Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Ketua MPR-RI, Zulkifli Hasan

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dalam kata sambutan natal bersama MPR/DPR/DPD di gedung Nusantara IV kompleks parlemen Senayan Rabu (24/1/2018), meminta umat beragama agar tetap menjaga persatuan. “Perayaan natal bersama merupakan momentum untuk memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa. Musuh kita bukan perbedaan tapi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, korupsi dan kesenjangan. Damai di hati dan Damai di negeri Indonesia. Keberagaman sebagai keunggulan bangsa Indonesia. Sebagai mantan menteri kehutanan saya tahu Pohon kalau monokultur itu cepat punah. Kalau beragam justru bisa lestari,” ungkapnya.

Baca juga: Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Ketua Umum PAN ini berharap, di tahun politik perbedaan pilihan tetap mempersatukan dalam merah putih yang sama. “Perbedaan suku, agama sudah selesai 71 tahun lalu. Pendiri bangsa sudah sepakat untuk bersama membangun bangsa apapun latar belakangnya,” pungkas Zulkifli. Epha/Mgr.

Perayaan Natal & Tahun Baru MPR-DPR-DPD 2018: Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah Bagi Semua Umat!

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Yesus yang lahir di kandang hewan sebagai gambaran kesederhanaan paling hakiki. Hidup sederhana, apa adanya, dan merasa puas dengan berkat yang diterima adalah warta Natal bagi segenap umat beriman. Rumus kemitraan adalah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Kita bermitra, tetapi tidak untuk menyembunyikan kejahatan, atau merancang malum commune (keburukan bersama). Natal adalah perayaan kemitraan dan kesetaraan. Tuhan Yesus mau bermitra dengan kemanusiaan kita dan menjadi setara dalam kemanusiaan itu meskipun Dia adalah Putra Allah,” tandas Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir. Fary Djemy Francis., M.MA (Fraksi Gerindra) yang menjabat Ketua Komisi V DPR RI.

Perayaan Natal bersama MPR-DPR-DPD, Rabu (24/1/2018) di kompleks Parlemen

Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR-DPR-DPD RI bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu” (Kolose 3:15) dan sub-tema “Kemitraan dan Kesetaraan untuk Menghadirkan Damai Sejahtera Allah bagi Semua Umat” yang dilaksanakan pada Rabu sore hingga malam pukul 16.30 hingga 20.30 WIB, Rabu, 24 Januari 2018 di Ruang Nusantara IV Komplek MPR/DPR/DPD-RI ini terbagi dalam tiga seksi, yaitu Jamuan Kasih (Pukul 16.30 WIB s/d 17.30), Ibadah (17.30 WIB s/d 19.30 WIB), dan Perayaan (19.30 WIB s/d 20.30 WIB). Sesi ibadah dimulai dengan Ucapan Selamat Datang oleh Ketua Persekutuan Doa Oikumene (PDO) MPR/DPR/DPD-RI (YOI Tahapary, Kelapa Biro Pemberitaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR-RI) dan dilanjutkan dengan Nyanyian Kidung Jemaat 109 berjudul “Hai Mari Berhimpun”.  Persembahan Pujian oleh Paduan Suara (PS) PKP Mupel (Jakarta Barat), Exoduse Voice, PS Paroki Santa Bernadette, Staf Parliament Choir, Yayasan Difabel, Bintang Timur Voice pimpinan Fary Djemy Francis), Jacko Bulan (pemain Sasandu) dan PA Abbas.

“Bumi masih kosong, tidak ada kehidupan setitikpun. Gelap, semuanya gelap. Tidak ada matahari yang menyinari bumi. Namun cahaya yang abadi telah bertahta di samudera raya. Alkitab menceritakan bahwa permulaan segala sesuatunya adalah firman. Tidak ada lain yang ada selain firman itu sendiri. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan firman itu diam di dalam Allah. Melalui firman itulah Allah menjadikan segala sesuatunya,” ucap Aryo PS Djojohadikusumo mengawali liturgi (Litrugi 1) dalam Utani Natal tentang Awal dari Segala sesuatu.

Bagian Penciptaan (Liturgi 2) oleh Mercy Chriesty Barends ST (DPR-RI) menyatakan, “Awal segala sesuatunya adalah ketika Allah menciptakan bumi. Saat itu, Allah menciptakan segala sesuatunya. Allah menjadikan terang untuk dapat silih berganti dengan gelap. Sehingga bumi dapat disusun menurut penanggalan dan musim. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Semua menjadi tersusun rapi.”

