Kesaksian hidup Lily Jusuf: ‘ORANG BODOH YANG DIBERKATI TUHAN’

Kesaksian hidup Lily Jusuf: ‘ORANG BODOH YANG DIBERKATI TUHAN’

Ki-ka: Pose ketika Lily zaman  susah dan Lily sudah diberkati Tuhan

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Setiap insan yang terlahir ke dunia ini pasti mendambakan untuk menikmati hidup bahagia, senang, sukacita dan berkecukupan secara materi. Kondisi semacam ini tidak dirasakan oleh wanita bernama lengkap Lily Jusuf sewaktu kecil. Semenjak bocah, Lily mengenyam sebuah drama kehidupan yang  amat pahit, getir, miskin bahkan  menderita secara ekonomi. Bayangkan saja, ketika usianya menginjak 4 tahun, Lily sering menahan lapar dan harus lantaran  orang tuanya tak punya uang untuk membeli makanan. Rumahnya terbuat dari bambu seperti gubuk reot, jelek; tidak ada toilet, bahkan tidurpun beralaskan kasur usang.  Ditambah lagi, penghasilan kedua orangtuanya yang pas-pasan—hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.  “Dari kecil saya mengalami hidup susah dan miskin sekali. Mau makan saja gak punya lauk. Saya sering puasa bukan karena niat untuk puasa, tetapi karena tidak ada yang bisa dimakan.  Mau buang air besar juga gak punya toilet. Pokoknya, miskin..kin..kin,” kenang Wanita kelahiran Jakarta, 02 Oktober 1968 ini mengisahkan kembali masa kecilnya yang sangat susah secara ekonomi.

Lily mengunjungi dan mendoakan anak yang sakit

Penderitaan Lily bukan hanya soal makan/minum dan pakai, melainkan juga merembet kepada masalah pendidikan. Dibandingkan dengan teman sebayanya, yang sama-sama berdarah Tionghoa, Lily tidak merasakan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Swasta yang berkualitas pada zamannya karena tidak punya biaya. Akhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke SD Inpres (negeri) yang biayanya sangat murah meriah karena disubsidi oleh pemerintah.  Meski, sekolahnya murah, Lily pun sering menunggak biaya sekolah karena tak punya uang. Sehingga, ia  pun berniat membantu sang Mama untuk berjualan kolak yang dijajakan di sekitar lingkungan rumah maupun sekolahnya.

Lily Mengajak makan bareng anak jalanan

Tak jarang Lily mendapatkan hinaan, ejekan bahkan dibully oleh teman-temannya yang duduk di bangku SD Inpres di kawasan Mangga Dua, ketika melihat dirinya berjualan. Malu dan sakit hati?  Sudah pasti hal itu dirasakannya. Namun, dirinya tak peduli. Yang terbersit dalam benaknya adalah bagaimana bertahan hidup dan bisa sekolah.  “Saya itu terlahir dua bersaudara. Saya anak pertama, dan adik saya cowok. Pokoknya waktu itu, saya ingin membantu Mama untuk menghidupi keluarga. Karena Papa saya kurang peduli dengan Mama dan anak-anaknya. Sehingga sebagai anak pertama, saya harus bantu apa yang bisa saya lakukan, termasuk berjualan kolak.  Waktu itu benar-benar susah sekali,” ujar anak pertama dari pasangan (Alm).Heng Lay Thong (Papa Athong) dan Kong Djun Ngo (Mama Ango).

Ki-ka: Lily berdoa dan bersyukur telah bertambah usia & Sang Mama yang menjadi teladan hidupnya, Kong Djun Ngo (Mama Ango)

Dalam mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, Lily mengaku bukanlah anak yang pintar. Ia hanya anak yang biasa saja, bahkan nilainya pun tak memuaskan. Tetapi ia sangat rajin dan semangat untuk menuntut ilmu di bangku sekolah. Selepas lulus SD,  Lily pun berniat untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Lagi-lagi, lantaran faktor biaya sekolah, ia hanya puas masuk SMP (Sentosa) yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. Ekonomi keluarganya juga tak kunjung membaik. Bahkan cenderung semakin merosot. Hal itu tak mematahkan semangatnya untuk belajar dengan giat. Dan mulai saat itulah, ia sering diajak teman sebayanya untuk pergi ke gereja.  Ia mulai paham mengenai cara berdoa secara Kristen. Perlahan tetapi pasti, ia mulai mempratekkan doa itu setiap hari.  “Saya dididik dalam keluarga non Kristen. Papa-Mama saya itu berdarah Tionghoa yang menganut kepercayaan leluhur.  Saya juga pernah ke gereja waktu kecil, tapi selalu dilarang oleh papa saya. Akhirnya, saya ngumpet-ngumpet perginya. Dulu saya pernah pergi ke gereja Pantekosta di dekat Mangga Dua Square,” kisah Lily.

Setelah lulus SMP dan usianya beranjak remaja, Lily berkeinginan mencari nafkah untuk membantu sang Mama berjualan. Namun, sang Mama berharap agar dirinya melanjutkan  melanjutkan sekolah SMA. “Ya karena waktu itu kondisi orang tua benar-benar tak mampu, sebagai anak pertama ingin banget bekerja saja untuk meringankan beban mama saya. Karena Papa saya waktu itu tidak bekerja, sehingga Mama sayalah yang banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga. Saya kasihan Mama saya bekerja sendirian. Bersyukurlah Mama saya mengerti, dan saya disuruh untuk lanjut sekolah SMA sampai selesai. Jadi saya ini S3, maksudnya SD, SMP dan SMA,” ujarnya sambil tertawa.

Selepas SMA, Lily bertekad dan berjuang agar hidupnya mengalami perubahan dalam hal finansial. Dengan sungguh-sungguh ia berdoa kepada Tuhan agar memperoleh pekerjaan yang dapat membantu ekonomi keluarga. “Doa saya pun terkabul. Saya diterima kerja di sebuah toko besi di kawasan Mangga Dua. Gajinya waktu itu Rp.75.000,-, dan uang makan Rp.1500,-. Ya walaupun gajinya kecil, saya tetap bersyukur saja. Karenanya saya yakin berkat Tuhan pasti indah pada waktuNya,” tukas Lily.

Keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan, ki-ka: Rudy Wong (Suami), Jennifer Wong (Putri pertama), Lily Jusuf, Jerry Winata (Putra Kedua) dan Jeffry Winata (Putra ketiga/bungsu)

Mendapat Jodoh Yang Baik dari Tuhan

 Kisah asmara dua insan antara Lily Jusuf dan Rudy Wong tergolong unik. Awalnya, ketika bertemu dengan Pria yang kini menjadi suaminya adalah berkat dikenalkan (baca: dijodohin) oleh teman dekatnya. Calon kekasih Lily adalah seorang pendiam dan  waktu itu bekerja sebagai Sales/Marketing di sebuah perusahaan. Namun, sebelumnya Lily mengaku bahwa dirinya senantiasa berdoa kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang baik dan sayang kepadanya. “Waktu itu, saya berdoa kepada Tuhan. ‘Tuhan saya ingin mendapat suami yang baik dan sayang saya. Tidak perlu kaya. Yang penting dia mengasihi dan menerima saya apa adanya. Saya tahu dirilah, karena waktu itu saya masih hidup susah, ngapain juga cari orang kaya.  Dan Tuhan jawab tepat pada waktunya. Tuhan memberi pasangan yang baik dan sayang sekali. Singkat cerita, setelah cocok menjalin hubungan kekasih selama 4 tahun, akhirnya kami memutuskan untuk menikah pada tahun 1994. Kami waktu itu diberkati dalam pernikahan kudus secara Katolik,” ungkap Lily.

Pesta pernikahan pun digelar secara sederhana. Menurut Lily, karena tak ada dana untuk menggelar pesta mewah, Lily dan suami hanya mengeluarkan biaya 8 juta rupiah. Meski gaun pengantin yang dipakai bukanlah baru alias bekas, tetapi Lily bersyukur bahwa pesta pernikahannya berjalan dengan baik dan lancar. “Waktu itu kami menikah, biayanya 8 juta. Ya maklum, karena kondisinya masih susah. Terus, saya pake baju pengantin bekas, bukan beli baru. Sederhana saja dan tidak mewah.  Maklum tidak punya biaya.  Ya saya pakai yang murah-murah saja.  Karena saya juga tahu kondisi suami yang hanya sales/marketing saja di sebuah perusahaan. Kami hanya memiliki cinta yang kuat dan saling menyayangi,” urainya penuh syukur yang kini telah dikaruniai 3 anak (1 Putri dan 2 Putra), yakni:  Pertama, Jennifer Wong (24 tahun) lulusan S1 Bisnis Manajemen di Singapura. Anak kedua bernama; Jerry Winata (21 Tahun) lulusan S1 Mechanical Engineering di Universitas Seattle Amerika Serikat dan ketiga bernama Jeffrey Winata (14 tahun) masih sekolah SMP kelas 9 di Jakarta.

Keluarga yang kompak

Ketulusan Hati Mendatangkan Berkat

Kesetiaan, ketaataan, ketekunan, ketulusan hati serta senantiasa berdoa sungguh-sungguh kepada itulah yang mewarnai perjalanan hidup Lily dan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai diberkati oleh Tuhan. “Jadi sewaktu saya kerja di toko besi itu, gajinya  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya saya kerja sama adik ipar saya di sebuah toko computer di kawasan Glodok. Waktu itu saya  digaji 300 ribu per bulan. Nah, singkat cerita, adik ipar saya menjual tokonya dan minta suami saya bayarin. Saya lupa toko itu dibayarin berapa puluh juta sama suami saya. Nah, akhirnya kita olah dan dagang komputer. Kemudian tahun 1998 ada kerusuhan dan kebakaran di Glodok Plaza. Kemudian kita pindah di Dusit Mangga Dua. Puji Tuhan, doa kami dijawab Tuhan. Mulai dari situlah, usaha kami perlahan-lahan diberkati Tuhan. Mulai tambah kios satu per satu. Dan suami bisa beli rumah pertama, walaupun  nyicil dan kumpul-kumpul uang,” ujar Lily yang memiliki kata mutiara ‘Hidup adalah pilihan. Pilihlah yang baik dan benar. Yang baik belum tentu benar. Yang benar sudah pasti baik’.

Tengah: Putra Kedua, Jerry Winata lulusan S1 Mechanical Engineering Seattle University Amerika Serika, kini telah bekerja di sana.

Tahun berganti tahun, berkat Tuhan terus mengalir deras dalam kehidupan rumah tangga Lily dan suami. Menurut Lily, jika hati kita tulus dalam membantu orang atau melakukan pekerjaan apapun, pasti berkat Tuhan akan mengikuti kita. “Sebaliknya, kalau yang ada dalam otak kita hanya fulus (baca: uang), maka apa yang kita kerjakan tidak akan menjadi mulus. Apalagi banyak akal bulus,” ujar Wanita lulusan Sekolah Pengkotbah Modern (SPM) angkatan 23 ini sembari tertawa lepas walaupun beberapa kali kena tipu milyaran rupiah.

Kata-kata tersebut maknanya sangat dalam. Ketulusan hati yang dipraktikkan oleh Lily dan suami dalam menjalankan usaha  akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Meski diberkati di usaha dagang komputer, namun Lily dan suami mencoba banting stir atau alih profesi ke dunia Properti. Ternyata di dunia bisnis Properti inilah yang menghantarkan dirinya semakin diberkati dalam hal keuangan dan harta benda. “Kemudian saya masuk ke dunia bisnis properti. Kami bisa membeli rumah dengan harga 485 juta. Nah karena waktu itu uangnya masih kurang, akhirnya rumah yang pertama kita jual untuk tambahan beli rumah mewah di kawasan Danau Sunter. Mulai tahun 2004 itulah bisnis Properti yang kami tekuni terus diberkati Tuhan sampai hari ini. Saya bersyukur karena Tuhan berkati luar biasa. Saya juga tidak menyangka melalui bisnis properti ini berkatnya luar biasa. Semua karena Tuhan Yesus yang memberkati keluarga kami,” kata Lily yang kini melanjutkan Studi di STT Lintas Budaya Kelapa Gading.

