Jakarta,Victoriousnews.com— Ketua Umum DPP Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas), Pdt. Dr. Japarlin Marbun, menyoroti dinamika pertumbuhan gereja di Indonesia, khususnya di lingkungan Gereja Bethel Indonesia (GBI). Menurutnya, sudah saatnya Sinode GBI melakukan pemetaan ulang dengan membentuk Gabungan GBI Am, sebagaimana dahulu pernah digagas oleh pendiri GBI, Pdt. HL Senduk.
Dalam pandangan Japarlin, realitas di lapangan menunjukkan jurang perbedaan yang cukup nyata antara gereja besar dan single church (gereja kecil). “Fakta yang tak bisa dipungkiri adalah gereja besar lebih maju dibandingkan gereja kecil. Itu wajar, karena mereka telah memiliki sistem dan manajemen yang kuat,” ujarnya.
Ia mencontohkan, gereja besar tidak lagi disibukkan dengan urusan teknis seperti menyiapkan warta jemaat, bahan kotbah, ataupun pelatihan untuk pemimpin pujian dan pelayan ibadah. Semua kebutuhan itu sudah tersuplai oleh pusat, sehingga gembala lokal bisa lebih fokus pada pengembangan jemaat dan pelayanan.
Sebaliknya, gereja kecil harus mengerjakan semuanya sendiri. Dari membuat warta mingguan, menyiapkan bahan kotbah, melatih pemain musik, pemimpin pujian, hingga pendoa, semuanya ditanggung sendiri. Akibatnya, energi gembala dan jemaat habis untuk pekerjaan teknis, tanpa ruang yang cukup untuk mengembangkan diri maupun gerejanya.
“Karena itu, saya melihat jalan keluarnya adalah gereja kecil perlu mengonsolidasikan diri. Mereka bisa membentuk jejaring, misalnya 50 gembala berkumpul dalam satu jaringan. Dengan jejaring ini, cukup dibuat satu bahan renungan dan warta jemaat untuk setahun, lalu dibagikan dan dipakai bersama. Dengan begitu, para gembala punya waktu lebih banyak untuk bertumbuh dan mengembangkan pelayanan,” jelasnya.
Japarlin juga menekankan pentingnya jejaring yang sejenis, sebab setiap gereja memiliki pergumulan dan pengelolaan yang berbeda. Namun dengan berjejaring, gereja kecil bisa menemukan kekuatan baru agar tidak tergilas oleh gereja besar yang sudah mapan dengan fasilitas dan sumber daya manusia yang lebih maju.
Mengakhiri pernyataannya, ia mengibaratkan perbedaan gereja besar dan kecil seperti dunia kuliner. “Restoran besar seperti McDonald’s punya pasar sendiri, sementara warteg juga punya pasar sendiri. Demikian pula dengan gereja. Baik besar maupun kecil, masing-masing punya peran, tapi yang kecil jangan berjalan sendiri—harus berjejaring agar bisa berkembang,” pungkasnya. SM
