SEBUAH KEJUJURAN HANTARKAN PENDETA ABRAHAM LEWELIPA MASUK GEDUNG MPR/DPR/DPD-RI MEMPESONAKAN PULAU KISAR DI DUNIA INTERNASIONAL

SEBUAH KEJUJURAN HANTARKAN PENDETA ABRAHAM LEWELIPA MASUK GEDUNG MPR/DPR/DPD-RI MEMPESONAKAN PULAU KISAR DI DUNIA INTERNASIONAL

“Semua sudah datang. Bahkan, Pdt Abraham Lewelipa yang datang dari Pulau Kisar (Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku) pun sudah hadir,” kata Yohanes OI Tahapary, SH.M.Si,  Wakil Ketua Panitia Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI (Kepala Biro Pemberitaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR-RI serta Ketua Persekutuan Doa Oikumene/PDO MPR/DP/DPD-RI) saat memberikan Ucapan Selamat Datang kepada seluruh umat ketika mengikuti Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI pada Rabu malam, 24 Januari 2018 di Ruang Pustaloka (Gedung Nusantara IV DPR-RI) Jalan Gatot Subroto (Senayan, Jakarta). Bertema ‘Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu’ (Kolose 3:15) dan sub-tema ‘Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah bagi Semua Umat’, Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI ini juga menyerahkan Bakti Sosial Diakonia (bantuan dana) kepada sejumlah yayasan dan pimpinan gereja dari berbagai wilayah Nusantara. Read More

Lily Yuliana: MENDERITA TUMOR OTAK & KEBUTAAN, TAPI TETAP BERSYUKUR KEPADA TUHAN

Lily Yuliana

VICTORIOUSNEWS.COM,-Wanita kelahiran Jakarta, 14 September 1976 ini berlatar belakang dari keluarga yang sudah mengenal Tuhan Yesus  sebagai Juruselamat.  Sejak usianya masih belia, Lily, demikian kerap disapa, dididik dan diajarkan untuk mengikuti sekolah minggu. Seiring berjalannya waktu, ketika beranjak dewasa, iman kerohanian Lily pun terus bertumbuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. “Saya anak keempat dari empat bersaudara. Dari kecil keluarga kami sudah mengenal Tuhan. Kami selalu diajarkan untuk sekolah minggu. Puji Tuhan sampai sudah dewasa kami selalu ingat Tuhan,” tutur putri keempat dari pasangan Alm. Dencik dan Yulinda.

Perjalanan hidup Lily dan keluarganya kerap diwarnai dengan badai persoalan. Tetapi terpaan badai persoalan senantiasa dihadapi dengan penuh syukur dan doa kepada Tuhan. Dengan demikian, Lily mengalami kekuatan iman yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Salah satu badai yang sampai sekarang menerpa dirinya adalah sakit tumor otak yang menyerang syaraf mata sehingga ia pun merelakan kedua matanya tidak bisa melihat. “Gejala awalnya, saya sering pusing. Saya sempat minum panadol kemudian hilang. Tapi lama kelamaan, kok pusingnya makin sering. Lalu saya memeriksakan diri ke dokter THT di RS. Sumber Waras, katanya tidak masalah. Mulai saat itu saya tidak pernah pikirkan penyakit itu,”  tutur wanita yang menikah dengan Budi Harjono pada tahun 2006 ini mengisahkan.

Setelah membangun bahtera rumah tangga pasangan suami istri ini pun dikaruniai Tuhan seorang putri pertama pada akhir 2006. Buah hatinya dirawat dengan penuh kasih sayang hingga bertumbuh menjadi anak yang baik dan sehat. Bahkan pada saat itu, Lily masih bekerja sebagai karyawan swasta. Dan setiap pagi hari sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri mengantarkan anak pertamanya sekolah taman kanak-kanak.

Lily tetap bersemangat merawat anaknya

Tetapi pada awal tahun 2011, Lily mengaku penglihatannya makin lama makin berkurang dan akhirnya tidak bisa melihat sama sekali. Agar tidak mengalami kekecewaan mengenai penyakitnya,  Lily pun memutuskan untuk berkonsultasi dengan gembala sidangnya dimana ia bergereja. “Saat sakit itu saya sempat tanya kepada gembala sidang saya, apakah penyakit ini disebabkan karena saya tidak pelayanan setelah menikah. Karena sebelum menikah, saya melayani jadi guru sekolah minggu dan paduan suara di gereja. Kemudian gembala itu menjawab, bukan karena itu. Tapi Tuhan memiliki rencana atas hidupmu. Saat itu saya bersyukur sekali karena diberikan kekuatan. Ternyata walaupun kondisi mata saya  tidak bisa lihat, diberikan kekuatan seperti itu, anugerah banget,” ungkapnya.

Merasa kondisi matanya semakin parah, Lily dan suami segera memeriksakan ke rumah sakit. Ironisnya, justru  pemeriksaan laboratorium rumah sakit itu hasilnya bagus. Padahal dalam sehari itu Lily mengalami muntah sebanyak 30 kali dalam sehari. “Pada waktu itu, saya positif hamil anak yang kedua. Kemudian dokter menyarankan untuk pergi ke rumah sakit mata Aini. Dokter bilang agar dilakukan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau foto rontgen.Tapi dokter kandungan saya tidak mengijinkan saya untuk melakukan foto rontgen karena kondisi  saya sedang hamil anak yang kedua. Setelah melakukan pemeriksaan MRI, saya divonis menderita tumor otak jinak. Waktu itu saya berserah kepada Tuhan, dan berharap bahwa nanti bisa sembuh dengan sendirinya. Kemudian selang sebulan, kedua mata saya sudah tidak bisa melihat. Puji Tuhan, ada jemaat gereja yang menolong saya untuk memeriksakan diri  ke sebuah rumah sakit Mitra Kemayoran, RS. Pertamina dan MMC Semanggi. Begitulah luar biasanya semua pertolongan Tuhan. Kedua dokter dari RS. Mitra Kemayoran dan Pertamina itu menyarankan agar saya nunggu unfal baru ditindak operasi.

