Kamis, 15/8). Acara bersejarah ini diselenggarakan di Aula lantai 5 kampus ITHB, Jalan Dipati Ukur No.80-84, Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung- Jawa Barat—dihadiri oleh Ketua Yayasan Petra Harapan Bangsa (Pdt. Dr. Bersih Tarigan), Rektor ITHB (Dr. Samuel Tarigan.,MBA), Ricky Gunawan (Manager Harapan Bangsa Arrows), Ketua Yayasan Bala Keselamatan (Kapten Yakobus Ngaidi), para mahasiswa/wi penerima beasiswa, orang tua, serta tamu undangan.


Program Gerakan Gereja Belajar (GGB) yang dipelopori oleh Yayasan Petra Harapan Bangsa telah memberikan beasiswa ke 4 kalinya atau selama 4 tahun berturut-turut, terhitung sejak 2016. Program GGB ini bertujuan untuk membantu warga jemaat (tidak mampu) dari denominasi gereja di Indonesia, namun memiliki keinginan kuat dalam menuntut ilmu dan siap mengabdi bagi bangsa dan negara. “Bahwa jalur beasiswa diberikan bukan karena kita sekedar melakukan tanggungjawab sosial. Tetapi kita bercita-cita dan ada sebuah visi serta target yang ingin dicapai. Saudara adalah orang-orang yang terpilih, paling tepat di Kampus ITHB ini,” ujar Rektor ITHB, Dr. Samuel Tarigan., MBA dalam kata sambutannya.


Samuel Tarigan mengungkapkan bahwa tahun 2019, ada 1.501 calon mahasiswa yang mendaftar di ITHB dan mengajukan beasiswa. “Mereka itu berasal dari 44 kota, 22 propinsi dan dari 39 denominasi gereja di Indonesia. Namun kami melakukan seleksi dengan sangat ketat dan harus lulus berbagai ujian akademik, yakni: tes bahasa Inggris, ujian karakter building (kepribadian), wawancara hingga tatap muka.Secara rinci ada tes parsial, tes verbal, tes matematika, Bahasa Inggirs, menulis esai tentang harapan, cita – cita dan alasan kenapa menempuh studi di sini. Untuk bea siswa gerakan gereja belajar ada rekomendasi dari gereja asal bahwa mereka benar– benar terlibat dalam pelayanan, dan benar- benar perlu dibantu,” ungkap Samuel Tarigan.

Rektor ITHB, Dr. Samuel Tarigan ketika menyampaikan kata sambutan

Lanjut Samuel, dengan adanya beragam ujian tersebut merupakan cara awal yang baik untuk melahirkan prestasi maksimal bagi para lulusan karena mereka memiliki potensi. Sehingga ketika menyelesaikan studi, lulus dengan nilai Graduate Profile, yaitu: menjadi pemimpin yang membawa perubahan bagi bangsa. Pemberian beasiswa ini merupakan kali yang ke Empat, karena dimulai sejak tahun 2016. Pemberian bea siswa pertama tahun 2016 hingga 2018 hanya 50 penerima beasiswa. Namun tahun 2019 ini ada peningkatan jumlah menjadi 89 orang penerima beasiswa. Adapun jumlah dana yang diterima per mahasiswa yakni sebesar Rp. 12.500.000. Ada 2 jalur yakni; jalur Gerakan Gereja Belajar dan jalur Prestasi Olah Raga. Dalam perjalanannya ITHB memulai pemberian bea siswa dengan pendanaan sendiri. Dalam perkembangannya, kami mencoba untuk bekerjasama dengan beberapa pendonor diantaranya dari sinode gereja, termasuk gereja Bala Keselamatan,”tutur Samuel yang merasa bangga karena pemain basket mahasiswa ITHB berkali-kali menorehkan prestasi tingkat nasional, juara liga kampus; serta lulusan ITHB banyak yang diterima di berbagai perusahaan nasional maupun internasional.
Lanjut Samuel, Beasiswa yang diterima oleh para mahasiswa ini full biaya pendidikan. “Tetapi mereka kan butuh juga biaya kehidupan sehari-hari dan juga biaya kos atau tempat tinggal. Nah gereja Bala keselamatan ini kan punya asrama, kita berharap mereka bisa membantu dalam hal memberikan tempat tinggal bagi mahasiswa di asrama milik mereka. “Ada 11 mahasiswa peraih bea siswa dari jalur prestasi olah raga. Tim basket ‘Arrows’ ITHB baru-baru ini juara 1 nasional. Nah prestasi dari kakak angkatan mereka, ini telah memberikan inspirasi positif terhadap adik angkatan, sehingga memacu mereka dalam mencapai prestasi akademik maupun non akademik,” pungkasnya.


