Pandangan Iman Kristen Terhadap Imlek

Pandangan Iman Kristen Terhadap Imlek

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Banyak orang memanfaatkan momen untuk berkumpul bersama dan sebagai orang Kristen turut menyambut Imlek sukacita dan ada lagi yang memilih tidak merayakannya. Bagi kelompok lain merayakan perayaan Imlek dianggap kafir dan bertentangan dengan firman Tuhan.

Harus diakui bahwa asal usul perayaan Imlek dari kisah mitologis yang kurang tepat secara perspektif Kristiani. Tradisi pengusiran roh jahat melalui lampu lampion; petasan berwarna-warni jelas bertentangan dengan Alkitab. Motivasi pemberian angpao juga tidak selaras dengan prinsip memberi menurut iman Kristen. Apakah orang Kristen menolak hari raya Imlek? Sama sekali tidak. Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen dipanggil untuk mentransformasikan budaya (Kejadian 1:26-27; Yohanes 17:15-19);  tidak ada budaya yang bebas dari distorsi dosa dan tiap budaya memiliki elemen tertentu yang rusak oleh dosa.

Tugas orang Kristen bukan menghapus atau meniadakan elemen-elemen budaya melainkan mengubah elemen-elemen yang berdosa dengan kebenaran firman Allah. Kita terpanggil untuk menunjukkan keunggulan nilai-nilai Kristiani dengan memasukkan dalam praktek budaya tertentu dan memberi landasan filosofi Kristiani pada masing-masing elemen budaya. Di samping itu orang-orang Kristen terpanggil untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

Makan bersama keluarga dan membagi-bagikan angpao, dua praktek ini pada dirinya sendiri tidak keliru. Kita harus menyediakan waktu untuk kumpul bersama keluarga dan berbagi kasih. Tanpa perayaan Imlek pun kita harus mengupayakannya, apalagi momen yang baik saat Imlek. Orang Kristen bisa memanfaatkan dan memodifikasi dua praktek ini supaya lebih Kristiani. Prinsip tentang berbagi kepada orang lain (pembagian angpao) perlu diwarnai dengan prinsip kasih kristiani. Kita mengasihi karena Allah lebih dulu mengasih kita (1 Yoh 4: 19).

Momen berkumpul bersama bisa diisi dengan persekutuan rohani yang menguatkan hal-hal yang bersifat netral; seperti pohon angpao; lampion serta atraksi lain, tidak mempunyai mitos-mitos di baliknya. Yang menjadi batu sandungan bagi sesama orang kristen sebaiknya dihindari, misalnya; gambar naga walaupun pada dirinya sendiri itu hanyalah sebuah seni lukis. Kita juga memikirkan situasi sebaliknya apabila kita memilih untuk tidak merayakan Imlek. Jika berada di lingkungan keluarga besar yang masih merayakan Imlek dan kita tidak mau berkumpul bersama mereka, hal itu akan menjadi syok atau keadaan juga tidak baik bagi mereka. Sikap apatis dan ofensif mereka terhadap kekristenan akan lebih mengkristal jika ada pilihan yang lebih bijaksana. Bila kita merayakannya, tetapi dengan konsep yang Kristiani dan memanfaatkannya sebagai kesaksian memberitakan iman kita. ***

Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Generasi Penerus Bangsa

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Pemuda merupakan sekelompok golongan muda yang akan menjadi penerus bangsa di masa depan. Bangsa Indonesia kedepan ditentukan oleh pemuda yang mengisi bangsa ini. Pemuda juga kuat menjaga dan megawal bangsa, maka akan lebih baik Indonesia masa depan. Pemuda harus memiliki tubuh dan juga semangat yang kuat dalam menjaga dan mengawal bangsa. Rusaknya moral dan akhlak pecandu narkoba, maka akan membawa kehancuran bangsa kedepan. Untuk mencegahnya salah satu, pancasila inilah yang dapat digunakan sebagai benteng dan ideologi sebagai  dasar pemuda.

