KTM GBI Maple Park, Ps. Rubin Ong: Kembali ke Peradaban Kerajaan Allah, Jangan Terhisap Sistem Dunia!

Di tengah dunia yang semakin kacau, jemaat diajak membangun hidup di atas firman Tuhan, bukan mengejar rasa aman, nyaman, atau keinginan manusia

Berita, Religi96 Views

JAKARTA,-VictoriousNews.com – Dunia boleh terus berubah, namun prinsip Kerajaan Allah tidak pernah berubah. Di tengah ketidakpastian global, kemajuan teknologi, krisis moral, hingga gejolak ekonomi dan politik, orang percaya dipanggil untuk kembali kepada “peradaban Kerajaan Allah”, bukan larut dalam sistem dunia yang dibangun di atas keinginan manusia.

Ps Rubin Ong ketika menyampaikan firman Tuhan dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park, Kamis (30/7/26).

Pesan itulah yang disampaikan Ps. Rubin Ong saat berkhotbah dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) di GBI Maple Park penggembalaan Ps Ferry Iskandar, Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (30/7/2026).

Mengawali khotbahnya, Ps Rubin mengajak jemaat melihat kembali rancangan Allah sejak awal penciptaan manusia dalam Kejadian 1:26.
“Peradaban adalah sistem kehidupan yang menentukan perkembangan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Sebelum ada dosa, sebelum ada agama, sebelum Iblis bekerja, bahkan sebelum ada negara, itulah ide awal Allah bagi manusia,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang membaca Alkitab dari perspektif kejatuhan manusia, padahal Allah lebih dahulu memiliki rancangan mulia agar manusia menjadi gambar dan rupa-Nya, sebagai wakil-Nya di bumi.

Peradaban Dunia Semakin Kacau
Rubin menegaskan, kondisi dunia tidak akan menjadi semakin mudah. Kekacauan akan terus meningkat, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, keluarga maupun moral.
“Jangan berpikir dunia akan semakin tenang. Justru peradaban dunia akan semakin kacau. Tetapi cara hidup kita berbeda. Kita bukan hidup menurut sistem dunia, melainkan menurut Kerajaan Allah,” katanya.


Ia mengingatkan jemaat agar tidak membaca firman Tuhan hanya dari kacamata agama, doktrin atau tradisi, melainkan dari perspektif Kerajaan Allah.

Manusia Dipanggil Menguasai, Bukan Dikuasai
Mengutip Kejadian 1 dan 2, Rubin menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk mengelola bumi, bukan menguasai sesama manusia.
Menurutnya, dosa membuat posisi itu berbalik. Manusia akhirnya justru diperbudak oleh ciptaannya sendiri.
“Uang hanya alat transaksi, bukan alat yang menguasai hidup kita. Artificial Intelligence (AI) juga hanya alat. Biarlah AI bekerja untuk kita, jangan kita yang diperbudak AI. Kalau hidup kita dikendalikan uang atau teknologi, berarti kita sudah ditaklukkan oleh peradaban dunia,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa banyak orang kehilangan kebebasan karena diperbudak keinginan, materi, maupun berbagai bentuk kecanduan.

Bahaya Peradaban yang Berpusat pada Keinginan
Dalam penjelasannya mengenai Kejadian pasal 3 (Kisah kejatuhan Adam & Hawa), Rubin menyebut kejatuhan manusia bermula ketika Hawa mulai melihat sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilihat.
Menurutnya, sejak saat itu dunia dibangun di atas keinginan manusia.
“Semakin banyak alternatif, semakin banyak pilihan. Semakin banyak pilihan, hidup semakin rumit. Semakin rumit, semakin stres. Karena itu fokuslah kepada kehendak Tuhan,” tukasnya.
Ia menambahkan bahwa dunia saat ini dipenuhi “roh kekacauan” yang menyerang keluarga, bisnis, pemerintahan, lembaga pendidikan bahkan gereja.

Tenggelamnya Kapal Titanic: Saat Kesombongan Menantang Tuhan
Untuk menggambarkan bahaya kesombongan manusia, Rubin mengangkat kisah Royal Mail Ship (RMS) Titanic, kapal mewah buatan Inggris yang pada awal abad ke-20 dianggap sebagai mahakarya teknologi dunia.
Menurutnya, pada masa itu muncul kesombongan bahwa kapal tersebut begitu sempurna hingga “bahkan Tuhan pun tidak dapat menenggelamkannya.”
Namun sejarah mencatat hal berbeda.
Pada pelayaran perdananya dari Inggris menuju New York pada April 1912, Titanic menabrak gunung es di Samudra Atlantik Utara dan akhirnya tenggelam. Lebih dari 1.500 penumpang dan awak kapal kehilangan nyawa dalam salah satu tragedi maritim terbesar sepanjang sejarah.
Rubin mengatakan tragedi itu menjadi pelajaran bahwa ketika manusia membangun rasa aman dan nyaman tanpa lagi mengandalkan Tuhan, kesombongan justru membawa kehancuran. “Peradaban manusia yang dibangun hanya untuk kebesaran manusia pada akhirnya akan runtuh. Tetapi orang yang hidup dalam kehendak Tuhan akan tetap berdiri,” ujarnya.

Kembali kepada Firman Tuhan 
Menutup khotbahnya, Rubin mengutip Yesaya 40: 8 dan 1 Petrus 1 : 23-25 yang menegaskan bahwa manusia hanyalah seperti rumput yang akan layu, sedangkan firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.
Ia mengajak jemaat untuk tidak terjebak mengejar nama besar, kekayaan atau kenyamanan dunia, melainkan membangun hidup di atas firman Tuhan.
“Peradaban dunia sedang lenyap bersama segala keinginannya. Tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup untuk selama-lamanya. Di tengah dunia yang semakin kacau, kembali kepada peradaban Kerajaan Allah adalah satu-satunya fondasi yang tidak akan pernah terguncang,” pungkasnya.

Gembala GBI Maple Park Ps Ferry Iskandar memimpin doa berkat dalam KTM Kamis (30/7/26)

Ibadah ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar. Melalui visi “The Great Commission – Tahun Amanat Agung,” GBI Maple Park terus berkomitmen menjangkau lebih banyak jiwa bagi Kristus melalui pemberitaan Injil dan pemuridan.
Komitmen itu diwujudkan lewat penyelenggaraan Kebaktian Tengah Minggu (KTM) setiap Kamis malam sebagai sarana membangun iman jemaat agar tetap hidup dalam peradaban Kerajaan Allah dan tidak terhisap oleh sistem dunia yang terus berubah. SM