REFLEKSI VALENTINE’S DAY BAGI GENERASI MUDA KRISTEN

REFLEKSI VALENTINE’S DAY BAGI GENERASI MUDA KRISTEN

Setiap tanggal 14 Februari dikenal Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. Namun sampai saat ini masih menjadi polemik—bukan hanya di kalangan generasi muda Kristen saja melainkan kaum lansia pun tak sedikit yang tidak setuju untuk merayakannya. Alasannya pun beragam. Ada yang berkata, Valentine’s Day itu tidak cocok dengan budaya Indonesia. Ada pula yang menilai merayakan hari Valentine itu sah-sah saja, asal tidak melakukan aksi yang melanggar etika budaya, moral dan budaya ketimuran. Read More

Lenny H.S. Chendralisan: “Kontemplasi Budaya Kepemimpinan”

Lenny H.S. Chendralisan

VICTORIOUSNEWS.COM,-Kehidupan sosial dapat memberikan kepada kita suatu kontemplasi (perenungan atau pembatinan kepemimpinan yang mendalam) dan refleksi sebuah kepemimpinan serta tantangan dalam situasi kepemimpinan. Pemimpin yang tidak mau berubah karena historical culturenya berorientasi pada keuntungan, kepuasan pribadi dan masa lalu yang berkepanjangan tidak terselesaikan, akan membawa dampak kepada pasang surut lajunya organisasi, terlebih pada mentalnya. Organisasi berkembang seiring majunya era modern, pemimpin mau tidak mau harus berubah mindset dan mengembangkan diri (kognitif, afektif, psikomotorik dan skill), sebagaimana  human resources dituntut untuk mengembangkan dirinya. Pemimpin yang tidak mau belajar untuk mengoreksi kepemimpinannya, tertinggal dalam pengembangan kehidupan sosial bersamaan dengan jatuhnya nilai-nilai kepemimpinan yang baik. Runtuhnya karakter yang baik dan menumbuhkan keakuan yang tinggi (one man show, self man soul). Pemimpin yang memilih untuk melayani dirinya sendiri, agar kepuasan jiwanya tercukupkan. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Mat 23:11-12). 

Pengalaman, kebijakan dan peraturan yang diambil dari lingkungan luar masuk kepada lingkungan dalam organisasi menyebabkan terjadi kepincangan kebijakan, jika filter kebijakan mengalami penyimpangan kebijakan (policy distortion) karena adanya badai kepemimpinan (storming of leadership). Kepemimpinan bukanlah semata-mata kekuasaan dan kekayaan. Sangatlah disayangkan pembentukan awal (start forming) pada pertengahan jalannya organisasi mengalami storming. Hubungan kepemimpinan karena nilai dapat menyebabkan storming of leadership, lunturnya sebuah kepercayaan, terjadi pembentukan norma (norming), dan meningkat tuntutan kinerja (perubahan performing) dan pada akhir waktu terjadi pembubaran kesepakatan (adjourning). Peribahasa mengatakan; nila setitik rusak susu sebelanga, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

            Tingginnya nilai (high value) tergerus oleh arus waktu, seyogianya pemimpin dapat mewaspadai budaya kepemimpinan karena nilai yang diberikan tidak dapat menilai kekurangannya. Nilai diri dapat pemimpin kontemplasikan dari cara pandang, budaya tidak mau melihat tingkat kesulitan human resources, budaya keberpihakan kepada posisi yang lebih tinggi, pemimpin yang menyukai jabatan, namun tidak dapat memahami tingkat kesulitan bawahan. Pemimpin yang selalu membenarkan dirinya sendiri, agar tidak terlihat salah pada tingkat kepemimpinan diatasnya atau dibawahnya. 3L Concept (Lead, Leader and Leadership) jika dikolaborasi dengan Leadership Spiritual akan mengubahkan 3L Concept yang keliru. Spritual yang mengalami pembatinan dalam keheningan akan menyentuh jiwa (ratio, emotional and action). Jiwa yang tersentuh karena kebesaran Allah yang telah mengangkat dan membesarkannya akan membuat pemimpin berdampak dalam perubahan historical culture sebagai pemimpin yang dapat memberdayakan human resources bukan lagi sebagai orang-orangannya. Namun, menjadikan empower human resources yang memiliki nilai-nilai yang baik (high integrity) dan pemimpin handal spiritual bukan pemimpin yang sekedar melakukan liturgia pada agamanya. Namun, memiliki daya juang mendorong human resources berkembang (encourage).