“Ketenteraman yang Tuhan berikan tidak lagi terlihat. Bangsa-bangsa telah bangkit untuk menguasai bumi. Rasa tidak puas  telah menghantui manusia, keserakahan makin merajalela. Lihat, setiap hari ada manusia yang mati, budaya tekan menekanbukan satu hal yang perlu untuk dipantangkan. Akibatkan semua berusaha untuk tidak kena tekanan, segala cara dihalalkan, termasuk berbohong dan tidak jujur dengan harapandapat terlepas dari sebuah tekanan,” ucap Ir. Marhany Victor Poly Pua (Wakil Ketua Panitia Natal, DPD-RI) pada Dosa dan Kehancuran (Liturgi 3).

Janji Keselamatan (Liturgi 4) disampaikan Rooslynda Marpaung. “Allah maha baik, tidak ada yang melebihi kasih Allah kepada orang yang berkenan kepada-Nya. Kembalilah kepada jalan Tuhan. Ia akan menuntun setiap orang yang mengasihi Dia. Tidak ada lagi kelaparan, tidak akan ada lagi penindasan. Allah mengenal umat-Nya, tidak ada satu pun yang tidak terdata dengan baik. Kejujuran akan tinggal di tengah-tengah bangsa ini,” ucap Rooslynda (F-Demokrat).

“’Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatunya baru’. Itulah janji Allah kepada manusia. Sejarah mengungkapkan dan membuka tabir-tabir hikmat. Kesalahan yang semula tidak akan terulang kembali. Saat itu gema suara gemuruh angkasa raya berkata kepada manusia, ‘Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud, dan inilah tandanya bagimu, kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan’,” ucap Drs Yoseph Umar Hadi MSi (F-PDI Perjuangan, Wakil Ketua Seksi Penghubung) pada Kedatangan Juru Selamat (Liturgi 5).

Baca Juga: Zulkifli Hasan (Ketua MPR): Perayaan Natal Merupakan Momentum Untuk Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Candle Light Service (penyalaan lilin) oleh Pembawa Renungan Natal dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Pdt Dr. Mery Kolimon., S.Th (Pendoa Syafaat), Prof. Dr. Frans Magnis Suseno SJ (Pembawa Pesan Natal), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) atau yang mewakili, dan Letjen (Purn) Evert Erenst Mangindaan Sip (F-Demokrat) selaku penanggungjawab dan Ketua Dewan Pembina Persekutuan Doa MPR/DPR/DPD-RI. Persembahan syukur oleh Pdt. Charles Simaremare.

Setelah rehat sejenak, prosesi perayaan natal dimulai dengan masuknya para pimpinan lembaga tinggi negara, termasuk Dr (HC) H Zulkifli Hasan SE MM (Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat/MPR), H Bambang Soesatyo SE MBA (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/DPR), Eko Putro Sandjojo BSEE MBA (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi), Ir Mochamad Basoeki Hadimoeljono MSc PhD (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Ignasius Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Perhubungan periode 27 Oktober 2014 hingga 27 Juli 2016), dan Ir Basuki Karya Sumadi (Menteri Perhubungan) serta Letnan Jenderal (Letjen) TNI Mar (Purn) Nono Sampono (Wakil Ketua DPD-RI). Oesman Sapta Odang yang menjabat Ketua Dewan Perwakilan Daerah/DPD) menyusul kedatangan mereka kemudian.

Beturut-turut masing-masing ketua parlemen memberikan sambutan setelah Ketua Panitia Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 MPR/DPR/DPD-RI, Ir Fary Djemy Francis MMA menyampaikan laporannya. Pada event tersebut, Ketua MPR-RI mengharapkan perayaan Natal dapat membuat masyarakat Indonesia mampu melewati tahun politik 2018 dan 2019 saat pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota) serta Pemilihan Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden pada tahun 2019 dengan damai dan kasih.

Baca juga: Bambang Soesatyo (Ketua DPR-RI): Saya Sumbangkan Gaji Untuk Saudara-saudara Yang Membutuhkan

Perayaan Natal tahun  ini dihadiri ribuan jemaat, undangan duta besar Negara sahabat, KWI, PGI, dan Perwakilan Umat Buda Indonesia (Walubi). Pada kesempatan ini juga diserahkan bantuan kepada sejumlah yayasan dan pimpinan gereja dari berbagai wilayah Nusantara Indonesia. Pdt Abraham Lewelipa yang menggembalakan jemaat GBI Oirata (Kisar, Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku) mendapat kesempatan menerima bantuan sebesar Rp 15 juta. Bantuan diserahkan oleh Aryo PS Djojohadikusumo (F-Gerindra). Ephaproditus/Margianto

POLITISI KRISTEN HARUS PRAKTIKKAN NILAI-NILAI KRISTIANI & AJARAN FIRMAN TUHAN!

