Ketua DPR RI Bambang Soesatyo Mengutuk Keras Pelaku Kriminal di Gereja Lidwina

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo Mengutuk Keras Pelaku Kriminal di Gereja Lidwina

VICTORIOUSNEWS.COM,-Pasca terjadinya penyerangan dan penganiayaan terhadap Romo dan jemaat Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo langsung mengujungi lokasi tersebut. Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo mengutuk keras aksi kekerasan yang terjadi di Sleman, Jogjakarta. Menurut Bambang seperti dilansir tempo, tindakan persekusi ataupun kekerasan terhadap seseorang tidak pernah dibenarkan dalam hukum maupun ajaran agama manapun. “Saya mengutuk keras tindakan penyerangan terhadap Romo Karl Edmund Priery yang menjadi korban penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman” ujar Bamsoet bersama Panglima TNI Minggu (11/2/2018).

Bamsoet juga meminta masyarakat tidak terprovokasi atas tindakan ini. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap upaya mengadu domba umat. “Masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya rukun dan guyub. Tidak ada dasar agama maupun budaya yang mendidik kita melakukan tindakan kekerasan. Saya harap masyarakat tidak terprovokasi, apalagi mengaitkan ini dengan kondisi sosial politik maupun keagamaan,” tukas Bambang Soesatyo.

Bamsoet, meminta aparat kepolisian bergerak cepat agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan kejadian ini dengan kejadian sosial politik dan keagamaan. “Tindakan kriminal ini harus segera diproses hukum. Jika polisi tidak bergerak cepat, saya kuatir akan ada pihak yang memprovokasi masyarakat kita sehinga kerukunan dan kedamaian bisa terganggu,” jelas Bamsoet.

Bamsoet yakin masyarakat Indonesia sudah cerdas dalam menilai situasi. Sehingga tidak akan mudah diadu domba. “Saya tegaskan, negara kita tidak memberikan ruang toleransi bagi para pelaku tindakan kekerasan. Apalagi ini bisa mengganggu kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat. Saya harap polisi bisa segera mengusut tuntas hal ini,” ujar Bamsoet.margianto/foto:istimewa

PERNYATAAN SIKAP MAJELIS UMAT KRISTEN INDONESIA (MUKI) Terkait Tindakan Kekerasan di Gereja Santa Lidwina Sleman Yogyakarta

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-Tindakan kekerasan bernuansa agama kembali terjadi di Indonesia kali ini di kota budaya Yogyakarta. Penyerangan yang dilakukan terhadap Pastor dan jemaat serta pembubaran kebaktian/ibadah Gereja Santa Lidwina Bedhog Trihanggo Sleman pada tanggal 11 Februari 2018 telah mencoreng kebhinnekaan, toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Dalam kejadian brutal tersebut Pastor yang memimpin misa Romo Edmund Pier SJ, sejumlah jemaat dan anggota kepolisian menjadi korban luka-luka karena bacokan.

Kejadian ini sangat memprihatinkan karena terjadi sehari setelah penutupan acara Musyawarah Besar Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan se-Indonesia yang menghasilkan rekomendasi salah satu diantaranya adalah perlu jaminan terciptanya stabilitas dan kerukunan umat beragama. Peristiwa penyerangan dan pembubaran kebaktian/ibadah di Sleman Yokyakarta tanggal 11 Februari 2018 adalah salah satu bentuk dari upaya-upaya untuk mencabik-cabik kebhinnekaan dan pada akhirnya membenturkan kelompok-kelompok umat beragama di Indonesia.

Mencermati kejadian-kejadian intoleransi bernuansa keagamaan sepanjang bulan-bulan awal tahun 2018 baik yang terjadi di Jawa Barat, Banten dan Yokyakarta telah mengganggu dan menggorogoti stabilitas, keamanan dan kerukunan umat beragama karenanya harus dilawan oleh seluruh rakyat Indonesia dengan tidak memberi ruang gerak dan kesempatan bagi pelaku-pelaku intoleran muncul di tengah-tengah masyarakat yang dapat merusak kebhinnekaan.

