JAKARTA,Victoriousanews.com– Tuhan mengetahui setiap pergumulan manusia. Karena itu, orang percaya tidak perlu hidup dalam ketakutan, sebab pertolongan-Nya selalu datang tepat pada waktunya.
Pesan tersebut disampaikan Ps. Jimmy Jackson dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) di GBI Maple Park, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (9/7/2026). Mengangkat tema “Aku Ini… Jangan Takut” berdasarkan Matius 14:22-33, ia menegaskan bahwa badai kehidupan bukanlah tanda Tuhan meninggalkan umat-Nya, melainkan kesempatan untuk menyatakan kuasa-Nya.
“Tuhan tahu badai yang akan kita hadapi. Tidak ada persoalan yang mengejutkan Tuhan. Dia mengetahui setiap air mata, sakit penyakit, pergumulan keluarga, maupun tantangan hidup kita,” ujar Ps. Jimmy.
Menurutnya, setiap orang pasti menghadapi “gelombang” kehidupan. Namun, bahaya terbesar bukanlah badai itu sendiri, melainkan rasa takut yang menguasai hati.
Mengulas Matius 14:26, ketika para murid mengira Yesus yang berjalan di atas air sebagai hantu, Ps. Jimmy menjelaskan bahwa ketakutan yang terus dipelihara dapat berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) maupun General Anxiety Disorder, yaitu kecemasan berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.
“Takut itu bisa menular. Karena itu jangan membesarkan anak dengan ancaman dan ketakutan. Ketakutan yang dipelihara akan membelenggu hidup dan mengikis kebahagiaan,” katanya.
Ia menegaskan, jawaban atas setiap ketakutan telah dinyatakan Yesus melalui firman-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Ungkapan “Aku ini” menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas setiap badai kehidupan.
Ps. Jimmy juga mengingatkan agar iman tidak dibangun semata-mata karena mengejar mujizat. “Iman yang hanya bergantung pada mujizat akan mudah goyah ketika persoalan datang. Sebaliknya, iman yang berakar pada Kristus akan tetap teguh dalam segala keadaan,” ujarnya.
Mengutip kisah Petrus yang mulai tenggelam, ia menyoroti respons Yesus yang segera mengulurkan tangan. Menurutnya, pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat bagi mereka yang berseru kepada-Nya.
Sebagai kesaksian, Ps. Jimmy menceritakan pengalaman saat kapal yang ditumpanginya bersama keluarga hampir tenggelam dalam perjalanan menuju Bunaken, Manado. Di tengah kepanikan, mereka hanya bisa berseru kepada Tuhan hingga akhirnya sebuah kapal datang mengevakuasi seluruh penumpang. “Sejak peristiwa itu saya percaya, Tuhan benar-benar hadir pada saat yang paling genting,” tutur Ps Jimmy yang juga Adik kandung Gembala GBI Maple Park Ps Ferry Iskandar.
Menariknya, pengalaman tersebut tidak membuatnya trauma. Bahkan, baru-baru ini ia kembali menyelam di Bunaken sebagai bukti bahwa hidup tidak boleh dikuasai rasa takut.
Ia kemudian merangkum lima pelajaran penting dari firman Tuhan: pertama, Tuhan mengetahui setiap pergumulan manusia; kedua ketakutan yang dipelihara dapat berkembang menjadi PTSD maupun General Anxiety Disorder; ketiga, iman harus dibangun di atas Kristus, bukan semata-mata mujizat; keempat, pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya; dan kelima, Yesus berkuasa atas setiap badai kehidupan.
Mengutip Charles H. Spurgeon, Ps. Jimmy menegaskan, “Faith and fear cannot live together in the same heart.” Iman dan ketakutan tidak dapat tinggal bersama dalam hati manusia; salah satunya akan menguasai kehidupan. Karena itu, ia mengajak jemaat meninggalkan trauma dan kecemasan serta berpegang teguh pada janji Kristus, “Aku ini, jangan takut.”
Usai khotbah, Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar, memimpin doa berkat bagi seluruh jemaat. Ia berdoa agar firman Tuhan bertumbuh menjadi iman yang teguh, melahirkan kehidupan yang berani, setia, dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia.
Semangat tersebut sejalan dengan visi GBI Maple Park di bawah penggembalaan Pdt. Dr. Niko Njotorahardjo. Memasuki tahun 2026, gereja mengusung tema “The Great Commission (Amanat Agung): Tahun Penuaian Jiwa” (Matius 28:19-20), mengajak setiap jemaat aktif memberitakan Injil, memenangkan jiwa, memuridkan, serta menghadirkan kasih Kristus melalui kehidupan sehari-hari. SM
