Jejak Iman di Lereng Gunung Merbabu: Kesaksian Pelayanan Pdt. Petrus Sukiman

KOPENG,Victoriousnews.com,-Di lereng Gunung Merbabu yang berbalut udara sejuk dan wangi pinus, mata akan terpikat pada sebuah bangunan kokoh di Jalan Umbul Songo 04 RT 9/RW 3, Dusun Sleker, Kopeng–Getasan, Kabupaten Semarang. Itulah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El Shaddai Sleker—rumah doa yang tak hanya menjadi tempat peribadatan, tetapi juga simbol keteguhan iman. Di balik temboknya yang kokoh terpatri kisah perjuangan dan keajaiban rohani seorang gembala sederhana, Pdt. Petrus Sukiman, yang setia menapaki jalan panjang penuh pengorbanan dan mukjizat.

Merintis dari Nol

Perjalanan Pdt. Petrus dimulai pada 1977, saat ia merintis pelayanan di Sleker dengan hanya dua jemaat. Kampung Sleker sendiri sudah dibuka sejak 1964, namun pelayanan rohani kala itu belum terlayani dengan baik. “Kami bawa semua dalam doa dan pergumulan,” kenang Pria kelahiran 1 Juni 1950.

Kesungguhan itu membuahkan langkah besar pada 1980. Dengan iman, Petrus membeli sebidang tanah seluas 370 meter seharga Rp75 ribu—harga yang jauh di bawah perkiraan. “Itu kemurahan Tuhan,” ucapnya. Tahun 1982, batu pertama diletakkan. Proses pembangunan berjalan lambat, dikerjakan setahap demi setahap, bahkan sempat berhenti hingga gereja nyaris hanya berupa dinding bata.

Mujizat Demi Mujizat 

Bantuan pertama datang dari Sekolah Alkitab Tawangmangu sebesar Rp1,51 juta—setara harga motor Honda 125 cc kala itu. Godaan membeli motor sempat menghampiri, tetapi Petrus memilih melanjutkan pembangunan.

Doanya kembali dijawab pada 2005. Tanpa disangka, ia mendapat komisi Rp41 juta sebagai perantara jual-beli tanah. Saat ia hampir tergoda membeli kendaraan, pemilik tanah yang selama ini ia doakan datang menawarkan lahan 250 meter seharga Rp80 juta. Setelah proses panjang, kesepakatan tercapai di angka Rp50 juta.

Pdt. Petrus Sukiman & Istri yang setia melakukan pelayanan di Lereng Gunung Merbabu, Kopeng, Jawa Tengah

“Awalnya, mereka sudah menyiapkan komisi senilai Rp41 juta. Namun, masih terdapat kekurangan Rp9 juta yang seharusnya dipenuhi oleh pemilik tanah. Belum berhenti di situ, komisi Rp41 juta itu pun kembali terpotong: Rp5 juta diambil seorang teman, sementara Rp9 juta dipotong pihak penjual tanah,”

Situasi itu membuat perhitungan menjadi tidak seimbang. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, pasangan hamba Tuhan ini akhirnya tidak mampu melanjutkan pembayaran tanah senilai Rp50 juta. “Karena tidak sanggup membayar, saya putuskan untuk membatalkan pembelian tanah tersebut,” ungkapnya lirih.

Tak berhenti di situ, selama empat bulan Petrus dan sang istri berdoa setiap malam pukul 23.00 agar transaksi yang sempat batal kembali ke tangan mereka.”Dalam Nama Yesus tanah sudah menjadi milik kita,Tuhan kembalikan seperti caraMu.Amen”.  Tepat 3,5 bulan kemudian, berita baik tiba: pembeli sebelumnya bermasalah dan tanah itu kembali kepadanya.

Pembangunan Gereja Yang Menggerakkan Hati

Izin bangun keluar 2008, peletakan batu pertama dilakukan 22 Maret tahun itu, dan 22 Oktober 2010 gereja rampung. “Puji Tuhan, modal awal hanya dengan Iman dan Doa. Kemudian anak saya memberikan 75 juta. Sebagian lagi, hasil urunan (patungan) dari jemaat terkumpul sebesar 13,5 juta. Dan sampai selesainya anak saya memberikan 330 juta,” tukas Pdt. Petrus yang kini berusia 75 tahun.