Pdt. Drs. Mawardin Zega., M.Th (Sekjen MUKI)

Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) sebagai organisasi kemasyarakat dari umat Kristen menyatakan pernyataan sikap seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal: Pdt. Drs. Mawardin Zega., M.Th melalui siaran persnya sebagai berikut:

Pertama, MUKI mengecam segala bentuk aksi kekerasan dan intoleransi yang merusak kebhinnekaan di Indonesia, dalam hal ini aksi kekerasan penyerangan Gereja yang baru saja terjadi di kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yokyakarta.

Kedua, MUKI turut berduka atas adanya korban-korbanluka-luka, baik Pastor yang memimpin misa, umat Katolik yang sedang beribadah dan aparat kepolisian.

Ketiga, MUKI menghimbau dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk melawan segala bentuk kekerasan dan intoleransi yang merusak kebhinnekaan dengan bergandengan tangan dalam kebersamaan, berdoa dan mempercayakan kepada Tuhan seluruh peristiwa yang sudah terjadi dan memohon senantiasa perlindungan-Nya.

Keempat, MUKI mendukung sepenuhnya tindakan pemerintah dan aparat keamanan, khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk mengambil tindakan tegas dengan membasmi pelaku-pelaku kekerasan, kelompok-kelompok intoleran sampai keakar-akarnya agar peristiwa serupa tidak terulang lagi dan Indonesia tetap aman sentosa.

Kelima, MUKI menyerukan membangun dan menata ulang kebersamaan dan kerukunan umat beragama agar dapat tercipta stabilitas, tercapainya tujuan dan cita-cita Nasional yaitu masyarakat yang adil dan beradab. margianto

Presiden Jokowi Dengan Tegas Menyatakan Konstitusi Menjamin Kebebasan Beragama

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-Presiden Joko Widodo menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia menjamin kebebasan bagi tiap-tiap warga negara untuk memeluk dan beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Pernyataan yang juga terkandung dalam konstitusi negara tersebut sekaligus sebagai penegasan bahwa pemerintah tidak memberikan ruang bagi para pihak intoleran di negara Indonesia.

“Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama. Oleh sebab itu, kita tidak memberikan tempat secuil pun pada orang-orang yang melakukan, mengembangkan, dan menyebarkan intoleransi di negara kita,” ujarnya di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin, 12 Februari 2018.

Menurutnya, masyarakat Indonesia yang majemuk ini sesungguhnya sudah berpuluh tahun hidup berdampingan. Namun, perlu diakui bahwa karena keterbukaan informasi yang juga dialami sebagian besar negara lainnya peristiwa intoleran seperti penyerangan terhadap para pemuka agama yang belakangan ini terjadi dapat terus berulang. “Sekali lagi perlu saya sampaikan, tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mampu bertoleransi di negara kita, Indonesia. Apalagi dengan cara-cara kekerasan. Berujar saja tidak, apalagi dengan kekerasan,” sambungnya seperti dikutip via Deputi Protokol, Pers & Media Sekretariat Presiden.

Untuk itu, terhadap sejumlah peristiwa tersebut, Kepala Negara telah menginstruksikan pihak berwenang untuk segera mengusut tuntas dan bertindak tegas terhadap pelanggaran yang terjadi.

“Saya sudah perintahkan kepada aparat untuk bertindak tegas dan negara menjamin penegakan konstitusi secara terus menerus dan konsekuen,” ucapnya. margianto

Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI): Rumusan Etika Kerukunan Yang Harus Ditaati Umat Beragama

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi rumusan pandangan dan sikap pemuka agama tentang etika kerukunan antar umat beragama. Menurutnya, rumusan tersebut penting ditaati oleh umat beragama. “Saya amat bersyukur dan mengapresiasi setinggi-tingginya atas rumusan tersebut,” terang Menag usai mendampingi Presiden Joko Widodo menerima para pemuka agama di Istana Bogor, Sabtu (09/02). “Rumusan etika tersebut yang dirumuskan sendiri oleh para pemuka agama amat penting untuk ditaati oleh setiap umat beragama dalam menjalani kehidupan kemasyarakatan di tengah kemajemukan kita,” lanjutnya.