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com-Pengamat politik, Boni Hargen sebagi pemateri dalam diskusi publik yang mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat, mengatakan, diskusi ini sangat menarik  karena bicara Kristen. Karena ini patokan untuk seorang politisi yang sesuai dan praktikkan nilai-nilai Kristen. “Selama ini tidak ada jaminan politisi Kristen tidak lepas dari korupsi. Ini penting diperhatikan. Karena itu, satu hal yang penting terkait dengan topik bahasan adalah metanoia, artinya harus sesuai dengan firman,” tutur Boni Hargens

Boni Hargens (Direktur Lembaga Pemilih Indonesia)

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini mengatakan bahwa, menjembatani agama dan politik adalah perjuangan missioner yang dilandasi oleh asumsi etis yang dibahas di awal: moralitas adalah kandungan inheren dari politik demokrasi. Hal itu benar! Prinsip-prinsip pokok demokrasi adalah nilai-nilai etis yang melandasi seluruh argumentasi tentang kandungan moral dalam demokrasi. Namun, demokrasi dalam prinsip (das Sollen) dan demokrasi dalam praksis (das Sein) adalah dua hal yang berbeda. Dan selalu ada jurang di antara. “Agama mendesak operasionalisasi prinsip moral harus terungkap dalam keseluruhan praktek politik. Hal itu mengandaikan para pelaku politik memahami, menerima, dan berniat mewujudkan dalil moral dalam keberkuasaan. Maka, proses politik sesungguhnya upaya memperjuangkan kebaikan umum yang dilandasi dan disasarkan pada tujuan etis yaitu kebaikan setiap orang yang ada dalam lingkup politik. Fakta ini jarang ditemukan. Tautan agama dan politik yang diperlihatkan justru berupa gambar-gambar kekejian, diskriminasi, dan hasutan kebencian terhadap kelompok politik lain yang berbeda agama. Itulah yang kita lihat dalam proses pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017. Kekalahan Ahok bukanlah alasan untuk meratap, tetapi cara Ahok dikalahkan. Ahok dikalahkan dengan mobilisasi statement keagamaan yang berisikan kebencian, permusuhan, dan dendam. Di sini, agama bukan oase moral melainkan benih pertikaian,” papar Boni Hargens.

Baca Juga:GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

Menurut Boni, membangun habitus baru adalah upaya mendekonstruksi habitus lama yang tidak beradab dan mengkonstruksi ruang hidup (Lebensraum) yang menumbuhkan keadaban politik. Agama bukan sumur kebencian melainkan oase yang memberi kesegaran. Agama menjadi sumber kebajikan untuk memberadabkan politik yang binal dan biadab. “Kalau dalam habitus lama, moral dicabut dari politik, maka dalam habitus baru, moral adalah energi dasar dari politik. Habitus baru yang kita maksud adalah suatu keadaan hidup baru yang di dalamnya nilai-nilai moral menjadi pedoman dan roh yang menjiwai seluruh aktivitas sosial politik. Dalam habitus lama, manusia politik menjadikan dirinya sebagai sentrum dari aktivitas dan tujuan politiknya pada penciptaan bonum commune. Mengikuti alur berpikir kaum utilitarian, suatu tindakan dianggap baik atau jahat tidak ditentukan oleh motifnya, tetapi oleh seberapa besar keuntungan yang diberikan untuk hajat hidup orang banyak,” ungkap Boni. margianto

POLITISI KRISTEN HARUS TAKUT AKAN TUHAN, CAKAP & BENCI AJARAN SUAP

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com-Dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Gerakan Kasih Indonesia (Gerkindo) dengan mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom, mengungkapkan, dalam pemaparannya, bahwa, ideologi bangsa kita masih belum tuntas. Karena masih banyak orang maupun kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengganti ideologi bangsa Indonesia. Kemudian Gomar menyitir pernyataan seorang penulis buku bernama Max Lane, bahwa bangsa yang belum selesai dengan ideologinya, belum siap untuk membangun bangsanya.

Pdt. Gomar Gultom (Sekum PGI)

Gomar menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki sistem demokrasi prosedural/keterwakilan sesuai logika dasar pemilu yang melahirkan 4 indikator yang dapat merusak mental demokrasi. Pertama,  terjadi politik transaksional (kalau tidak ada uang jangan berharap bisa menang pemilu atau menang sebagai caleg).  “Hal inilah yang bisa memicu fenomena perburuan harta dan kekuasaan. Sehingga yang terjadi adalah perubahan dari ketokohan seseorang dan kekuatan pasar pemilih. Jika ini terjadi terus menerus maka akan berujung, fungsi Negara untuk mensejahterakan rakyatnya akan tergerus oleh proses privatisasi,” tutur Pdt. Gomar Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat.

