IRONIS, JEMAAT KRISTEN MAU BERIBADAH DILARANG OLEH SEKELOMPOK WARGA!

IRONIS, JEMAAT KRISTEN MAU BERIBADAH DILARANG OLEH SEKELOMPOK WARGA!

Situasi penghadangan jemaat ketika mau beribadah di kompleks Perum Griya Cileungsi Dua Blok D2 No. 16, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020)

Bogor,Victoriousnews.com, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras–tersebar lebih dari 17 ribu pulau di seluruh penjuru tanah air. Karakteristik yang menonjol inilah menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang istimewa, bangsa yang berbeda dengan bangsa lainnya di dunia.

Kemajemukan masyarakat yang dilandaskan dengan Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika, juga membuat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang rukun, damai, dan toleran terhadap suku maupun agama lain dalam menjalankan kebebasan ibadah dan kepercayaannya masing-masing. Kemerdekaan beribadah ini merupakan kebebasan asasi setiap manusia yang dilindungi oleh undang-undang, yakni UUD 45 pasal 2. Namun sayangnya masih banyak oknum yang melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara menghalang-halangi, melarang atau bahkan mengintimidasi umat beragama yang akan beribadah.

Kasus pelarangan dalam menjalankan ibadah yang paling baru menerpa sebuah gereja GPdI yang berada di Perum Griya Cileungsi Dua Blok D2 No. 16, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020) yang lalu. Gereja ini dipimpin oleh seorang rohaniwan bernama Pdt. Sumarto Topurundeng. Sumarto dipercayakan oleh umat Kristen GPdI di Perumahan Griya Cileungsi Dua dan sekitarnya, sebagai perpanjangan tangan gereja dan pemerintah, untuk menjalankan tugas  sebagai seorang rohaniawan serta melaksanakan pembinaan mental dan spiritual untuk kegiatan-kegiatan ibadah raya minggu dan hari lainnya.

Kegiatan ibadah yang dipimpin oleh Sumarto ini bertujuan untuk membantu dan menyukseskan program pemerintah di bidang pembinaan mental dan spiritual yang di jamin oleh UUD 45 Pasal 29 ayat 2 Undang –Undang Dasar 1945: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya dan Pancasila menjalankan sesuai agama masing-masing yang merupakan salah satu nilai khususnya sila pertama. Tugas Pembinaan tersebut diperkuat dengan; Surat Keterangan Tanda Lapor (SKTL), Nomor;B-1582/Kw.10/VIII/BA.01.1/03/2017, dikeluarkan di Bandung, tertanggal 10 Maret 2017 ditanda tangani oleh; Kepala Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat, Surya Minda Sirait , SH, NIP. 196405101999042001 dan Surat Keputusan Majelis Daerah Jawa Barat, GPdI bernomor 082/MD-JABAR/II-11 Tentang Pengangkatan  Sdr Pdt. Sumarto Topurundeng sebagai rohaniawan untuk membina umat Kristen GPdI. SK tersebut dikeluarkan di Cianjur pada tanggal 14 Pebruari 2011 dan ditanda tangani oleh Pimpinan GPdI; Pdt. JE Awondatu (Ketua) dan Pdt. Thomas Rungkat (Sekretaris).

KiKa : Nimrot (Kanit Intel), Pdt. Chemuel W , Kompol Endang Kusnandar (Kapolsek Cileungsi), Pdt Sumarto Topurundeng, Pdt Hanny Rompis usai pertemuan membahas kasus pelarangan ibadah,

 Atas dasar permintaan umat dan SK GPdI serta SKTL Kementrian Agama tersebut, maka inilah yang menjadi pegangan Pdt. Sumarto Topurundeng untuk menjalankan tugas membina umat yang berjumlah 60 hingga 70 jiwa sampai sekarang, dan sudah dijalani selama 10 Tahun lebih, di rumah tempat tinggalnya, kompleks perumahan Griya Cileungsi Dua, Desa Mampir Cileungsi. Kegiatan-kegiatan pembinaan mental dan spiritual  kepada umat Kristen tersebut tidak pernah mendapat gangguan  dari masyarakat  setempat. “Namun pada hari minggu 5 Januari 2020, pukul  09 pagi WIB tiba-tiba muncul sekelompok masyarakat yang tinggal di kompleks Griya Cileungsi Dua, yang dipimpin koordinator keamanannya berinisial K, mereka berdiri di depan gerbang pintu masuk kompleks kemudian menghadang dan melarang dengan paksa para umat masuk kompleks perumahan menuju rumah pendeta untuk mengikuti ibadah minggu pagi. Penghadangan dan pelarangan umat Kristen yang datang dari luar kompleks tidak membuat umat mundur atau putus asa menuju tempat ibadah namum para umat tetap menerobos dan memaksa masuk dan pada akhirnya diperbolehkan dan para umat diberi kesempatan masuk untuk ibadah dengan persyaratan untuk terakhir kali dan sesudah selesai ibadah permintaan para warga kompleks perumahan kepada  Pendeta dan umatnya bahwa rumah yang dijadikan tempat ibadah harus ditutup dan dikembalikan kepada fungsingya sebagai rumah tinggal,” ujar Pdt. Sumarto seperti dilansir oleh pantekostapos.com.

Lanjut Sumarto, diduga penghadangan dan pelarangan menuju rumah ibadah didalangi oleh warga berinisial K yang masih aktif sebagai aparatur negara. Terjadinya penghadangan tersebut, Sumarto berinisiatif melaporkan ke kantor kepolisian setempat yaitu Polsek Cileungsi, dan langsung di tangani oleh Komisaris Polisi (Kompol) Endang Kusnandar (Kapolsek Cileungsi Bogor Jawa Barat). Pada keesokan harinya senin 6/01, Pdt Sumarto bertemu dengan Kapolsek di ruang kerjanya disambut dan diterima dengan baik kemudian berdialog prihal kronologis kejadiannya dan mencari solusi yang terbaik guna menentramkan situasi dan menjadi kondusif.

