Pesan Komjen Pol.Dharma Pongrekun Dalam Kotbahnya di GBI REM Ciputra Lantai Dasar: Mumpung Masih Ada Kesempatan, Kabarkan Injil & Menangkan Banyak Jiwa!

Pesan Komjen Pol.Dharma Pongrekun Dalam Kotbahnya di GBI REM Ciputra Lantai Dasar: Mumpung Masih Ada Kesempatan, Kabarkan Injil & Menangkan Banyak Jiwa!

Ratusan Jemaat GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Tampak Antusias mendengarkan firman Tuhan, Minggu (19/1)

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Wakil Kepala Badan Siber & Sandi Negara RI, Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun.,SH.,M.H.,MM menjadi pembicara dalam ibadah minggu raya di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol- Jakarta Barat. Dalam ibadah tersebut Komjen Dharma mengupas ayat Kitab 1 Timotius 6:10 a, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Menurutnya, di era digital seperti saat ini, setiap orang di seluruh dunia akan digiring menjadi hamba uang (cinta uang).“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan menyombongkan diri. Mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama. Biang dosa, perkara kehidupan saat ini adalah uang. Bahkan gara-gara uang, orang bisa melakukan korupsi, tega membunuh, tidak peduli terhadap keluarga/ teman dan melakukan kejahatan lainnya. Coba kita perhatikan kekacauan yang terjadi selama ini ujung-ujungnya adalah uang. Uang berkaitan dengan angka-angka, besaran angka membuat orang menjadi diperhamba oleh uang. Sebab dengan uang banyak, manusia bisa menyombongkan dirinya. Inilah tanda-tanda akhir zaman,” tutur Komjen Dharma.

Komjen Dharma mengungkapkan, bahwa, di akhir zaman ini, tidak ada gunanya memiliki uang banyak, apartemen mewah, punya mobil mewah dan sebagainya. Jika hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. “Kita harus siap untuk tidak memiliki apa-apa, asal hidup kita benar-benar memuliakan nama Tuhan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa apa yang kita miliki semua adalah titipan yang berasal dari Tuhan; itu pemahaman yang keliru. Yang benar adalah apa yang diperoleh dari Tuhan itu adalah anugerah dan kasihNya Tuhan kepada kita. Sehingga kita dapat mengembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan. Artinya, kita diberikan mandat dari Tuhan untuk mengelolanya dengan baik dan benar. Tidak boleh menyimpang dari iman. Pertanyaannya sekarang, saudara mau masuk warga negara kerajaan Surga atau warga kerajaan neraka? Disini hanya ada dua pilihan. Jika kelakuan saudara tidak mencerminkan Kristus, ya bisa dipastikan akan menjadi penghuni neraka. Saatnya saudara menyiapkan diri, supaya hidupnya tahu akan dibawa kemana dan tidak menyesal. Sebab, ketika saudara mati, semua akan ditinggalkan. Kekayaan dan kemewahan hanyalah ilusi saja,” paparnya.

Ki-ka: Ps. Paulus T Supit (Gembala Sidang GBI REM), Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun., SH (Wakil Kepala BSSN RI), Ps. Pengky Andu dan Bapak Johan Cramer berpose bersama usai ibadah.

 Lanjut Komjen Dharma, kini saatnya mengoreksi diri kita masing-masing. “Apakah saudara sudah menjalankan perintah Amanat Agung seperti yang tertulis dalam kitab Markus 28:19? Minimal bawa satu jiwa saja. Misalnya, kalau saudara memiliki keluarga yang belum mengenal Tuhan, sampaikan Injil kepada mereka. Jangan takut. Jika mereka tidak mau mendengar kabar Injil, ya tidak masalah, nanti kuasa Roh Kudus yang akan bekerja. Yang terpenting saudara telah menggenapi Amanat Agung tersebut. Sebab setelah saudara menerima keselamatan, maka tugas dan tanggungjawab kita adalah menyampaikan dan membagikan keselamatan itu kepada orang yang belum menerima Tuhan Yesus. Mumpung masih ada kesempatan, mari kita kabarkan Injil. Sebenarnya miris juga jika melihat kondisi manusia zaman di era kecanggihan teknologi saat ini. Kebanyakan mereka sangat tergantung dengan kecanggihan Smartphone/Gadget. Padahal disadari atau tidak, smartphone/gadget membuat orang menjadi ingin serba instan, addict (kecanduan), hingga menciptakan pertengkaran antar teman dan keluarga yang ujungnya dapat melemahkan sel-sel dalam tubuh. Banyak orang merasa lebih nyaman dan aman bila membawa gadget atau smartphone. Padahal kondisi tersebut justru dapat membuat manusia tidak lagi fokus, bahkan meninggalkan ajaran Tuhan,” tukasnya.

