Ketok Palu Hakim PN Makassar Tolak Seluruh Gugatan Pra Peradilan Marthen Napang Terhadap Polrestabes Makassar; Iqbal, SH : Putusan Hakim Sudah Tepat!

Ketok Palu Hakim PN Makassar Tolak Seluruh Gugatan Pra Peradilan Marthen Napang Terhadap Polrestabes Makassar; Iqbal, SH : Putusan Hakim Sudah Tepat!

Makassar, Victoriousnews.com,– Tok..Tok..Tok! “Mengadili, menolak permohonan pemohon seluruhnya dan membebankan biaya perkara kepada pemohon,” ujar Hakim Dr. Zulkifli,SH, MH saat ketok palu dan membacakan putusan pra peradilan di Pengadilan Negeri Makassar, Senin (13/4/20) pukul 14.30 Wita.

Marthen Napang (batik coklat) duduk di kursi depan sebelah kiri saat menghadiri persidangan pra peradilan di PN Makassar, Senin (13/4).

Suasana persidangan tampak tenang ketika Hakim tunggal Dr. Zulkifli, SH, MH membacakan secara cepat putusan sidang praperadilan dengan nomor perkara : 7/ pid.pra / 2020/ PN. Makassar, dengan pemohon Marthen Napang melawan Kapolrestabes Makassar yang diwakili oleh personel Bidang Hukum Polda Sulawesi Selatan dan Subbagkum Polrestabes Makassar.
Marthen Napang yang juga salah satu dosen Universitas Hassanudin selaku pemohon menggugat Polrestabes Makassar atas terbitnya Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) kasus dugaan pencemaran nama baik seseorang yang dilaporkan pemohon tersebut.
Dalam pembacaan putusan yang memakan waktu sekitar 30 menit, Hakim Dr. Zulkifli SH, MH menolak gugatan itu dengan pertimbangan, bahwa, penyidik Polrestabes Makassar menghentikan kasus tersebut dianggap sudah sesuai dengan prosedur dan mekanisme hukum yang berlaku.
Setelah mendengar putusan kalah dalam pra peradilan tersebut, Marthen Napang tampak lesu dan kecewa, karena dirinya tidak diberikan waktu untuk memberikan tambahan data terkait gugatannya tersebut. “Saya merasa tidak diberi kesempatan untuk mengajukan data tambahan seperti yang ditulis melalui berita online terkait pencemaran nama baik,” tutur Marthen kepada wartawan seraya memberikan kertas berjudul kesimpulan pemohon gugatan pra peradilan.

Kombes Pol. Hambali saat memberikan keterangan kepada Wartawan Usai Sidang Pra peradilan.

Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Hambali selaku Ketua Tim Kuasa Hukum Polrestabes Makassar, kepada wartawan, membenarkan hasil putusan gugatan praperadilan Pengadilan Negeri Makassar. Menurut Hambali, permohanan praperadilan Hakim dalam pertimbangan menyebutkan bahwa mekanisme dan prosedur yang diambil oleh penyidik dalam menghentikan proses penyelidikan dan penyidikan ini sudah dilaksanakan sesuai aturan. Lanjut Hambali, mulai dari tahap awal penyelidikan dan penyidikan dan gelar perkara kemudian diputuskan bahwa perkara yang disidik dihentikan dengan alasan tidak cukup bukti yang dilaksanakan penyidik. Itu sudah prosedur dan mekanisme. Hakim menilai seperti itu. “Keputusan penyidik untuk menghentikan perkara tersebut sudah sesuai. Perkara yang dihentikan itu dugaan pencemaran nama baik pasal 310 ayat 2 dengan bunyi pencemaran nama baik dengan tulisan. Jadi unsur yang utama itu harus disebarkan kepada umum. Tapi unsur itu tidak ditemukan dalam perkara ini,” tukas Hambali yang juga menjabat Kabid Binkum Polda Sulsel ini bersemangat.

Iqbal, SH (kemeja biru-tengah) berpose bersama usai persidangan.

Senada dengan Kombes Pol Hambali, Iqbal, SH selaku kuasa hukum Dr. John Palinggi, MBA, menilai, bahwa putusan Hakim Pra peradilan itu sudah tepat. “Karena prosedur terbitnya SP3, terkait laporan pencemaran nama baik secara tertulis pasal 310 ayat 2 KUHP adalah melalui mekanisme yang legal berdasarkan peraturan Kapolri no.6 tahun 2019, dimana dilakukan melalui forum gelar perkara khusus, dan hasil dari gelar perkara khusus tersebut, merekomendasikan bahwa laporan polisi no LP/1994/IX/2017/Polda Sulsel/Restabes Makassar, tanggal 29 September 2017, harus dihentikan karena pasal yang dipersangkakan tidak terpenuhi unsur pidana pencemaran nama baik dengan tulisan, karena surat terlapor tidak disiarkan, tidak ditempelkan dimuka umum,” tulis Iqbal dalam keterangan tertulisnya melalui whatsapp, Selasa, (14/4/20) malam. SM.

Dalam Ratas Presiden Jokowi Berpesan: Jika Ada Pasien Positif, Tetangga Harus Menolong, Jangan Dikucilkan!