            Budaya kepemimpinan yang salah memerlukan koreksi kepemimpinan, mengembalikan kepada konsep kepemimpinan (3L Concept) yang benar. Koreksi kepemimpinan melalui keluar dari historical culture yang berorientasi pada keuntungan yang menggunakan human resources untuk kepentingan yang salah. Pemimpin yang tidak berbudi luhur, melupakan anugerah Tuhan atas kekuasaan, kekuatan dan kekayaan yang diberikan-Nya. Amsal Salomo memiliki tingkat hikmat yang tinggi; Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Ams 16:18). Seseorang dapat dilihat setelah mendapatkan jabatan, orang pandai akan terlihat ketika kekuasaan ada ditangannya. Tidak semua orang pandai adalah benar orang yang rendah hati. Firman Allah mengingatkan; Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu:  Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah  yang membuat aku memperoleh kekayaan  ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini (Ul 8:17-18).

Kesalahan dalam sebuah kepemimpinan tanpa visi jelas, tanpa pembenahan, demosipun tidak akan berjalan dengan baik. Kesalahan bisa juga disebabkan karena pemimpin kurang peduli atau pemimpin tidak dapat melihat kesalahan serta kekurangannya, karena kekayaan dan kekuasan adalah kekuatan bagi jiwanya. Membangun kembali kepemimpinan memerlukan visi. Pemimpin adalah pemimpi, jika pemimpin tidak dapat melihat visinya bagaikan pengembara (nomad). Bangsa yang tidak mendapat bimbingan dari TUHAN menjadi bangsa yang penuh kekacauan. Berbahagialah orang yang taat kepada hukum TUHAN (IBIS, Ams 29:18). Selanjutnya ada pemimpin yang melihat visi pribadinya yang berpadan dengan visi Tuhan dan berusaha mengejar visi itu. Pemimpin seperti itu disebut pemimpin yang berhasil/berprestasi dalam mencapai visinya (achievers). Visi seorang pemimpin Kristen untuk hidupnya ialah membangun dan mengembangkan sesuatu dalam dirinya yang diperoleh dari Tuhan sebagai jati diri yang merupakan kompetensi inti (core competence) untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain.

Adapun upah pemimpin yang didapatkan dari kepemimpinannya adalah apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah (2 Sam 23:3-4). Akhirnya ”Tak Ada Gading Yang Tak Retak”, artinya ”Tidak Ada Sesuatu Yang Tidak Ada Cacatnya”, namun keretakan dan kecacatan dapat diperbaiki. Jadilah, pemimpin yang cerdas ilmu, cerdas emosi dan cerdas spiritual, tahu apa yang bisa ia lakukan dan apa yang tidak bisa ia lakukan, dan ia memiliki orang-orang yang disekitarnya yang bisa mengerjakan dengan baik apa yang tidak bisa ia lakukan. 1 Timotius 4:14-16 mengatakan;  Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. Sola Gracia. ***

Ketekunan Membawa Keberhasilan

Dr. Lenny H. S. Chendralisan, M.Th

VICTORIOUSNEWS.COM,-Memperhatikan etimologi kata ketekunan asal kata tekun yang berarti rajin, sungguh-sungguh, giat.  Orang yang tekun, rajin, sungguh-sungguh dan giat, tidak mungkin tidak berhasil. Ketekunan berhubungan dengan usaha. Dimana ada aktivitas yang mendatangkan hasil yang berguna, tidak selalu berupa uang, bisa saja, kebahagiaan, naik kelas, lulus dari sekolah, memperoleh nilai yang baik, berbuah di dalam Kristus dan membawa jiwa kepada Tuhan. Memiliki hidup yang berhasil bukan karena kekuatan kita, tapi semata-mata adalah anugerah Tuhan. Adakalanya keberhasilan bagi orang yang percaya kepada Tuhan, dapat meneteskan air mata, bukan hanya saat duka saja dapat meneteskan air mata, saat berhasilpun ada tetesan air mata. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mzm 126:6). Petani yang pergi ke ladang menabur benih, ada waktu yang ditunggu untuk menuai. Benih yang bertumbuh dan berhasil dapat dituai, memberikan sukacita tersendiri.