Masih kata Komjen, kitab Wahyu 13:16-18 mulai digenapi, bahwa saat ini ada agenda tersembunyi yang dimainkan oleh gerakan kelompok antikris untuk menguasai dunia melalui kemajuan teknologi dan penguasaan ekonomi global. Siber dunia maya saat ini dipakai iblis untuk memanipulasi dan menyamakan persepsi manusia di seluruh dunia yang digerakkan oleh kelompok antikris. Salah satu bentuk upaya penyeragaman dunia adalah penggunaan uang elektronik (digital money) melalui QR Code, yang nantinya semua transaksi jual-beli dan transaksi keuangan di dunia dilakukan secara digital. Strategi ke depan kelompok antikris adalah mendisain sebuah Chip yang akan ditanam di dahi atau tangan. Sekali lagi, saudara yang dikasihi Tuhan, mumpung masih ada kesempatan mari kita mengabarkan Injil dan memenangkan banyak jiwa di akhir zaman,” ungkap Komjen Pongrekun saat didampingi oleh Ps.Pengky Andu.

Di akhir pemaparannya, Komjen Pongrekun didampingi oleh Ps. Pengky Andu mempraktikkan simulasi mengenai gelombang positif atau negatif yang dipancarkan melalui smartphone/gadget. Pada saat itu, Ps, Pengky Andu memanggil Gembala Sidang GBI REM, Ps. Paulus Supit untuk memperagakan kinerja smartphone yang dapat melemahkan tubuh karena merusak seI-sel yang ada dalam tubuh. Menurutnya, smartphone mengandung energi atau gelombang elektromagnetik yang dapat mempengaruhi sel-sel tubuh manusia. “Kalau kita berbicara/menuliskan kebohongan di Whatspp atau SMS, bisa diuji kebenarannya. Dengan cara kita menunjuk tulisan tersebut dan salah satu tangan kita terangkat setengah/mendatar. Kemudian kita dorong ke bawah, jika tangan kita lemah berarti bohong. Tetapi jika tetap kuat berarti benar. Sebaliknya, jika kita memperkatakan firman Tuhan sembari memegang smartphone, kata-kata yang positif, maka tangan kita akan menjadi kuat walaupun sudah ditekan ke bawah,” ungkap Komjen mensimulasikan kinerja Smartphone atau Ponsel pintar di hadapan jemaat.

“Coba Pak gembala bilang kata-kata positif/memberkati,” kata Komjen Dharma meminta Ps Paulus Supit untuk menyampaikan hal positif. “Haleluya!,” tukas Ps Paulus. Dan pada saat itu tangan kanan Ps Paulus menjadi kuat. “Sebaliknya, ketika memperkatakan hal yang negatif, maka tangan kita  akan menjadi lemah. Oleh karenanya, kita harus conecting spirit dengan Surga, dengan cara memikirkan hal-hal yang positif dan memberkati seperti: haleluya, Tuhan memberkati, dan lain sebagainya. Dan di Alkitab pun sudah dituliskan dalam kitab  Fil 4:8; Kolose 3:2; pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi,” pungkas Komjen Dharma. SM

PERAYAAN IMLEK DAN TAHUN BARU DI ALKITAB

Jikau engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaah Allah (I Korintus 10:31).

1

       Apa yang berkesan atau yang paling Anda inginkan pada saat menyambut Tahun Baru Tionghoa (Imlek)? Makanan yang enak? Angpao? Atau bahkan kesempatan emas bisa berkumpul dengan sanak keluarga besar? Tahun Baru Tionghoa kali ini jatuh pada tanggal 25  Januari 2020 atau berdasarkan pengukuran kalender bulan adalah 2571. Kebanyakan orang-orang Tionghoa akan berkumpul atau pulang ke kampung orang tuanya (seperti lebaran kalau di Indonesia).

       Tahun baru imlek ditandai dengan warna merah sebagai lambang gembira, sukacita dan harapan yang baik di tahun yang baru yang dijelang. Perayaan di musim semi ini dilengkapkan dengan makan bersama dan tidak ketinggalan angpao atau amplop merah berisi uang dari orang tua kepada anak-anak. Sebagian orang percaya dengan menyapu rumah dan menyalahkan kembang api atau petasan pada saat menyambut tahun baru adalah untuk mengusir sial dan menyambut untung.

       Bagaimana dengan Tahun Baru di Alkitab? Imamat 23:23-25 & Bilangan 29:1-6 yang disebut sebagai tahun baru memiliki latar belakang yang berakar dari budaya Ibrani, yakni perayaan tahun baru dari kalender Israel yang dirayakan pada 1 & 2 Tishri 5776 (14 September 2015). Tahun baru Israel disebut Rosh Hashanah dan dirayakan dengan makanan yang manis-manis sama dengan Imlek, hanya saja maknanya adalah lambang janji Tuhan yang manis di tahun yang baru. Mereka biasa meniupkan shofar (sangkakala) sebagai lambang pertobatan dan komitmen total ikut Tuhan. Kebiasaan sebagian orang merayakan Tahun Baru Rosh Hashanah adalah dengan makan madu, apel dan roti seperti halnya perayaan Imlek dengan kue keranjangnya.

