Wisuda XIX STT Rahmat Emmanuel Tegaskan Integrasi Teologi dan Teknologi Digital, Siapkan Pemimpin Kristen Abad ke-21

Oplus_131072

JAKARTA,VictoriousNews.com— Di tengah akselerasi transformasi digital yang terus mengubah wajah pendidikan global, Sekolah Tinggi Teologi (STT) Rahmat Emmanuel (REM) menegaskan komitmennya membangun pendidikan teologi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan fondasi iman Kristen. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Wisuda ke-XIX yang digelar di Main Hall GBI Vifa Apartemen Robinson, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (4/7/2026).

Mengusung tema “Integrasi Teologi dan Teknologi Digital dalam Pembelajaran Abad ke-21″ berdasarkan 2 Petrus 1:5, wisuda ini tidak sekadar menjadi seremoni akademik, tetapi menjadi penegasan arah pendidikan tinggi teologi dalam mempersiapkan pelayan Tuhan, pendidik, dan pemimpin gereja yang mampu mengintegrasikan kedalaman iman dengan kecakapan digital.

Sebanyak 93 wisudawan dikukuhkan, terdiri atas 19 Sarjana Teologi (S.Th), 24 Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd), 25 Magister Teologi (M.Th), 19 Magister Pendidikan Agama Kristen (M.Pd), dan enam lulusan Program Doktor.

Momentum akademik tersebut dihadiri Pendiri STT REM Prof. Dr. (HC) Abraham Conrad Supit, Ketua STT REM Dr. Yogi Dewanto, MBA., M.Th., Pembina Yayasan Abraham Conrad Supit Center (ACSC) Dr. Ir. Johanes MJB, MBA., M.Th., M.Pd., Ketua Yayasan ACSC Dr. Ir. Binsar K. Pangaribuan, MM., M.Th., Ketua Sinode GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay, M.Th., para guru besar, dosen, serta tamu undangan.

Lebih dari sekadar pengukuhan gelar, Wisuda ke-XIX yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-XXVII STT Rahmat Emmanuel ini menandai lahirnya generasi intelektual Kristen yang dipanggil menghadirkan terang Kristus melalui pelayanan, pendidikan, riset, dan transformasi sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Teknologi Harus Berakar pada Teologi

Dalam kata sambutannya, Ketua STT Rahmat Emmanuel, Dr. Yogi Dewanto, MBA., M.Th., menegaskan bahwa integrasi teologi dan teknologi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi pendidikan teologi di abad ke-21.

Menurutnya, teknologi hanyalah sarana. Tanpa fondasi teologi, teknologi berpotensi kehilangan arah moral, sedangkan teologi yang tidak memanfaatkan teknologi akan kehilangan daya jangkau dalam pelayanan.

Karena itu, ia mendorong para lulusan mengembangkan tiga kompetensi utama, yakni kreativitas dalam memanfaatkan teknologi digital seperti AI, media sosial, metaverse, dan analisis data; terus memperluas pengetahuan agar mampu menghadirkan kebenaran di tengah derasnya arus disinformasi; serta menjaga karakter Kristiani sehingga setiap penggunaan teknologi dilandasi integritas dan semangat melayani. “Dunia digital adalah ladang misi baru,” tegas Yogi, seraya mengajak para lulusan menjadikan setiap karya dan konten digital sebagai sarana memuliakan Tuhan.

Teologi Menjadi Kompas Moral Era Digital

Pendiri STT REM, Prof Dr (HC) Abraham Conrad Supit (ke-3 dari kiri)  & Ketua Yayasan ACSC Dr. Binsar K Pangaribuan (ke-4 dari kiri)

Pendiri STT Rahmat Emmanuel, Prof. Dr. (HC) Abraham Conrad Supit, menilai integrasi teologi dan teknologi digital merupakan tantangan sekaligus peluang terbesar bagi pendidikan tinggi teologi saat ini.

Menurutnya, teknologi telah berkembang menjadi ekosistem kehidupan yang membentuk cara manusia berpikir dan berinteraksi. Karena itu, teologi tidak boleh menjauh dari perkembangan teknologi, melainkan harus hadir sebagai kompas moral yang memberikan arah, makna, dan batasan etis dalam pemanfaatannya.

Ia menegaskan bahwa STT bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi laboratorium pembentukan karakter dan pengembangan pemikiran yang melahirkan pemimpin gereja yang adaptif sekaligus berakar kuat pada kebenaran firman Tuhan.

Abraham berharap para lulusan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana untuk memperluas pemberitaan Injil dan menjawab kebutuhan gereja serta masyarakat di era digital.

