Pesan Reflektif Jhon Panggabean di Mimbar Gepenkris: Apapun Persoalan Kita, Tuhan Tetap Gembala Yang Setia! 

Jakarta,VictoriousNews.com—Di tengah himpitan persoalan hidup yang kian kompleks, pesan tentang keteguhan iman kembali digaungkan dalam Ibadah Raya Minggu di Gereja Pentakosta Kristus (GEPENKRIS), Jalan Bangau Buntu No. 597, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Minggu (26/4/2026).

Advokat senior, Jhon SE Panggabean, SH., MH., dalam kotbahnya menegaskan bahwa hidup manusia tidak pernah lepas dari tekanan—baik ekonomi, hukum, kesehatan, maupun relasi sosial. Namun di atas semua itu, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatan dan pengharapan yang tidak tergoyahkan.

Mengusung tema “Tuhan adalah Gembalaku” dari Mazmur 23, Jhon menekankan bahwa sebesar apa pun badai kehidupan, kuasa Tuhan jauh melampaui segala persoalan. “Masalah boleh datang silih berganti, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya,” ujarnya tegas di hadapan jemaat.

Ia  juga menceritakan pergumulan pribadinya— mengalami  tekanan hidup yang datang bertubi-tubi. Dari pengalaman itu, ia mengingatkan bahaya ketergantungan pada kekuatan manusia semata.

“Ketika kita terlalu fokus pada siapa yang bisa menolong kita, masalah justru terasa semakin berat. Tetapi saat kita bersandar penuh kepada Tuhan, di situlah jalan mulai terbuka,” katanya.

7 Janji Tuhan yang Tak Pernah Gagal

Dalam penjabaran  yang lugas, Jhon menguraikan 7  janji Tuhan dalam Mazmur 23:1–6 yang relevan dengan realitas hidup jemaat:

1.Pemeliharaan Ilahi — Tuhan menjamin kecukupan (takkan kekurangan), bukan hidup tanpa masalah.

2. Ketenangan dan Istirahat — Tuhan menyediakan “padang hijau” di tengah tekanan.

3.Pemulihan Jiwa — Luka batin terdalam sekalipun dipulihkan.

4. Tuntunan yang Benar — Tuhan tidak membiarkan umat-Nya tersesat arah.

5. Penyertaan di Masa Kelam — Lembah kehidupan tidak dihindari, tetapi disertai.

6.Perlindungan dan Penghiburan — Tuhan menjaga sekaligus menuntun.

7.Berkat Berkelimpahan — Kasih dan masa depan yang penuh pengharapan.

Pesan ini kemudian dipertegas melalui Injil Yohanes 10:10–11, di mana Yesus Kristus menyatakan diri sebagai Gembala yang baik—bukan hanya memelihara, tetapi memberikan hidup yang berkelimpahan.

“Coba dua hari saja tanpa doa dan firman, iman mulai goyah. Tetapi ketika kita melekat pada Tuhan, di situlah mujizat terjadi,” ungkapnya.

Ia juga mengkritisi pola pikir sebagian orang percaya yang masih mengandalkan logika semata. Menurutnya, iman harus dilatih melalui pikiran yang benar, bukan dikuasai ketakutan atau asumsi negatif yang melemahkan.

Menutup kotbahnya, Jhon mengingatkan bahwa berkat Tuhan tidak selalu berbentuk materi. Nafas kehidupan, kekuatan, dan damai sejahtera adalah anugerah yang sering diabaikan. “Jangan tunggu diberkati baru menjadi berkat. Dalam kesulitan pun, kita tetap bisa menjadi berkat bagi orang lain,” pungkasnya.

Kesaksian Iman: Saat Duka Menguji Keyakinan

Duet Bapak & Anak; Tulus Hutapea-Theresia persembahkan pujian berjudul: Thank You Lord for Your Blessings on Me

Ibadah juga diwarnai pujian dan kesaksian, termasuk duet Tulus Hutapea bersama putrinya Theresia Hutapea yang membawakan lagu “Thank You Lord for Your Blessings on Me”, serta pujian dari keluarga Gepenkris Jati Padang.

Momen paling menggetarkan datang dari Gembala Sidang, Pdt. Dr. Solider Siringoringo. Ia membagikan pengalaman pribadi yang sarat duka dan pergumulan iman saat kehilangan keponakannya di usia 38 tahun di Medan.

Ia mengisahkan bagaimana keluarga sempat berharap mukjizat terjadi, meski secara medis kondisi sudah kritis dan bergantung pada ventilator. Namun pada akhirnya, realitas berkata lain.

“Kami percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tetapi Tuhan tetap berdaulat atas hidup manusia. Iman bukan memaksakan kehendak, melainkan berserah pada kehendak-Nya,” ujarnya lugas.

Pose bersama Gembala Gepenkris Pdt. Solider Siringoringo (keempat dari kanan)

Pergumulan batin itu semakin terasa ketika ia mengakui sempat berdoa agar sang keponakan bertahan hingga seluruh rangkaian ibadah selesai. “Ternyata, kita tidak bisa mengatur waktu Tuhan. Bahkan doa yang paling tulus pun tetap tunduk pada keputusan-Nya,” katanya.

Di tengah duka, ia tetap menjalankan tanggung jawab—mengikuti prosesi adat hingga kembali ke Jakarta untuk melayani jemaat. “Ini bukan soal kuat atau tidak, tetapi soal panggilan. Dalam duka pun, pelayanan harus tetap berjalan,” tegasnya.

Ia pun mengajak jemaat untuk menopang keluarga yang ditinggalkan, khususnya anak almarhum yang masih balita. “Kehilangan orang dikasihi itu  berat, tetapi kasih Tuhan jauh lebih besar dari duka yang mereka alami,” pungkasnya.

Ibadah ditutup dengan doa berkat yang kembali menegaskan satu pesan utama: di tengah ketidakpastian hidup, Tuhan tetap Gembala yang setia—memimpin, memelihara, dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. SM

Related posts