       Kedua budaya Israel dan tionghoa memiliki kesamaan dalam hal menyambut tahun baru, yakni mengharapkan hal yang sejahtera di masa pengkalenderan baru. Terlepas dari kepercayaan sial dan untung atau berkat dan kutuk; setiap orang yang menyambut tahun baru haruslah menyadari bahwa itupun adalah kasih karunia Tuhan. Prinsip Alkitab tidak mengajarkan “kebetulan” dan “takhayul”, namun mengajak setiap orang percaya Tuhan untuk ingat dan melibatkan Tuhan di tahun yang baru. Selamat  tahun baru Imlek 2020! *Berbagai sumber

ORANG YANG MELIBATKAN TUHAN DALAM HIDUPNYA, TIDAK AKAN KEKURANGAN PENYERTAAN TUHAN

3

Jonro I Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum Narwastu): Kriteria 21 Tokoh Kristiani Harus Berjiwa Nasionalis, Pancasilais, Serta Mampu Menginspirasi Banyak Orang

Tokoh Kristiani yang menerima penghargaan dari Majalah Narwastu, Jumat (10/1) di Graha Bethel Jakarta Pusat

JAKARTA,Victoriousnews.com,– Keluarga besar Majalah Narwastu yang dipimpin oleh Jonro I Munthe.,S.Sos menggelar Ibadah Syukur Natal & Tahun Baru 2020 sekaligus memberikan penghargaan (Award) kepada 21 tokoh Kristiani pilihan Majalah Narwastu. Acara yang mengusung tema “Mari Membantu Memperbaharui Dunia Dengan Kabar Baik” (Lukas 2:10-11) ini digelar di Graha Bethel, Jalan Achmad Yani No 65, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).

Stevano Margianto, Ketum Perkumpulan Wartawan Media Kristiani/PERWAMKI (paling kiri) ketika menerima Award dari Majalah Narwastu

Pdt. Dr. Nus Reimas dalam kotbahnya, menekankan nats Alkitab yang terambil dalam 1 Korintus 15: 57- 58. Menurut Pdt. Nus yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, yang terjadi belakangan ini merupakan tantangan bagi Gereja dan bagi umatNya, apakah kita tenggelam di dalam arus ketidakpastian dunia atau sebaliknya. “Media Kristen harus tampil beda dengan sekuler. Saya berharap media Kristen itu harus lebih menekankan tentang kesaksian bahwa Tuhan yang mengkontrol seluruh alam semesta,” ujar Nus dalam kotbahnya.

Jonro I Munthe, S.Sos (Paling kiri) bersama Pdt. Dr. Nus Reimas (ketiga dari kiri) para tokoh Kristiani

Lebih lanjut, Pdt Nus Reimas juga mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ke bumi ini sudah sangat dekat. Menurutnya, Firman Tuhan mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus kedua kali itu seperti pencuri di tengah malam. “Tanda-tanda akhir zaman pun sudah dituliskan, beragam bencana, peperangan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dalam hidup ini, mari kita siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya,” ungkap Pdt. Nus.

Dalam acara tersebut, Bung Tema Adiputra & Clara didaulat sebagai MC untuk memimpin memimpin jalannya acara sekaligus memanggil 21 tokoh Kristiani pilihan Narwastu maju ke depan untuk menerima penghargaan. 21 tokoh Kristiani versi majalah Narwastu yang memperoleh Award adalah sebagai berikut: Herman Yosef Loli Wutun (Tokoh Koperasi Nasional), Grace Natalia Louisa (Ketum PSI), Sugeng Teguh Santoso, SH (Advokat Senior), Pdt. Dr. Tuhoni Telaumbanua, M.Si (Ephorus Sinode BNKP), Susana Suryani Sarumaha (Mantan calon DP RI & pengurus Vox Point indonesia), Dr.Ir. Asye Berti Siregar, M.A (Pelayanan lewat media film), Ida Tobing Boru Simbolon, S.Sos (Anggota jemaat HKBP yang melayani di Lembaga Permasyarakatan), Ani Natalia Pinem (Humas perpajakan Kementerian Keuangan RI), Pdt. Oniwati Nurhaidah Turnip, S.Th (Pelayan Tuhan Hingga Pedalaman), Ronald Simanjuntak, SH,.MH (Pengacara Senior), Fredrik J Pinakunary (Advokat), Mangasi Sihombing (Mantan Duta Besar), David Maruhum Lumban Tobing, S.H (Pengacara), Ir. Lintong Manurung, M.M (Ketua Umum Jaringan Pemerhati Industru dan Perdagangan), Kamillus Elu, S.H ( Pengacara), August H Pasaribu, S.H. M.H (Advokat), Dr. Lasmaida S Gultom, S.E., MBA (Analisis Eksekutif Senior di Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan OJK), Pdt. Dr. Ir. Douglas Manurung, MBA., M.Si (Direktur), Eloy Zalukhu (Motivator), Stevano R Margianto (Ketum Perwamki), dan Yosua M. Tampubolon,SH. M.H (Pengacara).