Jika, kita ingin berhasil, kita harus rajin, harus sungguh-sungguh, bukan suam-suam kuku, sehingga kita tidak mengalami kegagalan. Ingin dipakai Tuhan, jadikan diri tekun dan kita dapat menyaksikan cinta kasih Tuhan untuk kemuliaan Tuhan yang ada pada kita. Melakukan dengan sungguh-sungguh, memberikan semua yang dapat kita sanggupi, baik itu pengetahuan, akal serta apa yang dapat kita lakukan. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan (2 Ptr 1:5). Kebajikan sama pengertiannya dengan kebaikan, memberikan kebaikanpun lakukan dengan bergairah dan rajin melakukannya.

Untuk sungguh-sungguh, perlu komitmen; “Saya akan tekun. Saya akan rajin. Saya akan bergairah.” Tanpa komitmen, keberhasilan yang pernah diraih atau hampir mendapatkannya akan mengalami kegagalan. Apa itu komitmen ? Komitmen memiliki pengertian adanya janji dengan diri sendiri untuk melakukan ketekunan dengan sungguh-sungguh. Janji bukan hanya pada diri sendiri, kepada Tuhanpun kita harus sungguh-sungguh. Begitupun dalam iring Tuhan, jangan pernah ragu-ragu. Tidak mudah meraih keberhasilan, kita perlu memiliki komitmen. Adanya komitmen akan menumbuhkan tanggungjawab. Karena ada janji dengan diri sendiri dan kepada Tuhan, sehingga punya buah-buah keberhasilan dalam hidup kita. Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Mat 7:17). Mempunyai karakter/watak yang terbentuk hingga menjadi sukses. Sukses itu bukan hanya milik orang dewasa, namun milik semua orang.

Kita bukan orang yang biasa saja, karena dasar hidup kita adalah Kristus.  Komitmen dapat dianalogikan sebagai janji mau melakukannya dengan rajin. Saat itulah sesungguhnya kita sedang membangun dasar hidup, dengan perilaku membangun hidup yang positif,  hidup yang berhasil. Bukan merusak keberhasilan yang telah diraih. Keberhasilan yang telah diraih perlu pimpinan Roh Kudus, agar Roh Kudus mendampingi kita setiap waktu. Tuhan. Akan memampukan kita untuk tekun, rajin, sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan kita. Pepatah mengatahkan; life is war (hidup adalah peperangan). Memerangi kemalasan memberikan gairah kepada ketekunan. Memerangi kebodohan memberikan tempat kepada kecerdasan. Memerangi kemiskinan, kita sedang memberikan tempat kepada keberhasilan. Kalau kita memiliki karakter yang positif, di manapun kita akan berhasil. Kalau kita memiliki karakter lemah-lembut, kemanapun kita akan disayang Tuhan dan disayang sesama, tentu saja di dalam kekudusan dan kesalehan hidup.

Sukses, berhasil itu sebuah proses, sebuah perjalanan. Dan perjalanan kita masih panjang dengan mengisi lintasan kehidupan berdasarkan kehendak Tuhan. Orang yang komitmen dengan waktu itulah orang yang sukses..Kesuksesan atau keberhasilan ada pengakuan dan terlihat. Dan ketika berhasil ada penguasaan diri dan tidak menjadi sombong. Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu (Yes 2:11).

Tekun dalam mengejar keberhasilan dan punya tujuan yang jelas.Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1 Kor 9:26). Petinju kalau mau memberikan SWING (mengayunkan) pukulannya akan mengarahkan dengan jelas, tepat pada sasaran pukulannya. Tepat pada sasaran berarti fokusnya jelas, tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah (Ams 19:2). Saat kita berhasil, berarti kita punya tanggungjawab dihadapan Tuhan.