Terbeban Untuk Melayani Orang Susah

Didikan sang Mama untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan itu selalu membekas dalam benak Lily ketika dirinya melihat anak-anak terlantar, pengamen, dan orang yang tidak mampu. Lily teringat kata-kata sang Mama ketika masih ia masih kecil dan susah, ‘kita harus memberi dan mengasihi setiap orang. Kasih saja baju kita yang layak pakai kepada orang lain yang butuh. Kita harus memberi orang makan’. “Mama saya selalu ajarkan anak-anaknya agar saling mengasihi. Memberi dibalik kekurangan. Kasih kepada orang susah,baju yang layak pakai. Kasih orang makan. Padahal waktu itu, Mama saya masih beragama non Kristen. Kemudian, waktu itu saya bilang, Ma kita aja miskin bagaimana mau kasih ke orang. Ternyata apa yang kita tabur dulu, dan baru menyadari bahwa saat inilah kami telah menuainya. Apa yang kami berikan ketika miskin, kini kami menuai dalam kelimpahan. Memberi dan mengasihi itu kekuatanya luar biasa. Sebab Tuhan Yesus juga mengajarkan, bahwa kita harus mengasihi sesama kita. Kita juga diajarkan harus memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Berkat Tuhan itu tidak akan habis, ketika hati kita tulus dalam mengasihi dan memberi kepada sesama,” tukas Lily yang kini rindu untuk membuka sebuah yayasan sosial  untuk menampung anak-anak tidak mampu dan anak terlantar.

Pelayanan Lily kepada orang gila di kawasan Bekasi

Sebagai seorang wanita yang pernah merasakan pahitnya hidup semasa kecilnya, Lily menangis dan terbeban untuk menolong anak-anak yang miskin. “Teladan Mama saya itulah yang tularkan kepada anak-anak saya saat ini. Saya didik anak-anak saya untuk mengasihi dan memberi kepada orang yang berkekurangan.Karena mama saya ajarin saya, waktu susah saja harus memberi dan memberi. Saya lebih senang melayani door to door, tidak suka hanya dalam gereja.  Karena kalau hanya melayani di gereja takutnya terikat oleh waktunya. Sekarang terbeban melayani Tuhan kepada orang-orang miskin, anak-anak jalanan. Jadi kalau saya melihat orang susah, itu teringat masa lalu saya. Masa kecil saya itu seperti itu. Pernah dalam pelayanan saya di Sukabumi, melihat pemulung dan pengamen. Saya ajak makan satu meja. Saya gak mau gengsi walaupun sudah diberkati seperti sekarang. Karena saya ingin menerapkan ajaran Tuhan Yesus, yaitu mengasihi sesama. Bahkan ada anak-anak jalanan yang saya temui, mengaku seumur-umur belum pernah makan Pizza. Bukannya saya mau pamer, tapi saya ingin membantu mereka dan berbuat baik. Biarlah hanya Tuhan saja yang tahu dan untuk kemuliaan nama Tuhan,” ungkap Lily yang semakin cinta Tuhan dan kini beribadah Gereja di kawasan MGK Kemayoran Jakarta Pusat.

Diberikan Tuhan “Karunia Kesembuhan”

            Kini, Lily bersama keluarga rindu hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Baginya, harta benda maupun uang yang ia miliki hanyalah titipan dari Tuhan, suatu saat akan lenyap. Meski banyak orang yang melekatkan label sebagai “orang kaya”, tetapi  hal itu tidak membuatkan menjadi sombong. Justru sebaliknya, ia beserta keluarga belajar semakin rendah hati.  Menurutnya, berkat apapun  yang diberikan Tuhan itu harus dikelola dan bermanfaat untuk mendatangkan kemuliaan Tuhan bukan untuk kepentingannya sendiri. “Puji Tuhan sampai saat ini Tuhan sudah berkati kami secara luar biasa. Saya punya suami yang baik dan sayang keluarga. Dikaruniai anak-anak yang luar biasa. Dan semuanya baik-baik. Sekolah di luar negeri dan yang terakhir masih SMP. Pokoknya saya bersyukur sekali. Karena semuanya berasal dari Tuhan. Dulu saya pernah berdoa sama Tuhan, jika Tuhan sudah berkati saya, maka saya ingin menjadi berkat bagi orang lain, yaitu rindu membuka yayasan sosial,” papar Lily yang mengaku tidak pernah mau menerima persembahan kasih ketika mendapatkan undangan kotbah atau mengisi kesaksian hidupnya di berbagai gereja.

Melayani anak-anak jalanan di bawah kolong tol Jakarta Barat

            Lily menceritakan ketika melayani dan mendoakan orang sakit beberapa waktu lalu. Dalam pelayanannya, ia sungguh bersyukur diberikan karunia kesembuhan oleh Tuhan. “Saya banyak melayani orang sakit. Baik mendoakan orang sakit melalui telepon maupun datang langsung ke Rumah Sakit. Puji Tuhan ketika saya diminta mendoakan orang,  mereka kebanyakan disembuhkan dari penyakitnya. Ada beberapa teman yang sakit kanker saya doakan sembuh. Awalnya saya tidak tahu, tetapi dari kesaksian orang-orang yang saya doakan mereka mengatakan setelah didoakan semuanya sembuh.  Semua karena Tuhan. Saya dapat karunia itu,ya baru beberapa tahun ini. Ini karunia yang diberikan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan apapun,” tandas Lily sembari menambahkan bahwa putra keduanya telah diterima kerja di sebuah perusahaan di  Amerika.

            Untuk membekali dirinya dalam melayani Tuhan, akhirnya Lily memutuskan untuk melanjutkan studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Kelapa Gading. “Awalnya saya melanjutkan studi S1 di STTLB itu dikenalin sama teman saya namanya pak Bagus. Teman saya bilang, ‘kamu sekolah saja sama Pak Poltak deh’. Terus, saya bilang malas ah. Saya sudah tua, ngapain?. Saya sekolah juga gak pintar SMEA juga oon deh pokoknya.  Akhirnya ada SPM angkatan 23 saya diajak untuk ikut. Awalnya saya susah ikuti, karena bahasa kotbahnya dalam sekali. Kayaknya saya tidak bisa dan sempat mau mundur waktu itu. Teman-teman seangkatan saya menyemangati saya.  Akhirnya saya lulus juga.  Mulai dari situlah, kemudian Pak Poltak Sibarani (Ketua STTLB) bilang, Bu Lily kuliah S1 saja.  Saya sudah tua pak. Eh, saya putuskan ikut juga. Dan ternyata banyak juga yang lebih tua dari saya. Padahal saya sempat bergumul sama Tuhan. Saya mau jadi diri sendiri saja gak mau jadi siapa-siapa. Terus Roh Kudus bilang, kamu gak sekolah saja aku berkati luar biasa, bagaimana kalau sekolah. Nah, mulai saat itulah saya terus semangat sampai saat ini,” papar Lily.

Sebagai orangtua yang sukses dalam menjalankan bisnis, Lily ingin menularkannya kepada anak-anaknya. Saat ini ia sedang mempersiapkan sebuah ruko (dijadikan sebuah café) di kawasan Sunter untuk diberikan kepada putri pertamanya, Jennifer Wong. “Ini ruko rencananya mau dibuat café untuk anak pertama saya. Rencananya, saya rindu di lantai 2 ini ada persekutuan doa. Karena Jennifer ada rencana mau menikah. Saya bilang nanti mama bukain bisnis ya. Mama kasih kamu unpan sama kail, nanti ikannya tangkap sendiri. Pokoknya, saya kasih pondasi yang kuat. Semua kembali lagi, harus berdoa. Saya hidup dan diberkati ini,  juga semua karena atas karunia Tuhan. Sekali lagi, harta semua titipan Tuhan.  Hidup mengalir saja, Tuhan mau bawa kemana. Yang jelas, kalau kita tidak bisa berbuat baik kepada orang, janganlah engkau berbuat jahat,” pungkasnya bersemangat. SM

Ketika Iman Pendeta Abraham Lewelipa Diuji Tuhan, Uang Puluhan Juta di Rekeningnya Diminta Kembali Pemiliknya

Pdt. Abraham Lewelipa berbincang serius dengan Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)

Pendeta Abraham Lewelipa tercenung. Dia berulang kali membaca SMS (Short Message Service) atau pesan pendek yang masuk di HP (handphone) bututnya yang bernomor 081247078919. Telah terkirim uang sebesar Rp 45 juta, tapi mohon maaf, uang itu harus dikirim kembali. Demikianlah pesan singkat yang dikirim dari nomor itu.

Ini dia Pantai ‘NAMANHERI SERE’ Ciptaan Tuhan, Unik mempesona batu karang, menakjubkan- mencegah Tsunami di Pulau KISAR

Saat itu, bulan April 2012, ketika Pdt Abraham sedang berjuang membangun gereja di kampungnya, GBI “Jemaat Alfa Omega” Desa Oirata (Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku). Pastinya, dia sangat membutuhkan dana. Dan, ketika dana itu masuk ke rekening BCA nomor 6850177340 atas nama Abraham Lewelipa, uang itu diminta kembali pemiliknya. “Ya, Tuhan, apakah ini sebuah ujian untuk saya?” serunya. Pdt Abraham pun menangis dan teringat peristiwa beberapa tahun sebelumnya, tepatnya tahun 2009 juga pada bulan April. Percaya atau tidak, peristiwa yang sama terjadi. Seseorang telah mengirim uang lewat nomor rekening tersebut dan diminta kembali oleh pemilik uang tersebut. Jumlahnya? Amazing, Rp 45 juta. Jadi, Pdt Abraham dua kali dikirimi uang dari dua orang pengusaha yang berbeda dan tidak saling mengenal di nomor rekening yang sama dan dengan jumlah yang sama oleh si pengirim. Mereka salah transfer uang untuk transaksi bisnis. Hermawan Lili (kontraktor di Taman Surya, Cengkareng, Jakarta Barat) dan Adi Sutomo (pengusaha di Karawaci, Tangerang, Banten) menelepon dan mengatakan salah transfer uang masing-masing sebesar Rp 45 juta, sehingga total Rp 90 juta. “Dua orang pengusaha ini minta agar saya mengembalikan uang itu. Saat itu juga, saya kembalikan kepada mereka jumlah uang tersebut Rp 90 juta secara utuh tanpa menunda waktu,” ujar Pdt Abraham Lewelipa, Gembala GBI “Alfa Omega” Desa Oirata (Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku).

Ini dia, Pantai ‘KIHAR SERE’, ciptaan Tuhan. VOC (Belanda) saat pertama kali berlabuh dengan kapal mengubah sebutan KIHAR menjadi nama untuk Pulau KISAR
Tampak dari Kejauhan. Ini dia Pulau KISAR. Pulau berbatu karang, mempesona menahan tsunami disebut YOTOWAWA DAISULI
Ishak Gideon Lewelipa (Putra Kandung Pdt. Abraham Lewelipa) mengabadikan beberapa foto pemandangan pantai di  Pulau Kisar

 I Korintus 9:27 menyatakan, Tetapi aku melatih tubuhku, dan menguasai seluruhnya supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Ibrani 13:5 menyatakan, Jangan kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena, Allah telah berfirman, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan sekali-kali tidak meninggalkan engkau. Ayub 23:10-12 menyatakan, Tuhan tahu jalan hidupku, seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

“Berdasarkan ayat-ayat firman Tuhan itulah, saya segera mengembalikan uang itu kepada pemiliknya, sebab sebagai pendeta atau hamba Tuhan, apa pun jabatan rohani yang kita sandang, karunia apa pun yang melengkapi pelayanan kita, membuat banyak mukjizat Tuhan terjadi di mana-mana dan banyak orang kagum, tetapi pada akhir hidup kita di dunia ini akan masuk ke neraka, walau pun sebagai pendeta yang mempunyai nama besar, jika tidak mentaati firman Tuhan akan binasa. Matius 7:21-23 menyatakan, Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku; Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku; Tuhan, Tuhan! bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah, Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata; Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku kamu sekalian pembuat kejahatan,” tegas Pdt Abraham Lewelipa.

Ini dia, Pantai ‘NAMA SERE’ Pintu gerbang untuk kapal laut dan perahu, berlabuh di Pulau KISAR

Kisah hidup dan pelayanan Pdt Abraham yang diurapi Tuhan begitu luar biasa dan mencengangkan ini mengundang reaksi positif dari tokoh-tokoh negeri ini. Ir Basuki Tjahaja Purnama MM alias Ahok (Gubernur DKI Jakarta ke-15 periode 19 November 2014-9 Mei 2017 dan Wakil Gubernur DKI Jakarta ke-8 periode 15 Oktober 2012-19 November 2014) meminta penjelasan tentang Pulau Kisar.

