JAKARTA,VictoriousNews.com–Di tengah kondisi bangsa yang diwarnai tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya angka pengangguran, maraknya aksi demonstrasi, hingga praktik korupsi yang seolah tak kunjung berhenti, umat Tuhan diajak untuk tidak dikuasai ketakutan. Justru di tengah situasi yang sulit, Tuhan masih sanggup menghadirkan mujizat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Pesan itu disampaikan Ps. Edy Wagino, M.Th. saat berkhotbah dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park yang digembalakan Ps. Ferry Iskandar, di Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter Agung, Jakarta Utara, Kamis (6/8/2026).

Mengawali khotbahnya, Ps. Edy mengutip 2 Timotius 3:1, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.”
Menurutnya, firman Tuhan tersebut sedang digenapi pada masa sekarang. Berbagai persoalan yang melanda bangsa menjadi bukti bahwa dunia sedang memasuki masa-masa yang tidak mudah. Namun, di balik semua kesulitan itu, Tuhan justru menaruh sebuah janji yang memberikan pengharapan.
“Hari-hari ini memang masa yang sukar. Tetapi Tuhan menaruh satu tema di hati saya, yaitu mujizat di tengah masa sukar,” ujar Ps Edy yang juga gembala GBI Sinona Bekasi.
Ia kemudian mengajak jemaat merenungkan Yesaya 41:18, ketika Tuhan berjanji membuat sungai memancar di bukit-bukit yang gundul, memunculkan mata air di padang tandus, serta menjadikan padang gurun sebagai telaga.
“Bukankah itu mustahil secara manusia? Tetapi itulah mujizat. Mujizat adalah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia, namun Tuhan sanggup melakukannya,” tegasnya.
Kesaksian Mujizat: Tiga Kali Operasi Kepala, Tuhan Pulihkan Secara Ajaib
Untuk menguatkan iman jemaat, Ps. Edy membagikan pengalaman pribadinya yang menurutnya menjadi bukti nyata kuasa Tuhan bekerja di tengah masa-masa tersulit.
Ia menceritakan bahwa pada tahun 2025 dirinya harus menjalani operasi besar akibat penyumbatan aliran darah di kepala. Dalam kurun waktu sekitar empat bulan, mulai Mei hingga Agustus 2025, ia harus menjalani tiga kali operasi batok kepala.

Operasi pertama dilakukan untuk mengatasi penyumbatan. Namun kemudian terjadi infeksi sehingga bagian kepala harus kembali dibedah. Setelah kondisinya membaik, dokter kembali memasang batok kepala melalui operasi ketiga.
“Secara manusia, ini bukan perkara ringan. Banyak pasien yang setelah operasi kepala mengalami gangguan ingatan, stres, bahkan ada yang tidak tertolong. Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang berbeda bagi saya,” ungkapnya.
Ia mengaku sejak awal memilih percaya kepada janji Tuhan, bahkan berkata dalam doa, “Tuhan, biarlah semua ini terjadi supaya aku melihat kemuliaan-Mu.”
Di tengah proses yang panjang itu, seorang Bapak rohaninya datang menjenguknya di rumah sakit. “Saat itu, Bapak rohani saya hanya meletakkan tangan dan mendoakan sesuai janji firman Tuhan dalam Markus 16:18. Saya memegang janji firman itu. Saya percaya Tuhan menyembuhkan saya. Setelah itu Tuhan membuka jalan. Saya dipertemukan dengan dokter yang takut akan Tuhan, menjalani seluruh proses operasi, dan hari ini saya berdiri sehat melayani. Itu semua karena anugerah dan mujizat Tuhan,” tuturnya penuh syukur.
Ia juga mengungkapkan rasa herannya karena rambut di bagian kepala yang sebelumnya diperkirakan tidak akan tumbuh lagi setelah tiga kali operasi, kini kembali tumbuh dengan lebat.
“Bagi saya, ini bukan sekadar pemulihan medis. Ini adalah kasih karunia Tuhan yang nyata. Saya mengalami sendiri mujizat di tengah masa-masa paling sulit dalam hidup saya,”ungkapnya.

