Jakarta,VictoriousNews.com —Suasana Ibadah Raya Minggu di Gereja Pentakosta Kristus (Gepenkris) Jakarta, Jalan Bangau Buntu no 597, Senen Jakarta Pusat, Minggu (18/1/26) pukul 08.00 Wib, berlangsung khusyuk dan penuh kuasa. Di tengah banjir yang melanda kota Jakarta akibat hujan deras sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi, jemaat tetap berbondong-bondong hadir untuk beribadah di gereja.
Akses menuju gereja tidak mudah. Sejumlah ruas jalan tergenang, bahkan area sekitar gedung gereja dipenuhi air. Jemaat dan pelayan ibadah terpaksa membuka sepatu serta menggulung celana agar dapat melintasi genangan. Namun kondisi tersebut sama sekali tidak menyurutkan kerinduan umat untuk datang beribadah.
Firman Tuhan pada ibadah raya ini disampaikan oleh Advokat senior Jhon SE Panggabean, SH, MH, yang sejak tahun lalu dijadwalkan sebagai pengkhotbah tetap sebulan sekali di Gepenkris Jakarta. Khotbah yang disampaikannya terasa dalam, lugas, dan menggugah iman jemaat.
Sebelum khotbah, Clara Panggabean, putri Jhon yang juga berprofesi sebagai advokat dan penyanyi rohani, menyampaikan kesaksian pujian lewat lagu “Tuhan Adalah Kekuatanku”. Pujian tersebut mengantar jemaat masuk dalam suasana penyembahan yang penuh penghayatan.
Dalam khotbahnya, Jhon mengangkat tema “Tuhan Adalah Kekuatan dan Perisaiku”, terinspirasi dari Mazmur 28:7. Ia mengawali dengan menjelaskan makna kekuatan dari dua sisi: fisik dan mental. Secara fisik, kekuatan adalah kemampuan tubuh mengerahkan tenaga untuk mengatasi beban. Secara mental dan rohani, kekuatan adalah kemampuan bertahan dalam kesulitan, tidak menyerah, serta bangkit dari kegagalan.
Jhon menegaskan bahwa manusia tidak akan sanggup menghadapi pergumulan hidup hanya dengan kekuatan sendiri. “Seseorang bisa saja kuat secara fisik, tetapi rapuh secara mental, batiniah, dan rohani,” ujarnya. Karena itu, sumber kekuatan sejati harus berasal dari Tuhan.
Mengutip Yohanes 1:1, Jhon menekankan bahwa Firman adalah Allah, dan di situlah sumber kekuatan orang percaya. Ia juga mengingatkan janji Tuhan yang memberi kekuatan kepada yang lelah dan semangat kepada yang tiada berdaya, serta Mazmur 3:4 yang menyatakan Tuhan sebagai perisai dan kemuliaan umat-Nya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan jemaat bahwa setiap hari orang percaya menjadi sasaran serangan iman. Pergumulan hidup, kekhawatiran, dan ketakutan sering kali melemahkan. Mengacu pada Efesus 6, Jhon menegaskan bahwa perjuangan orang percaya bukan melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa kegelapan. Karena itu, perlawanan harus dilakukan dengan iman yang teguh dan berpegang pada Firman Tuhan.
Ia menutup khotbah dengan mengutip 2 Timotius 1:7, bahwa Allah tidak memberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. “Kuasa dan penyertaan Allah akan nyata dalam hidup kita ketika kita percaya bahwa Tuhan adalah kekuatan dan perisai,” tegasnya.
Menjelang doa penutup dan berkat, Gembala Sidang Gepenkris Jakarta, Pdt. Dr. Solider Siringoringo, menyampaikan rasa bangganya kepada jemaat. Ia menyoroti kehadiran jemaat yang tidak berkurang, bahkan lebih banyak dari biasanya, meski ibadah berlangsung di tengah situasi banjir. Hal tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata pertumbuhan iman dan kerinduan jemaat untuk datang ke hadirat Tuhan.
Hari itu, Gepenkris Jakarta tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan rumah rohani tempat iman dikuatkan dan pengharapan kembali diteguhkan—sebuah kesaksian bahwa banjir boleh menggenangi jalan, tetapi tidak pernah mampu menenggelamkan iman.***
