Selama Kepemimpinan Pdt. Dr. John Weol (Ketum MP GPdI), Sudah Terbangun 500 Gereja Lokal GPdI  Di Pedesaan

JakartaVictoriousnews.com–Pasca terpilih kembali sebagai Ketua Umum Majelis Pusat (MP) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dalam Musyawarah Besar (Mubes) bulan Maret 2022 lalu, Pdt. Dr. John Weol langsung tancap gas. Bersama jajaran pengurus MP, ia terus menjalankan program unggulan yang menjadi ciri khas GPdI: merintis dan membangun gereja di daerah pedalaman dan pedesaan.

“Sudah menjadi tradisi di GPdI, setelah Mubes, kami langsung menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di berbagai wilayah, termasuk luar negeri. Setelah Musda selesai, kami lanjut dengan membentuk dan melantik kepengurusan Komisi Pusat, yang membawahi berbagai pelayanan seperti Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, hingga pelayanan anak-anak hamba Tuhan,” ujar Pdt. John Weol saat ditemui di kantor Sentra GPdI, di kawasan Sunter Jakarta Utara.

Namun bukan hanya sekadar pembentukan struktur yang jadi fokus. Lebih dari itu, pekerjaan nyata di lapangan menjadi prioritas. Salah satunya adalah pengutusan para pelayan Tuhan ke pelosok-pelosok negeri. “Karakteristik pelayanan GPdI adalah merintis sidang jemaat baru di pedalaman/pedesaan.p. Untuk itu, kami punya kekuatan besar: 38 Sekolah Alkitab (SA), 10 di antaranya Sekolah Tinggi Teologi, tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri seperti Amerika, Malaysia, dan Australia,” jelas Ketua Umum MP GPdI dua periode (2017-2022 & 2022- sekarang).

Dengan rata-rata 30 lulusan setiap tahunnya dari setiap SA, lanjut Pdt. John Weol,  GPdI telah mencetak lebih dari 1.000 tenaga pelayanan baru setiap tahun. “Mereka inilah yang dikirim untuk menembus wilayah yang belum terjangkau, mengusung semangat: “Di mana ada manusia, di situ Injil harus diberitakan.”

Bangun Gedung Gereja untuk Pedalaman/Pedesaan:Gembala Tinggal Terima Kunci

Pdt. John Weol juga menegaskan bahwa MP GPdI memiliki komitmen tinggi dalam penyediaan gedung gereja bagi para hamba Tuhan yang melayani di desa dan pedalaman. Tantangan utama di daerah terpencil adalah keterbatasan dana. “Bayangkan saja, kalau jemaat hanya 30 orang dengan kolekte Rp2.000 per orang, sebulan cuma terkumpul Rp240.000. Itu bahkan belum cukup untuk biaya hidup, apalagi membangun gereja,” ungkapnya.

Menjawab tantangan ini, MP GPdI melalui departemen pembangunan gereja pedesaan,turun langsung ke lapangan. Mereka melakukan survei, inventarisasi kebutuhan, dan menyalurkan dana pembangunan gereja-gereja yang dirintis. Gembala tidak perlu repot mencari dana atau membuat proposal. “Yang penting tanah sudah tersedia dan bebas sengketa. Kalau perlu sudah jadi hak milik gereja. Setelah bangunan berdiri, gembala tinggal terima kunci saja,” katanya.

Hasilnya pun nyata. Dalam periode 2017–2022, tercatat sebanyak 367 gereja telah berhasil dibangun. Wilayah yang paling banyak menerima bantuan ini antara lain Kalimantan, NTT, Sumatra, dan Jawa.

“Belum semua bisa terjangkau, tapi kami terus bergerak. Ini bukan soal jumlah besar atau kecilnya jemaat. Tapi soal kesungguhan dan kesiapan untuk melayani. Kalau ada satu atau dua orang pun, itu sudah cukup untuk mulai,” tegas Pdt. John.

Di bawah kepemimpinan Pdt. Dr. John Weol, GPdI menunjukkan wajah gereja yang bukan hanya aktif di pusat, tapi benar-benar hadir di pelosok. Melalui kombinasi antara visi strategis, kesiapan sumber daya manusia, dan dukungan penuh dari MP, GPdI terus memperluas jangkauan pelayanan hingga ke titik terjauh negeri ini.

MP GPdI Dibantu Yayasan Untuk Bangun Gereja di Pedesaan

Sebagai Ketua Umum MP GPdI,  Pdt. John Weol, mengakui bahwa untuk mewujudkan program pembangunan gedung gereja pedesaan itu dibantu dana oleh sebuah Yayasan. “Memang selama ini bantuan dana dari yayasan itu cukup besar untuk pembangunan gedung gereja. Dana itu tidak masuk ke kas MP GPdI, melainkan ke kas Departemen Pembangunan Gereja Pedesaan GPdI yang diketuai Pdt. Stefanus Kafiar. “Sejak tahun 2022 ini  telah terbangun 133 gedung gereja permanen berukuran 8×15 meter, dengan dukungan dana dari sebuah yayasan mitra.Namun, pembangunan itu kini tertahan. Bantuan dari yayasan dihentikan sementara karena munculnya postingan dugaan penggelapan dana yang saat ini dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Laporan keuangan departemen pembangunan gereja pedesaan  itu sangat ketat, satu perak pun harus dipertanggungjawabkan. Tapi karena ada kegaduhan, maka untuk sementara yayasan menyetop penyaluran dana, sembari menunggu proses hukum selesai,” ujar Pdt. John Weol.

Untuk menjaga kelanjutan program, MP GPdI tetap mengalokasikan dana dari kas internal, meski jumlahnya terbatas.

Selain membangun gereja, MP GPdI juga memperhatikan kesejahteraan para gembala, salah satunya dengan mendaftarkan mereka dalam program BPJS Kesehatan. Di Jakarta misalnya, semua gembala telah dijamin oleh organisasi melalui Biro Diakonia.

Saat ini, GPdI memiliki hampir 20.000 gereja lokal, termasuk di luar negeri seperti Amerika, Australia, Malaysia, hingga Uni Emirat Arab. “GPdI ini besar, tapi jangan sampai terpecah karena ambisi pribadi. Semua jabatan adalah pelayanan, bukan posisi untuk mencari prestise,” tegas Pdt. John.

Ia pun berharap seluruh hamba Tuhan di GPdI dapat tetap bersatu dan fokus pada panggilan pelayanan tanpa membuat kegaduhan internal. “Jangan sampai pelayanan kita dikotori dengan kepentingan pribadi yang menginginkan jabatan. Ingat, bahwa seluruh jabatan di GPdI itu tidak ada gaji, termasuk seluruh gembala itu juga tidak dibayar oleh organisasi. Tetapi semua adalah murni pelayanan,” ungkapnya.

Diakhir perbincangan, John Weol menyampaikan prinsip hidupnya dalam sebuah pelayanan, yaitu lebih baik dirugikan daripada merugikan orang lain. “Prinsip saya lebih baik dirugikan daripada merugikan. Karena kalau dirugikan kita masih bisa menangis kepada Tuhan  melalui doa. Tapi kalau kita merugikan kita akan malu. Dan tidak mungkin kita menangis dalam doa,” pungkasnya. SM

Related posts