Indikator yang kedua, lanjut Gomar, adalah terjadinya politik identitas yang bisa menjadi ancaman serius bagi kemajemukan. Misalnya, politik identitas dan politisasi agama yang dimainkan dalam Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. “Indikator ketiga adalah terjadinya demokrasi Nir-etika—atas nama demokrasi yang menganggap seolah-olah sah dan bisa menghalalkan segala cara. Indikator keempat adalah terjadinya oligarki partai, setiap caleg bisa mendapat tiket dan gerbang masuk ke parlemen harus melalui partai,” papar Gomar.

Lalu bagaimana peran gereja terhadap politik? Menurut Gomar, gereja harus hadir menjadi garam dan terang serta mengusahakan kesejahteraan bangsa. “Gereja tidak boleh terjebak dalam politik praktis. Tetapi gereja harus memberikan pendidikan politik bagi warga/jemaat yang ingin terjun ke dunia politik. Misalnya, mencari figur yang takut akan Tuhan, cakap dan benci terhadap ajaran suap,” urainya.

Masih menurut Gomar, idealnya seorang politisi Kristen setidaknya harus memiliki  kriteria-kriteria berikut antara lain; memiliki identitas, cakap, integritas, influence dan ada keberpihakan kepada konstituen yang diwakili. “Dia harus punya identitas yakni harus jelas Kristennya, cakap punya kemampuan legislatif dan lobi, juga memiliki pengaruh dan tentu harus jelas keberpihakan kepada konstituen yang diwakili,” tegas Gomar Gultom. margianto

GERKINDO DORONG UMAT KRISTEN UNTUK MENJADI POLITISI YANG CERDAS & BERINTEGRITAS

Pembicara diskusi Gerkindo 19/1. Ki-ka: Jerry Sumampouw, Yerry Tawalujan, Boni Hargens, dan Pdt. Gomar Gultom

Jakarta, Victoriousnews.com- Ormas bernama Gerakan Kasih Indonesia (GERKINDO) menyelenggarakan Diskusi Publik dengan mengusung tema “Bagaimana Menghadirkan Politisi Kristen Yang Cerdas Dan Berintegritas”, Jumat (19/01/2018) di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)  Lantai 10, Jalan Salemba Raya 12 Jakarta Pusat. Acara diskusi yang dipandu oleh Ketua Umum Gerkindo, Pdt. Efraim Yerry Tawalujan sebagai moderator ini, menampilkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya. Diantaranya adalah: Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI), Jeirry Sumampouw (Koordinator Komite Pemilih Indonesia/TePi)  dan Boni Hargens (Direktur Lembaga Pemilih Indonesia/LPI).

Ketua Umum Gerkindo, Yerry Tawalujan, mengatakan, bahwa memberikan edukasi politik kepada warga gereja dan pemimpin-pemimpin Kristen merupakan salah satu tugas pihaknya. Tujuannya agar warga gereja maupun pemimpin Kristen aktif terlibat di dunia politik. “Bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi sebagai bagian dari pelayanan, bagian dari tanggung jawab rohani untuk menjadi terang dan garam, juga di bidang politik.  Karena, tujuan akhirnya untuk Indonesia sejahtera,” tukas Yerry.

Yerry Tawalujan (Ketua Umum Gerkindo)

Menurut Yerry, dari perspektif Kristiani, Indonesia sejahtera adalah perintah Alkitab. Untuk membuat bangsamu sejahtera,  itu jelas tertulis dalam Alkitab yaitu dalam kitab Yeremia 29 ayat 7. Lebih lanjut, dia menjelaskan, menghadirkan politisi yang cerdas dan berintegritas merupakan dua hal yang harus dimiliki oleh seluruh politisi, khususnya politisi Kristen. “Cerdas, berbicara tentang kapabilitasnya tentang skillnya, yang akan menjadi pertanyaan kenapa Anda mau maju jadi caleg,” katanya.

Lanjut Yerry, integritas menyangkut karakter seseorang. Karena banyak orang yang cerdas, namun integritasnya kurang. “Kita mau cari dua hal ini berjalan bersama-sama. Tokoh yang cerdas, kadar intelektualnya bagus, performa kinerjanya luar biasa, track recordnya bagus, tapi juga ditunjang dengan integritas, dengan karakter, karakter yang sudah terbukti, orang-orang seperti inilah yang harus kita hadirkan di Senayan (DPR) maupun di DPD tingkat I dan tingkat II,” tandasnya.

Sementara itu,  Jerry Sumampouw, lebih menyoroti bahwa seorang politisi harus mengenal dirinya, mengenal saingannya, mengenal medan pertempuran dan harus memahami regulasi atau aturan pemilu. “Kalau seorang caleg tidak punya modal materi, modal sosial, modal basis konstituen maka sebaiknya berpikir ulang untuk maju. Sebaiknya juga harus maju dari daerah dimana dia tinggal,” tegas Jerry.