Sementara itu, Pdt. Dr. Bersih Tarigan selaku Ketua Yayasan Petra Harapan Bangsa berharap para mahasiswa yang mendapatkan bea siswa dari jalur GGB dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Namun yang terpenting dari itu, mereka harus menjadi pribadi yang memiliki karakter yang baik. “Di ITHB mengutamakan pendidikan karakter. Oleh karena itu, kepada kalian (mahasiswa) yang mendapat bea siswa agar menjadi pribadi yang pantang menyerah, jujur, kreatif dan bertanggungjawab yang semua itu karena didasari takut akan Tuhan. Saya juga berharap para mahasiswa yang mendapatkan bea siswa tersebut memiliki beban kasih dalam mengabdi kepada bangsa setelah lulus nanti. Dimana pun kalian bekerja nanti setelah lulus, jadilah teladan lewat sikap dan professional kerja. Rajinlah belajar agar lulus tepat waktu dan menjadi kebanggaan almamater saat berkarier nanti di dunia kerja karena karakter dan etos kerja yang baik,”tandas Pdt. Bersih Tarigan sembari menambahkan, bahwa Di ITHB, mahasiswa bukan hanya dibimbing untuk memiliki prestasi maksimal, tetapi juga memiliki semangat untuk maju, bertanggungjawab dan yang tidak kalah penting ada komunikasi yang baik dengan para dosen, sopan santun, hidup yang penuh dengan nilai sehingga menjadi kesaksian bagi bangsa.


Lanjut Bersih, ITHB adalah perguruan tinggi yang dinaungi oleh yayasan Petra Harapan Bangsa. Di kampus ini, diutamakan pendidikan karakter. Alasannya, karena banyak orang pintar tetapi memiliki karakter yang buruk. Telah banyak lulusan ITHB yang menjadi asset penting di perusahaan ataupun instansi tempat mereka bekerja saat ini karena memiliki karakter yang baik. Bangsa ini butuh orang-orang yang punya karakter dan tanggungjawab yang baik. Korupsi dan etos kerja yang tidak bertanggungjawab adalah penyebab bangsa ini terpuruk. Oleh karena itu, jadilah teladan dengan kepribadian anda yang baik karena dengan begitu sudah turut berbankti bagi bangsa ini,” ungkap Pdt. Bersih Tarigan.
Sementara itu, Kapten Yakobus Ngaidi (Ketua Yayasan gereja Bala Keselamatan), dalam kata sambutannya, berharap kerjasama yang baik dengan ITHB dalam program Gerakan Gereja Belajar terus berlanjut. “Saya rindu mahasiswa yang kuliah di ITHB ini menjadi pribadi yang benar-benar takut akan Tuhan dan memiliki prestasi luar biasa,” tutur Yakobus.
Pada kesempatan tersebut, Pdt. Bersih Tarigan selaku Ketua Yayasan didaulat untuk menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) kontrak perjanjian beasiswa. Penandatanganan secara simbolis diwakili oleh 10 orang mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan jas almamater secara resmi kepada seluruh mahasiswa penerima beasiswa. SM

CBN FUN RUN Warnai HUT ke 20; Mc Clendon Ajak Pimpinan Gereja Peduli Kepada Generasi Penerus Bangsa

Ki-ka: Mark Mc Clendon, Ira Mc Clendon dan Nely Hurgendi

Jakarta,Victoriousnews.com,- Dalam rangka menyambut HUTnya ke-20 tahun, Yayasan Cahaya Bagi Negeri (CBN) Indonesia dengan moto “A Decade of Discipleship for The Next Generation”  akan menggelar acara “CBN Fun Run 5 K” di Gelora Bung Karno, pada hari Sabtu, 24 Agustus 2019 mendatang. CBN Fun Run, Hero of Change – Run for the Next Generation merupakan rangkaian acara donasi yang diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi penerus bangsa, khususnya anak dan remaja di Indonesia.

