BAMAGNAS DKI Jakarta Gelar Rakerwil, Stafsus Menag Gugun Gumilar Ajak Perangi Intoleransi dan Perkuat Kerukunan

Berita, Nasional279 Views

Jakarta,VictoriousNews.com– Menghadapi berbagai tantangan sosial, perlambatan ekonomi, serta percepatan transformasi digital, BAMAGNAS DKI Jakarta mempertegas komitmennya menjadikan gereja sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan ibu kota.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW BAMAGNAS DKI Jakarta yang mengusung tema “Bersinergi Membangun Kota Kita” (Yeremia 29:7) dengan subtema “Menjadi Garam dan Terang di Tengah Era Digitalisasi” (Matius 5:13-14).
Lebih dari sekadar agenda organisasi, Rakerwil menjadi momentum konsolidasi sekaligus ruang lahirnya berbagai gagasan strategis agar gereja semakin relevan dalam menjawab tantangan zaman. Melalui kolaborasi antara pemimpin gereja, pemerintah, akademisi, dan tokoh masyarakat, BAMAGNAS ingin memperkuat kontribusi gereja dalam membangun Jakarta yang inklusif, harmonis, berkeadaban, dan sejahtera.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, antara lain Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Loto Srinaita Ginting, Staf Khusus Menteri Agama RI Dr. H. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D., Ketua Umum DPP BAMAGNAS Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Ketua DPW BAMAGNAS DKI Jakarta Pdt. Elider Tampubolon, MM., M.Th., Pembimas Kristen DKI Jakarta Henden Harapan Nainggolan, M.Th , Sekjen Baamagnas Dr. Hence Bulu serta Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) Dr. Ade Armando yang memandu sesi talkshow.

Ketum BAMAGNAS: Talenta Harus Menjadi Berkat, Gereja Jangan Mudah Terombang-ambing di Era Digital

Dalam ibadah pembukaan Rakerwil, Ketua Umum DPP BAMAGNAS, Pdt. Dr. Japarlin Marbun, mengajak seluruh jajaran BAMAGNAS menjadikan organisasi tersebut sebagai kekuatan nyata dalam melayani masyarakat, bukan sekadar wadah berkumpulnya para pemimpin gereja.
Menurutnya, keberadaan BAMAGNAS harus mampu menghadirkan dampak yang dirasakan masyarakat melalui berbagai aksi nyata, terutama dalam menjawab persoalan sosial yang semakin kompleks.
“Harapan saya, setelah Rakerwil ini kita melahirkan langkah-langkah strategis sehingga BAMAGNAS benar-benar menjadi berkat bagi bangsa dan negara Indonesia,” tegasnya.
Sebagai contoh, Pdt. Japarlin mengisahkan pengalamannya saat memimpin Sinode GBI. Ketika itu, Tanggap Darurat Rajawali menerima penghargaan dari Kementerian Sosial karena menjadi salah satu organisasi yang paling cepat hadir membantu korban bencana alam maupun kebakaran. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa gereja harus hadir melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Ki-ka: Ketum Bamagnas Pdt. Japarlin Marbun, Stafsus Menag Gugun Gumilar, Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting, Ketua DPW Bamagnas DKI Jakarta Pdt. Elider Tampubolon, Ade Armando, Pdt. Imanuel Pangaibali, Pembimas Kristen DKI Jakarta Henden Harapan Nainggolan & Pdt. Jhon Tobing

Ia juga mendorong agar setiap pelayanan sosial yang dilakukan BAMAGNAS dipublikasikan secara positif melalui media digital. Tujuannya bukan untuk mencari popularitas, melainkan agar masyarakat mengetahui bahwa gereja benar-benar hadir, peduli, dan bekerja bagi sesama.
“Biarkan masyarakat melihat bahwa BAMAGNAS bukan hanya tempat berkumpul, tetapi organisasi yang bekerja nyata dan peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Dalam khotbah yang mengangkat Efesus 4:11-15, Pdt. Japarlin mengingatkan bahwa setiap talenta, kemampuan, dan karunia yang dimiliki orang percaya merupakan anugerah Tuhan yang harus dipergunakan untuk membangun tubuh Kristus serta memperlengkapi umat menuju kedewasaan iman.
Ia menilai pesan tersebut semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital yang dipenuhi hoaks, manipulasi, dan berbagai bentuk provokasi yang berpotensi menyesatkan masyarakat.
“Di era digital sekarang ini, orang sangat mudah dipengaruhi oleh informasi yang dipelintir. Karena itu umat Tuhan harus memiliki pemahaman yang benar, tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran maupun provokasi yang menyesatkan,” katanya.
Karena itu, ia berharap BAMAGNAS DKI Jakarta menjadi motor penggerak dalam membangun kedewasaan berpikir, memperkuat persatuan, serta menanamkan nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat. Gereja, lanjutnya, tidak hanya dipanggil memperkuat kehidupan rohani umat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Mari kita berdiri teguh dalam kebenaran dan terus bertumbuh di dalam kasih. Dengan cara itulah BAMAGNAS akan menjadi berkat bagi masyarakat, bangsa, dan negara, serta memuliakan nama Tuhan,” pungkas Pdt. Japarlin Marbun.

