Pesan Ps. Baudouin Minani di KTM GBI Maple Park: Peperangan Rohani Dimulai Dari Pikiran Manusia

Iblis berusaha mempengaruhi manusia melalui pemikiran yang perlahan-lahan membelokkan pandangannya dari kebenaran

Berita, Religi121 Views

JAKARTA, Victoriousnews.com — Tidak semua peperangan ditandai dentuman senjata. Tidak selalu ada darah, luka, atau medan tempur yang terlihat oleh mata. Ada peperangan yang berlangsung dalam kesunyian, jauh dari pandangan manusia, tetapi dampaknya nyata: peperangan di dalam pikiran dan hati.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) di GBI Maple Park, Kamis (8/10/2026). Hamba Tuhan asal Kanada, Ps. Baudouin Minani, menyampaikan khotbah bertema Spiritual of War atau Peperangan Rohani, berlandaskan Efesus 6:12-14.

Ps. Baudouin Minani (kanan) dan Ibu Lusi (Interpreter) ketika menyampaikan kotbah dengan tema: Spiritual of War di KTM GBI Maple Park, Kamis (8/10/26).

Dengan penyampaian yang lugas dan penuh semangat, Ps. Minani mengingatkan jemaat bahwa kehidupan orang percaya bukanlah perjalanan tanpa pergumulan. Ada peperangan yang harus dihadapi, tetapi musuh yang sesungguhnya bukanlah manusia.
“Peperangan rohani itu sesungguhnya betul-betul perang. Dan merupakan peperangan yang buruk,” tegasnya di hadapan jemaat GBI Maple Park, yang digembalakan Ps. Ferry Iskandar.
Mengacu pada Efesus 6:12, ia menjelaskan bahwa perjuangan orang percaya bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan dan roh-roh jahat.

Bagi Ps. Minani, ayat tersebut menegaskan adanya realitas rohani yang tidak selalu dapat ditangkap oleh mata manusia. Pengaruhnya dapat bekerja melalui pikiran, gagasan, kebohongan, dan berbagai hal yang berpotensi menjauhkan seseorang dari kebenaran.

Pikiran Manusia Menjadi Medan Peperangan
Salah satu pokok penting dalam khotbah Ps. Minani adalah kesadaran bahwa pikiran manusia dapat menjadi medan peperangan rohani.
Menurutnya, musuh berusaha memengaruhi manusia melalui pemikiran yang perlahan-lahan membelokkan pandangan mereka dari kebenaran. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan kejernihan dalam menilai sesuatu dan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Ps Baudouin Minani didampingi sang istri

“Musuh itu memakai pikiran kita. Manusia itu ada peperangan di dalam dirinya. Peperangan itu menghambat kita untuk bisa melihat kebenaran dan melihat terang,” ujar Ps. Minani yang datang ke Indonesia bersama istrinya, Ps. Bernadette.
Ia mengingatkan bahwa pergumulan tersebut dapat terbawa ke berbagai ruang kehidupan, mulai dari rumah, tempat kerja, hingga gereja. Ketika pikiran dikuasai kebohongan dan prasangka, seseorang berisiko kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih.

Karena itu, peperangan rohani tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang dianggap berada di luar diri manusia. Pergumulan itu juga menyentuh cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupannya setiap hari.

Media Sosial: Arus Informasi yang Perlu Disaring
Di tengah kehidupan modern, Ps. Minani secara khusus menyoroti pengaruh telepon pintar dan media sosial terhadap pikiran manusia.
Teknologi memang memudahkan orang memperoleh informasi dan berkomunikasi. Namun, tanpa sikap kritis dan pengendalian diri, arus informasi yang terus mengalir juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan.
“Musuh itu selalu berkeliling mencari cara untuk memasukkan pemikiran-pemikiran ke dalam kita,” katanya.
Menurut Ps. Minani, berbagai pesan yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan keluarga, gereja, sesama, bahkan Tuhan. Karena itu, orang percaya perlu berhati-hati dalam menerima dan menyerap informasi.
Pesannya bukan semata-mata menjauhi teknologi, melainkan tidak membiarkan setiap informasi diterima begitu saja tanpa pertimbangan.
Sebab, dalam pandangannya, kebohongan tidak selalu datang dalam bentuk yang mencolok. Terkadang, ia hadir melalui gagasan yang terdengar meyakinkan, tetapi perlahan menggeser seseorang dari kebenaran.