Sementara itu di RS MMC Semanggi, dokternya berkata, ‘Lily, jika seumur hidupmu nanti mata kamu tidak bisa melihat, bagaimana? Kemudian saya jawab, karena dari kecil saya diajarkan untuk ingat Tuhan, ya walaupun saya seumur hidup tidak bisa melihat, ya bersyukur saja kepada Tuhan. Tapi saya akan merawat anak saya sampai besar. Karena kalau tumor itu menyerang kepala, kalau saya dalam kondisi tidak hamil, tumor itu agak lambat dalam berkembang.  Tapi karena saya sedang hamil saat itu, akhirnya tumor itu cepat sekali berkembang, yang tadinya 2 cm berkembang cepat menjadi 4 cm. Posisi tumornya itu berada di sebelah syaraf mata sebelah kanan,” ujar Lily .

Mujizat,  Operasi Tumor Otak Tanpa Biaya!. Sebelum menghadapi pisau operasi untuk proses penyembuhan tumor otaknya, Lily sangat bergumul dengan kondisinya saat itu. Pertama, ia dan suami bergumul mengenai biaya operasi dan persiapan biaya persiapan persalinan anak keduanya. Kedua, Lily bergumul tentang kondisi tubuhnya, dimana kalau menderita tumor otak dalam keadaan hamil tidak boleh melahirkan secara normal dan harus dioperasi caesar. Ibarat jatuh ketimpa tangga pula. Tapi Lily terus berdoa kepada Tuhan secara sederhana. “Saya hanya cerita sama Tuhan dan berdoa. Saya bilang, Tuhan, anak pertama saya lahirnya normal. Kemudian saya disarankan untuk Caesar. Kan Caesar itu  tidak enak Tuhan. Rasanya sakit dan biayanya mahal, uangnya darimana? Akhirnya mujizat terjadi, anak ini diprediksi lahir 10 agustus untuk dilakukan Caesar. Ternyata tanggal 8 Agustus siang hari, saya merasa pengin buang air kecil setiap menit. Kemudian saat itu saya nelpon suami yang sedang bekerja. Suami saya bilang, setengah jam lagi sampai rumah. Kemudian suami saya menghubungi seorang tante pelayan gereja dan membawa mobilnya. Kemudian karena waktu tinggal 2 hari lagi, maksudnya pergi ke RS. MMC Semanggi untuk konsultasi.  Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ternyata bayi anak kedua saya lahir di mobil.  Yang jadi mujizatnya adalah bayi itu lahir dan saya  tidak merasakan sakit sedikitpun. Disitulah mobilnya langsung buru-buru dibawa  ke  RS Harapan Kita. Pas di mobil itu, ari-ari itu keluar banyak sekali. Saya merasa, dokternya yang tolong saya itu Tuhan Yesus langsung bisa lahir normal dan lahir di mobil hanya dengan kuasa doa,” kenang Lily mengisahkan bahwa semua proses kelahirannya tidak dikenakan biaya apapun.

Setelah anak keduanya lahir, Lily kemudian menyampaikan  kepada Prof. Eka (dokter kenalan Lily yang menangani penyakit tumornya). “Seminggu kemudian saya lapor dan konsultasi kepada Prof. Eka. Saya infokan bahwa anak saya sudah lahir. Kemudian saya lanjut untuk operasi tumor otak (diangkat). Karena pada tanggal 17 Agustus hari kemerdekaan, jadi ditunda tanggal 18 Agustus. Prof Eka, waktu bilang, kalau orang normal, setelah dioperasi itu minimal 3 hari pertama itu berada di ICU. Saya sempat kaget waktu itu, kemudian saya berdoa lagi, Tuhan, jika Tuhan mengijinkan saya hidup, maka saya tidak mau di ICU lama-lama.  Di ICU itu tidak enak Tuhan, biayanya mahal dan sehari saja biayanya bisa 10 juta. Uang darimana Tuhan? Saya hanya berdoa sederhana saja waktu itu. Memang saya tidak bisa berdoa dengan kata-kata yang indah, hanya sederhana tapi dengan hati yang terdalam dan tulus. Puji Tuhan, pada saat pasang selang,  di meja operasi mungkin karena saya bisa kenal dengan Profesor Eka di RS MMC. Padahal suami saya hanya bekerja sebagai debt collector dan kami tinggal di pinggir rel. Tentu untuk operasi butuh biaya yang sangat besar sekali. Kalau bukan karena Tuhan, siapa lagi?. Biaya tindakan operasi saja 30 jutaan, tapi Prof Eka tidak kenakan biaya sama sekali. Luar biasa Tuhan. Mujizat sekali. Apapun yang terjadi berserah sama Tuhan. Luar biasanya, operasi berjalan tanggal 18 Agustus 2011 jam 9 pagi sampai jam 7 malam.  Kemudian pada jam 8 malam, karena mata saya sudah tidak bisa melihat,  saya sadar dan merasakan bahwa kaki dan tangan saya diikat dan ada selang.  Nah, waktu operasi besar ini saya masuk ICU, suami saya tidak boleh masuk. Tapi Tuhan dengar doa saya, kalau masih diijinkan saya hidup tidak mau di ICU lama-lama.  Mujizatnya, semua proses operasi tidak dikenakan biaya. Bahkan dalam sakit saya ini ada orang yang menggalang dana untuk membeli obat. Bukannya saya mengeluarkan uang, malah saya mendapat berkat pertolongan. Tuhan cukupkan pada waktuNya. Disitu saya tersadar oleh kata-kata gembala sidang saya, bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi hidup saya,” urai wanita yang memiliki motto hidup ‘Tetap semangat berjalan bersama dengan Tuhan. Apapun  yang terjadi jangan takut, karena ada Tuhan’.