Tiga Kunci Mengalami Mujizat di Masa Sukar
Melalui firman Tuhan, Ps. Edy menyampaikan tiga prinsip agar orang percaya tidak hanya melihat, tetapi juga mengalami mujizat Tuhan.
Pertama, percaya tanpa bimbang.
Mengacu pada kisah Yairus dalam Markus 5:36, Yesus berkata, “Jangan takut, percaya saja.”
Menurut Ps. Edy, iman yang teguh adalah pintu masuk bagi pekerjaan Tuhan. Sebaliknya, keraguan akan menghalangi seseorang menerima jawaban doa sebagaimana ditegaskan dalam Yakobus 1:6-7.
“Kalau mau mengalami mujizat, percaya saja. Jangan ragu kepada firman Tuhan,” pesannya.
Kedua, tetap fokus kepada Yesus dan janji firman-Nya.
Ia mencontohkan Petrus yang mampu berjalan di atas air selama matanya tertuju kepada Yesus. Namun ketika mulai memperhatikan angin dan ombak, ia tenggelam.
“Banyak orang tenggelam bukan karena persoalannya, tetapi karena fokusnya bergeser dari Tuhan kepada masalah. Hari-hari ini jangan fokus kepada kesulitan, penyakit, atau keadaan ekonomi. Fokuslah kepada Tuhan yang sudah berjanji memelihara hidup kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan jemaat untuk menjadi pelaku firman sebagaimana tertulis dalam Ulangan 28, sebab berkat Tuhan diberikan kepada mereka yang mendengar dan melakukan kehendak-Nya dengan setia.
Ketiga, mengandalkan Tuhan dan tetap setia sampai akhir.
Mengutip Yeremia 17:7-8, Ps. Edy mengatakan orang yang berharap kepada Tuhan akan tetap bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Sekalipun musim kering datang, daunnya tetap hijau dan tidak berhenti menghasilkan buah.
Kesetiaan kepada Tuhan, katanya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, usaha, maupun pelayanan.
Ia bahkan mengisahkan bahwa beberapa minggu setelah menjalani operasi, dirinya tetap bertekad memimpin pelayanan Perjamuan Kudus meski kondisi tubuh masih lemah dan harus menggunakan kursi roda.
“Saya berkata kepada istri saya, jangan halangi saya melayani Tuhan. Kalau pun Tuhan memanggil saya saat sedang melayani, saya sudah siap. Tetapi ternyata Tuhan masih memberi kesempatan hidup dan terus memakai saya sampai hari ini,” ungkapnya.
Tetap Berpengharapan
Menutup khotbahnya, Ps. Edy mengajak jemaat untuk tidak gentar menghadapi situasi dunia yang semakin sulit. Kemajuan teknologi, ancaman pengangguran, persoalan ekonomi, hingga berbagai gejolak sosial tidak boleh merampas iman orang percaya.
“Bangunlah setiap pagi dengan mengandalkan Tuhan. Mulailah hari dengan doa dan serahkan seluruh aktivitas kepada-Nya. Saat kita percaya, tetap fokus kepada Tuhan, dan setia sampai akhir, maka kita bukan hanya mendengar tentang mujizat, tetapi akan mengalami sendiri mujizat Tuhan di tengah masa-masa sukar,” pungkasnya.

Ibadah ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar. Jemaat pun pulang dengan iman yang dikuatkan serta pengharapan baru untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui visi “The Great Commission – Tahun Amanat Agung,” GBI Maple Park terus berkomitmen menjangkau lebih banyak jiwa bagi Kristus melalui pemberitaan Injil dan pemuridan. Komitmen itu diwujudkan antara lain melalui penyelenggaraan Kebaktian Tengah Minggu (KTM) setiap Kamis malam sebagai wadah pembinaan rohani agar jemaat semakin bertumbuh dalam iman, tetap teguh menghadapi masa-masa sukar, dan mengalami penyertaan serta mujizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. SM