Pulau  Kisar termasuk pulau terluar Indonesia. Setidaknya terdapat 91 pulau terluar Indonesia dan salah satunya adalah Pulau Kisar ini. Pulau Kisar menjadi bagian dari wilayah Maluku Barat Daya/MBD (Provinsi Maluku) dan terletak di Selat Wetar. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari Pulau Timor Leste. Praktis, pulau ini berbatasan dengan negara Timor Leste (sebelumnya Timor Timur dan menjadi bagian wilayah Indonesia, tetapi pada 20 Mei 2002 telah menjadi wilayah dan negara tersendiri). Bahkan, penduduk pulau ini lebih dekat bepergian ke Australia daripada ke Ambon yang menjadi ibukota Provinsi Maluku. Sebuah pulau yang berada pada 8°6’10” Lintang Selatan dan 127°8’36” Bujur Timur. Sebuah pulau yang terdiri 9 desa dan terbagi menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau-pulau Terselatan dan Kecamatan Kisar Utara. Di Kecamatan Pulau-pulau Terselatan tersebut, terdapat Desa Oirata, desa kelahiran Pdt Abraham Lewelipa pada tanggal 18 April 1952. Sebuah pulau yang berbatu karang, miskin, dan merupakan daerah terpencil, terabaikan, dan tertinggal. Bahkan, Harian Kompas medio 22 Oktober 1987 menyematkan judul “Maluku Tenggara, Maluku Sengsara”

Pdt. Abraham Mendoakan (tumpang tangan) kepada Letjen TNI (Purn) Evert Erenst Mangindaan SIP, dikenal EE Mangindaan (Wakil Ketua MPR-RI)

.Letjen TNI (Purn) Evert Erenst Mangindaan SIP, dikenal EE Mangindaan (Wakil Ketua MPR-RI) menyatakan, “Pada waktu merebut Timor Timur (kini Republik Timor Leste), saya ke Pulau Kisar dengan menumpang Helikopter. Saya menyaksikan, Pulau Kisar adalah daerah yang kering dan miskin. Tetapi, jika Pdt Abraham mengembalikan uang sebesar Rp 90 juta, sementara uang yang ada di rekening beliau hanya Rp 65 ribu, adalah hal yang sangat luhur. Ini membuktikan hati seorang hamba Tuhan yang jujur dan tulus. Jangankan uang yang sudah di dalam rekening dikembalikan, uang di luar rekening pun berusaha untuk direbut. Ini seringkali terjadi di kalangan masyarakat saat ini. Kita harus belajar takut kepada Tuhan seperti yang telah dicontohkan oleh pendeta dari Desa Oirata ini.”

Pdt. Abraham menyampaikan kesaksian saat ibadah perayaan Paskah MPR/DPR/DPD-RI Tgl.18 April 2017 di lantai 2 Gedung Nusantara MPR-RI (Senayan Jakarta)
Pdt. Abraham mendoakan Dra Tri Budi Utami MSi (Bagian Risalah Rapat DPR-RI) di gedung Parlemen

Dra Tri Budi Utami MSi (Bagian Risalah Rapat DPR-RI dan mantan Kepala Sekretariat Komisi III DPR-RI) menyatakan, rohnya merasa terbakar saat pertama kali bertemu dan mendengar kesaksian Pdt Abraham Lewelipa di Persekutuan Doa Oikumene (PDO) MPR/DPR/DPD-RI di Ruang Lantai 2 Gedung Nusantara MPR-RI (Senayan, Jakarta) pada tanggal 18 April 2017. “Saya teringat firman Tuhan, Janganlah kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala, dan layanilah Tuhan (Roma 12:1). Rasa kagum terhadap perjuangan dan kegigihan beliau dalam melayani, sehingga pada waktu hadir dalam Rapat Panitia Natal 2017 ternyata ada acara Bakti Sosial Diakonia (bantuan dana) untuk memberikan bantuan kepada beberapa yayasan, panti asuhan, dan pimpinan gereja di daerah, langsung saya teringat kepada Pdt Abraham. Atas pimpinan Roh Kudus, saya mengusulkan agar GBI Alfa Omega (Oirata, Kisar) sebagai penerima bantuan,” Tri Budi Utami.

Pdt. Abraham bersama Yohannes OI Tahapari, SH, MSi (Kepala Biro Pemberitaan Parlemen/DPR-RI)

Yohannes OI Tahapari SH MSi (Kepala Biro Pemberitaan Parlemen/DPR-RI yang juga Ketua PDO MPR/DPR/DPD-RI mengapresiasi dengan menelepon secara pribadi Pendeta Abraham menjelang Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI yang dilaksanakan pada Rabu, 24 Januari 2018 di Ruang Pustaloka (Gedung Nusantara IV DPR RI), Jalan Gatot Subroto (Senayan, Jakarta) untuk hadir menerima bantuan dana sebesar Rp 15 juta dan diserahkan oleh Aryo PS Djojohadikusumo (Anggota DPR RI periode 1 Oktober 2014-30 September 2019) dari Fraksi Partai Gerindra sebagai Kepala Seksi Dana.

Pdt. Abraham mendoakan Itet Tridjajati Sumarijanto MBA (Anggota DPR RI F-PDIP periode 1 Oktober 2009-30 September 2019)

Itet Tridjajati Sumarijanto MBA (Anggota DPR RI periode 1 Oktober 2009-30 September 2019) dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP)) meminta khusus untuk didoakan terkait tugas-tugas dan pekerjaannya di Dewan seusai mengikuti ibadah di PDO MPR DPR DPD-RI.

Pdt. Abraham bersama Hermawan Lili (Pengusaha-pelaku salah transfer)

Hermawan Lili (pelaku salah transfer uang) merasa takjub atas peristiwa tersebut. “Jika saya tidak salah kirim uang sebesar Rp 45 juta dan Bapak Andi Sutomo tidak juga salah kirim uang dalam jumlah sama yaitu Rp 45 juta, sehingga total menjadi Rp 90 juta, sementara saat itu uang Pdt Abraham dalam rekening tabungan BCA hanya Rp 65 ribu, dan bagaimana saat saya minta untuk dikembalikan, dan jika saat itu Bapak Pendeta tidak mengembalikannya, jalan cerita menjadi sangat berbeda, mungkin saja terhenti sejarah pelayanan bapak di Desa Oirata (Kisar). Nilai sebuah kejujuran dan ketulusan hati bapak pendeta mengembalikan uang sebesar Rp 90 juta itu turut mengangkat Bapak menjadi kesaksian hidup, memberkati banyak orang, di antara bangsa-bangsa.

Rekening Pak Pendeta di BCA nomor: 6850177340 a/n ABRAHAM LEWELIPA adalah rekening mukjizat yang turut menghantar sejarah pelayanan Bapak di Pulau Kisar ke permukaan. Kejujuran dan ketulusan hati bapak dalam pelayanan yang suci dan mulia mendorong para donatur umat Tuhan membantu rekening mukjizat BCA nomor: 6850177340 a/n ABRAHAM LEWELIPA itu, termasuk saya pun demikian, sehingga saya komitmen mendukung pelayanan bapak Pendeta setiap bulan untuk kepentingan ladang Tuhan di daerah terpencil seperti Pulau Kisar bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus Sumber kemakmuran dan Kepala Gereja,” kata Hermawan Lili. 

Sebuah pengakuan dan pengalaman religi yang diskenariokan Tuhan melalui dua pribadi umat Tuhan melakukan salah transfer terhadap seorang hamba-Nya yang belum pernah menyaksikan limpahan uang puluhan juta rupiah, sementara dia sendiri membutuhkan dana pembangunan gereja dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Kiranya mukjizat Tuhan menyediakan yang terbaik bagi hamba-Nya di sepanjang waktu.(EPM)

Sri Wulan Berliana: Dulu Anak Perjanjian Gunung Semeru, Kini Jadi Anak Perjanjian Tuhan

Nama lengkapnya adalah Sri Wulan Berliana. Perempuan berdarah campuran Jawa-Batak ini sebelum  Tuhan terpanggil pelayanan okultisme memiliki kisah yang unik. Wulan, demikian kerap disapa, semasa kecil dirinya tidak menyadari bahwa memiliki kelebihan khusus (indera keenam). Misalnya, ketika menjemur padi di rumahnya, Wulan kecil sering melemparkan batu kecil mengusir ayam atau bebek. Herannya setiap kali melempar selalu tepat  mengenai kepala bebek dan ayam sehingga mati. Kemampuan itu bahkan sulit dikuasai anak sebayanya.

Kata Wulan, saking sering melempar dan mengenai sasaran membuat tetangganya protes keras dan memintanya jangan melempar ayam peliharaan. “Saya juga heran ya, kan cuman iseng-iseng melempar tapi kok bisa mati,” tutur Wulan mengenang masa kecilnya.

Pengalaman lain, beranjak remaja suatu kejadian membekas terjadi yang membuatnya juga ketakutan. Suatu saat dirinya berkaca di depan cermin sambil menari-nari. Tangannya tak sengaja mengusap cermin dan seketika cermin langsung retak dan terbelah. Dirinya pun kaget bukan main. Saat itu juga, sang ayah memberitahu ibunya bahwa Wulan berbeda dari anak lainnya. “Ayah saya akhirnya membuka rahasia. Ketika masih muda beliau pernah berguru ke Gunung Semeru dan waktu itu telah berjanji akan mempersembahkan anak keempat perempuannya. Maksudnya saya adalah anak perjanjian yang diserahkan Ayah saya ke penguasa Gunung Semeru namun pada perjalanan kemudian saya dipanggil Tuhan menjadi Anak Perjanjian denganNya yang dipilih melayani kuasa-kuasa kegelapan. Walau setiap melayani kerap diserang balik penguasa gelap tapi Tuhan Yesus selalu memampukan saya dan tim doa,” tutur ibu dua anak ini menceritakan bahwa ayahnya kejawen yang memiliki keris yang tiap jumat diberi sesajen.

Keanehan muncul yang lain adalah ketika Wulan beranjak dewasa. Saat itu ia kuliah di Seni Musik IKIP Medan. Sepulang dari Medan dirinya mengalami kerasukan. Tampaknya perjanjian dengan Semeru mulai terbukti. Kerasukan itu berlangsung terus dan membuatnya dirinya yang ditumpangi roh kerap ingin melakukan bunuh diri. “Sepertinya air mata ibu sudah tumpah seember untuk Wulan,” tuturnya menirukan Ibunya (masih hidup sampai sekarang) yang mengalami penderitaan berat ketika mengalami kerasukan. Beruntung Kakaknya yang sama-sama kuliah di Medan memintanya untuk didoakan hamba Tuhan. Ketika jiwa dimenangkan, Wulan akhirnya banting jurusan dengan memutuskan kuliah di Institut Injil Indonesia (I3) Malang, Jawa Timur. Di kampus terkenal ini, Wulan belajar hungga kemudian menggeluti pelayanan di bidang okultisme.

Terjun Pelayanan Pelepasan Okultisme

Selepas kuliah, istri tercinta Agus Budiharjo ini terpanggil untuk melayani orang-orang yang terjerat dalam okultisme. Ia tak kenal lelah dalam melayani Tuhan. Bahkan, pelayanan yang digeluti, sudah berjalan selama bertahun-tahun bidang okultisme—dengan ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang mengalami pelepasan dan ada banyak yang menjadi “bertobat”. Meski namanya tidak dikenal khayalak umum, seperti hamba Tuhan yang lain yang pelayanan sejenis, tetapi perempuan berkulit putih ini selalu tampak ramah. Wajahnya selalu mencerminkan sikap  rendah hati dan tidak ada keinginan memegahkan diri dalam pelayanannya itu. Baginya, apapun terkait tugas pelayanannya maka tujuannya memuliakan dan memegahkan Tuhan. Karena itu dirinya setia pelayanan membebaskan orang-orang yang terikat dan terbelenggu dengan praktik okultisme. “Semua pelayanan ini dalam rangka memuliakan Tuhan. Tujuan pelayanan ini adalah menyelamatkan jiwa-jiwa yang terbelenggu dari ikatan setan, iblis dan berhala yang kita kenal dalam dunia okultisme,” jelas perempuan kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara ini.

