Jakarta, VictoriousNews.com – Ibadah Raya Minggu di GBI Maple Park, Jakarta Utara, menjadi momentum rohani yang sarat makna dan menggugah iman jemaat. Di tengah suasana ibadah yang khusyuk, pesan firman Tuhan yang disampaikan menghadirkan kekuatan baru bagi mereka yang tengah bergumul dengan keraguan.
Bertempat di Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik No.2 Sunter Agung (19/4/2026), ibadah yang digembalakan oleh Ps. Ferry Iskandar ini semakin dipertegas melalui kotbah Ps. Julius Parapat bertema “Menang atas Keragu-raguan”, yang diangkat dari Yohanes 20:24–29.
Dengan gaya lugas namun menyentuh, ia menegaskan satu hal: keraguan bukan untuk dipelihara, tetapi untuk dikalahkan.
Berangkat dari sosok Thomas—murid Tuhan Yesus yang dikenal karena keraguannya (tidak percaya)—Ps. Julius Parapat mengajak jemaat melihat realitas iman secara jujur.
Thomas menuntut bukti, bahkan ingin menyentuh luka Yesus setelah bangkit dari kematian. Namun justru melalui keraguan itu, lahir sebuah pengakuan iman terbesar: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Menurut Ps. Julius, jika Yesus disejajarkan dengan semua pemimpin agama, maka Yesus berdiri di atas semuanya—memiliki natur ilahi yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Kebangkitan-Nya bukan sekadar doktrin, tetapi kebenaran yang disaksikan banyak orang.
Melalui kotbahnya, Ps Julius memaparkan ada tiga Kebenaran dari Kisah Thomas.
Pertama, Keraguan Thomas adalah keraguan kita. Thomas tidak hadir saat Yesus pertama kali menampakkan diri. Ketidakhadirannya melahirkan keraguan—dan itu mencerminkan kondisi banyak orang hari ini.
Namun, Thomas justru menjadi “perwakilan” umat manusia untuk menyentuh luka (mencucukkan jari ke lambung) Yesus, sehingga generasi setelahnya tidak perlu ragu lagi.
Menguatkan hal ini, Agustinus dari Hippo pernah berkata: “Thomas telah ragu-ragu supaya kita tidak ragu-ragu lagi.”
Ps. Julius menegaskan, hidup memang tidak mudah. Tetapi hidup tanpa melibatkan Tuhan akan jauh lebih sulit. “Jangan mati sebelum tiba hari kematian kita,” ujarnya, mengingatkan agar jemaat tidak kehilangan harapan di tengah pergumulan.
Ia juga menyoroti tiga tugas utama gereja: Diakonia (melayani), Koinonia (bersekutu), dan Marturia (bersaksi)—sebagai wujud iman yang hidup, bukan sekadar teori.
Kedua, Pengakuan Thomas adalah pengakuan kita
Dalam Yohanes 20:28, Thomas akhirnya berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!”—sebuah deklarasi iman yang kini menjadi dasar pengakuan umat percaya.
Ps. Julius mencontohkan kehidupan Lydia dari Tiatira, seorang perempuan dari kota yang berarti “aroma penderitaan”. Namun Lydia tidak dikalahkan oleh latar belakangnya. Ia melibatkan Tuhan dalam hidupnya, dan justru menjadi pribadi yang diberkati serta dipakai Tuhan.
Pesannya jelas: latar belakang bukan penentu masa depan—imanlah yang menentukan arah hidup.
Ketiga, Tuhan mengasihi orang yang ragu
Alih-alih menolak Thomas, Yesus justru datang secara pribadi menjumpainya. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak menjauh dari orang yang ragu—Dia mendekat, menyentuh, dan memulihkan.
Kisah Thomas tidak berhenti pada keraguan. Ia bangkit menjadi pemberita Injil yang berani, bahkan hingga ke India. Di sana, ia mati sebagai martir—ditombak saat sedang berdoa—sebuah bukti bahwa iman sejati lahir dari pergumulan yang dimenangkan.
Dari Ragu Menjadi Percaya
Kotbah ini menegaskan bahwa setiap orang pernah berada di titik ragu—tentang hidup, kesembuhan, ekonomi, bahkan masa depan. Namun iman kepada Kristus memberi kepastian bahwa tidak ada situasi yang mustahil.
Pesan penutup Ps. Julius sederhana namun menghentak: Keraguan boleh datang, tetapi jangan sampai menetap. Karena di dalam Tuhan, selalu ada alasan untuk tetap percaya.
Di penghujung ibadah yang penuh hadirat Tuhan, suasana khidmat semakin terasa ketika gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar, menutup rangkaian ibadah dengan doa berkat. Dengan penuh keteduhan dan otoritas rohani, doa yang dinaikkan seakan menjadi peneguhan terakhir bagi jemaat—menguatkan hati, meneguhkan iman, dan mengutus setiap pribadi untuk melangkah dalam kemenangan atas segala keragu-raguan.SM