Menurut Ketua Panitia CBN Fun Run, Nely Hurgendi, acara Run for the next generation tersebut terbuka untuk semua kalangan. “Karena ini adalah Fun Run, ya bukan untuk mengejar menjadi juara satu seperti lari maraton. Tidak seperti itu.  Kita semua akan menjadi juara, menjadi pahlawan perubahan. Ini adalah acara lari yang menyenangkan. Nah, misalnya; di KM 1 ada penampilan karakter Superbook. Dan banyak hadiah yang disediakan untuk anak-anak. Kemudian di KM2 ada crew Solusi (salah satu program CBN) yang siap melayani, bermain, berfoto, dan sebagainya. Dan KM terakhir ada program Superyouth, dimana ada artis-artis seperti JFlow, Yemima, dan Joshua ‘Diobok-Obok’ Suherman. Kami percaya kalau kita bersama-sama berkumpul bukan hanya bicara hal rohani. Tetapi berolahraga bersama dengan sebuah tujuan yaitu Run for the next generation. Karena semua dana yang kita dapatkan dari acara tersebut akan kita gunakan untuk mendukung program CBN untuk pemuridan/pembangunan kepada generasi muda. Nah, kita semua orang bisa menjadi Hero of change- pahlawan perubahan. Bagi kami, setiap orang baik dalam organisasi yang memiliki beban menjadi pahlawan perubahan, termasuk wartawan maupun pengusaha,” tutur Nely kepada Wartawan di Resto Cobek Penyet di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Rabu, 7/8) sembari menambahkan bahwa acara puncak celebration HUT ke 20 CBN akan digelar tanggal 27 September.

Direktur CBN Indonesia, Mark Mc Clendon, memiliki hati untuk melayani yang fokusnya kepada generasi penerus bangsa, terutama kalangan anak-anak, remaja hingga pemuda. “Pergumulan yang kita hadapi banyak sekali. Terutama kekerasan seksual pada anak, dan banyak sekali generasi muda yang terjerat pergaulan bebas, narkoba dan sebagainya yang harus kita bantu. Oleh karena itu, melalui acara Fun Run ini, kami berharap donasi yang terkumpul nanti bisa membantu proyek CBN, yakni: Pertama, Pemuridan anak usia 0-5 tahun (Super 5)  membuka 5000 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan 2029. Kedua,  Pemuridan anak usia 6-12 tahun  bekerja sama dengan 10.000 gereja di seluruh Indonesia dengan menghadirkan ibadah anak yang fokus pada Alkitab dan karakter Kristus, berbasis media animasi dan aktivitas yang relevan dengan anak zaman sekarang (Superbook). Bimbingan belajar usai sekolah bagi anak prasejahtera disertai pendidikan karakter Kristiani (School of Life).  Ketiga, Pemuridan remaja usia 13 – 18 tahun  menghadirkan Superyouth Generation – Pemuridan berbasiskan Aplikasi  dan media yang relevan dengan anak muda. Keempat, Parenting Program bagi orangtua yang memiliki anak usia 0-18 tahun di jaringan gereja Superbook,” tutur Mc Clendon.

 Untuk merealisasikan misi tersebut, Mark Mc Clendon mengajak seluruh pimpinan gereja bersama-sama memperjuangkan sekaligus memberikan perhatian kepada masa depan generasi penerus bangsa. “Saya sudah keliling Indonesia. Saya sangat prihatin dengan umat Kristen dan gereja.  Terutama di kantong Kristen atau mayoritas Kristen seperti NTT, Maluku, Sulawesi Utara dan Papua. Justru di tempat inilah generasi anak-remajanya  sangat memprihatinkan dan hidup di bawah garis kemiskinan. Sekali lagi, dalam kebersamaan, mari kita mengekspresikan untuk perubahan kepada generasi anak,” ungkap Mark.

