Jakarta, Victoriousnews.com – Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gereja Bethel Indonesia (BPP GBI), Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, memaparkan perkembangan terkini keterlibatan GBI dalam penanganan korban bencana alam di sejumlah wilayah, antara lain Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.
Dalam keterangannya, Pdt. Rubin menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya masih terus menghimpun dan memperbarui data di lapangan. “Data ini masih terus bertambah. Yang ada ini adalah data minggu lalu, dan nanti akan kami kirimkan kepada Bapak-bapak yang sudah terdata,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tim tanggap bencana GBI, khususnya Tagana GBI, telah diminta untuk turun sejak hari pertama (H-1). Namun, kondisi geografis dan keterbatasan akses membuat proses penjangkauan ke beberapa lokasi terdampak berjalan lebih lambat.
Pdt. Rubin juga mengingatkan pengalaman pahit saat tsunami Aceh 2004, di mana gereja-gereja lokal GBI baru bisa masuk ke lokasi pada hari keempat pascabencana. “Saat itu situasinya sangat berat. Kami masih harus mengevakuasi jenazah dan menghadapi kondisi yang sangat memilukan. Sekarang pun, melihat situasi ini, hati kami kembali teriris,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa di Tapanuli Tengah, khususnya wilayah sekitar Sibolga, terdapat sedikitnya dua gereja yang tertutup total oleh longsoran tanah. Selain itu, sejumlah gereja lain juga terdampak, termasuk bangunan sekolah minggu. Tim GBI masih terus mencari dan memverifikasi data tambahan terkait kondisi gereja dan jemaat di wilayah tersebut.
“Tim kami sudah berangkat ke beberapa lokasi. Ada yang sudah kembali dan akan turun lagi. Saat ini juga tim di Aceh dan wilayah sekitar Sibolga masih terus bekerja di lapangan,” jelasnya.
Terkait bantuan, Pdt. Rubin menegaskan bahwa BPP GBI tidak ingin bersikap reaktif dan euforia dengan membagikan seluruh bantuan di tahap awal. Menurutnya, tantangan terbesar justru berada pada fase pemulihan jangka menengah dan panjang. “Kebutuhan terbesar itu justru beberapa bulan ke depan, saat pemulihan gereja dan rumah-rumah jemaat. Itu biayanya sangat besar,” tegasnya.
Untuk itu, BPP GBI telah mulai menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga yang memiliki kapasitas dalam pembangunan rumah dan pemulihan pascabencana. Pola ini, menurut Pdt. Rubin, pernah dilakukan saat penanganan bencana likuifaksi di Palu dan terbukti efektif. “Di lapangan, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus berkolaborasi dan bekerja sama dengan semua pihak,” tukasnya.
Melalui langkah ini, BPP GBI menegaskan komitmennya untuk hadir tidak hanya pada masa darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan yang berkelanjutan bagi gereja dan masyarakat terdampak bencana. SM
