Jombang, VictoriousNews.com– Nama Kusno Rohadi, SE, melekat sebagai salah satu penjaga denyut pelayanan dan warisan sejarah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, Jombang.
Sosoknya tenang, dan sederhana itu ternyata memiliki perjalanan panjang pengabdian yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Pria kelahiran 17 Mei 1959 tersebut dikenal bukan hanya sebagai pengurus gereja, melainkan juga sebagai penjaga memori sejarah GKJW Mojowarno — salah satu gereja tertua di Jawa Timur yang berdiri sejak 1879 dan diresmikan 3 Maret 1881. Hidupnya diabdikan untuk pelayanan jemaat, pendidikan iman, pelestarian sejarah gereja, hingga penguatan nilai-nilai sosial dan toleransi di tengah masyarakat. “Yang penting hidup itu bisa berguna dan melayani,” ujar Kusno mengawali perbincangan di kantor Sekretariat GKJW Mojowarno.
Pulang untuk Mengabdi
Kusno lahir dan besar di Mojowarno, Jombang. Masa kecil hingga SMP ia jalani di kampung halamannya sebelum melanjutkan pendidikan SMA di Lumajang mengikuti sang kakak. Setelah itu, ia merantau ke Malang untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Ekonomi.
Sempat berwirausaha di kota tersebut, Kusno justru merasa ada kekosongan dalam hidupnya. Kesibukan dan pencapaian materi tidak memberinya kepuasan batin. “Apa yang saya dapatkan waktu itu tidak pernah memberi rasa puas. Akhirnya saya memutuskan pulang ke Mojowarno. Saya ingin berkarya dan melayani di sini,” kenangnya.
Keputusan pulang pada akhir 1985 menjadi titik balik hidupnya. Sejak kembali ke tanah kelahiran, ia mulai aktif dalam kegiatan kepemudaan gereja, membina kelompok Pendalaman Alkitab, hingga mendampingi pembinaan iman kaum muda bersama Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Dari sanalah panggilan pelayanannya tumbuh semakin kuat.
Meniti Pelayanan Sejak Usia Muda
Perjalanan pengabdian Kusno berkembang perlahan namun konsisten. Tahun 1986, ia dipercaya menjadi guru di SMA Kristen YBPK Mojowarno. Di tengah aktivitas mengajar, keterlibatannya dalam pelayanan gereja semakin intens.
Ia banyak belajar dari tokoh-tokoh senior GKJW Mojowarno yang kerap mengajaknya mengikuti kegiatan dokumentasi sejarah gereja. “Saya waktu itu hanya mendampingi saja. Kalau ada kegiatan sejarah atau kunjungan, saya diajak ikut. Dari situ saya banyak belajar,” tuturnya.
Kesetiaan dan ketekunannya membuat Kusno dipercaya menjadi Majelis Jemaat pada tahun 1987. Sejak saat itu, pelayanan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Meski sempat berhenti satu periode selama tiga tahun, ia kembali melayani dan terus dipercaya memegang berbagai tanggung jawab penting.
Kini, Kusno menjabat sebagai Sekretaris I GKJW Mojowarno. Ia juga dipercaya menjadi Sekretaris II Majelis Daerah GKJW Kabupaten Jombang dan Lamongan, serta anggota Sinode Majelis Agung GKJW.
Bagi Kusno, jabatan bukan tujuan pelayanan. “Melayani Tuhan itu tidak harus menjadi pendeta. Yang penting adalah menyiapkan diri untuk melayani,” katanya.
Mengabdi Lewat Dunia Kesehatan
Pengabdian Kusno tidak hanya berlangsung di lingkungan gereja. Ia juga memiliki perjalanan panjang dalam pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit Kristen Mojowarno.
Selama bertahun-tahun, ia dipercaya menangani berbagai bidang strategis, mulai dari pemeliharaan sarana dan prasarana, sumber daya manusia (HRD), hingga akhirnya menjabat sebagai internal auditor rumah sakit.
Pengalaman itu membentuk pandangannya bahwa pelayanan tidak selalu dilakukan di mimbar gereja. “Di mana pun kita ditempatkan, itu juga pelayanan,” ujarnya.
Setelah mengabdi selama puluhan tahun, Kusno memasuki masa pensiun pada 2019. Namun pensiun tidak membuat langkah pelayanannya berhenti. Ia tetap aktif mendampingi kegiatan jemaat, terlibat dalam berbagai pelayanan gereja, serta menjadi salah satu narasumber sejarah GKJW Mojowarno.
Belajar Teologi di Usia Pensiun
Menariknya, pendidikan teologi justru ditempuh Kusno ketika memasuki usia pensiun. Baginya, belajar teologi bukan untuk mengejar status pendeta, melainkan memperdalam pemahaman iman dan kualitas pelayanan.
Kesempatan itu datang pada 2018 saat adiknya di Mojokerto membuka kelas pendidikan teologi berbasis kelompok kecil. “Saya sebenarnya tidak punya keinginan menjadi pendeta. Sekolah teologi itu untuk melengkapi pelayanan saja, supaya memahami Alkitab lebih mendalam dan tahu bagaimana melayani dengan benar,” tuturnya.