Menurut Wulan, dalam setiap pelayannnya, tak ingin tampil sendiri. Ia selalu bersama-sama dengan tim doanya. “Mereka semua penting karena tanpa tim pendoa hebat ini,  saya juga tak bisa melakukan pelepasan dan melawan okultisme. Contohnya, pernah di pabrik (milik Wawan)  di Solo ada roh halus yang selalu mengganggu pekerjanya. Di sana dilakukan pengusiran setelah ibadah penyembahan. Puji Tuhan hingga kini tidak pernah terjadi lagi. Contoh lain, di Bandung ada isteri seorang dokter yang selalu pusing berat dan sudah dibawa berobat ke Jakarta dan Singapura tetapi tak pernah terdeteksi apa sakitnya. Saya bersama Tim diminta melayani ke sana dan kami menemukan ada roh jahat yang mendiami sebuah lukisan di rumahnya. Sejak lukisan yang  berharga 500 juta itu dibakar  dan dilayani sampai saat ini isteri dokter sehat-sehat saja,” tutur Wanita yang telah melayani ke berbagai daerah di Indonesia ini. hingga luar negeri seperti:  Serawak, Malaysia dan Philipina.

Bagi Wulan, sebelum melakukan pelayanan, ia kerap mengawali dengan menaikkan puji-pujian penyembahan dan diiringi doa. Meminta Tuhan Yesus hadir di sana. Kemudian mengusir kuasa gelap dengan berulang-ulang menyebut dengan kuasa darah Yesus maka iblis atau setan diperintahkan meninggalkan tubuh atau tempat yang ditumpanginya. SM/sumber tabloid victorious edisi 834

Kesaksian hidup yang “dramatis” Pengacara Jhon SE Panggabean.,SH.,MH: NYARIS MATI GARA-GARA ILMU PERDUKUNAN; BERTOBAT & DISEMBUHKAN TUHAN DARI SEGALA SAKIT PENYAKIT

Pengacara Jhon SE Panggabean.,SH.,MH  sebelum sakit

Pria bernama lengkap Jhon SE Panggabean., SH.,.,MH ini mengaku, sejak muda, sudah memiliki “ilmu kesaktian” untuk menjaga kekebalan tubuhnya, terjerat okultisme yang berkepanjangan hingga nyaris menghantarkannya ke dalam lembah kematian. Deretan kisah dramatis dan menegangkan, seperti kecelakaan maut, hingga sakit penyakit pun pernah dialami oleh anak dari pasangan Alm. St. P Panggabean dan ibu A Aritonang ini. Namun, ketika dirinya bertobat sungguh-sungguh, dilepaskan dari “kuasa kegelapan” serta  menyerahkan hidupnya kepadaNya, Tuhan pun menyembuhkan  secara luar biasa. Kini, Pria Kelahiran kota Tarutung 13 September 1964, ini diberkati oleh Tuhan melalui profesinya sebagai seorang pengacara (Lawyer). Bahkan, suami dari Hartaty Tiurma Pakpahan, yang kini dikarunia 3 orang anak bernama: Samuel Panggabean.,S.Th., Clara Panggabean.,SH, dan Gracia Panggabean.,SH ini rindu menjadi suratan terbuka, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Simak kesaksiannya yang dituliskan dengan gaya bertutur berikut ini.
———————————————————————————————————-
“Dalam perjalanan hidup saya, sejak SMP sudah hidup dalam okultisme (kuasa kegelapan) yaitu memegang jimat dan hidup tidak teratur yaitu hidup malam begadang, dan minum-minuman keras. Sehingga saya harus berpindah sekolah dari Tarutung ke Barus sampai ke Medan. Awalnya jimat yang saya pegang dari Om saya katanya untuk menjaga diri sebagai pertahanan sewaktu saya pindah ke kota Barus. Saya tidak hanya memakai 1 (satu) dukun bahkan berganti-ganti. Singkat ceritanya setelah lulus SMA tahun 1983 saya ikut test Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) di Universitas Sumatera Utara (USU) pilihan musikologi dan hukum, namun saya tidak lulus karena saya tidak belajar. Akhirnya kakak saya yang sudah lebih dahulu berada di kota Jakarta  menyuruh saya untuk ke Jakarta dan saya test di Universitas Kristen Indonesia Fakultas Hukum dan bersyukur lulus pada gelombang ke dua.
Sejak awal masuk kuliah saya mengajak kawan-kawan untuk minum-minuman keras, tetapi  saat itu seorang teman kuliah yang bernama Perry B. Pada yang orangtuanya tinggal di Jakarta tapi dia justru mengajak saya untuk bersama-sama kos satu kamar. Dia orang yang pintar di sekolah serta guru sekolah minggu, dia saat itu selalu belajar sedangkan saya selalu minum-minum dan pulang larut malam ke tempat kos. Saya pulang dia saya temui masih belajar dan dia selalu mengajak saya untuk berdiskusi tapi bagaimana aku bisa diskusi karena saya tidak belajar sementara dia menguasai pelajaran sehingga kalau diajak diskusi saya diam saja, tidak bisa. Suatu ketika karena malu, saya merenung dia selalu belajar dan memahami pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan dosen di kampus, sehingga saat itu saya bertekad untuk belajar walaupun kehidupan masih belum teratur dan saya coba terus belajar dan ternyata saya bisa mengikuti apa yang diajarkan dosen akhirnya saat ujian saya bersama dia selalu lulus di yudisium pertama. Kemudian saya baru menyadari ternyata pergaulan yang baik akan membuat kita baik, hal ini sesuai dengan Firman Tuhan.
Setelah kami tamat kuliah Sarjana Hukum (SH) tahun 1988 kawan saya Perry bekerja di Kementerian Luar Negeri dan dia bertugas di luar negeri. Saat tamat saya berumur 24 tahun dimana 1 (satu) tahun kemudian saya mendapatkan izin pengacara dan mulai menangani perkara bahkan sudah mulai banyak yang saya tangani dan saat itu rasanya gampang dapat uang. Uang tersebut saya hambur-hamburkan, hidup di kehidupan malam di bar dan jimat tetap saya pegang.Tetapi suatu ketika saya merasakan kok hidup saya hampa sementara adik saya yang bernama Juni yang tinggal bersama saya, saya lihat selalu bersukacita, kalau saya pulang dari café/bar jam 5 pagi dia mau berangkat ke gereja dan saya omelin “mau kemana sih pagi-pagi?” dia berkata ke gereja bang dan dia selalu ceria. Suatu ketika ada seorang pendeta yang datang kerumah mencari adik saya Juni biasanya kalau pendeta tersebut datang saya tidak suka dan saya pergi, namun ketika itu adik saya karena tidak ada dirumah pendeta tersebut menyatakan “bisa masuk sebentar?” saat itu saya persilahkan. Kemudian dia menyatakan ke saya; “kalau Pak Panggabean mau bahagia buanglah jimat yang dipegang amang (“Bapak”)”. Saat itu, saya hanya diam saja kemudian dia pamit untuk pulang.
Akhirnya saya mulai merasakan kok hidup saya hampa padahal uang ada. Saya mulai bosan dan tidak lagi menikmati hidup yang minum-minum dan ingin seperti adik saya Juni yang selalu ceria dan sukacita. Suatu ketika waktu pulang dari bar jam 1 pagi saya menyatakan dalam hati kepada Tuhan “kalau memang Engkau ada tolong saya ingin seperti adik saya Juni, saya mau ke gereja dan berikanlah saya jodoh,” lalu saya ketiduran, jam 4.30 saya terbangun dan saya berangkat ke gereja  (Gereja Pdt. Jusuf Roni) yang saat itu ada di UKI. Selama di gereja saya merasakan satu sisi ada sukacita dan di sisi lain ada penolakan karena ilmu yang saya pegang tersebut.
Sewaktu saya pulang gereja disitu saya bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian menjadi istri saya. Namun, saat itu hidup saya masih tetap merasa hampa dan selalu teringat kepada perkataan Pendeta yang menyuruh saya untuk membuang ilmu saya. Kalimat itu selalu tergiang-giang di pikiran saya terus menerus akhirnya saya datangi pendeta tersebut dan kemudian jimat yang saya pegang dibakar. Setelah dibuang ilmu tersebut saya merasa lega, namun dikemudian hari perasaan saya justru terasa aneh karena tiba-tiba bisa lemas dan seperti mau terjatuh. Memang setelah ilmu saya buang saya belum sepenuhnya hidup didalam Tuhan, sehingga kuasa kegelapan justru menghantam saya sampai bertahun-tahun sakit (5 tahun) dan hampir semua rumah sakit di Jakarta sudah saya jalani. Bahkan saat itu, saya berpikir jangan-jangan di otak saya ada yang tidak benar (penyakit) sehingga saya scanning otak di RS Pondok Indah ternyata hasilnya tidak ada penyakit.

Foto Jhon ketika sakit, berat badannya turun drastis

Setelah menikah, tubuhnya sering sakit-sakitan
Akhirnya tahun 1994 kami putuskan untuk married dan sewaktu pemberkatan nikah di gereja di Medan, tiba-tiba tubuh saya merasa lemas hampir mau jatuh, sayapun tidak bisa bergerak, dalam pikiran saya, saya mati dipelaminan dan akan masuk berita di koran SIB. Namun saat itu, saya melawan perasaan dengan menyebut Nama Tuhan Yesus dan menyatakan “Tuhan Yesus tolong saya”, saya katakan berulang-ulang lama kelamaan saya ada kekuatan dan untung khotbah Pendeta panjang dan saat disuruh berdiri saya sudah ada kekuatan. Saat itulah saya merasakan bahwa didalam Nama Tuhan Yesus ada kekuatan dan kuasa.
Setelah menikah dan kembali ke Jakarta, ternyata bulan pertama sampai bulan ketiga saya sering tiba-tiba merasa lemas dan kaki saya selalu dingin dan muka saya pucat dan aneh sehingga berbulan-bulan tidak masuk kantor. Saya rasakan sebelum perasaan lemas, ada sesuatu yang mendatangi saya dan membuat saya sama sekali tidak ada tenaga dan seperti mau copot hidup saya. Suatu ketika hal tersebut sangat kencang saya rasakan dimana sesuatu mau mendatangi saya, dan saya lemas, saat itu saya berkata kepada istri saya tolong doakan saya dan ambil alkitab. Saya bersama istri saya berdoa terus dan akhirnya diberi Tuhan kekuatan dan perasaan yang lemas tersebut hilang.
Keesokan harinya, sekalipun saya sudah bosan kerumah sakit saya memutuskan untuk memeriksa secara detail keadaan tubuh dan jiwa saya ke rumah sakit. Saya ditangani oleh lebih  5 dokter ahli, terakhir neurology dan psikiater ternyata semua menyatakan saya tidak ada penyakit bahkan dokter neurology menyatakan “Panggabean kalau tidak sakit jangan kerumah sakit”. Saya dalam kebingungan saat itu karena secara medis tidak ada didapat penyakit tetapi saya merasakan sakit, maka saya dan istri  sepakat untuk selalu berdoa kepada Tuhan Yesus karena itu yang bisa memberi kekuatan dan menghilangkan perasaan-perasaan yang lemas tersebut. Suatu malam sewaktu berdoa istri saya merasakan sesuatu yang tidak enak dan menyatakan; “Pa, kalau berdoa jangan lama-lama”. Besoknya, pada saat saya pulang dari kerja ternyata istri saya yang sedang hamil 4 bulan rupanya paginya terjatuh dan seharian tidak bisa bergerak kemudian saya membawanya ke rumah sakit. Saat diperiksa, dokter kandungan menyatakan ari-ari dalam kandungan istri saya sudah mau putus dan diopname. Saat itu saya katakan dalam hati saya “Tuhan kok sampai seperti ini, saya sudah menderita beberapa tahun sakit dan sekarang istri dan anak saya di kandungan menderita juga”.