Kakak Iparnya Bertobat Setelah Melihat Kesaksian Hidup. Meski hidup yang dijalani begitu berat, tapi Lily terus mengucap syukur atas pertolongan Tuhan hari lepas hari. Setelah Lily tidak bisa melihat, ia tetap bertanggungjawab mendampingi suami dan merawat kedua putrinya bersama sang mama Yulinda di sebuah rumah tak jauh dari stasiun kereta api Pesing, Jakarta Barat. “Suami  dari cici saya yang semula beragama non Kristen bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, setelah melihat perjalanan hidup saya. Tuhan tolong begitu luar biasa. Kata ipar saya,  dia mimpi seperti didatangi Tuhan. Dia juga mengaku, terima Tuhan Yesus, karena melihat sendiri kisah hidup saya. Bahwa pertolongan Tuhan luar biasa. Memang benar bahwa Tuhan punya rencana, dengan kondisi mata yang tidak melihat,” tukas pemilik ayat favorit Yeremia 29:11.

Sampai saat ini, Lily pun masih beriman dan berharap dapat menerima kesembuhan dan matanya dapat melihat kembali. Tetapi, jika Tuhan berkehendak lain, dan seumur hidupnya tidak bisa melihat, maka ia rindu dapat menjadi berkat bagi orang lain. “Jika ada orang yang sedang mengalami sakit seperti saya, atau apapun juga, janganlah gampang menyerah. Tetap bersandar kepada Tuhan dan punya semangat hidup. Walaupun sekarang kondisi mata saya tidak melihat, saya tahu bahwa sumber hidup saya adalah Tuhan Yesus. Karena hidup di bumi kan sementara. Jadi perbuatan apapun harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan,” pungkas Lily sembari menambahkan bahwa setiap tahun masih ada pemeriksaan MRI. Tapi  puji Tuhan sampai sekarang (sejak 2011), tidak ada perkembangan sel tumor. margianto/victorious edisi 792

Andy F Noya (Pembawa Acara Kick Andy): DOA DIJAWAB TUHAN & ALAMI MUJIZAT LUAR BIASA!

Andyy F Noya (Pembawa acara Kick Andy)

VICTORIOUSNEWS.COM,-Nama lengkapnya Andy Flores Noya. Ia adalah seorang wartawan dan presenter terkenal acara Kick Andy—sebuah acara yang edukatif karena memberikan banyak inspirasi kepada para penontonnya. Andy lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 November 1960. Andy F. Noya selama ini lebih dikenal sebagai wartawan cetak. Lebih dari lima belas tahun dia bergumul dengan dunia jurnalistik untuk media cetak.

Pertama kali terjun sebagai reporter ketika pada 1985 Andy membantu majalah Tempo untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kala itu pemuda berdarah Ambon, Jawa, dan Belanda ini masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta.
Karir Andy, demikian sapaannya, terbilang mulus dan sukses dalam bidang jurnalistik dan menjadi seorang wartawan yang handal. Bahkan pada tahun 2000, ia pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi Metro TV selama 3 tahun dan juga merangkap menjadi pemimpin redaksi di surat kabar Media Indonesia.

Namun meski pintar dalam dunia jurnalistik, Andy ternyata sempat goyah dalam imannya kepada Tuhan. Andy terlahir sebagai orang Kristen sejak kecil. “Saya anak Tuhan sejak lahir. Orangtua saya Kristen. Saya lahir dari keluarga miskin. Ibu saya tukang jahit. Ayah saya tukang membetulkan mesin Tik. Tapi saya yakin Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam hidup saya. Dan ketika saya berada di sini pun saya yakin Tuhan mempunyai rencana. Karena jujur saja, saya bersama istri dalam perjalanan liburan menuju Yogya. Kami juga singgah-singgah di beberapa kota. Ketika sampai di Solo, saya bilang kepada istri, kita harus natalan di Solo dan mencari gereja. Hari ini saya bisa beribadah di gereja ini karena lewat di Solo,” ujar Andy ketika menyampaikan kesaksiannya di sebuah gereja di Solo.

Andy mengaku, perjalanan keimanannya kepada Tuhan sempat goyah. Ketika dirinya masih remaja, kerap melihat prinsip-prinsip yang tidak cocok diajarkan di gereja. “Kebetulan saya bertetangga dengan berapa jemaat, saya melihat mereka kasar dengan istrinya. Bahkan saya menyaksikan sendiri mereka kerap memukul istrinya. Mulai dari situ saya bilang percuma bilang tentang kasih tetapi dalam perilaku sehari-hari tidak ada kasih. Dan saat itu saya mulai tidak percaya terhadap gereja untuk jangka waku yang lama,” tukas Andy.

