Jakarta,Victoriousnews.com—Sehari setelah sukses menggelar Doa Serentak Sekolah Kristen di 14 kota, Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia kembali meneguhkan komitmennya bagi pendidikan Kristen nasional melalui Revival Worship yang juga digelar secara serentak di 10 kota di Indonesia, Selasa (20/01/2026). Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Sekolah Kristen Indonesia (HSKI) 2026.
Pelaksanaan Revival Worship menjadi puncak dari rangkaian HSKI, yang sejak awal dirancang sebagai momentum strategis untuk mendorong transformasi pendidikan Kristen yang berkualitas, berintegritas, dan berakar kuat pada nilai-nilai Kristiani.
HSKI sendiri pertama kali dicanangkan secara resmi pada 17 Januari 2024 di pelataran Kompleks Museum Benyamin Sueb, Jakarta, bekas kediaman Cornelis Senen, pendiri sekolah Kristen modern pertama di Nusantara pada tahun 1635. Sejak itu, HSKI menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat akan peran penting pendidikan Kristen dalam membangun bangsa.
Mengusung tema “Menanam Iman, Menumbuhkan Masa Depan”, peringatan HSKI 2026 diarahkan sebagai ruang kebangunan rohani dan peneguhan panggilan bagi ribuan siswa, guru, dan pemimpin sekolah Kristen di seluruh Indonesia. “Fokus utama HSKI adalah berdoa agar sekolah-sekolah Kristen sungguh menjadi berkat bagi bangsa dan dunia melalui pendidikan yang berkualitas,” ujar Ketua Umum MPK Indonesia sekaligus penggagas HSKI, Handi Irawan D, M.BA., M.Com.
Handi menegaskan, bahwa,pendidikan Kristen tidak boleh berhenti pada keunggulan akademik semata, melainkan harus menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan iman dan membentuk masa depan generasi bangsa. “Tema yang diangkat ini menegaskan bahwa iman harus ditumbuhkan sejak dini. Justru pada masa SD, SMP, dan SMA adalah waktu terbaik bagi anak-anak untuk mengenal Kristus sebelum mereka melangkah jauh menapaki masa depan,” ujar Handi.
Menurutnya, sekolah Kristen merupakan mezbah perjuangan iman, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara konsisten di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Karena itu, ia menekankan bahwa orientasi kualitas dalam pendidikan Kristen merupakan hal yang tidak bisa ditawar. “Sekolah Kristen harus unggul secara kualitas. Itu harga mati. Pendidikan yang berkualitas harus hadir di sekolah Kristen,” tegasnya.
Namun Handi menambahkan, keunggulan akademik saja tidak cukup. Sekolah Kristen juga dituntut untuk adaptif terhadap perubahan zaman dan mampu membentuk lulusan yang kelak menjadi garam dan terang di tengah masyarakat, dunia kerja, dan komunitas tempat mereka berkarya. “Mereka harus menjadi saluran berkat di lingkungan terdekat, menjadi agen transformasi di mana pun Tuhan menempatkan mereka,” katanya.
Tantangan Berat Sekolah Kristen di Daerah
Handi juga mengungkapkan realitas yang tidak mudah dihadapi banyak sekolah Kristen di Indonesia. Ia mengakui bahwa secara nasional, tidak sedikit sekolah Kristen yang berada dalam kondisi rentan secara finansial dan operasional. “Sekolah Kristen memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Bahkan sekitar 40 persen sekolah Kristen berada dalam kondisi yang kurang baik,” ungkapnya.
Meski demikian, Handi menegaskan bahwa sekolah-sekolah tersebut tidak boleh kehilangan harapan. Justru di sanalah peran solidaritas dan kolaborasi menjadi sangat penting. “Kita mengajak sekolah-sekolah Kristen yang kondisinya baik untuk bersama-sama memberi harapan kepada sekolah-sekolah yang sedang berjuang,” ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti sekolah-sekolah Kristen di wilayah kantong-kantong pelayanan seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nias, yang menghadapi tantangan berat baik dari sisi ekonomi maupun akses sumber daya. “Mereka berjuang secara keuangan, tetapi di saat yang sama juga terus berupaya meningkatkan kualitas. Ini perjuangan yang tidak mudah,” kata Handi.