            Meraihnya berani berkorban, berani berlelah-lelah dalam mencapai keberhasilan. Berani bertindak untuk memulai dengan mengatur waktu. Dapat mengambil keputusan adalah orang yang berhasil. Saat memulai, akan mengakhiri dengan baik dengan emaksimalkan potensi yang kita miliki. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan (2 Ptr 1:8-9). Memotivasi diri kita  untuk sungguh-sungguh, sehingga potensi/kelebihan yang ada dapat dibuat maksimal.  Motivasi berarti dorongan yang menyebabkan kita mau melakukan sesuatu dengan benar. Menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.  Untuk menjadi giat dan berhasil membutuhkan semangat. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, andalkan Tuhan. Tuhan akan memberikan kesempatan pada kita untuk berhasil. Ambil setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Menyadari bahwa diri kita punya potensi yang besar dan bersedia mengembangkannya. Berjuang dalam peperangan dengan sungguh-sungguh sampai sesuatu yang ingin kita raih mendatangkan kebaikan.

            Menolak panggilan tertinggi (hight calling) dan pilihan Tuhan adalah kegagalan. Kita dipanggil dan dipilih Tuhan, supaya kita diberkati dan memberkati. Keberhasilan dapat berupa berhasil melepaskan diri dari kejahatan, kebencian serta kepahitan hidup. Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (1 Ptr 3:9).

            Kemalasan dapat membuat orang yang tadinya berguna, menjadi yang paling tidak berguna. Kemalasan yang dipelihara, tadinya orang hidup dalam kekayaan, bisa berkurang kekayaannya karena malas, hidup dalam kenyamanan dan berhenti untuk sungguh-sungguh.

            Malas adalah keadaan dimana tidak bergairah, menolak bekerja, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Talenta yang Tuhan berikan, dikubur dalam-dalam tidak terasah karena kemalasan. Orang yang malas, hari ini tidak bisa dipakai Tuhan, besokpun tidak akan dipakai Tuhan dan kelak Tuhan dapat saja mencampakkannya di dalam kegelapan.

Marthin Luther, orang Jerman, hidup selama 62 tahun. Sejak umur 34 tahun Marthin Luther mulai menulis, terus menulis selama 29 tahun. Ada 68 buku yang ditulisnya telah dicetak, masing-masing rata-rata 750 halaman. Dan 27 buku belum dicetak. Marthin Luther juga seorang dosen dan Gembala Sidang. Orang yang dikenang dengan karya-karyanya. Banyak karyanya yang telah menjadi berkat. Dia adalah seorang teladan yang rajin melayani Tuhan. Amatilah semut. Semut tidak pasif, dia bergerak terus bahkan bisa beriring-iringan sedemikian banyaknya. Semut tanpa pimpinan, dia giat mencari, menyediakan dan menyimpan makanannya. Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Ams 6:6-8). Semut selalu berkelompok, tidak menyendiri.

Sungguh-sungguh, sehingga Kerajaan Tuhan yang ada di surga, dapat terjadi bagi kita di bumi. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Ptr 5:11). Latihlah diri untuk menjadi rajin sehingga berhasil dalam segala aspek terlebih dalam pengenalan akan Tuhan. Sola Gracia.***

KOMUNIKASI YANG SEHAT DALAM KELUARGA KRISTEN

VICTORIOUSNEWS.COM,-Allah menciptakan keluarga (Kej. 1:26-28), sebagai wadah/wahana di dalam mana kita dipanggil untuk lebih memahami dan menghayati apa artinya menjadi “gambar Allah”. Kehidupan keluarga menggambarkan suatu kesatuan yang serasi, sebagaimana Allah Tritunggal yang bersatu dengan harmonis.

Anak-anak adalah hasil persekutuan diri suami-istri. Bukan milik tetapi karunia Tuhan. Kebahagiaan suami-istri tidak diletakkan kepada anak-anak, tetapi kepada Allah yang adalah sumber di mana kita beroleh hidup. Kepada Dia saja kita bergantung, dan untuk Dia kita hidup, bagi-Nya kita tujukan pengabdian kita demi hormat dan kemuliaan-Nya.

Dengan demikian keadaan tidak mampu beroleh anak, patut diterima tanpa sesal, dan tidak perlu mengakibatkan ketidak bahagiaan atau alasan untuk bercerai. Kita harus menyadari bahwa anak-anak kita ada terutama untuk dan demi Allah, bukan untuk dan demi kepentingan kita. Keberhasilan sebuah keluarga menjadi wadah di mana tiap pribadi menyadari panggilannya sebagai citra Allah, sangat ditentukan oleh mutu hubungan suami-istri dan mutu relasi orang tua dengan anak.