JAKARTA,Victoriousnews.com – Presiden Joko Widodo kembali menghimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif virus corona (Covid-19). Semestinya, masyarakat dapat saling bergotong royong untuk membantunya.”Tolong diingatkan bahwa gotong royong, partisipasi, saling membantu bisa ditumbuhkan dari bawah, ini penting sekali,” Ujar Presiden Jokowi dalam rapat terbatas yang disiarkan lewat YouTube Sekretariat Presiden, Senin (13/4/2020).
Presiden Jokowi mengaku senang ketika melihat aksi gotong royong dan kerukunan masyarakat di Cimahi, Bandung, Jawa Barat di tengah pandemi corona.”Jadi yang positif diisolasi, tapi tetangganya membantu. Hal-hal seperti ini, kegotongroyongan seperti ini yang harus kita terus gaungkan. Sehingga benar-benar kalau ada isolasi mandiri, kalau ada pasien positif yang ada di sebuah kampung, betul-betul bukan malah dikucilkan tapi kanan-kirinya bisa tolong menolong,” pungkas Presiden Jokowi. SM

GERKINDO Berbagi Kasih, Pdt. Yerry Tawalujan: Kami Murni Memberi Untuk Meringankan Beban Masyarakat Yang Terdampak Badai Corona

Jakarta,Victoriousnews.com,- Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menggelar aksi kepedulian kepada sesama untuk meringankan beban masyarakat yang saat ini terdampak oleh badai virus corona.
Gerakan peduli kasih Gerkindo yang dipimpin oleh Pdt. Yerry Tawalujan, M.Th sebagai Ketua Umum juga memberikan bantuan paket Tribako (beras 5 kg, 10 Mie Instan, 1 liter minyak goreng dan 1 masker) kepada sejumlah Jurnalis Kristiani (Minggu, 5 April 2020) di kawasan Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur. “Kondisi masyarakat kita saat ini, menderita secara ekonomi sebenarnya, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah, yang bekerja dari rumah, tapi dalam tanda petik “dirumahkan”, yaitu mereka pekerja harian, dan pekerja lepas, atau pekerja sektor informal, UMKM, banyak restoran yang kalau tidak online, maka pasti mereka tutup, tidak ada pelanggannya. Ditengah situasi seperti ini, perlu ditingkatkan social solidarity, solidaritas sosial, jangan justru sosialnya itu diperenggang, yang diperenggang jarak, dan physical distancing, tapi solidaritas harus dipertinggi,” tutur Pdt. Yerry kepada wartawan Kristiani.


Lanjut Pdt. Yerry, Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO), mengambil inisiatif untuk berbagi kepada masyarakat. “Kami sebenarnya tidak punya banyak, tetapi bukan berarti kami tidak boleh memberi, tapi justru kami ingin mengajak semua masyarakat, supaya membiasakan diri memberikan. Kita punya masker 3, kasih 1, itu sudah memberi, kita punya 5 kg beras dirumah, kasih 1 kg kepada tetangga kita, itu sudah memberi, supaya tercipta gotong-royong, tidak mementingkan diri sendiri, apalagi sebagai anak Tuhan, harus membiasakan memberi, dan saat tepat untuk memberi, ya sekarang ini, tanpa embel-embel” tandas Yerry.
“Kami memberi ini, tidak ada pesan politik, tidak ada sama sekali, tidak mengomong itu, murni kemanusiaan, murni untuk menyatakan kepedulian kepada sesama. Dalam 5 hari terakhir, satu minggu terakhir khususnya, kami GERKINDO sudah membagikan 4000 sampai 5000 masker kepada driver ojek online, car driver online, juga dibagikan nasi kotak, tetapi untuk keluarga yang kami ketahui sangat membutuhkan, kami kasi paket sembako, terdiri dari 5 kg beras, 10 bungkus mie instan, dan 1 liter minyak goreng, tidak banyak memang, tetapi itu ungkapan kepedulian, supaya dapat diikuti oleh orang-orang lain yang lebih berkecukupan” terang Pdt. Yerry.
Yerry pun berharap, agar masyarakat jangan hanya mengkritik pemerintah, apalagi nyinyir kepada pemerintah. “Jangan hanya mempertanyakan pemerintah sudah lakukan apa? Justru kita tanyakan pada diri sendiri, apa yang sudah saya lakukan untuk menolong orang lain dalam situasi seperti ini” pungkasnya. SM

Klarifikasi Pdt.Satrya (Ketua BPD Jabar GBI) tentang penyebaran virus corona di Bandung

Jakarta,Victoriousnews.com,-Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil merilis angka terbaru warga Bandung positif terjangkit virus Corona atau Covid-19, pasca mengikuti acara keagamaan di Gereja Bethel Indonesia (GBI), Lembang. Menurutnya, dari 637 jemaah yang dites rapid, 35 persennya dinyatakan positif.
“Ini yang kami namakan klaster Bandung, 637 jemaah gereja dites, 226 dinyatakan positif, atau 35 persen,” kata Ridwan Kamil kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam rapat telekonferens, Jumat (3/4/2020).
Ridwan Kamil menjelaskan, ada hasil rapid test yang baginya mengagetkan. Hal itu terkait Jemaat dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Bandung. Menurutnya, dari 637 orang yang dites, terdapat 35 persen orang yang positif COVID-19. “Dites 637 jemaat Gereja Bethel yang dites, 226-nya positif atau 35 persen,” kata Ridwan Kamil. Ini merupakan salah satu dari empat klaster penyebaran COVID-19 di Jawa Barat.
Klaster ini disebut Ridwan Kamil sebagai: klaster seminar keagamaan di Lembang. “Mereka berkumpul, pendetanya melakukan sentuhan fisik. Pendetanya sudah meninggal dunia karena COVID-19,” tuturnya. Pendeta yang dimaksud Ridwan Kamil ialah, AN. Usianya 70 tahun. Dia mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3/2020) lalu, dengan keluhan sesak napas. Pendeta tersebut tak terselamatkan.
Dia tutup usia pada, Sabtu 21 Maret 2020, pukul 9.40 pagi. Istri pendeta tersebut, mengalami gejala sama juga sempat dirawat RSHS, dan ia pun tak terselamatkan. Perempuan 62 tahun itu meninggal dunia pada, Jumat 27 Maret pukul 14.15.

