Jonro I. Munthe, S.Sos Mengapresiasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui Majalah NARWASTU

Jonro I. Munthe, S.Sos Mengapresiasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui Majalah NARWASTU

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Lelaki Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 ini bukan sosok yang asing lagi di kalangan aktivis Kristiani dan jurnalis Kristen. Jonro I. Munthe, S.Sos, dikenal Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU, dan salah satu pendiri Perhimpunan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI).
Selama ini ia dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas, dan berprestasi. Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Dia pun tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikiran seputar ilmu jurnalistik, tetapi juga soal keadaan sosial gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Seperti dikutip harian nasional “Suara Pembaruan” Edisi Sabtu-Minggu 8-9 Februari 2014 yang memuat profil Jonro I. Munthe di rubrik “Faith & Life”, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil sebagai narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial, dan politik. Ketua Presidium FORKOMA PMKRI dan Wakil Ketua Badan Hukum DPP Partai NASDEM, Hermawi Taslim, S.H. pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan, karena kiprahnya di media. Dan, ujarnya, Jonro pun bisa membuat Majalah NARWASTU ibarat “rumah bersama” untuk berkumpul bagi tokoh-tokoh Kristiani, baik dari Katolik maupun Kristen Protestan. Dan, katanya lagi, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat, dan bangsa.
Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu. Setiap NARWASTU menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja.

Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai sejumlah wartawan di sebuah acara Majalah NARWASTU

Tak heran, kalau dia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalah ini kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu dulu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada Penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro menuturkan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsan. ”Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat, dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 lalu,’’ terangnya.
Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe, Pdt. DR. Nus Reimas, Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Hermawi Taslim, S.H., Prof. Irzan Tanjung (alm.), dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang berbicara di FDDI.
“Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Lantaran dikenal ”jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa memang sudah aktif dalam dunia jurnalistik.
Di samping itu, saat mahasiswa, suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olah raga bela diri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 lalu berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Silat Antar-Master se-Jabodetabek. Dia pun pernah meraih Juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan Majalah “Kabar Baik.”
Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi.
Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa Orde Baru kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan ”melawan arus.’’ Karena saat itu kekuasaan Orde Baru sangat represif. “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kerukunan, kebenaran, dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini.
Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. Dia berprinsip, meskipun kita sibuk berkarier, tetapi persoalan kemasyarakatan, gereja, dan bangsa perlu dibahas dan dicari solusinya. “Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek ini.
Jonro menerangkan, sejak tamat SMP pada 1998 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tetapi ia memilih berkerja part time, karena ia masih kuliah. Pada 1996 ia magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. ”Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujar alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta ini.
Pada 1997 lalu saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), dan dulu dosen dan pakar politik di Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Namun, karena ada dinamika sampai dua kali, karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif.
Nama NARWASTU sendiri diambil dari minyak yang harum, mahal harganya dan pernah digunakan seorang perempuan bernama Maria meminyaki kaki Yesus, lalu menyekahnya dengan rambutnya (Yohanes 12:3). Nama itu kemudian menjadi simbol pengorbanan dan kesungguhan dalam pertobatan, sehingga menjadi harum seperti minyak Narwastu yang terkenal itu.
Majalah NARWASTU sendiri tidak hanya bicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab. “Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada di masyarakat dan bangsa itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pluralisme, kebangsaan, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” cetus Jonro.
“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan koran Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas dan beberapa tokoh pers dari Suara Pembaruan yang sebelumnya terbit dengan nama Sinar Harapan. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam pada tahun 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat, dan bangsa.
Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI, Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam RI pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerja sama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani dari semua denominasi.
Dia punya obsesi untuk menyebarkan keharuman para tokoh Kristiani lewat NARWASTU. Sebab, ada banyak tokoh Kristiani yang telah mengabdikan dan bekerja dengan sangat baik bagi masyarakat, gereja, dan bangsa, tetapi luput dari perhatian media masa umum. Lewat penghargaan-penghargaan terhadap para tokoh yang melalui seleksi ketat dan objektif itu, diharapkan dapat memotivasi tokoh bersangkutan untuk terus berkarya dan sekaligus menginspirasikan masyarakat lainnya untuk berperan serta dalam membangun gereja dan bangsa. Dan sejak awal April 2016 lalu, tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU pun sudah punya wadah bernama Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). FORKOM NARWASTU ini dipimpin Prof. Dr. Marten Napang, S.H. (Pakar hukum dan advokat senior) dan Sterra Pietersz, S.H., M.H. (Mantan anggota DPR-RI PDIP dan mantan Sekjen DPP PIKI).