Sinergi Menjadi Kunci Mewujudkan Jakarta yang Aman, Damai, dan Sejahtera
Semangat pelayanan yang disampaikan Ketua Umum BAMAGNAS kemudian diterjemahkan dalam arah kebijakan organisasi oleh Ketua DPW BAMAGNAS DKI Jakarta, Pdt. Elider Tampubolon, MM., M.Th.


Ia menegaskan bahwa tema “Bersinergi Membangun Kota Kita” bukan sekadar slogan Rakerwil, melainkan panggilan bagi umat Kristen untuk mengambil bagian secara aktif dalam membangun Jakarta bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, Rapat Kerja Wilayah tidak hanya menjadi forum evaluasi organisasi, tetapi juga momentum merumuskan langkah-langkah strategis agar pelayanan BAMAGNAS semakin memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Di dalam Rakerwil ini kami membahas laporan kerja, mengevaluasi program-program yang telah berjalan, sekaligus menyusun agenda kerja ke depan agar semakin berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Pdt. Elider menjelaskan bahwa tema tersebut berakar pada firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 yang mengajarkan setiap orang percaya untuk mengusahakan kesejahteraan kota tempat mereka tinggal. Karena itu, membangun Jakarta yang aman, damai, dan sejahtera tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Ini adalah tugas orang-orang percaya. Kota tempat kita tinggal harus menjadi kota yang sejahtera. Tetapi kesejahteraan itu tidak bisa diwujudkan hanya oleh pemerintah. Harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan, termasuk BAMAGNAS,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang harus disikapi secara bijaksana. Gereja, katanya, tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus hadir membawa nilai-nilai kebenaran, kedamaian, dan persatuan agar ruang digital tidak dipenuhi hoaks maupun ujaran kebencian.
“Teknologi informasi memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk pola pikir masyarakat. Karena itu kita harus bersinergi menjadi garam dan terang, sehingga kota tempat kita berada benar-benar menjadi kota yang aman, tenteram, dan damai,” katanya.
Rakerwil DPW BAMAGNAS DKI Jakarta diikuti sekitar 210 peserta yang terdiri atas pengurus DPW, DPD BAMAGNAS dari lima wilayah Jakarta, serta berbagai organisasi kemasyarakatan Kristen. Kehadiran lintas organisasi tersebut menjadi cerminan semangat kolaborasi yang terus dibangun BAMAGNAS.
Menatap peringatan 500 tahun Kota Jakarta, BAMAGNAS DKI Jakarta juga menyiapkan berbagai program strategis, salah satunya penguatan nilai-nilai Bela Negara bagi generasi muda. Menurut Pdt. Elider, Bela Negara bukanlah pendidikan militer, melainkan upaya menanamkan kecintaan kepada tanah air, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan budaya Indonesia sejak dini.
Ia berharap sinergi antara gereja, pemerintah, dan seluruh komponen masyarakat mampu mewujudkan Jakarta yang tidak hanya maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga kuat dalam karakter, persatuan, dan nilai-nilai kebangsaan.

Pemprov DKI Jakarta: Organisasi Keagamaan Memiliki Peran Strategis Menjaga Harmoni Kota

Melalui sambutan Gubernur DKI Jakarta yang dibacakan oleh perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta, M. Jajuli, pemerintah menegaskan pentingnya kolaborasi dengan organisasi keagamaan dalam menjaga persatuan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.