Bagaimana membangun komunikasi yang baik? Tak bisa dipungkiri, keluarga masa kini sudah terjebak dalam arus modernisasi dan kecanggihan teknologi. Tak pelak, masing-masing ruang tidur banyak sudah dilengkapi dengan audio visual, komputer, telepon, dsb. Sesungguhnya keluarga yang demikian ini, walaupun memiliki alat hiburan yang lengkap, adalah keluarga yang sepi, karena terdiri dari anggota keluarga yang ‘bisu’, terasing satu dari yang lain. Banyak informasi yang harus mereka dengarkan, dan harus melakukan gerak yang sedemikian cepat, jika tidak mau dibilang ‘ketinggalan zaman’ membuat orang cenderung tidak lagi mengembangkan persahabatan, memberikan waktu pada anggota keluarga yang lain untuk berbincang-bincang, atau berkomunikasi dari hati ke hati.

Semua dilakukan dengan cepat, basa-basi, atau dangkal-dangkal saja. Akibatnya kesadaran diri dalam relasi dengan anggota keluarga yang lain sebagaimana digambarkan di atas, di mana tiap pribadi tumbuh menjadi satu keluarga yang menggambarkan citra Allah, menjadi kabur. Di sinilah keluarga Kristen seharusnya terpanggil untuk menunjukkan kesaksian melalui “Komunikasi isi hati” yang diberi tempat utama dalam menjalin relasi dengan anggota keluarga yang lain. Tiap pribadi bisa merasakan bahwa keluarga berfungsi sebagai oasis di tengah padang gurun, seperti pelabuhan perteduhan dari dunia yang keras dan penuh ancaman. Apa yang menjadi kesedihan satu anggota keluarga, dapat dirasakan oleh semua anggota keluarga dan menjadi pergumulan bersama dalam doa. Begitu pula apa yang menjadi sukacita satu orang menjadi sukacita seluruh keluarga dan menjadi syukur keluarga kepada Tuhan.

Semua terbuka untuk mencari ‘jalan keluar’ dalam terang Firman Tuhan. Sekalipun dibutuhkan kesabaran untuk ‘mendengarkan’ dan tidak ‘menyakiti’ hati pihak lain, mutu hubungan yang demikian inilah yang Tuhan berkenan (Efesus. 6). Paulus menyebutkan relasi suami-istri yang saling mengasihi adalah menggambarkan relasi Kristus dan jemaat-Nya. (Efesus. 5).

Banyak orang tidak dapat melihat, bagaimana besar kasih Allah kepada jemaat-Nya, karena relasi mereka tidak mencerminkan realasi cinta yang saling melindungi dan menghormati. Sebagaimana tatanan yang ditetapkan oleh Tuhan. Bila tiap keluarga menyadari akan panggilan-Nya ini, maka kehidupan rumah tangga Kristen akan menjadi keluarga yang sungguh menyaksikan apa arti dari keluarga bahagia, keluarga yang memiliki persekutuan yang indah, kedamaian, saling memaafkan, sebagaimana Kristus menerima kita. Pengorbanan Kristuslah yang selalu menjadi panutan dan dasar dari segala aksi kita.

Di sinilah perbedaan dengan keluarga pasca modern yang cenderung menampilkan penampilan luar (imej, gambar, kesan) lebih penting dari pada hakikat, jati diri keluarga itu. Penampilan, seperti keindahan yang tampak dari luar lebih diutamakan daripada integritas, moralitas, sosialitas, apalagi spiritualitas keluarga itu.***

MANAJEMEN ALLAH DALAM PENCIPTAAN

Pdm. Dr. Lenny H.S. Chendralisan, D.Th

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. בראשׁית ברא אלהים את השׁמים ואת הארץ  ׃, bereshith bara Elohim eth hashshamayim veeth haarets; (Kej 1:1). Inilah awal manajemen Allah yang telah dibuktikan dalam penciptaan. Apa yang telah dilakukan Allah menjadi teladan bagi kita betapa pentingnya memulai sesuatu di dalam perencanaan seperti yang dilakukan Allah bagi dunia ini. Merencanakan sesuatu dari hal yang belum ada menjadi ada, dari hal yang tidak bermutu menjadi bermutu. Sehingga mutu pelayanan Allah tercapai yakni manusia menerima segala sesuatu yang terbaik sampai pada korban gafirat atau penebusan Tuhan Yesus Kristus, korban darah di atas kayu salib.