FORKOM NARWASTU ini sekali tiga bulan bertemu untuk beribadah bersama dan berdiskusi tentang persoalan-persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Hasil diskusi ini disebarluaskan ke media massa, media sosial dan dikirimkan ke tokoh-tokoh nasionalis agar dibaca. “Jadi tokoh-tokoh Kristiani yang bergabung di FORKOM NARWASTU itu ikut memikirkan persoalan bangsa ini, dengan memberi pemikiran atau solusi, selain ikut berdoa untuk negeri ini. Dan sejak berdiri FORKOM NARWASTU sudah pernah mendiskusikan bahaya narkoba, terorisme, korupsi, fenomena pilkada dan persoalan yang hangat di negeri ini,” pungkas Jonro Munthe yang merupakan perekat di FORKOM NARWASTU. Beberapa waktu lalu, Jonro sudah ditawari sejumlah partai politik (parpol) nasionalis untuk tampil sebagai caleg, namun ia tidak bersedia karena ingin fokus di dunia penerbitan media. MK

Tony Melendez; GITARIS TANPA LENGAN, YANG MEMULIAKAN TUHAN DARI KEKURANGANNYA!

 

Tony Melendez adalah sang Misionaris yang mewartakan musik dengan kaki, inilah julukan yang pantas untuk seorang Tony Melendez yang memiliki kekuatan Iman, yang mungkin tidak kita miliki. Tony dilahirkan tanpa tangan karena ibunya mengkonsumsi obat anti mual Thalidomide selama masa hamil Tony. Dia kemudian dibawa ke Los Angeles dari Nikaragua untuk dipasang tangan palsu. Tony memakai tangan palsu sampai berumur 10 tahun, setelah itu dia tidak mau memakainya lagi. Dia mengatakan : “Aku merasa tidak nyaman memakai tangan palsu, aku bisa memakai kakiku untuk sesuatu yang lebih banyak lagi. Kecakapannya menggunakan kakinya semakin meluas pada semua hal. Kata Tony ; “Aku ingat hal pertama yang kupelajari adalah memainkan organ. Kemudian di sekolah menengah atas aku mulai bermain gitar dan harmonika”. Dia juga mulai menulis lagu sendiri. Sekalipun Tony berkecimpung di dunia musik dan belajar di sekolah normal, Tony tidak menjadikan ketidaksempurnaannya menjadi hambatan buat dia. “Aku sangat menikmati hal-hal apapun yang bisa kukerjakan,” katanya.

Tanggal 15 September 1987 adalah saat saat yang tak terlupakan, ketika Tony Melendez bermain gitar untuk Paus Paulus Yohanes II di Los Angeles.  Dilahirkan tanpa lengan, Tony menampilkan sebuah lagu yang sangat menyentuh berjudul “Never Be The Same”. Ketika Paus mendekati dan menciumnya dengan penuh perasaan, saat itu paus seperti mewakili perasaan semua orang di seluruh negeri.