Foto Jhon setelah sembuh

Bertobat & Dilepaskan Dari Kuasa Kegelapan
Keesokan harinya saya menjumpai pendeta yang telah membakar ilmu saya. Namun, pendeta tersebut tidak ada dirumahnya tetapi yang ada istri dari pendeta yang juga ternyata seorang pendeta. Dia yang melayani dan mendoakan saya, setelah saya kasih tau keadaan saya, ia membacakan Markus 16:16-17 “Siapa yang percaya dan di baptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi Nama-Ku,…” Saat itu ibu pendeta tersebut menyatakan percaya saja dan justru Pak Panggabean yang akan mengusir setan. Saya imani isi Firman Tuhan itu dan saya mau hidup baru. Setelah saya kembali kerumah sakit, saya mengajak istri saya berdoa dan baca alkitab tiba-tiba istri saya seperti mengaum, berteriak dan secara spontan saya katakan “siapa kau?” karena saya lihat muka istri saya sudah hitam, kemudian saya menelepon mertua saya yang tinggalnya tidak jauh dari rumah sakit untuk datang dan saya kasih tahu keadaannya saat itu. Kemudian mertua saya datang bersama pendeta yang lain. Sewaktu pendeta tersebut bertanya kepada istri saya “kau kenalnya ini?” menunjuk ke saya, istri saya bilang “tidak” saat itu Pendeta bernama Johnson menyatakan kepada saya “Pak Panggabean agar bertobat dan kita usir kuasa kegelapan yang ada pada istrimu”. Kemudian didoakan dan tidak begitu lama istri saya sadar. Karena hari itu adalah hari minggu, maka setelah mertua saya dan pendeta pulang saya ke gereja kebaktian, pulang dari kebaktian ke rumah sakit ternyata saya jumpai istri saya masih kesurupan lagi. Saat itu saya pergi ke ibu pendeta yang pernah mendoakan saya dan besoknya pendeta tersebut dan timnya datang ke rumah sakit untuk berdoa, pada saat lagu pujian dinyanyikan, istri saya berteriak-teriak kemudian keluar kalimat dari istri saya menyatakan “Jhon, kumatikan kau besok”, Pendeta menjawab dia sudah anak Tuhan dan tidak akan mati, di dalam hati saya, berarti selama ini kuasa kegelapan/roh jahat yang menganggu saya dan yang membuat saya sakit sehingga saat itu obat yang ada pada saya, saya buang dan menyatakan kepada istri saya yang sedang kerasukan bahwa saya anak Tuhan Yesus saya mengusir engkau. Saat lagi berdoa tersebut, ternyata rombongan saudara saya yang satu perguruan dengan saya datang dan menyatakan pesan dari Ompung (dukun saya) agar saya kembali karena didalam tubuh saya dan istri saya tidak ada penyakit hanya kembali saja disuruh untuk mengikutinya (Ompung/Guru). Saat itu saya katakan saya tidak mau, apapun yang terjadi saya akan tetap taat kepada Tuhan Yesus. Tiba-tiba salah seorang dari mereka yang datang langsung mengurut dan memijat perut istri saya yang sedang hamil dan yang sudah mau putus ari-ari kandungannya. Saya marah besar kepada yang memijat perut istri saya dan saya ancam “kalau ada apa-apa atas janin istri saya, saya tuntut kalian” sehingga mereka pulang dengan kecewa. Pendeta yang berdoa untuk istri saya pada saat itu hanya menyatakan “mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya jadi tidak perlu marah dan berdoa saja”. Saat itu saya seperti putus asa mengingat perut istri saya yang dipijat, dan malam harinya saya mendatangi gereja pendeta tersebut lagi. Dalam keadaan sangat penat saya menangis dan menyatakan “Tuhan, tolong saya” dan saat itu saya ketiduran di gereja tersebut.
Keesokan pagi harinya saya terbangun dan menangis minta tolong kepada Tuhan. Pendeta tersebut menyatakan tidak usah takut, istrimu akan sembuh dan anak dalam kandungannya akan selamat dan teruslah berdoa. Setelah kembali ke rumah sakit bertemu dengan istri saya, istri saya mengatakan “darimana pa?” dan saya peluk dia dan kami berdua berdoa terus. Dan setelah berjam-jam berdoa dan menyanyikan lagu-lagu pujian tiba-tiba istri saya merasakan ada yang loncat dari perutnya suatu hal yang hitam dirasakan keluar dan dalam pandangannya ada sesuatu yang mengintip untuk masuk lagi, tetapi istri saya mengusirnya didalam Nama Tuhan Yesus dan saat itu istri saya mengalami kesembuhan. Pada saat itu saya tetap berdoa dan mengangkat puji-pujian, tiba-tiba saya merasakan seperti minyak mengalir dari ujung kepala turun ke seluruh tubuh saya sampai ujung kaki saya dan saya merasakan kesembuhan total dan perasaan saya sukacita yang sudah beberapa tahun tidak pernah saya rasakan. Betapa bahagiannya kami pada saat itu dan setelah pulang kerumah setiap hari kami selalu berdoa untuk kandungan istri saya dan ternyata mujizat terjadi lagi 4 (empat) bulan kemudian anak saya yang sudah mau putus ari-arinya lahir normal tanpa cacat sedikit pun. Tuhan itu sangat baik, dokter kandungannya kaget karena ari-ari dalam kandungan istri saya tidak jadi putus bahkan lahir normal dan dokternya menyatakan ini sungguh luar biasa. Puji Tuhan anak saya itu saat ini sudah jadi hamba Tuhan (Pendeta).

Membuka Kantor Advokat & Melayani Di YPIAI
Sekitar 6 bulan kemudian (tahun 1995), saya membuka Kantor Advokat sendiri dengan tujuan untuk membantu orang yang tidak mampu agar bisa ikut melayani dalam persekutuan yang saat itu ada Yayasan Persekutuan Injil Advokat Indonesia (YPIAI). Saya selalu bersaksi tentang kebaikan Tuhan dimana-mana termasuk pelayanan di penjara dan saya menikmati hidup bahagia, sekalipun secara ekonomi habis-habisan dan yang tadinya naik mobil menjadi jalan kaki, tetapi saya setiap hari bersukacita. Sekalipun uang tidak ada saya selalu yakin kepada Tuhan yang akan mencukupkan kebutuhan saya. Bahkan pernah waktu kebaktian minggu uang saya tinggal Rp.6.000, selesai main musik saya masukkan ke dalam kantong kolekte uang tersebut padahal saya bersama istri dan anak saya belum makan siang tetapi uang tersebut saya berikan semua yang berarti uang saya sama sekali tidak ada lagi. Ternyata Tuhan setia menolong asal kita setia kepada Dia, dimana saya waktu itu keluar dari gedung gereja dan menyatakan “Tuhan, jangankan untuk ongkos pulang uang untuk makan siang saja sudah tidak ada”. Dan beberapa menit kemudian saya masuk lagi ke gereja dan ternyata ada seorang ibu mendatangi saya mengatakan “Pak Panggabean, hati saya digerakkan Tuhan untuk memberikan berkat kepada bapak” dan saat itu di kasih uang Rp.400.000,00 Begitulah Tuhan selalu memberikan mujizat keuangan kepada saya.
Kami jalani hidup dengan mengandalkan Tuhan, anak kedua lahir Clara Panggabean berjalan dengan baik kemudian anak ketiga Gracia Panggabean, setelah berumur 3,5 tahun sering main sendiri kalau saya panggil sering seperti tidak mendengar kecuali mulut saya dilihat baru direspon. Kami curiga, kami bawa ke dokter di pukesmas untuk konsultasi ternyata dokter menyatakan pendengarannya terganggu tapi karena peralatan di puskesmas tidak lengkap maka kami disuruh ke RS.Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kemudian di RS.Cipto anak saya diperiksa secara detail ternyata kesimpulan dokter gendang telinga anak saya rusak tidak bisa mendengar dan kalaupun bisa harus dibantu dengan memakai alat pendengar agar bisa mendengar. Pada saat mendengar keterangan dokter tersebut, saya dan istri saya sepakat untuk selalu mendoakan anak kami dan kami menemui seorang Pendeta Pak Silalahi yang pernah berkhotbah tentang mujizat kesembuhan, kami jumpai pendeta tersebut dan kami disuruh agar tetap yakin dan percaya bahwa telinga anak kami akan normal. Pada saat kami berdoa dengan Pendeta tersebut minta pertolongan kepada Tuhan, beberapa saat kemudian setelah selesai berdoa tiba-tiba anak kami Gracia berkata, “Pa, aku dengar”. Mulai saat itu anak saya sembuh telinganya mendengar secara nyaring dan sampai saat ini pendengaran anak kami Gracia sempurna tidak pernah ada masalah. Luar Biasa Tuhan itu memberikan kesembuhan kepada anak kami.
Tuhan itu sangat baik, saya diangkat, dari kantor kecil satu ruangan ke kantor yang besar bahkan pernah ada seseorang memberikan modal miliaran rupiah kepada saya untuk membuat majalah hukum. Saat itu saya selalu mengandalkan Tuhan bukan mengandalkan manusia atau kekuatan saya. Kemudian setelah mulai berkembang dari segi profesi dan keadaan ekonomi semakin membaik, yang tadinya saya melayani di penjara dan dimana-mana selalu bersaksi, mulai saya sibuk berorganisasi, sibuk dalam pekerjaan dan mulai lupa untuk melayani dan bahkan meninggalkan pelayanan. Dengan fasilitas yang ada, justru hidup saya hampir kembali ke kehidupan lama lagi sering begadang termasuk menjadi produser merekam-rekam lagu-lagu sekuler serta menghamburkan uang sementara pelayanan juga sudah tidak lagi. Ternyata Tuhan yang mengasihi kita tidak suka anak-anaknya lari dari Dia.

Kondisi Mobil yang dikendarai Jhon saat kecelakaan di tol (2016)

Selamat dari kecelakaan maut di Tol & Mujizat kesembuhan dari penyakit lupus
Beberapa lama kemudian mulai perasaan hampa datang lagi menghampiri saya dan saya mulai mengalami sakit yaitu awalnya sakit biasa, sakit asam urat bengkak susah berjalan dan kerumah sakit di opname. Saya tidak bisa makan obat karena ternyata alergi obat, karena memang sudah lebih 15 tahun tidak pernah memakan obat. Ternyata karena penyakit asam urat saya saat itu sembuh dengan sendirinya kurang lebih 5 hari. Setelah sembuh saya masih hidup dengan pola makan yang tidak benar yaitu sering makan malam dan begadang dan saya sangat gemuk. Kemudian kambuh lagi sakit asam urat saya dan kembali lagi ke rumah sakit karena kumat.
Karena tidak ada obat yang cocok (alergi), maka atas saran teman, saya makan jamu ternyata jamu tersebut BPOMnya palsu mengandung doping yang kemudian dilarang beredar, sehingga saya berhenti mengkonsumsinya. Kemudian saya sakit kembali dan masuk ke rumah sakit UKI lagi dan kemudian dirujuk kerumah sakit lain yang ada seorang professor ahli di bidang asam urat. Saya diberikan obat yang cocok (tidak alergi) namun ternyata membuat lambung saya terkikis dan saya muntah-muntah selama berbulan-bulan. Pendek cerita saya sakit terus-menerus sampai 10 kali masuk rumah sakit dan berat badan saya turun sampai 29 kg hingga berat badan saya hanya tinggal 47 kg. Keadaan saya semakin parah sampai saya tidak bisa berjalan terbaring ditempat tidur meriang terus menerus, hasil lab menyatakan tulang di tubuh saya juga keropos (osteoporosis) tidak bisa jalan atau berdiri ( kurang lebih 1 bulan pakai kursi roda), mata saya kabur tidak bisa melihat dalam jarak 10 meter dan saya juga disebut mengidap penyakit gejala lupus. Saya sangat menderita sekali keluar masuk rumah sakit sampai ke RS.Pantai Hospital Penang. Saat itu dalam hati dan pikiran saya selalu ada suara yang mengatakan bahwa saya akan mati dan masuk neraka karena pengampunan sudah tidak ada bagi saya. Saat itu saya terus berdoa meminta ampun kepada Tuhan dan mengatakan “Tuhan tolong jangan ambil nyawa saya, kalau Tuhan berkenan panjangkanlah umur saya dan beri kesempatan kepada saya lagi untuk berubah” dan suatu ketika saya berdoa “Tuhan, kalaupun Tuhan mengambil saya jangan masuk neraka”. Ternyata perasaan mau mati dan masuk neraka adalah tuduhan iblis kepada saya saat itu karena saya memberikan celah dimana kuasa kegelapan sudah di buang dari saya dan saya sudah pernah disembuhkan tetapi saya tidak setia di dalam Tuhan.
Saya bersyukur karena istri dan anak-anak saya selalu setia untuk mendampingi dan terus mendoakan saya selama sakit. Selama sakit saya selalu berdoa dan membaca firman serta mendengar lagu-lagu rohani dan khotbah di youtube melalui handphone itulah yang menguatkan saya. Kemudian waktu di periksa laboratorium kembali, dokter menyatakan penyakit lupus (autoimun) saya telah hilang, tetapi beberapa bulan berikutnya harus dicek lagi, setelah di cek ternyata masih ada lagi begitulah berulang-ulang. Karena sudah merasa capek berobat dan makan obat yang bermacam-macam akhirnya saya memutuskan menyatakan kepada istri saya agar terus berdoa dan berserah kepada Tuhan saja dan tidak usah lagi makan obat dan memohon kepada Tuhan agar menyembuhkan secara total. Ternyata Tuhan sungguh amat baik, saat ini saya sudah sembuh dan telah beraktivitas kembali. Mujizat yang diberikan Tuhan kepada saya sebelum mengalami sakit yang panjang tersebut, yang merupakan peringatan kepada saya sebelumnya sudah ada yakni kecelakaan mobil yang saya alami di tol (Juli 2016), dimana mobil yang saya kemudikan  dengan kecepatan tinggi pecah ban dan berputar-putar, saya berteriak “Tuhan Yesus, tolong saya”. Saat itu Tuhan memberikan mujizat kepada saya dimana tubuh saya berputar mengikuti perputaran mobil tersebut hingga mobil tersebut menabrak pembatas jalan dan sampai 4 (empat) separator tol putus serta mobil saya rusak berat, namun saya sama sekali tidak ada terbentur atau luka/lecet.

foto terkini Jhon: Semakin sehat!

    Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan yang sangat baik karena melalui peristiwa yang panjang ini saya memahami bahwa apapun yang saya alami beberapa waktu lalu kurang lebih 2 (dua) tahun sakit dibaliknya ternyata ada suatu kebaikan Tuhan yakni agar saya kembali selalu didalam Tuhan. Tuhan telah memberikan mujizat kepada saya berkali-kali dan saya mengatakan kepada istri dan anak-anak untuk selalu mendoakan saya. Sekalipun saya sepertinya harus memulai lagi dari awal sebagai seorang lawyer saya tetap bersyukur. Salah satu yang saya syukuri disaat saya sakit dan hampir tidak mampu mengelola kantor saat itu, ternyata Tuhan masih memberikan sesuatu yang membahagiakan yakni ketiga anak saya Samuel Panggabean, S.Th., Clara Panggabean,S.H., dan Gracia Panggabean,S.H telah menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan baik.

Pose bersama: Jhon bersama istri merasa bahagia ketika semua anak-anaknya lmenjadi sarjana

    Perjuangan hidup kita masih tetap berlangsung, tetapi saya yakin Tuhan akan selalu menolong kita sepanjang kita mau setia dan datang kepadaNya. Dengan pengalaman hidup saya ini, saya menyarankan kepada saudara-saudaraku yang mengalami penderitaan apapun agar datang dan berdoa kepada Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluar, yang susah akan dihibur, yang lemah dikuatkan, yang sakit akan disembuhkan, yang kekurangan akan dicukupkan. Satu hal lagi yang sangat penting berdasarkan pengalaman saya ini bagi saudara-saudaraku yang sudah bertobat dan telah diberikan berkat oleh Tuhan janganlah sekali-kali kembali ke kehidupan yang lama, sekalipun telah sibuk tetaplah memberikan waktu yang terbaik kepada Tuhan dalam pelayanan”.*** SM

STEPHEN CURRY : “AKU BISA SEMUA HAL KARENA YESUS”

Nama lengkapnya adalah Wardell Stephen Curry. Ia adalah seorang pemain basket professional asal Amerika untuk Golden State Warriors dari National Basketball Association (NBA). Pemuda kelahiran  Akron, Ohio, 14 Maret 1988 (dibesarkan di Charlotte, North Carolina) ini adalah seorang penganut Kristen yang taat. Ia senantiasa memuliakan nama Tuhan setelah Warriors meraih kemenangan bersejarah kejuaraan NBA.

Pada 16 Juni, 2015 lalu, tim basket ball “Warriors” dari Golden State, California, memenangkan Juara NBA tahun 2015, setelah mengalahkan tim “Cavaliers” dari Cleveland, Ohio. Stephen Curry yang dipercaya sebagai kapten tim memenangkan memimpin Warriors untuk kejuaraan pertama mereka sejak 1975.

Stephen Curry sering mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya setiap kali dia berhasil membuat tiga poin—melempar bola masuk dalam jaring basket. Menurutnya, itu adalah sebuah caranya untuk mengisyaratkan kasih dan imannya terhadap Yesus Kristus. “Saya berusaha menggunakan setiap pertandingan sebagai kesempatan untuk bersaksi. Saya mencoba membuat sesuatu isyarat ringkas setiap kali membuat gol basket sebagai cara untuk mengirim pesan itu dengan cara-cara kecil yang saya dapat. Setiap pertandingan adalah kesempatan berada di atas pentas yang besar dan untuk menjadi saksi bagi Kristus. Apabila saya  memasuki gelanggang, orang seharusnya dapat tahu siapakah yang saya wakili, dan kepada siapakah saya percaya,” ujar Stephen.

Stephen Curry, juga menerima penghargaan MVP (Most Valuable Player) 2014-1015, sebuah penghargaan tertinggi–Pemain Yang Paling Bernilai. Tentunya keberhasilan ini boleh membuatnya merasa amat terhormat, paling berharga, dan patut dibanggakan, bukan saja di Amerika, tetapi juga di seantero dunia. Tetapi ternyata Stephen Curry, menerima kemenangan dan penghargaan itu dengan rendah hati, dan penuh ucapan syukur.

Terlepas dari segala pergaulan buruk di Amerika, ternyata ada seorang Stephen Curry yang sangat berani secara terbuka menyaksikan nilai keluarga yang sejati, dan iman Kristen yang kuat. Dalam pidatonya yang disiarkan ke seluruh dunia, dia berkata: “Yang pertama-tama dan terpenting, saya berterima kasih kepada Tuhan dan Juru-Selamatku, Yesus Kristus, yang telah memberkatiku dengan talenta untuk bermain di pertandingan ini. Juga untuk keluargaku yang sudah mendukungku, setiap hari. Saya hanyalah hamba-Nya yang rendah saat ini, dan saya tidak dapat ungkapkan dengan kata-kata betapa penting dan berharganya iman saya, dan hanya kepada Dia [Jesus], dan bagaimana saya harus bermain dalam pertandingan in,” ujar putra dari mantan pemain NBA Dell ini bersemangat.

Luar biasa! Sebuah ungkapan iman yang setia dan kuat kepada Kristus, dan sekaligus sebuah kesaksian yang mengembalikan semua kemuliaan, kehormatan, kebanggaan, dan jasa hanya kepada Tuhan. Di awal tahun 2015, Stephen Curry juga dengan bangga meluncurkan produk sepatu bersama “Under Armor” yang memproklamirkan ayat Firman Tuhan favoritnya, Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Kristus yang memberikan kekuatan kepadaku”.

Nilai keluarga di Amerika tergolong semakin bobrok, terutama ketika keluar keputusan Supreme Court, yang mengesahkan pernikahan sejenis. Ajaran Liberal semakin liar dan moral semakin tidak karuan. Tetapi ada seorang Stephen Curry yang setia dan taat kepada Tuhan. Mirip Jeremy Lin, juga seorang pemain NBA, dia pun memiliki keberanian menyaksikan imannya.

Sebagai orang Kristen, siapkah Saudara menyaksikan imanmu di tengah ‘badai’ di dunia ini? Siapkah Saudara meninggikan Nama Kristus dalam semua aspek hidupmu? Dan, mengatakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36). SM/tabloid victorious edisi 835 (berbagai sumber)

Career highlights and awards:
NBA scoring champion (2016)
NBA steals leader (2016)
50–40–90 club (2016)
3x NBA All-Star (2014–2016)
All-NBA First Team (2015)
All-NBA Second Team (2014)
NBA Champion (2015)
NBA Most Valuable Player (2015)
NBA Three-Point Contest champion (2015)
AP Athlete of the Year (2015)
NBA Sportsmanship Award (2011)
NBA All-Rookie First Team (2010)
Consensus first-team All-American (2009)
NCAA Division I scoring leader (2009)
2× SoCon Player of the Year (2008, 2009)
Consensus second-team All-American (2008)

Pdt. I Ketut Darsana, SPAK; BALITA YANG MALANG ITU… KINI MENJELMA JADI HAMBA TUHAN LUAR BIASA!

Perjalanan hidupnya sedari bocah kerap diwarnai dengan badai persoalan. Sejak berumur setahun, I Ketut Darsana harus rela kehilangan ayahnya yang dianiaya oleh sekelompok massa tak dikenal sampai meninggal. Penderitaannya semakin bertambah, ketika sang Ibu pun meninggalkan dirinya lantaran “dipaksa” menikah dengan salah seorang Pria yang menghabisi nyawa ayahnya. Darsana kecil sontak menjadi anak terlantar, kemudian dirawat oleh sang Paman. “Aku lahir di sebuah desa di Singaraja, Bali. Karena gejolak politik tahun 1965, ayahku dengan 4 saudara laki-lakinya dibunuh oleh sekelompok massa. Waktu itu, usiaku belum genap 1 tahun. Setelah ayahku meninggal, Ibuku harus menikah dengan salah seorang massa pembunuh ayahku. Hidup dibawah tekanan, maka ibuku menikah dan meninggalkan aku sebagai balita yang malang. Kemudian aku dirawat oleh paman. Yang kuingat saat itu, pamanku ini seorang yang tidak memiliki hati Bapa, senang berjudi dan main perempuan serta pemalas. Jadi sejak kecil aku harus hidup dari hari kehari dalam penderitaan. Membantu paman mencari nafkah, kerja apa saja untuk bertahan hidup. Kelaparan, penderitaan, kekerasan fisik dan hinaan akrab dengan aku,” kenang Pria kelahiran Singaraja, 3 Oktober 1964.

Lantaran sejak bayi sudah menjadi anak yatim, Darsana pun tak tahu nama dan wajah ayahnya. Darsana hanya ingat nama Ibunya yang bernama Luh Sini. Tahun demi tahun Darsana bertumbuh tanpa pernah menikmati kebahagiaan masa kecil dan kasih sayang dari orang tua, karena dirampas oleh “sejarah kelam” yang memilukan hati. Bermain dengan anak sebaya, menikmati makanan enak, tempat tidur nyaman, dan sebagainya pun tak pernah dirasakan. “Hari ini aku bisa makan, besok belum tentu ada makanan. Kecuali aku sendiri harus bekerja keras menjadi seorang anak pemungut jelai padi di belakang rombongan orang-orang dewasa yang sedang menuai padi di sawah. Bahkan untuk mencapai lokasi panen padi, aku harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh belasan kilo meter,” tutur Darsana mengisahkan kembali kehidupan masa kecilnya.

Penderitaan demi penderitaan pun terus dialami oleh Darsana. Meskipun sudah lelah bekerja membantu sang paman dalam mencari nafkah,  namun perlakuan tak menyenangkan kerap menerpanya. “Aku sering dimarahin, dimaki bahkan dipukuli. Aku harus menerima keadaan itu. Sebab beliau adalah pamanku yang berfungsi sebagai pengganti ayahku. Suatu hari aku tidak tahan dengan semua penderitaan hidup, aku lari ke kuburan ayahku dan menangis di sana. Aku minta agar ayahku membawaku dalam kematiannya. Aku bilang mengapa aku harus lahir? Setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai sadar dan tiba-tiba ingin melanjutkan sekolah untuk mengubah nasib. Tetapi bagaimana bisa sekolah? makan saja susah, selama ini sekolah selalu gratis. Kemudian aku berjanji, siapa saja yang bisa menolongku membiayai sekolah aku akan ikut agama orang yang baik hati itu sampai nanti aku tamat dan sudah bekerja, aku akan kembali lagi ke agama leluhurku. Sebelum aku tamat Sekolah Dasar, datanglah seseorang yang baik hati itu menawarkan bantuan untuk melanjutkan sekolahku. Aku pikir, dia adalah utusan Tuhan bagiku sehingga akupun bisa melanjutkan sekolah hingga akhirnya aku bertobat dan menjadi pengikut Kristus ketika duduk di bangku kelas 6 SD,” ungkap suami dari Susy Evawati Tjandra.