Indonesia merupakan negara hukum yang berbentuk pancasila, sebagai suatu alat perekat bangsa. Pancasila bukan sekedar sebagai dasar ideologi saja, tetapi didalamnya terdapat sosok yang memiliki peranan penting, terutama pemuda dalam menjaga keutuhan pancasila. Pemuda sebagai peran pilar pondasi bangsa penggerak pembangunan nasional dalam memastikan pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang cocok dan sesuai dengan kepribadian bangsa yang harus terus dijaga, tepi dalam kenyataannya pemuda-pemuda kita semakin diserang dengan gaya hidup yang konsumtif dan hedonis yang ditawarkan liberalisme sebagai pendukung utama fundamentalisme pasar. Disisi lain fundamentalisme agama telah berhasil menculik anak-anak, pemuda Indonesia menjadi pelaku terorisme yang telah menyimpang dari ajaran agama yang benar. Inilah yang bertolak belakang dengan nilai-nilai pancasila. Untuk itu, pemerintah dan pemuda-pemuda Indonesia perlu mensosialisasikan dan mengamalkan nilai-nilai empat pilar bangsa yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinekha Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia. Pemuda harus menerapkan sila-sila pancasila itu sendiri. Pemuda harus menjadi pribadi yang adil dan bertanggungjawab, saling membantu dengan gotong royong. Dalam menjalankan ajaran agama yang baik, benar dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Gerakan mahasiswa harus menjadi pelopor dalam mempertahankan NKRI dalam kandungan dalam sila-sila pancasila dan UUD 1945. Kesatuan bangsa dalam kehidupan bermasyarakat. Pemuda harus mencintai Pancasila serta mengedepankan nilai-nilai moral dan akhlak sebagai pandangan hidup yang memberi petunjuk kehidupan. Pemuda harus berani mencegah paham-paham yang bertentangan dengan pancasila, masa depan pemuda dan nasib generasi penerus.

Pancasila selama ini sudah merupakan ideologi utama baik dalam level negara maupun level masyarakat. Disamping sebagai “common ideology”. Pancasila juga merupakan juga merupakan kristalisasi nilai, karena masyarakat Indonesia berketuhanan, berkeadilan dan tradisi berkemasyarakatan dalam membangun kesatuan Indonesia.***

“Radikalisme Menjelang Pemilu”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar. Dalam mencapai tujuannya melibatkan banyak cara hingga yang paling ekstrim, kekerasan baik simbolik maupun fisik. Secara sosiologis ada gejala dari pohon radikalisme, yaitu merespons terhadap kondisi sosial politik maupun ekonomi dalam bentuk pemalakan dan perlawanan. Pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan kearah tatanan lain dengan cara berpikir yang berafiliasi kepada nilai-nilai tertentu melalui agama maupun ideologi lainnya.

Menanamkan kebenaran ideologi untuk mendorong masa atas nama rakyat yang diekspresikan secara emosional agresif. Ketika era demokrasi memberikan kebebasan siapa pun untuk mengekspresikan pemikirannya, maka gejala-gejala yang dimainkan penggerak pohon radikalisme terus mendapat panggung selebrasi.

Ada jebakan radikalisme, ketika pemerintah ingin menahan dan menyadang pohon radikalisme yang lain tumbuh di berbagai lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat. Apapun yang diserukan pemerintah akan terbentuk ketentuan lain yang hubungannya dengan aspek HAM. Ketika orang dan kelompok sudah nuang eksperimentasi untuk menggerakkan ideologinya, pada titik itu paham radikalisme mulai dimainkan oleh para aktor.

Dalam paham radikalisme yang diinstrumentasikan dalam berbagai bentuk dan maksud oleh kelompok-kelompok “revivalis” (kembali pada keimanan aslinya), dilandasi oleh beberapa persepsi dan alasan, seperti ketidakadilan yang dialami oleh rakyat. Korupsi yang menggurita, krisis ekonomi politik dan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Dengan melibatkan berbagai aktor, baik dikalangan politisi, agamawan, pengusaha dan tubuh masyarakat lainnya, paham radikalisme, makin meluas sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Berbagai adiguna agama diserukan dalam altar pergerakannya untuk memicu emosi publik, terutama sekelompok orang yang berafiliasi dengan pergerakan ini.

Meskipun dalam pengamatan sementara, gerak radikalisme yang diekspresikan oleh kelompok revivalis ini tidak berhubungan dengan prilaku terorisme, bahkan mungkin juga tidak ada niatan dalam benak mereka untuk memperluas pohon radikalisme menjadi aksi terorisme. Tetapi sesungguhnya pohon radikalisme yang selalu digerakkan dalam berbagai momentum, juga terselip agenda politik kekuasaan tertentu.

