Jakarta,VictoriousNews.com- Maraknya perilaku seks menyimpang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) belakangan ini semakin menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk gereja. Jika dahulu isu ini lebih banyak diperbincangkan di ruang publik dan media sosial, kini pengaruhnya mulai dirasakan dalam kehidupan pelayanan gerejawi.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan besar bagi gereja: bagaimana tetap berdiri teguh pada kebenaran firman Tuhan tanpa kehilangan kasih kepada mereka yang bergumul dengan orientasi seksual menyimpang?
Menanggapi persoalan ini, Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan, Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, menegaskan bahwa isu LGBT tidak boleh dipandang semata-mata sebagai perdebatan moral.
“Isu LGBT bukan sekadar perdebatan moral, tetapi juga menyangkut pelayanan kepada manusia yang dikasihi Allah. Gereja dipanggil bukan untuk menjadi tempat penghukuman, melainkan tempat di mana setiap orang dapat mendengar Injil, mengalami kasih Kristus, bertumbuh dalam pemuridan, dan dipanggil hidup dalam kekudusan sesuai firman Tuhan,” ujarnya.
Menurutnya, gereja harus tetap menjadi tempat setiap orang mengenal Allah, menerima pengharapan keselamatan, serta belajar hidup dalam kebenaran. Dengan demikian, gereja dapat menjadi saksi Kristus yang setia pada firman sekaligus memancarkan kasih kepada semua orang.
Gelombang Global yang Mengkhawatirkan
Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI) periode 2005-2017 itu menilai gerakan LGBT telah berkembang menjadi gerakan global yang semakin kuat.
Di sejumlah negara Barat, kata dia, komunitas LGBT tidak hanya menuntut pengakuan sosial, tetapi juga penerimaan penuh dari lembaga keagamaan. Bahkan, pernikahan sesama jenis telah dilegalkan dan menjadi bagian dari sistem hukum yang berlaku.
“Dalam beberapa kasus, gereja atau hamba Tuhan yang menolak menikahkan pasangan sesama jenis dapat menghadapi persoalan hukum. Ini menjadi perkembangan yang sangat mengkhawatirkan dan perlahan mulai menyebar ke negara-negara Timur,” katanya.
Meski demikian, ia bersyukur Indonesia dan banyak negara Timur masih memiliki benteng budaya, adat istiadat, serta nilai-nilai agama yang kuat sehingga gerakan tersebut belum berkembang secara masif seperti di negara-negara Barat.
Gereja Jangan Membenci Orangnya, Tetapi Perbuatannya
Pdt. Mulyadi menegaskan bahwa mereka yang terpapar LGBT tetap merupakan bagian dari pelayanan gereja dan membutuhkan pendampingan rohani yang benar.
“Yang dibenci bukan manusianya, tetapi perbuatannya. Gereja tetap harus mengasihi mereka karena setiap manusia berharga di mata Tuhan,” tegasnya.
Namun, ia mengakui banyak gereja menghadapi kesulitan dalam menangani persoalan tersebut. Tidak sedikit hamba Tuhan yang memahami prinsip firman Tuhan, tetapi belum memiliki pengetahuan, metode, dan alat pendampingan yang memadai.
Menurutnya, penanganan terhadap individu yang mengalami kecenderungan LGBT membutuhkan kesabaran panjang, keterlibatan keluarga, serta kerja sama yang erat antara gereja dan orang tua.
Ia juga mengakui sebagian gereja masih menunjukkan sikap penolakan karena khawatir muncul pengaruh negatif terhadap pemuda dan jemaat lainnya. Karena itu diperlukan pendekatan yang bijaksana agar gereja tetap menjaga kekudusan tanpa kehilangan fungsi pastoralnya.
Dorongan Rehabilitasi dan Pendampingan
Lebih jauh, Pdt. Mulyadi mendorong pemerintah dan gereja untuk membangun pusat-pusat rehabilitasi dan pendampingan bagi individu yang terpapar LGBT.
Menurutnya, sebagaimana rehabilitasi diberikan kepada pecandu narkoba, alkohol, judi online, maupun berbagai bentuk kecanduan lainnya, pendampingan khusus juga perlu diberikan kepada mereka yang bergumul dengan perilaku seksual menyimpang. “Gereja perlu bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk membangun rehabilitasi dan pendampingan. Tetapi proses itu juga membutuhkan keterbukaan orang tua serta keinginan dari individu yang bersangkutan untuk berubah dan kembali kepada kehidupan yang berkenan kepada Tuhan,” ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Bangun Keyakinan dari Media Sosial
Di tengah derasnya arus informasi digital, Pdt. Mulyadi memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Kristen.
Ia mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu sarana yang sangat kuat dalam membentuk cara pandang dan nilai hidup seseorang. Karena itu, anak-anak muda perlu memiliki fondasi iman yang kokoh agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai pandangan yang bertentangan dengan firman Tuhan.
“Jangan sampai membangun keyakinan berdasarkan media sosial, tetapi tinggalkan firman Tuhan. Setialah beribadah, membaca Alkitab, berdoa, dan membangun mezbah doa pribadi,” pesannya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk senantiasa meminta tuntunan Roh Kudus agar mampu membedakan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan nilai-nilai budaya yang terus berubah.
Menutup pesannya, Pdt. Mulyadi berharap lahir generasi Kristen yang militan, setia mengikut Kristus, dan tetap teguh menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Milikilah hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Percayalah bahwa Tuhan sanggup menolong dalam segala keadaan. Kiranya Tuhan menjaga dan menolong generasi muda kita untuk tetap hidup dalam kebenaran-Nya,” pungkasnya. SM