“Never Be The Same” adalah lagu yang tepat yang menggambarkan momen-momen yang merubah kehidupan Tony Melendez dan menjadikannya seorang gitaris yang menarik perhatian negerinya. Lagu itu sangat cocok menceritakan seorang laki laki yang menghabiskan hidupnya dengan yakin di atas ketidaksempurnaannya. “Di hari kelahiranku, ibuku tak sadar kalau aku tak punya tangan. Saudara-saudaraku segera menjauhkanku dari ibuku. Dokter yang menangani adalah adik nenekku. Saat itu aku diperlihatkan pada ibuku dengan masih tetap diselimuti tapi ibuku tak boleh lama-lama memelukku. Sampai akhirnya ibu memaksa. ‘Berikan putraku, aku ingin melihatnya, ada apa? Ada apa?’ suara ibu setengah berteriak. Mereka membawaku ke kamar dalam keadaan masih terbungkus selimut. Dan untuk pertama kalinya ibu melihatku, tanpa tangan,” kisah Tony

“Apa yang terjadi? Air mata mengalir dari matanya. Saat itu, nenekku masuk ke kamar memegang dan mengguncang pundak ibuku, ‘Ini putramu. Kasihi dan ajari dia. Biarkan ia tumbuh dewasa,”‘ kenang Tony penuh haru.

Ketika Tony mulai tumbuh besar, ibunya mengatakan kalimat sederhana namun penuh makna, “Tuhan menciptakanmu seperti ini, kau harus menerimanya.” Tony sadar betul, ia memang berbeda. Tak punya tangan, jari dan lengan. Penyebab kecacatan Tony adalah obat polithemaid, pereda mual yang diminum ibunya saat sedang mengandung. Mereka tak tahu kalau obat ini akan berdampak buruk. Dari keadaan yang dialaminya terciptalah lagu berjudul You Are His Miracle.

Diperlakukan seperti orang normal

Meski terlahir tak sempurna, kedua orangtua Tony memperlakukannya seperti anak yang lain. “Kulakukan semua dengan kakiku. Aku bisa menulis, memegang pisau dan memotong tomat. Ayahku biasanya bilang, ‘Biarkan Tony melakukannya saat ibu ingin membantuku,”‘ jelas Tony yang memoles bakat musiknya di gereja dan sebuah SMA di Chino, 64 km di timur Los Angeles.

Saat Tony masih sangat kecil, ayahnya, kelahiran El Savador, kerap menyuruhnya menyanyi dan menari dengan diiringi gitar sang ayah. Nampaknya di situlah ketertarikan Tony terhadap gitar mulai muncul. “Latihan musikku adalah melihat ayah main gitar gaya klasik Spanyol. Aku lalu berlatih. Umur 16 tahun akhirnya aku bisa main gitar, ayah pun bangga,”‘ tutur Tony.

Dua saudaranya, Jose dan Mary, mengakui Tony sangat mandiri, seperti orang normal. Ia tak banyak butuh bantuan kecuali hal yang sangat memerlukan ‘tangan orang lain’ seperti mengancingkan baju atau menutup resleting. Keluarga Tony tiba di Los Angeles 1963 setelah menempuh perjalanan bermobil dari Nikaragua, negara asal ibu Tony. Mereka mengurus perawatan medis bagi Tony di RS Ortopedi, LA, karena Tony tak bisa jalan.

Menjadi Suami  & Ayah

Tak terbayang oleh Tony, ia menikah dengan seorang wanita yang amat mencintai dan menghormatinya, Lynn. Ketika janji nikah diucapkan, mata Tony berkaca-kaca. Ia menatap dalam-dalam mata Lynn. Karena tanpa tangan, Lynn memakaikan kalung di leher Tony dengan ‘liontin’ cincin pernikahan. Mereka sepakat menjadi satu dalam berkat Allah.

Satu setengah tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Mereka pergi ke rumah yatim piatu di El Savador. Banyak perjuangan, kepedihan dan tangisan dan juga memeriksakan diri, kami melihat apakah ada anak yang terabaikan. Satu tahun kemudian kami mengadopsi Marissa,” tutur Tony. Menjadi ayah sangat menyenangkan, tambah Tony. Meski Tony tak dapat memeluk Marissa, ia dapat mengungkapkan kasih seorang ayah terhadap anaknya. Ia masih bisa menggendongnya! Marisa pun seolah mengerti betul keadaan Tony, dengan tangan mungilnya ia bergelayut di punggung ayahnya. Setahun setelah konser, Tony dan Lynn mengadopsi anak kedua, Andreas dari Nikaragua.

