JAKARTA,VictoriousNews.com— Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang nyaris tak pernah berhenti berdenyut, sebuah ruang di Hall KiaKia, Goldok Plaza, Jakarta, Senin (29/6/2026), menghadirkan suasana yang berbeda. Kehangatan, sukacita, dan doa-doa syukur berpadu dalam sebuah perayaan yang bukan sekadar menandai bertambahnya usia, melainkan juga menjadi momentum refleksi tentang perjalanan hidup dan kesetiaan kepada Tuhan.
Hari itu, Pdm. Eva Tan, istri Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN), Pdt. Dr. Melianus Kakiay, genap berusia 58 tahun.
Sejak siang, para tamu mulai berdatangan. Mereka tidak hanya menyanpaikan doa dan ucapan selamat, tetapi juga persahabatan, penghormatan, dan kasih yang telah terjalin selama bertahun-tahun dalam pelayanan. Perayaan itu pun menjelma menjadi ajang silaturahmi para hamba Tuhan dari berbagai denominasi gereja.

Turut hadir Anggota DPD RI Paul Finsen Mayor, Penasihat Sinode GBIN Pdt. Dr. Berthy Momor, Pdt. Johnny Lokollo, M.Th, Sekretaris Umum GBIN Pdt. Roy Nayoan, Sekretaris I GBIN Pdt. Agustinus Samalle, Bendahara Umum GBIN Pdt. Jemmy Alfons, puluhan pejabat sinode dan gembala lokal GBIN dari wilayah Jabodetabek serta tamu undangan hamba Tuhan dari denominasi gereja.

Dalam ibadah singkat, Ketua Umum Sinode GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay mengajak seluruh hamba Tuhan yang hadir merenungkan Mazmur 90:12 yang berbunyi, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Menurutnya, ayat yang merupakan doa Musa itu mengandung pelajaran penting bagi setiap orang percaya tentang bagaimana memaknai hidup yang singkat dan terbatas.
Hidup Bukan Soal Panjangnya Usia
Pdt. Melianus menjelaskan bahwa Musa memulai doanya dengan pengakuan bahwa Tuhan adalah Penguasa atas seluruh kehidupan manusia dari generasi ke generasi.
“Orang yang memiliki hati bijaksana adalah orang yang mengakui bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupnya. Ia sadar bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, melainkan berada di tangan Tuhan,” ujarnya.

Kesadaran itulah yang membuat seseorang mampu menyerahkan masa depan, rencana, dan seluruh perjalanan hidupnya kepada Tuhan.
Menurutnya, kebijaksanaan sejati tidak lahir dari pengalaman, jabatan, atau usia semata, melainkan dari pengenalan akan Allah dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Menghargai Waktu, Menghindari Hidup yang Sia-Sia
Dalam penjelasannya, Pdt. Melianus juga menyoroti pentingnya menghargai waktu. Ia mengingatkan bahwa hidup manusia sangat singkat jika dibandingkan dengan kekekalan Allah.
“Hidup manusia seperti sekejap di hadapan Tuhan. Karena itu setiap hari adalah kesempatan untuk mengasihi, melayani, dan memuliakan Tuhan,” katanya.
Kesadaran akan singkatnya hidup, lanjutnya, akan menolong seseorang menggunakan waktu secara bijaksana dan tidak membiarkan hari-harinya berlalu tanpa makna.
Pesan itu terasa relevan di tengah zaman yang serba cepat, ketika banyak orang sibuk mengejar berbagai pencapaian, namun seringkali melupakan tujuan utama kehidupan.
Sukacita Sejati Bersumber dari Tuhan
Pdt. Melianus kemudian mengingatkan bahwa kepuasan hidup tidak ditentukan oleh panjangnya umur, banyaknya harta, ataupun tingginya pencapaian seseorang.
“Ada orang yang usianya panjang tetapi tidak bahagia. Ada yang memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kurang. Kepuasan sejati berasal dari kasih setia Tuhan,” tegasnya.