Lukman Hakim Saifuddin (Menag RI)

Tokoh Agama berkumpul dalam Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa. Kegiatan yang diikuti 250 pemuka agama dari berbagai daerah di Indonesia ini ditutup siang tadi.  Sore ini, mereka  diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.

Ikut mendampingi Presiden saat menerima para tokoh agama, Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban Din Syamsuddin.

Menurut Menag, ada enam point penting yang telah dirumuskan. Rumusan itu menitikberatkan pada pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama. “Rumusan ini penting dipahami dan ditaati dalam menjaga kerukunan Indonesia yang majemuk,” tegasnya.

Berikut ini enam rumusan Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang Etika Kerukunan Antar Umat Beragama:

  1. Setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa.
  1. Setiap pemeluk agama memperlakukan pemeluk agama lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati.
  1. Setiap pemeluk agama bersama pemeluk agama lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa.
  1. Setiap pemeluk agama tidak memandang agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mencampuri urusan internal agama lain.
  1. Setiap pemeluk agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/akidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain.
  1. Setiap pemeluk agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak menggangu kerukunan antar umat beragama.margianto/kemenag.ri

 

 

 

STRATEGI AKU

Hadapi Era Globalisasi Dengan Strategi AKU (Awareness, Knowledge & Understanding)

Kika: Johan Tumanduk, SH.,M.M., M.Pd.K(Direktur Eksekutif Abraham Conrad Supit Center), KASAL Laksamana TNI Ade Supandi dan Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center)

Jakarta, Victoriousnews.com,- “Era perubahan dan kecanggihan teknologi pasti terjadi di dunia, dan tidak bisa dilawan. Kita hanya bisa mengarahkan anak-anak muda untuk bisa selektif. Yang pasti untuk ke sana perlu sikap dan karakter yang baik. “Akibat sikap dan karakter seringkali kita menjadi orang yang kalah.  Nah, untuk menghadapi perkembangan globalisisasi sekarang, kiatnya adalah dengan prinsip AKU yaitu Awareness, Knowledge dan Understanding,” paparnya.

 Ade Supandi menerangkan konsep kepemimpinan tidak lepas dari tiga faktor yakni pengetahuan, ketrampilan dan karakter. Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami ketiga ranah itu. “Jadi konsep kepimpinan dalam militer itu menang kita tidak akan lepas dari tiga ranah kok. Ranah kognitif, psikomotor, dan attitude. Bagaimana dia merespons semua ini. Sebenarnya basic-basic pendididkan tapi memang kadang kita tidak mem-breakdown ini jadi bagian-bagian mana yang bisa diterapkan zaman sekarang,” kata Laksamana TNI Ade Supandi.

                Jika dalam lingkungan TNI, Ade menjelaskan  ada 11 asas kepemimpinan yang berlaku di dalam kepemimpinan TNI. Diantaranya adalah: Pertama, Taqwa (Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya). Kedua, Ing Ngarsa Sung Tulada (Memberi suri tauladan di hadapan anak buah). Ketiga, Ing Madya Mangun Karsa (Ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah). Keempat, Tut Wuri Handayani (Mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah). Kelima, Waspada Purba Wisesa (Selalu waspada mengawasi, serta sanggup dan memberi koreksi kepada anak buah). Keenam, Ambeg Parama Arta (Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan). Ketujuh, Prasaja (Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan). Kedelapan, Satya (Sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan dan dari bawahan terhadap atasan dan ke samping). Kesembilan, Gemi Nastiti (Kesadaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan). Kesepuluh, Belaka (Kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya). Kesebelas, Legawa (Kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukan kepada generasi berikutnya).