Jerry Sumampouw (Koordinator TePI)

Apakah mungkin ada politisi Kristen yang bersih? “Jika kita ingin memiliki politisi Kristen yang bersih, maka harus dipersiapkan dari sekarang. Misalnya, mengajak/mengkader warga gereja yang berkompeten untuk menjadi caleg; mengkosolidasikan caleg Kristen untuk didistribusikan di lintas partai. Kenapa harus begitu? Karena dalam medan politik itu kotor, maka kita harus menjadi “sapu” untuk membersihkannya. Intinya, harus ada caleg Kristen yang bersih,” ujar Jerry Sumampouw.

Baca juga: POLITISI KRISTEN HARUS TAKUT AKAN TUHAN, CAKAP & BENCI AJARAN SUAP

Menurut Jerry, kerja politik itu harus rasional, tidak boleh emosional. Kerja politik itu tidak boleh reaktif, tetapi harus proaktif. “Dalam politik itu tidak ada juara harapan. Yang ada hanya menang atau kalah. Oleh sebab itu seorang politisi tidak boleh melakukan kesalahan. Sebab sedikit saja kesalahan, maka bisa berakibat fatal. Kita harus tanamkan sejak dini, bahwa politik adalah pengabdian untuk menyelesaikan persoalan. Dan politik adalah adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk dilayani,” ungkap Jerry.margianto

Sambutan Walikota Jaksel, Tri Kurniadi Dalam Perayaan Natal PGLII: Kiranya Natal Membawa Kebahagiaan Buat Kita Semua

H.Tri Kurniadi (Walikota Jakarta Selatan)

Jakarta, Victoriousnews.com,-Perayaan Natal Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang digelar di Grha Karmel ITC Permata Hijau Jakarta Selatan (15/1) telah berlangsung lancar. Acara yang mengangkat tema : “Celebration, Salvation,  & Reconsilation ini tampak dihadiri oleh pemerintah Jakarta Selatan dan pimpinan aras gereja nasional, yakni: H. Tri Kurniadi.,SH  (Walikota Jakarta Selatan mewakili Gubernur DKI), Pdt. Dr. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII),  Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketua Umum PP PGLII), Pdt Dr. Freddy Soenyoto, MTh (Sekum PP PGLII), Pdt. Royke Bovie Rori  (Ketua Umum PW PGLII DKI Jakarta), Pdt. Dr. Antonius Natan (Sekum PW PGLII DKI Jakarta),  Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI), Pdt. Gomar Gultom M. Th (Sekum PGI), Dr. Maya Malau, M.Pd (perwakilan dari Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI), Lisa Mulyati S.Sos., M.Si (Pembimas Kristen DKI Jakarta), para hamba Tuhan serta umat Kristen di Indonesia.

                Walikota Jakarta Selatan H.Tri Kurniadi, mewakili Gubernur DKI Jakarta, dalam kata sambutannya,  memberikan apresiasi tinggi bagi setiap orang yang mempersiapkan perayaan Natal, “Diantara kesibukan kerja yang menumpuk, kita berharap perayaan natal setiap tahunnya bisa menjadi budaya baru untuk kebersamaan terutama bagi 7 aras gereja. Biarlah kita jalin kebersamaan dengan sekitar kita yang sering terabaikan. Kiranya natal membawa kebahagiaan buat kita semua,” demikian kata  Walikota Jaksel Tri Kurniadi.

Sedangkan, Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang, mengatakan, bahwa, PGI bergembira bisa menghadiri acara ini. “PGI melihat bahwa setiap kita memiliki tugas yang sama sebagai warga negara di negara dengan masyarakat majemuk. Dan untuk menghadapi tahun politik, Pendeta Lebang mengatakan agar semua gereja tidak terlibat politik. Henriette mengakui bahwa gereja memang telah terpolarisasi namun kita harus tetap menyadari bahwa gereja berasal dari firman yang sama,” tandas Ketua Umum PGI, Henrriette.

Paduan Suara Mahasiswi STT REM turut mengisi acara Natal PGLII

Dalam khotbahnya, Ketua Umum PGLII Pendeta Dr. Ronny Mandang mengatakan bahwa Celebration diungkapkan dengan suatu alasan, di mana kehadiran Yesus di muka bumi sesungguhnya kesukaan besar bagi semua kaum. Setiap kita diingatkan bahwa, Hari Raya Natal adalah momentum pernyataan kesukaan besar di antara bangsa-bangsa yang sedang mengalami kesulitan besar. “Kita harus membawa kesukaan besar di tengah kesulitan besar!, ” demikian kata Pendeta Mandang.