Menyikapi kejadian tersebut Komisaris Polisi (Kompol) Endang Kusnandar didampingi Kanit Intel Nimrot, dalam dialognya dengan Sumarto mengatakan bahwa mengenai kejadian pada hari minggu 5 Januari 2020 sudah diketahui dan sedang ditangani untuk itu Kapolsek mengajak kepada Sumarto dan jemaat yang dipimpinnya untuk sementara waktu menanggapi apa yang menjadi keinginan warga, karena menurut Kapolsek melihat sisi mudaratnya. Petugas kepolisian sudah ada yang menangani melalui pendekatan-pendekatan persuasif di masyarakat. Terkait keberadaan Pdt Sumarto dan Jemaat yang dipimpinnya serta ibadah ke depan Kapolsek Cileungsi akan memberikan jaminan pengamanan.Usai pertemuan dengan Kapolsek Cileungsi, baru keesokan harinya Pdt Jantje Manorek, salah satu pimpinan GPdI Jabar mengunjungi Pdt Sumarto dan Keluarganya dalam rangka memberikan penguatan dan semangat untuk tetap melayani Tuhan dan jemaat. SM

Letjen TNI (Purn) T. B Silalahi: Pemuda Gereja Harus Memiliki Visi Sebagai Agen Perubahan Untuk Hadapi Revolusi Industri 4.0

 

Foto bersama para peserta dengan Letjen Purn TB Silalahi usai diskusi Peran Pemuda Gereja Dalam Kepemimpinan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0 di Gedung Artha Graha SCBD (13/12)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Peran Pemuda Gereja Dalam Kepemimpinan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0”. Demikian tema diskusi publik yang diangkat oleh Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) yang digelar di Gedung Artha Graha Lantai dasar, SCBD, Jakarta Selatan, (Kamis 13/12). Diskusi yang menghadirkan Letjen TNI (Purn) T.B Silalahi sebagai narasumber ini digagas oleh DPP GAMKI Bidang Diplomasi & Hubungan Internasional serta Bidang Ketahanan Nasional, Pertahanan & Keamanan. “Atas nama DPP GAMKI, kami menyambut gembira dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran Bapak/Ibu dalam acara seminar ini. Terutama Opung TB Silalahi yang berkenan menjadi pembicara pada saat ini. Saya berharap acara ini bisa bermanfaat bagi kader-kader GAMKI, terutama kaum milenial  dalam menyikapi revolusi industri 4.0. Saya juga berterimakasih atas kehadiran beberapa perwakilan kaum muda lintas gereja. Oleh karenanya, bila nantinya mendapat respons yang baik, saya berjanji akan ada diskusi lanjutan dengan mengangkat tema-tema terkini,” urai Sahat Sinurat selaku Sekjen DPP GAMKI dalam kata sambutannya mewakili Ketua Umum GAMKI yang berhalangan hadir.

Sekjen GAMKI, Sahat Sinurat menyerahkan Plakat sebagai kenang-kenangan kepada Letjend Purn TB Silalahi

Sebagai pembicara tunggal, Letjend TNI (Purn) T.B. Silalahi memaparkan situasi dunia terkini terkait tentang Revolusi industri yang makin mengalami kemajuan dalam beberapa dasawarsa sebelumnya. “Dulu masyarakat dunia merupakan masyarakat agraris. Hidup dengan mengandalkan lahan dan hasil bercocok tanam. Sampai kemudian beberapa kali revolusi industri. Revolusi industri 1.0 ditandai dengan penggunaan mesin sebagai pengganti tenaga manusia dan hewan. Revolusi industri 2.0 terjadi beberapa tahun setelahnya. Pada saat inilah manusia mulai mengenal listrik dan menggunakannya untuk mendukung kehidupan. Kemudian terjadilah revolusi industri 3.0 yang membuat manusia mengenal systemcomputer dan penggunaan robot dalam berbagai industri. Sedangkan yang paling akhir adalah revolusi industry 4.0. Inilah era di mana teknologi otomatisasi berkolaborasi dengan teknologi cyber,” tukas pemilik nama lengkap Letjen TNI Pur Tiopan Bernhard Silalahi .

                Menyikapi hal tersebut, Letjen Purn T.B. Silalahi menyerukan agar gereja mampu menjawab tantangan zaman. Orang-orang muda harus diperlengkapi sejak dini dengan berbagai ketrampilan agar menjadi pribadi yang kompetitif. Pelatihan ketrampilan juga harus diimbangi dengan bimbingan tentang bagaimana kecerdasan emosi (emotionalqoutient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient). “Setelah ketiga hal tersebut (intelligencequotient, emotionalquotient, dan spiritual quotient), saya ingin menambahkan satu syarat lagi. Yaitu kita harus memiliki standar yang berbeda. Bukan standar yang sama atau sedikit lebih tinggi, tetapi standar yang jauh lebih tinggi dari orang lain. Jadi kalau orang lain standarnya 10, kita harus punya standar minimal 30. Hanya dengan demikianlah kita akan menjadi orang yang kompetitif,” paparnya.

                Menurut Opung T.B. Silalahi setiap pemuda gereja harus memiliki visi menjadi agent of change (agen perubahan). Orang yang memiliki kesadaran seperti itu akan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup. “Kita minoritas (dari segi jumlah). Sebab itu posisi kita sebagai pemuda gereja adalah dimanapun kamu berada harus menjadi yang terbaik. Dimanapun ladang tugas dan panggilanmu berada. Kalian pemuda gereja jangan pernah berhenti untuk belajar dan belajar sampai akhir hayatmu,” tegas TB Silalahi dalam diskusi yang dipandu oleh Hendrik Sinaga SH, MH.