Karena itu, orang yang dipuaskan oleh Tuhan akan tetap memiliki sukacita dalam setiap musim kehidupan, baik saat berada di puncak keberhasilan maupun ketika menghadapi pergumulan.
Menurutnya, hidup yang bijaksana adalah hidup yang memahami siapa Tuhan, mengenal siapa dirinya, dan mengerti untuk apa ia hidup di dunia ini.
“Ketika kita memahami tiga hal itu, maka kita akan hidup dengan tujuan yang benar dan menjadi alat kemuliaan Tuhan. Selamat ulangtahun Ibu Eva,”’ pungkasnya.
Kado Langsung dari Portugal, Simbol Apresiasi untuk Kesetiaan dalam Pelayanan

Di tengah suasana penuh sukacita, perhatian para tamu mendadak tertuju ke depan ruangan ketika Anggota DPD RI Paul Finsen Mayor menyerahkan sebuah kado spesial kepada Pdm. Eva Tan. Bukan sekadar hadiah ulang tahun biasa, melainkan sebuah jersey resmi Tim Nasional Portugal yang dibawanya langsung dari negeri asal mega bintang sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo.
Dengan senyum lebar, Paul Finsen Mayor menceritakan kisah di balik hadiah yang ia berikan. Ia mengaku baru saja kembali dari Lisbon, ibu kota Portugal, dan sengaja membeli jersey tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus ucapan selamat kepada Pdm. Eva Tan.
“Saya baru pulang dari Lisbon, Portugal. Kebetulan saya juga penggemar Cristiano Ronaldo. Jadi baju tim nasional Portugal ini saya beli langsung dari Portugal,” ujarnya disambut tepuk tangan para tamu.
Ia mengungkapkan bahwa perjalanan menuju Portugal bukanlah perjalanan singkat. Waktu tempuh penerbangan yang mencapai sekitar 16 jam membuat hadiah tersebut terasa semakin istimewa.
Namun bagi Paul, nilai hadiah itu bukan terletak pada jersey atau negara asalnya. Lebih dari itu, hadiah tersebut menjadi simbol penghargaan atas kesetiaan dan dedikasi seorang istri gembala yang selama bertahun-tahun setia mendampingi suaminya dalam pelayanan.
“Saya bersukacita sekali karena Ibu Pendeta sangat luar biasa mendukung Bapak Pendeta sampai hari ini. Beliau setia mendampingi pelayanan suaminya yang juga Ketua Umum Sinode GBIN,” katanya.
Pernyataan itu seketika mengundang anggukan setuju dari banyak tamu undangan yang hadir. Bagi mereka yang mengenal perjalanan pelayanan Pdt. Dr. Melianus Kakiay, sosok Pdm. Eva Tan memang bukan sekadar pendamping. Ia adalah rekan seperjalanan yang turut merasakan suka dan duka pelayanan, menopang dalam doa, serta menjadi bagian penting dari perjalanan panjang organisasi gereja yang kini terus berkembang.
Ketika jersey Portugal itu diterima dengan penuh sukacita, ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Bukan semata karena hadiah yang unik atau berasal dari Portugal, melainkan karena makna yang tersimpan di baliknya—penghargaan terhadap kesetiaan, pengorbanan, dan komitmen yang telah dijalani selama puluhan tahun dalam mendampingi pelayanan.
Ditutup dengan Doa Syukur

Perayaan ulang tahun ke-58 Pdm. Eva Tan ditutup dengan momen penuh makna. Setelah meniup lilin ulang tahun, acara dilanjutkan dengan doa khusus yang dipimpin 2 Penasihat Sinode GBIN Pdt. Dr. Berthy Momor bersama Pdt. John Lokollo.
Keduanya secara khusus mendoakan Pdm. Eva Tan agar senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, sukacita, serta penyertaan Tuhan dalam menjalani kehidupan dan pelayanannya. Suasana ruangan pun berubah khidmat ketika seluruh hadirin bersama-sama menaikkan syukur atas pertambahan usia yang dianugerahkan Tuhan.

Di usia ke-58 tahun, Pdm. Eva Tan tidak hanya merayakan bertambahnya usia, tetapi juga mensyukuri kasih setia Tuhan yang terus menyertai setiap langkah kehidupan dan pelayanannya. Acara pun berakhir dalam suasana hangat, penuh sukacita, dan rasa syukur. SM

















