Rupiah Tertekan Dollar AS, John  Palinggi Minta Jokowi Turun Tangan Bantu Negara

Jakarta,VictoriousNews.com–Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS kembali memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan masyarakat. Di tengah tekanan global yang masih tinggi, berbagai pihak menilai diperlukan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pengusaha nasional Dr. John N. Palinggi, MM, MBA, menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dunia dan kebijakan moneter Amerika Serikat, tetapi juga dipengaruhi faktor domestik yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Menurut John, banyak kemajuan telah dicapai pemerintah, namun tetap diperlukan berbagai pembenahan untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap Indonesia. “Persoalan dolar dan stabilitas rupiah pada dasarnya menjadi wilayah tugas Bank Indonesia. Namun kita juga harus melihat faktor-faktor internal yang memengaruhi persepsi dunia terhadap bangsa ini,” ujar pengusaha pemilik  APEC Bussiness Travel Card, bebas Visa bepergian ke 18 negara Asia Pasifik.

Jangan Terjebak Pesimisme

John mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam pesimisme berlebihan. Ia menilai berbagai narasi yang menggambarkan Indonesia berada di ambang kehancuran merupakan pandangan yang terlalu berlebihan.

Sebagai pengusaha yang telah berkiprah selama lebih dari 45 tahun, John mengaku telah melewati berbagai periode krisis ekonomi nasional, mulai dari krisis 1998, gejolak ekonomi global 2008, hingga pandemi Covid-19.

“Saya sudah mengalami sembilan periode kepemimpinan presiden. Bangsa ini pernah menghadapi berbagai krisis besar, tetapi Indonesia tetap berdiri dan terus berjalan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan nasional dan menghindari saling mencela yang justru dapat memperburuk situasi.

“Di mana ada kedamaian, di situ rezeki mengalir. Kalau kita terus saling menghujat dan merendahkan bangsa sendiri, maka kepercayaan akan semakin sulit tumbuh,” tegasnya.

Belajar dari Krisis Masa Lalu

John mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi krisis yang jauh lebih berat pada 1998. Saat itu, menurutnya, persoalan bukan semata-mata akibat tekanan lembaga internasional, melainkan juga karena lemahnya tata kelola dan maraknya kredit bermasalah yang membebani sistem perbankan nasional.

Ia menilai berbagai pengalaman pahit tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Kita harus berani melakukan introspeksi. Jangan selalu menyalahkan faktor luar. Ada banyak persoalan internal yang juga harus dibenahi,” ujarnya.

Pengalaman Presiden ke-7 Jokowi Dinilai Bisa Membantu

Dalam pernyataannya, John secara khusus menyoroti pengalaman pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat menghadapi pandemi Covid-19.

Menurutnya, pada masa itu pemerintah berhasil melewati tekanan ekonomi yang sangat berat dan menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.

John meyakini pengalaman tersebut merupakan modal berharga yang dapat membantu pemerintah saat ini menghadapi tekanan terhadap rupiah.

“Saya melihat Pak Jokowi memiliki pengalaman yang sangat penting dalam mengelola krisis. Karena itu saya secara pribadi memohon agar beliau ikut membantu memberikan masukan dan pengalaman kepada negara. Saya yakin beliau bisa dan tahu persis dalam menekan dollar. Dan saya yakin jika beliau membantu, dolar akan bisa turun hingga 15 ribu,” katanya.

Meski menyampaikan harapan kepada Jokowi, John menegaskan dirinya tetap menghormati Prabowo Subianto sebagai presiden yang sah dan dipilih secara konstitusional.

Ia menilai seluruh elemen bangsa harus mendukung pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi yang ada. “Saya tetap setia dan menghormati Presiden Prabowo. Namun bangsa ini membutuhkan kebersamaan. Pengalaman para pemimpin terdahulu juga dapat menjadi aset nasional yang sangat berharga,” ujarnya.

Menurut John, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian menuntut seluruh kekuatan bangsa untuk bekerja sama, termasuk memanfaatkan pengalaman para mantan pemimpin nasional.

Negara Tidak Boleh “Karam” Karena Perbedaan

Menutup pernyataannya, John kembali mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan persatuan dibandingkan pertentangan politik.

Ia menegaskan bahwa Indonesia terlalu besar untuk dikorbankan hanya karena perbedaan pandangan. “Negara ini tidak boleh karam hanya karena kita berbeda pendapat. Yang dibutuhkan saat ini adalah kebersamaan, pengalaman, dan keberanian mengambil langkah-langkah strategis demi menjaga stabilitas ekonomi dan masa depan bangsa,” pungkasnya. SM

Related posts