Jakarta,Victoriousnews.com,— Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) merayakan momen bersejarah: 75 tahun (25 Mei 1950-25 Mei 2025) perjalanan pelayanan yang setia dan penuh makna dalam kehidupan bergereja dan berbangsa.
Dengan mengusung tema “Kesatuan Tubuh Kristus yang Tangguh dan Relevan,” PGI menyampaikan sukacita dan syukur atas penyertaan Tuhan yang tak pernah henti, bahkan di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Graha Oikumene, Jakarta Pusat, Rabu (28/5), Sekretaris Umum Panitia HUT ke-75 PGI, Pdt. Audy Wuisang menjelaskan bahwa perayaan ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga sarat dengan makna pelayanan. Rangkaian kegiatan sosial telah dimulai sejak Maret, meliputi ziarah oikoumenis ke makam tokoh-tokoh gereja, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian sembako dan Alkitab, serta aksi peduli lingkungan bersama Dewan Keesaan Gereja (DKG).
“Keseluruhan kegiatan dilaksanakan di sejumlah provinsi di Indonesia, seperti di Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, dan Jakarta. Kami ingin menghadirkan kasih Kristus secara nyata, menjangkau mereka yang membutuhkan, tanpa membedakan latar belakang,” ujar Pdt. Audy yang juga Sekjen DPP PIKI.
Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan menambahkan bahwa kegiatan PGI turut diapresiasi oleh masyarakat lintas iman dan para pejabat daerah. “Harapan kami sederhana—agar perayaan ini berdampak, tidak hanya bagi umat Kristen, tetapi juga bagi sesama manusia dan bumi yang kita diami bersama,” ujarnya.
Dirayakan Di Dua Tempat, GPIB Immanuel Gambir & GKI Pondok Indah
Perayaan HUT ke-75 PGI akan berlangsung dalam dua agenda utama: Harmony Fest 2025 di GPIB Immanuel Jakarta Pusat pada Jumat (30/5) mulai pukul 08.00 Wib, dan puncaknya adalah Ibadah Syukur di GKI Pondok Indah Jakarta Selatan pada Sabtu (31/5) pukul 15.00 Wib.
Harmony Fest akan menampilkan bazar UMKM, hiburan musik dari Once Mekel, Dirly Idol, dan Adeline Thesa, penampilan seni tradisional dari berbagai daerah, serta aneka permainan anak. “Kami juga sudah beraudiensi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, berharap Bapak Wakil Gubernur Rano Karno dan Gubernur Pramono Anung bisa hadir,” jelas Pdt. Darwin.
Alasan PGI Pindahkan Tempat Puncak Acara HUT
Panitia pelaksana mengambil keputusan untuk merubah lokasi ibadah syukur yang semula direncanakan di ICE BSD, Tangerang, dipindahkan ke GKI Pondok Indah. Menurut Pdt. Audy, keputusan ini diambil atas pertimbangan moral dan kepekaan sosial yang mendalam. Alasan berikutnya adalah melaksanakan saran dari MPH PGI agar perayaan HUT dirayakan secara ugahari.
“Alasan yang mendasar adalah, negeri kita sedang diuji. Ramai tagar #IndonesiaGelap menghiasi media sosial. Di saat banyak orang sedang bergumul, rasanya tidak bijak menggelar acara mewah di tempat dengan biaya miliaran rupiah. Maka PGI memutuskan untuk merayakan dengan sederhana, tapi tetap bermakna,” ungkapnya.
Senada dengan Pdt Audy, Sekum PGI Pdt. Darwin mengungkapkan bahwa gereja tidak boleh bersikap eksklusif atau terlepas dari realitas sosial. “Saat ini, ribuan orang kehilangan pekerjaan. Kita tidak bisa berpesta besar-besaran sementara banyak yang hidup dalam kesulitan. Karena itu, tidak akan ada kursi VIP. Pimpinan PGI akan duduk dan makan bersama umat. Kita semua sama di hadapan Tuhan.”