Usai acara Ketum Perwamki, Stevano Margianto pose bersama Jonro I Munthe (Pemimpin Umum Majalah Narwastu)

Pemimpin Umum Majalah Narwastu, Jonro Munthe, S.Sos dalam kata sambutannya mengatakan, bahwa acara ini adalah bentuk apresiasi Majalah Narwastu terhadap seseorang yang dianggap telah memberikan kontribusi bagi banyak orang. “Memang kita punya kriteria tersendiri untuk ini, misalnya berjiwa Pancasilais, Nasionalis, mencintai NKRI, menghargai Kebhinekaan, serta peduli terhadap pelayanan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Selain itu, yang pasti para tokoh ini juga pernah muncul atau ditampilkan dalam majalah Narwastu.” ujarnya.

Menurut Jonro, para tokoh pilihan Majalah Narwastu tersebut adalah para tokoh yang bisa menginspirasi, memotivasi banyak orang melalui kiprahnya di berbagai bidang. Mulai dari pelayanan gereja, hukum, politik, ekonomi, pendidikan, media, organisasi dan profesionalisme. “Puji Tuhan, sesuai pengalaman Majalah Narwastu ketika memberikan penghargaan kepada para tokoh Kristiani, terbukti beberapa kali telah mengangkat seseorang ke level yang lebih baik seperti: Nikson Nababan (Saat ini menjadi Bupati Tapanuli Utara) dan Basuki Tjahaya Purnama (Mantan Gubernur DKI) yang kini telah menjadi Komisaris Utama di Pertamina,” pungkas Jonro.

Jonro I Munthe ketika menyampaikan kata sambutan dalam acara Apresiasi 21 Tokoh Kristiani

Sejumlah tokoh Kristiani yang tampak hadir dalam acara tersebut adalah Dr. Marthen Napang, John Panggabean, SH, HP Panggabean, Jimmy Lumintang, sejumlah wartawan Perwamki, Rizma Simbolon dan kru Film Horas Amang. SM

Letjen TNI (Purn) T. B Silalahi: Pemuda Gereja Harus Memiliki Visi Sebagai Agen Perubahan Untuk Hadapi Revolusi Industri 4.0

 

Foto bersama para peserta dengan Letjen Purn TB Silalahi usai diskusi Peran Pemuda Gereja Dalam Kepemimpinan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0 di Gedung Artha Graha SCBD (13/12)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Peran Pemuda Gereja Dalam Kepemimpinan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0”. Demikian tema diskusi publik yang diangkat oleh Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) yang digelar di Gedung Artha Graha Lantai dasar, SCBD, Jakarta Selatan, (Kamis 13/12). Diskusi yang menghadirkan Letjen TNI (Purn) T.B Silalahi sebagai narasumber ini digagas oleh DPP GAMKI Bidang Diplomasi & Hubungan Internasional serta Bidang Ketahanan Nasional, Pertahanan & Keamanan. “Atas nama DPP GAMKI, kami menyambut gembira dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran Bapak/Ibu dalam acara seminar ini. Terutama Opung TB Silalahi yang berkenan menjadi pembicara pada saat ini. Saya berharap acara ini bisa bermanfaat bagi kader-kader GAMKI, terutama kaum milenial  dalam menyikapi revolusi industri 4.0. Saya juga berterimakasih atas kehadiran beberapa perwakilan kaum muda lintas gereja. Oleh karenanya, bila nantinya mendapat respons yang baik, saya berjanji akan ada diskusi lanjutan dengan mengangkat tema-tema terkini,” urai Sahat Sinurat selaku Sekjen DPP GAMKI dalam kata sambutannya mewakili Ketua Umum GAMKI yang berhalangan hadir.

Sekjen GAMKI, Sahat Sinurat menyerahkan Plakat sebagai kenang-kenangan kepada Letjend Purn TB Silalahi

Sebagai pembicara tunggal, Letjend TNI (Purn) T.B. Silalahi memaparkan situasi dunia terkini terkait tentang Revolusi industri yang makin mengalami kemajuan dalam beberapa dasawarsa sebelumnya. “Dulu masyarakat dunia merupakan masyarakat agraris. Hidup dengan mengandalkan lahan dan hasil bercocok tanam. Sampai kemudian beberapa kali revolusi industri. Revolusi industri 1.0 ditandai dengan penggunaan mesin sebagai pengganti tenaga manusia dan hewan. Revolusi industri 2.0 terjadi beberapa tahun setelahnya. Pada saat inilah manusia mulai mengenal listrik dan menggunakannya untuk mendukung kehidupan. Kemudian terjadilah revolusi industri 3.0 yang membuat manusia mengenal systemcomputer dan penggunaan robot dalam berbagai industri. Sedangkan yang paling akhir adalah revolusi industry 4.0. Inilah era di mana teknologi otomatisasi berkolaborasi dengan teknologi cyber,” tukas pemilik nama lengkap Letjen TNI Pur Tiopan Bernhard Silalahi .

