Bursa Ketum PIKI Menghangat! Duet BMW-PS Resmi Deklarasi Bidik Kursi Ketua Umum & Sekjen  2026–2031

Jakarta,VictoriousNews.com — Menjelang Kongres VII Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) yang akan digelar pada 30 April–2 Mei 2026 di Jakarta, dinamika internal organisasi mulai menghangat.  Sejumlah nama mencuat dalam bursa calon Ketua Umum periode 2026–2031, menandai pertarungan gagasan yang diperkirakan tidak sekadar formalitas, melainkan perebutan arah masa depan intelektual Kristen di Indonesia.

Nama-nama yang beredar antara lain Badikenita Putri Sitepu, Audy Wuisan, Iwan Butarbutar, Benyamin Patondok, Michael Wattimena dan Penrad Siagian. Di antara kandidat tersebut, pasangan Dr.Michael Wattimena, SE. SH, MM & Pdt. Penrad Siagian, S.Th, M.Si Teol,  resmi mendeklarasikan diri sebagai calon Ketum -Sekjen PIKI Periode 2026-2031. Pasangan  ini mengusung akronim “BMW–PS for PIKI,  mulai menunjukkan konsolidasi serius dengan memaparkan visi, strategi, dan arah gerakan yang cukup terstruktur.

Pasangan BMW-PS deklarasikan calon Ketum & Sekjen Jelang Kongres PIKI VII di Student Center GMKI, Jalan Salemba 10, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/26).

Dalam konferensi pers di Student Center GMKI, Jalan Salemba 10, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2026), mantan anggota DPR RI,  Michael Wattimena,memaparkan visi dan misinya jika terpilih menjadi pucuk pimpinan PIKI.  “Situasi global saat ini  sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang berada dalam tekanan global—ekonomi, politik, hingga keamanan. Tapi di tengah turbulensi itu, Indonesia masih bisa bertahan. Ini momentum bagi intelegensia Kristen untuk tidak diam, tetapi hadir memberi kontribusi nyata,” ujar Michael Wattimena yang akrab disapa Bung Michael Wattimena (BMW) mengawali pemikirannya dalam deklarasi Pasangan Calon Ketum & Sekjen PIKI dengan tema “Bertanding Untuk Bersanding”.

BMW juga memberi apresiasi terhadap kepemimpinan nasional saat ini yang dinilainya mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Namun, ia menekankan bahwa apresiasi saja tidak cukup. PIKI, menurutnya, harus naik kelas dari sekadar organisasi simbolik menjadi “dapur pemikiran” yang konkret.

Dari Wacana ke Pengaruh Kebijakan

Pasangan BMW–PS mengusung visi “menyatakan kasih dan kebenaran” yang diterjemahkan dalam dua dimensi besar: keumatan dan kebangsaan. Pada level keumatan, mereka menekankan penguatan peran intelektual Kristen dalam merespons isu-isu kekinian. Sementara pada level kebangsaan, fokus diarahkan pada kontribusi nyata terhadap kebijakan publik, keadilan sosial, dan persatuan nasional. Yang menarik, pendekatan yang ditawarkan bukan program populis, melainkan kerja-kerja intelektual yang sistematis.

BMW  memaparkan rencana konkret untuk mengawal Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dengan menyusun kajian, diskusi, hingga naskah akademik mini yang bisa disalurkan langsung ke DPR maupun pemerintah.

“PIKI tidak boleh lagi sekadar bicara. Kita harus masuk ke ruang-ruang strategis dengan basis kajian yang kuat, memberi warna dalam setiap produk kebijakan,” tegasnya.

Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap kecenderungan organisasi yang lebih sibuk pada kegiatan seremonial dibanding produksi gagasan.

Empat Pilar: Intelektual hingga Jejaring

Untuk menopang visinya, BMW–PS merumuskan empat pilar utama: pengembangan intelektual, spiritualitas, transformasi sosial, dan jejaring. Pilar terakhir menjadi sorotan, mengingat Wattimena mencontohkan langsung bagaimana relasi strategis mampu membuka ruang aktualisasi di level nasional.

“Pengetahuan tanpa jejaring hanya akan berhenti di kepala. Kita ingin memastikan gagasan itu sampai ke meja pengambil keputusan,” kata BMW yang kini menjabat sebagai tenaga ahli Menteri  ESDM & Komisaris Pertamina Internasional.Shipping.

PIKI Harus Berbeda, Bukan Duplikasi

Sementara itu, calon Sekretaris Jenderal Pdt. Penrad Siagian, S.Th, M.Si, Teol, menegaskan bahwa PIKI tidak boleh terjebak menjadi “duplikasi” organisasi kepemudaan atau ormas Kristen lainnya. Penrad yang kini anggota DPD/MPR- RI  menyebut PIKI harus kembali ke “fitrahnya” sebagai rumah para intelektual dengan standar kepakaran yang jelas.

Menurutnya, ada kemunduran serius dalam kontribusi pemikiran Kristen terhadap arah kebijakan bangsa dalam beberapa dekade terakhir. Padahal, secara historis, peran tersebut pernah sangat dominan.

“Dulu, pemikiran-pemikiran Kristen ikut menentukan arah republik ini. Sekarang? Hampir tidak terdengar. Ini yang harus kita balikkan,” ujarnya lugas.

Penrad, yang memiliki pengalaman panjang di lembaga riset, gerakan oikumenis, hingga parlemen, menyoroti absennya ruang konsolidasi dan distribusi bagi intelektual Kristen. Banyak sumber daya unggul, katanya, tetapi tidak memiliki “rumah” untuk diorganisir dan disalurkan.

Mencuatnya pasangan BMW–PS dengan narasi “kembali ke fitrah intelektual” memberi warna baru dalam kontestasi kali ini.  BMW–PS mencoba masuk lebih dalam—menawarkan kerangka kerja yang terukur, meski masih harus diuji di lapangan. SM

Related posts