Menguatkan Guru dan Panggilan Pelayanan
Lebih jauh, Handi menekankan bahwa transformasi sekolah Kristen tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan dan penguatan panggilan para guru. Menurutnya, guru bukan sekadar tenaga pengajar, tetapi penjaga nilai dan pembentuk karakter generasi masa depan. “Upaya peningkatan kualitas harus berjalan seiring dengan kesejahteraan guru. Guru-guru perlu dikuatkan, baik secara ekonomi maupun dalam panggilan iman mereka,” tuturnya.
MPK Indonesia, lanjut Handi, berkomitmen untuk terus menjadi jembatan pengharapan—menghubungkan sekolah-sekolah Kristen yang kuat dengan mereka yang sedang berjuang, demi satu tujuan bersama: melahirkan generasi yang beriman, unggul, adaptif, dan berdampak bagi bangsa dan dunia. “Sekolah Kristen bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah ladang penanaman iman dan harapan bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Jakarta Jadi Titik Sentral Revival Worship
Di Jakarta, Revival Worship digelar di GKY Mangga Besar pada pukul 09.00–11.00 WIB, dihadiri sekitar 2.500 siswa dan guru dari berbagai sekolah Kristen di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Provinsi Banten.
Firman Tuhan disampaikan oleh Guru Injil (G.I) Andrey Thunggal (GKY). Dengan gaya komunikatif dan reflektif, Andrey mengajak generasi muda menilai ulang arah hidup di tengah dunia yang kian cepat, kompetitif, dan sarat ilusi keberhasilan instan.
Dalam kotbahnya, Andrey menyinggung jarak generasi antara siswa dan para pendidik. Ia menyadari bahwa banyak anak muda hadir dengan perasaan “tidak sepenuhnya relate” terhadap acara rohani, bahkan mungkin datang karena kewajiban. “Zaman sudah bergeser sangat jauh. Anak-anak hari ini bisa jadi jauh lebih high-tech dari guru-gurunya,” ujar Andrey jujur, disambut tawa peserta.
Namun di balik keunggulan teknologi generasi muda, Andrey menegaskan bahwa para pendidik dan orang-orang yang lebih dewasa memiliki sesuatu yang tak tergantikan: life tech—kebijaksanaan hidup yang ditempa oleh kegagalan, penyesalan, kejatuhan, dan proses panjang untuk bangkit kembali. “Kalian jago cari jawaban dengan AI. Tapi kami belajar menentukan jawaban mana yang sebaiknya dicoba, dan mana yang sebaiknya tidak,” katanya.
Puncak kotbah Andrey berakar pada firman Tuhan dari Yohanes 12:24, tentang biji gandum yang harus jatuh dan mati agar menghasilkan banyak buah. Ia menekankan bahwa ajaran Yesus justru berlawanan secara total dengan nilai dunia. “Yesus masuk Yerusalem bukan untuk membangun kerajaan politik, bukan untuk memenuhi ambisi pribadi, tapi untuk merendahkan diri dan menyerahkan nyawa-Nya,” jelasnya.
Menurut Andrey, jika Yesus mengikuti logika dunia, Ia akan memilih ditinggikan dan dielu-elukan. Namun Yesus konsisten dengan ajaran-Nya: hidup yang bermakna lahir dari pengorbanan, bukan dari ambisi egois.“Dunia mengajarkan makin tinggi makin hebat. Yesus mengajarkan makin tinggi, makin melayani,” katanya.
Keinginan yang Salah, Akar Krisis Mental
Andrey juga mengaitkan pesan Injil dengan realitas krisis kesehatan mental generasi muda. Ia menilai akar persoalan bukan semata tekanan eksternal, melainkan keinginan yang tidak tertata. “Masalah kita sederhana tapi berat: keinginan kita kebanyakan,” ujarnya.
Menurutnya, kekristenan tidak mengajarkan untuk mematikan keinginan, melainkan memurnikan keinginan—menggeser tujuan hidup dari kepentingan diri sendiri menjadi hidup yang berarti dan menjadi berkat bagi sesama. “Kalau hidupmu hanya untuk dirimu sendiri, kamu akan cepat kosong. Tapi kalau hidupmu untuk jadi berkat, kamu akan menemukan makna dan kebahagiaan yang sejati,” tegasnya.
Pendidikan Kristen dan Kerajaan Allah
Menutup kotbahnya, Andrey menegaskan bahwa semangat inilah yang menjadi fondasi pendidikan Kristen sejak awal sejarahnya. Ia mengingatkan bahwa universitas-universitas ternama dunia seperti Harvard, Cambridge, dan Oxford lahir dari kerinduan iman untuk membentuk manusia yang bertanggung jawab kepada Tuhan dan berguna bagi dunia.“Kerajaan Allah itu bukan konsep abstrak. Kerajaan Allah hadir ketika Tuhan memerintah melalui hidup orang-orang-Nya untuk menjadi berkat,” katanya.