                Menyikapi hal tersebut, Letjen Purn T.B. Silalahi menyerukan agar gereja mampu menjawab tantangan zaman. Orang-orang muda harus diperlengkapi sejak dini dengan berbagai ketrampilan agar menjadi pribadi yang kompetitif. Pelatihan ketrampilan juga harus diimbangi dengan bimbingan tentang bagaimana kecerdasan emosi (emotionalqoutient) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient). “Setelah ketiga hal tersebut (intelligencequotient, emotionalquotient, dan spiritual quotient), saya ingin menambahkan satu syarat lagi. Yaitu kita harus memiliki standar yang berbeda. Bukan standar yang sama atau sedikit lebih tinggi, tetapi standar yang jauh lebih tinggi dari orang lain. Jadi kalau orang lain standarnya 10, kita harus punya standar minimal 30. Hanya dengan demikianlah kita akan menjadi orang yang kompetitif,” paparnya.

                Menurut Opung T.B. Silalahi setiap pemuda gereja harus memiliki visi menjadi agent of change (agen perubahan). Orang yang memiliki kesadaran seperti itu akan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup. “Kita minoritas (dari segi jumlah). Sebab itu posisi kita sebagai pemuda gereja adalah dimanapun kamu berada harus menjadi yang terbaik. Dimanapun ladang tugas dan panggilanmu berada. Kalian pemuda gereja jangan pernah berhenti untuk belajar dan belajar sampai akhir hayatmu,” tegas TB Silalahi dalam diskusi yang dipandu oleh Hendrik Sinaga SH, MH.

Lebih lanjut TB Silalahi memaparkan revolusi Industri merupakan perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Sebagai senior, Letjend TNI (Purn) T.B. Silalahi merespons postif kegiatan ini. Bahkan beliau secara khusus menyatakan siap memberikan dukungan pada GAMKI bilamana diperlukan. SM

Hadir Dalam Jakarta Christmas Festival, Gubernur DKI Anies Baswedan Berharap Agar Melalui Natal Dapat Memperkuat Persaudaraan Sesama Anak Bangsa

Ki-ka: Angelica Tengker (Ketum KKK), Pdt. Shephard Supit (Penggagas JCF), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, KH Lutfi Hakim (Imam Besar FBR),dan KH Ali Rahmat (Ketua FKUB Jakarta Pusat) ketika menyalakan lilin dalam perayaan Jakarta Christmas Festival (Rabu, 11/12) di Lapangan Banteng Jakarta Pusat.

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pagelaran rohani akbar Jakarta Christmas Festival (JCF) yang digelar di Lapangan Banteng (Rabu,11/12) telah berlangsung lancar dan sukses. Acara yang mengusung tema “Love Jakarta” ini diisi dengan beragam kegiatan sosial seperti; pasar murah, pemeriksaan mata gratis, berbagai macam lomba, paduan suara, dan puncaknya adalah pagelaran natal Papua, natal kaum marjinal, natal milenial dan diakhiri dengan perayaan natal nusantara yang menampilkan berbagai budaya di Indonesia.

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah: Anies Bawedan (Gubernur DKI Jakarta), KH. Lutfi Hakim (Imam Besar FBR), KH.Ali Rahmat (Ketua FKUB Jakarta Pusat), Angelica Tengker (Ketua KKK), Pdt. Shephard Supit (Penggagas JCF), Lisa Muljati (Bimas Kanwil DKI Jakarta), Bayu Meganthara (Walikota Jakarta Pusat), Pdt. Daniel Henubau, Mayjen Ivan Pelealu, Brigjen Pol Frangky Mamahit, James Kandou, Hamba-hamba Tuhan dari denominasi gereja serta masyarakat lintas agama.

Dalam kata sambutanya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menilai, bahwa kegiatan Jakarta Christmas Festival yang diadakan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat tersebut merupakan perayaan kebersamaan dalam keberagaman. “Pemprov DKI mengapresiasi dan mendukung dilaksanakannya kegiatan ini, karena ini baru yang pertama kali dilaksanakan. Kegiatan ini merupakan perayaan kebersamaan dalam keberagaman,” papar Anies.

Gubernur Anies mendorong agar festival seperti ini mampu memperkuat persaudaraan sesama anak bangsa. “Di sini ada interaksi antarwarga, dari interaksi muncul pengalaman, pengalaman tentang saudara sebangsa, tentang hidup bersama dengan warga satu kota. Pengalaman membentuk pemahaman, pengertian, dan penghormatan atas satu sama lain. Terima kasih atas inisiasi yang luar biasa, suasana kemeriahan dan kedamaian bisa dirasakan bukan hanya umat Kristen tapi juga warga Jakarta,” pungkas Anies.

Pdt. Yohanes Stefanus Tompudung (Ketua Panitia JCF)

Pada kesempatan tersebut, Ketua Panitia, Pdt. Yohanes Stefanus Tompudung, merasa bersyukur karena acara telah berjalan dengan baik. “Puji Tuhan seluruh rangkaian acara telah berjalan dengan baik. Ada acara natal Papua. Nah, ketika pasar murah, yang hadir membludak ada ribuan. Karena ada stan madu gratis, kaca mata gratis, periksa mata gratis, sembako murah, mie sedap gratis, es krim gratis, biskuit gratis. Tapi stan tersebut melayani kaum termarjinal,” tutur Pdt. Yohanes ketika ditemui wartawan disela-sela acara.

