Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung Yang Tak Pernah Tergeletak

SEOUL,Victoriousnews.com– Lee Jae-myung (kelahiran Andong, Gyeongsang Utara, Korea Selatan), Ketua Umum Deobureo Minjudang atau Partai Demokrat Korea Selatan) menjadi Presiden Korea Selatan ke-14 setelah dilantik pada 4 Juni 2025 pukul 12.00 KST. Pelantikan dan pidato perdananya kepada rakyat Korea Selatan diselenggarakan di Aula Rotunda Majelis Nasional. Menjelang pelantikan, dia mengunjungi para pendahulu presiden di Taman Makam Nasional Seoul sebagai penghormatan. Pelantikannya juga mencatatkan diri sebagai presiden pertama berstatus terdakwa.

Dia memenangi Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Korea Selatan sela yang dilaksanakan pada 3 Juni 2025. Ia mengalahkan calon dari People Power Party atau Partai Kekuatan Rakyat, Kim Moon-soo (Gubernur Provinsi Gyeonggi periode 1 Juli 2006-30 Juni 2014 yang juga Anggota Daehan Minguk Gukhoe atau Majelis Nasional Korea Selatan periode 30 Mei 1996-24 April 2006) dengan 17.287.512 (49.42%) suara berbanding dengan 14.395.638 (41,15%). Dari pemilih terdaftar sebanyak 44.391.871 yang turut berpartisipasi sejumlah 79.38%. Jumah ini naik 2,30% dari pemilu presiden sebelumnya.

Pemilu Presiden tersebut terlaksana sejak demokratisasi dan dibentuknya Republik Keenam Korea Selatan. Pemilu tersebut menjadi pemilihan presiden kesembilan, pemilu presiden kedua pasca pemakzulan presiden, dan yang pertama diadakan pada tahun yang berbeda dari yang dijadwalkan semula. Awalnya dijadwalkan pada 3 Maret 2027, tetapi dimajukan setelah pemakzulan dan pemecatan Yoon Suk Yeol (Presiden Korea Selatan ke-13 selama 10 Mei 2022-4 April 2025). Tanggal 3 Juni 2025 ditetapkan berdasarkan Konstitusi Korea Selatan yang mengamanatkan agar pemilihan presiden diselenggarakan dalam 60 hari sejak kekosongan jabatan presiden secara permanen. Ini menjadi ketentuan sejak putusan Mahkamah Konstitusi Korea Selatan pada 4 April 2025 untuk memperkuat mosi pemakzulan dari Majelis Nasional dan mencopot Yoon Suk Yeol dari jabatan presiden. Kemudian, pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa tanggal pemilihan presiden ditetapkan pada 3 Juni 2025.

Lee Jae-myung kalah tipis dalam Pemilu Presiden Korea Selatan yang dilakukan pada 9 Maret 2022. Dari pemilih terdaftar sebanyak 44.197.692 (turun 0,1% dari pemilu presiden sebelumnya) diikuti 77,1% pemilih. Dengan perolehan suara sebanyak 16.147.738 (47,83%) berbanding 16.394.815 (48,56%) suara untuk kemenangan Yoon Suk-yeol.

Di antara janji kampanyenya adalah amandemen konstitusi untuk mengizinkan presiden menjabat maksimal dua kali dengan masa jabatan empat tahun serta memperkenalkan sistem pemungutan suara putaran kedua. Pada 3 Juni 2025, dia memenangkan presiden dengan perolehan suara sebesar 49,42%.

Lee Jae-myung diyakini lahir pada tanggal 8 Desember 1963 di Andong dan merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Tanggal lahir resminya tercatat 22 Desember 1964. Tanggal tersebut dipilih acak ayahnya karena keterlambatan dalam mendaftarkan kelahirannya. Tanggal lahir yang sebenarnya diyakini jatuh antara 22 dan 23 Oktober 1964 pada penanggalan Korea.