Tidak menutup kemungkinan ada kelompok ekstrim yang keberadaannya masih kecil, tetapi suaranya sangat berisik, (noisy minority) untuk menjadikan gerakan radikalisme sebagai jebakan untuk membuat kegaduhan yang bisa memulai konflik horizontal. Mengantisipasi pohon radikalisme secara intensif melalui momentum Pilpres, dan tidak mustahil pula pohon radikalisme akan dijadikan sebagai mekanisme sosial untuk menggerakan langkah prevensi “in optima farma” (serigala bagi manusia lain) yang dituangkan dalam regulasi dan peraturan yang tegas agar bangunan demokrasi kita tidak dicemari oleh pihak-pihak tertentu.

Oleh sebab itu, yang perlu direfleksikan secara jernih oleh kita, untuk mempertahankan NKRI yang sudah dibaluti oleh Pancasila dan UUD 1945

“Cinta Kasih Dalam Perdamaian”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Rasa toleransi yang dijalin antar umat beragama hendaknya harus mampu saling membina cinta kasih untuk perdamaian. Tuhan adalah pencipta segala isi dunia dan isinya. Oleh sebab itu yang kita bina adalah saling menambah cinta kasih. Jangan karena perbedaan agama dan kepercayaan, kemudian kita saling membenci. Kita perlu dalam dialog antar umat bergama, dimana masih banyak ditemukan konflif antar umat beragama. Sebabnya sejumlah pemeluk agama di dunia menganggap kepercayaannya yang dianut adalah paling tinggi.

Toleransi dalam konteks sosial budaya dan agama berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok/golongan yang berbeda dalam suatu masyarakat. Kata toleransi masih kontroversi dan mendapat kritik dari berbagai kalangan, mengenai prinsip-prinsip toleransi baik dari kaum liberal maupun konsevatif. Tetapi toleransi umat beragama merupakan suatu sikap untuk menghormati dan menghargai kelompok agama lain. Konsep ini tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Sehubungan dengan anggapan ini adalah kekeliruan jemaat, padahal semua ajaran agama di dunia adalah terbaik dan mengajarkan jemaatnya hidup rukun berdampingan. Karena hal itu, melalui kegiatan dialog antar umat beragama diharapkan unutk saling bertukar pikiran, pandangan, pikiran, sehingga tokoh-tokoh agama itu juga dapat memberikan informasi kepada jemaatnya. Untuk sama-sama menjunjung tinggi toleransi dan cinta kasih agar terwujud perdamaian dunia. Dengan harapan semua agama menumbuhkan cinta kasih antar sesama manusia, walaupun dalam keyakinan dan kepercayaan berbeda.

Dalam beragama semua menjunjung tinggi ajaran Tuhan Yang Maha Esa, dan yang perlu diwaspadai istilah toleransi berasal dari bahasa latin, “tolerare” yang berarti ; “sabar terhadap sesuatu”. Jadi toleransi merupakan suatu sikap atau prilaku manusia yang mengikuti aturan, dimana seseorang dapat menghargai, menghormati terhadap prilaku orang lain.

“Gaya Kepemimpinan Demokratis”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Gaya kepemimpinan demokratis merupakan kerjaan semua organisasi; anggota pendapatnya tetap didengar oleh pimpinan dalam menentukan keputusan untuk organisasi atau kelompoknya. Sampai saat ini belum ada negara yang seratus persen (100%) menganut sistem demokrasi, hanya saja banyak negara yang menuju ke dalam gaya kepemimpinan demokrasi itu. Indonesia salah satunya, ciri khas demokrasi di Indonesia adalah memilih kepala negara (Presiden) dan perwakilannya sendiri melalui pemilihan umum yang dilaksanakan tiap lima tahun sekali. Kepemimpinan gaya demokrasi juga memiliki slogan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Artinya semua keputusan ide atau usulannya berasal dari rakyat kemudian dilakukan oleh rakyat, dan untuk kepentingan rakyat juga. Posisi pemimpin dalam demokrasi semuanya dari rakyat dilakukan oleh rakyat dan diperuntukkan rakyat. Pemimpin dalam negara atau organisasi yang menganut sistem demokratis biasanya menempatkan diri sebagai koordinator dan integrator. Artinya, pemimpin selalu mendiskusikan semua keputusan yang akan diambil untuk organisasinya dengan bawahannya. Pemimpin juga akan menempatkan diri sebagai pengawas, pengatur dan pengontrol karena semuanya dilakukan untuk rakyat, jadi butuh satu orang yang bertugas untuk mengontrol dan mengawasi.

