PAMERAN TUNGGAL VINCENT RUIJTERS SELAMA 7 FEBRUARI HINGGA 7 APRIL 2026 DI JAKARTA

VictoriousNews.com- Crimson Gilt menyingkap riwayat kelam kolonial maritim Indonesia, menempatkannya berdampingan dengan warisan perdagangan bilateral Jepang, dan narasi kejayaan maritim Belanda; untuk kembali diingat, dilihat, dan dicatat dalam pemahaman holistik yang reflektif dan kritis. Proyek ini dibuat dalam seri pameran kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dipresentasikan di tiga negara: Jepang, Indonesia, dan Belanda.

Masing-masing mengambil tempat bersejarah, yaitu kantor dagang VOC di Hirado, Museum Bahari di Jakarta dan Museum Maritim Nasional di Amsterdam. Dalam konteks ini, ruang adalah bagian dari narasi yang menyimpan ingatan kolonial; sehingga pertemuan antara karya dan ruang menjadi signifikan.

Museum Bahari Jakarta terletak di tepi Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta Utara). Gedung ini dibangun sejak abad ke-17, dulunya digunakan untuk menyimpan rempah dan barang dagangan VOC yang diangkut melalui jalur laut. Setelah Jepang mengambil alih, fungsinya berubah menjadi gudang logistik militer. Sepeninggal Jepang, gedung ini sempat digunakan sebagai gudang PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan PTT (Pos, Telegraf, dan Telpon). Sejak 1977, ruang ini diklaim sebagai museum maritim yang menyimpan arsip pelayaran Nusantara. Riwayat fungsi yang berlapis ini memperlihatkan bagaimana perdagangan maritim—di Indonesia khususnya—sejak awal terjalin erat dengan penguasaan ruang, kontrol logistik, dan praktik penaklukkan.

Vincent Ruijters dalam proyek ini menciptakan ilusi kapal yang tampak melayang, melalui sebuah instalasi tekstil berskala ruang (site-specific). Kapal tersebut adalah replikasi dari model kapal Amsterdam, yang dibangun pada tahun 1748, dan tenggelam dalam pelayaran pertamanya menuju Batavia (kini Jakarta). Kapal ini memiliki dimensi sejarah berlapis yang kontradiktif—dirayakan dan dikecam.

Dirayakan dalam narasi kejayaan Belanda dan Jepang, tetapi dikecam sebagai ikon kejahatan eksploitatif yang mengawali tiga setengah abad penjajahan Indonesia. Bahkan, setelahnya, dan setelahnya lagi. Kontradiksi ini oleh Vincent diartikulasikan melalui pola warna kapal. Di Museum Bahari Jakarta, kapal dibuat berwarna merah di bagian depan dan berwarna emas di bagian dalam, menandai penderitaan yang eksplisit dan kekayaan yang dikuras.

Bagi Indonesia, dulu, kapal adalah bagian dari identitas. Kapal sejak lama menghubungkan
kerajaan-kerajaan di Nusantara, digunakan sebagai medium pertukaran gagasan antar-pulau, bahkan menjadi pondasi terbentuknya jaringan budaya, ekonomi, dan politik. Kedatangan VOC ke Nusantara kemudian mengubah esensi fungsi kapal dari medium perjumpaan dan pertukaran menjadi alat ekspansi imperium untuk memonopoli jalur laut, mengontrol distribusi rempah, bahkan memaksakan perjanjian dagang. Hal ini, ditambah politik dalam negeri di masa-masa berikutnya, telah membuat kapal kehilangan posisi simboliknya sebagai identitas bangsa. Lebih dari itu, kedatangan VOC yang membuka pintu penjajahan di Indonesia memiliki dampak sosial dan politik jangka panjang yang relevan sampai hari ini.

VOC dalam pola praktik kolonialnya memperkenalkan klasifikasi ras yang kaku: di mana Eropa diposisikan sebagai penguasa, Timur Asing—seperti Cina, Arab, dan India—sebagai perantara ekonomi, dan pribumi sebagai tenaga kerja atau subjek kolonial. VOC jugalah yang memperkenalkan pola politik sentralistis dan politik pecah-belah. Praktik-praktik tersebut di kemudian hari mewariskan stereotip etnis, stratifikasi sosial, politik identitas, dan kecenderungan otoritarian yang menjadi akar dari berbagai konflik dalam negeri.

Narasi di atas penting dalam memantik dialog trilateral antarnegara dalam jaringan maritim VOC, sebagai upaya menyamakan persepsi dan ingatan kolektif, atau, lebih jauh lagi, menyembuhkan luka sejarah. Mengingat perbedaan perlakuan VOC terhadap Jepang dan Indonesia berdampak pada perbedaan persepsi fundamental. Jepang tidak pernah mengenal sisi VOC yang menjajah. Itulah sebabnya karya instalasi kapal di Hirado dibuat dalam dimensi karya dengan warna-warna yang berubah. Dari sisi depan, kapal diselimuti warna emas metalik. Namun ketika pengunjung berjalan menembus atau melewatinya, warna itu bertransformasi menjadi merah darah yang suram.