Ia lahir dari keluarga miskin di Andong dan tumbuh dalam kemiskinan. Akibat lemahnya ekonomi keluarga, dia sering mengabaikan kegiatan sosial dan bergantung pada kemurahan hati staf sekolah untuk menghadiri kunjungan lapangan dan gerakan masyarakat. Salah satu hobby favoritnya disebutkan bahwa ia menyukai memancing di sungai bersama teman-temannya.

Rapor kelas pertama, dia mendapatkan nilai normal dan bersikap baik dengan teman-temannya. Ia menamatkan pendidikan dasar dengan sistem pendidikan yang tidak gratis. Sementara, ayahnya menghabiskan sebagian besar uang keluarga untuk berjudi. Keluarganya kemudian meninggalkan Andong untuk memperoleh pekerjaan.

Keluarganya pindah ke Seongnam, sebuah kota yang direncanakan sebagai industri dan dibangun semasa pemerintahan Park Chung Hee (Presiden Korea Selatan ke-3 selama 17 Desember p1963-26 Oktober 1979; lahir 30 September 1917 dan meninggal 26 Oktober 1979) untuk memusatkan industri di luar Seoul. Sebagian besar wilayah Seongnam dihuni orang miskin. Oleh pemerintah mereka seringkali dipaksa pindah ke sana. Seperti anak-anak lain dari keluarga miskin, dia bekerja di pabrik kalung buatan tangan selepas bersekolah. Setelah pabrik kalung merugi dan bangkrut, dia pindah ke perusahaan Dongma Rubber. Kala itu, ia belum cukup umur untuk bekerja secara sah (legal) di negaranya, sehingga dia bekerja dengan menggunakan sejumlah nama samaran. Ia mengalami cidera jari ketika bekerja di Dongma Rubber.

Kemudian, ia pindah bekerja di Daeyang Industry dan kecelakaan kerja kedua ketika mesin press industri menghancurkan sendi pergelangan tangannya. Cedera yang tidak diobati menyebabkan lengannya cacat permanen. Sebagai penyandang cacat dia dibebaskan dari wajib militer.

Pada tahun 1978, dia mendapatkan ijazah sekolah menengah pertama dan memperoleh ijazah sekolah menengah atas (1981). Melalui beasiswa, ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Chung-Ang dan lulus pada 1986. Ia lulus ujian advokat dan mengikuti Institut Penelitian dan Pelatihan Peradilan selama dua tahun untuk bergabung sebagai advokat. Dia membuka dan mendirikan praktek kepengacaraan di Seongnam. Ia menghimpun permasalahan terkait hak asasi manusia dan buruh dengan organisasi pengacara Minbyun. Kantor pengacaranya bekerja sama dengan para kepala pusat konseling buruh di Incheon dan Gwangju.

Pada 1995, dia memulai gerakan sipil ketika menjadi Anggota Pendiri Asosiasi Warga Seongnam. Kepopulerannya sebagai pengacara dan aktivis sosial seputar kasus penjualan istimewa Park View. Penyelidikan mengarah adanya korupsi pada pemberian izin bangunan dan transaksi terselubung properti di Bundang kepada pejabat pemerintah.

Ketika dua rumah sakit umum di Seongnam ditutup tahun 2002, dia memulai gerakan untuk membangun rumah sakit kota baru. Pada 23 Agustus 2005, dia bergabung dengan Partai Uri dan mengumumkan diri sebagai calon Walikota Seongnam. Kandidat pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Walikota) tahun 2006 ini kalah dengan 23,75% suara akibat opini publik yang tidak baik terhadap Partai Uri dan pemerintahan Roh Moo-Hyun (Presiden Korea Selatan ke-9 periode 25 Februari 2003-25 Februari 2008; lahir 1 September 1946 dan meninggal 23 Mei 2009) ketika itu.