Pemimpin dalam gaya demokarsi juga harus mampu membujuk agar anggotanya tidak membelah atau keluar dari tujuan bersama, juga akan memposisikan diri sebagai pengembang antar organisasi.

Kekuasaan pemimpin tidak mutlak, dalam sebuah negara atau organisasi bergaya demokrasi tidak memiliki wewenang mutlak. Keputusan dalam kebijakan negara atau organisasi dilakukan dengan jelas musyawarah mufakat, dimana pendapat bawahan selalu digunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Dalam gaya demokrasi, bawahan juga memiliki hak untuk membuat keputusan tertulis sejauh mana wewenang atasan dan keterlibatan bawahan.

Komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan, tidak perlu takut jika akan mengkritik atasannya sejauh yang dilakukannya memang benar dan berlandaskan fakta. Tanggung jawab diperlukan bersama dalam gaya kepemimpinan demokrasi tentang organisasi dipikul bersama.

Artinya; keberhasilan suatu program organisasi merupakan keberhasilan bersama, begitu juga dengan kegagalan harus dipikul bersama. Dalam kebebasan berpendapat gaya kepemimpinan demokrasi memiliki keleluasaan dalam mengeluarkan pendapatnya. Gaya kepemimpinan domokrasi merupakan yang paling ideal yang dimiliki baik digunakan untuk sebuah organisasi jadi untuk bisa memenuhi semua aspirasi, memang dibutuhkan gaya kepemimpinan yang demokratis.

Pernikahan Harus Dibangun Atas Dasar Kasih Agape

JAKARTA,Victoriousnews.com,-Pernikahan itu idenya Allah. Oleh karenanya pernikahan semestinya dibangun atas dasar kasih Agape.Itulah syarat untuk dipersatukan Tuhan. Demikian dikatakan oleh seorang hamba Tuhan, Pdt. Dr. Bernalto.,Ph.D kepada Victoriousnews.com. “Tetapi jika suami posesif dan langgar privacy istri serta membunuh rasa percaya diri istri, membunuh karakter istri, membunuh pertumbuhan rohani istri, maka ini bukti bahwa dasar pernikahannya bukan berlandaskan kasih Agape alias pernikahan ini bukan dipersatukan Tuhan. Karena ciri pernikahan yang dipersatukan Tuhan itu, suami-istri dan anak lahir baru dan bukan menjadi penyembah berhala duniawi.Duniawi itu dosa (Roma 12:1-2),” tutur Bernalto.
Ironisnya, lanjut Bernalto, manusia kerap terjebak rayuan iblis sehingga pernikahan jadi transaksi kepentingan. Ibarat barang dagangan yang gampang dibeli.Tubuh dan Jiwa juga dibeli sama setan. “Sehingga rohnya terbelenggu dan Iblis plintir ayat. Jangan bercerai dari suami penyembah dunia dan tunduk pada suami penyembah dunia. Dan sekeluarga jadi penyembah dunia. Saat saya tertidur di mobil mewah atau di rumah mewah, disamping artis muda cantik sexy wangi terkenal kaya,saya tidak merasakan apapun saat saya tertidur pulas. Duniawi itu Dosa,” paparnya.
Bagi Pdt. Bernalto melakukan hubungan seksual suami istri dengan kasih Agape itu beda rasanya dengan melakukan hubungan seksual suami istri dengan nafsu birahi. “Secara sadar maupun karena pengaruh alkohol, organ seksual dirangsang baik oleh sendiri atau oleh sejenis atau diperkosa itu reaksinya sama dan sama sama bisa hamil dan punya anak.Punya anak bukan tanda kasih Agape. Tetapi itu karena proses biologis mamalia dan manusia,” pungkas Pdt. Bernalto. GT

Waspada Umat Kristen Bisa Jadi Penyembah Berhala!