Sementara itu, Ira Mc Clendon,mengungkapkan, bahwa saat ini orang tua memiliki tantangan yang sangat berat. “Tantangan anak-anak zaman sekarang adalah bermain gadget (HP). Jika terus menerus dibiarkan akan merusak otak dan pikiran generasi anak. Jadi sebagai orang tua kita harus memberikan pilihan yang positif, yaitu menanamkan pondasi yang kuat melalui  firman Tuhan untuk pertumbuhan rohani mereka sejak usia dini. Dan disinilah peran seorang ibu yang harus memegang kendali luar biasa,” tandas istri Mark.

Anda terbeban menjadi Pahlawan Perubahan-Hero of Change? Ayo bergabung dan mendaftarkan diri dalam CBN Run 5K sebagai partisipan/nextgen runner  di jawaban.com/cbnfunrunSM

Kongres XI GAMKI, Dr. Michael Wattimena : GAMKI Siap Konsolidasi Persatuan Indonesia

Dr. Michael Wattimena (kanan) didampingi oleh Ketua Panitia Pelaksana Kongres GAMKI XI

Jakarta,Victoriousnews.com,- Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) akan menggelar Kongres XI tahun 2019 dengan mengusung tema besar “Konsolidasi Persatuan Indonesia”, sebagai respon dari dinamika politik pasca Pemilu 2019. Demikian dikatakan oleh Ketua Umum DPP GAMKI, Dr. Michael Wattimena ketika berjumpa dengan sejumlah wartawan Kristiani di Lobby Grha Oikumene PGI (Senin, 29 Juli 2019) malam.
Lanjut Michael, tema pelaksanaan kongres terambil dalam Kitab Yeremia 29 ayat 7, yakni “Sejahterakan Kota Dimanapun Kamu Berada, dan Doaka Nasionalisme Gereja, dan Ekumenisme Indonesia dengan Pancasila”.
Pada kesempatan tersebut, Ketum Michael Wattimena didampingi oleh Ketua Panitia Pelaksana Kongres XI GAMKI, Sherly Wattimena, yang juga fungsionaris DPP GAMKI. “Nanti yang akan membuka Kongres XI GAMKI adalah Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, Pak Luhut Binsar Panjaitan. Selain agenda pemilihan Ketua Umum, dan pembahasan program-program kerja, Kongres XI GAMKI juga akan diisi dengan sesi-sesi study meeting, dengan narasumber ada Ibu Puan Maharani Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Ibu Susi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sekjen Kementerian Pertanian, Sekjen Kementerian Kominfo, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, Bupati Morotai Benny Laos, Mindo Sianipar, Maruarar Sirait, Bara Hasibuan, dan yang lainnya” Papar Michael yang tidak mencalonkan kembali sebagai Ketum karena telah 2 periode memimpin GAMKI.
Masih kata Michael, Tema Kongres GAMKI tersebut, masih berkaitan dengan tema-tema Kongres sebelumnya, yakni saat Kongres IX di Wisma Kinasih, temanya “Hendaklah Kamu berakar dan Bertambah Teguh” (Kolose 2:7a), lalu pada Kongres X di Hotel Aryaduta Manado, “Roh Tuhan Ada Padaku, Untuk Memberitakan Kabar Baik” (Lukas 4 ayat 18)
Sedangkan Ketua Panitia Pelaksana Kongres XI GAMKI, Sherly Wattimena, menjelaskan, bahwa peserta Kongres XI GAMKI selain akan diikuti oleh utusan DPD-DPD GAMKI tingkat provinsi, juga utusan DPC-DPC GAMKI tingkat Kabupaten/Kota se-Indonesia.
“Data sementara jumlah peserta yang kami sudah update per Jumat kemarin (26 Juli 2019), total 300 an peserta, dan ini masih akan bertambah lagi hingga beberapa hari ke depan” jelas Chey, yang juga Tenaga Ahli DPR RI. Lebih lanjut Chey menjelaskan, bahwa Kongres XI GAMKI dilaksanakan di Hotel Grand Cempaka Jakarta Pusat, pada tanggal 1-4 Agustus 2019, dan untuk itu panitia serta DPP sudah beraudiensi dan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian untuk dukungan dan kehadiran narasumber dalam pembukaan Kongres XI GAMKI nanti. SM