Pdt. Dr. Ronny Mandang (Ketum PGLII) ketika menyampaikan firman Tuhan

Begitu juga dengan Salvation, Lanjut Pdt. Mandang,  yang diungkapkan karena kehadiran Yesus yang menyelamatkan setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Natal adalah kabar keselamatan besar, karena Yesus adalah Tuhan yang memberikan keselamatan. Lalu Rekonsiliasi yang diungkapkan para malaikat, di mana Natal juga merupakan momentum perdamaian, mengingat kita sebagai orang percaya adalah orang-orang yang memegang amanat pembawa damai sejahtera. Setiap kita yang meletakkan percaya pada Bayi Natal itu dengan sendirinya berdamai dengan Tuhan. Namun tidak berhenti di situ saja kita juga harus berdamai dengan diri sendiri, bahkan juga berdamai dengan lingkungan sekitar kita, dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Berbicara mengenai perayaan Natal PGLII yang mengangkat tema Celebration, Salvation, Reconsiliation (Lukas 2), Sekum PW PGLII DKI Jakarta, Dr. Antonius Natan, mengatakan, bahwa, Natal mengingatkan kita  bahwa Kelahiran Yesus adalah suatu peristiwa yang perlu dirayakan dan disyukuri.

Trio Sekum. Kika: Pdt. Dr. Antonius Natan (Sekum PW PGLII DKI Jakarta), Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekum BPH PGI) dan Pdt Dr. Freddy Soenyoto, M.Th (Sekum PP PGLII)

“Peristiwa dimana manusia mendapatkan anugerah kehidupan. Dunia menjadi fokus sorga agar relasi yang rusak dipulihkan. Karya penebusan Yesus diawali dengan Allah menjelma menjadi manusia, mempersamakan martabatNya menjadi manusia sehingga manusia layak untuk menjadi penghuni Sorga. Dan tentu saja manusia yang ada saat ini perlu melakukan respon dengan memperbaiki hubungan antar sesama manusia dan terutama pemulihan terhadap diri sendiri. Manusia diciptakan dengan serupa dengan Allah dengan pengertian bahwa manusia hendaknya memiliki Personality yang sama dengan Allah, memiliki Karakter yang sama dengan Allah. Proses inilah yang terus menerus dikerjakan manusia dari hari ke hari hingga tahun ke tahun hingga ajal menjemput. Maka kita perlu bersukacita menjalani hidup bersama dengan proses yang Tuhan kehendaki. Mari masuki tahun 2018 bersama dengan Allah kita cakap menanggung segala perkara,” pungkas Dr. Antonius kepada Victorious. Margianto/foto: Roy, Antonius

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D ketika memberikan kuliah umum di STT REM

Jakarta,Victoriousnews.com,-Saat memberikan kuliah umum yang mengangkat tema “Disruption” di kampus STT REM, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI), Prof. Rhenald Kasali, Ph.D mengatakan, pada dasarnya manusia takut akan perubahan. Itu sebabnya banyak orang, khususnya generasi tua atau zaman ‘Old’, tidak suka bahkan melakukan perlawanan terhadap perubahan atau Reformator (Pelaku Perubahan) karena dianggap mengancam kehidupan mereka.

                                                                                         

“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan menghadapi era Disruption. Ini adalah era dimana kehidupan semakin dinamis di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat berubah. Era disruption menantang kita bagaimana menghadapi musuh yang tidak kelihatan. Orang tidak lebih siap yang kehidupannya di atas turun ke bawah dibanding  yang dari bawah menuju ke atas. Itu sebabnya banyak orang stress bahkan bunuh diri ketika kehidupan atau prestasinya menurun,” papar Prof. Rhenaldi yang juga pendiri ‘Rumah Perubahan’ ketika menyampaikan kuliah umum di STT REM, Jalan Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G, Kelapa Gading, Jakarta Utara, (08/01/2018).

Menurut Prof. Rhenaldi di era disruption ini, orang yang memiliki pendidikan (ijazah) tinggi belum tentu hidupnya berhasil. Yang berhasil adalah mereka yang bekerja keras dengan kreatifitas, inovatif dan inisiatif. “Kita masuk kerja dengan ijazah, tetapi orang mendapatkan jabatan dan penghasilan tinggi karena kinerja. Era disruption dimana penemuan (Teknologi dan Inovasi) baru semakin cepat, dengan sendirinya menghabisi produk dan bisnis lama dan menghasilkan produk dan bisnis baru. Ojek online dan shooping online contohnya. Disruption juga menghabisi professional job menjadi virtual job. Kondisi ini sesungguhnya bukan mengurangi lapangan kerja dan menambah pengangguran tetapi memunculkan profesi baru dan lapangan kerja baru. Siapa yang siap?,” paparnya.