Lebih lanjut TB Silalahi memaparkan revolusi Industri merupakan perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Sebagai senior, Letjend TNI (Purn) T.B. Silalahi merespons postif kegiatan ini. Bahkan beliau secara khusus menyatakan siap memberikan dukungan pada GAMKI bilamana diperlukan. SM

Hadir Dalam Jakarta Christmas Festival, Gubernur DKI Anies Baswedan Berharap Agar Melalui Natal Dapat Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Ki-ka: Angelica Tengker (Ketum KKK), Pdt. Shephard Supit (Penggagas JCF), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, KH Lutfi Hakim (Imam Besar FBR),dan KH Ali Rahmat (Ketua FKUB Jakarta Pusat) ketika menyalakan lilin dalam perayaan Jakarta Christmas Festival (Rabu, 11/12) di Lapangan Banteng Jakarta Pusat.

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pagelaran rohani akbar Jakarta Christmas Festival (JCF) yang digelar di Lapangan Banteng (Rabu,11/12) telah berlangsung lancar dan sukses. Acara yang mengusung tema “Love Jakarta” ini diisi dengan beragam kegiatan sosial seperti; pasar murah, pemeriksaan mata gratis, berbagai macam lomba, paduan suara, dan puncaknya adalah pagelaran natal Papua, natal kaum marjinal, natal milenial dan diakhiri dengan perayaan natal nusantara yang menampilkan berbagai budaya di Indonesia.

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah: Anies Bawedan (Gubernur DKI Jakarta), KH. Lutfi Hakim (Imam Besar FBR), KH.Ali Rahmat (Ketua FKUB Jakarta Pusat), Angelica Tengker (Ketua KKK), Pdt. Shephard Supit (Penggagas JCF), Lisa Muljati (Bimas Kanwil DKI Jakarta), Bayu Meganthara (Walikota Jakarta Pusat), Pdt. Daniel Henubau, Mayjen Ivan Pelealu, Brigjen Pol Frangky Mamahit, James Kandou, Hamba-hamba Tuhan dari denominasi gereja serta masyarakat lintas agama.

Dalam kata sambutanya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menilai, bahwa kegiatan Jakarta Christmas Festival yang diadakan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat tersebut merupakan perayaan kebersamaan dalam keberagaman. “Pemprov DKI mengapresiasi dan mendukung dilaksanakannya kegiatan ini, karena ini baru yang pertama kali dilaksanakan. Kegiatan ini merupakan perayaan kebersamaan dalam keberagaman,” papar Anies.

Gubernur Anies mendorong agar festival seperti ini mampu memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa. “Di sini ada interaksi antarwarga, dari interaksi muncul pengalaman, pengalaman tentang saudara sebangsa, tentang hidup bersama dengan warga satu kota. Pengalaman membentuk pemahaman, pengertian, dan penghormatan atas satu sama lain. Terima kasih atas inisiasi yang luar biasa, suasana kemeriahan dan kedamaian bisa dirasakan bukan hanya umat Kristen tapi juga warga Jakarta,” pungkas Anies.

Pdt. Yohanes Stefanus Tompudung (Ketua Panitia JCF)

Pada kesempatan tersebut, Ketua Panitia, Pdt. Yohanes Stefanus Tompudung, merasa bersyukur karena acara telah berjalan dengan baik. “Puji Tuhan seluruh rangkaian acara telah berjalan dengan baik. Ada acara natal Papua. Nah, ketika pasar murah, yang hadir membludak ada ribuan. Karena ada stan madu gratis, kaca mata gratis, periksa mata gratis, sembako murah, mie sedap gratis, es krim gratis, biskuit gratis. Tapi stan tersebut melayani kaum termarjinal,” tutur Pdt. Yohanes ketika ditemui wartawan disela-sela acara.

Menurut Pdt. Yohanes, jumlah peserta yang ditargetkan oleh panitia ternyata tercapai, yakni sekitar 10.000 orang yang hadir dalam meramaikan acara tersebut. “Apa yang ditargetkan panitia tercapai. Setidaknya sekitar 10 ribu orang dari lintas agama dapat hadir dan mengunjungi Lapangan Banteng ini,” papar Yohanes. SM

Dr. John N Palinggi, MBA : Esensi Penting Makna Natal Adalah Perubahan Ke Arah Lebih Baik