Ia maju pada Pemilihan Umum Legislatif tahun 2008 untuk daerah pemilihan Seongnam Bundang A dan kalah dengan 33% suara. Ia sulit mendapatkan kemenangan karena daerah pemilihan tersebut adalah basis pemilih tradisional partai lawan yang telah memberikan
kemenangan kepada Lee Myung-bak (Presiden Korea Selatan ke-10 periode 25 Februari 2008-25 Februari 2013).

Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Walikota) Seongnam tahun 2010, ia mendapatkan kemenangan dengan perolehan 51,16% suara. Calon dari Partai Demokrat ini unggul atas Hwang Jun-gi. Ia kembali terpilih sebagai Walikota Seongnam melalui Pemilihan Umum Kepala Daerah (Walikota) tahun 2014 dengan 55,1% suara. Di masa akhir jabatan, dia telah merealisasikan 270 dari 287 janji kampanye semasa pencalonan, termasuk pembangunan dan perluasan Pusat Medis (Kesehatan) Seongnam, Kebijakan Dividen Pemuda, dan Program Seragam Gratis bagi Pelajar. Secara keseluruhan, dia memiliki tingkat 94,1% janji yang direalisasikan saat disampaikan di kampanye.

Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Gubernur) Provinsi Gyeonggi tahun 2018 dan memenangi pemilihan pendahuluan dengan 60% suara. Ia berhadapan dengan calon yang sedang menjabat (Petahana), Nam Kyung-pil (Gubernur Provinsi Gyeonggi periode 1 Juli 2014-30 Juni 2018). Dalam persaingan yang ketat, dia memenangi lebih 20% suara dan meraih sekitar 56% suara. Keterpilihannya mencatatkan diri sebagai gubernur liberal pertama semenjak Lim Chang-yeol setelah 20 tahun kemudian.

Pada Pemilihan Umum sela tanggal 1 Juni 2022, ia mendapatkan kursi Majelis Nasional untuk daerah pemilihan Distrik Gyeyang B Incheon dan terpilih sebagai Pemimpin Partai Demokrat Korea Selatan pada 28 Agustus 2022.

Pada 2 Januari 2024, dia menjadi korban pencobaan pembunuhan oleh seorang pria. Sisi kiri lehernya ditusuk ketika mengadakan sesi tanya-jawab dengan wartawan setelah mengunjungi lokasi pembangunan bandara baru di Gadeokdo (Busan). Dalam keadaan sadar, darah terus menetes ketika dibawa ke rumah sakit dan tiba sekitar 20 menit kemudian. Pelaku penusukan memakai ikat kepala bertuliskan “Saya Lee Jae-myung”. Pelaku menusuknya setelah mendapatkan tandatangannya. Pelaku seorang pria teridentifikasi memiliki nama keluarga ‘Kim’ kelahiran tahun 1957 langsung ditangkap di tempat kejadian perkara.

Operasi bekas luka membutuhkan waktu lebih lama yang diperkirakan. Kerusakan pada vena jugularis mengakibatkan darah yang keluar lebih banyak. Luka robek di leher diperkirakan sekitar 1 centi meter (cm). Ketika ditahan dan diinterogasi Kepolisian Metropolitan Busan, pelaku mengaku bahwa serangan itu dilakukan untuk membunuhnya.

Ia mendapatkan perhatian internasional pada tahun 2024 setelah Yoon Suk Yeol (Presiden Korea Selatan ke-13 periode 10 Mei 2022-4 April 2025) mengumumkan darurat militer dan berupaya menghentikan Majelis Nasional bersidang di tengah situasi darurat militer. Ia tetap mendatangi Gedung Majelis Nasional dan memulai siaran langsung melalui kanal YouTube miliknya. Ia menunjukkan rekaman ketika memanjat pagar Gedung Majelis Nasional untuk melewati penjagaan militer. Ia pun menyerukan agar terus berunjuk rasa. WIKI@epa_phm

Related posts