Jombang,Victoriousnews.com– Suasana sukacita dan meriah mewarnai perayaan Riyaya Undhuh-Undhuh di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, Jombang, Minggu (11/5/25). Ribuan jemaat dan masyarakat tumpah ruah dalam tradisi sakral yang telah berlangsung sejak 1930, mengusung tema penuh makna: “Yang Terbaik, Yang Kuberikan Bagi Tuhan” (Mazmur 139:14).
Sejak fajar menyingsing, halaman gereja yang berdiri lebih dari seabad itu mulai dipadati para jemaat. Arak-arakan hasil bumi, seperti buah-buahan, sayur-mayur, bahkan hewan ternak, diiringi nyanyian dan doa penuh syukur oleh ratusan warga dari berbagai dusun. Namun yang membuat momen ini begitu istimewa, bukan sekadar kekayaan budaya yang ditampilkan, melainkan hangatnya kebersamaan lintas iman yang tercermin dalam setiap langkah perayaan.
Sejumlah warga Muslim tampak turut serta membantu jalannya prosesi. Pemandangan itu menjadi gambaran nyata bagaimana toleransi dan kerukunan dapat tumbuh subur di tengah perbedaan keyakinan. Riyaya Undhuh-undhuh bukan hanya milik umat Kristen, tapi telah menjadi perayaan bersama masyarakat Mojowarno.
“Tradisi ini adalah wujud rasa syukur kami kepada Tuhan atas penyertaan-Nya, dari masa tanam hingga panen. Ini bukan sekadar budaya, tapi juga iman yang diwujudkan dalam tindakan,” ujar Rudi Prastiyo Adi, panitia penyelenggara.
Arak-arakan dari lima Blok yaitu Blok Mojowarno, Blok Mojoroto, Blok Mojojejer, Blok Mojowangi, Blok Mojodukuh, satu yayasan kesehatan (RSKM Mojowarno), dan satu pepantan Mojotengah membawa persembahan terbaik mereka ke halaman gereja. Setelah kebaktian, hasil bumi itu dilelang dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan gereja serta jemaat—sebuah siklus berkat yang terus mengalir.
Hariyanto, salah satu tamu dari Jakarta, mengaku terkesan mendalam. “Ini pertama kali saya datang ke sini. Luar biasa! Bukan hanya kemeriahannya, tapi juga nilai-nilai toleransi yang begitu terasa. Ini patut menjadi contoh bagi Indonesia,” ungkapnya penuh kagum.
Ia pun berharap, Riyaya Undhuh-undhuh dapat masuk dalam daftar destinasi wisata religi nasional yang perlu didukung dan dilestarikan. Harapan itu sejalan dengan langkah Pemerintah Kabupaten Jombang yang, pada tahun 2023, telah menerima sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Kemendikbudristek untuk tradisi ini.
Acara tahunan ini turut dimeriahkan dengan malam seni budaya, bazar kuliner dan kerajinan, hingga pagelaran wayang kulit sebagai penutup.
Riyaya Undhuh-undhuh adalah warisan iman, budaya, dan kebersamaan yang tak ternilai—sebuah pesan bahwa dalam syukur, damai bisa tumbuh tanpa batas agama. SM