Pelayanan yang dilakukan Allah menciptakan segala sesuatu dengan melihat apa yang diciptakan-Nya, apa yang dimanajemeni Allah bahwa semuanya itu baik; “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kej 1:31a).” Memang tidak secara hurufiah di dalam Alkitab terdapat kata manajemen, namun dari pengertiannya kita dapat memberikan pemaknaan yang dalam terhadap awal penciptaan.

Alkitab sampai kepada pendalamannya dapat membuktikan bahwa sesungguhnya kita dapat mengelola dengan meneladani Allah sebagai sosok pribadi yang bertanggungjawab atas jalannya kehidupan kita.  Amat disayangkan     apabila kita sebagai  gereja   tidak    menggunakan   manajemen  Allah    di  dalam manajemen waktu kita yakni manajemen waktu yang bermutu untuk menumbuh kembangkan pengenalan akan Allah, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah (Ams 2:5).

Pengajaran-pengajaran yang ada dalam Alkitab dapat meningkatkan mutu pendidikan jemaat untuk semakin meningkat. Alkitab mampu melakukan tugas dan tanggungjawabnya untuk memberikan teladan dan memberikan terobosan bagi kita karena kuasa Roh Kudus itu hidup melalui Firman-Nya. Organisme Ilahi sebagai gereja yang hidup seyogianya mengaplikasikan mutu di dalam manajemen waktunya untuk hidupnya menjadi berkat, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat (1 Ptr 3:9c).

            Allah menciptakan kita untuk tidak binasa karena tidak mengenal-Nya, pengajaran akan Allah dalam maksud penciptaan yakni misi Shalom-Nya. Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu (Hos 4:6). Pengenalan akan Allah semakin dalam menjadi tanggungjawab bersama, manajemen spiritual perlu ditumbuhkembangkan dalam manajemen waktu, namun pengenalan dan pemahaman pada mutu pelayanan harus terjangkau secara keseluruhan dalam bidang pengajaran Alkitab.

            Pengajaran dalam penciptaan merupakan pelaksanaan misi secara praktis di dalam pembimbingan dan pengajaran, esensi kegiatan mengajar seperti pada pemuridan serta pelatihan ibadah dengan doktrin karya penyelamatan yang dilakukan Allah dalam mewujudkan Misi Shalom yang dimulai dari hati Allah, sehingga tidak terjadi penyesatan ajaran. Kehendak Allah dinyatakan dalam ajaran-Nya  (Rm 12:7 (singular), Mat 15:9, Mrk 7: 7, 1 Tim 4:1 (plural)). Secara tegas Tuhan Yesus adalah proklamator dari Amanat Agung yang memberi penyataan/proklamasi untuk gereja-Nya. Gereja harus memberitakan Injil dan mengajar segala sesuatu yang telah diajarkan-Nya, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20).” Karena itu, bila organisme Ilahi tidak mengajar, tidak menjalankan tugas mengajar, maka telah melalaikan salah satu pilar yang menjadi penopang dari Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Agar terbangun Church Growth dengan pemahaman yang komprehensif. Ada beberapa pilar Church Growth untuk gereja dapat mengajarkan bahwa pentingnya memahami Manajemen Allah dalam penciptaan. Pilar-pilar ini dapat memperkokoh Church Growth.

Seorang yang mau menginjil harus menguasai isi dari Alkitab secara komprehensif, memanajemeni Alkitab dengan menarik tanpa meninggalkan ketuaannya, karena Alkitab sumber utama dari pendidikan iman Kristen, baik pendidikan formal maupun in-formal.

