Victory of Life, Buku Kesaksian dr Cissie Nugraha Tentang Pendidikan dan Ketekunan

Victoriousnews.com- Victory of Life (terjemahan Google: Kemenangan Hidup) menjadi judul sebuah buku kecil penuh warna 28+ halaman. Di bagian bawah cover dituliskan dr Cissie Nugraha MSc Mars. Hampir seluruh halaman dibubuhi kalimat sebuah ayat Perjanjian Baru kecuali pada halaman cover (terdepan) dan belakang. Halaman kedua (cover) dan halaman dalam cover belakang tetap dibiarkan kosong.

Tajuk “Victory of Life” diisi halaman pertama dengan sebuah kalimat “Victory of Life: Diberkati untuk Menjadi Berkat” (II Korintus 2:14) dan “Perjalanan Hidup dr Cissie Nugraha MSc Mars yang indah dan diberkati” dengan ayat II Korintus 2:14. Editor ditulis di halaman cover belakang, masing-masing; Pdt Dr Samuel Kusuma MTh (Ketua Sinode Gereja Bethany Nusantara yang berpusat di Balikpapan, Kalimantan Timur), Shyvera Pongantun, dan Victor Gideon. Penerbit buku IKB Press.

“Kalau bukan karena mereka, tidak akan ada saya di dunia ini,” tulis dr Cissie Nugraha MSc Mars di halaman 3. Mereka yang dimaksud merujuk pada ibunya (Dede Eni Waroko), ayahnya (Atet Nugraha), Engkong Setiawan Waroko, Ema Martha Naomi, Tukang Becak, dan Perawat di Rumah Sakit Limijati, Bandung (Jawa Barat),. Tepat 11 Juli 1980 Cissie Nugraha lahir. Menjelang kelahirannya, sang mami naik becak sendirian ke rumah sakit. Dengan bantuan perawat, bayi mungil lahir yang kemudian diberikan nama dan dikenal dengan Cissie Nugraha. Bukan oleh kemewahan materi. Suatu kehidupan yang penuh kesederhanaan. Tinggal di sebuah rumah bilik di Kota Bandung. Ketika kedua orangtuanya mencari nafkah dengan berjualan roti, bayi mungil Cissie dibaringkan di hamparan tikar di kamar mungil tak berjendela.

Ketika berusia empat tahun, Cissie kecil diboyong pindah ke ibukota negara Republik Indonesia, DKI Jakarta oleh orangtuanya. Di usia lima tahun, dia memulai pendidikan di Sekolah Dasar (SD) kelas 1. Di usia enam tahun, dia membantu ekonomi keluarga dengan berjualan majalah anak-anak kesayangannya. Kepada orangtuanya dikatakan, “Mamih tidak perlu beri uang lagi. Kakak sudah bisa mendapatkan uang dari berjualan majalah.”

Berjualan kue Subuh di Pasar Senen (Jakarta Pusat) pun diljalani. Begitu tidak mudah. Ketika malam menjadi pagi, dan pagi jadi malam. Ketika libur sekolah pun, Cissie memaksa membantu untuk itu. Pendapatan yang tidak menentu dan jauh dari harapan menyebabkan keluarganya berpindah-pindah untuk sekedar tinggal. Ketika usaha kue kurang membawa harapan, dia pun berusaha membantu mendapatkan rejeki termasuk dengan menjadi pengajar les Matematika.

Ketika duduk di Sekolah Lanjutkan Menengah Atas (SLTA), dia diminta orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang dijalani. Hal itu justru memacu semangatnya untuk belajar lebih giat. Belajar sembari bekerja. Beratnya beban kehidupan tak menjadikannya mengeluh.

Darii sekitar 3000 peserta test di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), dia mencatatkan diri sebagai lulusan di tahun 1997. Meskipun dia berkeinginan masuk ke Fakultas Seni Rupa ITB, tetapi Sang Sutradara kehidupan, Tuhan Yesus Kristus menginginkan seorang Cissie Nugraha menjadi Pemahat umat-Nya. Bukan pemahat patung yang dibenci Allah.

Krisis 1998 pun menerpa. Krisis moneter itupun menerpa kehidupannya. Tidak ada tempat tinggal untuk bernaung. Beserta keluarga, Cissie pun menumpang di sebuah ruko (rumah toko) milik saudara. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, kedua orangtuanya membuka rumah makan Masakan Padang. Mengetahui ayahnya menurunkan bahan-bahan makanan dari pasar dengan kendaraan beroda dua (sepeda motor atau motor) bekas dan tua, ia membantu semampunya. Seringkali juga menjaga warung makan masakan Padang sembari belajar.