Baca Juga : Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Lanjut Kasali, anak-anak generasi mendatang harus dipersiapkan memiliki mental yang baik, yakni, fokus, terus mengembangkan kemampuan diri menjadi inovatif dan kreatif dan memiliki sifat inisiatif.“Sayangnya banyak orangtua salah mendidik anak dengan memanjakan mereka dengan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak memberikan kepercayaan diri dan memaksakan keinginan demi rasa bangganya kepada anak. Generasi milineal saat ini maunya serba instan, happy, mudah dan santai mendapatkan uang, cepat menyerah dan putus asa serta tidak fokus,” terangnya.

Kata Kasali, orangtua yang notabene mendapat pola didikan masa lalu memaksakan pola didikannya kepada anak zaman now. Padahal, seharusnya didikan pada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi zamannya. “Anda mau membawa masa lalu ke masa sekarang atau membawa masa depan ke masa sekarang?,” ujarnya.

Prof Rhenald  Kasali berpose bersama dengan para dosen STT REM

Masih kata Prof. Kasali, Disruption itu memiliki 3 zona waktu, yakni: the present, the future dan the past. “ Hari ini orang bisa mengungkapkan pikirannya secara terbuka, baik pikiran yang positif maupun pikiran yang negatif. Kalau zaman old, kita menulis buku harian (diary) digembok di lemari dan sifatnya sangat rahasia takut dibaca orang lain. Tetapi sekarang, setiap pikiran kita bisa dibaca di media sosial,”tandas Prof. Kasali. margianto

Dr.Ariasa Supit, M.Si: Mulai Tahun 2018 Kuliah Umum STT REM Akan Diadakan Sebulan Sekali

Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si  saat menyampaikan sambutan dalam kuliah umum STT REM

Jakarta, Victoriousnews.com,-“Dunia saat ini mengalami kecanggihan teknologi yang serba cepat, murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Setiap orang juga merasakan dampak dari kecanggihan teknologi, mulai dari HP/Android, media sosial, televisi, internet dan sebagainya—yang semuanya bisa dikerjakan serba cepat. Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, dunia pendidikan saat ini tidak bisa lagi seperti dulu yang belajar mengetahui apa itu ilmu Akuntansi, Teknik, Hukum dan lainnya karena teknologi zaman dinamis, dunia berubah semakin cepat,” Ujar Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit, M.Si dalam kata sambutannya dalam acara Kuliah Umum Kepemimpinan di kampus Sekolah Tinggi Teologia Rahmat Emanuel (REM), Jl.  Pelepah Kuning III Blok WE 2 No.4 G-K Kelapa Gading Jakarta Utara.

Lanjut Ariasa, STT REM berencana akan menggelar kuliah umum sebulan sekali. Hal itu guna menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa, tidak hanya belajar mengenai Teologi. Bagaimana menyiapkan mahasiswa yang siap di era perubahan cepat dengan kreatif dan inovatif dalam mengaplikasikan keilmuannya. “Mulai tahun 2018 STT REM telah membuat program, bahwa kuliah umum ini akan dilaksanakan sebulan sekali (setiap bulan). Dan mulai Januari ini menghadirkan Prof. Rhenald Kasali sebagai pembicara,” tutur Ariasa.

Kika: Johan Tumanduk (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) dan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

Dengan mengusung tema “Disruption—Menghadapi Lawan-Lawan Yang Tak Kelihatan”, kuliah umum yang gelar tanggal 8 Januari 2018, diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi S1 dan S2 STT REM, sejumlah dosen pengajar, Wakil Ketua 1, Pdt. Dr. Antonius Natan, M.Th, Pdt. Dr. Rahtomojati, Pdt. Dr. Lenny Chendralisan, Pdt. Dr. Ariasa Supit, M.Si (Ketua STT REM), Agung Suprio (Komisioner KPI Pusat), serta menghadirkan pembicara Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FEUI, Penulis, pendiri Rumah Perubahan) dan William Wiguna M.Pd, CPHR, CBA, CPI (Ketua Umum Aspirasi, Direktur Program Pasca Sarjana STT REM). Acara ini dipandu oleh Bapak Johan Tumanduk, S.H, M.M; M.Min, M.Pd.K (Direktur Eksekutif Conrad Supit Center) selaku Moderator.