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Pada zamanPerjanjian Lama, penyembahan berhala mudah dikenali — tarian mengitari lembu emas, sujud menyembah patung Baal. Bahkan saat Rasul Paulus menulis surat kepada pengikut Kristus di Korintus pada abad pertama, penyembahan berhala orang kafir dipraktikkan secara terbuka. Ia memperingatkan mereka agar menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan hal itu (1Korintus 10:14).
Penyembahan berhala masih menjadi suatu bahaya bagi umat Allah, walaupun kegiatannya tidak selalu terbuka atau kelihatan. Berhala biasanya lebih terselubung dan sulit dikenali, karena mereka mengisi tempat-tempat tersembunyi di dalam hati kita.
Setiap benda atau orang yang kita harapkan memberikan kepuasan, setiap sasaran atau keinginan kita yang telah menjadi lebih penting daripada Allah, semuanya merupakan “allah-allah” yang merebut kesetiaan kita dan diam-diam mengendalikan kehidupan kita. Artinya, berhala adalah segala sesuatu yang dapat mengambil alih tempat Tuhan dalam kehidupan kita. Menurut Pdt. Dr. Bernalto., Ph.D, uang, jabatan dan status juga bisa menjadi “berhala” , jika kita lebih meninggikan hal tersebut dan menomorduakan Tuhan. Contohnya, sekarang ini dalam pesta demokrasi pemilihan legislatif dan Pilpres, banyak sekali orang yang rela bertarung untuk membela calon yang punya uang. “Disinilah uang dan kekuasaan bisa menjadi berhala.Gereja dan Ministry yang melakukan “PERSONALIZE INSTITUTION” yaitu sebuah Institusi yang dipersonifikasi dengan seseorang pun bisa menjadi contoh berhala koneksi atau jaringan. Apapun jenis berhalanya, namun karakter orang yang menyembah berhala itu sama, yaitu: egois, arogan, posesive, langgar privasi orang lain, pelit dan serakah. Sekali lagi, penyembah berhala bukan saja yang menyembah patung.Dan jangan kaget mereka orang Kristen yang punya talenta nyanyi rohani hingga punya karunia sembuhkan orang dan yang aktif di gereja bahkan Pendeta.Mereka hakikinya “Penyembah berhala” dan saat seorang wanita menikah dengan penyembah berhala ini,istri akan dianiaya batinnya dan ditarik ikut suaminya menyembah berhala berhala itu.Jangan sekali sekali menikah pada penyembah berhala ini,karena Iblis akan pakai relasi keluarga ini untuk melahirkan keturunan penyembah berhala berhala yang saya sebutkan tadi,” pungkas Bernalto. GT

“TUHAN YESUS BAGIANKU SELAMANYA” (Yohanes 17:21)

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Bukan Tuhan yang membutuhkan kita. Melainkan kitalah yang membutuhkan Tuhan, masalah yang muncul adalah; kita membutuhkan Tuhan untuk apa dan bagaimana?. Apabila kita menganggap membutuhkan Tuhan untuk menyembuhkan penyakit, menolong kita keluar dari problem ekonomi, atau untuk memberikan kita teman hidup atau keturunan dan lain sebagainya, ini konsep yang salah. Ini Tuhan tersingkir karena Ia tidak lagi menjadi kebutuhan utama, tetapi sekedar sarana untuk memperoleh sesuatu.

Akibat konsep yang salah ini banyak orang memperlakukan Tuhan seperti umat beragama lain pada umumnya dalam memperlakukan dewa-dewi mereka. Dewa-dewi mereka bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai sesuatu. Kita harus memahami bahwa kehidupan kita di dunia tidaklah memiliki arti tanpa mengenal Tuhan dan tanpa hidup dalam persekutuan yang benar dengan Dia (Yohanes 17:3). Dalam doa Tuhan Yesus menghendaki sebuah persekutuan yang eksekutif dengan diriNya (Yohanes 17 :21). Tuhan membuka hatinya agar umat pilihanNya dapat bersekutu denganNya secara harmonis. Ia telah memutuskan untuk mengasihi kita. “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”, (1 Yohanes 4:19).

