Kuliah Mulai 3 Jutaan, Asrama Tersedia: Universitas Tarakanita Buka Peluang Mahasiswa Siap Kerja

JAKARTA,VictoriousNews.com–Di tengah hiruk-pikuk kawasan perkotaan Jakarta Timur, berdiri sebuah kampus yang menghadirkan nuansa berbeda—tenang, hijau, dan menyejukkan mata. Pepohonan rindang yang berjajar rapi, taman bunga yang tertata indah, serta lingkungan yang asri menjadi pemandangan pertama yang menyambut siapa pun yang memasuki kawasan Universitas Tarakanita.

Rektor Universitas Tarakanita Dr.Antonius Singgih Setiawan seusai diwawancara di ruang perpustakaan kampus UTarki, Selasa, (10/3/26).

Kampus yang berlokasi di Komplek Billy Moon, Jalan Pondok Kelapa Barat No. 1, Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur  ini tidak hanya menawarkan suasana belajar yang nyaman, tetapi juga mencerminkan semangat baru dunia pendidikan tinggi yang terus bertumbuh dan bertransformasi.

Dibangun di atas lahan seluas lebih dari 1 hektar, Universitas Tarakanita kini hadir sebagai institusi pendidikan tinggi yang membawa wajah baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter generasi muda.

Rektor Universitas Tarakanita, Dr. Anton Singgih Setiawan, S.E., M.Si.,AK.,ACPA, menjelaskan, perjalanan lembaga pendidikan ini memiliki sejarah panjang. Cikal bakalnya bermula pada tahun 1968 ketika Kongregasi Suster-Suster Carolus Borromeus mendirikan lembaga pendidikan kejuruan yang berfokus pada pendidikan sekretaris bagi perempuan. Pada masa itu, pendidikan tersebut lahir dari kepedulian besar terhadap pemberdayaan perempuan agar mampu berperan aktif di dunia kerja dan bisnis.

Seiring perkembangan zaman, lembaga ini terus berkembang dan bertransfiormasi dari lembaga pendidikan kejuruan menjadi akademi, kemudian meningkat statusnya menjadi STARKI yang membuka program pendidikan sarjana di bidang komunikasi. Transformasi tersebut mencerminkan komitmen kuat untuk menjawab kebutuhan zaman sekaligus memperluas kontribusi dalam dunia pendidikan tinggi.

Tonggak sejarah baru akhirnya tercapai pada September 2025 ketika institusi ini resmi memperoleh izin menjadi Universitas Tarakanita. Perubahan status ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga penegasan visi untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih luas, inklusif, dan relevan dengan tantangan masa depan.

“Awalnya lembaga ini berdiri sebagai LPK sekretaris. Tujuannya jelas, agar perempuan memiliki karya, nilai, dan peran dalam dunia profesional. Ketika hanya menjadi akademi dengan program diploma, tentu ada keterbatasan dalam pengembangan akademik. Karena itu muncul inisiatif untuk meningkatkannya menjadi sekolah tinggi agar dapat menyelenggarakan pendidikan sarjana,” jelas Antonius Singgih.

Antonius mempertegas bahwa dalam sejarah awalnya, kampus ini memang didirikan khusus untuk pendidikan perempuan. Namun perkembangan zaman mendorong perubahan menuju sistem pendidikan yang lebih terbuka.

Ketika masih berstatus sekolah tinggi, kampus ini mulai menerima mahasiswa pria. Langkah tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan harus inklusif dan terbuka bagi siapa saja.

“Perempuan kini sudah mengalami kemajuan besar dibanding masa awal berdirinya lembaga ini. Karena itu pendidikan harus lebih luas dan terbuka,” ujarnya.

Menjaga Tradisi Lulusan Siap Kerja

Sejak masih berstatus sekolah kejuruan, lembaga ini dikenal memiliki tradisi kuat: banyak mahasiswa sudah terserap dunia kerja bahkan sebelum lulus.

Menurut Antonius, tradisi itu harus tetap dijaga bahkan ditingkatkan di era universitas.

Rektor UTarki Dr. Antonius Singgih Setiawan (tengah) berpose bersama dengan para dosen pengajar.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis, mulai dari regulator pendidikan hingga dunia usaha dan industri. “Kami membangun hubungan yang baik dengan regulator, tetapi juga sangat fokus pada kemitraan dengan industri dan dunia usaha yang nantinya akan menyerap lulusan kami,” jelasnya.

Selain itu, kampus juga terus meninjau dan memperbarui kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. “Kurikulum harus adaptif. Harus mengikuti perkembangan zaman agar lulusan tetap relevan dan kompetitif,” tambahnya.

Tantangan Dunia Pendidikan Tinggi

Antoinus  mengakui bahwa persaingan di dunia pendidikan tinggi semakin ketat. Banyak perguruan tinggi lain memiliki sumber daya besar dan investasi yang kuat.

Namun, menurutnya, kekuatan utama Universitas Tarakanita terletak pada nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan oleh para pendirinya.

“Kami tidak ingin berjalan hanya secara normatif. Nilai spiritualitas menjadi roh dalam pelayanan pendidikan kami. Itu yang menjadi kekhasan kami,” ujarnya.

Nilai tersebut kemudian dirumuskan dalam konsep dasar universitas: cerdas, berintegritas, dan bermakna.

Singgih menekankan bahwa kecerdasan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada aspek akademik.

“Kecerdasan harus utuh. Tidak hanya intelektual, tetapi juga spiritual dan emosional,” katanya.

Selain itu, integritas menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan di kampus ini. Mahasiswa dididik untuk menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, serta menjauhi praktik tidak etis seperti plagiarisme maupun korupsi.