Tim Deborah GBI Victorious Family Kelapa Gading Berbagi Kasih Ke Yayasan Dunamis Agape Bandung

Bandung, Victoriousnews.com,- Rumah Pemulihan Yayasan “Dunamis Agape” yang berlokasi di Lembang, Bandung-Jawa Barat dipilih oleh kaum Ibu-ibu yang tergabung dalam Victorious Deborah Fellowship Kelapa Gading sebagai tempat berbagi kasih (22-23 Juli).

Ibu Lenty Dewanto (kiri) memimpin ibadah di Dunamis Agape

Sesampainya di lokasi, tim Deborah Kelapa Gading yang dipimpin oleh Ibu Lenty Dewanto ini disambut hangat oleh pimpinan Yayasan Dunamis Agape (Bapak Yoram Kause bersama pengurus yayasan). Turut hadir dan mendukung dalam pelayanan tersebut adalah pengerja GBI Victorious family Kelapa Gading, yakni: Bapak Ronny, Bapak Ali dan Bapak Didi.

Setelah melakukan ibadah pujian, penyembahan, doa dan firman Tuhan,  sekitar 20 orang kaum Ibu Deborah Kelapagading terbeban melayani jiwa-jiwa di Dunamis Agape dengan membagikan 50 paket makanan, peralatan mandi, paket sembako serta memberikan donasi uang tunai senilai 6 juta rupiah untuk menopang pelayanan Yayasan Dunamis Agape yang khusus melayani orang-orang terbuang dan mengalami gangguan jiwa.

Bapak Yoram Kause (Paling kiri) ketika melayani orang-orang yang terbuang

            Pendiri Yayasan Dunamis Agape, Bapak Yoram Kause menceritakan, bahwa Rumah Pemulihan itu didirikan sejak tahun 2012. “Pada tahun 2012 saya terpanggil untuk melayani Tuhan yaitu melayani jiwa-jiwa yang terabaikan (yang telanjang, kotor, yang berada di pinggir jalan, di kolong jembatan, di pasar dan lain sebagainya. Waktu itu saya mimpi satu firman yaitu : Matius 25: 40,  dan firman ini menjadi rema untuk saya melayani mereka.  Dari tahun 2012 sampai sekarang sudah  banyak jiwa yang kami layani, termasuk pria dan wanita. Tanpa memakai obat penenang, hanya dengan nama Tuhan Yesus jiwa-jiwa yang kami layani rata-rata beragama non Kristen namun mereka menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Sedikitknya ada 42 jiwa sudah sembuh dan pulang kepada keluarga mereka. 10 jiwa meninggal dunia, dan yang ada sampai hari ini sebanyak 38 jiwa, 20 laki-laki dan 18 perempuan,” tutur Yoram .

                Menurut Yoram, rumah pemulihan yang dirintisnya itu tidak bernaung di yayasan lain atau gereja tertentu. “Kita hanya mengandalkan Tuhan dalam menjalani pelayanan ini. Visi dan Misi Yayasan Dunamis adalah membawa yang tidak terbawa, merangkul yang tidak terangkul agar datang ke rumah Tuhan, lepaskan kuasa Iblis yang ada dalam hidup orang itu, kemudian masukan kebenaraan Firman Allah dalam kehidupan orang itu juga. Sedangkan firman yang menjadi visi bagi pemimpin ialah  Matius 25: 35- 40; Ayat 40: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku akan berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” . Sedangkan Misi Yayasan Dunamis Agape ialah Melayani dengan tulus hati tanpa menuntut imbalan dari manusia tetapi berharap kepada Tuhan; Menyiapkan sarana yang mendukung pasien agar bisa mengembangkan diri sebagai manusia yang sehat, mandiri dan produktif di masyarakat; Memberikan bimbingan kepada mereka yang mengalami masalah kejiwaan; Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan ketahanan pasien gangguan jiwa,” papar Yoram.