Kehadiran Kakak beradik Jehian Sidjabat & Jerome Sidjabat dan Menginspirasi Generasi Z
Revival Worship Jakarta juga dihadiri tokoh muda inspiratif Jerome dan Jehian , yang dikenal luas di kalangan pelajar dan mahasiswa. YouTuber sekaligus selebritas muda inspiratif Jerome Polin membagikan kesaksian hidupnya di hadapan ribuan siswa sekolah Kristen.
Dengan gaya sederhana namun menyentuh, Jerome membuka kesaksiannya dengan sebuah jargon yang selama ini melekat dalam kotbah sang ayah, seorang pendeta, yakni Alm.Pdt.Marojahan Sidjabat. “Tuhan tidak kebetulan menciptakan saya. Tuhan punya urusan dengan saya—di sini dan sekarang,” ujar Jerome, disambut perhatian penuh para peserta.
Menurut Jerome, kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan mindset hidup yang terus ditanamkan dalam keluarganya. Ia menegaskan bahwa kasih Tuhan tidak pernah bersifat kebetulan, apalagi tanpa rencana.
“Kalau Tuhan kebetulan mencintai kita, hidup jadi tanpa arah. Tapi karena Tuhan merencanakan kasih-Nya, maka Ia punya maksud yang baik dan indah untuk setiap kita,” tuturnya.
Jerome juga mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Meski awalnya tidak menyukai matematika, tekad untuk meraih beasiswa ke luar negeri mendorongnya belajar dengan disiplin tinggi hingga berhasil di Olimpiade Matematika dan melanjutkan studi di Jepang. “Saya bersyukur dibentuk karakternya di sekolah Kristen sejak SD hingga SMP. Papa saya mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab: boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar firman Tuhan dan hukum,” ungkap Jerome, YouTuber edukasi dengan lebih dari 10 juta subscriber.
Sejalan dengan Visi Transformasi MPK
Ketua Panitia Nasional HSKI 2026 yang juga Ketua MPK Wilayah Jabodetabeken, Wiseno Benny Murtono, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan HSKI selaras dengan visi besar MPK Indonesia. “MPK ingin menjadi lembaga yang mempercepat transformasi sekolah Kristen agar menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, mampu memimpin, berdampak positif, dan berkarakter Kristiani,” kata Benny.
Digelar Serentak di 10 Kota, Revival Worship dihadiri 13.400 Siswa
Selain Jakarta, Revival Worship juga berlangsung di sembilan kota lainnya dengan ribuan peserta, yakni:
> Surabaya – GMS Cempaka, 1.000 siswa, dilayani Pdt. Hatta Halimas
> Kupang – Auditorium Harper Hotel & Convention, 1.000 siswa, Pdt. Ady W.F. Ndiy, S.Th., M.Th.
> Manado – Yayasan Eben Haezer, 1.200 siswa, Pdt. Calvin Bangun (MRII)
> Medan – GBI Rumah Persembahan, 1.000 siswa, Pdt. Bambang Jonan
> Bandung – Universitas Maranatha, 1.000 siswa, Ps. Andre Tjhin (IFGF)
> Palembang – Sport Hall Sekolah Palembang Harapan, 1.000 siswa, G.I. Richard Martin Tandingan
> Pematang Siantar – Chapel SLA/Universitas Surya Nusantara Advent, 1.200 siswa, Pdt. Brades Sijabat, M.A.
> Malang – STT SAAT, 1.500 siswa, Pdt. Hermanto, M.Th.
> Tana Toraja – SMA Kristen Rantepao, 2.500 siswa, Pdt. Dr. Alfred Y.R. Anggui, M.Th., Ketua Sinode Gereja Toraja
Meneguhkan Identitas, Menanam Masa Depan
Melalui HSKI dan Revival Worship 2026, MPK Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat identitas spiritual sekolah Kristen, mendorong kolaborasi lintas sekolah dan gereja, serta menjadi agen transformasi, khususnya bagi sekolah-sekolah di tier D dan E.
Dengan semboyan “Fructus in Altum”, MPK Indonesia mengajak seluruh komunitas pendidikan Kristen di Tanah Air untuk terus menanam, merawat, dan memanen buah iman, ilmu, dan kasih demi masa depan generasi Indonesia yang unggul dan berkarakter. SM