Suatu hari ketika Andy melakukan perjalanan bersama mantan ketua umum partai golkar Aburizal Bakrie naik pesawat ke Usbekistan. “Dalam perjalanan cuaca buruk sekali. Pesawat kami seolah diombang-ambingkan di atas Maldive. Saya itu takut sekali kalau naik pesawat dalam kondisi cuaca buruk. Kemudian saya berdoa keras, Tuhan tolong pesawat ini jangan jatuh. Sungguh mati Tuhan, kalau tidak jatuh saya akan kembali ke gereja. Saking takutya, saya bilang Tuhan, saya tidak bohong, saya akan kembali ke gereja. Karena kalau bukan pertolongan Tuhan pesawat itu pasti jatuh karena cuaca buruk disertai hujan deras dan petir menyambar. Singkat cerita, kami selamat dan pesawat mendarat dengan sempurna. Kemudian ketika kembali ke Indonesia, saya bilang ke istri saya, minggu ini kita ke gereja ya. Istri saya kaget dan penasaran. Akhirnya saya cerita, sebenarnya pesawat yang ditumpangi itu nyaris jatuh. Saya cerita tanggal dan jamnya. Nah pada tanggal dan jam itu, rupanya istri saya dan anak bungsu kami itu tiba-tiba berdoa dan berlutut dan mendoakan saya. Mereka mendoakan agar ayah kembali ke gereja. Dan jam itu dan detik itu pesawat yang saya tumpangi pesawatnya bermasalah dengan cuaca. Dan saat itulah doanya dikabulkan dan sejak itu pulalah saya memutuskan untuk kembali ke gereja,” kenang Andy yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak ke gereja.

Pertolongan Tuhan bagi Andy juga terjadi ketika kakak perempuannya divonis dokter menderita kanker payudara stadium 4. “Suatu hari kakak saya minta diantar ke dokter spesialis kanker. Sudah lama dia menahan diri dan sebenarnya tahu kalau kena kanker. Dia pikir kalau disampaikan ke saya, kebetulan saya anak bungsu dari lima bersaudara dan selama ini saya menanggung seluruh keluarga saya yang gajinya sebagai wartawan. Kakak saya divonis dokter kanker payudara stadium 4. Kakak saya menangis. Saya bilang kita harus berobat ke rumah sakit dan berusaha. Akhirnya kami ke rumah sakit Dharmais dan dokter bilang kedua payudaranya harus dipotong, itulah jalan satu-satunya setelah itu harus dikemo sebagai usaha terakhir. Begitu lihat biayanya saya hampir pingsan. Karena hari ini gaji saya tidak cukup, bahkan saya sampai bingung harus pinjam siapa untuk menutupi biaya ini,” cerita Andy.

Malam itu ia sangat gelisah. Tidak bisa tidur. Pikirannya bekerja ekstra keras. Dari mana harus bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya pengobatan? Sampai jam tiga dini hari otaknya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi. “Jumlah biayanya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak. Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat.

Pagi dini hari itu, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental. Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.

Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara workshop itu sukses. Sahabat saya tak henti-henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul-betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya. Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu. Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis!

Mata saya berkaca-kaca. TUHAN, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-MU, Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib! Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan. Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam menengok kakak di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit, Surya Paloh memutuskan menanggung semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. TUHAN Maha Besar!,” papar Andy mengakhiri kesaksiannya. margianto/victorious edisi 866

KISAH PERTOBATAN REO PANGGABEAN AKIBAT TERSENTUH KOTBAH SEORANG PENDETA

Pdt. Reo Panggabean

VICTORIOUSNEWS.COM-Pria bernama lengkap Reo Benyamin Panggabean ini kelahiran 16 Juni 1966.  Ia adalah anak kelima dari lima bersaudara, dari pasangan Muller Panggabean (Ayah) dan Helena Hutabarat (ibu). Reo telah menikah dengan wanita dambaannya bernama Dini Dieny Djandam, asal Kalimantan Tengah dan dikaruniai dua orang putra, masing-masing; Zefanya Kaleluni Panggabean (Zefa) dan Nehemia Janrah Panggabean (Nemi).

Kesaksian Reo, berawal saat hadir dalam Ibadah Raya GBI REM di Atrium Senen (1998). Kala itu, ada seorang hamba Tuhan yang berkhotbah dan mengatakan satu kalimat  ‘bayarlah nazarmu’ .  Kalimat itulah yang tergiang dalam telinga Reo dan menjadi “titik balik” dari seluruh kehidupan yang selama itu sudah dijalankan. “Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya sesekali suka datang dalam ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Istora Senayan (Jakarta Selatan). Kegiatan tersebut membuat diri saya berkomitmen ingin menjadi seorang pendeta. Alasannya waktu itu sederhana (karena masih remaja yang emosinya belum stabil), enak ya jadi pendeta, bisa ngomong di depan banyak orang, bisa marahin orang untuk bilang ‘bertobatlah’ dan lain sebagainya hahahaha,” katanya sembari tertawa.