Pada kesempatan tersebut, Yoram mengucapkan terimakasih atas pelayanan GBI Victorious family melalui Deborah Kelapa Gading. “Kami sangat berterima kasih kepada GBI Victorious Family  terutama kaum Ibu Deborah  yang diketuai oleh Ibu Lenty Dewanto dan rekan-rekan yang lain yang sudah datang berkunjung kepada kami pada tanggan 22 juli 2019. Mereka adalah saudara-saudara kita dan mereka juga membutuhkan Kasih Tuhan dalam hidup mereka. Mari kita sama-sama melayani mereka,” pungkasnya. SM

Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom Luncurkan Buku “Bersyukur Dalam Karya” di Kantor PBNU

Jakarta,   Victoriousnews.com, Diskusi reflektif diadakan sebagai pengantar acara peluncuran buku mengenai Pdt. Gomar Gultom, M.Th, berjudul “Bersyukur Dalam Karya, Pdt. Gomar Gultom Di Hati Keluarga & Sahabat – Festschrift Menapaki Usia 60 Tahun & 33 Tahun Kependetaan”, yang digelar di Aula lantai 8 kantor Pengurus Besar Nahlatul Ulama (PBNU), Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat.

Buku setebal 400 halaman tersebut berisikan kumpulan tulisan Pdt. Gomar selama menjalankan kependetaannya. Buku yang dikerjakan oleh Tim Kerja yang dipimpin Dr. David Tobing, seorang pengacara publik, melibatkan aktivis-aktivis muda kebhinekaan, seperti Ahmad Nurcholish, dan Frangky Tampubolon.