 Kisah Membangun Gereja di Dusun Tekelan

Pdt. Petrus tetap semangat mengusung visi menambah “bilangan jiwa” dan bermimpi mendirikan sebuah panti asuhan. “Lingkungan di sini baik, toleransinya tinggi,” tuturnya.

Selain membangun gereja di dusun Sleker, Pdt. Petrus juga menceritakan perintiisan gereja di kaki Gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Tekelan. Pelayanannya dimulai sejak tahun 1975 hanya dari satu keluarga jemaat, kini telah bertumbuh menjadi 27 kepala keluarga.

Perjalanan panjang itu bukan tanpa pengorbanan. Setiap kali hendak melayani, Pdt. Petrus harus berjalan kaki menempuh jalan setapak sejauh 4 km dari Kopeng, mendaki bukit terjal. Tak jarang, beliau mendapati tidak ada jemaat yang hadir beribadah. Namun dengan kesetiaan, langkah itu terus dijalani.

Tahun 1988 menjadi titik terang ketika jumlah jemaat bertambah menjadi 14 keluarga. Saat itu, ada satu keluarga yang dengan tulus hati mempersembahkan sebidang tanah seluas 170 meter persegi beserta bangunan gereja sederhana berukuran 5×12 meter. Meski letaknya kurang strategis—karena harus mendaki dari jalan utama dan berada di samping saluran limbah ternak—tetapi itulah rumah Tuhan yang pertama di Tekelan.

Tahun 2005, berkat Tuhan kembali nyata ketika Pdt. Petrus menerima sebuah motor. Namun medan yang hanya berupa jalan setapak membuatnya harus menitipkan kendaraan pada keluarga non-seiman di bawah bukit sebelum melanjutkan perjalanan menuju gereja.

Puji Tuhan, perjalanan iman tidak berhenti di situ. Pada tahun 2011, ketika jemaat mencapai 27 kepala keluarga, muncul kerinduan membangun rumah Tuhan yang lebih layak. Namun, Pdt. Petrus dengan bijak berkata: “Kalau catnya rontok, kita cat kembali. Kalau membangun baru, saya hanya bisa berdoa, sebab dana besar dan manfaatnya sama. Kecuali Tuhan sediakan tanah luas dan strategis di pinggir jalan, barulah kita bangun untuk kemuliaan Tuhan Yesus.”

Pernyataan itu membuat jemaat tergerak dan bertekun mencari tanah yang lebih baik. Sejak saat itu, setiap ibadah dipenuhi doa yang sama: memohon tanah yang luas, strategis, dan rumah Tuhan yang berdiri untuk kemuliaan Yesus.

Doa yang dipanjatkan bertahun-tahun akhirnya terjawab pada April 2017. Dengan kesepakatan tukar guling di hadapan kepala dusun dan tokoh masyarakat, jemaat memperoleh tanah baru yang strategis di pinggir jalan. Pdt. Petrus bahkan dengan iman berkata: “Paling lama dua tahun kita sudah bisa pindah.” Nyatanya, belum sampai 16 bulan, jemaat sudah beribadah di gedung gereja yang baru, meski belum rampung seluruhnya.

Hari ini, bangunan gereja di Tekelan terus disempurnakan. Bagian depan dengan teras seluas 5×12 meter, pagar keliling, dan pastori sudah mulai terlihat. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa doa tidak pernah sia-sia, dan penyertaan Tuhan selalu ajaib.

“Puji Tuhan, kami hanya bisa berkata: sungguh Tuhan ajaib dan luar biasa,” ungkap Pdt. Petrus penuh sukacita. Ia pun menutup kesaksiannya dengan permohonan: “Mohon dukungan doa, agar pembangunan ini dapat segera selesai demi kemuliaan Tuhan Yesus.”

Menjabat sebagai Penasihat MD GPdI Jateng

Selain menggembalakan jemaat, ia dipercaya memegang berbagai peran penting di GPdI Jawa Tengah: bendahara, sekretaris wilayah, hingga penasihat Majelis Daerah periode 2022–2027. “Semua ini bukan karena kehebatan saya, tapi anugerah Tuhan,” ucapnya rendah hati.

Suami dari Martini, ayah empat anak dan kakek dua cucu ini telah menyiapkan anak keduanya sebagai penerus pelayanan. Dari langkah kaki yang dulu menempuh jalan setapak hingga berdirinya gedung gereja kokoh, perjalanan Pdt. Petrus Sukiman menjadi saksi nyata bahwa iman dan ketekunan tidak pernah sia-sia. SM

Related posts