“Kalau bertobat yang namanya merasakan jamahan Tuhan adalah saat saya ikut satu acara retreat remaja di Jogjakarta. Di situlah sesungguhnya cinta mula-mula saya. Dengan cinta itulah, saya bahkan berkata kepada ibu saya kalau saya mau jadi pendeta. Mendengar hal itu, ibu saya tertawa. Saat ini, ibu saya pasti menyadari bahwa tertawanya seperti Sara tertawa waktu dikatakan akan mengandung hahahaha,” urainya kembali disambung tawa.

Bagaimana liku-liku yang akhirnya menghantarkan pada pelayanan yang full time? “Pelayanan diri saya bukan hanya sepenuh waktu, tapi juga sepenuh hati. Kesungguhan itu saya wujudkan dengan membangun ‘Oikumene Ministry Jakarta’ yang diawali saat menempuh pendidikan teologia di STT Ekklesia Jakarta (Sinode GSJA) di Gedung Kenanga pada tahun 2003 pasca pernikahan dengan Dini Dieny Djandam yang dilakukan pada 03.03.03 (3 Maret 2003) di GKI Kwitang (Jakarta Pusat),” urainya.

“Sejak menempuh pendidikkan di STT, saya berjanji akan bayar harga di dalam pelayanan yang saya jalani. Pikir saya, berapapun harga yang akan saya keluarkan dalam pelayanan tidak akan pernah dapat membayar apa yang sudah Tuhan Yesus lakukan untuk membayar lunas dosa saya,” tandasnya.

Oikumene Ministry Jakarta menjadi wadah bagi siapa saja dan bagi gereja mana saja yang mau bergabung. Yang pasti siapa saja yang mau bergabung mempunyai hati melayani (misi) dan berani bayar untuk semua keperluannya. “Puji Tuhan Yesus hingga saat ini kami telah melakukan beberapa pelayanan ke beberapa daerah di Indonesia dan luar negeri. Saya menikmati pelayanan ini semua karena, sahabat-sahabat yang mau bergabung mempunyai hati yang sama walaupun mereka berasal dari gereja atau denominasi yang berbeda. Coba bayangin, orang Katolik dan Protestan yang ibadahnya penuh dengan ketenangan bergabung dengan orang Karismatik atau Pantekosta apa jadinya? Mungkin di tempat lain susah, atau mungkin satu gereja dengan gereja yang lain tidak membuka diri. Lihat waktu mereka ada di Oikumene Ministry Jakarta (singkat OMJ) mereka bisa melayani bersama dan punya tujuan yang sama. Haleluya!” kata Reo antusias.

Ditambahkan, sudah saatnya gereja-gereja membuktikan dirinya bahwa mereka benar-benar satu tubuh. Jangan hanya slogan saja! Dengan sedikit senyum dan membagi lesung pipinya. “Jika berbicara kepemimpinan, saya ingat seperti sudah melekat. Sedari kecil, saya selalu dapat mempengaruhi orang bahkan membawa orang ke arah yang saya mau. Bukan itu saja. Terkadang dalam kumpulan ketika harus ambil keputusan akhir tidak sedikit keputusan saya yang menentukan. Ada satu peristiwa yang saya tidak mungkin bisa terlupakan adalah saat saya memimpin adik-adik di STIE Perbanas saat gerakan reformasi penurunan Soeharto Soeharto (8 Juni 1921–27 Januari 2008, Presiden Indonesia kedua periode 12 Maret 1967–21 Mei 1998) pada Mei 1998. Padahal, saat itu, saya sudah menjadi alumni. Sebelum kuliah teologia, saya berkuliah di STIE Perbanas (1985) dan lulus sebagai Sarjana Ekonomi,” ujarnya.

“Selama kuliah, saya merasakan sangat memilik pengaruh di dalam pergaulan. Bahkan, saya bisa bergaul dengan senior yang lima atau enam tahun di atas saya begitupun sebaliknya. Saya begitu berpengaruh kepada adik tingkat saya. Terbukti, dengan kepercayaan mereka meminta saya memimpin rombongan menuju gedung MPR/DPR. Peristiwa 1998 juga kunci bagi kehidupan saya. Setelah Pak Harto lengser saya dihianati oleh adik-adik saya yang menurut saya mereka meninggalkan saya karena kepentingan yang berbeda. Ya, perjuangan yang berbeda. Bagi saya, saat Pak Harto turun ya selesai. Tapi, bagi banyak orang inilah kesempatan meniti karier di bidang politik dengan cara apapun,” katanya.

“Saya ingat waktu itu, di tengah kesendirian, saya mulai berdoa. Menurut saya, berdoanya sangat konyol. Saya minta Tuhan kasih jalan agar saya tidak habis dan menunjukkan kepada mereka bahwa saya benar. Dengan cara yang menurut saya aneh, saya mulai berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak terpikir akan kenal dengan mereka. Dalam kampanye pemilu paska lengsernya Pak Harto, saya menemani Dr (HC) Hj Megawati Soekarnoputri  (Presiden ke-5 Indonesia periode 23 Juli 2001–20 Oktober 2004, Wakil Presiden Indonesia ke-8 periode 20 Oktober 1999–23 Juli 2001, dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sejak 1999) di Jambi. Kalau mas bisa dapat dokumentasi dari televisi atau media-media cetak mana saja pasti ada wajah saya. Saya puas dan sangat puas. Meski bukan anggota partai dan tanpa kepentingan politik apapun saya mengerjakan tugas ini dan menunjukkan kepada siapapun bahwa saya belum habis hahahaha… banyak loh yang mau minta kerjaan apa aja saat mereka melihat saya bareng ibu Mega dan Alm Dr (HC) H Muhammad Taufiq Kiemas (31 Desember 1942–8 Juni 2013, Ketua Majelis Permusyawaratan ke-13 periode 1 Oktober 2009–8 Juni 2013) berada di Jambi. Apa lagi para pemborong hahahaha.  Setelah ibu Mega jadi presiden, saya cabut. Saya senang aaja kalau bisa kasih tahu sama para ‘bajing loncat politik’ bahwa Tuhan bela saya dan semakin tegas bahwa saya harus tinggalkan semua ini untuk balik sama panggilan yang akhirnya tergenapi dalam satu ibadah yang sudah saya sebut di atas,” jelasnya.