Menurut Pdt. Yohanes, jumlah peserta yang ditargetkan oleh panitia ternyata tercapai, yakni sekitar 10.000 orang yang hadir dalam meramaikan acara tersebut. “Apa yang ditargetkan panitia tercapai. Setidaknya sekitar 10 ribu orang dari lintas agama dapat hadir dan mengunjungi Lapangan Banteng ini,” papar Yohanes. SM

Dr. John N Palinggi, MBA : Esensi Penting Makna Natal Adalah Perubahan Ke Arah Lebih Baik

Dr. John Palinggi bersama KH Said Agil
Siradj (Ketum PBNU)

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Setiap tahun umat Kristiani di seluruh penjuru dunia merayakan kelahiran sang Juru selamat. Beragam pernak-pernik maupun ornamen Natal pun mulai menghiasi sejumlah perkantoran, gereja, maupun pusat perbelanjaan di berbagai kota besar di Indonesia.
Memaknai Natal tahun 2019, Dr. John N Palinggi, MBA ketika dijumpai di ruang kerjanya Graha Mandiri, Menteng Jakarta Pusat (Rabu, 4 Desember 2019) mengatakan bahwa, dalam merayakan Natal itu harus dibarengi dengan perubahan karakter atau tingkah laku yang lebih baik. “Sebenarnya apa yang mendorong sehingga umat Kristiani merayakan Natal secara terus menerus? Banyak yang mengatakan rayakan Natal itu untuk menyenangkan keluarga. Tetapi sebetulnya kalau menurut saya adalah mau enggak kita merayakan natal ke arah yang lebih baik? Sebab selama ini pasti kita sudah tercemar dengan kesalahan, baik sadar maupun tidak. Apakah kita mau berubah ke arah yang lebih baik? Yang bahagia dalam merayakan natal adalah ketika damai sejahtera itu datang. Tetapi kalau kita tidak tercemar dalam berbuat jahat pada sesama manusia, apalagi mencederai Tuhan, ya jangan berharap sesudah Natal kita ada perkembangan. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam hidupnya. Dia selalu menyelimuti dirinya percaya kepada Tuhan. Tetapi sesungguhnya dia selalu berada dalam dosa. Sekalipun merayakan Natal, dia selalu berlimang dalam dosa terus.Dan merasa kebencian terhadap sesama itu berlangsung terus. Merendahkan orang, mencaci maki, tidak menghormati pemerintah, inilah esensi perayaan Natal,” tutur Dr. John Palinggi yang juga Ketua Umum Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA) penuh semangat.
Menurut Dr. John, dalam keyakinan Kristiani,menghormati pemerintah itu wajib hukumnya. Kenapa? Karena tidak ada pemimpin di dunia ini yang tidak ditetapkan oleh Allah. Maka wajib kita menghormati. “Jadi kesadaran untuk berbuat lebih baik dari perbuatan- perbuatan dosa maupun perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Itulah esensi, bahwa kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Termasuk saya, harus berubah ke arah yang lebih baik.
Kedua, jika kita mau berubah ke arah yang lebih baik, artinya kita memiliki semangat yang kuat dan pengharapan yang tinggi untuk meningkatkan produktivitas kita. Jangan justru merayakan natal, besoknya jadi menganggur, malas, atau tidak mau bikin apa-apa, mencari rejeki buat diri sendiri. Itu sebenarnya adalah kekalahan iman. Tuhan sediakan semua isi bumi ini, mari kita berjuang untuk memperolehnya. Jadi sekali lagi esensi natal adalah pertama, berubah ke arah yang lebih baik. Kedua harus produktif dan menghasilkan,” papar John.
Lanjut John, jika kita generasi muda yang tidak menghasilkan/produktif, maka seharusnya malu kepada Tuhan. “Yang penting harus dijaga, menghasilkan dengan cara yang baik atau berkenan di mata Tuhan. Jangan justru merayakan natal kemana-mana tetapi perbuatannya mencuri dimana-mana. Entah mencuri di kantornya atau di lingkungannya,” papar Dr. Palinggi. SM

Bazar Murah, Aksi Sosial & Konser Lilin Akan Meriahkan Jakarta Christmas Festival Di Lapangan Banteng

JAKARTA, Victoriousnews.com,- Untuk pertama kalinya pagelaran rohani akbar, Jakarta Christmas Festival (JCF) yang diiniasi dan kerjasama berbagai interdominasi gereja akan diselenggarakan di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, 11 Desember 2019. Acara yang mengusung tema “Love Jakarta” ini juga didukung oleh gereja aras nasional, Bimas Kristen Kanwil DKI dan Pemprov DKI Jakarta.
Sesuai rencana, JCF ini dimulai dari pukul 09.00 sampai pukul 22.00 Wib dan akan dihadiri oleh Menteri Sosial Juliari P. Batubara dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Kanan-Kiri: Pdt. Shephard Supit, Lisa Muljati (Pembimas Kanwil DKI Jakarta), Raja Joner Rambe, Pdt. Yohanes Stefanus Tompudung (Ketua Pelaksana)