Menjawab pemberitaan tersebut, maka pihak Badan Pengurus Daerah (BPD) Jawa Barat, melalui Ketua BPD Jawa Barat Pdt. Satrya menanggapi dan mengirimkan rilisnya ke berbagai media, Minggu (5/04/20), yang diedarkan langsung oleh Ketua Umum BPH Sinode GBI Pdt. Rubin Adi.
Dengan rilis yang disampaikan dimaksud memberikan penjelasan tentang pemberitaan yang berkaitan berita GBI di Bandung dapat dipahami secara lebih akurat dan tepat oleh jemaat GBI sendiri maupun Masyarakat Indonesia secara luas
Pdt. Satrya menegaskan yang , Pertama, Bahwa dalam pertemuan Pastors’ Meeting tanggal 3 – 5 Maret 2020 adalah program kerja internal GBI Sukawarna yang sudah dijadwalkan sejak lama, dan Pihak GBI Sukawarna juga telah mengkonfirmasikan bahwa peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 170 peserta, dengan jumlah 150 Orang mengikuti acara secara penuh dan 20 Orang lain karena alasan pekerjaan dan lainnya harus berangkat bolak – balik ke kota Bandung.
Kedua, Bahwa acara ini dilaksanakan sebelum adanya himbauan Social Distancing, karena baru tanggal 2 Maret 2020 Presiden RI mengumumkan adanya 2 orang yang terinfeksi Covid-19 di Depok dan itu adalah 1 hari sebelum pelaksanaan acara di Lembang .
Lalu ketiga, tidak terpikirkan adanya resiko paparan virus tersebut berkenaan dengan pertemuan yang melibatkan banyak orang .
Keempat, baru sekitar tanggal 5 Maret 2020 diumumkan agar melakukan Social Distancing.
Selanjutnya dari kebijakan mencegah pandemik corona ini kemudian disusul dengan,
Himbauan Presiden pada hari Minggu siang, tanggal 15 Maret 2020, untuk bekerja dari rumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah.
Dan berangkat dari himbauan yang disampaikan presiden, maka BPH GBI pada hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020, menghimbau kepada seluruh gembala/gereja lokal yang beranda dalam naungan Sinode GBI untuk menaati himbauan pemerintah tersebut dan mengalihkan ibadah di rumah/keluarga sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Sedangkan di wilayah Bandung sendiri kesepakatan Bersama Gereja-gereja di Bandung pada tanggal 19 Maret 2020 untuk beribadah di rumah mulai tanggal 21/22 Maret 2020.
Dan Bersamaan dengan maklumat Kapolri tanggal 19 Maret 2020 tentang kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan virus Corona (Covid-19).
dalam pemantauan Sementara pihak pengurus BPD GBI Jawa Barat sampai dengan tanggal 15 Maret 2020, GBI dan seluruh umat beragama lainnya masih melaksanakan ibadah sebagaimana biasanya.
Maka dengan ini pihak GBI memastikan tidak ada maksud membangkang seruan pemerintah, karena terbukti sejak tanggal 22 Maret 2020 sampai saat ini seluruh ibadah Minggu yang dilakukan di gereja – gereja lokal GBI dilaksanakan di rumah, demikian juga halnya dengan kegiatan pertemuan lainnya untuk sementara dilakukan secara online/daring.
Dan hal ini bukan hanya dilakukan di kota Bandung dan Jawa Barat saja namun di seluruh Indonesia bahkan GBI di luar negeri.
Tentang pandemic Covid 19 ini, pengurus GBI memandang bahwa semua ini adalah wabah yang tidak terduga dan dapat menimpa siapa saja tanpa memandang dari suku, agama, kelompok, golongan mana pun; bahkan WHO sudah menyatakan wabah ini sebagai pandemi global yang menjangkiti sekitar 200 negara.
Bahkan dengan tegas BPH GBI melalui BPD GBI Jabar , dan melalui surat resmi dan berbagai media sudah memberikan arahan agar setiap gembala, pejabat dan pengerja,- khususnya peserta Pastors’ Meeting di Lembang dan peserta kebaktian yang diadakan di GBI Aruna, GBI Baranangsiang dan seluruh cabangnya, untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Kesehatan setempat dengan melaporkan/memeriksakan diri bila mengalami gejala terinfeksi Covid-19, dan melakukan isolasi mandiri bagi yang tidak mendapati gejala sekalipun.
Doa dan harapan kami:
Melalui peristiwa pandemik covid 19 ini, pihak GBI berharap Kita dapat memandang wabah ini sebagai pandemi yang harus dihadapi dan diperangi oleh seluruh rakyat Indonesia bahkan seluruh dunia. Sehingga tidak perlu adanya lagi sebutan terhadap kelompok tertentu agar kesatuan tetap terpelihara dan tidak menimbulkan stigma yang tidak diinginkan.
Selanjutnya GBI baik di tingkat pusat, daerah maupun gereja lokal dapat bersehati bergandengan tangan menanggulangi wabah ini.
Dengan aktif memberikan arahan agar jemaat tetap melakukan physical distancing agar tidak tertular virus Corona maupun menularkan (sebagai carrier).
Sebagai orang percaya GBI mengajak kita berdoa, kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan ketabahan bagi orang-orang yang anggota keluarganya menjadi korban pandemi Covid-19 ini.
Pesannya “ bijaksanalah dalam menerima dan mengelola berita. Jangan menyebarkan berita yang tidak membangun, terlebih yang berpotensi menimbulkan polemik/perdebatan, kepanikan bahkan bertentangan dengan hukum ” .
Mari kita berdoa bagi para dokter, perawat, karyawan rumah sakit, dan semua orang yang sedang berjuang membantu para pasien Covid-19, kiranya Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan kepada mereka.
Berdoalah bagi Presiden dan aparat pemerintah agar diberikan kesehatan, hikmat dan kesehatian dalam menangani pandemi di negeri ini.
Bagi gereja sendiri BPH GBI mengajak Gereja Tuhan, bersama-sama kita menjadi terang sesuai dengan Yesaya 58. Berperan aktif dalam masyarakat untuk bertolong – tolongan menanggung beban, maka Tuhan akan memulihkan Indonesia.