Orasi Ilmiah: Lulusan Harus Menguasai Kompetensi 4C

Pembina Yayasan ACSC Dr. Johanes MJB, MBA., M.Th., M.Pd., (paling kanan)

Dalam orasi ilmiahnya, Pembina Yayasan ACSC, Dr. Ir. Johanes MJB, MBA., M.Th., M.Pd., mengatakan revolusi digital yang ditopang AI, big data, dan Internet of Things telah mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan berinteraksi.

Menurutnya, pendidikan teologi harus mampu menjawab perubahan tersebut melalui penguasaan kompetensi abad ke-21 atau 4C, yakni Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration, yang dipadukan dengan iman serta moralitas teologis.

Dengan bekal tersebut, lulusan tidak hanya menjadi sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga agen transformasi yang mampu menghadirkan solusi, membawa terang Kristus, dan memberikan dampak positif bagi gereja, masyarakat, serta bangsa.

Johanes mengingatkan bahwa keberhasilan akademik bukanlah garis akhir, melainkan awal pengabdian sebagai pembelajar sepanjang hayat yang terus bertumbuh di tengah perubahan zaman.

Ketua Umum GBIN Apresiasi Kiprah STT REM Cetak Pelayan Tuhan Berkualitas

Ketum Sinode GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay dan istri berpose  bersama Pendiri STT REM Pdt. Abraham C Supit seusai acara wisuda STT REM XIX di Aula GBI Vida, Apartemen Robinson, Jl Jembatan 2  Penjaringan Jakarta Utara, Sabtu (4/7/26).

Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN), Pdt. Dr. Melianus Kakiay, M.Th., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas penyelenggaraan Wisuda ke-XIX STT Rahmat Emmanuel. Ia mengaku bangga karena dua hamba Tuhan yang melayani di lingkungan GBIN berhasil menyelesaikan studi dan diwisuda pada jenjang sarjana dan magister.

Menurut Melianus, perkembangan STT Rahmat Emmanuel merupakan buah dari visi yang dikerjakan secara konsisten sejak awal pendiriannya. Ia mengenang perjalanan lembaga tersebut yang bermula dari Sekolah Orientasi Melayani (SOM), kemudian berkembang menjadi sekolah Alkitab, bertransformasi menjadi Institut Teologi Kepemimpinan REM, hingga akhirnya menjadi Sekolah Tinggi Teologi seperti saat ini.

“Visi yang Tuhan berikan kepada Pdt. Abraham Conrad Supit sungguh luar biasa. Beliau tetap setia memegang visi itu hingga STT Rahmat Emmanuel mampu melahirkan banyak hamba Tuhan yang siap melayani di ladang Tuhan sesuai dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Melianus berharap STT Rahmat Emmanuel terus mempertahankan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, dewasa secara spiritual, dan relevan dengan tantangan pelayanan masa kini. Ia pun mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan serta sivitas akademika atas keberhasilan menyelenggarakan Wisuda ke-XIX. “Selamat kepada STT Rahmat Emmanuel. Kiranya Tuhan Yesus terus memberkati dan memakai lembaga ini untuk melahirkan semakin banyak pelayan Tuhan yang berdampak bagi gereja dan bangsa,” tutupnya.

Iman dan Karakter Menjadi Fondasi Teknologi

Sebelumnya, dalam khotbah pembukaan, Ketua Panitia Wisuda, Dr. Jusen, M.Th., mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan iman, karakter, dan pengetahuan yang benar.

Berangkat dari kitab  2 Petrus 1:5, ia menjelaskan bahwa surat Rasul Petrus ditulis untuk menjaga jemaat dari pengajaran sesat sekaligus mendorong pertumbuhan rohani. Pesan tersebut, menurutnya, semakin relevan di tengah maraknya hoaks, manipulasi digital, dan penyalahgunaan teknologi.

Jusen menegaskan bahwa iman kepada Kristus merupakan fondasi utama dalam mengintegrasikan teologi dan teknologi. Di samping itu, karakter Kristus menjadi penentu arah penggunaan teknologi. Menurutnya, berbagai penyalahgunaan AI, pemalsuan informasi, plagiarisme, hingga penyebaran hoaks pada dasarnya berakar pada krisis karakter, bukan pada teknologinya.

Karena itu, ia mengajak para lulusan terus meningkatkan literasi digital tanpa mengabaikan kedewasaan rohani. “Penguasaan teknologi, katanya, harus menjadi sarana memperluas pemberitaan Injil, bukan alat yang merusak nilai-nilai kebenaran,” pungkasnya. SM

Related posts