Jakarta,VictoriousNews.com-PT Daya Mitra Telekomunikasi Tbk (IDX: MTEL) kembali menegaskan posisinya sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dalam gelaran Public Expose Tahunan 2026, (30/6/2026).
Perseroan memaparkan strategi pertumbuhan jangka panjang dengan fokus pada penguatan bisnis inti, diversifikasi portofolio, serta inovasi teknologi dan energi terbarukan.
Direktur Utama PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) Theodorus Ardi Hartoko, dalam paparannya, manajemen MTEL menjelaskan bahwa perseroan telah mengelola lebih dari 40.300 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut menjadikan MTEL sebagai pemain dominan di industri infrastruktur digital nasional dan regional.
“Tower masih menjadi aset strategis untuk mendukung pertumbuhan internet berbasis mobile maupun fixed wireless di Indonesia. Kami menjadi salah satu penyedia utama infrastruktur bagi operator telekomunikasi,” ujar Theodorus.
MTEL tidak hanya fokus pada bisnis menara (tower leasing), tetapi terus melakukan transformasi dengan memperluas portofolio ke bisnis fiber optik, layanan konektivitas, dan solusi digital infrastructure sebagai bagian dari strategi next growth engine.
Hingga saat ini, panjang jaringan fiber MTEL telah mencapai 58.000 kilometer core, setara dengan 72.000 kilometer secara teknis bisnis. Angka ini menunjukkan pertumbuhan agresif sejak perseroan mulai masuk ke bisnis fiber beberapa tahun terakhir.
Secara geografis, sekitar 58% aset produktif MTEL berada di luar Pulau Jawa, dengan wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi kontributor pertumbuhan paling menjanjikan. Strategi ini sejalan dengan pemerataan infrastruktur digital nasional.
Dari sisi kinerja keuangan, MTEL mencatat pertumbuhan positif pada semester pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tumbuh 3,6%, sementara profitabilitas tetap terjaga dengan efisiensi operasional yang semakin baik.
Bisnis tower masih menjadi kontributor utama pendapatan dengan porsi sekitar 80,5%, sementara bisnis fiber telah meningkat menjadi 6,6%, menunjukkan diversifikasi pendapatan yang semakin kuat.
Menariknya, MTEL kini mulai serius mengembangkan solusi energi terbarukan, khususnya melalui pemanfaatan panel surya untuk mendukung operasional BTS. Langkah ini diambil sebagai respons atas tren kenaikan kebutuhan energi operator telekomunikasi sekaligus komitmen terhadap keberlanjutan.
“Potensi implementasi energi terbarukan di lebih dari 40 ribu tower sangat besar. Ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar,” jelas Theodorus.
Dalam operasionalnya, MTEL juga terus memperkuat digitalisasi dengan penerapan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk monitoring, validasi aset, hingga efisiensi pemeliharaan di seluruh jaringan menara. Sebagai bagian dari Grup , MTEL tetap optimistis terhadap prospek industri telekomunikasi nasional, terutama dengan rencana lelang spektrum baru seperti 700 MHz dan 2.600 MHz yang dinilai akan membuka peluang ekspansi lebih besar.
Dengan kontrak sewa jangka panjang rata-rata hingga 10 tahun, MTEL menilai fundamental bisnis perseroan tetap kuat dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global maupun perkembangan industri digital yang terus meningkat.
Ke depan, MTEL menargetkan pertumbuhan berkelanjutan melalui penguatan bisnis tower, ekspansi fiber, optimalisasi teknologi, dan pengembangan green energy sebagai pilar utama transformasi perusahaan menuju masa depan infrastruktur digital Indonesia. @epa_phm