Kebenaran, Senjata Pertama Orang Percaya
Jika peperangan itu nyata, bagaimana orang percaya menghadapinya?
Ps. Minani membawa jemaat kembali kepada Efesus 6:13-14, yang berbicara tentang perlengkapan senjata Allah. Ia menegaskan bahwa peperangan rohani tidak dapat dimenangkan dengan senjata fisik.
Pisau, senapan, ataupun senjata berat tidak dapat menjadi jawaban atas pergumulan yang berlangsung dalam ranah rohani. Orang percaya, sebaliknya, dipanggil untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah dan berdiri teguh dalam iman.
Salah satu unsur penting yang ditekankannya adalah kebenaran. “Kebenaran adalah senjata yang sangat besar kuasanya,” tegasnya.
Ia mengingatkan jemaat agar tidak membiasakan diri hidup dalam dusta. Kebohongan, sekecil apa pun, dapat membawa seseorang menjauh dari terang, sedangkan kebenaran menuntunnya untuk hidup sesuai kehendak Allah.
Mengacu pada Mazmur 36:10, Ps. Minani menekankan hubungan antara terang Tuhan dan kemampuan manusia untuk melihat terang. “Terang itu adalah Tuhan sendiri. Dan terang itu adalah kebenaran,” ujarnya.
Dalam pesan tersebut, kebenaran bukan sekadar sesuatu yang diucapkan atau diyakini. Kebenaran harus menjadi dasar bagi cara seseorang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Merobohkan Benteng yang Dibangun dalam Pikiran
Pembahasan kemudian berlanjut pada 2 Korintus 10:4-5, yang menegaskan bahwa senjata perjuangan orang percaya bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng.
Bagi Ps. Minani, gambaran tentang benteng itu mengajak orang percaya memeriksa apa yang menguasai kehidupan batinnya.
Ketakutan, kesombongan, keraguan, dan pemikiran yang bertentangan dengan pengenalan akan Allah dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan iman. Karena itu, ia mengajak jemaat menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. “Apa yang mau dicuri oleh si iblis? Bukan pakaian kita. Bukan uang kita. Tetapi akal budi dan pikiran kita,” katanya.
Pernyataan itu menjadi salah satu penekanan utama dalam khotbahnya. Bukan berarti harta benda tidak penting, melainkan bahwa pikiran dan cara pandang manusia memiliki peran mendasar dalam menentukan arah kehidupannya.
Pikiran yang terus dipenuhi kebohongan dapat memengaruhi keputusan, merusak hubungan, dan menghambat pertumbuhan rohani. Sebaliknya, pikiran yang diarahkan kepada kebenaran dapat menjadi landasan bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas yang lebih baik.

Jangan Mudah Tertipu oleh Suara yang Menyesatkan
Untuk menjelaskan bagaimana kebohongan bekerja, Ps. Minani mengingatkan jemaat pada kisah di Taman Eden ketika ular memperdaya Hawa.
Menurutnya, kisah tersebut memperlihatkan bahwa penyesatan tidak selalu dilakukan dengan menyangkal kebenaran secara terang-terangan. Kebohongan juga dapat bekerja dengan memutarbalikkan atau mengaburkan kebenaran sedikit demi sedikit.
Prinsip itu, ia mengingatkan, relevan dengan kehidupan masa kini, ketika berbagai informasi dan pengajaran beredar luas melalui media sosial.
Banyaknya pengikut atau tingginya popularitas seseorang di dunia digital tidak dengan sendirinya menjamin bahwa setiap pesan yang disampaikannya benar. Karena itu, orang percaya perlu menguji pengajaran yang diterima dan tetap berakar dalam kehidupan iman.
“Kamu bisa mengikuti siapa saja, tetapi jangan sampai itu membuat kamu merasa tidak perlu lagi datang ke gereja,” pesannya.
Ps. Minani tidak menempatkan media sosial semata-mata sebagai sesuatu yang buruk. Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi dan pengaruh figur digital mengambil alih ruang yang seharusnya digunakan untuk membangun hubungan dengan Tuhan dan komunitas iman.
Pesannya jelas: jangan sampai derasnya suara dari dunia digital membuat seseorang kehilangan kepekaan untuk mengenali kebenaran.

Menyangkal Diri, Bukan Menolak Kehidupan
Memasuki bagian berikutnya, Ps. Minani mengarahkan perhatian jemaat kepada Matius 16:24, ketika Yesus berkata bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti-Nya. “Ayat ini dalam bahasa Inggris ada kata If atau jikalau. Ketika Yesus berkata, jikalau setiap orang mau mengikut Dia harus menyangkal diri,” ungkapnya.
Bagi Ps. Minani, mengikut Yesus bukan sekadar keputusan emosional atau pernyataan iman di bibir. Ada komitmen dan konsekuensi yang harus dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Menyangkal diri, jelasnya, bukan berarti menolak kehidupan, meninggalkan tanggung jawab keluarga, mengabaikan pekerjaan, atau berhenti mengejar cita-cita. Maknanya adalah bersedia melepaskan segala sesuatu yang menghalangi seseorang untuk mendekat kepada Kristus dan hidup dalam kebenaran-Nya.
“Segala sesuatu yang bisa menghambatmu untuk mendekati kebenaran, itu harus engkau sangkal,” tegasnya.