Berkat Tuhan mengalir dalam diri Tony sehingga bisa berkeliling dunia, memberi harapan pada banyak orang. Ia tampil di berbagai acara TV di Amerika, termasuk Good Morning America. Tony memang pantas mendapat penghargaan Inspirational Hero Award dari NFL Alumni Association di Miami dan Branson untuk kategori Best New Artist 1999. Ia misionaris yang mewartakan dengan musik di kakinya memberi pengharapan. ‘Ulurkan tangan, sentuh dengan tanganmu …. Jadikan dunia ini tempat yang lebih baik’.

Richard Nayoan, Sosok Pemuda Pejuang Anti Narkoba Yang Kini Terjun Ke Dunia Politik

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara, jiwa belajar dan bekerja giat terlihat dari sosok Richard Nayoan. Kala meniti pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), pria kelahiran Jakarta, 9 Agustus 1991 ini  sudah terbiasa membantu kedua orangtuanya. Berjualan koran keliling sepulang sekolah dan bekerja mengangkat batako di sore hari serta mengantarkan batako ke rumah pemesan. “Ketika itu, pulang sekolah langsung berjualan koran keliling. Bahkan, sering menjajakan koran di perempatan lampu merah, menawarkan ke setiap pengendara mobil atau pun motor kala lampu merah sedang menyala. Selesai itu, sorenya dilanjutkan bekerja di tempat jual batako,” ucap Richard Nayoan. Read More

Drs. Ayub Titu Eki., MS., Ph.D, Bupati Kupang Yang Takut Akan Tuhan

Drs. Ayub Titu Eki (kiri) menerima penghargaan sebagai tokoh Kristiani. Penghargaan diserahkan oleh Pdt. Dr. Nus Reimas (kanan)

Nama lengkapnya adalah Drs. Ayub Titu Eki, MS., Ph.D. Ia adalah tokoh kelahiran Fatuoni (Kabupaten Kupang), 5 Desember 1956, memiliki karier beragam sebelum menjadi Bupati Kupang selama 2009 hingga 2019. Meniti pendidikan umum di Sekolah Dasar (SD) GMIT Oepula (1968), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen Bantuan Kupang (1972), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Kristen Kupang, hingga meraih gelar S-1 dari FKIP Undana Kupang (1983), S-2 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (1990), dan S-3 dari Adelaide University (Australia) pada tahun 2003. Sementara, untuk mempertajam keilmuwan praktikumnya, dia mengikuti kursus atau pelatihan di Quality Management System (November 2008).

Setelah meniti karier sebagai petani dan peternak selama periode 1983-1985, suami Christina Ngadilah Titu Eki ini bekerja sebagai guru SMEA, dosen di FKIP Undana (1985-2002), dosen FKM Undana (2002-2009), Ketua Jurusan AKK FKM Undana, Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) Kupang selama 2004-2009.

Di sisi lain, dia juga giat dalam pelayanan di gereja. Dari menjadi diaken, penatua, ketua pembangunan gereja hingga Anggota Majelis Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili Timor) selama periode 2011-2015. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33) menjadi ayat favorit tersendiri baginya. Dia juga pernah menjadi Ketua Umum Persehatian Orang Timor (POT) Kabupaten Kupang (2004) dan Wakil Ketua II POT Pusat (2004).

Puncak karier politik Ayub Titu Eki dimulai ketika maju bersama Viktor Jermias Tiran sebagai calon bupati dan wakil bupati Kupang pada tahun 2009. Pasangan yang memperkenalkan diri sebagai Tutor (singkatan dari Titu dan Viktor) ini kemudian terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kupang periode 2009-2014. Pasangan ini unggul cukup besar atas pasangan calon lainnya, Ruben Funay dan Fritz Djubida alias Brita.