Secara dogmatika Allah sudah mengasihi kita, dan secara etika kita harus mengasihi Allah. Ia berkenan menjadikan kita kekasihNya. Ini adalah anugerah yang tiada tara, yaitu tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dan tidak dapat ditukar dengan apapun juga. Kalau seseorang mendapat kesempatan untuk menerima anugrah ini tetapi menolaknya, betapa celakanya. Tetapi ternyata manusia pada umumnya sudah terdidik untuk lebih mencintai dunia. Banyak orang merasa tidak berarti tanpa sesuatu atau seseorang sehingga yang dikejar atau diburu adalah hal-hal tersebut dunia telah membentuk pola berpikir banyak manusia bahwa kalau memiliki ini dan itu, barulah manusia menjadi bernilai. Akibatnya orang akan merasa sejahtera walau tanpa memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan. Ia tidak meninggalkan Tuhan sama sekali, masih ke gereja datang memuji dan menyembah Tuhan, tetapi sebenarnya tidak membutuhkan Tuhan dalam arti yang benar.

Tentu orang-orang seperti ini tidak dapat menjadi kekasih Tuhan, sebab mereka tidak dapat menjadikan Tuhan perhatianya. Menjadikan Tuhan perhatian artinya; hanya di dalam Tuhanlah seseorang menemukan rasa amanya, kesejahteraan dan tujuan hidupnya. Seharusnya kita dapat memiliki filosofi hidup seperti yang dikatakan pemazmur; (Mazmur 73:26); “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.

Dia tetap bagianku selama-lamanya (He is my Portion forever ). Apakah selamanya Tuhan mempunyai kepentingan dengan kita?. Apakah Tuhan membutuhkan kita?. Kalau ditinjau dari satu sisi, sebenarnya Ia tidak memiliki kepentingan apa-apa dengan kita, sebab Ia tidak membutuhkan apapun dari kita. Tuhan Yang Maha Kuasa tidak bergantung kepada kita. Tanpa kita pun, Ia tetap eksis dan tidak terpengaruh sama sekali. Dalam satu pernyataanNya, Tuhan berfirman, “Dengan siapa hendaknya kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”(Yesaya 40:18).

Tuhan kita memiliki ”integritas” sempurna. Ia tidak mengharap nasehat dari siapapun. Ia adalah pribadi yang tidak dapat diatur oleh faktor-faktor di luar diriNya, sebab Ia mengatur diriNya sendiri. Ritual, seremoni atau liturgi sehebat apapun tidak bisa mengatur dan membujuk Tuhan untuk melakukan sesuatu perbuatan di luar kehendaknya. Dalam Yesaya 40:16, “Libanon tidak mencukupi bagi kayu api dan margasatwanya tidak mencukupi bagi korban bakaran.” Sedahsyat apapun korban bakaran, tidak dapat mempengaruhi Tuhan. ***

Dasar Pengampunan Kristen (Matius 6:14)

Pdt. Dr. Berthie L Momor

Tidak ada sukacita yang lebih besar dari saat kita mengetahui bahwa dosa-dosa kita diampuni dan keselahan-kesalahan kita tidak diperhitungkan. Dari Daud, nyanyian pengajaran “Berbahagialah oran yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi”. (Maz 32:1); (Efesus 4:32).

Pengampunan yang kita terima ini memiliki dampak yang sangat istimewa. Kita bebas dari hukuman Allah, dibebaskan dari segala kutuk; dipersekutukan dengan Tuhan sendiri; dapat masalah damai sejahteraNya, diperkenankan masuk kerajaanNya, dan menjadi ahli warisNya. Tetapi sebaliknya dosa membuat seseorang kehilangan damai sejahtera, dan tidak dapat menikmati tanpa terlebih dulu memberikan dosanya di hadapan Tuhan. Jadi, suatu kebohongan besar jika seseorang berkata bahwa ia dapat menikmati damai sejahtera Allah, sementara ia belum membereskan dosa-dosanya di hadapan Allah. Tuhan akan terus berperkara terhadap orang-orang yang belum membereskan dosa-dosanya. Dalam kasih Yesus dapat dibenarkan bagaimana Tuhan dapat berperkara dengan Yunus sampai Yunus kembali kepada panggilanya untuk memberitakan berita pertobatan kepada penduduk Niniwe, kemanapun Yunus pergi, Tuhan tetap mengejarnya sampai ia membereskan dirinya dengan Tuhan. Juga demikian dengan Naomi, ia meninggalkan Betlehem dan pergi ke negerikafir sehingga membuka peluang terhadap iman yang salah. Tuhan berperkara dengan wanita ini sehingga suami dan anaknya meninggal, sampai Naomi kembali ke Betlehem lagi, dan Tuhan memulihkannya, (Rut 1:18-22).