Menurut Ketua Pelaksana, Pdt. Yohanes Stefanus Tompodung, Jakarta Christmas Festival merupakan perayaan kebersamaan dalam keberagaman, merayakan kasih Kristus dalam bentuk yang inklusif tidak dalam bentuk yang sempit, namun pemahaman yang lebih luas. “Dalam JC Festival ini akan ada kegiatan sosial berupa pasar murah, pemeriksaan mata gratis, membagikan nasi bungkus kepada kaum marginal dan juga berbagai macam lomba termasuk lomba catur, paduan suara, peragaan busana Natal dan malamnya disambung dengan ibadah Natal, Nada dan Sabda, yang dikemas dalam bentuk Natal Nusantara dan Konser Lilin yang melambangkan perdamaian dan kerukunan bagi Kota Jakarta,” tutur Pdt. Yohanes Tompudung saat memberikan keterangan kepada media di kantor pembimas masyarakat Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta di dampingi Lisa Mulyati S. Sos, M.Si, Pdt. Shephard Supit, dan
Daulat Raja Agung Panuturi Hasadaon Rambe (Raja Tapanuli Selatan.


Tema “Love Jakarta” merupakan arti perdamaian bagi kota jakarta. Dengan didasari oleh sebuah pemahaman bahwa perayaan Natal adalah perayaan kelahiran Yesus Kristus ke dunia sebagai wujud dari begitu besarnya kasih Allah akan dunia ini, dan anak- anak Tuhan di kota jakarta dengan semangat natal ini ingin mewujudkan cinta terhadap kota jakarta yang menjadi tempat tinggalnya cinta kotanya, cinta warganya, cinta pemerintahnya.”Dalam acara nanti, kami juga akan mengangkat budaya Papua. Makanya dalam ibadah nanti, akan dilayani oleh hambaTuhan dari Papua. Jadi kami akan membawa damai Jakarta dengan Papua,” tutur Pdt. Yohanes Tompudung.
Sedangkan Pdt. Shephard Supit yang dikenal sukses sebagai penggagas sekaligus penyelenggara Paskah Nasional, berharap, ke depan acara JC Festival ini dapat menjadi agenda tahunan.“Ini penyelenggaraan pertama kalinya diadakan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta bekerjasama dengan Bimas Kristen, Pemprov DKI Jakarta, dan Kantor Wilayah DKI Jakarta Kementerian Agama. Kemarin kami (panitia) sudah menemui Gubernur DKI, Anis Baswedan. Berharap Pak Gubernur dapat hadir dalam acara JC Festival ini,” ujar Pdt. Shepharad Supit dalam konferensi pers pada Rabu (4/12/2019) di Kantor Wilayah DKI Jakarta Kementerian Agama.
Lisa Mulyati, Pembimas Kristen DKI Jakarta, mendukung dan mengapresiasi JC Festival ini. “Saya rasa Natal kali ini tidak hanya dirasakan sukacitanya oleh umat Kristiani saja, tetapi juga semua warga Jakarta. Makna perayaan Natal bisa juga dirasakan semua kalangan apalagi di acara ini mereka bisa membeli sembako murah,” ucap Lisa.
Acara bazaar pada JC Festival ini dipersembahkan kepada semua warga DKI Jakarta tanpa melihat latar belakang agamanya. Jadi bukan hanya umat Kristiani yang boleh membeli barang murah di bazaar ini, tetapi juga umat yang lain. SM

Pesan Mendagri Tito Karnavian Dalam Penutupan GA WEA: Pancasila Merupakan Nationality Blessing, Pemersatu Bangsa Indonesia

Ki-ka: Pdt. Anton Tarigan (Ketua Panitia GA WEA), Mendagri Tito Karnavian, Bishop Efraim Tendero (Sekjen WEA), dan Pdt. Ronny Mandang (Ketum PGLII)

SENTUL,Victoriousnews.com,- General Assembly World Evangelical Alliance yang ditutup pada hari Selasa (12/11) malam, dikejutkan dengan kehadiran Menteri Dalam Negeri Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian dalam acara tersebut. Sebenarnya Mendagri Tito Karnavian, datang untuk persiapan fmal pertemuan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Indonesia Maju Pemerintah Pusat dan Forkopimda 2019 yang dilaksanakan di tempat yang sama, yakni di SICC Rabu (13/11/2019). Namun, ketika bertemu di Hotel Harris, Pdt. Lipiyus Biniluk mengajaknya bergabung di acara GA WEA. “Tiba-tiba Pdt. Lipiyus Biniluk mene|pon saya dan mengatakan Menteri Dalam Negeri telah ada di hotel Harris dan sudah siap bergabung ke gedung SICC di acara WEA GA. Hanya dalam waktu 3 menit PGLII dan WEA diwakilkan Bishop Efraim Tendero menerima kedatangan Pak Tito dan Iangsung bercakap di ruang VVIP. Setelah sedikit memperkenalkan WEA dan PGLII, Pak Tito Karnavian yang juga akrab dengan PGLII, hadir di tengah acara GA dari 92 negara anggota WEA dan memberikan suatu refleksi keagamaan dalam konteks ke-lndonesiaan yang sangat memberkati seluruh peserta GA WEA,” tutur Deddy A. Madong, Wakil Ketua Panitia GA WEA.