SE 005_4 April 2020_SURAT TERBUKA

Melalui rilis ini pihak BPH GBI dan BPD GBI Jabar dapat membuat kita semakin memiliki pemahaman yang positif dan dapat semakin SEHATI. Anto

 PESAN PASTORAL PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA (PGLII)

 

Menteri Agama RI, Jend.TNI (Purn) Fahrul Razi berbincang dengan Ketum PGLII, Pdt. Ronny Mandang

Mahami Tema PGLII 2020-2024, yakni
*Menghadirkan Kabar Baik dan Membangun Bangsa Melalui Iman yang Dalam dan Kokoh” (Markus 16:15; Yesaya 25:3) kita diajak untuk kembali merenungkan bangunan kehidupan iman Kristen kita, panggilan kita dan tanggung jawab kita masing-masing.

Anggota dan Pengurus PGLII

1. Tidak ada seorang pun di Indonesia yang sebelumnya telah menduga akan terjadi sebaran Covid19 yang merebak dari Wuhan-China ke seluruh dunia, lebih dari 200 negara, bahkan termasuk di Indonesia. Pengaruh Covid19 telah merubah banyak tatanan kehidupan keagamaan, sosial-ekonomi, politik, dunia tenaga kerja, termasuk kehidupan masing-masing keluarga. Banyak ahli bependapat untuk merestorasi akibat Covid19, dalam ukuran suatu negara besar dan maju saja dibutuhkan waktu diatas dua tahun. Dari sisi, tatanan ekonomi tidak ada satupun negara yang mencapai target, mata uang banyak negara anjlok, pengangguran di seluruh dunia meningkat, sementara kebutuhan pokok mulai dari bayi hingga lanjut usia menjadi sangat sulit diperoleh dan mahal. Hal ini, belum termasuk kebutuhan energi, kesehatan, pendidikan dan keuangan yang menjadi sangat tidak stabil. Covid19 benar-benar telah membuat banyak kepala negara menjadi sangat repot karena vaksin Covid19 belum juga ditemukan, dan masih belum tahu berapa lama harus me-lockdown atau mengkarantina negaranya, wilayahnya atau kotanya? Korban yang berjatuhan akibat Covid19 tidak mengenal batas dan status sosial manusia. Ada Pangeran, Ratu, Menteri, Artis, Olahragawan, Pengusaha, Tenaga medis, Pendeta, Kiayi, rakyat biasa dan siapa saja. Dan hingga hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya Covid19 akan segera berhenti?

2. Kita adalah orang yang percaya dan beriman kepada Allah Bapa, Yesus Kristus Juruselamat dan Kepala Gereja kita, dan Roh Kudus Penolong dan Penghibur kita sekalian. Kita hidup dalam suatu hubungan yang terjaga dengan Allah kita, kasih kita dan keyakinan iman kepada Tuhan Yesus melampaui apapun yang ada di dunia ini. Kita adalah anak-anak-Nya (Yohanes 1:12), kita memiliki Roh Kristus (Roma 8:9,10); kita memiliki roh yang lebih besar dari roh yang ada dalam dunia ini (1 Yohanes 4:4), karena Roh Kudus dicurahkan di dalam kehidupan kita, kita memiliki kuasa dan menjadi saksi-Nya (Kisah Para Rasul 1:8), kita diberi kuasa di dalam namaNya untuk mengusir setan (Markus 16:17); dan kita juga diberi kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, dan kuasa untuk menahan segala kekuatan musuh (Lukas 10:19); dan tidak ada hal apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Roma 8:35). Namun demikian, tidak dibenarkan jika kita menjadi lalai atau ceroboh dalam menghadapi sebaran Covid19. Hal-hal yang telah telah dihimbau dan diatur oleh World Health Organization (WHO) dan Pemerintah RI, untuk menghentikan sesaat seluruh kegiatan peribadahan yang mengumpulkan banyak orang, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah; Menjaga jarak – Social Distancing, Phisical Distancing, tetap menjaga hidup sehat dan tetap tinggal di rumah, sangat perlu disambut dan diikuti dengan baik.