Immanuel Ballo yang ketika itu bertindak sebagai juru bicara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kupang di Kupang mengatakan, hasil pleno KPU Kabupaten Kupang pada Sabtu (10/1/2009) menujukkan Tutor mendapat dukungan 87.020 suara, sementara Brita mendapat 69.092 suara. “Suara sah sebanyak 156.112 dan 2.430 suara tidak sah. Selisih perolehan suara di antara kedua pasangan mencapai 17.928 suara,” jelas Immanuel Ballo pada Minggu, 11 Januari 2009.

Kemenangan Tutor diperoleh setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten putaran pertama pada 10 Oktober 2008 yang tidak satu pun pasangan mendapat dukungan 30 persen suara. Pilkada putaran kedua digelar pada 30 Desember 2008. Kemenangan Tutor diumumkan setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan pleno atas enam kecamatan dari Pulau Sabu Raijua yang terlambat memasukan hasil rekapitulasi.

Sebelumnya, 5 Januari 2008, KPU Kabupaten Kupang melakukan rekapitulasi atas hasil pemilihan pada 23 kecamatan yang juga dimenangi Tutor dengan dukungan suara 65.450, sementara Brita hanya 31.890 suara. Pleno lanjutan dipimpin Ketua KPU Kabupaten Kupang, Ans Ch Louk dan dihadiri anggota KPU Immanuel Ballo, Oktovianus La’a, Mikhael Nitbani, dan Yudi Tagi Huma. Penetapan calon terpilih berlangsung pada 13 Januari 2009 dan pelantikan pada 25 Maret 2009.

Karier Bupati Ayub Titu Eki berlanjut setelah kembali terpilih pada tahun 2013 dalam satu putaran saja. Bersama pasangan Wakil Bupati Korinus Masneno, dia meraih 63.229 (44,10%). Pasangan ini unggul atas pasangan calon bupati dan wakil bupati lain, yakni Silvester M Banfatin dan Anthon M Natun (23.193 atau 16,18% suara), Jerry Manafe dan Vinsensius Bureni (20.366 atau 14,21% suara), Victor Y Tiran dan Maria Nuban Saku (19.438 atau 13,56% suara), Steven Derven Manafe dan Maher Syalal Hasbaz Ora (6.691 atau 4,67% suara), Alexander Foenay dan Benny R. Ndoenboey 6.662 (4,65% suara), dan Melitus Ataupah dan Soemin Kase (3.789 atau 2,64% suara).

Ayub Titu Eki menjadi figur kepala daerah yang taat beribadah, nasionalis, dan humanis. Dalam pandangan tokoh Kristiani yang juga Ketua Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB), Pdt. DR. Sarah Fifi., STh., MSi, Ayub Titu Eki adalah seorang Kristen yang taat. Ia sangat yakin dengan kuasa doa yang dahsyat. Sehingga, dia ingin masyarakat yang dipimpinnya mengalami pemulihan rohani, agar berkat Tuhan turun terhadap daerahnya. “Ayub Titu Eki adalah kepala daerah yang ingin daerahnya makmur, damai sejahtera, dan jauh dari korupsi. Tokoh yang antikorupsi inilah dibutuhkan Indonesia,” ujar mantan Ketua Bidang Teologi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) ini.

Dr. Ir. Retno Sumekar., M.Sc (Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia) dalam bukunya ‘Menabur Gagasan Menuju Perubahan Drastis’ menulis, “Saya mengenal Bupati Kupang, Ayub Titu Eki belum lama atau sekitar akhir tahun 2014. Saya mencermati, beliau seorang pemimpin yang humble, baik karakter maupun sikapnya. Tegas, welas asih, dan mengayomi seluruh warga masyarakat, khususnya warga NTT,” tulisnya.

