Jakarta, VictoriousNews.com—Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Bellezza Permata Hijau, Jakarta Selatan, Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi dunia dan gereja saat ini yang dinilainya sedang berada dalam masa “kegoncangan besar”.
Mengutip Ibrani pasal 12, ia menegaskan bahwa kegoncangan yang terjadi bukan hanya mengguncang bumi, tetapi juga langit. Namun bagi orang percaya, kegoncangan itu bukan untuk ditakuti, melainkan menjadi panggilan ilahi agar anak-anak Tuhan berdiri teguh di dalam Kerajaan Allah dan memegang prinsip iman yang benar.
“Kita percaya, kegoncangan ini adalah panggilan bagi umat Tuhan untuk berdiri teguh. Jangan goyah oleh pemikiran-pemikiran dunia. Keselamatan hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus. Itu prinsip iman Kristen yang tidak bisa ditawar,” tegas Mantan Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia 3 periode (2005-2017).
Bahaya Toleransi Pemikiran Dunia dan Pengaruh Gadget
Pdt. Mulyadi menyoroti salah satu kegoncangan serius yang kini melanda umat Kristen, yakni semakin besarnya toleransi terhadap pemikiran dunia yang perlahan menggerus fondasi iman. Salah satu pemicu utamanya adalah pengaruh gadget dan media sosial yang begitu kuat.
Ia mengibaratkan kondisi ini dengan istilah lama di dunia komputer: garbage in, garbage out—apa yang masuk ke pikiran, itulah yang akan keluar dalam tindakan dan cara pandang hidup.
“Sekarang ada pengaruh 15 detik. TikTok 15 detik, kelihatannya sebentar, tapi tanpa terasa sudah tiga jam. Itu sangat kuat membentuk mindset, termasuk orang Kristen. Lama-lama sudut pandang dan prinsip hidup bisa berubah,” ujar suami dari Amelia Inawaty yang juga menerima penghargaan sebagai tokoh inspiratif pilihan Majalah Narwastu 2025 pada hari Jumat, (16/1/26).

Ia juga menyinggung pergeseran kebiasaan rohani di gereja. Alkitab fisik kini semakin jarang dibawa, tergantikan oleh layar digital. Menurutnya, membaca Alkitab lewat gawai tidak selalu salah, namun kehilangan interaksi mendalam dengan firman Tuhan.
“Alkitab di handphone itu jarang dibaca kecuali kalau perlu. Tapi kalau buku, kita bisa buka-buka, coret-coret, merenung. Pergeseran ini nyata dan harus disadari,” tukas Pria kelahiran kota Bandung, 13 Februari 1952.
Oleh karenanya, Ia mengajak umat Kristen untuk kembali menjadikan Alkitab sebagai pusat kehidupan rohani, bahkan menantang setiap orang percaya untuk setidaknya sekali seumur hidup menamatkan seluruh Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu.
Dunia dalam Ancaman, Gereja Harus Bersatu
Ia juga menyinggung berbagai ancaman global yang tengah dihadapi dunia: ancaman krisis kesehatan, cuaca ekstrem, resesi ekonomi dan politik, hingga bayang-bayang Perang Dunia yang menurutnya “seakan hanya menunggu pemicu”.
Di tengah ketegangan global yang merata dari barat hingga timur, utara hingga selatan, ia mengingatkan bahwa satu-satunya tempat perlindungan sejati bagi orang percaya adalah iman kepada Tuhan Yesus.
“Gereja Tuhan seharusnya makin merapatkan barisan, makin bersatu. Tapi yang kita lihat justru banyak gereja pecah karena pengajaran yang memecah belah. Padahal doa Tuhan Yesus jelas: supaya mereka menjadi satu.”
Menurutnya, persatuan gereja akan menghadirkan kekuatan ilahi yang jauh lebih besar di tengah dunia yang goyah.
Menanggapi tema penguatan ketahanan keluarga yang diangkat pemerintah bersama PGI dan KWI, Pdt. Mulyadi menilai langkah tersebut sangat relevan. Ia menegaskan bahwa sejak awal, strategi utama iblis adalah merusak keluarga.
“Sejak Kejadian, yang dirusak itu keluarga. Kain dan Habel. Daud. Musa. Hampir semua tokoh Alkitab mengalami serangan di keluarganya. Karena keluarga adalah benteng iman.”
Ia mengungkapkan keprihatinan terhadap tingginya angka perceraian di wilayah-wilayah mayoritas Kristen seperti NTT dan Sulawesi Utara. Fakta yang lebih mengejutkan, menurutnya, kini sebagian besar gugatan cerai justru diajukan oleh pihak istri—sebuah tanda pergeseran nilai yang serius.
Belum lagi persoalan anak-anak, narkoba, dan krisis moral yang semakin menggerus ketahanan keluarga Kristen.
“Ketahanan keluarga Kristen harus diperbaiki. Kita percaya Roh Kudus sanggup memulihkan keluarga.”
Di akhir pesannya, Pdt. Mulyadi Sulaeman menyerukan agar para kepala keluarga Kristen kembali kepada peran sejatinya: menjadi pemimpin, pelindung, dan imam bagi keluarganya.
“Kepala keluarga harus kembali bertanggung jawab, mengayomi, dan membawa keluarganya datang kepada Tuhan. Dari keluarga yang kuat, gereja akan kuat. Dari gereja yang kuat, bangsa akan kuat.”
Seruan ini menjadi pengingat keras sekaligus harapan, bahwa di tengah dunia yang bergoncang, iman yang teguh, gereja yang bersatu, dan keluarga yang dipulihkan adalah kunci untuk tetap berdiri dan menang. SM

