Ki-ka: Ps Moses Christianto, Ps Ferry Iskandar (Gembala GBI Maple Park), Ps.Baudouin Minani dan Ps Mayjend TNI (Purn)  Johanis Payung

Ia memberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan jemaat.
Ketika waktu beribadah tiba, tetapi seseorang lebih memilih kesibukan lain, ia perlu memeriksa kembali prioritasnya. Ketika hendak berdoa, tetapi perhatian terus tersita oleh telepon pintar, ia perlu belajar mengendalikan diri. Demikian pula ketika waktunya memberi, tetapi keinginan untuk mempertahankan semuanya bagi diri sendiri begitu kuat.
Di situlah, menurut pesan khotbahnya, pergumulan iman berlangsung dalam keputusan-keputusan sehari-hari.
Memikul salib bukan hanya tentang menghadapi penderitaan besar. Itu juga berarti bersedia menundukkan keinginan pribadi ketika keinginan tersebut bertentangan dengan kebenaran dan kehendak Tuhan.

Siapa Kapten atas Jiwa Kita?
Di tengah uraian tentang pikiran, kebenaran, dan penyangkalan diri, Ps. Minani melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi menggugah:
“Siapa kapten atas jiwamu?”
Ia mengibaratkan kehidupan seperti sebuah tim yang membutuhkan seorang kapten untuk menentukan arah. Demikian pula manusia perlu menyadari siapa yang sesungguhnya memimpin hati, pikiran, dan keputusannya.
Bagi orang percaya, Kristus seharusnya menjadi pusat dan pemimpin kehidupan.
Persoalannya, manusia dapat tanpa sadar menyerahkan kendali hidup kepada uang, pekerjaan, ambisi, kenyamanan, atau keinginan untuk mengejar keberhasilan duniawi. Hal-hal tersebut pada dasarnya tidak selalu salah, tetapi dapat menjadi penguasa ketika ditempatkan di atas Tuhan.
“Kalau saudara punya 10 juta dolar tetapi tidak bersama Yesus, saudara bisa menjadi budak dari 10 juta dolar itu,” katanya.
Melalui gambaran tersebut, Ps. Minani mengingatkan jemaat bahwa kekayaan tidak dengan sendirinya menjamin kebebasan batin. Seseorang bisa memiliki banyak harta, tetapi justru diperbudak oleh keinginan untuk terus menambah dan mempertahankannya.
Harta duniawi juga tidak dapat dibawa melewati kematian. Karena itu, yang perlu diperiksa bukan hanya seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan seseorang, melainkan juga apa yang mengendalikan hidupnya dan bagaimana ia mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Tuhan. Pertanyaan tentang kapten jiwa pada akhirnya membawa jemaat kembali kepada inti pesan khotbah: siapa yang berkuasa atas pikiran dan hati akan turut menentukan arah perjalanan hidup seseorang.

Menang dalam Peperangan yang Tak Terlihat
Menutup pesan khotbahnya, Ps. Minani mengajak jemaat kembali kepada keyakinan bahwa peperangan rohani memang nyata, tetapi orang percaya tidak menghadapinya sendirian.
Kristus telah menang. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk berdiri teguh dalam kebenaran, iman, doa, dan firman Tuhan, serta menjalani kehidupan yang tunduk kepada kehendak-Nya.
Ia juga mengingatkan jemaat pada Mazmur 23, yang menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang memimpin dan memelihara umat-Nya.
“God is my shepherd, I shall not want,” ujarnya, mengutip Mazmur 23:1.
Gambaran tentang Gembala itu menjadi penegasan bahwa kehidupan iman bukanlah perjalanan tanpa arah. Orang percaya diajak untuk mempercayakan hidup kepada Tuhan, bukan membiarkan ketakutan dan berbagai keinginan duniawi mengendalikan dirinya.
Pada akhirnya, peperangan rohani bukan hanya tentang menyadari adanya musuh yang tidak terlihat. Lebih dari itu, peperangan tersebut menyangkut pilihan mendasar: siapa yang akan menguasai pikiran, hati, dan kehidupan manusia.
Ketika kebenaran menjadi pegangan, pikiran ditundukkan kepada Kristus, dan salib dipikul dengan kesungguhan, orang percaya belajar melangkah dengan arah yang jelas—bukan mengikuti setiap suara yang datang, melainkan berjalan bersama Sang Kebenaran, Sang Terang, dan Sang Gembala.

Gembala GBI Maple Park Ps Ferry Iskandar menutup ibadah KTM dengan doa berkat

Kebaktian Tengah Minggu tersebut ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar. Ia juga mendoakan Ps. Baudouin Minani dan istrinya, Ps. Bernadette, yang akan kembali ke Kanada dalam waktu dekat. SM

Comment