Ia percaya, panggilan melayani tidak dibatasi usia. “Kalau soal melayani Tuhan, usia bukan penghalang,” ucapnya sambil tersenyum.
Menjaga Keseimbangan Pelayanan dan Keluarga
Di balik kesibukan pelayanan, Kusno mengakui tantangan terbesar bukan hanya soal pekerjaan gereja, tetapi menjaga keseimbangan antara pelayanan dan keluarga.
Sebagai aktivis gereja yang sangat aktif, waktunya kerap tersita untuk rapat, kunjungan jemaat, hingga berbagai kegiatan pelayanan lainnya. Namun dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam perjalanan hidupnya.
Sebelum menikah, ia bahkan sudah menyampaikan satu pesan penting kepada calon istrinya.
“Sebelum menikah saya sudah bilang, kalau soal pelayanan jangan dihalang-halangi,” katanya sambil tertawa kecil.
Kusno hidup bersama sang istri tercinta, Muliana, yang selama ini setia mendampingi perjalanan pelayanan dan kehidupannya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak, yakni almarhumah Kristina Nugraheni Kusumaningrum, Kristian Dian Permana Putra, dan Parahita Suba Paramastuti.
Dukungan keluarga terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sang istri aktif dalam Komisi Musik Gereja, sementara anak-anaknya juga terlibat dalam pelayanan.
Meski demikian, momen lucu tetap hadir di tengah kesibukan pelayanan. “Kalau anak-anak mau mengajak jalan, biasanya pertanyaannya satu: ‘Kapan Bapak tidak rapat?’” ujarnya sambil tersenyum.
Penjaga Sejarah GKJW Mojowarno
Bagi warga Mojowarno, Kusno Rohadi bukan sekadar pengurus gereja. Ia dikenal sebagai salah satu penjaga sejarah, budaya, dan nilai toleransi yang diwariskan para pendahulu GKJW Mojowarno.
Melalui pengetahuannya tentang sejarah gereja, tradisi Unduh-Unduh, hingga kisah tokoh-tokoh Kristen Jawa seperti Paulus Tosari dan Karolus Wiryoguno, Kusno terus berupaya menjaga warisan iman itu tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Baginya, gereja bukan sekadar bangunan tua yang menyimpan sejarah, melainkan ruang hidup tempat iman terus bertumbuh lintas generasi.
Menyaksikan Perjalanan Para Pendeta
Sejak menjadi majelis jemaat pada 1987, Kusno telah mendampingi sejumlah pendeta dengan karakter pelayanan yang berbeda-beda. Pengalaman itu memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika pelayanan di GKJW Mojowarno.
“Semuanya punya kelebihan atau kekuatan masing-masing. Ada yang kuat di pendekatan jemaat, ada yang kuat di manajemen, ada juga yang sangat detail memperhatikan warga,” tuturnya.
Salah satu sosok yang paling membekas baginya adalah Pendeta Pruwito Dwijo Suwignyo atau yang akrab disapa “Mbah Pru”.
“Beliau itu seperti bapak bagi warga gereja. Sangat mengayomi dan dekat sekali dengan jemaat,” kenangnya.
Menurut Kusno, kedekatan itu membuat hubungan pendeta dan jemaat terasa hangat, namun tetap tegas dalam menjaga aturan gereja.
Ia juga mengenang Pendeta Sri Mojo sebagai figur yang memiliki kemampuan luar biasa mengenal jemaat secara personal.
“Beliau hafal nama-nama warga. Kalau ada yang tidak hadir ibadah, beliau tahu,” katanya.
Sementara Pendeta Muryo Jayadi dikenalnya sebagai sosok yang kuat dalam manajemen dan penataan keuangan gereja. Sedangkan Pendeta Andriono dinilainya sebagai pribadi tenang yang membawa banyak gagasan baru bagi perkembangan pelayanan.
Gereja Tua dengan Pelayanan yang Terus Hidup
Sebagai gereja induk dengan sejarah panjang di Jombang, GKJW Mojowarno kini memiliki sekitar 1.116 kepala keluarga dengan jumlah jemaat mencapai kurang lebih 2.800 jiwa.
Sebagian jemaat memang telah merantau ke berbagai kota, termasuk Surabaya, namun secara administratif masih tercatat sebagai warga gereja.
Untuk melayani kebutuhan jemaat yang besar, gereja menggelar enam kali ibadah setiap Minggu yang tersebar di gereja induk dan sejumlah pepanthan. Di gereja induk sendiri, ibadah berlangsung tiga kali, yakni pukul 05.30 pagi, 08.30 pagi, dan 16.30 sore.
“Pelayanan terus berjalan karena kebutuhan jemaat juga semakin besar,” ujar Kusno.
Hidup yang Dipersembahkan untuk Melayani Tuhan
Di usia yang kini telah melewati enam dekade, Kusno Rohadi tetap berjalan di jalur pelayanan dengan ketulusan yang sama seperti ketika pertama kali pulang ke Mojowarno puluhan tahun silam.
Ia tidak mencari penghormatan ataupun popularitas. Baginya, hidup menemukan maknanya ketika dipakai untuk melayani Tuhan dan sesama.SM