     Church Growth

  Selain gereja perlu bertumbuh secara spiritual pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik dapat menunjang manajemen waktu yang ada. Situasi seperti ini sebenarnya menjadi tanggungjawab bersama untuk gereja dapat berkembang kepada kedewasaan karena semakin gereja menerima pengajaran-pengajaran yang keras gereja dapat membedakan yang baik dari pada yang jahat. Pengajar yang utama adalah Roh Kudus kepada seorang pengajar yang berlaku sebagai pembimbing, merupakan mediator. Mengajar Firman Tuhan tidak sekedar memindahkan pengetahuan, melainkan adanya sharing life untuk life transformation di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, perlulah disadari bahwa apabila gereja diselamatkan, maka Allah menyelamatkannya dalam semua aspek (Kej 3). Semua aspek hidup kita perlu memperoleh perhatian yang utuh, dan yang utuh itulah yang memerdekakan kita  secara utuh pula. Kita perlu berjuang mengelola waktu kita bersama DIA YANG UTUH bagi kita. Sola Gracia. ***

Kepastian Mengenai Kelepasan Dari Dosa

 

“Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku”. Roma 7:17

 Banyak pertentangan muncul mengenai permasalahan dosa dalam kehidupan orang percaya. Mengapa orang percaya masih berbuat dosa? Bagaimana memperoleh pengampunan atas dosa tersebut dan menaklukkan sifat-sifat yang lama. Orang percaya akan diperhadapkan dengan permasalahan seperti yang dinyatakan dalam Roma 7:15-18, dan Galatia 5:17.

 Itulah sebabnya orang-orang Kristen masa kini perlu arahan dan petunjuk firman Tuhan dalam menghadapi permasalahan itu. Dosa adalah segala sesuatu yang tidak sesuai atau mencapai standart/sasaran yang telah ditetapkan Allah. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum moral Allah dalam bentuk tindakan, perbuatan atau keadaan adalah dosa.

Setiap hal yang bertentangan dengan karakter Allah yang kudus adalah dosa. Tidak menghargai kasih karunia Allah berarti; sengaja melalaikan atau menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang selalu berusaha mengandalkan kekuatan diri sendiri dalam menghadapi setiap hal. Termasuk di dalamnya adalah melalaikan firman Allah, tidak mau bersekutu untuk mendapatkan kekuatan rohani, dan tidak mau berdoa atau membawa setiap kebutuhan kita kepadaNya (Ibrani 12:15) ; (Yeremia 17:5). Pada hakekatnya sikap tidak menghargai atau menyia-nyiakan kasih karunia Allah adalah berusaha menjalankan kehidupan ini dengan mengandalkan kemampuan, kekuatan dan kepintaran sendiri tanpa mau berserah kepada kekuatan dan kuasa Allah.

Dosa-dosa pikiran atau yang berkenaan dengan sikap, dosa itu termasuk kepahitan, kebencian, kekuatiran, iri, dengki, dan selalu tidak merasa puas (Matius 15:19). Dosa-dosa yang berkenaan dengan lidah; termasuk berbohong; bersaksi dusta, fitnah, berkata-kata kotor, gossip, menyebar permusuhan (Amsal 6:17-19). Dosa-dosa yang berkenaan dengan perbuatan, termasuk dalam kategori ini adalah perbuatan amoral (zinah, percabulan, menipu dan membunuh) Galatia 5:19-21. Dalam memahami kategori dosa ini, penting sekali kita menyorotinya dari perspektif hubungan sebab-akibat atau akar/buah busuk.

Setiap perbuatan dosa pasti ada akar permasalahan. Apa yang keluar dari mulut kita mencerminkan atau menggambarkan apa yang ada dalam hati. Dalam alkitab, hati itu menggambarkan keadaan batiniah seseorang, termasuk di dalamnya adalah pikiran, perasaan dan kehendak (jiwa orang itu). Apabila kita memikirkan atau merancang hal-hal yang jahat, yang tidak sesuai dengan pikiran Kristus, pasti itulah yang akan keluar dari mulut kita.

Dosa-dosa lidah merupakan produk dosa-dosa dalam hati atau mental seseorang. Apabila kita menyimpan pikiran-pikiran jahat seperti; dengki, iri, marah, ketakutan, ini akan membuahkan dan memfitnah orang lain. Dosa-dosa yang menghambat seseorang datang kepada Kristus, itulah sebabnya perlu ada pertobatan hati untuk menyadari perbuatan dosa yang dilakukannya. Yesus berkata; barangsiapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan, dan yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:16). Bertobatlah dan carilah Tuhan!. Tuhan Yesus Memberkati.  Oleh: Pdt. Dr. Berthy L.Momor, M.Th

Mengawali Tahun Baru Dengan Doa!