Dr. John Palinggi bersama KH Said Agil
Siradj (Ketum PBNU)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Setiap tahun umat Kristiani di seluruh penjuru dunia merayakan kelahiran sang Juru selamat. Beragam pernak-pernik maupun ornamen Natal pun mulai menghiasi sejumlah perkantoran, gereja, maupun pusat perbelanjaan di berbagai kota besar di Indonesia.
Memaknai Natal tahun 2019, Dr. John N Palinggi, MBA ketika dijumpai di ruang kerjanya Graha Mandiri, Menteng Jakarta Pusat (Rabu, 4 Desember 2019) mengatakan bahwa, dalam merayakan Natal itu harus dibarengi dengan perubahan karakter atau tingkah laku yang lebih baik. “Sebenarnya apa yang mendorong sehingga umat Kristiani merayakan Natal secara terus menerus? Banyak yang mengatakan rayakan Natal itu untuk menyenangkan keluarga. Tetapi sebetulnya kalau menurut saya adalah mau enggak kita merayakan natal ke arah yang lebih baik? Sebab selama ini pasti kita sudah tercemar dengan kesalahan, baik sadar maupun tidak. Apakah kita mau berubah ke arah yang lebih baik? Yang bahagia dalam merayakan natal adalah ketika damai sejahtera itu datang. Tetapi kalau kita tidak tercemar dalam berbuat jahat pada sesama manusia, apalagi mencederai Tuhan, ya jangan berharap sesudah Natal kita ada perkembangan. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam hidupnya. Dia selalu menyelimuti dirinya percaya kepada Tuhan. Tetapi sesungguhnya dia selalu berada dalam dosa. Sekalipun merayakan Natal, dia selalu berlimang dalam dosa terus.Dan merasa kebencian terhadap sesama itu berlangsung terus. Merendahkan orang, mencaci maki, tidak menghormati pemerintah, inilah esensi perayaan Natal,” tutur Dr. John Palinggi yang juga Ketua Umum Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) penuh semangat.
Menurut Dr. John, dalam keyakinan Kristiani,menghormati pemerintah itu wajib hukumnya. Kenapa? Karena tidak ada pemimpin di dunia ini yang tidak ditetapkan oleh Allah. Maka wajib kita menghormati. “Jadi kesadaran untuk berbuat lebih baik dari perbuatan- perbuatan dosa maupun perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Itulah esensi, bahwa kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Termasuk saya, harus berubah ke arah yang lebih baik.
Kedua, jika kita mau berubah ke arah yang lebih baik, artinya kita memiliki semangat yang kuat dan pengharapan yang tinggi untuk meningkatkan produktivitas kita. Jangan justru merayakan natal, besoknya jadi menganggur, malas, atau tidak mau bikin apa-apa, mencari rejeki buat diri sendiri. Itu sebenarnya adalah kekalahan iman. Tuhan sediakan semua isi bumi ini, mari kita berjuang untuk memperolehnya. Jadi sekali lagi esensi natal adalah pertama, berubah ke arah yang lebih baik. Kedua harus produktif dan menghasilkan,” papar John.
Lanjut John, jika kita generasi muda yang tidak menghasilkan/produktif, maka seharusnya malu kepada Tuhan. “Yang penting harus dijaga, menghasilkan dengan cara yang baik atau berkenan di mata Tuhan. Jangan justru merayakan natal kemana-mana tetapi perbuatannya mencuri dimana-mana. Entah mencuri di kantornya atau di lingkungannya,” papar Dr. Palinggi. SM

Pendidikan Moral Pancasila Adalah Salah Satu Cara Bangun Toleransi dan Cegah Paham Radikal

Dr. John N Palinggi, MBA ketika dijumpai di ruang kerjanya.

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pengertian toleransi antar umat beragama adalah suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain. Hal itulah yang mengemuka dalam Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November.
Menanggapi pentingnya membangun toleransi antar umat beragama, Dr. John Palinggi yang juga Ketua BISMA (Badan Interaksi Sosial Masyarakat), mengatakan, bahwa, toleransi sesungguhnya adalah menerima perbedaan, sekalipun tidak sama. Toleransi mengakibatkan adanya manusia atau masyarakat yang rukun, dalam suatu komunitas, dalam suatu bangsa dan negara. “Jadi betapa pentingnya itu berpikiran toleransi, dan ikut bersama-sama mewujudkan kerukunan” tukas John Palinggi.
Menurut John, Negara kita dibangun berdasarkan falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Artinya kita memang berbeda-beda, tetapi satu dalam membangun bangsa. “Cara yang baik membangun toleransi adalah, pemahaman menanamkan secara luhur nilai-nilai keagamaan terhadap anggota keluarga, terhadap dari diri kita sendiri. Jadi setiap orang beragama, dia paham bahwa pesan agama, tidak ada satupun yang menginstruksikan supaya melakukan kejahatan, membenci orang lain, menghina orang lain, tapi setiap agama, pasti menginstruksikan untuk supaya memperbanyak kebaikan. Kebaikan, toleransi, rasa menghormati orang lain, menghargai orang lain, respek. Agama juga menginstruksikan jangan menghina ciptaan Tuhan, yaitu manusia, jangan berbuat jahat. Hanya dua perintah itu, kalau itu dijalankan pasti muncul ide kita toleransi, jangan justru kita buka mata, kita lihat suku ini, agama ini, golongan ini beda dengan saya, disitu muncul penderitaan hidup, bukan bangga karena tidak mau bertoleransi, tetapi memperoleh hukuman dari Tuhan, kita susah hidupnya, cari makan susah” papar John.
Lebih lanjut John menjelaskan, “Tidak mungkin orang yang beda agama A, melamar agama B, ternyata beda agama, tidak jadi kerja, tidak mungkin kan? Atau membuat usaha bersama beda agama, suku, etnis, golongan, ga jadi, itu namanya kegagalan bisnis, lebih jauh kegagalan hidup”.
John menegaskan bahwa pelajaran Pendidikan Moral Pancasila merupakan salah satu cara untuk mendidik tentang toleransi, dan juga mencegah paham radikalisme, tetapi selain itu, ada cara yang paling baik, yakni percepatan pembangunan, pemerataan hasil-hasil pembangunan, sehingga semua orang dapat memperoleh makanan melalui lapangan kerja.
“Kalau lapangan kerja susah, tidak dapat makanan, apapun diajarkan tidak masuk di otak, malah timbul perlawanan yang kurang baik. Jadi seiring mengajarkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, tapi hingga sekarang belum ada, belum tahu, kalau dulu saya diajarkan 36 nilai-nilai Pancasila, kalau sekarang belum ada, karena sudah dibubarkan BP7 nya, jadi harus dilembagakan dulu. PMP perlu diajarkan, tetapi bagaimana bisa diajarkan kalau tidak ada panduannya, jadi perlu dilembagakan dulu. Jangan Pancasila jadi pemanis mulut semua orang, sementara mulut kita itu semua menyatakan Pancasilais, tetapi memang harus dilembagakan dulu, nah inilah yang akan mengkaji apa yang perlu diajarkan, tapi itu tidak cukup, kalau lapangan kerja tidak ada, itu pasti gagal” tandasnya. SM

Pdt. Gomar Gultom & Pdt. Jacky Manuputty Pimpin PGI Periode 2019 sd 2024

Ki-ka: Pdt. Gomar Gultom dan Pdt. Jacky Manuputty

Waingapu, Victoriousnews.com,Salah satu agenda penting yang membetot perhatian publik Kristiani dalam pelaksanaan Sidang Raya Persekutuan Gereja gereja di Indonesia (PGI) XVII di Sumba,Nusa Tenggara Timur, sejak tanggal 8 sd 13 November 2019 adalah pemilihan pucuk pimpinan PGI masa bakti 2019 sd 2024. 