Merintis pelayanan & diserbu massa radikal

Seiring bergulirnya waktu, Darsana pun semakin teguh dalam pengenalan akan Juruselamat pribadinya. Hingga suatu saat selepas SMA, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi teologi di ITKI Petamburan. “Setelah lulus, saya kemudian kembali ke Bali untuk merintis sebuah  pelayanan. Tapi ketika saya menggembalakan jemaat, harus menghadapi sekelompok massa radikal yang berunjuk rasa akan meresolusi tempat ibadah. Tepatnya pada bulan Agustus 2011, massa datang ketika saya sedang menyampaikan firman Tuhan. Mereka sudah masuk ke dalam ruangan gereja. Suasana pun mencekam dan membuat jemaat ketakutan dan tertekan. Massa yang datang itu menolak kehadiran gereja dan memerintahkan untuk segera menutup tempat ibadah. Langkah dialog dengan segala cara ternyata tak membuahkan kesepakatan, kecuali menutup dan pindah ke tempat yang baru walaupun sudah mengeluarkan uang untuk sewa tempat selama 5 tahun. Saya merasakan tekanan luar biasa. Karena hal itu sudah terjadi berkali-kali dalam pelayanan saya, hati saya pun mulai tawar dan kecewa. Saya protes, kenapa gereja selalu dihambat di negeri ini? Dalam titik kecewa dan tawar hati itulah, istri dipakai Tuhan untuk menguatkan saya. Istri saya bilang ‘pa…tetap kuat ya. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Hanya Tuhan saja kekuatan kita. Mulai saat itulah saya memutuskan untuk mencari Tuhan lewat doa dan puasa. Dalam pergumulan saya yang luar biasa itulah saya dijamah dan dipulihkan Tuhan secara luar biasa. Walaupun  massa menutup tempat ibadah, tetapi lewat penyerahan kepada Tuhan, hati saya tetap kuat untuk meneruskan pelayanan penggembalaan dan penginjilan bagi jiwa-jiwa di Pulau kelahiran saya,” ujar ayah dari Gede David Ebenhaezer ini menceritakan pengalaman pahitnya ketika merintis sebuah pelayanan di Bali.

Belajar dari pengalaman memilukan dalam pelayanannya itulah menginspirasi Pria yang kini telah menjadi seorang gembala di sebuah gereja di Denpasar dan Singaraja ini untuk menciptakan beragam lagu rohani. Serangkum lagu buah karyanya pun dikemas dalam album bertajuk ‘Yesus Kekuatanku’. “Kasih Tuhan kepadaku luar biasa indahnya, bukan saja menyelamatkan hidupku, Dia juga telah mati bagi dosa-dosaku, dan memberikanku segala yang baik. Kini aku menjadi seorang hamba Tuhan, Pendeta sebuah gereja, pendiri sebuah yayasan yang sedang membangun Panti Asuhan untuk anak-anak yang malang. Aku melihat diriku dalam diri mereka. Andai saja tidak ada yang mengulurkan tangan, maka  aku tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini. Tuhan juga mengaruniakan kepadaku talenta yang lain, sehingga aku juga sebagai pencipta dan penyanyi rohani. Kini albumku ada di seluruh Indonesia. Bukan bermaksud mencari popularitas tetapi aku mau menyampaikan pesan Tuhan melalui rangkaian kata dan nada,” ungkap hamba Tuhan yang kini telah memiliki 2 album rohani, “Yesus Pembelaku dan Yesus Kekuatanku.

Menurut Darsana, dalam perjalanan hidup kita, melayani Tuhan bukan berarti bebas dari airmata, bebas persoalan, tetapi hal itu akan dapat kita atasi ketika kita dekat dengan Tuhan. “Tuhan bukan hanya membela kita, tetapi memberikan kekuatan yang luar biasa,”pungkas hamba Tuhan yang diberi karunia dalam berolah vokal dan menciptakan lagu kepada wartawan di kantor Impact Music, Jakarta Selatan. (sumber: tabloid victorious edisi 691). SM

PDT.SAMUEL JIANTO, BERKALI-KALI DIANCAM DIBUNUH DALAM MELAYANI TUHAN!

Tak pernah terbersit dalam benak Samuel Jianto kecil untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Cita-citanya sewaktu bocah adalah ingin menjadi seorang pengusaha atau menjadi pemain sepakbola professional. Maklum, saking hobinya menggandrungi sepakbola dengan teman sebayanya, Samuel juga pernah masuk sebuah klub di Jawa Timur kala itu. Namun, berkat nazar orangtua yang juga seorang Pendeta, Samuel tidak bisa lari dari panggilan Tuhan. “Saya adalah anak sulung. Anak yang dinazarkan oleh orang tua saya. Sebab saya lahir, setelah papa-mama menikah 10 tahun. Makanya saya dikasih nama Samuel.  Dan akhirnya Tuhan kasih bonus, saya dikasih 4 adik. Jadi saya lima bersaudara. Ketika Papa bernazar, anak sulung harus menjadi hamba Tuhan,” tutur Samuel Jianto membuka perbincangan sembari menambahkan bahwa orang tuanya adalah seorang hamba Tuhan yang merintis pelayanan di Pulau Madura sejak 1946, khususnya di Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

                 Keinginan Samuel untuk menjadi pemain bola sewaktu kecil bukanlah tanpa alasan. Sebab, bagi Pria kelahiran 29 Januari 1959, menjadi pemain bola professional itu lebih menjanjikan untuk mendapatkan uang saku ketimbang menjadi seorang hamba Tuhan kala itu. Berbanding terbalik dengan kondisi yang dihadapi oleh orangtuanya yang mengabdikan diri untuk melayani Tuhan—hidup serba kekurangan dan kesederhanaan. “Saat itu saya kecil, mengalami hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan.  Jadi saya bisa naik motor itu setelah tamat SMA.  Itupun motor pinjaman. Karena waktu itu belum pernah punya motor. Jadi kami terbiasa hidup sederhana,” ungkap lulusan Sekolah Alkitab Beji, Malang tahun 1977.

                Setelah usianya beranjak remaja, Samuel mengalami kisah pertobatan yang unik. Saat itu ada anak dari seorang pengusaha yang sakit dan minta untuk didoakan. Padahal saat itu, meski Papanya adalah seorang Pendeta, Samuel masih suka curi waktu untuk menonton bioskop yang gedungnya bersebelahan dengan gereja dimana Papanya melayani. Namun, mungkin sudah waktunya Tuhan, apa yang pernah dinazarkan oleh sang Papa digenapi. Cara Tuhan adalah menjadikan Samuel untuk menggantikan posisi Papanya untuk mendoakan orang sakit. “Ketika masuk SMA kelas 1, ada orang dari PT Bentoel itu membawa anaknya yang sakit ke Pastori dan minta didoakan.  Waktu itu Papa saya sedang ada pelayanan ke luar kota beberapa hari. Kemudian saya katakan besok datang lagi. Orang tersebut, bertanya, kalau didoakan apakan sembuh? Saya katakan dengan iman pasti sembuh. Sebenarnya waktu itu, di saku saya ada tiket untuk menonton bioskop yang letaknya di sebelah gereja papa saya. Tapi gara-gara ada orang yang minta didoakan, saya tidak jadi nonton dan masuk kamar untuk berdoa. Saya bilang kepada Tuhan ‘Tuhan, besok orang yang datang itu harus sembuh ya Tuhan. Pokoknya saya terus meminta dan  berdoa kepada Tuhan agar orang yang sakit itu disembuhkan. Mulai saat itulah saya dipenuhi Roh Kudus untuk pertamakalinya.  Dan mulai sejak itu saya lupa nonton film dan lupa dengan gedung bioskop. Keesokan harinya, orang yang minta didoakan datang lagi. Kemudian saya yang saat itu mengalami kepenuhan Roh Kudus meyakini bahwa segala penyakit pasti disembuhkan Tuhan. Dan ternyata benar, setelah saya doakan orang tersebut disembuhkan Tuhan,” kenang suami dari Erni yang kini telah dikaruniai 3 anak (Steven, Philip dan Priskila).

Semenjak peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik balik pertobatannya. Samuel menggenapi nazar sang Papa dan berkomitmen untuk meneruskan pelayanannya di Pulau Madura. “Setelah saya mengenal Tuhan, akhirnya saya membantu melayani di gereja.Saya makin terbeban dan cinta kepada pelayanan. Saya juga banyak melayani gereja pantekosta. Saya pikir gereja ini merupakan wadah yang tepat untuk saya dalam melayani. Saya punya beban untuk mengembangkan gereja. Karir saya itu saya mulai dari bawah. Saya pernah jadi anggota KP remaja, Sekretaris KP remaja, hingga ketua KP remaja,” ujar Pria yang kini telah dipercaya menjadi Ketua MD Jawa Timur.

Samuel mengaku, melayani Tuhan di Pulau Madura itu kerap mengalami gangguan, teror bahkan ancaman untuk dibunuh. “Melayani Tuhan di Madura, itu secara kontekstual. Kita harus tahu karakter mereka. Kalau bicara soal hambatan, kami sudah terbiasa.  Misalnya, gereja dilempari kotoran dan kacanya dipecahin. Saya pernah ketika sedang berkotbah dilempari telor busuk. Bahkan berkali-kali diancam mau dibunuh. Tetapi semua itu bisa dilewati, ketika kita terus menyerahkan persoalan kepada Tuhan,” tutur Samuel yang meneruskan penggembalaan pada tahun 1980.

Bagi Samuel, sebagai seorang hamba Tuhan harus tahan banting dalam melayaniNya. Tidak boleh mudah mengeluh dan tetap fokus kepada jiwa-jiwa yang dilayani. “Saya mengalir dengan gerakan Tuhan mengikuti aliran kemauan Tuhan. Dengan cara melayani yang professional, dedikasi yang tinggi dan menjaga integritas,” pungkas Gembala GPdI “Sahabat Allah”  di Madura dan Friend of God Ministry di  Surabaya. (sumber: tabloid victorious edisi 694). SM

GREZIA EPHIPANIA: ‘WALAU TAK DAPAT MELIHAT, TUHAN YESUS BERI TALENTA LUAR BIASA’

Penampilan Grace ketika memainkan Piano

Gadis cilik ini terlahir dengan nama lengkap Grezia Ephipania.  Ia kerap disapa Grace atau Grezia. Meski dilahirkan dalam keadaan tak bisa melihat, tetapi ternyata Tuhan mengaruniakan “mata rohani”—dan talenta yang luar biasa bagi anak keempat dari pasangan Suryadi Oey dan Yuliani ini.

Sedari kecil Grezia bertumbuh dengan pertolongan Tuhan. Ketika usianya menginjak 1,5 tahun, dia sudah pintar menyanyi tanpa ada yang mengajari. Grezia memiliki kecerdasan musikal. Meski umurnya baru 1 tahun, dia sudah dapat menyanyi dengan lafal yang jelas dan nada yang tepat.  Bukan itu saja, ketika Grezia berusia 3 tahun, orangtuanya membelikan sebuah piano, Grezia dapat memainkan piano dengan baik. Grezia juga mampu menguasai lagu baru dengan cepat, hanya dengan mendengarkannya saja.  Jari-jemarinya yang mungil itu menari-nari indah di atas papan tuts piano. Ditambah dengan olah vokal yang khas nan merdu, membuat banyak orang khususnya umat Kristiani merasa sangat diberkati. Betapa tidak, ditengah keterbatasan sebagai seorang anak kecil, tapi dapat memuliakan nama Tuhan dengan talenta dan karunianya. “Saya yakin Tuhan Yesus menyatakan kuasa-Nya dan Roh Kudus mengajarnya bermain piano dan beryanyi. Grezia juga mengikuti perlombaan menyanyi yang pesertanya adalah anak-anak normal di seluruh indonesia. Puji Tuhan dia mendapat juara 3. Semuanya itu karena Tuhan Yesus yang luar biasa,” ujar Mama Grezia, Yuliani

                Kisah kelahiran Grezia memang menjadi inspirasi iman bagi kita agar tetap kuat dalam mengiring Tuhan Yesus. Awalnya, kedua orang tua Grezia adalah pasangan suami istri yang berbeda agama. “Saya dan suamiku tinggal di kota Balikpapan dan dikaruniai 4 anak. Saya sudah beragama Kristen sejak kecil tetapi karena menikah dengan suami saya yang berbeda agama, maka saya mengikuti dia sampai 15 tahun. Puji Tuhan suami saya mau bertobat dan Percaya Yesus. Kami pun meminta ampun pada Tuhan dan bertobat total. Dengan cara Tuhan anak-anak kami, melihat kehidupan orang tua yang berubah, sehingga mereka semua ikut kami untuk percaya Yesus. Setelah menerima Yesus sebagai juruselamat, kami mengalami ujian iman. Anak pertama kami  mengalami kecelakaan tetapi Tuhan Yesus sembuhkan dia dengan cara yang luar biasa. Ketika dia mengalami kecelakaan, dokter berkata, dia kemungkinan tidak dapat hidup, tetapi Tuhan menyembuhkan dia selama satu bulan,” tutur Yuliani.