VICTORIOUSNEWS.COM-Dalam kitab 1 Tesalonika 5:17-18, tertulis “Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Ayat ini merupakan penegasan sebagai umat pilihan Tuhan memang berdoa itu harus menjadi sebuah kebutuhan atau menjadi “nafas” hidup kita.

Setiap keluarga Kristen, biasanya ada momen khusus sebelum merayakan detik-detik pergantian tahun, yaitu melakukan doa bersama, menyampaikan harapan dan saling memaafkan. Hal ini dilakukan agar setiap langkah yang akan kita lakukan di tahun baru itu senantiasa diberkati dan dilindungi oleh Tuhan Yesus.

Mengapa kita harus mengawali dengan doa dan menjadikan doa itu menjadi sebuah Kebutuhan? Pertama, Karena Doa memberikan kita kekuatan untuk melawan musuh kita. Kita adalah manusia yang lemah. Kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan godaan iblis. Kita butuh kekuatan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Kita tidak tahu bagaimana hari esok, karena itu hendaknya kita tetap setia, taat dan tulus datang kepada Tuhan berdoa kepada-Nya. Karena setiap hari kita butuh kekuatan dari-Nya. Seperti Daniel, selalu menyediakan waktu datang berdoa kepada Tuhan tiga kali sehari, baik ada kesulitan maupun tidak. Karena doa merupakan kebutuhan di dalam hidupnya. (Dan. 6:11).

Kedua, Karena Doa memberikan kita ketenangan dan kedamaian. Dari gambaran kehidupan Hana kita dapat melihat kuasa doa yang memberikan ia kedamaian dan ketenangan jiwa. Karena ia tidak dapat melahirkan anak, Pinena sering menyakiti hatinya, sehingga membuat Hana sangat gusar dan sedih, tapi ia tetap ke Silo untuk menyembah Tuhan. Hana tahu ia harus mencari dan memohon pertolongan Tuhan. Dengan hati yang tulus ia berdoa mencurahkan isi hatinya di hadapan Tuhan. Dan doa memberikan ia kedamaian, karena itu sekembalinya dari Silo mukanya tidak sedih lagi (1 Sam. 1:18).

Ketiga, Karena Doa kita dapat menggenapi rencana Tuhan melalui hidup kita. Hidup yang Tuhan berikan kepada kita, adalah hidup yang penuh dengan rencana Tuhan. Tuhan mau memakai kita,karena itu dalam segala keadaan, kita harus berdoa supaya rencana Tuhan terjadi dalam hidup kita. Dari kehidupan Paulus di dalam penjara kita dapat melihat hal ini. Walaupun Paulus dan Silas berada di dalam penjara. Tapi Paulus tetap bisa menulis surat berisi nasihat-nasihat yang menguatkan dan pengajaran-pengajaran yang luar biasa, serta berdoa dan memuji Tuhan. Akibatnya terjadi gempa bumi, semua pintu penjara terbuka dan belenggu-belenggu terbuka. Kepala penjara terkejut dan menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena mengira bahwa orang-orang hukuman itu telah kabur. Tapi Paulus menasehatinya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kepala penjara berkata kepada Paulus: “Apa yang harus aku perbuat, supaya aku selamat”. Jawab Paulus: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Dari kejadian ini kita melihat, Tuhan memakai Paulus untuk menggenapi rencana-Nya. Hanya Doa yang membuat Paulus bisa melakukan semuanya ini. Bagi Paulus doa adalah kebutuhan.

Mari kita jadikan Doa itu sebagai suatu kebutuhan. Karena doa adalah nafas kerohanian kita. Doa harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Firman Tuhan menasihatkan kita tetap berdoa dan senantiasa bersyukur kepada-Nya, karena itu kita harus datang kepada-Nya dengan sukacita dan tulus. Tuhan Yesus memberkati. Amin. SM

Menang Atas Penderitaan

VICTORIOUSNEWS.COM — Orang-orang percaya (para pengikut Kristus) pada abad pertama setelah penyaliban dan kebangkitan Kristus, mengalami banyak penderitaan: dikejar-kejar, ditangkap, disiksa, dianiaya, dan akhirnya dibunuh dengan sadis. Tampaknya memang Yesus Kristus tidak menjanjikan hal yang enak menjadi pengikut-Nya karena untuk menjadi Pengikut Kristus, seseorang harus memikul salibnya sendiri. Read More