Sesuai jadwal agenda pemilihan yang digelar pada hari Selasa, 12/11/2019 dalam sidang di GKS Payeti cabang Praiwora, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Pendeta Gomar Gultom dari Sinode HKBP dan Pdt. Jacky Manuputty dari Sinode GPM terpilih menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) periode 2019-2024.
Informasi perolehan suara yang diterima, Pdt. Gomar Gultom mendapatkan sebanyak 79 suara, Pdt. Dr. Albertus Patty mendapatkan 39 suara, dan Pdt. Tuhoni Telaumbanua hanya mendapatkan 12 suara dari 130 suara yang diberikan oleh peserta sidang yang hadir. Sedangkan Pdt. Jacky sendiri terpilih secara aklamasi.
Sementara Wakil Sekretaris Umum terpilih yaitu Pdt. Krise A. Gosal dari Sinode GMIM.
Sidang panitia nominasi dipimpin oleh Pdt. Musa Salusu dari Sinode Gereja Toraja. Proses pemilihan diawali dengan pengecekan daftar kehadiran peserta dalam kelompok tersebut. Ada 89 perwakilan sinode yang hadir.
Sebelumnya sejumlah nama yang masuk sebagai calon Wasekum, antara lain Pdt. Dr. Retnowati, Pdt. Retno Ratih, Pdt. Agus RT. Damanik dan Pdt. Manuel E. Raintung.
Sedangkan untuk posisi Bendahara dijabat oleh Pdt. Jacub Sutisna (GBIS) dan posisi
Wakil Bendahara adalah Drs. Arie Moningka dari Sinode GKII.
Berikut Ini Adalah Susunan Personalia MPH, BPP dan MP PGI periode 2019 – 2024. Berdasarkan hasil Panitia Nominasi Sidang Raya XVII PGI tahun 2019.
I. MAJELIS PEKERJA HARIAN
Ketua Umum : Pdt. Gomar Gultom (HKBP)
Sekretaris Umum : Pdt. Jackvelyn Frits Manuputty (GPM)
Wakil Sekretaris Umum : Pdt. Krise Anki Gosal (GMIM)
Wakil Bendahara : Drs. Arie Moningka (GKII)
Ketua Unsur Tuan/Nyonya Rumah : Pdt. Alfred Djama Samani (GKS)
Ketua Unsur Pendeta : Pdt. Dr. Bambang H. Widjaja (GKPB)
Ketua Unsur non Pendeta : Olly Dondokambey, SE (GMIM)
Ketua Unsur Perempuan : Pdt. Dr. Lintje H. Pellu (GMIT)
Bendahara : Pdt. Jacub Sutisna (GBIS)

Anggota Unsur Pemuda : Abdiel F. Tanias (GMIT)
Anggota Unsur Perempuan : Pdt. Retno Ratih S. Handayani (GKJ)
Anggota : Pdt. Dr. Julianus Mojau (GMIH)
Anggota : Pdt. Ir. Karyanto Gunawan (GKKA)

II. BADAN PENGAWAS PERBENDAHARAAN
Ketua : Pdt. Kumala Setiabrata (Gereja Kristus)
Sekretaris : St. Gonti Manalu (HKI)
Anggota : Pnt. Katarina Tombi (Gereja Toraja)

III. MAJELIS PERTIMBANGAN
Pdt. Andrikus Mofu (GKI TP)
Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Gereja Toraja)
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (GKS)
Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow (GKSS)
Pdt. Prof. Drs. John A. Titaley (GPIB)

Pesan Mendagri Tito Karnavian Dalam Penutupan GA WEA: Pancasila Merupakan Nationality Blessing, Pemersatu Bangsa Indonesia

Ki-ka: Pdt. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA WEA), Mendagri Tito Karnavian, Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA), dan Pdt. Ronny Mandang (Ketum PGLII)

SENTUL,Victoriousnews.com,- General Assembly World Evangelical Alliance yang ditutup pada hari Selasa (12/11) malam, dikejutkan dengan kehadiran Menteri Dalam Negeri Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian dalam acara tersebut. Sebenarnya Mendagri Tito Karnavian, datang untuk persiapan fmal pertemuan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Maju Pemerintah Pusat dan Forkopimda 2019 yang dilaksanakan di tempat yang sama, yakni di SICC Rabu (13/11/2019). Namun, ketika bertemu di Hotel Harris, Pdt. Lipiyus Biniluk mengajaknya bergabung di acara GA WEA. “Tiba-tiba Pdt. Lipiyus Biniluk mene|pon saya dan mengatakan Menteri Dalam Negeri telah ada di hotel Harris dan sudah siap bergabung ke gedung SICC di acara WEA GA. Hanya dalam waktu 3 menit PGLII dan WEA diwakilkan Bishop Efraim Tendero menerima kedatangan Pak Tito dan Iangsung bercakap di ruang VVIP. Setelah sedikit memperkenalkan WEA dan PGLII, Pak Tito Karnavian yang juga akrab dengan PGLII, hadir di tengah acara GA dari 92 negara anggota WEA dan memberikan suatu refleksi keagamaan dalam konteks ke-lndonesiaan yang sangat memberkati seluruh peserta GA WEA,” tutur Deddy A. Madong, Wakil Ketua Panitia GA WEA.