Baca juga :Kuliah Umum II STT REM: KASAL Laksamana Ade Supandi Tegaskan Keluarga Berperan Penting Dalam Membentuk Karakter Millenials Leadership

                Di akhir paparannya, KASAL berharap, bahwa Generasi milenial menjadi generasi modern yang aktif bekerja, giat dalam penelitian, berpikir inovatif tentang organisasi, memiliki rasa optimisme, kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka dan fleksibel. margianto

Kuliah Umum II STT REM: KASAL Laksamana Ade Supandi Tegaskan Keluarga Berperan Penting Dalam Membentuk Karakter Millenials Leadership

Jakarta, Victoriousnews.com,- Saat memberikan kuliah umum di STT REM dengan tema “Millenial Leadership”, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI, Ade Supandi., SE., M.A.P mengungkapkan bahwa,  masyarakat zaman sekarang berada dalam situasi serba ketidakpastian. Apalagi zaman yang terus berubah seperti dari zaman millenial, generasi X, generasi now hingga nanti mungkin generasi Z. “Yang pasti semua itu berkaitan dengan resources. Karena itu, ke depan harus  mempersiapkan resources terutama yang berkaitan dengan leadership. Teknologi sudah merubah banyak dunia seperti perubahan iklim atau cuaca akibat pemakaian AC, penggunaan telepon yang canggih dan teknologi lainnya. Nah, Indonesia termasuk negara yang sangat konsumtif sehingga menjadi pasar dari perkembangan teknologi dunia,” tutur KASAL yang hadir didampingi jajarannya antara lain Laksama Pertama Manahan Simorangkir dan perwira petinggi lainnya.

KSAL Laksamana TNI Ade Supandi ketika memberikan kuliah umum STT REM (2/2/2018)

Terkait dengan kepemimpinan, Laksamana Ade Supandi mengutip adagium bahwa tiap zaman ada pemimpin dan tiap pemimpin ada zamannya. Dia juga mengutip pandangan Presiden AS Franklin Roosevelt yang pernah menyatakan, kita tidak bisa membangun masa depan untuk generasi muda tetapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan. “Teknologi informasi bisa merubah dengan cepat seperti perdagangan dan pemasaran. Salah satu contohnya munculnya pemasaran online. Bahkan, sekarang kantor juga sudah banyak virtual, kalau ada hanya untuk alamat dan surat menyurat yang masih manual,” tukas  Laksamana kelahiran Batujajar- Bandung, 26 Mei 1960 ini.

                Suami dari Dra. Endah Esti Hartanti Ningsih dan telah dikarunia 2 anak (Anindita Rivy Larasati dan  Andaru Dhimas Nugraha Vidianto) mengatakan bahwa, keluarga itu memiliki peranan penting dalam membentuk kepemimpinan milenial. Misalnya, dengan memberikan teladan bagi istri maupun anak-anak di rumah. “Meskipun saya menjabat KASAL, tetapi anak-anak dan istri saya tidak pernah menikmati fasilitas kedinasan Angkatan Laut. Saya didik mereka untuk mandiri. Kedua anak saya itu mulai dari kecil, saya didik sederhana. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, mereka menggunakan sepeda. Kalau mau kemana-mana/pribadi tidak boleh menggunakan fasilitas dinas angkatan laut, termasuk ongkos naik pesawat harus keluar uang pribadi,” papar Ade yang tercatat sebagai pejabat KASAL ke 25 ini.

Kika: Johan Tumanduk, SH.,M.M., M.Pd.K(Direktur Eksekutif Abraham Conrad Supit Center), KASAL Laksamana TNI Ade Supandi dan Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center)

                Ade Supandi menjelaskan, meskipun orang sekarang memahami suatu teknologi tapi tanpa dibekali dengan pengetahuan yang mumpuni, tidak akan bisa. Untuk itu, pengetahuan-pengetahuan yang sepadan itu harus diberikan kepada para generasi sekarang. “Pengetahuan yang paling gampang itu sesuatu yang dia bisa terlihat, kalau tidak bisa lihat cuma di kepala nggak bakal bisa. Karena itu, dalam konsep transformasi pengetahuan, metode itu harus dipahami. Apakah itu dengan mata, telinga dan tangan. Kalau suatu pengetahuan lebih gampang diterima dengan omongan, ya pakai omongan, kalau dia harus perbuatan, yang dengan contoh. Kemudian keterampilan itu, yang kita nggak pernah melakukan pada anak-anak kita. Kemanjaan di lingkungan pendidikan itu akibatnya dia tidak bisa mandiri,” tandas Pria lulusan Lemhannas RI PPSA angkatan-17 (2011).