Makna HUT ke-75 PGI: Gereja yang Hadir, Relevan, dan Menjawab Krisis Zaman
Memaknai HUT PGI, Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, menegaskan bahwa usia ke-75 ini bukan sekadar angka, tetapi sebuah momentum untuk kembali mengingat jati diri gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup dan relevan. Dalam pandangannya, gereja masa kini dihadapkan pada enam krisis besar yang tidak bisa diabaikan, yaitu: krisis ekumene, kebangsaan, ekologi, pendidikan, keluarga, dan revolusi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Melalui HUT PGI ke-75 ini, kami ingin menegaskan bahwa gereja adalah bagian dari masyarakat, bukan entitas yang terpisah. Gereja harus peka dan mampu menjawab pergumulan zaman ini,” ujar Pdt. Darwin.
Ia menjelaskan bahwa krisis ekumene mencerminkan adanya kesenjangan dan ketimpangan dalam kehidupan bergereja itu sendiri. Sementara krisis kebangsaan berkaitan erat dengan situasi sosial, politik, dan ekonomi yang terus bergolak. Krisis ekologi berbicara tentang tanggung jawab gereja terhadap kerusakan lingkungan, dan krisis pendidikan menyentil tantangan besar dalam sistem dan nilai-nilai pendidikan Kristen. Di sisi lain, krisis keluarga menunjukkan kegoyahan fondasi rumah tangga yang menjadi tempat pertama pendidikan iman, serta krisis revolusi digital dan AI yang mengubah cara manusia berinteraksi dan hidup, sering kali tanpa nilai moral yang memadai.
“Enam krisis ini bukan sekadar isu global, tetapi nyata dalam kehidupan umat setiap hari. Karena itu, rangkaian acara HUT PGI dirancang secara simbolik dan sosial, sebagai bentuk jawaban gereja. Donor darah, pembagian sembako, pelestarian lingkungan, semua itu adalah simbol kehadiran nyata gereja—seperti Kristus yang hadir untuk menyelamatkan,” ungkapnya penuh semangat.
Lebih dari seremoni, HUT PGI menjadi tanda panggilan untuk kembali ke akar misi gereja: mengasihi, melayani, dan menghadirkan harapan.
“Ke depan,” lanjut Pdt. Darwin, “biarlah perjalanan panjang PGI mendorong gereja-gereja yang tergabung di dalamnya untuk lebih serius menghidupi panggilan Kristus, menjawab tantangan masa kini, dan terus berdiri di tengah masyarakat sebagai pelita yang menyinari kegelapan.”
Sekilas Sejarah Lahirnya PGI: Dari DGI Menuju Kesatuan Gereja di Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) lahir dari sebuah semangat kesatuan dan panggilan pelayanan bersama di tengah bangsa yang baru merdeka. Sebelum Perang Dunia II, telah diupayakan pendirian suatu dewan yang membawahi pekerjaan Zending, namun terhalang oleh pecahnya perang.
Pasca PD II, terbentuk tiga dewan daerah:
1. Dewan Permusyawaratan Gereja-Gereja di Indonesia di Yogyakarta (Mei 1946)
2. Majelis Usaha Bersama Gereja-Gereja di Indonesia Bagian Timur di Makassar (9 Maret 1947)
3. Majelis Gereja-Gereja Bagian Sumatera di Medan (awal 1949)
Ketiga dewan ini kemudian menjadi fondasi lahirnya Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) dalam Konferensi Pembentukan DGI pada 21–28 Mei 1950 di Sekolah Theologia Tinggi Jakarta (kini STT Jakarta). Dalam konferensi tersebut, Anggaran Dasar DGI disahkan pada 25 Mei 1950, dan tanggal itu ditetapkan sebagai hari berdirinya DGI.
Seiring perjalanan waktu dan dinamika gereja di Indonesia, pada Sidang Raya ke-X di Ambon tahun 1984, DGI secara resmi berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
Kini, PGI terus menghidupi semangat oikoumenis yang telah diwariskan para pendiri, dengan menjadi wadah kesatuan dan pelayanan gereja-gereja di seluruh Indonesia. SM