Dalam peuncuran buku, dihadiri juga oleh Keluarga Besar Pdt Gomar Gultom, seperti istri terkasih dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD, Ibu mertua, anak-menantu dan cucu, adik kandung dr. Hernalom Gultom dan istri, dan juga banyak kerabat serta rekan sesama pendeta.
Selain itu, tampak hadir sejumlah tokoh penggiat kebhinekaan ataupun lintas agama, sebut saja hadir Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc, Ketua Umum MPH PGI Pdt. Dr. Henriette Lebang, Ketua PB NU KH. Dr. H. Marsudi Syuhud, Ketua PGPI Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, sejumlah tokoh muda lintas agama (Islam, Katolik, Bahai, Singh, Konghucu), anggota DPR RI Budiman Sudjatmiko, mantan Komisioner KOMNASHAM Johnny Nelson Simanjuntak, SH, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawisesa, M.Th, Nia Sjarifudin Sekjen ANBTI, Pdt. Robinson Nainggolan (Sinode GBI), Sekretaris Umum MUKI Pdt. Mawardin Zega, jajaran fungsionaris PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia), dan puluhan tokoh lainnya.
Sekalipun dihadiri Budiman Sudjatmiko, mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang pada saat kerusuhan 27 Juli 1996, oleh penguasa Orde Baru diklaim sebagai orang yang bertanggung jawab, berkumpulnya para tokoh kemarin di PB NU, tidak dalam konteks memperingati ataupun membicarakan secara khusus terkait peristiwa 27 Juli.
Diskusi yang dipandu oleh mantan Direktur Ma’arif Institute, Raja Juli Antoni, menghadirkan narasumber dari kalangan muda, diantaranya Nafidah I. Huda (PW GPII Jakarta Raya), Riaz Muzaffar (Pemuda Baha’i), Nico (Pemuda Katolik), Yugi Yunardi (Ketum DPN Paling), dan Budiman Sujatmiko (Komisi II DPR RI).
Prof. Dr. Sri Adiningsih yang hadir sebagai sahabat Pdt. Gomar Gultom, dalam kata sambutannya mengemukakan, bahwa seorang Gomar Gultom tidak hanya sekedar seorang pendeta, tetapi juga seorang tokoh agama yang berkiprah tidak hanya skala nasional, tetapi juga internasional, dan berkecimpung dibanyak lembaga/organisasi, selain PGI, sebut saja ICRP, ANBTI, FUKRI, dan lain sebagainya.
Figur Pdt. Gomar yang tidak hanya berguna bagi gereja tetapi juga masyarakat, diamini Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang. “Dalam buku ini sangat jelas bagaimana Pdt. Gomar dikenal oleh semua kalangan sebagai sosok yang tidak hanya memikirkan kepentingan gereja, tetapi juga kehidupan kebangsaan, dan kemajemukan di Indonesia. Kehadirannya menjadi simbol tidak hanya untuk gereja, tapi lintas iman, yang saat ini membutuhkan kerjasama dan bergandengan tangan dalam menghadapi tantangan yang ada. Buku ini bagi saya juga menekankan aspek relasi yang sangat penting dalam membangun bangsa,” ujar Ketum PGI saat menyampaikan sambutan.
KH. Marsudi Syuhud menilai, Pdt. Gomar telah menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan yang intens, dan duduk bersama membicarakan solusi bersama, serta menunjukkan fungsinya menjadi kekuatan yang menyejukkan. Selain itu, sebagai pendeta yang tidak hanya mengurusi ibadah kekristenan saja, tapi sangat intens dalam menjalankan ibadah sosial sebagai penjaga moral bangsa.
Pdt. Gomar Gultom yang tampil bersama istri, dr. Loli J. Simanjuntak, Sp.PD, mengenakan pakaian bermotif batik dengan sentuhan nuansa warna hijau, mengemukakan kisah riwayat hidupnya dibalik tanggal 27 Juli. Selain peristiwa KUDA TULI, 27 Juli menjadi momen penting dalam kehidupan seorang Pdt. Gomar Gultom, karena pada 27 Juli 1986 dirinya ditahbiskan menjadi Pendeta pada Gereja HKBP, setelah sebelumnya dia menempuh masa vikariat selama 2 tahun setelah lulus dari STT Jakarta.
Pdt Gomar menceritakan keterkaitan dirinya dengan peristiwa 27 Juli 1996, saat itu dirinya masih terlibat dalam penanganan masalah konflik kepemimpinan puncak Gereja HKBP, sehingga sering berada di Sumatera Utara. Sementara itu, di Jakarta pecah peristiwa kerusuhan sebagai rentetan dari pelaksanaan Kongres Luarbiasa PDI di Medan, disusul perebutan Kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro Jakarta Pusat. Sejumlah aktivis pemuda dan mahasiswa saat itu, dituduh sebagai pelaku dibalik peristiwa kerusuhan tersebut, diantaranya Budiman Sudjatmiko.
Pdt. Gomar mengisahkan bahwa Budiman Sudjatmiko dan belasan temannya sesama aktivis yang dicari-cari oleh pihak ABRI (saat itu), bersembunyi dikediaman Pdt. Gomar di Jakarta Selatan, kondisi Pdt Gomar saat itu masih menjadi Pendeta muda, yakni baru 10 tahun menjalani kependetaan dengan gaji yang masih minim, sementara di Jakarta, istri Pdt Gomar, tinggal bersama anak mereka yang kecil ketika itu.
Kisah perjalanan hidup Pdt. Gomar Gultom, digambarkan secara apik oleh Tim Penyunting, mampu menggambarkan secara utuh kiprah dan karakter seorang Pdt Gomar Gultom, yang kini sudah memasuki masa kependetaan lebih dari 3 dasawarsa, dan saat ini sudah dua periode menjadi Sekretaris Umum MPH PGI (periode 2009-2014, dan 2014-2019). Rekam jejak dan kiprah hingga kini berusia 60 tahun, dan dengan masa kependetaan 33 tahun, menjadi wajar ketika Pdt Gomar mendapat julukan “Sang Perajut Tenun Perdamaian”.
Tidak sedikit harapan dititipkan pada seorang Pdt Gomar, untuk ke depannya dapat membawa PGI semakin berkiprah lebih luas lagi bagi kepentingan umat, masyarakat, bangsa, dan negara, terlebih saat ini, Pdt Gomar sedang mempersiapkan pelaksanaan Sidang Raya XVII PGI, pada 8-13 November 2019 di Sumba NTT.SM