“Kini, pekerjaan saya hanya pelayanan saja. Khotbah hari Minggu, khotbah di kantor, kampus, dan dimana saja. Terbukti, Tuhan Yesus luar biasa memelihara saya tatkala saya sungguh-sungguh mau melayani Dia. Begini saja sobat Victorious, kalau diceritain semua tidak akan ada habisnya. Jadi, pembaca bisa melihat sepak terjang saya di facebook atau instagram di Reo B. Panggabean,” ucap Pdt Reo.

Saat ini, ‘Penre’ singkatan dari Pendeta Reo, begitu biasa disapa oleh para ibu atau oma yang aktif di Persekutuan Doa Regatta (PDR). PDR dibangun oleh Pdt Oke Supit SH MH MBA (71 tahun, kelahiran 10 Oktober 1944) dan Rae Sita Supit (1 Juni 1945-20 Mei 2015) serta Ibu Minarni. Ketiga nama disebut merupakan warga Aparteman Regatta, Pantai Mutiara (Pluit, Jakarta Utara).  margianto/tabloid victorious edisi 842

Pdt. Dr.Yuyung Nehemia,.M.Div :Anak Pertama Saya Lahir Cacat, Tapi Sembuh Berkat Doa

Pdt. Yuyung Nehemia

Nama aslinya adalah Lim Yung Fang. Ayung demikian sapaannya, adalah anak kedua dari pasangan  Lim Nie Yan dan Tan Sioe Lian. Sejak kecil, ia dididik orangtuanya dengan dua karakter yang berbeda. Sang Papa (keturunan Tiongkok asli) memiliki karakter keras, tegas, otoriter dan galak. Sebaliknya, sang Mama justru berkarakter lembut, sabar dan mengayomi anak-anaknya. Maklum, waktu itu sang Papa belum mengenal Juruselamat, sedangkan Mamanya adalah seorang guru dan taat beribadah kepada Tuhan.

Dalam hal watak dan karakter, rupanya Ayung mewarisi sifat-sifat yang dimiliki Mamanya. Ayung kecil pun dididik untuk menjadi anak sekolah minggu yang baik, diajarkan untuk setia dan taat kepada Tuhan. “Sebetulnya orangtua kami cukup baik dan harmonis. Hanya saja, Papa saya punya kebiasaan buruk, yakni suka main judi. Bahkan rumah kami di Kecamatan Banjaran pun sering dipakai untuk berjudi.Ibu saya itu orang yang lembut dan sabar. Nah, sejak kecil saya dididik oleh ibu saya untuk menjadi anak sekolah minggu yang baik. Ayah saya pun tak pernah melarang untuk ikut ibadah sekolah minggu. Sehingga saya menjadi sangat rajin ikut sekolah minggu,” kenang Hamba Tuhan kelahiran Cirebon, 5 April 1946 ini mengisahkan masa kecilnya.

                Meskipun saat itu ia dibesarkan dalam lingkungan desa yang marak dengan pergaulan buruk; seperti, perjudian, perokok, miras, dan sebagainya, tak membuatnya terpengaruh. Justru Ayung  merasakan bahwa “pondasi iman” yang terpatri dalam dirinya melalui sekolah minggu sangat kuat dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal buruk di sekitarnya.

                Berkat doa dan didikan kerohanian dari sang Mama, Ayung bertumbuh menjadi anak yang cerdas dan pintar ketika belajar di bangku Sekolah Dasar di Banjaran Adiwerna. Selepas SD, Ayung kemudian melanjutkan SMP di Sekolah Tionghoa (Tiong Hoa Hwe Kuan/THHK) di kota Tegal hingga lulus. “Setelah lulus saya melanjutkan SMA Tionghoa (THHK) di Jalan Setiabudi kota Tegal. Karena jarak sekolah dengan rumah cukup jauh, saya diizinkan indekos di Tegal. Daripada tiap hari pulang pergi naik delman, ya itung-itung menghemat waktu dan ongkos. Jarak dari tempat kos ke sekolah dekat sekali dan bisa ditempuh dengan jalan kaki,” cerita Pdt.Yuyung Nehemia yang kini dikarunia 3 anak.

Masa remaja Ayung memang tidak seperti teman-teman sebayanya. Jika teman seusianya saat itu menghabiskan waktu untuk bermain, tapi bagi Ayung tidaklah demikian. Ayung lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membantu orangtua, belajar dan beribadah. Bukan itu saja, Ayung pun bertumbuh menjadi anak yang baik dan alim serta seolah tak pedulikan masa kanak-kanaknya “terbelenggu” dengan terjalnya kehidupan saat itu. Bahkan di usianya yang masih muda, Ayung gemar  sekali mendengarkan kaset lagu rohani, renungan kotbah serta buku-buku yang dapat memberkati kerohaniannya sebagai orang Kristen. Beberapa tokoh rohani dalam buku yang pernah dibacanya—telah  mengispirasi serta membentuk karakternya adalah David Living Stone, tokoh dari Shanghai, John Sung (julukan Obor Tuhan di Asia) dan Rev. Billy Graham. “Tokoh tersebut itulah yang mempengaruhi hidup saya untuk terpanggil menjadi hamba Tuhan. Buku-buku beliau yang saya baca itu sangat membentuk karakter saya. Mulai dari remaja itu saya sudah terpanggil untuk membantu pelayanan mengajar anak-anak sekolah minggu di GBI Adiwerna,”tukasnya.