Dalam kisah anak terhilang, dapat kita lihat bahwa pemberontakan terhadap bapanya dapat membuahkan penderitaan, malu, kerugian dan kemiskinan bagi dirinya. Tetapi melalui penderitaan itu pula ia diingatkan akan bapanya, sehingga muncul keinsafan dan pertobatan yang membuatnya kembali ke rumah Bapanya (Lukas 15:17-21). Dengan demikian kita tahu bahwa penderitaan memang dapat menjadikan Allah sebagai alat untuk menguji kita. Tetapi dapat juga digunakanNya untuk mendisiplinkan orang-orang yang tidak mau dibereskan diri dihadapanNya, sehingga akhirnya mereka dapat disadarkan dan kembali kepadaNya. Dosa membuat seseorang kehilangan damai sejahtera, dan tidak dapat menikmati hidup.

Hati Nurani ( KPR 24:16). Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan menusia, (KPR 24:16). Hari nurani  dalam teks asli Alkitab dapat diatikan sebagai sesuatu yang dapat diketahui atau dipahami. Pada umumnya hati nurani dapat diartikan sebagai suatu dorongan keinsafan batin yang dimiliki seseorang yang dapat menentukan seseorang untuk mengambil keputusan.  Hati nurani dapat menghayati tentang apa yang baik dan yang buruk, yang berhubungan dengan tingkah laku konkrit seseorang. Hal ini jelas menunjukan bahwa manusia memiliki kesadaran yang memungkinkannya memiliki kebebasan sebagai mahluk yang bertanggung jawab terhadap terhadap Allah. Oleh karena itu, hati nurani harus selalu memperoleh pengaruh yang positif dari luar, baik itu pengaruh kebudayaan maupun pengaruh lingkungan. Harus dipertegas bahwa suara hati lebih bersifat subyektif karena keputusan dan sikap batin kita sangat dipengaruhi oleh diri sendiri (pribadi).

Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita sendiri karena ternyata suara hati bersumber pada diri sendiri (Pribadi). Dala hal ini kita tidak boleh menyamakan suara hati naruni sama seperti suara Allah, tetapi slalu hati nurani yang murni berhubungan dengan yang ilahi (Hukum taurat tertulis). Hati nurani juga bersifat personal dan adi personal, yang bersifat personal, karena selalu berkaitan erat dengan pribadi yang bersangkutan. Sedangkan yang bersifat adi personal karena seolah-olah melebihi pribadi kita yang  merupan instansi diatas kita, dalam menerangi dan memberikan kesadaran terhadap moral kita. Inilah perlu adanya pendidikan dan pendewasaan hati nurani yang murni, karena orang percaya yang ingin bertumbuh dewasa harus mendidik hati nurani dengan firman Tuhan. Firman harus mendidik hati nurani kita supaya dapat menjadi sumber berkat suara Tuhan  dalam diri kita.

Seseorang yang mengerti Firman Tuhan hati nuraninya akan menjadi instrument Tuhan untuk berbicara kepada dirinya. Dan seseorang yang tiadak mengerti firman Tuhan tidak mungkin hati nuraninya dapat menjadi saluran berkat. Sebab itu setiap orang harus belajar untuk mendewasakan hati nurani dan dapat menentukan dirinya kepada kekudusan dan kebenaran Tuhan. Orang percaya yang ingin bertumbuh dewasa harus mendidik hati nuraninya dengan Firman Tuhan.***

“FILSAFAT INSAN KRISTEN”

Ps. Dr. Lenny H.S. Chendralisan

Do something different in your way, inilah hikmat. Hikmat biasanya didapatkan pada insan yang insani dalam tindakannya. Tindakannya didasarkan atas hasil pemikiran filsafat. Insan yang insani merupakan orang-orang yang bijaksana.  Tidak selalau insan Kristen dengan filsafatnya merupakan hal yang jelek dan membosankan, namun memahaminya memberikan kesempatan kepada hikmat dijalankan. Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya (Ayub 12:12). Read More