3.Karena itu betapa kita patut bersyukur dan menjadi sangat penting karena kita sekalian hidup “di dalam Kristus”, memiliki kesempatan menghadirkan Injil Kabar Baik, sekaligus tetap terlibat dalam pembangunan bangsa melalui iman yang dalam dan kokoh (Markus 16:15; Yesaya 25:3). Memiliki iman yang semakin dalam dan semakin kokoh Deeper and Stronger Faith (Yohanes 15:7, Kolose 2:6,7); memiliki Pikiran Kristus (1 Korintus 2:16); dimana kita hidup dengan percaya dan bukan dengan melihat (2 Korintus 5:7). Ya, hanya dengan “Iman yang makin dalam dan makin kuat” kita dimampukan menghadapi semua ujian dan tantangan yang tengah terjadi, namun tetap berada pada barisan perarak-arakan pembangunan bangsa yakni melalui ideologi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika melawan musuh bangsa ini termasuk Covid19. Dari adanya sebaran Covid19 ini, kita patut belajar memahami maksud dan rencana Tuhan, sekaligus memeriksa dan merenungkan kembali bangunan seluruh hidup keimanan kita, keluarga kita, ibadah kita dan pelayanan kita. Betapa kita patut menyadari, bahwa “Kekristenan yang dangkal” hanya berakibat pada kehidupan iman kita jauh dari kemampuan untuk berdiri kuat, yang memampukan kita bertahan menghadapi gelombang ujian yang sangat besar ini. Saat seperti ini, bukan lagi suatu pilihan tetapi keharusan, bahwa Kekristenan kita haruslah “Kekristenan yang dalam dan kuat” karena dengan demikian, sehebat apapun tantangan dan ujian yang datang, setiap orang Kristen tidak dibenarkan jatuh sampai tergeletak (Mazmur 37:24). Di dalam Kristus, kita diajarkan untuk merayakan kehidupan ini, yang karenanya kita diajarkan untuk mengutamakan dan memperjuangkan juga kehidupan ini, yang kelak memampukan kita mengkomunikasikan kehidupan Kristiani kita yakni sebagai garam dan terang dunia (Matius 5: 13-16), sebagai suatu kesaksian Allah kita di dalam Kristus, bahwa Ia hidup, berkuasa dan peduli atas kehidupan kita, keluarga kita, pelayanan kita dan jemaat serta masyarakat yang majemuk.

4. Berdiam di rumah adalah kesempatan yang harus digunakan untuk membangun kembali relasi di antara sesama anggota keluarga, sekaligus membangun ibadah keluarga yang kemungkinan selama ini tidak pernah atau jarang dilakukan, termasuk oleh keluarga Anggota dan Pengurus PGLII. Demikian pula bagi gereja-gereja dan lembaga-lembaga keagamaan, situasi yang berkembang akibat Covid19 yang telah membawa banyak perubahan dan akibat, seperti kehidupan ini menjadi sulit, perlu segera secara bersama-sama untuk saling membantu dan memberi bantuan baik dalam bentuk doa, tenaga sukarela, barang maupun uang, yang diperlukan baik untuk warga gereja, hamba-hamba Tuhan atau masyarakat luas. Dan tentu saja dalam situasi seperti ini, bukan saja ibadah on line menjadi “salah satu” pilihan yang baik untuk tetap menggembalakan kawanan domba Allah, tetapi juga kesempatan untuk membangkitkan iman serta melaksanakan Amanat Agung yang sedang terbuka luas. Inilah waktu penuaian yang besar bagi siapa saja yang meleyani Tuhan dan tetap setia terhadap Amanat Agung, karena hari ini sedang banyak orang yang hidup dalam rasa takut, ketidakpastian dan kecemasan, yang membutuhlan keselamatan sejati dari Tuhan Yesus Kristus. Inilah waktunya menyebarkan Injil Kabar Baik itu.

5. Seluruh Anggota dan Pengurus PGLII yang dilindungi dan diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja kita, marilah kita semua tetap menjalankan kehidupan iman yang terus bersandar kepada Tuhan Yesus Kristus, membangun iman yang semakin dalam dan kuat, membangun kehidupan dalam kesederhaaan, dan membangun persekutuan vertikal dan horizontal sesuai Injil Matius 22: 37-40. Kita juga tetap diajak untuk tetap tekun berdoa, membaca Alkitab, tenang dan percaya bahwa masa-masa kesulitan akibat Covid19 akan segera berakhir. Bersama Yesus kita tetap berkemenangan, amin!

Salam Injili
Ketua Umum PP PGLII
Ronny Mandang.

Pengamat Sospol, Dr. John N Palinggi: Saya Tidak Sepakat Lockdown, Dalam UU Adalah Karantina Wilayah

Dr. John Palinggi, MBA bersama Presiden Joko Widodo

Jakarta,Victoriousnews.com,-Berdasarkan data resmi pemerintah covid19.go.id per Senin (30 Maret 2020) pukul 19.00 WIB hingga Selasa pukul 10.00 WIB, jumlah pasien positif Covid-19 sebanyak 1.414 orang, 122 meninggal, 75 sembuh. Sedangkan secara global yang terdiri dari 199 negara yang terinfeksi (kasus terkonfirmasi) covid19 adalah 785.779, dan kematian berjumlah 37.815.

Menyikapi hal ini Presiden Jokowi dalam pidatonya, menegaskan, siap melakukan pembatasan sosial berskala besar menghadapi penyebaran virus corona (Covid-19). Hal ini akan dibarengi dengan darurat sipil. “Saya minta pembatasan sosial berskala besar, physical distancing, dilakukan lebih tegas, lebih disiplin dan lebih efektif lagi sehingga tadi juga sudah saya sampaikan perlu didampingi kebijakan darurat sipil,” ujar Presiden Jokowi (Senin, 30/3/2020).