Pdt. Yuyung bersama istri

Dalam hal kerohanian, Ayung pun makin bertumbuh. Kisah pertobatan totalnya berawal ketika masih duduk di bangku SMA di THHK Tegal dalam usia 17 tahun. Saat itu, ia mengikuti kebaktian remaja di Jl. Kartini Tegal di rumah Pdt. D.E Zakaria (ONG LING KOK). Hamba Tuhan ini adalah wakilnya Pdt. Alm. HL Senduk  (pendiri GBI) saat itu. “Waktu ikut ibadah remaja itu, Pdt. Zakaria ini menyampaikan kotbah selama 3 minggu berturut dengan tema tantangan melayani Tuhan. Antara lain panggilan Tuhan kepada Abraham; panggilan Tuhan kepada Yesaya; dan panggilan Tuhan kepada Saul. Dari 18 orang anak remaja, hanya saya yang meresponi kotbah tersebut. Dan panggilan Tuhan kepada saya pun begitu kuat kepada saya. Roh Kudus menggerakkan hati saya secara istimewa, akhirnya saya mengangkat tangan, memberikan diri sepenuhnya dan  memutuskan untuk bertobat. Kemudian saya dibaptis oleh Pdt. Zakaria di Tegal pada tanggal 12 Juli 1964,”paparnya.

Bagi setiap orang yang telah melangsungkan pernikahan, pasti akan merindukan seorang anak yang manis dari Tuhan. Begitu pula yang dirasakan oleh Pdt. Yuyung dan sang istri, ketika dikaruniai anak perempuan pertama. Perasaan sukacita pun tak terbendung ketika sang buah hati lahir. Namun sukacita itu hanya sesaat, karena sang anak mengalami cacat kaki. “Pada tahun 1974  anak saya lahir pertama saya lahir perempuan.  Tapi sampai usia 18 bulan, anak saya itu tidak bisa berdiri, apalagi berjalan. Karena kakinya panjang sebelah.  Satu kurus, satu gemuk dan tidak ada cekungan kakinya (flat). Akhirnya saya cemas. Kemudian kami memeriksakan ke dokter ahli tulang. Dokter itu kemudian menyarankan agar anak saya dioperasi. Kenapa harus dioperasi? Karena tulangnya itu sudah keluar dari mangkoknya. Tapi masalahnya waktu itu ada 2 pertama, kami tidak punya uang. Dan kedua, kami cemas sebab operasi itu dapat dilaksanakan setelah 1 setengah tahun.  Singkat cerita, tiap malam kami berdoa. Setiap malam kami menggendong anak saya dan menumpang tangan tiap hari. Dengan isi doanya, ‘Tuhan kalau boleh adakan mujizat, supaya anak ini bisa berjalan. Karena bayangan buruk itu ada pada kami. Ini anak perempuan. Tapi kalau toh anak ini cacat, tolong berikan kami kekuatan untuk bisa menghadapinya. Sampai pada waktunya, Tuhan punya waktu yang tepat. Suatu hari saya melihat anak itu kakinya tumbuh. Kami tidak tahu itu terjadinya kapan. Tapi kaki itu bisa menjadi tumbuh. Yang kecil menjadi besar dan yang terlalu besar normal. Yang pendek menjadi panjang. Semua normal kembali. Tidak mempunyai cekungan, bisa timbul cekungan. Sejak itu bisa berdiri dan berjalan.itu mujizat yang besar sekali pertama kami terima,” ungkap Ayah dari 3 anak (Alfa Emilia Nehemia, Charles Alvin Nehemia  dan  Lois Teresa Nehemia). margianto/victorious edisi 708

Johny Pardede: LEWAT DOA, DISEMBUHKAN TUHAN DARI PENYAKIT KANKER STADIUM 3

 

Ev. Johny Pardede ketika menyampaikan kesaksian hidupnya

Johny Pardede. Demikian nama lengkap Pria kelahiran Medan, 24 April 1954. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan orangtua (ibu) Hermina Napitupulu dan (ayah) Tumpal Dorianus Pardede, yang dikenal dengan nama TD Pardede. Almarhum ayahnya adalah seorang pengusaha di masa pemerintahan Soekarno, hingga sempat menjadi Menteri Berdikari. TD Pardede dikenal sebagai pengusaha dan pernah menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia pada eranya. Johny sendiri juga mengikuti jejak sang ayah menjadi pengusaha. Dimulai dari mengasuh sebuah klub sepakbola—dulu dikenal sebagai pemilik klub sepakbola “Harimau Tapanuli”.

Sebagai anak pengusaha  Batak yang kaya, dari kecil sampai duduk di bangku SMP Johny menikmati hidup di Jerman. Di Negara inilah, hidupnya benar-benar dalam zona nyaman. Bahkan menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan sesaat. Karakter dan perilakunya pun banyak dipengaruhi oleh pergaulan bebas di Jerman. Sehingga ketika kembali ke tanah air, kebiasaan buruk itu ternyata semakin tak karuan, bahkan bisa dikatakan hidupnya bisa disebut makin jahat.