Mentri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Bishop Efraim Tendero

Dalam Pidato sekaligus refleksi dalam konteks Ke-Indonesiaan, Mendagri Tito mengatakan bahwa Pancasila merupakan nationality blessing atau berkat dari Tuhan bagi bangsa Indonesia yang menjadi perekat bagi keberagaman Indonesia. “Indonesia adalah sebuah Negara dengan beragam agama, etnis dan budaya. Kita juga memiliki wilayah geografls yang sangat luas. Tapi para pendiri bangsa telah memilh pemersatu yang sangat kuat yaitu Pancasila. ltulah yang menentukan nasionalisme kita dan persaudaraan kebangsaan kita,” ujar Tito ketika menyampaikan pidatonya dalam bahasa Inggris di hadapan peserta WEA.

Mendagri Tito menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero

Selain menjelaskan tentang Pancasila sebagai pilar kebangsaan, kebhinekaan, dan toleransi umat beragama,Mantan Kapolri ini juga banyak bicara tentang pemberantasan paham radikal, terorisme di Indonesia dan internasional serta upaya-upaya yang bisa ditempuh untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Usai berpidato Mendagri Tito didaulat oleh PGLII untuk menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero selaku General Secretary WEA. Peta Indonesia ini terbuat dari kain batik dalam bingkai kayu berwarna emas. SM

Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo: Saat Ini Kita Memasuki Pentakosta Ketiga

Pdt. Niko saat menyampaikan Firman Tuhan dalam pembukaan GA WEA

SENTUL,Victoriousnews.com,- Gembala senior GBI Gatot Subroto (Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo) adalah pemilik gedung Sentul International Convention Center (SICC) di Babakan Madang Sentul Selatan, Bogor Jawa Barat. Di tempat tersebutlah, diselenggarakan General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA- Sidang Raya Penginjilan Sedunia).


Pdt. Niko juga dikenal sebagai hamba Tuhan kerap menggelar KKR di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai tuan rumah, panitia memberikan kepercayaan untuk menyampaikan firman Tuhan tentang tema GA WEA 2019, yakni “Your Kingdom Come” (Datanglah Kerajaan-Mu).
Pdt Niko mengawali renungannya, dengan mengungkapkan bahwa dirinya mendirikan SICC sebagai respon panggilan Tuhan pada dirinya untuk membentuk House of Prayer for All Nations, healing center, miracle center, dan tempat yang berpengaruh untuk trasnsformasi bagi Indonesia dan bangsa-bangsa.


“Saya percaya, General Assembly World Evangelical Alliance diadakan ditempat ini (SICC), bukan suatu kebetulan, tapi saya percaya ada maksud Tuhan yang luarbiasa. Saya akan menyampaikan apa yang Tuhan taruh dalam hati saya. Tema dari pertemuan ini, Your Kingdom Come (Datanglah Kerajaan-Mu), ini adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus, didalam Doa Bapa Kami, dan saya percaya, sebenarnya doa ini harus diperkatakan setiap hari. Pada saat kita berdoa demikian, itu sebetulnya kita berdoa untuk mukjizat, kesembuhan, pelepasan, pertobatan, keselamatan, sebab pada saat Your Kingdom Come, itu terjadi seperti itu, selain itu, kalau kita berdoa Datanglah Kerajaan-Mu, sebenarnya kita berdoa untuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, karena kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua” terang Pdt Niko.


Lebih lanjut Pdt Niko menjelaskan tentang kedatangan Kerajaan Tuhan, menurut kitab Injil Matius. “Pada suatu hari murid-murid Tuhan Yesus bertanya, Guru, apa tanda dari kedatangan-Mu, dan apa tanda dari kesudahan dunia ini, Tuhan Yesus menjawab, salah satunya dari Matius 24 ayat 14 : Dan Injil Kerajaan-Nya diberitakan diseluruh dunia, dan menjadi kesaksian bagi seluruh bangsa, dan setelah itu tiba kesudahannya. Jadi Tuhan Yesus akan datang kembali, kalau Injil Kerajaan Allah sudah diberitakan diseluruh dunia, menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Kalau saudara dan saya, sangat merindukan kedatangan Tuhan, berarti kita merindukan supaya Injil Kerajaan Allah diberitakan diseluruh dunia, kesaksian bagi bangsa-bangsa, dan untuk itulah Tuhan memberikan Amanat Agung, karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman”.


Pdt Niko dalam renungan firman Tuhan, juga mengungkapkan sejarah pencurahan Roh Kudus, dan dampaknya bagi kekristenan.
“Amanat Agung belum berakhir, karena itu pada tahun 1906, kembali Roh Kudus dicurahkan, di Azusa Street Los Angeles Amerika Serikat, seorang hamba Tuhan bernama William Seymour, dipakai Tuhan luarbiasa. Peristiwa Azusa Street ini dahsyat, menurut Conwel Theological Seminary, 77,9 % kekristenan yang ada saat ini, dimulai pada tahun 1900” jelas Pdt Niko. Kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Pdt Niko tentang nubuatan dari William J. Seymour pada tahun 1909. “Pada tahun 1909, dia (William Seymour) bernubuat, kira-kira 100 tahun ke depan, yakni era sekarang ini, Roh Kudus akan dicurahkan jauh lebih dahsyat dari peristiwa Azusa Street, dan dikatakan bahwa gerakan ini tidak akan berhenti, sampai Tuhan Yesus datang kembali” ungkap Pdt Niko.
Pdt Niko menyebutkan bahwa hingga kini sudah terjadi curahan Roh Kudus (Pentakosta) dua kali dalam sejarah dunia, yakni pertama pada para murid di Yerusalem, kedua pada peristiwa Azusa Street di Los Angeles Amerika Serikat, dan saat ini, menurut Pdt Niko, kita sudah memasuki Pentakosta yang ketiga. “Saat ini kita telah memasuki Pentakosta ketiga. Dan dimulai dari Indonesia, akan banyak orang yang menerima Yesus sebagai juruselamat hingga ke bangsa-bangsa seluruh dunia,” pungkas Pdt. Niko. SM