Mengawali sambutannya, M. Jajuli menyampaikan salam hormat dari Gubernur DKI Jakarta dan Kepala Badan Kesbangpol yang berhalangan hadir karena menjalankan tugas pemerintahan.
Ia mengatakan, memasuki usia ke-499 tahun, Jakarta telah berkembang menjadi kota metropolitan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang agama, suku, budaya, dan tradisi yang sangat beragam. Keberagaman tersebut, menurutnya, merupakan modal sosial yang harus terus dijaga untuk mendukung pembangunan ibu kota.
“Pembangunan tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas kehidupan masyarakat yang harmonis, toleran, dan saling menghormati. Di sinilah sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, organisasi keagamaan seperti BAMAGNAS memiliki posisi strategis dalam memperkuat kohesi sosial, menjaga persatuan, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang damai, inklusif, dan berdaya saing.
Ia juga mengungkapkan bahwa DKI Jakarta berhasil meraih penghargaan Indeks Harmoni Indonesia dari Kementerian Agama dan Kementerian Dalam Negeri. Prestasi tersebut diharapkan dapat terus dipertahankan sehingga Jakarta tetap menjadi barometer kerukunan nasional.
“Ketika Jakarta mampu mempertahankan tingkat kerukunan yang tinggi, maka ibu kota akan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia,” katanya.

Selain memperkuat harmoni sosial, Pemprov DKI Jakarta juga mengajak BAMAGNAS untuk terus mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi umat, mendorong lahirnya wirausaha baru, serta membina generasi muda yang berintegritas, berjiwa nasionalis, dan memiliki kepedulian sosial.
Menurut M. Jajuli, tantangan perkotaan saat ini semakin kompleks, mulai dari kemiskinan, pengangguran, penyalahgunaan narkotika, intoleransi, hingga dampak negatif perkembangan teknologi digital. Karena itu, penyelesaiannya tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh komponen masyarakat mendukung implementasi Peraturan Daerah tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
“Tantangan narkotika sangat nyata dan sudah menyentuh lingkungan tempat tinggal kita. Karena itu, mari bersama-sama menjaga keluarga, lingkungan, dan masyarakat agar terbebas dari penyalahgunaan narkoba,” pesannya.
Menutup sambutannya, M. Jajuli menyampaikan apresiasi atas kontribusi BAMAGNAS dalam memperkuat persatuan, menjaga moderasi beragama, serta menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Mari kita rawat persaudaraan dan persatuan. Jakarta yang harmonis akan menjadi kebanggaan negeri,” tutupnya.

Kementerian UMKM: Gereja Memiliki Peran Besar Mendorong Pelaku Usaha Mikro Naik Kelas
Selain menyoroti pentingnya harmoni sosial, Rakerwil BAMAGNAS juga membahas penguatan ekonomi umat sebagai salah satu fondasi pembangunan bangsa. Dalam sesi talkshow yang dipandu Dr. Ade Armando, Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Loto Srinaita Ginting, mengajak gereja mengambil peran lebih besar dalam mendampingi pelaku usaha mikro agar mampu berkembang dan naik kelas.
Menurut Loto, sektor UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Berbagai krisis ekonomi, termasuk pandemi Covid-19, membuktikan bahwa pelaku UMKM memiliki daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi.
“UMKM adalah pahlawan ekonomi Indonesia. Mereka paling lincah beradaptasi dalam menghadapi berbagai krisis dan tetap mampu bertahan,” ujarnya.
Untuk memperluas layanan kepada jutaan pelaku usaha di seluruh Indonesia, Kementerian UMKM menghadirkan platform digital Sapa UMKM sebagai pusat layanan terpadu. Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat mengakses informasi mengenai legalitas usaha, pembinaan, pelatihan, pembiayaan, hingga pemasaran dalam satu sistem yang terintegrasi.
Selain mempermudah akses layanan, platform tersebut juga akan menjadi basis data nasional yang membantu pemerintah menyusun kebijakan pemberdayaan UMKM secara lebih akurat dan tepat sasaran.
“Kami ingin pelaku UMKM fokus mengembangkan usahanya, bukan menghabiskan waktu mencari informasi ke berbagai kementerian atau lembaga. Semua layanan akan terintegrasi melalui Sapa UMKM,” jelasnya.
Loto mengungkapkan, sekitar 99 persen UMKM di Indonesia masih berada pada kategori usaha mikro. Karena itu, pemerintah terus mendorong para pelaku usaha agar mampu berkembang menjadi usaha kecil, menengah, hingga perusahaan besar.
Ia menegaskan, salah satu langkah paling mendasar adalah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan legalitas tersebut, pelaku usaha akan lebih mudah memperoleh akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), sertifikasi halal, pelatihan, hingga berbagai program pemberdayaan pemerintah.
“Kalau memiliki legalitas usaha, akses terhadap pembiayaan, pelatihan, dan berbagai fasilitas pemerintah akan jauh lebih mudah,” katanya.
Ia juga mengajak gereja menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendampingi UMKM, khususnya di lingkungan jemaat. Menurutnya, gereja memiliki jaringan yang luas dan dekat dengan masyarakat sehingga berpotensi besar mempercepat lahirnya pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian BAMAGNAS. Gereja bisa menjadi penggerak agar UMKM jemaat berkembang, memiliki legalitas, meningkatkan kapasitas usaha, dan akhirnya mampu naik kelas,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian UMKM, terdapat sekitar 1,3 juta UMKM di DKI Jakarta, dengan sekitar 99,7 persen masih berada pada kategori usaha mikro. Namun, baru sekitar 2,5 persen yang telah memiliki legalitas usaha, sementara pelaku usaha yang memiliki pencatatan keuangan bahkan belum mencapai 2 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menciptakan pelaku usaha baru, melainkan memastikan mereka memperoleh pendampingan yang berkelanjutan agar mampu tumbuh secara sehat dan berdaya saing.