Lanjut Ade, para orang tua sekarang jarang melatih psikomotor anaknya untuk bersikap mandiri sehingga ketika dewasa akan kebingungan menghadapi sesuatu. Ade pun mencontohkan bagaimana pengusaha besar milik keluarga, banyak yang menjual perusahaannya karena anaknya tidak bisa melanjutkan bisnis tersebut. “Banyak pengusaha besar tidak bisa bertahan dalam mememilihara perusahannya, kenapa? Karena tidak melatih, karena anaknya tahu kesuksesan orang tua sekarang tapi bagaimana orang tua dulu mengalami hal yang sulit. Sekarang sudah naik mobil, mungkin dulu bapaknya naik becak kepanasan, anak ini nggak tahu. Begitu dia menghadapi persoalan bisnis tidak ngerti itu banyak terjadi banyak perusahaan besar khususnya family bisnis,” ulasnya.

Ade menambahkan faktor ketiga yang tak kalah penting adalah karakter. Dia pun meminta untuk para generasi sekarang membangun karakter yang baik dan kuat. Jika seorang tidak memilik karakter yang baik dan kuat, menurut Ade tidak akan berhasil. “Sikap karakter ini yang harus dibangun, kalau tidak kita akan selalu kalah global competitiveness. Di manapun kalau manusianya tidak punya kemampuan baik, tidak akan jadi,” kata Ade. margianto

Kuliah Umum II STT REM “Millenials Leadership”, Prof. Dr. Abraham Conrad Supit: KASAL TNI AL Telah Memberikan Pencerahan & Wawasan Kebangsaan

Jakarta, Victoriousnews.com,- Sepanjang tahun 2018, Sekolah Tinggi Rahmat Emmanuel (STT REM)  melakukan “terobosan radikal” dalam dunia pendidikan dengan membuat program Kuliah Umum setiap bulan—menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya. Melihat deretan nama-nama pembicara yang dihadirkan, kuliah umum ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan, memberikan pencerahan sekaligus solusi atas pemecahan masalah yang kerap terjadi di lingkungan masyarakat, bangsa maupun negara.

Read More

Bambang Soesatyo (Ketua DPR-RI): Saya Sumbangkan Gaji Untuk Saudara-saudara Yang Membutuhkan

Ketua DPR-RI, Bambang Soesatyo ketika menyampaikan kata sambutan dalam perayaan natal Parlemen

Dalam perayaan natal bersama MPR-DPR-DPD, Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo justru mempraktekkan kasih itu dengan tidak mengambil gajinya sebagai Ketua DPR-RI yang disumbangkan kepada saudara-saudara setanah air yang membutuhkan. “Hendaknya ini dapat diurus dengan baik dan dapat disalurkan kepada yang benar-benar membutuhkan,” tandas Bamsoet (demikian namanya disingkat). Sementara, Oesman Sapta Odang yang memberikan kata sambutan selanjutnya justru mencuri perhatian umat dengan sejumlah joke yang dilontarkan. “Damai itu harus disertai dengan Hati Nurani,” ujarnya yang disambut tawa umat.

Hampir seluruh Anggota DPR dan Anggota DPD Republik Indonesis (RI) yang notabene merupakan Anggota MPR terlihat dalam Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI ini. Anggota DPR-RI dari lintas fraksi dan partai tersebut mengambil posisi menurut bagian tanggungjawabnya masing-masing. “Panitia mohon maaf jika terdapat nama anggota DPR-RI maupun Anggota DPD-RI yang tidak tercantum. Bukan maksud untuk mengabaikan. Tahun depan kita lakukan lebih baik lagi. Kita adalah satu di dalam Tuhan, satu di dalam Kristus,” ucap Dra Tri Budi Utami MSi (Anggota Seksi Dana dan Pendiri PDO MPR/DPR yang menjabat Kepala Sekretariat Komisi III DPR-RI) kepada Victorious News. (Epaphroditus / Margianto).

Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Ketua MPR-RI, Zulkifli Hasan

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dalam kata sambutan natal bersama MPR/DPR/DPD di gedung Nusantara IV kompleks parlemen Senayan Rabu (24/1/2018), meminta umat beragama agar tetap menjaga persatuan. “Perayaan natal bersama merupakan momentum untuk memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa. Musuh kita bukan perbedaan tapi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, korupsi dan kesenjangan. Damai di hati dan Damai di negeri Indonesia. Keberagaman sebagai keunggulan bangsa Indonesia. Sebagai mantan menteri kehutanan saya tahu Pohon kalau monokultur itu cepat punah. Kalau beragam justru bisa lestari,” ungkapnya.

Baca juga: Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Ketua Umum PAN ini berharap, di tahun politik perbedaan pilihan tetap mempersatukan dalam merah putih yang sama. “Perbedaan suku, agama sudah selesai 71 tahun lalu. Pendiri bangsa sudah sepakat untuk bersama membangun bangsa apapun latar belakangnya,” pungkas Zulkifli. Epha/Mgr.

Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Yesus yang lahir di kandang hewan sebagai gambaran kesederhanaan paling hakiki. Hidup sederhana, apa adanya, dan merasa puas dengan berkat yang diterima adalah warta Natal bagi segenap umat beriman. Rumus kemitraan adalah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Kita bermitra, tetapi tidak untuk menyembunyikan kejahatan, atau merancang malum commune (keburukan bersama). Natal adalah perayaan kemitraan dan kesetaraan. Tuhan Yesus mau bermitra dengan kemanusiaan kita dan menjadi setara dalam kemanusiaan itu meskipun Dia adalah Putra Allah,” tandas Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir. Fary Djemy Francis., M.MA (Fraksi Gerindra) yang menjabat Ketua Komisi V DPR RI.

Perayaan Natal bersama MPR-DPR-DPD, Rabu (24/1/2018) di kompleks Parlemen

Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:15) dan sub-tema “Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah bagi Semua Umat” yang dilaksanakan pada Rabu sore hingga malam pukul 16.30 hingga 20.30 WIB, Rabu, 24 Januari 2018 di Ruang Nusantara IV Komplek MPR/DPR/DPD-RI ini terbagi dalam tiga seksi, yaitu Jamuan Kasih (Pukul 16.30 WIB s/d 17.30), Ibadah (17.30 WIB s/d 19.30 WIB), dan Perayaan (19.30 WIB s/d 20.30 WIB). Sesi ibadah dimulai dengan Ucapan Selamat Datang oleh Ketua Persekutuan Doa Oikumene (PDO) MPR/DPR/DPD-RI (YOI Tahapary, Kelapa Biro Pemberitaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR-RI) dan dilanjutkan dengan Nyanyian Kidung Jemaat 109 berjudul “Hai Mari Berhimpun”.  Persembahan Pujian oleh Paduan Suara (PS) PKP Mupel (Jakarta Barat), Exoduse Voice, PS Paroki Santa Bernadette, Staf Parliament Choir, Yayasan Difabel, Bintang Timur Voice pimpinan Fary Djemy Francis), Jacko Bulan (pemain Sasandu) dan PA Abbas.

“Bumi masih kosong, tidak ada kehidupan setitikpun. Gelap, semuanya gelap. Tidak ada matahari yang menyinari bumi. Namun cahaya yang abadi telah bertahta di samudera raya. Alkitab menceritakan bahwa permulaan segala sesuatunya adalah firman. Tidak ada lain yang ada selain firman itu sendiri. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan firman itu diam di dalam Allah. Melalui firman itulah Allah menjadikan segala sesuatunya,” ucap Aryo PS Djojohadikusumo mengawali liturgi (Litrugi 1) dalam Utani Natal tentang Awal dari Segala sesuatu.

Bagian Penciptaan (Liturgi 2) oleh Mercy Chriesty Barends ST (DPR-RI) menyatakan, “Awal segala sesuatunya adalah ketika Allah menciptakan bumi. Saat itu, Allah menciptakan segala sesuatunya. Allah menjadikan terang untuk dapat silih berganti dengan gelap. Sehingga bumi dapat disusun menurut penanggalan dan musim. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Semua menjadi tersusun rapi.”