Ketika Buka SR PGI XVII, Yasonna Laoly (Menkumham RI) Ajak Gereja & Tokoh Adat Gelorakan Semangat Kebersamaan Hadapi Tantangan Radikalisme

Menkumham RI, Yasonna Laoly memukul gong menandai dibukanya SR PGI XVII di Sumba

SUMBA, NTT,- Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI, Yasonna Laoly,  mewakili Presiden Jokowi, membuka secara resmi Sidang Raya XVII PGI, di Pantai Puru Kambera, Waingapu, Sumba Timur, NTT, Jumat (8/11). Dalam kata sambutannya, Yasona Laoly menekankan, bahwa Era 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi, telah merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Hal ini tentunya menambah semakin kerasnya persaingan. Persaingan bukan lagi siapa yang terbesar atau terkecil, tetapi siapa yang tercepat. Oleh sebab itu, gereja juga diminta ikut mempersiapkan diri, dengan menyiapkan generasi muda yang dapat memanfaatkan berbagai peluang di tengah persaingan tersebut.“Sekarang segala sesuatu bisa dijangkau dengan hand phone, dan tinggal pencet. Nah, perubahan ini harus kita respon. Perlu ketrampilan yang mumpuni untuk menangkap peluang, dan semuanya itu harus dimulai dengan pendidikan. Pendidikan semakin penting. Pertanyaannya, sejauhmana gereja telah mempersiapkan jemaat, secara khusus generasi muda, yang unggul di masa depan,” katanya.

Tarian Massal di tepi pantai dan bebatuan cadas, tempat upacara pembukaan SR PGI XVII

Dalam sambutannya, juga disinggung mengenai tantangan radikalisme yang kini terjadi di bangsa Indonesia. Sebab itu, dia mengajak gereja dan tokoh adat, terus menggelorakan semangat kebersamaan dan gotongroyong. Selain itu, pentingnya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Sementara itu, Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang menyambut dengan rasa syukur atas kehadiran jemaat GKS yang datang dari berbagai tempat, dan penuh semangat menghadiri acara ini. “Kehadiran kalian semua dari tempat yang jauh menandakan adanya kesatuan hati kita untuk merayakan pesta iman ini,” tandas Pdt. Ery, panggilan akrabnya.

Lanjut Ketua Umum PGI, tema Sidang Raya XVII PGI adalah pengakuan iman dari gereja mula-mula yang tidak akan dilupakan, dan ini juga menjadi pengakuan iman gereja-gereja di abad 21 ini. “Banyak pergumulan yang melilit kita, namun harus yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. Itu pula yang kita rayakan pada Sidang Raya ini. Kita akan membicarakan karunia yang sudah diberikan Allah, begitu juga karunia yang sudah diberikan kepada Sumba dengan keindahan alamnya,” ujarnya.

Pembukaan SR XVII PGI berlangsung semarak. Tidak hanya peserta sidang, jemaat dari 4 kabupaten di Sumba serta masyarakat, beribadah bersama-sama, dan menyaksikan acara pembukan yang luar biasa. Sekitar 7000 orang tumpah ruah di pinggir pantai nan indah dan mempesona itu.

Antusiasme jemaat Gereja Kristen Sumba (GKS) dan masyarakat perlu diacungi jempol. Menurut informasi yang dihimpun tim media PGI, sebelum pembukaan mereka telah berdatangan ke lokasi dengan menggunakan kendaraan roda dua, bis, mobil pribadi, hingga truk. Teriknya matahari sama sekali tak mematahkan niat mereka untuk hadir.

Prosesi pembukaan yang diawali ibadah ini, diisi tarian, atraksi seribu kuda, dan fragmen perjuangan masyarakat Sumba mula-mula yang dikolaborasi dengan masuknya Injil ke Tana Humba. Kesemuanya itu membuat decak kagum, dan rasa haru yang luar biasa dari mereka yang hadir.

Mewakili Presiden RI Joko Widodo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI Yasonna H. Laoly tiba di Pantai Puru Kambera didampingi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat serta Wakil Gubernur NTT Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi. Kedatangan mereka diterima MPH-PGI dan Pimpinan Sinode GKS dengan adat budaya Sumba.

Pembukaan Sidang Raya XVII PGI ditandai dengan pemukulan gong oleh Yasona Laoly , didampingi oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Bupati Sumba Barat, Wakil Bupati Sumba Barat, Bupati Sumba Tengah, Ketua Sinode GKS serta MPH-PGI. Usai pemukulan gong Yasonna menerima kuda putih yang diberikan oleh panitia. SM/IR

 

Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA) Buka Sidang Raya WEA di Sentul, Bogor

Usai memukul gong sebanyak 3 kali, Bishop Efraim Tendero pose bersama dengan pimpinan PGLII dan WEA

SENTUL,BOGOR-Victoriousnews.com– Bishop Efraim Tendero asal Filipina selaku Sekjen World Evangelical Alliance memukul gong sebanyak tiga kali, menandai pembukaan perhelatan akbar General Assembly World Evangelical Alliance (GA WEA), Kamis, 7 November Pkl. 17.00 Wib.
Sidang Raya organisasi yang menaungi gereja-gereja dan lembaga-lembaga Injili se-dunia ini beranggotakan 131 negara, dan dihadiri oleh delegasi dari 92 negara.


