Jakarta,VictoriousNews.com– Perayaan Hari Pentakosta bukan sekadar tradisi gerejawi tahunan, melainkan momentum penting yang mengingatkan umat percaya akan pencurahan Roh Kudus sebagai Penolong Setia. Hal itu ditegaskan advokat senior Jhon Panggabean,SH.,MH saat menyampaikan khotbah di Gereja Pentakosta Kristus Jakarta (GEPENKRIS Jakarta), Jalan Bangau Buntu No. 597 Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2026).
Mengusung tema “Roh Kudus Penolong Setia” berdasarkan Yohanes 14:16-17, Jhon menekankan bahwa Hari Pentakosta merupakan peristiwa besar ketika Roh Kudus dicurahkan kepada para murid Tuhan Yesus, 50 hari setelah kebangkitan Kristus dan 10 hari sesudah kenaikan-Nya ke Surga.
Menurutnya, Roh Kudus bukan sekadar simbol rohani, tetapi pribadi Allah yang nyata bekerja dalam kehidupan orang percaya setiap hari. “Roh Kudus adalah Penghibur, Penolong, dan pembimbing hidup. Dia hadir di mana pun (Omni present), kapan pun, dan mengetahui pergumulan setiap orang,” ujar Jhon di hadapan jemaat.
Ia menjelaskan, setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, Roh Kudus diberikan kepada umat percaya agar mereka memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi dunia yang penuh tantangan, tekanan, dan pencobaan.
Dalam khotbahnya, Jhon juga mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya saat ini sedang berada di tengah peperangan rohani. Karena itu, manusia tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, melainkan harus hidup dipimpin Roh Kudus melalui doa, pembacaan Firman Tuhan, dan kehidupan yang kudus. “Kalau hubungan kita dengan Tuhan renggang, iman menjadi lemah. Tetapi Roh Kudus selalu menguatkan dan memberi jalan keluar bagi orang yang tetap berharap kepada Tuhan,” tegasnya.
Jhon turut menyoroti pentingnya menjaga kehidupan rohani agar tidak mendukakan Roh Kudus. Ia mengutip Efesus 4:30 yang berbunyi: “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah.”
Menurutnya, banyak orang Kristen memahami tentang Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, tetapi kurang memberi perhatian terhadap peranan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Roh Kudus adalah pribadi yang terus menyertai, menghibur, menegur, bahkan memimpin umat percaya kepada kebenaran.
Secara khusus, Jhon menegaskan bahwa Alkitab memberikan peringatan keras mengenai dosa menghujat Roh Kudus.
“Dosa menghujat Roh Kudus adalah dosa yang tidak diampuni. Ini menunjukkan betapa penting dan kudusnya pribadi Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya,” ujarnya serius.
Karena itu, ia mengajak jemaat untuk tidak hidup sembarangan, tidak terus-menerus melawan teguran Roh Kudus, serta tidak mengeraskan hati terhadap pekerjaan Tuhan.
Selain berbicara mengenai kehidupan rohani, Jhon juga membagikan kesaksian pribadi tentang pertolongan Tuhan dalam berbagai pergumulan hidup, termasuk saat menghadapi sakit penyakit dan tekanan hidup. Ia mengaku, kekuatan untuk tetap setia berasal dari penyertaan Roh Kudus. “Yang Tuhan cari bukan manusia sempurna, tetapi hati yang tetap setia. Roh Kudus akan menolong setiap orang yang bersandar kepada Tuhan,” kata Advokat yang kerap dipanggil “Bapak Pendeta” ketika melayani mimbar di berbagai denominasi gereja.
Di akhir khotbah, Jhon mengajak jemaat untuk menjadikan Hari Pentakosta sebagai momentum memperbarui iman, hidup dalam kekudusan, serta terus membangun hubungan intim dengan Tuhan. “Biarlah roh kita terus menyala-nyala dan melayani Tuhan. Jangan sampai kita mendukakan Roh Kudus. Mari hidup dipimpin Roh Kudus setiap hari,” pungkasnya.
Sebelum pemberitaan Firman Tuhan, ibadah juga diwarnai dengan kesaksian pujian yang menyentuh hati jemaat.
Salah satu momen yang menarik perhatian jemaat adalah penampilan keluarga muda yang mengucap syukur atas ulang tahun putri mereka, Eli Sheva, yang genap berusia tiga tahun pada 23 Mei lalu.
Dengan penuh sukacita, kedua orang tua Sheva mengajak putri mereka menyanyikan lagu rohani anak berjudul “Hati-hati Gunakan Tanganmu.” Suasana ibadah semakin hidup ketika sang adik, Sara, turut menari bagi Tuhan mengikuti lagu yang dibawakan sang kakak.
Kesederhanaan namun penuh ketulusan dari keluarga tersebut membuat jemaat tampak terharu sekaligus bersukacita. Lagu yang dibawakan menjadi pengingat bahwa sejak usia dini, anak-anak perlu diajar hidup takut akan Tuhan dan menjaga perkataan maupun perbuatannya di hadapan Tuhan.
Tidak hanya mempersembahkan pujian, keluarga Sheva juga membagikan bingkisan kue kepada seluruh jemaat yang hadir sebagai bentuk ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam keluarga mereka.
Sementara itu, kesaksian pujian kedua dipersembahkan keluarga Gepenkris Permata Hijau melalui lagu berjudul “Partondion.” Lagu bernuansa rohani Batak tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan.
Lirik lagu itu mengisahkan perjalanan seseorang yang pernah jauh dari Tuhan, hidup dalam kesesatan, namun akhirnya kembali bertobat dan mengakui Tuhan sebagai Raja serta Penebus hidupnya.
Pesan pertobatan dalam lagu tersebut dinilai selaras dengan makna Hari Pentakosta, yakni momentum pembaruan hidup melalui pekerjaan Roh Kudus yang memulihkan dan membawa manusia kembali kepada Tuhan.
Di penghujung ibadah, Pdt. Dr. Solider Siringoringo selaku gembala sidang memimpin doa syafaat bagi jemaat dan keluarga-keluarga yang sedang menghadapi pergumulan.
Dalam doanya, Pdt. Solider secara khusus turut mendoakan jemaat yang berhalangan hadir karena sakit, termasuk keluarga Bapak Tulus Hutapea yang tidak dapat mengikuti ibadah lantaran sang istri sedang dalam kondisi kurang sehat.
Ibadah Hari Pentakosta tersebut pun ditutup dalam suasana penuh kehangatan, pengharapan, dan penyegaran rohani. Jemaat diingatkan kembali bahwa Roh Kudus bukan hanya hadir dalam perayaan gereja, melainkan terus bekerja menghibur, menguatkan, dan menuntun setiap orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. SM