“Kami ingin lulusan kami dikenal karena integritasnya. Apa yang diucapkan harus selaras dengan perbuatannya,” tegasnya.

Nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak proses pembelajaran di kelas, mulai dari cara mahasiswa mengerjakan tugas hingga bagaimana dosen memberikan penilaian secara objektif dan adil.

Kampus juga tidak ragu memberikan apresiasi terhadap prestasi, sekaligus memberikan sanksi terhadap pelanggaran integritas.

“Harapannya, nilai-nilai ini menjadi pedoman bagi seluruh civitas akademika hingga mereka menjadi alumni,” tuturnya.

Biaya Kuliah Terjangkau mulai 3 jutaan 

Antonius Singgih menjelaskan  bahwa sebagai bentuk komitmen terhadap keterjangkauan pendidikan, Universitas Tarakanita menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) tanpa membebankan biaya tambahan kepada mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak perlu khawatir dengan biaya awal yang besar, karena kampus tidak memberlakukan uang gedung maupun uang pangkal seperti yang lazim ditemui di sejumlah perguruan tinggi.

“Biaya kuliah sangat ramah, mulai dari Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per semester. Mahasiswa juga dapat mencicil per bulan. Ini bukti nyata bahwa pendidikan berkualitas dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat,” ujar Antonius.

Pada tahap awal pengembangannya, Universitas Tarakanita membuka dua fakultas utama, yakni fakultas eksakta dan fakultas non-eksakta. Sejumlah program studi strategis pun disiapkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi.

Program studi yang tersedia meliputi S-1 Teknik Sipil, S-1 Informatika, S-1 Sistem Informasi, dan S-1 Bisnis Digital. Selain itu, dua program studi yang telah lebih dahulu dikenal tetap dilanjutkan, yaitu D-3 Sekretari dan S-1 Komunikasi.

“Dengan kombinasi program studi berbasis teknologi, bisnis, dan komunikasi, Universitas Tarakanita berharap dapat melahirkan lulusan yang kompeten, adaptif, serta siap bersaing di era transformasi digital. Kebijakan biaya kuliah yang terjangkau ini sekaligus menjadi strategi kampus untuk memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya besar, sekaligus memperkuat peran Universitas Tarakanita sebagai institusi pendidikan yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

 Sediakan Asrama dan Lingkungan Kampus Inklusif, Mahasiswa Lintas Iman

 Universitas Tarakanita (Utarki) tidak hanya menaruh perhatian pada kualitas akademik dan keterjangkauan biaya pendidikan, tetapi juga pada kenyamanan tempat tinggal mahasiswa serta terciptanya lingkungan kampus yang inklusif dan penuh toleransi.

“Saat ini kampus telah menyediakan asrama mahasiswa yang dikelola oleh para suster dari  Carolus Borromeus (CB). Fasilitas ini diprioritaskan bagi mahasiswa perempuan yang berasal dari luar kota maupun luar pulau,” tukasnya.

Lanjut Anton, meskipun terdapat mahasiswa yang berasal dari wilayah sekitar Jakarta, pihak kampus tetap menerapkan pembatasan radius tertentu untuk menjaga prioritas bagi mahasiswa dari daerah yang lebih jauh.

“Memang ada mahasiswa berasal dekat kota Jakarta, tetapi kami membatasi radiusnya. Misalnya mahasiswa dari Tangerang atau Bogor yang merasa perjalanan dari rumah ke kampus terlalu jauh atau tidak nyaman. Namun pada prinsipnya, asrama ini diprioritaskan bagi mahasiswa yang berasal dari luar Jakarta,” jelasnya.

Sementara itu, untuk asrama mahasiswa laki-laki, Utarki saat ini belum menyiapkan fasilitas khusus. Namun kampus telah menjalin hubungan baik dengan warga di sekitar lingkungan kampus yang menyediakan rumah kos.

Melalui kemitraan tersebut, pihak kampus berupaya membantu mahasiswa laki-laki dari luar daerah agar dapat tinggal di kos-kosan terdekat dengan biaya yang tetap terjangkau.

“Kami bekerja sama dengan warga sekitar yang memiliki kos. Hubungan kami sangat baik, sehingga mahasiswa laki-laki dari luar kota bisa tinggal di kos yang dekat dengan kampus dengan harga yang relatif terjangkau,” ujarnya.

Lebih jauh Antonius menegaskan bahwa meskipun Universitas Tarakanita didirikan oleh tokoh dan yayasan Katolik, kehidupan kampus justru mencerminkan keberagaman yang kuat. Bahkan, lebih dari 50 persen mahasiswa berasal dari lintas agama atau non-Katolik.

Hal serupa juga terlihat pada jajaran tenaga pengajar yang berasal dari berbagai latar belakang keimanan.

“Para dosen kami juga berasal dari lintas iman. Bahkan ada dosen perempuan Muslim yang berhijab. Mahasiswa Muslim juga banyak yang berhijab. Ini menunjukkan bahwa semangat toleransi, pluralitas, dan inklusivitas benar-benar dijunjung tinggi,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa nilai dasar yang dibangun di Universitas Tarakanita adalah semangat universal dalam pelayanan pendidikan, bukan sekadar identitas lembaga.

“Walaupun didirikan oleh yayasan Katolik, semangatnya adalah semangat pelayanan untuk semua kalangan. Kampus ini tidak terkungkung atau dibatasi oleh unsur SARA,” pungkasnya.

Dengan pendekatan yang inklusif dan terbuka, Universitas Tarakanita berharap dapat menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan menghargai keberagaman, sekaligus membentuk generasi muda yang memiliki wawasan kebangsaan serta sikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat. SM

Related posts