Mentri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Bishop Efraim Tendero

Dalam Pidato sekaligus refleksi dalam konteks Ke-Indonesiaan, Mendagri Tito mengatakan bahwa Pancasila merupakan nationality blessing atau berkat dari Tuhan bagi bangsa Indonesia yang menjadi perekat bagi keberagaman Indonesia. “Indonesia adalah sebuah Negara dengan beragam agama, etnis dan budaya. Kita juga memiliki wilayah geografls yang sangat luas. Tapi para pendiri bangsa telah memilh pemersatu yang sangat kuat yaitu Pancasila. ltulah yang menentukan nasionalisme kita dan persaudaraan kebangsaan kita,” ujar Tito ketika menyampaikan pidatonya dalam bahasa Inggris di hadapan peserta WEA.

Mendagri Tito menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero

Selain menjelaskan tentang Pancasila sebagai pilar kebangsaan, kebhinekaan, dan toleransi umat beragama,Mantan Kapolri ini juga banyak bicara tentang pemberantasan paham radikal, terorisme di Indonesia dan internasional serta upaya-upaya yang bisa ditempuh untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Usai berpidato Mendagri Tito didaulat oleh PGLII untuk menyerahkan peta Indonesia kepada Bishop Efraim Tendero selaku General Secretary WEA. Peta Indonesia ini terbuat dari kain batik dalam bingkai kayu berwarna emas. SM

Bishop Efraim Tendero: Ini Adalah Sidang WEA Terbaik Yang Pernah Saya Ikuti

Pose bersama seluruh pengurus PGLII dengan Bishop Efraim Tendero di depan gedung SICC, 8 Nov 2019

SENTUL,Victoriousnews.com,- Persidangan lanjutan General Assembly World Evangelical Alliance (GA-WEA) yang berlangsung di Sentul International Convention Centre (SICC), sejak tanggal 7 sd 13 November 2019 membahas 3 isu besar, yakni Global, Generation dan Gender. Nah, pada hari ketiga persidangan, Sekjen WEA, Bishop Efraim Tendero tiba-tiba mengatakan ingin bertemu seluruh pengurus serta anggota Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII). Pembicaraan akhirnya dilakukan di VVIP Lounge usai makan siang.
Dalam pembicaran itu, Bishop Efraim Tendero kembali menegaskan bahwa terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019 merupakan hal yang tidak terduga. “Sebenarnyaa sudah ada beberapa tawaran yang masuk. Di antaranya dari Korea Selatan dan Ethiopia. Secara fasilitas dan pendanaan, Korea Selatan sangat siap. Sementara Ethiopia menjadi kandidat karena faktor sejarah. Kita tahu bahwa Alkitab menyebutkan kekristenan masuk ke Afrika melalui seorang sida-sida Ethiopia yang ditemui Filipus di jalan sunyi (Kis. 8:27-38). Jadi akan sangat luar biasa jika Sidang Umum WEA 2019 diadakan di tempat yang sangat bersejarah bagi kekristenan.
Namun saat saya berdoa, rupanya Tuhan justru menginginkan Indonesia menjadi tuan rumah. Saat saya sampaikan hal ini kepada Pdt. Nus Reimas, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, ia bilang akan mendoakannya dulu. Menyelenggarakan acara bertaraf internasional seperti ini pasti memerlukan persiapan matang dan biaya yang tidak sedikit. Jadi kalau nantinya Indonesia menyatakan tidak siap, saya bisa memakluminya.Beberapa pekan kemudian, Pdt. Nus Reimas minta saya segera meneleponnya. Sambil menangis, ia mengatakan bahwa setelah berdoa mendapat peneguhan untuk mengambil tawaran menjadi tuan rumah Sidang Umum WEA 2019. Saya terkejut. Lantas bagaimana dengan dananya? Pdt. Ronny Mandang yang kemudian saya hubungi mengatakan Tuhan akan menyediakannya.Hari ini saya melihat bagaimana Sidang Umum WEA 2019 berlangsung dengan baik. Meski acara belum selesai, saya terkesan dengan cara panitia bekerja. Salah satu peserta Sidang Umum WEA 2019 yang sudah bergabung di WEA selama lebih dari 50 tahun, dan pernah mengikuti Sidang Umum WEA di berbagai negara, mengatakan bahwa ini merupakan salah satu Sidang Umum WEA terbaik yang pernah diikutinya. Oleh karena itu, saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat,” tukas Tendero, selanjutnya ditutup dengan doa dan foto bersama. SM