“Ketenteraman yang Tuhan berikan tidak lagi terlihat. Bangsa-bangsa telah bangkit untuk menguasai bumi. Rasa tidak puas  telah menghantui manusia, keserakahan makin merajalela. Lihat, setiap hari ada manusia yang mati, budaya tekan menekanbukan satu hal yang perlu untuk dipantangkan. Akibatkan semua berusaha untuk tidak kena tekanan, segala cara dihalalkan, termasuk berbohong dan tidak jujur dengan harapandapat terlepas dari sebuah tekanan,” ucap Ir. Marhany Victor Poly Pua (Wakil Ketua Panitia Natal, DPD-RI) pada Dosa dan Kehancuran (Liturgi 3).

Janji Keselamatan (Liturgi 4) disampaikan Rooslynda Marpaung. “Allah maha baik, tidak ada yang melebihi kasih Allah kepada orang yang berkenan kepada-Nya. Kembalilah kepada jalan Tuhan. Ia akan menuntun setiap orang yang mengasihi Dia. Tidak ada lagi kelaparan, tidak akan ada lagi penindasan. Allah mengenal umat-Nya, tidak ada satu pun yang tidak terdata dengan baik. Kejujuran akan tinggal di tengah-tengah bangsa ini,” ucap Rooslynda (F-Demokrat).

“’Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatunya baru’. Itulah janji Allah kepada manusia. Sejarah mengungkapkan dan membuka tabir-tabir hikmat. Kesalahan yang semula tidak akan terulang kembali. Saat itu gema suara gemuruh angkasa raya berkata kepada manusia, ‘Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud, dan inilah tandanya bagimu, kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan’,” ucap Drs Yoseph Umar Hadi MSi (F-PDI Perjuangan, Wakil Ketua Seksi Penghubung) pada Kedatangan Juru Selamat (Liturgi 5).

Baca Juga: Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Candle Light Service (penyalaan lilin) oleh Pembawa Renungan Natal dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Pdt Dr. Mery Kolimon., S.Th (Pendoa Syafaat), Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ (Pembawa Pesan Natal), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) atau yang mewakili, dan Letjen (Purn) Evert Erenst Mangindaan Sip (F-Demokrat) selaku penanggungjawab dan Ketua Dewan Pembina Persekutuan Doa MPR/DPR/DPD-RI. Persembahan syukur oleh Pdt. Charles Simaremare.

Setelah rehat sejenak, prosesi perayaan natal dimulai dengan masuknya para pimpinan lembaga tinggi negara, termasuk Dr (HC) H Zulkifli Hasan SE MM (Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat/MPR), H Bambang Soesatyo SE MBA (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/DPR), Eko Putro Sandjojo BSEE MBA (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono MSc PhD (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Ignasius Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Perhubungan periode 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016), dan Ir Basuki Karya Sumadi (Menteri Perhubungan) serta Letnan Jenderal (Letjen) TNI Mar (Purn) Nono Sampono (Wakil Ketua DPD-RI). Oesman Sapta Odang yang menjabat Ketua Dewan Perwakilan Daerah/DPD) menyusul kedatangan mereka kemudian.

Beturut-turut masing-masing ketua parlemen memberikan sambutan setelah Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir Fary Djemy Francis MMA menyampaikan laporannya. Pada event tersebut, Ketua MPR-RI mengharapkan perayaan Natal dapat membuat masyarakat Indonesia mampu melewati tahun politik 2018 dan 2019 saat pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota) serta Pemilihan Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden pada tahun 2019 dengan damai dan kasih.

Baca juga: Bambang Soesatyo (Ketua DPR-RI): Saya Sumbangkan Gaji Untuk Saudara-saudara Yang Membutuhkan

Perayaan Natal tahun  ini dihadiri ribuan jemaat, undangan duta besar Negara sahabat, KWI, PGI, dan Perwakilan Umat Buda Indonesia (Walubi). Pada kesempatan ini juga diserahkan bantuan kepada sejumlah yayasan dan pimpinan gereja dari berbagai wilayah Nusantara Indonesia. Pdt Abraham Lewelipa yang menggembalakan jemaat GBI Oirata (Kisar, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku) mendapat kesempatan menerima bantuan sebesar Rp 15 juta. Bantuan diserahkan oleh Aryo PS Djojohadikusumo (F-Gerindra). Ephaproditus/Margianto