Komisioner KPI Pusat, Agung Suprio

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat), Agung Suprio, mengungkapkan, bahwa tema Disruption ini memang sangat cocok dengan kondisi kekinian. Sesuai dengan UU No.32/2002, tentang penyiaran Indonesia, bahwa konsep penyiaran saat ini adalah anytime dan anywhere. “Kita menyiarkan sesuatu tidak menunggu waktu lama. Kita harus siap berubah untuk mengikuti teknologi. Contohnya, jika ada stasiun televisi yang tidak mau berubah dan tidak punya konten kreatif, cepat atau lambat akan bangkrut. Sebab sesuai data asosiasi penyiaran televisi, saat ini per hari, orang nonton televisi semakin menurun dibandingkan orang yang melihat internet/media sosial,” tukas Agung Suprio dalam kata sambutannya.

Baca Juga :Prof. Rhenald Kasali, Ph.D (Guru Besar FE-UI): Suka Tidak Suka, Kita Harus Hadapi Era Disruption

Menurut Agung, setiap hari rata-rata orang menonton internet melalui smartphone atau ipad 180 menit per-hari. Diperkirakan pada Tahun 2030 penyiaran televisi dan radio sudah tidak ada lagi. “Sekarang penyiaran sudah berubah. Penikmat televisi dan radio sudah mulai beralih ke Youtube, Facebook, Instagram dan lainnya menggunakan internet,” ujar dia.

Kata Agung, Disruption (era dinamis perubahan cepat teknologi) dibutuhkan KPI guna memberikan kreativitas dan inovasi baru. “Industri pertelevisian dan radio akan berusaha memberikan tontonan atau materi siaran yang lebih baik dan menarik masyarakat,” jelas Agung.

  

 

Seusai kuliah umum, sebagai bentuk terimakasih, panitia Kuliah Umum STT REM diwakili oleh Ketua STT REM, Dr. Ariasa Supit memberikan plakat kepada Prof. Rhenald Kasali. margianto

Dr. Antonius Natan, M.Th: Tahun 2018 Adalah Tahun Pujian dan Kesaksian

Dr. Antonius Natan, M.Th (Wakil Ketua I Bidang Akademik STT REM)

Awal tahun 2018 adalah saat yang tepat kita kembali mempelajari apa yang menjadi pengharapan dalam Tuhan Yesus. Umat Tuhan perlu memahami waktuNya. Kita akan mengerti apa yang Tuhan sedang kerjakan dan apa yang harus kita lakukan untuk meresponi kehendakNya. Demikian dikatakan oleh Wakil ketua I Bidang Akademik Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM), Dr. Antonius Natan, M.Th. “Kita percaya di tahun 2018 Tuhan Akan terus melanjutkan pekerjaanNya. Awal tahun baru politik akan memanas, fungsi sosial media menjadi ‘berhala baru’ bagi banyak kalangan. Sebab pada bulan Juni 2018 akan ada PILKADA di 171 kota dan 17 provinsi pemilihan gubernur baru dan sisanya pilkada walkota dan bupati. Kemudian, pada bulan April 2019, akan diadakan Pemilu DPR, DPRD I dan II serta dan Pemilihan Presiden secara bersamaan,” tutur Dr. Antonius.

Menurut Dr. Antonius yang juga menjabat sebagai Sekretaris Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) DKI Jakarta ini mengungkapkan, secara global kepanikan multidimensi akan terjadi, resesi ekonomi dengan siklus 10 tahunan akan melanda, perebutan kekuasaan di Timur Tengah akan mempengaruhi kawasan Asia. Anomali cuaca membawa malapetaka tersendiri dan banyak hal lagi yang menggoncangkan. Tetapi di dalamnya ada ekspresi dari peperangan rohani, perubahan secara drastis akan terjadi membuat manusia kehilangan pengharapan dan kehilangan akal sehat. “Maka perlu Umat Tuhan berdoa dan tetap melekat dengan Tuhan Yesus. Dengan semakin banyak umat Tuhan memuji dan menyembahNYA maka akan terjadi ‘self inner healing’ yang menghapus luka luka batin, kekuatiran dan kecemasan, pemulihan membawa umat Tuhan dalam keadaan kudus sehingga kuat dan menjadi Umat Pemenang,” tukasnya.

Lanjut Anton, umat Tuhan harus siap menjadi tumpuan orang banyak dan membawa kesaksian yang membangkitkan kasih dan kuasa Tuhan. Sebab, kedatangan Tuhan Yesus semakin terasa dekat. “Melalui statement Presiden USA Donald Trump di akhir 2017 mengenai ibukota Israel di Yerusalem adalah sebagai bagian penggenapan Janji Tuhan sepenuhnya terhadap bangsa Israel secara jasmani. Tahun 2018 adalah TAHUN PUJIAN DAN KESAKSIAN. Sesuai Firman Tuhan: “Yoël 2:24 Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. Mari masuki tahun baru dengan rasa syukur dan pujian pengagungan. margianto