Menutup sesi tersebut, Dr. Ade Armando menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM hanya dapat berhasil melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, organisasi keagamaan, dan masyarakat.
“Kalau kita ingin Indonesia maju, semua harus bekerja sama. Pemerintah, gereja, dunia usaha, dan masyarakat harus bergandengan tangan agar UMKM benar-benar menjadi kekuatan ekonomi bangsa,” pungkasnya.

Staf Khusus Menteri Agama: Kerukunan Harus Dihadirkan Melalui Aksi Nyata
Menutup rangkaian talkshow, Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D., mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan kerukunan sebagai gerakan nyata yang diwujudkan melalui tindakan, bukan sekadar menjadi tema diskusi di ruang-ruang seminar.
Masih dipandu Dr. Ade Armando, Gugun menegaskan bahwa Kementerian Agama berkomitmen mendorong penegakan hukum terhadap setiap tindakan intoleransi yang mengganggu kebebasan beragama. Ia menyinggung penanganan kasus pembubaran kegiatan ibadah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kini tengah diproses aparat penegak hukum.
“Kami berharap penanganan kasus di Yogyakarta menjadi preseden yang baik. Setiap tindakan intoleransi harus diproses secara tegas agar tidak terus terulang di daerah lain,” ujarnya.
Selain menyoroti persoalan intoleransi, Gugun mengungkapkan bahwa Kementerian Agama terus melakukan pembenahan internal, termasuk di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dan Katolik. Berbagai masukan dari aras gereja, menurutnya, menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah kepada umat.
Ia menegaskan bahwa tugas Kementerian Agama tidak boleh berhenti pada urusan administratif, tetapi harus hadir melalui advokasi, dialog, serta penyelesaian persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Kita harus lebih banyak melakukan advokasi, membangun dialog, dan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat. Kerukunan tidak cukup dibangun melalui seminar di hotel, tetapi harus diwujudkan melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat,” tegasnya.


Menurut Gugun, tantangan menjaga kerukunan semakin kompleks seiring perkembangan media digital yang begitu cepat. Karena itu, pendekatan kepada generasi muda harus dilakukan dengan cara yang lebih relevan, terbuka, dan membumi agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang memecah belah persatuan.
Ia juga mengingatkan bahwa dinamika organisasi maupun perbedaan kepentingan dapat terjadi di setiap komunitas keagamaan. Karena itu, seluruh pemimpin agama dituntut mengedepankan kedewasaan, dialog, dan semangat persaudaraan dalam menyelesaikan setiap persoalan.
“Kedewasaan beragama harus dimulai dari diri kita sendiri. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Semua unsur masyarakat dan tokoh agama harus ikut menjaga persatuan bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gugun juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat koordinasi dan pelayanan kepada gereja serta organisasi keagamaan selama berjalan sesuai ketentuan hukum dan menjunjung tinggi prinsip pemerintahan yang bersih.
Menutup paparannya, ia mengajak seluruh elemen bangsa terus memperkuat semangat persaudaraan sebagai fondasi menjaga Indonesia tetap damai, rukun, dan bersatu.
“Kita boleh berbeda cara beribadah, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga Indonesia tetap damai. Mari bergandengan tangan membangun kerukunan dan menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Rakerwil DPW BAMAGNAS DKI Jakarta akhirnya tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja organisasi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan gereja, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan langkah-langkah nyata menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan digitalisasi. Melalui sinergi lintas sektor tersebut, BAMAGNAS berharap dapat terus berkontribusi membangun Jakarta yang harmonis, maju, sejahtera, serta menjadi teladan persatuan bagi Indonesia. SM