Jakarta,VictoriousNews.com– Di tengah derasnya arus digitalisasi, perubahan demografi, dan persaingan dunia pendidikan yang semakin ketat, masa depan sekolah Kristen di Indonesia dinilai tengah berada di titik krusial. Jika gagal beradaptasi, sekolah Kristen berisiko kehilangan daya saing bahkan relevansinya dalam membentuk generasi masa depan.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Fructus In Attum: Transformasi Sekolah Kristen” yang digelar Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia dalam rangka HUT ke-76 MPK, Jumat (5/6/2026), di GKI Bungur, Jakarta Pusat.
Seminar ini menjadi wadah refleksi sekaligus forum strategis bagi pengelola sekolah Kristen, pimpinan gereja, yayasan pendidikan, dan para pendidik untuk mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi pendidikan Kristen saat ini.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sekum PGI Pdt. Dr. Darwin Darmawan, Pdt. Cordelia Gunawan, M.Th, Dewan Kehormatan MPK MayJend TNI (Purn.) Drs. Christian Zebua, M.M, Badan Pengawas MPK Ir David Tjandra, Ketum MPK Handi Irawan, MBA, M.Com, Sekum MPK Dr. Jopie Rory, SH, MH, Wakil Sekum MPK Wahidin Wardiman, ST, jajaran pengurus MPK, para guru, serta pimpinan yayasan kristen.
Alarm Masa Depan Sekolah Kristen
Dalam sesi utama, Ketua Umum MPK Handi Irawan mengangkat tema yang menggugah perhatian peserta, “Masa Depan Sekolah Kristen di 2030: Membaik atau Memburuk?”
Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan sebuah peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan Kristen.
Ia menyoroti berbagai tantangan besar yang sedang dihadapi sekolah Kristen, mulai dari revolusi teknologi, kemajuan kecerdasan buatan (AI), perubahan karakter generasi muda, hingga meningkatnya persaingan dengan sekolah negeri maupun sekolah swasta unggulan lainnya. “Ancaman terbesar bukan hanya berkurangnya jumlah siswa, tetapi hilangnya relevansi sekolah Kristen di tengah perubahan zaman,” ujar Handi.
Data yang dipaparkannya cukup memprihatinkan. Dari sekitar empat juta anak Kristen di Indonesia, kurang dari satu juta yang saat ini mengenyam pendidikan di sekolah Kristen.
Kondisi tersebut, menurut Handi, menjadi sinyal serius bahwa sekolah Kristen perlu melakukan pembaruan secara menyeluruh agar tetap menjadi pilihan masyarakat.
Ia juga menyoroti persoalan kualitas dan ketersediaan tenaga pendidik. Meski jumlah lulusan sekolah tinggi teologi terus bertambah, kebutuhan guru mata pelajaran yang kompeten masih belum terpenuhi secara optimal.
Karena itu, MPK mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada sekolah swasta Kristen, termasuk dalam aspek pembiayaan, pengembangan SDM, serta peningkatan mutu pendidikan. “Usia MPK genap 76 tahun bukan alasan untuk berpuas diri. Fokus kita harus pada kualitas, keberlanjutan, dan kemampuan menjawab tantangan masa depan,” tegasnya.
Belajar dari Kebangkitan Sekolah Toraja
Sesi berikutnya menghadirkan Ketua Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Pdt. Dr. Alfred Anggui yang membawakan materi “Strategi dan Roadmap Transformasi Sekolah YPKT Gereja Toraja.”
Berbeda dengan pendekatan teoritis, Alfred membagikan pengalaman nyata dalam membangkitkan sekolah-sekolah Kristen yang sempat mengalami penurunan kualitas, kekurangan murid, keterbatasan dana, hingga minim fasilitas.
Menurutnya, transformasi pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun gedung atau memperbaiki administrasi. Perubahan harus dimulai dari kepemimpinan yang kuat, budaya organisasi yang sehat, kualitas guru yang terus berkembang, serta visi pendidikan yang jelas. “Kunci perubahan ada pada manusianya. Ketika kepala sekolah dan guru memiliki visi serta keberanian untuk berubah, sekolah yang hampir mati pun bisa bangkit kembali,” kata Pdt. Alfred yang juga Ketua Umum Badan Pekerja Sinode (BPS) Greja Toraja.
Alfred menjelaskan bahwa sejumlah sekolah di bawah Gereja Toraja berhasil kembali diminati masyarakat setelah melakukan pembenahan manajemen, penguatan kompetensi guru, promosi sekolah secara kreatif, serta melibatkan alumni dan gereja dalam proses pengembangannya.
Ia menegaskan bahwa sekolah Kristen harus kembali pada panggilannya sebagai lembaga pembentuk karakter, integritas, dan kepemimpinan. “Kita harus berhenti mengeluh tentang keterbatasan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berubah, berkolaborasi, dan membangun budaya sekolah yang unggul,” ujarnya.
Pemerintah Dorong Sertifikasi Puluhan Ribu Guru
Sementara itu, Direktur Pendidikan Kristen Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Suwarsono, menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru melalui program sertifikasi.
Menurutnya, sepanjang 2025 Kementerian Agama telah melaksanakan sertifikasi bagi sekitar 10 ribu guru agama. Pemerintah juga menargetkan tambahan 16 ribu guru dan 10 ribu guru lainnya untuk mengikuti program serupa, bergantung pada kondisi fiskal nasional. “Jika kondisi keuangan negara memungkinkan, sekitar 26 ribu guru yang memenuhi syarat akan kami selesaikan proses sertifikasinya,” kata Suwarsono.
Ia mengapresiasi kolaborasi yang selama ini terjalin antara Ditjen Bimas Kristen dan MPK dalam pembinaan guru agama serta pengawas pendidikan Kristen.
Ke depan, pemerintah berharap sinergi tersebut semakin diperkuat agar kualitas sekolah Kristen, terutama yang berada di daerah-daerah terpencil, dapat terus meningkat. “Kami ingin sekolah Kristen semakin maju, sejajar dengan lembaga pendidikan lainnya, dan mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, serta siap menjadi pemimpin masa depan,” ujar Suwarsono.
Transformasi Tidak Bisa Ditunda
Seminar nasional ini menegaskan satu pesan penting: masa depan sekolah Kristen tidak ditentukan oleh sejarah panjang yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan untuk bertransformasi.
Di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, sekolah Kristen dituntut menghadirkan pendidikan yang unggul, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai Kristiani yang menjadi fondasinya.
Transformasi bukan lagi pilihan. Ia telah menjadi syarat utama agar sekolah Kristen tetap hidup, bertumbuh, dan memberi dampak bagi Indonesia di masa depan.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh peserta bersama-sama merayakan Hari Ulang Tahun ke-76 Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia dalam suasana penuh sukacita dan rasa syukur.
Momentum tersebut ditandai dengan prosesi peniupan lilin kue ulang tahun yang dilakukan oleh jajaran pimpinan dan pengurus MPK sebagai simbol perjalanan panjang pengabdian MPK bagi dunia pendidikan Kristen di Indonesia. SM