Dia juga memberikan les pelajaran dan menggambar. Ketika ruko tersebut akan dipindahtangankan (dijual) ke pihak lain, dia dan keluarga bingung. Dengan sedikit yang ada berharap setidaknya untuk membuat uang muka untuk sewa rumah murah. Uang terbatas. Kendaraan untuk dipakai pindah pun tidak ada.

Satu-satunya jalan tersedia ketika seseorang menitipkan mobil bak terbuka untuk dijual. Selama sekitar dua Minggu, mobil tersebut digunakan untuk pindah ke rumah kontrak. Sebuah rumah kontrak yang murah. Posisinya persis tusuk sate dan berada di komplek perumahan. Baginya yang terpenting ada tempat untuk bernaung. Upah dari menjual mobil sebagian dipakai untuk membayar sewa rumah. Usahs warung makan masakan Padang pun terhenti dan tidak berlanjut.

“Papih dan Mamih tidak perlu khawatir. Kakak bisa bantu dari hasil les pelajaran dan menggambar untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. Dengan berjalan kaki, Cissie membagikan brosur dari rumah ke rumah. Murid-murid pun terus bertambah. Bahkan pernah memenangi lomba menggambar tinggal nasional dan internasional. Meskipun kemudian tidak ada uang yang ditabung, setidaknya berkecukupan untuk membayar sewa kontrak rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membayar uang sekolah untuk adik di Bandung.

Setiap hari sang ayah setia memboncengnya dengan motor bekas yang seringkali mogok. Berlindung dari derasnya hujan di bawah jembatan pun menjadi hal biasa. Masuk kuliah menjadi terlibat pun terjadi. Sepulang kuliah langsung mengajar menggambar hingga malam. Kemudian berlanjut dengan memberikan les pelajaran. Hampir-hampir tidak ada waktu untuk belajar. Kemauan keras dan kecintaan ingin membahagiakan orang-orang tercintamya mengalahkan segala rasa lelah yang ada.

Cissie pun menyelesaikan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2003. Ia lulus sebagai lulusan termuda dengan usia belum genap 23 tahun. Ini menjadi hadiah terindah untuk orangtuanya. Ia pun melanjutkan pendidikan S-2. Pelajaran agar sayang kepada orangtua menjadikannya ikut mengurus Ema dan Engkong yang tinggal di Garut (Jawa Barat). Engkong pun dibawa ke Jakarta agar lebih mudah mengurus hingga meninggal di tahun 2008. Cissie pun menjaga Ema sampai akhir hayat.

Tahun 2012, Cissie menikah dengan Paulus Ong dan tiga orang anak, masing-masing lahir ada 2013, 2014, dan 2019. Pada 2015, sang ibu didiagnosa mengidap kanker pankreas. Dokter dari rumah sakit terbaik pun didaulat untuk merawat. Di tengah menjaga sang mami yang dalam perawatan di Amerika, anak pertama dan kedua lahir di John Hopkins Hospital.

Ketika dokter menyerah, sang ibu dirawat di rumah dengan perawatan rumah sakit hingga meninggal pada 24 Desember 2014 atau Malam Natal 2015. Empat tahun berselang, sang ayah didiagnosa mengidap kanker Paru. Dokter katakan, prognosisnya tinggal dua bulan. Ketika itu, Cissie baru melahirkan anak ketiganya, Cheryl di Amerika Serikat. Segera dia terbang dan meninggalkan Amerika Serikat ke Indonesia ketika Cheryl berusia 12 hari.

“Saya tahu bahwa tanggal 3 Juli 2019 menjadi ulama tahun terakhir untuk Papih. Saya tidak tinggalkan Papih. Saya rayakan hari ulang tahun itu. Sehari penuh bernyanyi bersama Papih. Semuanya saya ambil gambar dan video. Papih undang 7 (tujuh) orang teman terdekat, yaitu teman-teman ketika di Pasar Senen itu. Cheryl saya bawa sebagai penghiburan. Tidak ada sehari pun untuk tidak mereknya ketika bersama Papih. Saya tinggalkan klinik dan ingin berada di dekat. Papih yang hebat dan terbaik. Hingga hari itu tiba. Tuhan memanggil Papih pada 24 September 2019,” demikian dituliskan.

Kehidupan terus berjalan. Teladan yang penuh kasih dan kejujuran tulus. Senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah dan tindakan seorang Cissie Nugraha. Keinginan menggunakan ilmu yang digapai berdasar hikmat Tuhan untuk menolong banyak orang di sisi kesehatan membuatnya menjadi pribadi kokoh nan tangguh. Baginya, semua yang dicapai bukan karena kemampuan dirinya. Itu tidak terlean dari peran orangtua, Engkong, Ema serta Tuhan sebagai segala sumber hikmat dan pengetahuan. @epa_phm

Related posts