Darurat sipil merupakan status penanganan masalah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya. Perppu yang ditandatangani Presiden Sukarno pada 16 Desember 1959 itu Undang-Undang Nomor 74 Tahun 1957.

Dalam perppu itu dijelaskan ‘keadaan darurat sipil’ adalah keadaan bahaya yang ditetapkan oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang untuk seluruh atau sebagian wilayah negara. Berikut ini bunyi pasal dalam Perppu Nomor 23 Tahun 1953 ini.

Pasal 1

(1) Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang menyatakan seluruh atau sebagian dari wilayah Negara Republik Indonesia dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat sipil atau keadaan darurat militer atau keadaan perang, apabila:

keamanan atau ketertiban hukum di seluruh wilayah atau di sebagian wilayah Negara Republik Indonesia terancam oleh pemberontakan, kerusuhan-kerusuhan atau akibat bencana alam, sehingga dikhawatirkan tidak dapat diatasi oleh alat-alat perlengkapan secara biasa;

timbul perang atau bahaya perang atau dikhawatirkan perkosaan wilayah Negara Republik Indonesia dengan cara apapun juga;

hidup Negara berada dalam keadaan bahaya atau dari keadaan-keadaan khusus ternyata ada atau dikhawatirkan ada gejala-gejala yang dapat membahayakan hidup Negara.

Dalam Pasal 3 ditegaskan bahwa penguasa keadaan darurat sipil adalah Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang selaku penguasa Darurat Sipil Pusat. Dalam keadaan darurat sipil, presiden dibantu suatu badan yang terdiri atas: Menteri Pertama; Menteri Keamanan/Pertahanan; Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah; Menteri Luar Negeri; Kepala Staf Angkatan Darat; Kepala Staf Angkatan Laut; Kepala Staf Angkatan Udara; Kepala Kepolisian Negara.

Namun presiden dapat mengangkat pejabat lain bila perlu. Presiden juga bisa menentukan susunan yang berlainan dengan yang tertera di atas bila dinilai perlu. Di level daerah, penguasaan keadaan darurat sipil dipegang oleh kepala daerah serendah-rendahnya adalah kepala daerah tingkat II (bupati/wali kota). Kepala daerah tersebut dibantu oleh komandan militer tertinggi dari daerah yang bersangkutan, kepala polisi dari daerah yang bersangkutan, dan seorang pengawas/kepala kejaksaan daerah yang bersangkutan. Dalam Pasal 7 perppu tersebut dijelaskan, penguasa darurat sipil daerah harus mengikuti arahan penguasa darurat sipil pusat, atau dalam kondisi darurat Covid-19 ini adalah Presiden Jokowi. Presiden dapat mencabut kekuasaan dari penguasa darurat sipil daerah.

Sementara itu, UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (UU KK), bagian yang mengatur tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Pasal 59

(1) Pembatasan Sosial Berskala Besar merupakan bagian dari respons Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

(2) Pembatasan Sosial Berskala Besar bertujuan mencegah meluasnya penyebaran penyakit Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang sedang terjadi antar orang di suatu wilayah tertentu.

(3) Pembatasan Sosial Berskala Besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi:

  1. peliburan sekolah dan tempat kerja;
  2. pembatasan kegiatan keagamaan; dan/atau
  3. pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

(4) Penyelenggaraan Pembatasan Sosial Berskala Besar

berkoordinasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

Pasal 60

Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan pelaksanaan Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Sebelumnya, seperti dikutip media online bisnis.com, ekonom Senior Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof. Dr. Didik J. Rachbini, mengkritisi sikap pemerintah yang dikatakannya lelet dalam menangani Covid-19. “Pak Jokowi jangan angkuh, bilang tidak ada lockdown. Segera lockdown demi selamatkan warga. Penyebaran virus Corona itu seperti deret kali, sementara keputusan pemerintah bak deret tambah. Ada mismatched, masalah berjalan kencang, sementara pemerintah lelet,” ujar Prof. Didik, Minggu,29 Maret 2020.

Ketika membaca berita pernyataan Prof. Didik terkait Lock Down tersebut, pengamat politik dan sosial, Dr. John N. Palinggi, MM., MBA, sangat tidak sepakat. “Saya tidak sepakat itu pernyataan sahabat saya, Prof Didik J. Rachbini, apalagi dia mengatakan Pak Jokowi jangan angkuh, dia seperti memaksa Presiden Jokowi segera memberlakukan lockdown. Saya yakin pemerintah melalui jajaran aparaturnya, pasti dapat menangani masalah Covid-19 ini. Apalagi Presiden Jokowi sudah menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, dan akan segera keluar Peraturan Pemerintahnya. Istilah Lock Down di Indonesia itu tidak ada, yang ada adalah UU Karantina wilayah,” demikian ditegaskan John Palinggi melalui jejaring media sosial WA.

Lebih lanjut John Palinggi yang juga seorang pemerhati kebijakan strategis, menegaskan bahwa lockdown tidak bisa diterapkan di Indonesia, secara khusus mengingat Indonesia negara kepulauan, terdiri dari banyak pulau yang terpisah oleh lautan. “Bila langkah lockdown diterapkan, jelas berbahaya bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan, terpisah lautan, bila ada agitasi jelas kita tidak akan siap” demikian ditegaskan John Palinggi yang juga kerap menjadi narasumber di sejumlah lembaga strategis.

