Dewan Pakar PIKI Pos M Hutabarat: PIKI Konsisten Dorong Swasembada dan SDM Berkualitas

Ki-ka: Firman Jayadaeli, Pos M Hutabarat, Badikenita Putri Sitepu, Pasti Tampubolon, Ketua Panitia Kongres Benyamin Patondok, dan Sekjen PIKI Audy Wuisang

Jakarta,VictoriousNews.com– Dewan Pakar PIKI, Dr. Pos M. Hutabarat, menegaskan bahwa isu yang diangkat dalam kongres sejalan dengan perjuangan panjang PIKI selama satu dekade terakhir. Menurutnya, PIKI telah sejak lama mendorong agenda swasembada pangan dan energi—yang kini mulai menunjukkan hasil. “PIKI sudah menyuarakan ini sejak lama. Swasembada pangan baru tercapai 2025, dan energi juga menjadi isu strategis global,” ujar Pos Hutabarat dalam konferensi Pers di Hotel Gran Melia, Setiabudi Jakarta Selatan, Selasa (28/4/26).

Ia juga menyoroti pentingnya mitigasi kebijakan energi di tengah dinamika global, termasuk dampak konflik internasional yang memengaruhi stabilitas energi dunia.

Soroti Kualitas Pendidikan dan Etika Intelektual

 

Selain isu makro, Pos Hutabarat menekankan pentingnya peningkatan kualitas intelektual Kristen melalui penguatan perguruan tinggi. Ia menyebut sejumlah kampus seperti Universitas HKBP Nommensen, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Kristen Petra, Universitas Kristen Maranatha, dan Universitas Kristen Satya Wacana sebagai pilar yang harus terus ditingkatkan kualitasnya. Menurutnya, akses pendidikan yang terjangkau menjadi kunci untuk melahirkan intelektual yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika.

Tegas Tolak Politik Uang, Dorong Pemimpin Berintegritas

Dalam konteks organisasi, Pos Hutabarat mengingatkan pentingnya menjaga integritas, terutama menjelang pemilihan kepemimpinan dalam kongres. Ia menegaskan bahwa PIKI tidak boleh terjebak dalam praktik money politic yang justru merusak nilai dasar organisasi intelektual. “Pemimpin PIKI harus punya tiga hal: hati, waktu, dan kapasitas/logistik. Tanpa itu, organisasi ini akan kehilangan arah,” tegasnya. Ia juga berharap pentingnya melahirkan politisi Kristen yang beretika dan bebas dari praktik korupsi.

Kongres VII Jadi Ujian Substansi, Bukan Sekadar Seremoni

Dengan seluruh rangkaian yang telah disiapkan, Kongres VII PIKI diharapkan tidak berhenti pada agenda formal, tetapi benar-benar menghasilkan arah strategis yang berdampak luas. Dari isu pangan hingga integritas kepemimpinan, forum ini menjadi ajang pembuktian apakah PIKI mampu tetap konsisten sebagai kekuatan intelektual yang relevan. “Kita tidak butuh banyak kata, tapi hasil nyata,” pungkas Pos Hutabarat.

Sementara itu, Dewan Penasihat PIKI, Pasti Tampubolon, secara terbuka mengakui adanya perubahan signifikan dalam kepemimpinan dan perkembangan organisasi sejak 2015 hingga saat ini. “Kalau dibandingkan dulu, sekarang sangat berbeda. Dulu membentuk DPD itu sulit sekali, sekarang bisa menjangkau sampai Papua. Itu kemajuan besar,” ujarnya.

BACA JUGA : Ketum DPP PIKI Dr. Badikenita Putri Sitepu Beberkan Capaian Program, Isu Kebangsaan Hingga Ancaman “Money Politic” Jelang Kongres

Pasti juga menyoroti keberhasilan PIKI memperluas struktur hingga ke berbagai wilayah, termasuk daerah yang selama ini dikenal sulit dijangkau secara organisasi. Menurutnya, pembentukan kepengurusan di wilayah seperti Papua hingga daerah dengan mayoritas non-Kristen bukan perkara mudah. “Di daerah seperti Sumatera Barat atau Banten, itu sangat sulit membangun organisasi. Tapi sekarang bisa dirangkul. Ini bukan hal sederhana,” tegasnya. Ia bahkan mengakui bahwa capaian 29 DPD—dengan 27 yang aktif—merupakan lompatan besar dibanding periode sebelumnya.

Realitas Organisasi: Semangat Saja Tidak Cukup

Di balik apresiasi tersebut, Pasti mengingatkan pentingnya bersikap realistis dalam memilih kepemimpinan ke depan. Ia menegaskan bahwa organisasi sebesar PIKI tidak bisa hanya mengandalkan semangat atau kemampuan intelektual semata. “Kita harus jujur, organisasi ini juga butuh dukungan sumber daya. Tidak cukup hanya semangat atau kemampuan, tetapi juga kesiapan lain, termasuk pembiayaan,” katanya lugas.

Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa kepemimpinan organisasi memerlukan kombinasi antara integritas, kapasitas, dan daya dukung yang memadai. Pasti juga menekankan pentingnya menjaga integritas dalam proses pemilihan kepemimpinan pada Kongres VII.

Ia berharap tidak ada manipulasi atau kepentingan sempit yang merusak arah organisasi. “Pilih pemimpin karena kemampuan dan integritasnya, bukan karena faktor lain. Ini penting untuk masa depan PIKI,” ujarnya.

Kongres Harus Berdampak, Bukan Sekadar Seremonial

Pandangan strategis juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia, Firman Jaya Daeli, yang menegaskan bahwa Kongres VII harus memiliki makna lebih luas. Menurutnya, kongres tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin, tetapi harus menghasilkan dampak nyata bagi kehidupan berbangsa. “Kongres ini harus ditempatkan dalam konteks besar. Bukan hanya untuk organisasi, tapi untuk masa depan bersama,” tegasnya.

Peran Media Jadi Pilar Strategis

Firman menekankan bahwa media memiliki posisi krusial dalam memperluas dampak pemikiran PIKI. Ia menyebut, dalam konteks geopolitik global saat ini, peran media tidak bisa dipisahkan dari pembangunan negara. “Tidak ada negara yang kuat tanpa peran media. Karena itu, gagasan PIKI harus sampai ke publik melalui media,” ujar mantan anggota DPR/MPR RI.

Firman juga menegaskan pentingnya PIKI menjaga diferensiasi sebagai organisasi intelektual, bukan sekadar organisasi keumatan biasa. PIKI, menurutnya, harus menjadi motor penguatan ideologi, nilai kebangsaan, dan peradaban dalam masyarakat yang majemuk. “PIKI harus hadir sebagai terang dan garam. Bukan hanya untuk komunitas Kristen, tetapi untuk seluruh bangsa,” katanya.

Firman juga  menekankan bahwa kualitas kepemimpinan akan menentukan arah organisasi ke depan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan harus berjalan dalam sistem yang kuat dan berkelanjutan. “Kader dan pemimpin itu penting, tapi harus ditopang sistem yang sehat. Kongres ini harus memikirkan masa depan jangka panjang,” pungkasnya. SM

Related posts