Namun, setelah sang Ibu dan sang ayah dipanggil  ke rumah Bapa di Sorga, 18 November 1991, membuat dirinya bertobat. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Di akhir tahun 1991, momentum yang membuat dia meninggalkan hidup yang penuh kejahatan. Yang dulu nyaman hanya memikirkan dirinya, kini ia memikirkan bagaimana menjadi pemberita firman Tuhan agar banyak jiwa diselamatkan. Sejak menetapkan diri menjadi pemberita firman Tuhan, dia senantiasa antusias mengabarkan Injil. Dimanapun, kapanpun  ia berada, bahkan, setiap hari ia bersemangat melayani dan menyampaikan Firman Tuhan hingga ke seluruh penjuru dunia.

 “Almarhum orangtua saya semasa hidupnya memberi pesan kepada anak-anaknya bahwa sepertiga harta dari keluarga haruslah dipakai untuk pekerjaan Tuhan,” ujarnya. Mengingat pesan dari almarhum ayahandanya, Johny memutuskan untuk menjadi seorang penginjil.

Melalui pesan tersebut, Johny Pardede dipanggil Tuhan untuk melakukan pelayanan penginjilan ke berbagai daerah di Indonesia dan berbagai Negara. Dengan rendah hati, ia memberi dirinya untuk dibentuk, diproses menjadi bejana yang indah dalam melayani Tuhan.

Sejak menyerahkan hidupnya pada tuntunan Tuhan, suami dari Dr. Sri Theresia Bangun ini bertekun dalam memberitakan Injil untuk menggenapi firman Tuhan yang terambil dalam kitab Matius 28:19-20) “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Sebagai pengusaha, ia tetap memprioritaskan pelayanan Firman Tuhan. Bahkan melalui pelayanannya, banyak diapresiasi oleh para hamba Tuhan dan para bisnisman. Tak heran dia sering diundang menjadi pembicara di berbagai daerah maupun KKR di sejumlah Negara.

Sebagai pembicara, kesaksian hidupnya yang luar biasa dan sangat memberkati semua pengusaha yang hadir. Bahkan, saat altar call banyak yang maju ke depan untuk didoakan, dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruslamat. “Mereka didoakan untuk mendapat jamahan dan lawatan Tuhan, didoakan untuk kesembuhan dan kelepasan. Luar biasa Roh Kudus melawat mereka,” ujar ayah dari 3 anak (Herna Pardede, Jonathan Pardede dan Amos Pardede) yang terkenal pengusaha perhotelan.

Jika dahulu dia selalu mengggap kekayaan adalah yang terpenting, kini menemukan yang lebih penting, memikul beban, memberitakan firman Tuhan sebagai yang termulia. Bahkan, di dalam khotbahnya, Johny sering mengisahkan kesaksian hidupnya, berbagi pengalamannya sebagai pengusaha  sebelum dan sesudah bertobat.

Disembuhkan Tuhan dari Penyakit Kanker

            Meski sudah menjadi hamba Tuhan, bukan berarti Johny masuk dalam zona nyaman dari segala persoalan. Terkadang Tuhan izinkan persoalan, sakit penyakit itu agar keimanan kita semakin kuat kepada Tuhan Yesus. Beberapa waktu lalu, melalui sebuah pemeriksaan medis, Johny divonis mengidap penyakit kanker yang sudah sampai pada stadium tiga. Tetapi sebagai umat percaya, dia tak henti-hentinya berdoa kepada agar Tuhan memberikan kesembuhan. “Saya percaya penyakit kanker yang saya alami itu diizinkan Tuhan. Saya mengalami kanker sudah stadium 3. Penyakit itu bisa datang karena beberapa hal; pertama, karena dosa ( Roma 3:23). Kedua, karena tidak disiplin (Maz 107:17). Dan ketiga, karena ujian (1 Pet.4:12-13).  Untuk melawan penyakit kanker itu  harus mengandalkan Tuhan, ibadah yang sungguh-sungguh dan menyerahkan hidup kita hanya kepada Tuhan Yesus,” tutur Johny yang menderita kanker di seputar leher dan susah untuk menelan. Bahkan makan dan minumpun harus menggunakan selang.

                Setelah diberikan kesembuhan, Johny semakin berapi-api dalam melayani Tuhan. Bahkan undangan pelayanan KKR ke berbagai daerah maupun berbagai Negara terus mengalir. “Saya bersyukur kepada Tuhan, bisa sembuh dari penyakit kanker. Itu semata-mata karya Tuhan Yesus yang menyembuhkan saya. Itu semua karena kuasa Tuhan Yesus. Jika anda memiliki penyakit kanker atau sakit apapun sampaikan keluhanmu hanya kepada Tuhan Yesus saja. Sebab Tuhan pasti memberikan kesembuhan. Saya bagikan tips melawan kanker juga melalui makanan. Jangan makan dan minum makanan (junk food) dan minuman yang memakai bahan pengawet, daging yang dibakar atau dipanggang (gosong) itu semua bisa memicu penyakit kanker,” pungkas Johny ketika menyampaikan kesaksian sekaligus firman Tuhan di hotel John’s Pardede, Cikini beberapa waktu lalu. Margianto (tab.Victorious edisi 848)