Pria yang telah sukses menekuni usaha 44,5 tahun ini mengungkapkan, agar jangan ada niatan atau upaya mengambil keuntungan perorangan maupun kelompok tertentu, dibalik tuntutan pemberlakuan lockdown.“Kita harus bersatu padu bersama pemerintah menghadapi Covid-19 ini, tidak boleh ada siapapun perorangan maupun kelompok yang memaksa pemerintah untuk mengikuti keinginannya, apalagi memaksa diberlakukan lockdown, dan mencoba mengambil keuntungan dari pemberlakuan lockdown,” tandas John. SM

Pdt. Gomar Gultom,M.Th (Ketum PGI) Imbau Gereja Agar Dukung Pemerintah Dalam Menangani Covid19

(kiri): Pdt. Gomar Gultom (Ketum PGI)

JAKARTA,-VICTORIOUSNEWS.COM,-Saya menyambut positif dan mendukung himbauan Presiden agar membatasi mobilitas penduduk, terutama untuk kumpul-kumpul, termasuk ibadah.

Sejak kemarin saya sudah mengedarkan himbauan kepada warga gereja untuk membatasi perjalanan dan perjumpaan yang tidak terlalu penting. Saya juga sudah menyarankan untuk mempertimbangkan alternatif persekutuan dan ibadah dengan memanfaatkan media sosial dan teknologi digital dengan mengenbabgkan e-church. Hari ini ada beberapa gereja yang sudah menerapkannya. GKI Pondok Indah dan JPCC tidak menyelenggarakan ibadah di gereja, tetapi tetap ada kotbah dan renungan yang disampaikan lewat radio dan/atau video streaming. Dan warga dapat bergabung dengan e-church tersebut.

Memang belum banyak gereja yang siap karena masalah infrastruktur. Tapi saya kira ke depan akan lebih siap, sehingga umat dapat beribadah dari rumah.

Baca juga: Mewabahnya COVID19 Ketum PGI, Pdt. Gomar Gultom Ajak Untuk Menularkan Cinta Kasih & Kepedulian Pada Sesama!

Gereja yang masih menyelenggarakan ibadah hari ini, kemarin telah saya himbau untuk menyediakan fasilitas cuci tangan, alat pengukur suhu tubuh umat di pintu masuk dan agar melakukan disinfektan ruang ibadah sebelum ibadah dimulai.

Dalam kondisi berat yang kita hadapi, kita semua harus dapat menahan diri dan ikut serta dalam upaya menanggulangi masalah ini. Kerjasama dan kesetiakawanan kita diuji kini sebagai bangsa.

Mewabahnya COVID19 Ketum PGI, Pdt. Gomar Gultom Ajak Untuk Menularkan Cinta Kasih & Kepedulian Pada Sesama!

Pdt. Gomar Gultom (Ketum PGI)

JAKATA,-VICTORIOUSNEWS.COM,- “Saya hendak menyapa Sahabat sekalian di tengah merebaknya COVID19, salah satu varian virus corona, yang telah menjadi pandemi dunia saat ini.

Penyebaran virus yang begitu cepat ini semakin meyakinkan saya betapa ringkihnya ternyata kehidupan kita. Dan olehnya kita ditantang untuk menghargai kehidupan yang Tuhan berikan bagi kita.

Tubuh kita yang fana ini ternyata juga sangat rapuh terhadap serangan ragam penyakit, termasuk virus corona ini. Tetapi kita harus bersyukur bahwa Tuhan, sesungguhnya, mengaruniai tubuh kita dengan sistem kekebalan tubuh, yang bekerja melalui metabolisme tubuh kita. Sayangnya kita sering abai memelihara apalagi meningkatkan karunia pertahanan tubuh kita itu. Olehnya, saya mengajak Saudara untuk mengembangkan habitus baru berupa POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT.

Baca juga: Pdt. Gomar Gultom,M.Th (Ketum PGI) Imbau Gereja Agar Dukung Pemerintah Dalam Menangani Covid19

Pandemi ini juga sedang menguji kepedulian kita akan kehidupan bersama. Penularan dan penyebaran virus ini terjadi lewat perjumpaan antar manusia. Sebagai persekutuan orang percaya, di satu sisi kita terpanggil untuk memperbanyak dan mempersering perjumpaan antar manusia. Tetapi di sisi lain, kita juga memiliki tanggung-jawab untuk ikut menghentikan penyebaran virus corona ini. Dalam terang ini, saya menghimbau Saudara untuk mengurangi perjalanan dan pertemuan-pertemuan yang tidak terlalu diperlukan. Terutama kepada Saudara yang memiliki gejala-gejala flu, batuk dan sesak napas agar menahan diri untuk sementara membatasi perjumpaan dengan sesama.

Di tengah beban berat yang sedang kita pikul bersama, saya mengajak para pelayan gereja untuk tetap menjalankan tugasnya melayani umat, terutama yang membutuhkan topangan doa dan pendampingan. Tidak usah panik mendampingi umat yang terpapar penyakit, tetapi tetaplah waspada dan hati-hati. Baik juga dipertimbangkan ragam bentuk persekutuan dan ibadah dengan memanfaatkan media sosial dan kemajuan teknologi digital sebagai kemungkinan alternatif perjumpaan langsung.

Kepada Saudara-saudaraku dokter dan para medis, Saya berdoa untuk pelayanan Saudara. Masyarakat kita kini membutuhkan pengabdian Saudara. Tetaplah semangat dalam menjalankan tugas dengan tidak mengabaikan kesehatan diri sendiri, dan tetap waspada.