Dia giat berdoa dan minta kepada Tuhan agar ke daerahnya dikirimkan hamba-hambaNya untuk mendoakan daerahnya agar mendapatkan pemulihan kerohanian. Karena imannya bahwa doa kepada Tuhan mampu memulihkan sebuah daerah atau negeri agar diberkati Tuhan. Doa yang terus-menerus dipanjatkan mampu membuat seseorang bertobat dan mendekat kepada-Nya. Beliau adalah tokoh Kristen yang mampu menginspirasi dan memotivasi rakyat,” ujar Pdt Sarah Fifi yang juga psikolog dan konselor masalah keluarga ini tentang Ayub Titu Eki yang mengakhiri masa jabatan Bupati Kupang pada tahun 2019 ini.

Bersama 20 tokoh lain, Bupati Ayub Titu Eki meraih penghargaan “21 Tokoh Kristiani versi Majalah Narwastu”. Pengukuhan dilakukan pada Jumat, 12 Januari 2018 di Gedung Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) di Jalan Penataran 10 (Menteng, Jakarta Pusat). Keduapuluh tokoh lain, termasuk Prof. Thomas Penturi M.Si (Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia), Piter Siringoringo SH (Ketua DPC Peradi Jakarta Timur), Drs. Steven OE Kandouw (Wakil Gubernur Sulawesi Utara), Dennis Firmansjah MM (Profesional dan Pengurus Full Gospel Business Men’s Fellowship International/FGBMFI Indonesia), Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Paruntungan Girsang MSc MA (Penginjil), dr Aris Tambing MARS (Direktur Rumah Sakit Jiwa Jakarta), Pdt Dr. Robinson Butarbutar (Calon Ephorus dan Ketua Rapat Pendeta HKBP), Heben Hazer Ginting., Amd., SE (Mantan Bupati Karo), Dr. dr. Ampera Matippana S.Ked MH, Esra Manurung (Motivator), Pdt Misterlian Tomana M.Th (Tokoh masyarakat Posos dan Ketua Umum Majelis Sinode GSI), Pdt. Halomoan Simanjuntak S.Th (Sekretaris Umujm PGI Sumatera Selatan), Dr. dr. Gilbert WS Simanjuntak Sp.MK (Dokter ahli Mata), Ir. Fajar Seto Hardono., MM (Membina kaum muda melalui badan kerjasama pelayanan antar kampus), Pdt. William Wairata (Direktur LPMI), Pdt. Gunawan Iskandar., MM (Pelayanan Umat Kristiani di GKPB MDC Singapura), Pdt. Osil Totongan S.Th M.Min (Ketua Yayasan Karmel Ministry Indonesia), Jemmy Mongan (GYKOSZA), Pdt. RT Lukas Kacaribu S.Sos., SH., MM., M.PdK., (Tokoh Muda melayani DPD API Jawa Barat, dan Jefri Kadang SE (Merangkul Generasi Milenial dengan Nilai-nilai Kristen).

Sekedar informasi, Kabupaten Kupang, NTT memiliki luas 5.431,23 Km² kemudian terbentuk 27 kecamatan. Sebuah wilayah yang terletak di antara 9º19–10º57 Lintang Selatan dan 121º30–124º11 Bujur Timur. Sebuah wilayah paling selatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejumlah 21 pulau tidak berpenghuni, sementara 3 pulau telah berpenghuni. Ketiga pulau yang berpenghuni tersebut, yakni Pulau Timor yang memiliki luas 4.937.62 km², Pulau Semau (seluas 246.66 km²), dan Pulau Kera (seluas 1,5 km²). Sebuah wilayah yang beribukota di Oelamasi ini kemudian dikenal dengan Kabupaten Kupang. Kabupaten ini menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Oelamasi menjadi ibukota Kabupaten Kupang sejak 22 Oktober 2010 setelah sebelumnya berlokasi di Kota Kupang selama periode 1958-2010. (Epaphroditus Ph M dan Margianto)