Acara ini tampak semarak dan sangat meriah, karena panitia mengusung budaya Indonesia yang bhineka dengan bingkai Pancasila serta menjunjung toleransi antar umat beragama. Hal itu ditampilkan dalam parade kebudayaan nusantara yang melukiskan keragaman Indonesia dengan berbagai suku, bahasa, agama, adat istiadat, namun hidup dalam harmoni dan toleransi antar umat beragama, dengan falsafah hidup Pancasila.

Ki-ka: Stevano Margianto (Ketum Perwamki, Robby Repi (Pembina Perwamki, NB Suratinoyo (Pembina Perwamki), Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA), Pdt. Nus Reimas (Maper PGLII), Pdt. Antonius Natan (Sekum PGLII DKI/Penasihat Perwamki) dan Paul Maku Goru (Ketua DPP Perwamki)

Antusiasme ribuan peserta yang memadati ruangan Sentul International Convention Centre (SICC), Sentul City- Bogor, Jawa Barat, berdecak kagum tatkala sang pelukis pasir mulai menggoyangkan tangannya sekaligus menabur pasir di atas papan kanvas.
Pelukis pasir menggambarkan kembali bagaimana Tuhan Yesus sang Juru Selamat itu datang dengan kasih untuk menyelamatkan manusia berdosa.

Baca JugaPdt. Dr. Niko Njotorahardjo: Saat Ini Kita Memasuki Pentakosta Ketiga

Dalam pembukaan GA WEA 2019, selain dihadiri oleh ribuan jemaat maupun hamba Tuhan dari Jabodetabek, juga dihadiri pucuk pimpinan gereja, diantaranya Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketum PGLII), Pdt. Dr. Nus Reimas (Majelis Pertimbangan PGLII), Pdt. Mulyadi Sulaeman (Pimpinan PGPI/Penasehat Perwamki), Pdt. Antonius Natan (Sekum PGLII DKI Jakarta/Penasehat Perwamki), pimpinan nasional Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Pdt. William Wairata, dan Pdt. Niko Njotorahardjo (Gembala senior GBI Gatot Subroto).

Ki-ka: Pdt. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA-WEA) bersama Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA)

General Secretary WEA Bishop Efraim Tendero, mengungkapkan, bahwa dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan sidang umum WEA 2019, dikarenakan realitas Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki kehidupan toleransi dan harmoni antar umat beragama, dan adanya ideologi Pancasila yang menarik untuk dikenal dan dipelajari bangsa-bangsa, khususnya anggota WEA. “ Ada 3 hal penting yang akan dibahas dalam GA WEA ini. Yang pertama adalah Global, karena dihadiri oleh wakil delegasi dari 92 negara. Yang kedua adalah generasi. Dimana, bukan hanya generasi tua, tetapi ada generasi muda yang terlibat di dalamnya. Yang ketiga adalah tentang Gender. Ini bukan hanya berbicara mengenai laki-laki saja, melainkan perempuan juga masuk dalam pembahasan,” tukas Bishop Tendero kepada Wartawan Perwamki yang diterjemahkan oleh Pdt. Dr. Jacob Oktavianus.
Masih kata Bishop Tendero, goal yang akan dicapai dalam acara GA-WEA adalah agar terjadi pemuridan di semua gereja dan berlangsung secara terus menerus. “Kami rindu agar Kerajaan Allah (Kingdom come) itu bisa menyentuh dalam aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Kami juga sangat bersukacita, karena Indonesia menjadi tuan rumah acara ini, dan kerajaan Allah sungguh nyata di negeri ini, karya Roh Kudus begitu nyata. Pancasila adalah salah satu contohnya,dimana mereka takut akan Tuhan dan menghargai toleransi, hidup dalam kerhamonisan serta melakukan yang terbaik dalam profesi apapun. Selain upitu, ada pula Bhineka Tunggal Ika, sehingga sila-sila dalam Pancasila adalah yang terbaik,” papar Tandero yang tampak kagum dengan Pancasila.
Menurut Tendero, kekristenan di Indonesia saat ini sudah bertumbuh dengan semangat menyala-nyala, serta mereka menunjukkan sebagai murid Yesus yang sebenarnya. “Dan sebagai orang percaya mereka menjadi garam dan terang yang menjadikan dampak positif di tengah-tengah masyarakat. Kita memilki anak-anak Tuhan, baik di dunia usaha, dalam pekemaupu, pendidikan dan pemerintahan serta militer. Maka kita terus berdoa, sehingga mereka menjadi garam yang menggarami serta terang yang menerangi masyarakat,” ungkap Bishop Tendero.


Pdt. Dr. Ronny Mandang sebagai Ketua Umum PGLII dalam sambutannya menyatakan dengan tegas, bahwa apapun harganya, Injil Tuhan Yesus Kristus akan terus diberitakan di Indonesia.


Sementara itu, Ketua Panitia Pdt. Dr. Anton Tarigan, menjelaskan kepada wartawan, bahwa ketidakhadiran pemerintah dalam acara ini, dikarenakan pada saat bersamaan diadakannya GA WEA 2019, berlangsung juga pertemuan besar gereja-gereja, yakni Sidang Tahunan KWI, dan Sidang Raya PGI.
Dalam persidangan berikutnya, lanjut Anton, mulai mengejawantahkan tentang tema “Your Kingdom Come”- Datanglah kerajaanMu. “Sepanjang 5 hari ke depan, ini satu persatu dibahas, yakni mulai Global, Generarion, dan Gender (3 G). Akan ada pembicara dari dalam dan luar negeri. Ada pula, workshop, plenary session, table.discussion, dan sebagainya,” tukas Pdt. Anton Tarigan. SM