Dampak virus corona ini akan meluas ke aspek kehidupan lainnya, seperti perlambatan ekonomi dll. Saya berharap kita semua dapat bahu membahu, bekerja bersama pemerintah agar kita semua dapat segera keluar dari masalah ini. Mari kita hentikan segala bentuk perilaku saling menyalahkan dan mencurigai satu sama lain. Mari kita kedepankan penyelamatan kehidupan bersama dan mengesampingkan kepentingan-kepentingan sesaat dan kelompok.

Sekali lagi, peristiwa ini merupakan ujian bagi bangsa kita, sejauh mana rasa kepedulian kita akan kehidupan bersama dapat kita wujudkan.

Akhirnya, saya mengajak Saudara untuk menularkan cinta kasih dan kepedulian pada sesama, pun melalui peristiwa yang memprihatinkan saat ini”.

Dr. John Palinggi (Pengamat Sosial): Tangkal Virus Corona Dengan Bertobat & Mendekatkan Diri Pada Tuhan!

Dr. John N Palinggi, MBA ketika ditemui di ruang kerjanya.

JAKARTA, Victoriousnews.com,-Pengamat sosial & masyarakat, Dr. John N Palinggi ini selain dikenal sebagai pengusaha yang sukses, juga sangat rendah hati dan religius dalam menyikapi persoalan hidup. Bahkan ketika ditanya mengenai virus corona dari sisi rohani, ia mengungkapkan bahwa, wabah corona ini adalah salah satu pesan Tuhan bagaimana kita manusia melihat ketidakberdayaan kita sesungguhnya. ”Perlindungan dan pertolongan kita adalah kepada Tuhan. Jangan lupa, orang yang menjaga kesehatannya jangan meninggalkan Tuhan. Dalam kehidupannya. Bersandarlah kepada Tuhan sebagai batu karang yang teguh,” ungkapnya saat ditemui di kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2020).

Baca Juga: Dr. John Palinggi, MBA: Pemerintah Sangat Serius & Telaten Antisipasi Masuknya Virus Corona!

John mengajak kita untuk sadar diri dan berusaha untuk hidup lebih baik lagi dalam menyikapi dan bertindak terhadap suatu hal dan persoalan hidup. Menurutnya, kita harus hidup semakin baik, dan bertobatlah. Jadikan Tuhan sebagai batu karang yang teguh’ dalam menghadapi persoalan hidup dan teruslah berbuat baik sesuai ajaranNya,” ajak John yang sangat dekat dengan Presiden dari masa ke masa, terbukti terpampang foto bareng dengan Presiden Soeharto hingga Jokowi di ruang kerjanya. SM

Dr. John Palinggi, MBA: Pemerintah Sangat Serius & Telaten Antisipasi Masuknya Virus Corona!

Dr. John N Palinggi., MBA (Pengamat Sosial)

JAKARTA, Victoriousnews.com,-Mewabahnya Virus Corona yang awalnya ditemukan di kota Wuhan, China terus menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di seluruh belahan dunia. Virus baru yang menyebabkan penyakit “mendunia” ini secara resmi dikenal sebagai Corona Virus Disease (COVID)-19. Di Indonesia sendiri, semenjak Presiden Jokowi mengumumkan secara resmi bahwa telah ada 2 warga negara Indonesia di Depok yang positif terjangkit virus corona, spontan masyarakat menjadi panik dan takut. Dalam pantauan, sejumlah pusat perbelanjaan (Mal) di kota metropolitan, Jakarta, ramai dikunjungi masyarakat untuk berbelanja kebutuhan pokok, sarung tangan, masker, vitamin, dan sebagainya untuk mengantisipasi menularnya virus tersebut.

Ironisnya, banyak masyarakat yang justru menyalahkan pemerintah, mengapa virus tersebut tidak bisa dicegah masuk ke Indonesia. “Saya harap, masyarakat jangan selalu menyalahkan pemerintah. Lebih baik kita menjaga kewaspadaan diri dan keluarga. Sejauh yang saya lihat, pemerintah kita sudah sangat bagus dan telaten dalam upaya mengantisipasi wabah virus ini yang telah melanda negara negara di dunia masuk ke Indonesia,” tutur Sekretaris Jenderal Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John N Palinggi, MBA saat ditemui ruang kerjanya di Menara Mandiri, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2020).

Baca Juga: Dr. John Palinggi (Pengamat Sosial): Tangkal Virus Corona Dengan Bertobat & Mendekatkan Diri Pada Tuhan!

Pengamat sosial kemasyarakatan, John Palinggi ini memberikan contoh praktis untuk mengantisipasi penularan virus corona. Misalnya, menjaga kebugaran dan imun tubuh, yakni berolah raga secara rutin. Selain itu, makanlah ikan dan sayur yang segar, minum air yang dimasak, cuci tangan sebelum makan dan sehabis beraktivitas di luar rumah dan hindari bersalaman dan cium pipi yang merupakan kebiasaan kita,” papar John yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan barang dan Distributor Indonesia (ARDIN) ini bersemangat.

Menurut John, tindakan antisipatif pemerintah seperti kepada WNI dari Wuhan yang ditransitkan di Natuna dan dari kapal pesiar ke pulau Seribu, Jakarta adalah contoh konkrit betapa telaten dan seriusnya pemerintah menangani upaya pencegahan masuknya virus corona ke Indonesia. Berharap upaya itu juga diterapkan di Bali, bahkan lebih ditingkatkan,” tandasnya. SM