Lanjut Yuliani, ketika melahirkan Grezia, awalnya tidak tahu kalau anaknya itu lahir dalam kondisi matanya tak dapat melihat meskipun tubuhnya sehat. “Awalnya suami saya tidak memberitahukan ada sesuatu yang terjadi kepada anakku yang baru lahir ini. Suamiku tidak mau berkata kepada saya kalau anak itu  mengalami cacat pada matanya. Ketika itu suamiku pulang dan berdoa, Tuhan…. ketika saya percaya dan mengikuti Tuhan kenapa saya diberikan anak seperti ini? Kemudian Tuhan memberikan ayat kepada suamiku dalam kitab Yohanes 9:1-3 yang berbicara tentang jawaban Yesus kepada muridnya. Yohanes 9:1-3 ‘Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia’.

Ketika suami saya kembali ke rumah sakit dan memberi tahu saya kalau anak matanya cacat, lalu kami berdoa bersama-sama dan seorang hamba Tuhan datang melayani kami dan bernubuat kepada anakku, nanti dia akan menjadi pemuji dan penyembah. Tuhan tidak akan mempermalukan karena anak ini akan mempermuliakan nama Tuhan,” urai Yuliani.

                Memang Grezia mengalami keterbatasan dalam penglihatan sejak lahir. Pada waktu ia lahir, kedua bola mata Grezia berselaput putih. “Kenyataan pahit yang Grezia alami, karena Grezia tidak mengetahui apa-apa. Tapi Grezia tumbuh sehat seperti anak-anak yang normal, bermain sendiri, berjalan sendiri tanpa terhalang oleh apapun. Bahkan dapat naik turun tangga kurang lebih 20 anak tangga di rumah tanpa bantuan orang lain. Sampai saat ini kami sebagai orang tua Grezia tidak pernah kuatir karena semuanya itu adalah untuk Tuhan. Grezia sejak umur 4 tahun sudah kami ajak untuk ikut dalam pelayanan. Grezia memberikan kesaksian pujian untuk Tuhan,” ujar papa Grezia, Suryadi ketika dihubungi via telpon genggamnya.

Membuat Album Rohani
Suatu kali, Grezia dibawa menemui seorang produser musik rohani bernama Jason di Jakarta. Orangtuanya ingin merekam suara Grezia ke dalam album lagu. Mula-mula Jason tidak begitu berminat. Dia (Jason) berpikir, ‘ah paling-paling ini hanya ambisi orangtuanya saja.’ Untuk menguji kemampuan Grezia, Jason menyuruhnya unjuk kebolehan. Begitu melihat penampilan Grezia, Jason tersentak. Dia terkesima melihat kebolehan Grezia. Dia berubah 180 derajat dan justru bersemangat untuk merekam suaranya. Jason lalu menciptakan lagu-lagu untuk Grezia. Rekaman lagu itu dikirimkan ke Balikpapan untuk didengarkan. Total ada 12 lagu baru. Setelah siap, Grezia diundang ke Jakarta untuk rekaman suara. Hanya dalam waktu 3 hari Grezia rampung melantunkan 12 lagu.

Tepat tanggal 4 Februari tahun ini Grezia genap berusia 12 tahun. Kita doakan agar terus dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat dan memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Dan tentu saja, kita berharap melalui Album Rohani  Grezia, berjudul ‘Walau Ku Tak Dapat Melihat’ banyak orang dapat menjadi percaya Kristus. Biarpun dia mengalami kekurangan tetapi hal itu tidak menjadi alasan buat dia untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan. (sumber: tabloid victorious edisi 823). SM

Bio Data
Nama : Grezia Epiphania
Nama Panggilan : Grace/Grezia
Tempat Tanggal Lahir : Balikpapan, 04 Februari 2006
Papa : Suryadi Oey
Mama : Yuliani Sura
Anak ke : 4 dari 4 saudara
Hobi : Menyanyi dan bermain piano

Prestasi :

  • Juara 1 Penyanyi Anak Indonesia Tingkat Nasional Wilayah Kalimantan Timur 2013
  • Juara 3 Penyanyi Solo Gloria 2013 di Balikpapan
  • Juara 3 Grandfinal Kirana Semen Indonesia 2014 di Jakarta
  • Juara 2 Lomba Nyanyi Solo SDLB FLS2N Semarang 2014
  • Juara 1 Piano Contest and Singing Contest (Antar Sekolah) di Balikpapan 2014 (*diolah dari berbagai sumber)

Pdt. Tomson Lumbangaol, HAMBA TUHAN YANG TERPANGGIL MELAYANI ORANG-ORANG SAKIT DI PENANG, MALAYSIA

Pdt. Tomson dan Istri

PENANG,VICTORIOUSNEWS.COM,-Umat Kristen yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus, pasti akan terpanggil untuk menggenapi Amanat Agung—firman Tuhan Yesus Kristus sesaat sebelum Dia naik kembali ke tahtaNya di Surga—yakni “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20). Inilah yang kemudian kita kenal dengan Amanat Agung alias the Great Commission. Kita diselamatkan memang secara cuma-cuma karena kasih Tuhan yang begitu luar biasa besarnya. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa, hanya duduk diam berpangku tangan tanpa mempedulikan keselamatan orang lain.

Firman Tuhan inilah juga dilaksanakan oleh Pdt. Tomson Lumbangaol yang terpanggil melayani Tuhan di negeri Jiran—tepatnya di Penang, Malaysia. “Akhirnya saya pergi ke Penang. Ternyata di sini sangat banyak orang-orang Indonesia yang berobat di sini. Penyakitnya pun parah-parah. Awalnya, saya hanya “berkunjung” saja. Tetapi saya punya passion melihat mereka yang menderita. Begitu banyak orang-orang Indonesia yang berasal dari Sumatera. Saya memiliki belas kasihan kepada orang-orang di sana,” tutur Pria kelahiran 10 Februari 1972 ini memulai perbincangan.

Suami dari Mayani Sie ini mengisahkan perjalanan pelayanannya sebelum memutuskan untuk melayani penuh waktu di Penang, Malaysia. “Ketika di Gereja perintisan di Tangerang tahun 2007, di tengah-tengah ibadah teman hamba Tuhan yang sama-sama merintis, menyampaikan suatu semacam nubuatan bahwa saya akan pergi melayani ke daerah yang keras. Dan di sana saya akan dipakai Tuhan untuk melakukan perkara-perkara yang besar, yang sakit akan disembuhkan, yang terikat akan dibebaskan. Waktu itu saya dipanggil ke depan, di depan jemaat saya ditanya, maukah diutus Tuhan? saya katakan mau. Setelah ibadah saya tanya beliau, maksudnya mana itu tempat yang keras? Karena dalam pikiran saya tempat yang keras itu Papua, Ambon dan Sumatera. Tapi pikiran saya gak mungkin balik ke Sumatera lagi, karena saya orang Sumatera. Hamba Tuhan itu bilang, bukan di dalam negeri. Tetapi di luar negeri. Waktu itu saya melihat peta di gereja, kemudian ditunjuklah peta Thailand. Sebenarnya kalau ditarik melalui peta, Thailand itu dekat dengan Pulau Pinang (Penang) ini. Awalnya saya tidak terlalu tanggapi. Kemudian tahun 2012, ada teman saya yang menawarkan untuk membuka penggembalaan di Penang, awalnya saya tidak gubris. Karena saya sudah ada pelayanan di Tangerang. Tetapi beliau desak. Kemudian saya diminta jalan-jalan ke Penang. Tetapi saya tidak langsung ke sana, melainkan ke Singapura. Saya terkejut waktu itu, karena ada begitu banyak orang-orang Indonesia yang berobat ke Singapura. Banyak penyakit yang aneh-aneh yang saya lihat saat itu. Mulai dari kanker yang biasa, sampai stadium lanjut. Mereka setengah menderita. Lalu saya tanya mengapa jauh-jauh ke Singapura? Di Indonesia masih banyak dokter. Mereka bilang, dengan berbagai alasan, mereka akhirnya putuskan untuk berobat ke sana. Akhirnya saya pergi ke Penang. Ternyata di Penang ini juga sangat banyak orang-orang Indonesia yang berobat di sini. Penyakitnya pun parah-parah. Saat itu saya hanya “berkunjung” tetapi saya punya passion melihat mereka yang menderita. Begitu banyak orang-orang Indonesia yang berasal dari Sumatera. Waktu itu saya, di penghunung 2012 (Desember), sekitar 3 minggu saya berada di Penang. Kemudian pas natal saya harus balik ke Indonesia (Tangerang),” tukas Hamba Tuhan yang pernah melayani di GBI REM ini.

 

Lanjut Pdt. Tomson, “Sesampainya di Tangerang, teman saya nanya lagi, bagaimana tergerak pelayanan di Penang? Kemudian saya jawab, bahwa saya memiliki belas kasihan kepada orang-orang di sana. Tetapi waktu itu belum ada keputusan untuk melayani di sana. Kemudian, bulan Januari 2013, saya ditanyain lagi. Akhirnya, tepatnya bulan Februari saya bawa keluarga (istri dan anak saya yang hampir 10 bulan waktu itu). Mulai dari situlah saya bersama istri penjajakan dengan alam di Penang. Ternyata, istri cocok. Karena di sini banyak orang Chinese Hokian, ya dia cocok. Dia juga orang Chinese Hokian, jadi tidak asing buat dia,” ungkapnya.

Pdt Thomson dan istri terus berdoa, meminta petunjuk Tuhan, jika harus menetap di Penang. “Akhirnya Tuhan menjawab dan saya mengambil keputusan tanggal 10 Juli 2013 mulai merintis pelayanan. Kami waktu itu hanya melayani orang-orang sakit, khususnya orang-orang Indonesia. Kami kunjungi mereka bukan hanya di Rumah Sakit, tetapi juga kunjungi mereka di tempat penginapan. Saat itu banyak sekali mereka yang haus dan minta didoakan. Kemudian ada yang mengusulkan untuk membuat kebaktian bersama di tempat penginapan. Lama-lama terpikir untuk membuat sebuah ibadah gereja. Awalnya, diusulkan ibadah pada hari sabtu. Kebetulan ada gereja Anglican Church di sini yang bisa menerima kita, karena mereka juga ibadahnya hari sabtu. Kita ibadah mulai jam 14.00, Anglican Church jam 16.00.  Seiring berjalananya waktu, ada jemaat yang datang 30 sampai 40 orang. Makin bertambahnya jemaat, karena di Indonesia yang dianggap ibadah itu bukan hari sabtu, tetapi Minggu. Akhirnya ada yang usul, Pak tidak afdol, jika ibadah hari sabtu, kenapa tidak hari Minggu? Saat itu saya merasa bingung,  karena itu bukan gereja. Prinsip saya adalah melayani, kemudian kita mencoba untuk mencari gereja yang beribadah hari minggu. Intinya kita siap, kemudian kita berpartner dengan gereja Metodist. Saat itu Metodist juga berpartner dengan GBI Tabernakel mau menaungi kita. Singkat cerita, Ibadah perdana adalah KKR kami lakukan tanggal 14 februari 2014 di hotel Berjaya Lantai 7. Dan mulai dari tahun 2016, kita start ibadah minggu, di bawah naungan GBI Tabgha. Kemudian pelayanan kami makin berkembang, banyak juga jemaat kami dari TKI/TKW (orang Indonesia yang bekerja di Penang). Puji Tuhan, jumlah jemaat sekarang sekitar 200 orang yang terbagi dua kali ibadah. Jemaat kami ada orang asli Penang yang menikah dengan orang Indonesia,” pungkas Pdt. Tomson penuh syukur. StevanoMargianto

Michael Howard: Mantan Pecandu Narkoba dan anggota geng di AS Bertobat Jadi Motivator Indonesia

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-Menyandang gelar mantan pecandu narkoba selama 20 tahun, mantan pengedar obat-obatan terlarang, mantan pengikut Gereja Setan, dan mantan Narapida selama 3 tahun di Amerika Serikat. Seluruh gelar tersebut tidak pantas dibanggakan, tapi menjadi pengalaman kehidupan seorang Michael Howard ketika dikembalikan ke Indonesia pada tahun 2014. Dikawal ketat pihak berwenang Amerika Serikat hingga pendaratannya dengan pesawat di bandara internasional Indonesia. Perasaan seorang diri di Jakarta (Indonesia) dan mengaku tidak memiliki apa-apa kecuali dua hal, yaitu menderita sakit hiperteroid (gondok dalam leher sehingga menyebabkan matanya besar sebelah) dan menderita AIDS (bukan arti penyakit yang berbahaya itu, tapi singkatan dari ‘Aku Ingin Duit Sekarang’). Read More