Proyek ini menjadi medium historiografi dengan membaca ulang sejarah, mengaktifkan ingatan ruang, dan membuka ruang dialog fundamental; membuktikan bahwa selain memiliki fungsi estetika, seni juga menjadi ruang produksi pengetahuan dan refleksi sejarah, sekaligus berperan sebagai medan negosiasi untuk memori kolektif.

Pameran ini telah diselenggarakan di Jepang pada tahun 2025, dan berlanjut di Belanda. Waktu penyelenggaraan pameran di Jepang dan Indonesia diselaraskan oleh Hirado Dutch Trading Post dan Museum Bahari. Presentasi di Hirado Dutch Trading Post berlangsung dalam konteks peringatan 400 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Belanda, sebuah relasi yang bermula di Hirado pada tahun 1609.

Pameran di Jakarta ditempatkan menjelang peringatan 500 tahun Jakarta (1527–2027), sebuah momentum penting untuk memicu peningkatan refleksi publik dan institusional terhadap sejarah kolonial kota ini. Kedua institusi secara sadar menempatkan Crimson Gilt dalam kerangka diplomatik dan historis yang lebih luas, menegaskan relevansi proyek tersebut dalam dinamika pertukaran budaya internasional yang terus berlangsung.

Dalam narasi Crimson Gilt, Kapal Amsterdam tidak tenggelam, justru melanjutkan perjalanan ke Hirado, kemudian dengan berdaulat membawa ruh VOC mengarungi lintasan pelayaran pulang. Dari Hirado, ke Jakarta, dan kembali ke Amsterdam. Menutup babak panjang sejarah penjajahan Indonesia. Sebab, penjajahan tidak lagi relevan. Baik terhadap negeri orang, maupun negeri sendiri.

Vincent Ruijters PhD adalah seniman yang fokus pada praktik seni instalasi site-specific dan seni pertunjukan. Dalam karya-karyanya, ia mengintegrasikan unsur puitis, konseptual, dan teknologi. Berbasis di Amsterdam, Vincent aktif berpameran secara internasional di berbagai negara, termasuk Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Vincent lahir pada tahun 1988 dan dibesarkan di Den Haag. Ayahnya berkebangsaan Belanda, sementara ibunya berdarah Tionghoa-Indonesia. Keluarga dari ibu Vincent menetap di Indonesia selama tujuh generasi, sebelum melarikan diri ke Belanda akibat pembantaian massal di tahun 1965–66, di mana komunitas Peranakan, bersama kelompok-kelompok lain, menjadi korban. Saat kecil, Vincent diberitahu bahwa dirinya adalah “setengah Indonesia”, dan kepindahan keluarga ibunya ke Eropa dilakukan secara sukarela. Baru setelah dewasa, ia mencari tahu sendiri tentang asal-usul identitasnya sebagai “Peranakan”, berikut alasan tragis di balik migrasi keluarganya.

Perjalanan ke Asia Tenggara—khususnya Indonesia—ditambah hubungan dengan keluarga besarnya di Asia membawa Vincent bersentuhan erat dengan budaya kawasan tersebut. Tumbuh dalam lingkungan yang didominasi budaya Barat, ia merasakan keterputusan dari akarnya sebagai orang Asia. Ia kemudian memutuskan untuk tinggal di Asia guna memahami identitas ini lebih mendalam. Keputusan ini membawanya ke Jepang, di mana ia akhirnya menggabungkan ambisi artistik dengan pendalaman teknologi mutakhir untuk digunakan dalam karya-karya instalasinya.

Setelah hampir satu dekade tinggal di Jepang, Vincent kembali ke Belanda. Terinspirasi oleh latar belakang multikultural dan pengalaman hidup, fokus artistiknya bergeser ke fenomenologi identitas (hibrida) dan relasi. Perubahan ini melahirkan instalasi Cave Inside the Body of Shadows dan pertunjukan tari Shadowplay. Karya-karya tersebut menandai awal eksplorasi artistiknya terhadap akar Tionghoa-Indonesia.

Eksplorasi tersebut diperdalam melalui residensi seniman di Gudskul, Jakarta, dan HONF (House of Natural Fiber) di Yogyakarta. Riset yang dilakukan selama dua residensi ini menghasilkan karya Selintas Selalu, yang dipamerkan dalam pameran kelompok tahunan bergengsi Nandur Srawung di Yogyakarta, dan dipilih untuk merepresentasikan periode penuh gejolak seputar kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 2025, Vincent bergabung dalam kelompok penasihat Program Pengembangan Pengetahuan Nasional tentang Sejarah Hindia Belanda/Indonesia (Belanda), menyumbangkan keahliannya dalam perspektif pascakolonial dan transkultural untuk membantu membentuk keterlibatan institusional di masa depan terhadap sejarah kolonial.

Berangkat dari kedekatan mendalam dan berkelanjutan dengan Belanda, Indonesia, dan Jepang, proyek seni terkininya Crimson Gilt hadir sebagai kelanjutan dari lintasan artistik yang transnasional dan terlibat secara historis ini. @epa_phm/AK

Related posts