Jakarta, Victoriousnews.com – Di tengah kesibukan Jakarta yang padat dan riuh, jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Maple Park tetap menjaga api kerohanian dengan setia menghadiri Kebaktian Tengah Minggu (KTM). Berlokasi di lantai dasar Apartemen Maple Park, Sunter Kemayoran, Jakarta Utara, di bawah penggembalaan Ps Ferry Iskandar, ibadah rutin setiap Kamis pukul 19.00 WIB ini selalu menjadi “oase rohani’ yang dinantikan.
Pada Kamis, 2 Oktober 2025, suasana KTM kembali dipenuhi hadirat Tuhan. Usai jemaat menikmati pujian dan penyembahan, firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. Moses Christianto dengan tema “Menyingkap Tabir Kematian.”
Dalam kotbahnya, Pdt. Moses Christianto membuka pemahaman jemaat tentang realitas yang tak bisa dihindari: kematian. Ia menjelaskan,bahwa menurut Kamus Teologi, kematian adalah akhir kehidupan jasmani yang terjadi sesuai waktu yang ditetapkan Tuhan. Tak seorang pun mampu menolaknya (Pkh 8:8a).
“Kematian adalah berpisahnya roh dengan tubuh (Yak 2:26). Itu terjadi sebagai akibat dosa (Rm 5:12). Semua orang pasti mengalaminya sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali (Maz 89:48),” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa manusia sejatinya hanyalah debu tanah, “bahan baku murahan” yang baru berharga karena Allah menghembuskan nafas hidup ke dalamnya (Kej 2:7). “Yang membuat manusia mulia bukan tubuhnya, melainkan nafas Allah yang ada di dalamnya,” tegasnya. Karena itu, titik awal kehidupan adalah ketika Allah memberi nafas, dan titik akhirnya adalah saat Allah menarik kembali Roh-Nya (Ayub 34:14–15).
Pdt. Moses kemudian menguraikan pandangan teologis tentang manusia: apakah terdiri dari tiga bagian (trikotomi – tubuh, jiwa, roh; 1 Tes 5:23; Ibr 4:12) atau dua bagian (dikotomi – jasmani dan batiniah; Mat 10:28, Yak 2:6). Menurutnya, perdebatan ini memang ranah dogmatis, namun esensinya sama: manusia terbatas dan pasti berhadapan dengan kematian.
Apa yang Terjadi Setelah Kematian?
Mengacu pada Pkh 12:7 dan kisah Lazarus dalam Lukas 16:19–31, Moses menjelaskan bahwa setelah kematian, roh manusia kembali kepada Allah. Ia menekankan pembedaan antara Hades atau Sheol dengan neraka (Gehena). “Orang yang mengenal Tuhan berada di pangkuan Abraham, sedangkan yang menolak Tuhan berada di tempat sengsara,” paparnya.
Ia mengutip berbagai teks Alkitab untuk memperkuat pengajarannya. Filipi 1:23 memakai kata analuo (Yunani), yang berarti “seperti kapal yang terlepas dari tambatannya” – melukiskan kematian fisik sebagai jalan menuju Kristus. Paulus sendiri menegaskan bahwa kematian orang percaya membawanya kepada Tuhan (2 Tim 4:6; 2 Kor 12:2–4). Bahkan Yesus berfirman kepada penjahat di salib, “Hari ini juga engkau bersama dengan Aku di Firdaus” (Luk 23:43).
Orang Hidup dan Orang Mati
Dalam penekanan tajam, Moses menolak pandangan yang keliru tentang roh gentayangan. “Tidak ada komunikasi antara orang mati dengan orang hidup. Dunia mereka berbeda,” katanya, mengutip 2 Samuel 12:23 serta Pkh 9:5 dan Ayub 7:9–10. “Jika ada penampakan roh, itu bukan roh orang mati, melainkan tipu daya iblis.”
Ia juga menyinggung praktik sesajen, doa arwah, maupun doa di kuburan. “Doa untuk orang yang sudah meninggal tidak mengubah apapun. Mengenang orang yang sudah meninggal boleh, tapi menjadikan ritual pada hari-hari tertentu dengan keyakinan arwah leluhur itu salah dan termasuk sinkretisme. Hormati dan berbaktilah ketika mereka masih hidup, jangan menunggu mereka sudah tiada,” tandasnya.
Lewat kotbahnya yang tajam dan mendalam, Pdt. Moses Christianto mengingatkan jemaat bahwa hidup ini sementara. Kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kekekalan. Karena itu, setiap orang percaya diajak untuk hidup berkenan kepada Allah, mempersiapkan diri, dan memaknai hidup dengan benar.
Mati Dalam Kristus, Langsung Bersama Tuhan Di Firdaus
Ia menjelaskan bahwa orang yang mati di dalam Kristus akan langsung bersama Tuhan di Firdaus (paradeisos), menantikan kebangkitan pertama dan menerima kehidupan kekal (1 Tes 4:14, 16). Sedangkan mereka yang mati di luar Kristus akan berada di Hades, menantikan kebangkitan kedua untuk menerima hukuman kekal.
Moses juga menegaskan bahwa tubuh kemuliaan yang akan diterima orang percaya adalah seperti tubuh Yesus setelah kebangkitan—sebuah prototipe kehidupan kekal.
Sebagai penutup, Pdt. Moses merangkum pesannya dalam empat pokok kesimpulan yang jelas dan tegas:
1. Kematian adalah kepastian, yang akan dialami setiap manusia sebelum kedatangan Kristus kedua kali.
2. Orang yang mati dalam Kristus akan langsung bersama Tuhan di Firdaus, menantikan kebangkitan pertama dan kehidupan kekal. Sedangkan orang yang mati di luar Kristus akan berada di Hades, menantikan kebangkitan kedua untuk menerima hukuman kekal.
3. Dunia orang mati dan orang hidup berbeda. Tidak ada komunikasi, tidak ada jembatan yang menghubungkan keduanya.
4. Hiduplah sungguh dalam Kristus, tetap setia sampai akhir, karena hanya dengan berada di dalam Dia ada jaminan hidup kekal.
Dengan nada penuh keyakinan, Moses menutup kotbahnya: “Hidup ini singkat, kematian pasti datang. Karena itu, jangan pernah melepaskan Kristus. Siapa yang ada di dalam Dia, akan bersama Dia untuk selamanya.”
Komitmen Memenangkan Banyak Jiwa
Sementara itu Gembala GBI Maple Park, Ps Ferry Iskandar menegaskan bahwa panggilan utama gereja bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan misi besar: memenangkan jiwa-jiwa.
“GBI Maple Park terus berkomitmen menjadi wadah pertumbuhan iman dan pelayanan. Tugas kita adalah mencari jiwa-jiwa untuk kemuliaan nama Tuhan,” tegas Ps Ferry.
Komitmen itu diwujudkan lewat visi “Menjadi Terang & Garam”, yang sejalan dengan mandat Jesus for Everyone dari Gembala Senior GBI, Ps. Ir. Niko Njotorahardjo. Harapannya, menjelang tahun 2033, Injil Kerajaan Kristus dapat didengar oleh sebanyak mungkin orang di berbagai penjuru dunia.
Dengan semangat itu, GBI Maple Park bertekad melahirkan jemaat yang dewasa rohani sekaligus giat memberitakan Kristus. Visi ini diyakini bukan hanya relevan untuk lingkungan apartemen Maple Park, tetapi juga berdampak luas hingga ke generasi mendatang. SM
